Key And Bian

Key And Bian
Sandiwara Yuna



Rumah sederhana yang menyatu dengan padatnya penduduk. Key sedang


meluruskan kakinya mengusir lelah. Basma duduk di sampingnya setia menunggu.


Dia belum masuk ke dalam kamar sebelum Key duluan.


Basma menyodorkan surat kontrak yang diterimanya dari Frezze Parfume. Lalu duduk di karpet, bersandar pada sofa. Kepalanya menempel di tubuh Key. Gadis itu membelai rambut Basma lembut.


“ Memang kalau kontrak perusahaan besar begini ya Bas?”


Key sedang membaca satu persatu pasal-pasal yang ada di dalam kontrak.


Reaksinya mirip dengan yang ditunjukan Rian dan Basma tadi. Apalagi saat


melihat nominal pembayaran yang akan diterima Basma jika kontak berjalan dengan


baik.


Berapa lama dia harus mengumpulkan uang sebanyak itu, dia tahu dengan


pasti.


“ Mbak Key juga merasa ada yang aneh kan, seperti mereka itu sudah


mengincarku dan harus aku.” Menunjuk pasal tambahan. “ Bahkan kalau aku mau menambahkan sesuatu


mereka akan setuju.”


“Kamu nggak nanya, kenapa kamu yang terpilih.” Selesai memijat kakinya


Key melorot,tiduran di sofa sambil membaca kelanjutan kontrak.


“ Mereka bilang karena aku tampan.”


Basma tertawa tapi dia menyentuh dagunya dengan bangga. Orang tampan


kadang memang susah ditolak pesonanya.


“ Ahhh begitu ya, kamu memang tampan Bas, mau bagaimana lagi.” Mengusap kepala adiknya lagi. Bangga.


Haa, kamu percaya Mbak dengan alasan aneh itu.


Tapi, mau mencirigai apa, toh tidak ada yang bisa mereka curigai. Basma


memang sudah memulai debutnya sebagai model.  Dia tampan, ya,bagi Key itulah alasan yang memang masuk akal.


“ Jadi bagaimana Bas, kalau kontrak ini tidak merugikan kamu, kalau


tidak menggangu pelajaran sekolah kamu, mbak akan mengizinkan.” Mau bagaimana


lagi pikir Key.Tapi pendidikan Basma adalah prioritas utamanya, karena itulah


siang malam dia bekerja keras seperti ini. Agar Basma bisa hidup dengan layak


tanpa harus berlelah seperti sekarang.


Sekolah dengan baik, kuliah di universitas bagus dan bekerja di


perusahaan yang bagus. Key belum membayangkan sampai titik kedewasaan Basma,


waktu dia harus melepas adiknya untuk hidup dengan pasangannya kelak.


Basma terdiam, mencoba memprediksi apa yang akan terjadi ke  depan kalau dia menanda tangani kontak ini.


Tapi, nominal uang yang ditawarkan memang tidak main-main. Kalau dia setuju,


dia bisa mengurangi beban di pundak Key. Bahkan dia bisa meminta Key berhenti


bekerja di minimarket malam. Uangnya sudah sangat lebih dari  cukup untuk tabungan kuliahnya.


Itu menjadi prioritas utamanya dulu,meringankan beban hidup Key agar


gadis itu mulai bisa bermimpi tentang dirinya sendiri. Tapi, ia tidak


mengatakan itu. Karena kalau sampai Key tahu apa yang dia pikirkan. Basma sudah


bisa membayangkan  reaksi Key.


“ Mencari uang itu sekarang tugas Mbak Bas, kamu jangan merasa


terbebani, itu memang tanggungjawab Mbak Key. Yang harus kamu lakukan adalah


belajar dengan baik.”


Petuah itu yang akan ia dengar lagi. Key  sudah menjadikan dirinya sebagai prioritas utama, dan Basma tidak mau


membantah itu. Karena kalau ia  membantah


Keylah yang akan terluka dan marah.


“ Karena mereka tahu aku  masih


sekolah, mereka bilang akan menyesuaikan dengan jadwal sekolahku  mbak.” Akhirya memberi jawaban yang


menenangkan.


“ Wahh, hebat sekali. Ternyata begitu ya kontrak professional itu.”


“ Gak tahu juga aku mbak.” Karena ini pertama kalinya juga bagi Basma.


“ Eh, apa aku coba tanya Manda saja ya, dia pasti sudah terbiasa dengan


kontrak profesional.”


Basma terkejut ketika Key menyebut nama Amanda.


“  Amanda, tunangaan Kak Bian?”


Ah, dia keceplosan.Bagaimana ini, menceritakan Amanda berarti harus


menceritakan kalau dia bertemu dengan ibu Kak Bian.


“ Mbak Key.” Basma sudah tidak sabar menanti penjelasan.


“Ia, kami bertemu tadi Bas.”


Akhirnya Key menceritakan semuaya, kecuali dibagian dia di siram air.


Sebenarnya dia ingin menyimpan ini sendiri.Bahkan dia tidak mau mengatakannya


pada Bian. Karena tidak mau berakibat rusaknya hubungan ibu dan anak itu.


Kak Bian sangat memuji ibunya.


Sejujurnya Key bukan hanya takut kalau hubungan Bian dan ibunya


memburuk, tapi ia pun dihantui kecemasan kalau Kak Bian meragukan kata-katanya.   Karena


selama ini dia selalu mengatakan ibunya orang baik .Ibunyalah yang akan


mendukung hubungan diantara mereka. Tapi ternyata.


“ Ternyata ibunya Kak Bian jahat juga ya,” Basma menyuarakan isi hati


Key yang tidak terucap. “Bagaimana dia bisa mempertemukan kalian tanpa bilang-bilang


dulu begitu.”


Key pun sempat berfikir begitu, apalagi saat dia disiram air.Ternyata


dia malah tidak mendapatkan restu dari ibu yang selama ini dianggapnya akan


memberinya restu.


“ Ternyata Amanda baik ya Mbak.”


“ Ahh, mbak sampai malu sama Manda Bas. Dari SMU dulu, dia memang baik


hati. “ Masih memegang kontak kerja yang tidak di abaca,pikirannya sudah


teralihkan. “ Banyak hal yang terjadi ya Bas.”


Key tidak tahu berawal dari mana.Bagaimana dia bisa bertemu secara tidak


sengaja dengan Kak Bian, pertemuan pertemuan yang menegangkan di awal dan sampai


pada titik ini sekarang. Mereka pacaran.


“ Eh tadi juga kaget mbak lho, ternyata Pak Samuel menjual


minimarketnya.” Baru teringat kejadian penting yang terjadi hari ini juga.


Menyudahi cerita ibu Kak Bian. Biarlah dia sendiri yang tahu.


“ Tutup maksudnya Mbak.”


“ Nggak Bas, bos minimarket yang baru malah baik banget. Dia menaikan


gaji mbak dua kali lipat. Katanya karena mbak sudah bekerja keras selama ini.”


Situasi yang sebenarnya aneh namun tidak terpikirkan sebagai kenehan


untuk Key. Pemilik minimarket berganti, dia mendapat gaji dua kali lipat.


Bahkan dia mendapatkan kursi yang empuk di belakang kasir. Key bersyukur karena


banyak hal luar biasa yang terjadi padanya bersamaan.


Hingga rasanya salah kalau Key tidak bisa bersyukur.


***


Pak Wahyu tergesa mendorong gerbang. Subuh baru saja lewat, setelah


sholat subuh Bian langsung mengatakan ia mau keluar. Ditanya hanya diam dan


menunjukan kesal. Pak Wahyu tidak berani bertanya dan hanya menduga-duga, apa


yang terjadi dengan Bian.


“ Key cerita sesuatu ke kamu nggak semalam?” Ucapan Anjas sudah membuka


celah emosi Bian, walaupun dia belum tahu apa itu. Karena semalam Key biasa


saja. “ Pokonya dengarkan aku dulu sampai selesai ya, jangan menyela sebelum


aku selesai.” Anjas masih penuh keraguaan untuk menceritakannya. Dia tidak mau


melibatkan Amanda atau sampai Bian salah paham dan mengira Amanda yang menyulut


api duluan. Jadi dia berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya kalau Amanda bukan


pihak yang bersalah.


Dia gelisah semalaman memikirkan bagaimana caranya menyampaikan pada


Bian.


“ Jadi jangan salahkan Amanda ya, dia benar-benar tidak tahu kalau akan


bertemu dengan wanita yang kamu sukai. Dan.”


“ Kenapa kau membela Amanda terus dari tadi?”


“ Tentu saja karena….”


Karena apa ya? Memang aku sejelas itu membela Amanda.


“ Tentu saja karena dia  tidak


bersalah,makanya aku membelanya.” Wajah Anjas sebenarnya sedang panik.


“ Sudah teruskan Kak, atau kau mau aku bertanya langsung pada Amanda.”


Mulai malas karena Anjas malah menceritakan tentang Amanda dengan semangat.


“ Jangan.” Anjas khawatir apa pun itu,Bian pasti tidak akan bicara baik-baik


dengan Amanda. “ Ibumu menyiram Key dengan air.”


Kepala Biaan rasanya seperti menguap mengingat percakapannya dengan


Anjas. Dia memukul kemudi.  Bagaimana ibu


bisa melakukan itu, tadinya dia ingin menyalahkan Amanda, karena pasti karena


gadis itu yang merengek pada ibunya , maka kejadian itu tidak terhindarkan.


Pertemuan Key dan Amanda. Tapi Anjas mati-matian membela Amanda dan menjelaskan


semuanya.


Kenapa malah ibu yang seperti ini.


Bian mempercepat laju kendaraannya, jalanan subuh yang sepi membuatnya


ada di perumahaan elit Gand Land, namun tempat yang Bian tinggali adalah Grand


Land 2, pengembangan dari yang pertama.


Satpam di kediaman Adiguna tergesa membuka gerbang, hanya menganggukan


kepala karena Bian sama sekali tidak menurunkan kaca mobil atau menyapa. Dia hanya


membunyikan klakson berulang. Satpam yag lari tergopoh setelah sholat subuh


sedang menduga-duga ada kejadian apa.


Brak, pintu tertutup.


“ Mas Bian.” Kepala pelayan tergesa mendekat, saat mendengar suara


keras pintu tertutup.


“ Di mana ibu?”


Malah Ayah Bian yang menuruni tangga, dia mendapatkan informasi kalau


anaknya datang. Adiguna mendekat.


“ Ada apa ini?” Adiguna bisa melihat pandangan kesal dan juga lelah di mata


anaknya. “ Kenapa datang sepagi ini?”


“ Dimana ibu?”


“Ibumu ada di kamarnya? Duduklah, tinggalkaan kami Pak.”


“ Baik Tuan.” Kepala pelayan menundukan kepala sopan. Bian mengikuti langkah


Adiguna dan duduk di sofa. Mereka saling pandang. Tatapan Bian masih sama


dinginnya seperti biasanya saat dia bertemu ayahnya.


“ Apa ini ada hubungannya dengan pertunanganmu. Jangan khawatir Ayah


sudah menemui orangtua Amanda. Seminggu ini akan ada pengumuman pembatalan


pertunangan baik dari Adiguna Group dan Morela. Kita akan mengeluarkan pernyataan resmi


ke media bersama.”


Bian sedikit terkejut, kenapa laki-laki ini perlu menjelaskan padanya.


Toh dia juga akan tahu dari Kak Anjas nanti.


“ Ayah akan mendukungmu, jadi temukan kebahagiaanmu sendiri nanti


setelah pembatalan pertunangaan. Tapi…” melihat Bian yang masih menatap curiga


padanya. “ Tahan dirimu sedikit lagi untuk kencan terbuka dengan keysha.”


“ Ayah!” Apa ini karena latar belakang Key. Bian jengah. Memang tidak


akan semudah itu orang berubah. Masih menatap muak pada ayahnya.


“ Ini untuk melindungi Keysha.”


Deg.


“ Setelah kami mengumumkan pertunangan media pasti akan mencari-cari


informasi. Kamu pasti tidak mau kalau sampai Keysha terbawa-bawa dalam masalah


ini kan.” Bian masih menatap ayahnya dengan cara yang sama yang biasanya dia


tunjukan.


Jarak yang sangat lebar masih terbentang di antara mereka. Adiguna


menghela nafas, dia sudah berfikir kalau memperbaiki hubungannya dengan anaknya


tidak akan semudah itu.


“ Jadi,kenapa kamu datang pagi-pagi begini.”


“ Ibu bertemu dengan Key.” Jujur.


Ada kemarahan yang terlihat jelas, Bian bisa menangkap itu dari gerakan


tubuh ayahnya.


“ Apa yang dilakukan ibumu padanya?” Tadinya Adiguna meminta Ayah Anjas


untuk menyiapkan orang untuk mengawasi Key, namun lagi-lagi ia diwanti-wanti


untuk tidak melakukan hal yang mencolok. Membeli minimarket melalui orang


ketiga hanya itu yang disetujui sekretaris Haryo.


“ Aku tidak tahu, karena itu aku mau menanyakannya.” Bian masih


menyimpan sejuta curiga, jadi dia menahan dirinya untuk bercerita lebih lanjut.


Karena ia ingin tahu kejelasannya dari mulut ibunya. “ Aku temui ibu.”


Setidaknya dia sudah sedikit bersikap sopan dengan mengatakan itu.


Adiguna berjalan menuju ruangan kerjanya dia gelisah dan merasa


kecolongan


Apa Keysha baik-baik saja,apa yang sudah dilakukan Yuna padanya.


***


“ Bi, kenapa?” Yuna sudah terlihat cemas. Anaknya tidak mungkin datang tanpa


alasan. Penjaga minimarket malam, apa dia sudah mengadu gumamnya takut. “ Apa gadis itu


mengadu padamu, penjaga minimarket itu.” Ucapan Yuna menyulut kesal. Bian duduk menatap ibunya.


“ Key, panggil dia Key. Itu namanya.”


“ Bian, ibu mohon dengarkan ibu. Ini demi kebaikanmu, demi masa depanmu.”


Meraih tangan Bian dalam gengamannya. Wanita itu akan memohon, seperti itulah


caranya melunakan hati Bian dan mengikat Bian dalam jangkauannya. “ Dia tidak


pantas untukmu.”


“ Ibu!” Menghentakan tangan sampai tangan ibunya terlepas. “ Kenapa ibu


melakukan ini, Key tidak mengatakan apa pun padaku Bu.Ya, seperti itulah dia,


karena dia pasti akan menduga kejadian pagi ini kalau sampai dia mengatakan apa


yang ibu lakukan.”


Menjaga hubungan baik Bian dan ibunya.  Bian yakin itulah alasan Key tidak memberitahunya.


“ Nak.”


“ Kenapa ibu menyiram air ke tubuh Key.” Mulai frustasi. “ Padahal aku


selalu membanggakan ibu padanya. Bahwa aku hanya punya ibu yang akan


mendukungku di sampingnku, tapi malah.” Berteriak kesal dengan suara tertahan


sambil mengacak  rambutnya. “ Malah Key


mendapat perlakuan buruk itu dari ibu,Ayah saja mendukungku kenapa ibu.”


Yuna langsung mendekat dan memeluk Bian.


“ Tidak Nak, ibu salah. Maafkan ibu. “ Jangan sampai Bian membuka hatinya


untuk ayahnya. “ Kamu tahu kan kalau ibu melakukan ini demi kamu dan nama baik


perusahaan. Ayahmu.”


“ Seminggu lagi pertunanganku akan dibatalkan. Aku cukup senang karena


Ayah mendukungku.” Bian menjawab.


“ Jangan, jangan percaya pada ayahmu.”


Yuna kembali mencerca suaminya.Mengulang kalimat-kalimat panjang


kesalahan Adiguna padanya di masa lalu, entah sudah berapa kali Bian.  Kecemburuan, amarah dan ketakutannya akan kemunculan anak Jesi semakin


menjadi. Ia mengulang lagi, dan mengulang lagi. Kata yang sudah di hafal Bian.


“ Bu, ayah sepertinya tidak sejahat itu.”


“ Jangan percaya pada ayahmu.” Mulai sesengukan dan memohon.


“ Baiklah, tenanglah, jangan menangis lagi.” Mendorong tubuh ibunya pelan.


“ Aku hanya punya ibu di sampingku,  jadi


kumohon dukunglah hubunganku dengan Key. Aku mencintainya bu. Aku ingin


menikahinya dan hidup bersamanya.”


Walaupun tidak terima, namun Yuna tidak berani menjawab.Bian masih


tersulut api kekesalan, salah sedikit saja bicara, dia akan dibandingkan dengan


Adiguna. Karena ayahnya sudah merestui hubungannya dengan Key.


“ Maafkan ibu Nak,ibu akan mendukungmu.”


“ Minta maaaflah pada Key Bu.”


“ Tentu saja,kalau itu maumu.”


Bian menarik lengan ibunya, menjatuhkan ibunya dalam pelukannya. Dia


bersandar di bahu ibunya.


“ Ibu tahu kan aku menyayangi ibu, jadi aku mohon jangan membuatku


sendih karena ibu berada di jalan yang berbeda denganku.”


“ Ia Nak, maafkan ibu.” Menepuk bahu Bian, tidak bisa melakukan apa pun


selain mengiyakan.  Dia akan mengalah dan


menyerah sekarang.


Bian mengusap airmata ibunya dengan jemarinya lembut.


“ Setelah pembatalan pertunangan ayo kita pergi bertiga. Ibu, Key dan


aku. Kita makan lalu belanja. Ibu mau kan.” Saat Bian bisa menunjukan kepada


semua orang siapa wanita yang ia cintai, ia mau ibunya berdiri di sampingnya.


“ Tentu saja Nak,ibu akan selalu mendukungmu.”


Yuna menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, dengan kelegaan. Bian keluar dari kamar dengan amarah yang mereda. Ia masih bisa menguasai hati anaknya.


***


Bian masih menungu di teras rumah. Belum punya keberanian mengetuk


pintu. Sedang menyiapkan kata penyesalan. Dia bahkan sudah melewatkan semua


kegiatan paginya hari ini.


Suara kunci pintu terbuka.


“ Kak Bian.” Key membuka pintu mendapati Bian yang sudah berdiri


di hadapannya dengan tatapaan sendu. Lelah, karena menguras emosi.


“ Maaf.” Bian mendekat dan menjatuhkan kepalanya di bahu Key. “ Kenapa


kau masih menanggung semua sendirian Key. Maafkan aku.”


Ahhh, bagaimana ini.Apa Kak bian bertengkar dengan ibunya.


Bersambung…


Sabar…. Sabaar…. Ntar ada waktunya Yuna kena batunya. Gak lama lagi kok, hehe.


^_^