
Rumah sederhana yang menyatu dengan padatnya penduduk. Key sedang
meluruskan kakinya mengusir lelah. Basma duduk di sampingnya setia menunggu.
Dia belum masuk ke dalam kamar sebelum Key duluan.
Basma menyodorkan surat kontrak yang diterimanya dari Frezze Parfume. Lalu duduk di karpet, bersandar pada sofa. Kepalanya menempel di tubuh Key. Gadis itu membelai rambut Basma lembut.
“ Memang kalau kontrak perusahaan besar begini ya Bas?”
Key sedang membaca satu persatu pasal-pasal yang ada di dalam kontrak.
Reaksinya mirip dengan yang ditunjukan Rian dan Basma tadi. Apalagi saat
melihat nominal pembayaran yang akan diterima Basma jika kontak berjalan dengan
baik.
Berapa lama dia harus mengumpulkan uang sebanyak itu, dia tahu dengan
pasti.
“ Mbak Key juga merasa ada yang aneh kan, seperti mereka itu sudah
mengincarku dan harus aku.” Menunjuk pasal tambahan. “ Bahkan kalau aku mau menambahkan sesuatu
mereka akan setuju.”
“Kamu nggak nanya, kenapa kamu yang terpilih.” Selesai memijat kakinya
Key melorot,tiduran di sofa sambil membaca kelanjutan kontrak.
“ Mereka bilang karena aku tampan.”
Basma tertawa tapi dia menyentuh dagunya dengan bangga. Orang tampan
kadang memang susah ditolak pesonanya.
“ Ahhh begitu ya, kamu memang tampan Bas, mau bagaimana lagi.” Mengusap kepala adiknya lagi. Bangga.
Haa, kamu percaya Mbak dengan alasan aneh itu.
Tapi, mau mencirigai apa, toh tidak ada yang bisa mereka curigai. Basma
memang sudah memulai debutnya sebagai model. Dia tampan, ya,bagi Key itulah alasan yang memang masuk akal.
“ Jadi bagaimana Bas, kalau kontrak ini tidak merugikan kamu, kalau
tidak menggangu pelajaran sekolah kamu, mbak akan mengizinkan.” Mau bagaimana
lagi pikir Key.Tapi pendidikan Basma adalah prioritas utamanya, karena itulah
siang malam dia bekerja keras seperti ini. Agar Basma bisa hidup dengan layak
tanpa harus berlelah seperti sekarang.
Sekolah dengan baik, kuliah di universitas bagus dan bekerja di
perusahaan yang bagus. Key belum membayangkan sampai titik kedewasaan Basma,
waktu dia harus melepas adiknya untuk hidup dengan pasangannya kelak.
Basma terdiam, mencoba memprediksi apa yang akan terjadi ke depan kalau dia menanda tangani kontak ini.
Tapi, nominal uang yang ditawarkan memang tidak main-main. Kalau dia setuju,
dia bisa mengurangi beban di pundak Key. Bahkan dia bisa meminta Key berhenti
bekerja di minimarket malam. Uangnya sudah sangat lebih dari cukup untuk tabungan kuliahnya.
Itu menjadi prioritas utamanya dulu,meringankan beban hidup Key agar
gadis itu mulai bisa bermimpi tentang dirinya sendiri. Tapi, ia tidak
mengatakan itu. Karena kalau sampai Key tahu apa yang dia pikirkan. Basma sudah
bisa membayangkan reaksi Key.
“ Mencari uang itu sekarang tugas Mbak Bas, kamu jangan merasa
terbebani, itu memang tanggungjawab Mbak Key. Yang harus kamu lakukan adalah
belajar dengan baik.”
Petuah itu yang akan ia dengar lagi. Key sudah menjadikan dirinya sebagai prioritas utama, dan Basma tidak mau
membantah itu. Karena kalau ia membantah
Keylah yang akan terluka dan marah.
“ Karena mereka tahu aku masih
sekolah, mereka bilang akan menyesuaikan dengan jadwal sekolahku mbak.” Akhirya memberi jawaban yang
menenangkan.
“ Wahh, hebat sekali. Ternyata begitu ya kontrak professional itu.”
“ Gak tahu juga aku mbak.” Karena ini pertama kalinya juga bagi Basma.
“ Eh, apa aku coba tanya Manda saja ya, dia pasti sudah terbiasa dengan
kontrak profesional.”
Basma terkejut ketika Key menyebut nama Amanda.
“ Amanda, tunangaan Kak Bian?”
Ah, dia keceplosan.Bagaimana ini, menceritakan Amanda berarti harus
menceritakan kalau dia bertemu dengan ibu Kak Bian.
“ Mbak Key.” Basma sudah tidak sabar menanti penjelasan.
“Ia, kami bertemu tadi Bas.”
Akhirnya Key menceritakan semuaya, kecuali dibagian dia di siram air.
Sebenarnya dia ingin menyimpan ini sendiri.Bahkan dia tidak mau mengatakannya
pada Bian. Karena tidak mau berakibat rusaknya hubungan ibu dan anak itu.
Kak Bian sangat memuji ibunya.
Sejujurnya Key bukan hanya takut kalau hubungan Bian dan ibunya
memburuk, tapi ia pun dihantui kecemasan kalau Kak Bian meragukan kata-katanya. Karena
selama ini dia selalu mengatakan ibunya orang baik .Ibunyalah yang akan
mendukung hubungan diantara mereka. Tapi ternyata.
“ Ternyata ibunya Kak Bian jahat juga ya,” Basma menyuarakan isi hati
Key yang tidak terucap. “Bagaimana dia bisa mempertemukan kalian tanpa bilang-bilang
dulu begitu.”
Key pun sempat berfikir begitu, apalagi saat dia disiram air.Ternyata
dia malah tidak mendapatkan restu dari ibu yang selama ini dianggapnya akan
memberinya restu.
“ Ternyata Amanda baik ya Mbak.”
“ Ahh, mbak sampai malu sama Manda Bas. Dari SMU dulu, dia memang baik
hati. “ Masih memegang kontak kerja yang tidak di abaca,pikirannya sudah
teralihkan. “ Banyak hal yang terjadi ya Bas.”
Key tidak tahu berawal dari mana.Bagaimana dia bisa bertemu secara tidak
sengaja dengan Kak Bian, pertemuan pertemuan yang menegangkan di awal dan sampai
pada titik ini sekarang. Mereka pacaran.
“ Eh tadi juga kaget mbak lho, ternyata Pak Samuel menjual
minimarketnya.” Baru teringat kejadian penting yang terjadi hari ini juga.
Menyudahi cerita ibu Kak Bian. Biarlah dia sendiri yang tahu.
“ Tutup maksudnya Mbak.”
“ Nggak Bas, bos minimarket yang baru malah baik banget. Dia menaikan
gaji mbak dua kali lipat. Katanya karena mbak sudah bekerja keras selama ini.”
Situasi yang sebenarnya aneh namun tidak terpikirkan sebagai kenehan
untuk Key. Pemilik minimarket berganti, dia mendapat gaji dua kali lipat.
Bahkan dia mendapatkan kursi yang empuk di belakang kasir. Key bersyukur karena
banyak hal luar biasa yang terjadi padanya bersamaan.
Hingga rasanya salah kalau Key tidak bisa bersyukur.
***
Pak Wahyu tergesa mendorong gerbang. Subuh baru saja lewat, setelah
sholat subuh Bian langsung mengatakan ia mau keluar. Ditanya hanya diam dan
menunjukan kesal. Pak Wahyu tidak berani bertanya dan hanya menduga-duga, apa
yang terjadi dengan Bian.
“ Key cerita sesuatu ke kamu nggak semalam?” Ucapan Anjas sudah membuka
celah emosi Bian, walaupun dia belum tahu apa itu. Karena semalam Key biasa
saja. “ Pokonya dengarkan aku dulu sampai selesai ya, jangan menyela sebelum
aku selesai.” Anjas masih penuh keraguaan untuk menceritakannya. Dia tidak mau
melibatkan Amanda atau sampai Bian salah paham dan mengira Amanda yang menyulut
api duluan. Jadi dia berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya kalau Amanda bukan
pihak yang bersalah.
Dia gelisah semalaman memikirkan bagaimana caranya menyampaikan pada
Bian.
“ Jadi jangan salahkan Amanda ya, dia benar-benar tidak tahu kalau akan
bertemu dengan wanita yang kamu sukai. Dan.”
“ Kenapa kau membela Amanda terus dari tadi?”
“ Tentu saja karena….”
Karena apa ya? Memang aku sejelas itu membela Amanda.
“ Tentu saja karena dia tidak
bersalah,makanya aku membelanya.” Wajah Anjas sebenarnya sedang panik.
“ Sudah teruskan Kak, atau kau mau aku bertanya langsung pada Amanda.”
Mulai malas karena Anjas malah menceritakan tentang Amanda dengan semangat.
“ Jangan.” Anjas khawatir apa pun itu,Bian pasti tidak akan bicara baik-baik
dengan Amanda. “ Ibumu menyiram Key dengan air.”
Kepala Biaan rasanya seperti menguap mengingat percakapannya dengan
Anjas. Dia memukul kemudi. Bagaimana ibu
bisa melakukan itu, tadinya dia ingin menyalahkan Amanda, karena pasti karena
gadis itu yang merengek pada ibunya , maka kejadian itu tidak terhindarkan.
Pertemuan Key dan Amanda. Tapi Anjas mati-matian membela Amanda dan menjelaskan
semuanya.
Kenapa malah ibu yang seperti ini.
Bian mempercepat laju kendaraannya, jalanan subuh yang sepi membuatnya
ada di perumahaan elit Gand Land, namun tempat yang Bian tinggali adalah Grand
Land 2, pengembangan dari yang pertama.
Satpam di kediaman Adiguna tergesa membuka gerbang, hanya menganggukan
kepala karena Bian sama sekali tidak menurunkan kaca mobil atau menyapa. Dia hanya
membunyikan klakson berulang. Satpam yag lari tergopoh setelah sholat subuh
sedang menduga-duga ada kejadian apa.
Brak, pintu tertutup.
“ Mas Bian.” Kepala pelayan tergesa mendekat, saat mendengar suara
keras pintu tertutup.
“ Di mana ibu?”
Malah Ayah Bian yang menuruni tangga, dia mendapatkan informasi kalau
anaknya datang. Adiguna mendekat.
“ Ada apa ini?” Adiguna bisa melihat pandangan kesal dan juga lelah di mata
anaknya. “ Kenapa datang sepagi ini?”
“ Dimana ibu?”
“Ibumu ada di kamarnya? Duduklah, tinggalkaan kami Pak.”
“ Baik Tuan.” Kepala pelayan menundukan kepala sopan. Bian mengikuti langkah
Adiguna dan duduk di sofa. Mereka saling pandang. Tatapan Bian masih sama
dinginnya seperti biasanya saat dia bertemu ayahnya.
“ Apa ini ada hubungannya dengan pertunanganmu. Jangan khawatir Ayah
sudah menemui orangtua Amanda. Seminggu ini akan ada pengumuman pembatalan
pertunangan baik dari Adiguna Group dan Morela. Kita akan mengeluarkan pernyataan resmi
ke media bersama.”
Bian sedikit terkejut, kenapa laki-laki ini perlu menjelaskan padanya.
Toh dia juga akan tahu dari Kak Anjas nanti.
“ Ayah akan mendukungmu, jadi temukan kebahagiaanmu sendiri nanti
setelah pembatalan pertunangaan. Tapi…” melihat Bian yang masih menatap curiga
padanya. “ Tahan dirimu sedikit lagi untuk kencan terbuka dengan keysha.”
“ Ayah!” Apa ini karena latar belakang Key. Bian jengah. Memang tidak
akan semudah itu orang berubah. Masih menatap muak pada ayahnya.
“ Ini untuk melindungi Keysha.”
Deg.
“ Setelah kami mengumumkan pertunangan media pasti akan mencari-cari
informasi. Kamu pasti tidak mau kalau sampai Keysha terbawa-bawa dalam masalah
ini kan.” Bian masih menatap ayahnya dengan cara yang sama yang biasanya dia
tunjukan.
Jarak yang sangat lebar masih terbentang di antara mereka. Adiguna
menghela nafas, dia sudah berfikir kalau memperbaiki hubungannya dengan anaknya
tidak akan semudah itu.
“ Jadi,kenapa kamu datang pagi-pagi begini.”
“ Ibu bertemu dengan Key.” Jujur.
Ada kemarahan yang terlihat jelas, Bian bisa menangkap itu dari gerakan
tubuh ayahnya.
“ Apa yang dilakukan ibumu padanya?” Tadinya Adiguna meminta Ayah Anjas
untuk menyiapkan orang untuk mengawasi Key, namun lagi-lagi ia diwanti-wanti
untuk tidak melakukan hal yang mencolok. Membeli minimarket melalui orang
ketiga hanya itu yang disetujui sekretaris Haryo.
“ Aku tidak tahu, karena itu aku mau menanyakannya.” Bian masih
menyimpan sejuta curiga, jadi dia menahan dirinya untuk bercerita lebih lanjut.
Karena ia ingin tahu kejelasannya dari mulut ibunya. “ Aku temui ibu.”
Setidaknya dia sudah sedikit bersikap sopan dengan mengatakan itu.
Adiguna berjalan menuju ruangan kerjanya dia gelisah dan merasa
kecolongan
Apa Keysha baik-baik saja,apa yang sudah dilakukan Yuna padanya.
***
“ Bi, kenapa?” Yuna sudah terlihat cemas. Anaknya tidak mungkin datang tanpa
alasan. Penjaga minimarket malam, apa dia sudah mengadu gumamnya takut. “ Apa gadis itu
mengadu padamu, penjaga minimarket itu.” Ucapan Yuna menyulut kesal. Bian duduk menatap ibunya.
“ Key, panggil dia Key. Itu namanya.”
“ Bian, ibu mohon dengarkan ibu. Ini demi kebaikanmu, demi masa depanmu.”
Meraih tangan Bian dalam gengamannya. Wanita itu akan memohon, seperti itulah
caranya melunakan hati Bian dan mengikat Bian dalam jangkauannya. “ Dia tidak
pantas untukmu.”
“ Ibu!” Menghentakan tangan sampai tangan ibunya terlepas. “ Kenapa ibu
melakukan ini, Key tidak mengatakan apa pun padaku Bu.Ya, seperti itulah dia,
karena dia pasti akan menduga kejadian pagi ini kalau sampai dia mengatakan apa
yang ibu lakukan.”
Menjaga hubungan baik Bian dan ibunya. Bian yakin itulah alasan Key tidak memberitahunya.
“ Nak.”
“ Kenapa ibu menyiram air ke tubuh Key.” Mulai frustasi. “ Padahal aku
selalu membanggakan ibu padanya. Bahwa aku hanya punya ibu yang akan
mendukungku di sampingnku, tapi malah.” Berteriak kesal dengan suara tertahan
sambil mengacak rambutnya. “ Malah Key
mendapat perlakuan buruk itu dari ibu,Ayah saja mendukungku kenapa ibu.”
Yuna langsung mendekat dan memeluk Bian.
“ Tidak Nak, ibu salah. Maafkan ibu. “ Jangan sampai Bian membuka hatinya
untuk ayahnya. “ Kamu tahu kan kalau ibu melakukan ini demi kamu dan nama baik
perusahaan. Ayahmu.”
“ Seminggu lagi pertunanganku akan dibatalkan. Aku cukup senang karena
Ayah mendukungku.” Bian menjawab.
“ Jangan, jangan percaya pada ayahmu.”
Yuna kembali mencerca suaminya.Mengulang kalimat-kalimat panjang
kesalahan Adiguna padanya di masa lalu, entah sudah berapa kali Bian. Kecemburuan, amarah dan ketakutannya akan kemunculan anak Jesi semakin
menjadi. Ia mengulang lagi, dan mengulang lagi. Kata yang sudah di hafal Bian.
“ Bu, ayah sepertinya tidak sejahat itu.”
“ Jangan percaya pada ayahmu.” Mulai sesengukan dan memohon.
“ Baiklah, tenanglah, jangan menangis lagi.” Mendorong tubuh ibunya pelan.
“ Aku hanya punya ibu di sampingku, jadi
kumohon dukunglah hubunganku dengan Key. Aku mencintainya bu. Aku ingin
menikahinya dan hidup bersamanya.”
Walaupun tidak terima, namun Yuna tidak berani menjawab.Bian masih
tersulut api kekesalan, salah sedikit saja bicara, dia akan dibandingkan dengan
Adiguna. Karena ayahnya sudah merestui hubungannya dengan Key.
“ Maafkan ibu Nak,ibu akan mendukungmu.”
“ Minta maaaflah pada Key Bu.”
“ Tentu saja,kalau itu maumu.”
Bian menarik lengan ibunya, menjatuhkan ibunya dalam pelukannya. Dia
bersandar di bahu ibunya.
“ Ibu tahu kan aku menyayangi ibu, jadi aku mohon jangan membuatku
sendih karena ibu berada di jalan yang berbeda denganku.”
“ Ia Nak, maafkan ibu.” Menepuk bahu Bian, tidak bisa melakukan apa pun
selain mengiyakan. Dia akan mengalah dan
menyerah sekarang.
Bian mengusap airmata ibunya dengan jemarinya lembut.
“ Setelah pembatalan pertunangan ayo kita pergi bertiga. Ibu, Key dan
aku. Kita makan lalu belanja. Ibu mau kan.” Saat Bian bisa menunjukan kepada
semua orang siapa wanita yang ia cintai, ia mau ibunya berdiri di sampingnya.
“ Tentu saja Nak,ibu akan selalu mendukungmu.”
Yuna menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, dengan kelegaan. Bian keluar dari kamar dengan amarah yang mereda. Ia masih bisa menguasai hati anaknya.
***
Bian masih menungu di teras rumah. Belum punya keberanian mengetuk
pintu. Sedang menyiapkan kata penyesalan. Dia bahkan sudah melewatkan semua
kegiatan paginya hari ini.
Suara kunci pintu terbuka.
“ Kak Bian.” Key membuka pintu mendapati Bian yang sudah berdiri
di hadapannya dengan tatapaan sendu. Lelah, karena menguras emosi.
“ Maaf.” Bian mendekat dan menjatuhkan kepalanya di bahu Key. “ Kenapa
kau masih menanggung semua sendirian Key. Maafkan aku.”
Ahhh, bagaimana ini.Apa Kak bian bertengkar dengan ibunya.
Bersambung…
Sabar…. Sabaar…. Ntar ada waktunya Yuna kena batunya. Gak lama lagi kok, hehe.
^_^