Key And Bian

Key And Bian
Frezze Parfume (Part 1)



Malam di kota ini hidup berharmoni,


ramai namun tidak terlalu gagap gempita. Semua orang menjalani kehidupan dengan


taat kepada aturan tanpa merasa terbebani. Disiplin yang beberapa tahun ini


benar-benar di giatkan pemerintah, telah merubah wajah kota ini menjadi begitu


indah. Rasa aman  berjalan-jalan di malam


hari, karena beberapa sudut dan ruas jalan, polisi berjaga dalam sif-sif


mereka. Mengatur jalan dan menjaga keamanan warganya. Key sedang bekerja di


miimarket. Menikmati kebersamaan bersama Bian. Malam itu mereka makan malam


dengan nikmat. Bahagia untuk diri mereka sendiri.


Sementara di tempat lain, di sebuah


studio foto. Seorang gadis sedang menghapus sisa-sisa make up di wajahnya. Dia


adalah gadis malang yang di campakan tunangannya siang tadi. Ada jurang


kesedihan dimata itu, namun beberapa jam yang lalu ia bisa menutupi semua itu


dengan topeng senyum di wajahnya. Namun saat hanya ada dia sendiri, rasa pilu


itu kembali menyanyat. Di cermin ia melihat pantulan wajahnya yang menyedihkan.


Ia bahkan tidak bisa menangis karena tuntutan pekerjaanya.


Dan di tempat lainnya, Disebuah


rumah sederhana, Basma masih bermain-main dengan ponselnya. Suara pintu di


ketuk membuatnya menoleh dari hp yang dipegangnya. Terdengar suara laki-laki


mengucapkan salam. Di luar masih banyak orang, para tetangga banyak yang


berkumpul dan anak-anak masih banyak yang berteriak-teriak. Basma bangun lalu


mematikan tv yang sebenarnya tidak di tontonnya. “ Siapa malam-malam


begini.”  Gumamnya sendiri. Dia membuka


kunci dan membuka pintu separuh. “ Siapa ya?”


Seorang laki-laki yang tidak di


kenalnya. Ia masih terlihat muda, mungkin diusia 35 tahunan. “ Apa ini rumah


Basma Adiputra?”


Basma mengeryit curiga, kenapa


laki-laki ini tahu namanya. Dia bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Tahu,


bahwa dia di curigai dia segera mengeluarkan kartu nama. “ saya dari frezze


parfume” Basma menerima kartu nama. “ Maaf karena sudah datang malam-malam,


bisa kita bicara sebentar. Diluar juga tidak apa-apa, kalau Basma merasa tidak


nyaman.”


“ Baiklah, tunggu sebentar.” Basma


menutup pintu. “ bagaimana ini?” ia berdiri di balik pintu yang tertutup.


Binggung. Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Basma keluar membawa dua buah


kursi plastik. “ Silahkan duduk om.”


“ Terimakasih.” Dia menjawab, lalu


menerima kursi yang diberikan Basma. “ Saya Said Husni.” Sudah tahu, tadikan


sudah baca kartu namanya, pikir Basma. “ maaf karena datang malam-malam begini,


soalnya baru mendapatkan alamat rumah Basma.”


“ Kenapa ya om?” Basma masih curiga


saja. Aneh soalnya. Kalau benar ada urusan kenapa tidak besok pagi saja.


“ Kami ingin mengontrak Basma untuk


model iklan frezze parfum.” Katanya pelan namun meyakinkan.


“ Apa!” Basma yang terkejut,


apa-apaan ini. Memang bisa ya seperti ini. Dia tahu frezze parfume itu merek


dagang parfum seperti apa. Kelas pasarnya siapa. Lho kok, bisa-bisanya datang


kerumahnya malam-malam menawarinya untuk menjadi model. Apa laki-laki di


hadapannya ini sedang menggigau. “ model ? Apa om sedang bergurau sekarang. “


Said Husni bersikap biasa. Memang


tidak ada yang mencurigakan dari laki-laki ini dari sikapnya. Tapi karena dia


dari frezze parfume dan mengatakan bahwa ia ingin Basma menjadi model katalog


dan promosi maka itu yang aneh dan mencurigakan.


“ Pasti terdengar aneh ya, kalau


saya tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa kami meminta Basma untuk menjadi


model. Saya sudah mencari tahu tentang Basma yang jadi model butik online.”


“ Tapi om. Apa ini tidak terlalu


aneh? Maaf ya om, mungkin aku masih 16 tahun, tapi selama ini aku hidup dengan


melihat seseorang bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tidak


begitu saja mendapatkan keajaaiban dari langit. Jadi aku tidak percaya dengan


kebetulan-kebetulan seperti di drama-drama. Aku jelasin lagi ya om.” Memang


harus percaya gitu, merk dagang sekelas Frezze parfume, menawani anak umur 16


tahun dirumahnya langsung lagi. “ Om dari frezze parfume, melihat foto-foto


model. Dan tidak tahu darimana om tau alamat saya, sekarang sudah ada di sini.


please donk om, memang kita sedang main drama.” Basma bangun dari duduk. “


sepertinya sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.”


Said ikut bangun dari duduk. Dia


mau bicara lagi, namun Basma menepisnya dan malas menanggapi. Bocah itu malah


menguap malas, ntah pura-pura biar tamu peka atau memang mengantuk. Said


menyodorkan kartu namanya yang tadi dilihat Basma. “ datanglah ke kantor, atau


telfon saya jika Basma berubah pikiran.” Ragu Basma, dia menatap kartu nama


itu. Tidak tertarik. “ tolong terimalah.” Akhirnya di sambar juga kartu nama


itu. “ Terimakasih banyak. Saya permisi.” Said Husni menunduk dua kali sebelum


beranjak pergi.


“ Lho, lho, kenapa dia bersikap


begitu sopan padaku.” Basma tak menunggu sampai laki-laki itu menghilang di


belokan, dia sudah masuk ke rumah. Menjatuhkan tubuh lagi dikursi.


Dipandanginya sebentar kartu nama itu, lalu dilemparkannya di atas meja. Dia


memilih meraih ponselnya lagi.


“ Bas pasti kamu bakal shock ada frezze parfume yang datang ke kantor hari ini.”


“ Tanya-tanya tentang kamu.”


“ What the hell, mereka bilang tertarik buat kamu jadi model.”


“ Gila!!!”


“ aku kasih alamat rumahmu tadi. Sudah datang belum?”


“ tadinya dia minta no telfon, tapi gak berani ngasih, kamukan suka sensi kalau nomer telfon di bagi-bagi.”


Chat dari Rian. “ Apa-apaan ini.


Jadi om tadi benar-benar dari frezze parfume.” Basma agak merasa bersalah juga


karena tadi terlalu curiga. Tapi bagaimana tidak curiga, yang tadi memang


benar-benar mencurigakan.



Dirumah besar milik Adiguna Sanjaya.


Laki-laki itu terkulai dilantai, lembaran kertas yang ia pegang berhampuran kelantai. Sekertarisnya Haryo berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya juga terlihat sangat terpukul.


“ Bawa anakku kembali malam ini juga!” kata-kata sudah bergetar, keluar dengan nada yang keras.


“ Tuan.”


“ Bawa dia malam ini, jangan sampai semuanya menjadi terlambat.” Ada sebuah pisau menyanyat hatinya. Saat semua terlambat hanya akan ada penyesalan yang tidak bisa diobati dengan apapun.


“ Tuan kalau kita membawanya paksa dia pasti akan sangat terkejut. Dan saya tidak mau dia menolak anda jika dipaksa begini.”


Adiguna menatap sekertarisnya dalam. Semua yang dikatakannya benar. bagaimana kalau putranya menolaknya. Bagaimana kalau kebenaran ini membuatnya terkejut dan membencinya.


“ Ini dosa yang harus kutanggung, aku sudah membuat Jesika hidup dalam penderitaan bahkan sampai akhir hidupnya. Karena keegoisanku. Karena aku sangat mencintainya.”


Semua sudah terlambat, tidak ada


lagi menyulam masa lalu kembali. Tidak ada lagi lembaran hidup bersama wanita


yang dia cintai. Wanita itu sudah meninggal 16 tahun lalu. Meninggal dalam rasa


sakit. Sendirian tanpa dirinya.


“ Di mana Yuna?” Adiguna bangun, saat menyebut nama istrinya kemarahan meluap dimatanya.


“ Tuan, saya mohon.” Haryo mencegah langkah kaki Adiguna.


“ Dimana wanita iblis itu. Bagaimana dia bisa melakukan hal kejam seperti ini.” Tangan Haryo menahan tubuh Adiguna sekuat tenaga yang ia bisa. Kalau sampai laki-laki yang sedang marah ini keluar


dari ruangan ini, pasti akan ada pertengkaran hebat, mungkin bisa lebih parah


dari itu. Pertumpahan darah yang tidak bisa dihindari. Saat Adiguna sudah mulai


menguasai diri, dia sudah menarik nafas dengan normal. Haryo melepaskan


tangannya.


Haryo memungut satu persatu kertas


yang tadi berhamburan. Memapah tubuh Adiguna untuk duduk di sofa. Beberapa


waktu yang lalu laki-laki itu masih terlihat bersemangat. Dia masih punya


harapan. Untuk hidup dengan baik. Tapi sekarang sepertinya dia sudah


benar-benar kehilangan separuh nafasnya.


“ Frezee parfum akan menandatangani kontrak model dengannya, itu bisa menjadi jalan membuka ikatan


Adiguna grup dengannya.”


“ Malam ini buat dia menandatangani kontraknya.”


“ Tuan.”


“ Malam ini utus seseorang kerumahnya, atau aku yang akan datang dan membawanya pulang kemari.” Kembali lagi kemasalah pertama.


“ Baik tuan.” Haryo menyerah,


karena dia tahu Adiguna sedang sangat terluka. Membantah pria dihadapannya


sekarang akan sia-sia.


Itulah cinta, ketika kau tidak bisa berfikir sehat karenanya.


Bersambung................


“ Kenapa aku harus malam-malam membujuk anak-anak untuk menandatangani kontrak dengan Frezze parfume.” @Said Husni