Key And Bian

Key And Bian
Basma (Part 1)



Hari ini sepulang berjualan somai, Key


punya rencana untuk membelikan Basma ponsel baru. Ia menghitung-hitung semuanya


dengan cermat. Apa perlu, ia membeli dua ponsel. Satu untuknya dan


satu untuk Basma. Sebenarnya ia


tidak terlalu membutuhkan, tapi waktu itu Basma sudah pernah mengatakan, bahwa


ia akan menolak kalau dia tidak membeli untuk dirinya sendiri. Hari ini


cuacanya  cukup terik. Key duduk kelelahan sambil minum es dugan.


Somai dagangannya sudah hampir habis.


“ Bibi Hanum mau makan somai?” tanyannya


pada pedagang soto itu. Dia duduk dengan membawa segelas dawet. Sepertinya


cuaca hari ini benar-benar menyiksa. Tenda-tenda yang melindungi


para pedagang dan kursi-kursi


seperti tertembus. Panas menguap dan menembus sampai ke kulit.


“ Boleh Key. Panas sekali hari ini.”


Menyeruput esnya.


“ Ia Bi.” Key bangun, mengambilkan


seporsi somai. Lalu kembali, ia duduk dan kembali menyeruput es dugannya. “


Dunia semakin panas ya Bi.”


“ Ini masih mending Key, lima tahun


lalu taman ini meranggas dan kering. Pemerintah benar-benar berhasil merubah


taman ini. Dulu Bibi jualan di sini cuma bermodal tenda-tenda plastik gitu.


Sekarang sudah kerenlah.” Ia mulai


pelan-pelan memakan somainya.


“ Bener Bi. Merubah kebiasaan


masyarakat dalam lima tahun itu prestasi luas biasa pemerintah kota. Apalagi dukungan


mereka kepada pedagang-pedagang kecil seperti kita ini. Rasanya Key sangat


berterimakasih, terutama tenda-tenda ini. Hihi.” Ia menghabiskan tegukan terakhir


es dugannya. “Bibi mau bawa pulang somai, aku bungkusin ya.”


“ Memang kamu sudah mau pulang?”


“ Ia Bi, mau  ada yang dibeli.”


“ Boleh, Wisnu sama Tama pasti


girang kalau dibawain somai.”


“ Ih, kangen lho, sama si kembar,


pasti tambah ganteng ya.”


Wisnu dan Tama bocah kelas 2 SD yang


lucu dan imut, Key selalu tidak tahan untuk mencubit dan menciumi pipi mereka.


Sampai pernah menangis saking Key merasa gemas. Ia memasukan semua sisa somai


kedalam mangkok, dan memberikan kuah secara terpisah.


“ Bibi titip cubit pipinya Wisnu


sama Tama ya. Hehe.”


“ Makasih ya Key.”


Akhirnya Key melajukan mobilnya pulang.


Ia istirahat sejenak di rumah, sambil meluruskan kaki. Lagi-lagi menimang-nimang.


Mau beli ponsel baru berapa ya. Diambilnya buku tabungan di laci. Memperhatikan


dengan sangat seksama. Tabungannya sudah cukup banyak, sebagai biaya persiapan


kuliah Basma. Dan orderan 400 porsi juga ada di depan mata. “ Baiklah.” Ia


sudah mengambil keputusan, lalu beranjak menuju kamar untuk ganti baju. Nanti


ia akan langsung pergi ke minimarket.


 


 “ Berapakali pun datang kemari tempat


ini tetap mengagumkan.” Key berdecak kagum, memasuki pintu Grand mall. Hawa


sejuk langsung menyebar keseluruh tubuhnya. Aroma makanan tercium, dia


melihat sebentar, puluhan gerai


makanan yang rapi berjajar, kursi-kursi yang dipenuhi pengunjung. “Tempat ini


selalu ramai setiap hari.” Key melanjutkan jalannya. Dia menuju lift, sudah


banyak orang yang juga berdiri mengantri. Tubuhnya yang mungil, tengelam


di antara kepala-kepala orang yang lebih tinggi darinya.


 Pintu lift terpuka, orang-orang keluar.


Key berjalan terdorong masuk. Bersamaan itu Bian dan Anjas berjalan keluar.


Mereka tidak menyadari satu sama lain. Sampai Bian berhenti sejenak, dia


menoleh ke dalam lift yang tertutup. Memperhatikan dengan seksama, namun bayangan


yang melintas di matanya tidak terlihat.


 “ Kenapa?” Anjas menepuk bahu Bian.


 “ Tidak. Ayo pergi.”


 Key mundur-mundur, karena dia berada


tepat di belakang wanita berbadan tinggi besar. Seorang ibu muda yang berpenampilan


modis dan cantik. Cantik sekali dia, apa aku bisa secantik itu ya suatu hari


nanti. Key tersenyum sendiri. Sampai lift terbuka, ada yang keluar, ada yang


masuk. Akhirnya sampailah dia dilantai 4. Ia menghela nafas panjang. Ya tuhan,


tempat apa ini. Kenapa banyak sekali manusia berjejalan di sini, apa setiap hari


mereka ini ganti ponsel.  Berjalan sambil melihat-lihat.  Apa seperti


bayi yang lahir di muka bumi setiap detik, ada jenis ponsel baru juga setiap


detik. Berkali-kali Key berdecak kagum. Padahal, untuknya bisa membeli ponsel


harus melalui jalan panjang yang penuh perhitungan.


 Setelah berpindah dari satu toko ke toko


yang satunya. Membandingkan harga dan model Key menentukan pilihan. Ia memilih


warna biru untuknya dan putih untuk Basma. “ Kasih bonus perdana sama casing


pelindung juga Kak, boleh ya.” Wajah polosnya yang seperti anak sekolahan, meluluhkan


hati. Sudah dapat diskon masih dapat bonus juga. Key merasa senang sekali. Ia berjalan meninggalkan


keramaian orang-orang. Berulang kali ia melihat tas, membayangkan wajah Basma


yang akan girang. Membuatnya sudah merasa bahagia. Ia turun ke lantai satu,


kemudian masuk ke dalam supermarket. Melihat-lihat saja, ia pergi ke arah


peralatan rumah tangan.


Dia geleng-geleng kepala sendiri, mulutnya menganga


tidak percaya. Barang-barang di mall ini tidak ada yang tidak bermerk, semua


harganya bisa lima kali lipat dari harga di toko.


“ Bisa bangkrut dan tidak untung aku.”


Key melenggang dan berjalan keluar mall. Panas menyergap wajahnya. “Perbedaannya


sungguh timpang sekali. Seperti orang kaya dan rakyat jelata saja udara di dalam dan di luar sini.” Key


memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia masih punya waktu. Dan ia memilih


berjalan menyusuri trotoar. “ City Park tidak jauh kan, jalan-jalan sebentar


ke sana ah.”


Key menyusuri jalan, memilih berjalan


di bawah bayang-bayang pohon. “ Waww, tempat ini memang mempesona.”


City Park, taman kota yang memang dibuat


sebagai tempat rekreasi. Steril dari para pedagang makanan. Kursi-kursi taman


rapi terjajar. Kotak sampah ada di setiap samping kursi. Pohon-pohon teduh dan


rindang. Ada kolam ikan yang bersih terawat, rumputnya juga bersih. Alat-alat


olahraga juga tersedia. Taman ini benar-benar memanjakan penghuni kotanya. Akan


ramai di setiap akhir pekan. Key melihat banyak orang sedang menikmati suasana


nyaman itu. Ada anak-anak yang berlarian, memakai seragam sekolah, sepertinya


sekolah TK. Sementara orang tua mereka berteriak-teriak, melarang untuk


melakukan ini dan itu. Tapi anak-anak terus berlari, menaiki tangga, tak


perduli dengan teriakan orang tua mereka.


 Key terdiam lama. Ia melihat serombongan


orang yang sedang melakukan  pemotretan. Ada banyak pakaian laki-laki dan


perempuan tergantung. Bukan itu yang membuatnya tertegun mematung. Ia mengenali


salah satu dari mereka. Dengan penasaran ia mendekat, memastikan bahwa apa yang


dilihatnya salah. Tapi tidak. Dia benar-benar mengenali salah satu dari mereka.


Pemuda tampan yang sedang di foto itu. Gayanya sangat keren. Eh, tidak. Bukan


itu. Key berjalan lebih dekat. Tangannya gemetar, menahan


perasaannya.


 “ Basma!”


 Semua menoleh,  ke arah suara


keras yang berasal dari seorang wanita. Tampak bingung satu sama lain. Sang


model terkejut.


 “ Mba Key.” Wajahnya Basma langsung pias.


“ Siapa Bas?” tanya yang lain


mendekat.


 “ Kakakku. Aku temui dia dulu ya.


Aaa,” mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi. Binggung dan takut bercampur


aduk.


 “ Apa dia marah?” tanya seseorang di sampingnya


yang memegang baju. Dia tahu Basma melakukan pemotretan ini tanpa izin dari


kakak perempuannya.


 “ Tidak dengar dia berteriak tadi.” Lalu


Basma berlari mendekati key. “ Mba, mba dari mana?” sambil memegang tangan Key.


 “ Jadi ini alasan kamu pulang telat


setiap hari.” Menepis tangan Basma, suaranya terdengar sedih bercampur marah.


 Tidak tahu harus menjelaskan dari


mana, Basma menoleh ke arah teman-teman kerjanya. “ Mba Key, aku bisa jelaskan


nanti di rumah.”


“ Jelaskan apa? Kalau kamu .”


Menahan marah, ia tahu tidak seharusnya ia marah di sini, dihadapan teman-teman


adiknya. Ia tidak mau mempermalukan Basma. “pulang!” lirih namun tegas.


 “ Mba, tolong, Bas sudah terikat kontrak.”


 “ Apa? Kontrak? Sejak kapan anak


dibawah umur bisa tanda tangan kontrak tanpa persetujuan wali. Aku wali kamu


satu-satunya Bas. “ sepertinya panas siang ini mulai mencekik leher Key.


Teman-teman Basma bisa mendengar


dengar jelas kemarahannya. “ Apa kamu pikir aku bekerja keras siang dan malam


selama ini.” Menghentikan bicara, dia menatap adiknya lekat. “ Mba cuma minta kamu


belajar dengan benar Bas, masuk universitas.”


“ Aku tidak akan kuliah.”


Jawaban Basma semakin membuat


dada Key meledak.


“ Apa Mba pikir aku bisa kuliah


dengan tenang sementara siang dan malam Mba Key bekerja keras mencari uang.


Basma bukan anak kecil, yang bisa pura-pura tidak tahu betapa lelahnya Mba bekerja. lagi pula ini cuma kerja


part time aja, mumpung sekarang sekolah sudah mau libur.”


“ Diam!”


“ Sampai kapan Mba akan seperti ini,


kita juga tahu, aku bukan adik kandung Mba Key, suatu hari nanti mba Key harus


memikirkan hidup Mba sendiri. “


 “ Apa? Apa kamu bilang.” Amarah Key


berubah menjadi kegetiran.  Ia  mulai meneteskan air mata. Ia mulai kehilangan


kendali. Memukul dada adiknya berulang kali. “ Kamu bilang apa? Bukan adikku? Pergi meninggalkanmu? “  Amarahnya berganti tangis kecewa.  Dilemparkannya tas berisi


ponsel yang tadi dia beli dengan penuh kebahagiaan. Lalu ia berbalik menahan


isak. Menguatkan kakinya untuk berlari pergi.


Basma hanya bisa memandang wanita istimewa


yang di cintainya itu menghilang. Dia memandang tas kertas kecil yang dilemparkan


padanya. Isinya keluar. Dua buah kotak smartpone dengan corak warna yang


berbeda. Dia gemetar memegangnya. Wajah dan tangis Key, tiba-tiba datang


bertubi memenuhi dadanya dengan penyesalan. Ia ingin pergi, namun dicegah oleh


yang lain. Memohon untuk menyelesaikan sesi pemotretan sampai akhir. Walaupun tidak berjalan


optimal tapi tetap dilakukan juga. Gemetar Basma  memegang erat tas kecil


yang dilemparkan key tadi.


Bersambung..............


Terkadang kalau kau sedang sedih,


kau menangis tanpa bisa kau cegah @LaSheira