
Hari ini sepulang berjualan somai, Key
punya rencana untuk membelikan Basma ponsel baru. Ia menghitung-hitung semuanya
dengan cermat. Apa perlu, ia membeli dua ponsel. Satu untuknya dan
satu untuk Basma. Sebenarnya ia
tidak terlalu membutuhkan, tapi waktu itu Basma sudah pernah mengatakan, bahwa
ia akan menolak kalau dia tidak membeli untuk dirinya sendiri. Hari ini
cuacanya cukup terik. Key duduk kelelahan sambil minum es dugan.
Somai dagangannya sudah hampir habis.
“ Bibi Hanum mau makan somai?” tanyannya
pada pedagang soto itu. Dia duduk dengan membawa segelas dawet. Sepertinya
cuaca hari ini benar-benar menyiksa. Tenda-tenda yang melindungi
para pedagang dan kursi-kursi
seperti tertembus. Panas menguap dan menembus sampai ke kulit.
“ Boleh Key. Panas sekali hari ini.”
Menyeruput esnya.
“ Ia Bi.” Key bangun, mengambilkan
seporsi somai. Lalu kembali, ia duduk dan kembali menyeruput es dugannya. “
Dunia semakin panas ya Bi.”
“ Ini masih mending Key, lima tahun
lalu taman ini meranggas dan kering. Pemerintah benar-benar berhasil merubah
taman ini. Dulu Bibi jualan di sini cuma bermodal tenda-tenda plastik gitu.
Sekarang sudah kerenlah.” Ia mulai
pelan-pelan memakan somainya.
“ Bener Bi. Merubah kebiasaan
masyarakat dalam lima tahun itu prestasi luas biasa pemerintah kota. Apalagi dukungan
mereka kepada pedagang-pedagang kecil seperti kita ini. Rasanya Key sangat
berterimakasih, terutama tenda-tenda ini. Hihi.” Ia menghabiskan tegukan terakhir
es dugannya. “Bibi mau bawa pulang somai, aku bungkusin ya.”
“ Memang kamu sudah mau pulang?”
“ Ia Bi, mau ada yang dibeli.”
“ Boleh, Wisnu sama Tama pasti
girang kalau dibawain somai.”
“ Ih, kangen lho, sama si kembar,
pasti tambah ganteng ya.”
Wisnu dan Tama bocah kelas 2 SD yang
lucu dan imut, Key selalu tidak tahan untuk mencubit dan menciumi pipi mereka.
Sampai pernah menangis saking Key merasa gemas. Ia memasukan semua sisa somai
kedalam mangkok, dan memberikan kuah secara terpisah.
“ Bibi titip cubit pipinya Wisnu
sama Tama ya. Hehe.”
“ Makasih ya Key.”
Akhirnya Key melajukan mobilnya pulang.
Ia istirahat sejenak di rumah, sambil meluruskan kaki. Lagi-lagi menimang-nimang.
Mau beli ponsel baru berapa ya. Diambilnya buku tabungan di laci. Memperhatikan
dengan sangat seksama. Tabungannya sudah cukup banyak, sebagai biaya persiapan
kuliah Basma. Dan orderan 400 porsi juga ada di depan mata. “ Baiklah.” Ia
sudah mengambil keputusan, lalu beranjak menuju kamar untuk ganti baju. Nanti
ia akan langsung pergi ke minimarket.
“ Berapakali pun datang kemari tempat
ini tetap mengagumkan.” Key berdecak kagum, memasuki pintu Grand mall. Hawa
sejuk langsung menyebar keseluruh tubuhnya. Aroma makanan tercium, dia
melihat sebentar, puluhan gerai
makanan yang rapi berjajar, kursi-kursi yang dipenuhi pengunjung. “Tempat ini
selalu ramai setiap hari.” Key melanjutkan jalannya. Dia menuju lift, sudah
banyak orang yang juga berdiri mengantri. Tubuhnya yang mungil, tengelam
di antara kepala-kepala orang yang lebih tinggi darinya.
Pintu lift terpuka, orang-orang keluar.
Key berjalan terdorong masuk. Bersamaan itu Bian dan Anjas berjalan keluar.
Mereka tidak menyadari satu sama lain. Sampai Bian berhenti sejenak, dia
menoleh ke dalam lift yang tertutup. Memperhatikan dengan seksama, namun bayangan
yang melintas di matanya tidak terlihat.
“ Kenapa?” Anjas menepuk bahu Bian.
“ Tidak. Ayo pergi.”
Key mundur-mundur, karena dia berada
tepat di belakang wanita berbadan tinggi besar. Seorang ibu muda yang berpenampilan
modis dan cantik. Cantik sekali dia, apa aku bisa secantik itu ya suatu hari
nanti. Key tersenyum sendiri. Sampai lift terbuka, ada yang keluar, ada yang
masuk. Akhirnya sampailah dia dilantai 4. Ia menghela nafas panjang. Ya tuhan,
tempat apa ini. Kenapa banyak sekali manusia berjejalan di sini, apa setiap hari
mereka ini ganti ponsel. Berjalan sambil melihat-lihat. Apa seperti
bayi yang lahir di muka bumi setiap detik, ada jenis ponsel baru juga setiap
detik. Berkali-kali Key berdecak kagum. Padahal, untuknya bisa membeli ponsel
harus melalui jalan panjang yang penuh perhitungan.
Setelah berpindah dari satu toko ke toko
yang satunya. Membandingkan harga dan model Key menentukan pilihan. Ia memilih
warna biru untuknya dan putih untuk Basma. “ Kasih bonus perdana sama casing
pelindung juga Kak, boleh ya.” Wajah polosnya yang seperti anak sekolahan, meluluhkan
hati. Sudah dapat diskon masih dapat bonus juga. Key merasa senang sekali. Ia berjalan meninggalkan
keramaian orang-orang. Berulang kali ia melihat tas, membayangkan wajah Basma
yang akan girang. Membuatnya sudah merasa bahagia. Ia turun ke lantai satu,
kemudian masuk ke dalam supermarket. Melihat-lihat saja, ia pergi ke arah
peralatan rumah tangan.
Dia geleng-geleng kepala sendiri, mulutnya menganga
tidak percaya. Barang-barang di mall ini tidak ada yang tidak bermerk, semua
harganya bisa lima kali lipat dari harga di toko.
“ Bisa bangkrut dan tidak untung aku.”
Key melenggang dan berjalan keluar mall. Panas menyergap wajahnya. “Perbedaannya
sungguh timpang sekali. Seperti orang kaya dan rakyat jelata saja udara di dalam dan di luar sini.” Key
memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia masih punya waktu. Dan ia memilih
berjalan menyusuri trotoar. “ City Park tidak jauh kan, jalan-jalan sebentar
ke sana ah.”
Key menyusuri jalan, memilih berjalan
di bawah bayang-bayang pohon. “ Waww, tempat ini memang mempesona.”
City Park, taman kota yang memang dibuat
sebagai tempat rekreasi. Steril dari para pedagang makanan. Kursi-kursi taman
rapi terjajar. Kotak sampah ada di setiap samping kursi. Pohon-pohon teduh dan
rindang. Ada kolam ikan yang bersih terawat, rumputnya juga bersih. Alat-alat
olahraga juga tersedia. Taman ini benar-benar memanjakan penghuni kotanya. Akan
ramai di setiap akhir pekan. Key melihat banyak orang sedang menikmati suasana
nyaman itu. Ada anak-anak yang berlarian, memakai seragam sekolah, sepertinya
sekolah TK. Sementara orang tua mereka berteriak-teriak, melarang untuk
melakukan ini dan itu. Tapi anak-anak terus berlari, menaiki tangga, tak
perduli dengan teriakan orang tua mereka.
Key terdiam lama. Ia melihat serombongan
orang yang sedang melakukan pemotretan. Ada banyak pakaian laki-laki dan
perempuan tergantung. Bukan itu yang membuatnya tertegun mematung. Ia mengenali
salah satu dari mereka. Dengan penasaran ia mendekat, memastikan bahwa apa yang
dilihatnya salah. Tapi tidak. Dia benar-benar mengenali salah satu dari mereka.
Pemuda tampan yang sedang di foto itu. Gayanya sangat keren. Eh, tidak. Bukan
itu. Key berjalan lebih dekat. Tangannya gemetar, menahan
perasaannya.
“ Basma!”
Semua menoleh, ke arah suara
keras yang berasal dari seorang wanita. Tampak bingung satu sama lain. Sang
model terkejut.
“ Mba Key.” Wajahnya Basma langsung pias.
“ Siapa Bas?” tanya yang lain
mendekat.
“ Kakakku. Aku temui dia dulu ya.
Aaa,” mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi. Binggung dan takut bercampur
aduk.
“ Apa dia marah?” tanya seseorang di sampingnya
yang memegang baju. Dia tahu Basma melakukan pemotretan ini tanpa izin dari
kakak perempuannya.
“ Tidak dengar dia berteriak tadi.” Lalu
Basma berlari mendekati key. “ Mba, mba dari mana?” sambil memegang tangan Key.
“ Jadi ini alasan kamu pulang telat
setiap hari.” Menepis tangan Basma, suaranya terdengar sedih bercampur marah.
Tidak tahu harus menjelaskan dari
mana, Basma menoleh ke arah teman-teman kerjanya. “ Mba Key, aku bisa jelaskan
nanti di rumah.”
“ Jelaskan apa? Kalau kamu .”
Menahan marah, ia tahu tidak seharusnya ia marah di sini, dihadapan teman-teman
adiknya. Ia tidak mau mempermalukan Basma. “pulang!” lirih namun tegas.
“ Mba, tolong, Bas sudah terikat kontrak.”
“ Apa? Kontrak? Sejak kapan anak
dibawah umur bisa tanda tangan kontrak tanpa persetujuan wali. Aku wali kamu
satu-satunya Bas. “ sepertinya panas siang ini mulai mencekik leher Key.
Teman-teman Basma bisa mendengar
dengar jelas kemarahannya. “ Apa kamu pikir aku bekerja keras siang dan malam
selama ini.” Menghentikan bicara, dia menatap adiknya lekat. “ Mba cuma minta kamu
belajar dengan benar Bas, masuk universitas.”
“ Aku tidak akan kuliah.”
Jawaban Basma semakin membuat
dada Key meledak.
“ Apa Mba pikir aku bisa kuliah
dengan tenang sementara siang dan malam Mba Key bekerja keras mencari uang.
Basma bukan anak kecil, yang bisa pura-pura tidak tahu betapa lelahnya Mba bekerja. lagi pula ini cuma kerja
part time aja, mumpung sekarang sekolah sudah mau libur.”
“ Diam!”
“ Sampai kapan Mba akan seperti ini,
kita juga tahu, aku bukan adik kandung Mba Key, suatu hari nanti mba Key harus
memikirkan hidup Mba sendiri. “
“ Apa? Apa kamu bilang.” Amarah Key
berubah menjadi kegetiran. Ia mulai meneteskan air mata. Ia mulai kehilangan
kendali. Memukul dada adiknya berulang kali. “ Kamu bilang apa? Bukan adikku? Pergi meninggalkanmu? “ Amarahnya berganti tangis kecewa. Dilemparkannya tas berisi
ponsel yang tadi dia beli dengan penuh kebahagiaan. Lalu ia berbalik menahan
isak. Menguatkan kakinya untuk berlari pergi.
Basma hanya bisa memandang wanita istimewa
yang di cintainya itu menghilang. Dia memandang tas kertas kecil yang dilemparkan
padanya. Isinya keluar. Dua buah kotak smartpone dengan corak warna yang
berbeda. Dia gemetar memegangnya. Wajah dan tangis Key, tiba-tiba datang
bertubi memenuhi dadanya dengan penyesalan. Ia ingin pergi, namun dicegah oleh
yang lain. Memohon untuk menyelesaikan sesi pemotretan sampai akhir. Walaupun tidak berjalan
optimal tapi tetap dilakukan juga. Gemetar Basma memegang erat tas kecil
yang dilemparkan key tadi.
Bersambung..............
Terkadang kalau kau sedang sedih,
kau menangis tanpa bisa kau cegah @LaSheira