Key And Bian

Key And Bian
Ketakutan Bian (Part 2)



Key sedang duduk dikursi taman


dalam balutan pakaian yang sangat cantik. Dia membiarkan rambutnya tergerai


tertiup angin. Ada yang berbeda diwajahnya, ia memakai riasan yang sangat


manis. Membuatnya berbeda dari hari biasa ketika Bian bertemu dengannya di


Minimarket.


“ Kak Bian sudah datang.” Key


berlari meraih lengan Bian. Laki-laki itu tersenyum.


Dia tidak marah setelah semua


kejadian semalam. Pikirnya lama. Mereka duduk bersebelaan, Key masih


melingkarkan tangannya di lengan Bian.


“ Ehm, kamu tidak marah Key?” akhirnya Bian yang bertanya, menjawab rasa penasarannya.


“ Marah? Kenapa aku harus marah.” ia tersenyum dengan manis.


“ Karena aku sudah berbohong kepadamu tentang siapa aku.”


“ Haha, kenapa harus marah kak. Kak


Biankan CEO Grand Mall, bagaimana aku bisa marah, aku malah senang. Oh ya, apa


Key bisa buka gerai di mall Kak Bian. Atau Key boleh gak punya kartu anggota


VVIP. Haha, katanya banyak keuntungannya jadi pelanggan VVIP. Key mau donk kak,


diajak ke pesta-pesta terkenal itu. Sebenarnya Key lelah harus kerja jualan


somai dan menjaga minimarket kalau malam. “


" Kak Bian bisa kasih modal Key, biar Key bisa mengembangkan usaha dan merekrut karyawan. Key benar-benar sudah lelah. dan juga sekarangkan ada kak Bian, CEO Grand Mall."


Bian menatap Key merinding, dia


kini berwajah masam. Perlahan ia melepaskan tangan yang melingkar dilengannya.


Merasa jijik. Ternyata seperti ini wajah asli Key. Bian berguman pada dirinya sendiri.


“ kenapa kak?”


“ Pergi.”


“ Nggak mau, Key gak mau pergi. Key


gak mau melepaskan CEO Grand mall. Haha, apa Key sudah gila sampai membiarkan


kak Bian pergi.”


Bian sangat kesal mendengar itu. Ia


bangun dan beranjak pergi, tidak memperdulikan teriakan Key dibelakangnya yang


berulang memanggilnya.



Bian terlonjak kaget. Ia sampai


hampir terjatuh dari sofa. Tapi hanya kaki kirinya yang sudah menyentuh lantai. Dipegangnya kepalanya sambil memijitnya perlahan.


Nafasnya tersengal. Ia mimpi buruk. Ketakutannya yang kedua terjadi dalam


mimpinya. Bayangan Key yang mengelayut manja tanpa merasa malu di lengannya


kembali melintas. Bian merasa tersedot dalam pikirannya. Wajahnya berubah


menjadi sangat masam.


 Kesal dengan perasaannya sendiri dia bangun,


banyangan key yang manja dan mengodanya membuatnya jengkel kemudian ia  meraih kunci mobil. Pakaiannya bukan pakaian


kerja, dia hanya memakai kaos biasa. Ntah mau kemana Bian. Hatinya ingin sekali


memastikan, namun ntahlah, apa dia punya keberanian untuk hanya melihat mata


gadis itu. Sampai di depan gerbang petugas yang tahu mobilnya langsung berdiri


dan menunduk hormat, Bian membunyikan klaksonnya. Dia memperlambat laju mobil


saat melewati minimarket, sebuah mobil boks sedang menurunkan barang. Petugas


yang waktu itu ia temui saat key sakit. Lagi pula ini belum waktunya ganti siff


malam.


Bian menghentikan mobil tidak jauh


dari gang masuk rumah key. Dia tidak turun dari mobil, hanya diam menunggu. “


Apa sebenarnya yang kulakukan ini.” Bian terlonjak kaget saat pintu kaca


mobilnya diketuk. Dibukanya kaca mobil, seorang pemuda dengan wajah dingin


memandangnya. Ia tahu pemuda itu siapa. Ah, kenapa harus terpergok olehnya


lagi.



“ Tidak.” suaranya terdengar menjengkelkan ditelinga Bian.


Akhirnya mereka duduk berhadapan di


sebuah cafe. Seorang pelayan datang membawakan menu. “ dua kopi.” Bian memesan


tanpa melihat menu.


“ Aku tidak suka minum kopi.”


“ Aaa, baiklah, karena kau masih


anak-anak sebaiknya minum minuman yang menyehatkan, satu kopi dan satu jus


mangga.” Bian juga menjawab tidak kalah ketus.


“ Itu saja kak.” Pelayan bertanya lagi.


“ Ia.” Bian menatap lekat wajah


pemuda di hadapannya. Garis wajahnya tajam, kalau dilihat-lihat tidak ada


kemiripan wajah antara pemuda di hadapannya ini dengan Key. Key yang imut dan


pemuda ini, tampan namun terlihat dewasa.  “ Bagaimana keadaan key? Apa dia baik-baik saja?”


“ Menurutmu?” ketus tanpa sopan santun sama sekali.


“ Bicaralah yang sopan padaku, aku lebih tua darimu.”


Basma langsung bermuka masam, tanpa


perlu diingatkan tentang perbedaan usia antara mereka sudah membuatnya kesal,


apalagi jika dipikir, laki-laki yang ada dihadapannya ini adalah seorang CEO.


Rasanya seperti terjungkal dan tertindih gunung saja.


“ Apa key ada dirumah sekarang?”


“ Apa yang ingin kak Bian tahu


dariku?” Bian diam tidak menjawab. “ Kenapa tidak langsung bertanya padanya


saja.”


“ Aku takut akan seperti apa reaksinya padaku nanti.”


“ Kalau begitu, jangan pernah temui key lagi.” Haha, Basma tertawa dalam hati. Maaf mba, aku menyelam sambil minum air. Aku tahu, aku tidak seharusnya mengatakan hal seperti ini, karena tahu


bagaimana perasaanmu padanya. Namun Basma berfikir, jika ini adalah kesempatan


yang Tuhan berikan baginya, sebagai sarana Bian menghilang dari kehidupan Key,


tentu ini adalah hal yang sangat baik baginya.


“ Kenapa? Ah, aku tahu, dari awal


kau memang sudah tidak menyukaikukan. Tatapan matamu itu saat melihatku, bisa


kutafsirkan begitu.”


Basma yang terkejut kali ini, kenapa kata-kata Bian bisa telak seperti itu.


“ Aku tidak punya alasan untuk


tidak menyukaimu, sampai tadi malam. Kau tahu, kalau ditanya siapa orang yang


ingin kuhajar hari ini, aku ingin sekali menghajarmu kak. Pria yang jelas-jelas


lebih tua dariku. Aku memang sungguh tidak sopan, tapi kau tahu, orang yang


paling aku benci adalah orang membuat Key menangis dan sedih. Dan itu adalah


kamu.”


Bian terdiam. Ia sebenarnya merasa


kesal dengan bocah sombong di hadapannya ini, namun ia tidak bisa berbuat


apa-apa. Karena memang dialah yang salah dalam hal ini. Pembicaraan mereka


terhenti saat pesanan datang. Basma meraih gelasnya dan langsung meminum


minumannya.


“ Habiskan minumanmu, sepertinya


tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi denganmu.” Bian mengeluarkan uang, lalu


meletakannya di bawang gelas kopinya. Dia tidak menyentuh minumannya sama


sekali. “ Jangan katakan pada key kalau kita bertemu.”


“ Tentu saja.” Siapa juga yang mau


memberi tahu key. Dia menghabiskan minumannya, sebenarnya dia sayang pada kopi


di hadapannya, namun habis minum jus gak mungkinkan langsung minum kopi.


Akhirnya ditinggalkannya saja. Diapun berlalu dari kafe.


Bersambung.............