
Key sedang duduk dikursi taman
dalam balutan pakaian yang sangat cantik. Dia membiarkan rambutnya tergerai
tertiup angin. Ada yang berbeda diwajahnya, ia memakai riasan yang sangat
manis. Membuatnya berbeda dari hari biasa ketika Bian bertemu dengannya di
Minimarket.
“ Kak Bian sudah datang.” Key
berlari meraih lengan Bian. Laki-laki itu tersenyum.
Dia tidak marah setelah semua
kejadian semalam. Pikirnya lama. Mereka duduk bersebelaan, Key masih
melingkarkan tangannya di lengan Bian.
“ Ehm, kamu tidak marah Key?” akhirnya Bian yang bertanya, menjawab rasa penasarannya.
“ Marah? Kenapa aku harus marah.” ia tersenyum dengan manis.
“ Karena aku sudah berbohong kepadamu tentang siapa aku.”
“ Haha, kenapa harus marah kak. Kak
Biankan CEO Grand Mall, bagaimana aku bisa marah, aku malah senang. Oh ya, apa
Key bisa buka gerai di mall Kak Bian. Atau Key boleh gak punya kartu anggota
VVIP. Haha, katanya banyak keuntungannya jadi pelanggan VVIP. Key mau donk kak,
diajak ke pesta-pesta terkenal itu. Sebenarnya Key lelah harus kerja jualan
somai dan menjaga minimarket kalau malam. “
" Kak Bian bisa kasih modal Key, biar Key bisa mengembangkan usaha dan merekrut karyawan. Key benar-benar sudah lelah. dan juga sekarangkan ada kak Bian, CEO Grand Mall."
Bian menatap Key merinding, dia
kini berwajah masam. Perlahan ia melepaskan tangan yang melingkar dilengannya.
Merasa jijik. Ternyata seperti ini wajah asli Key. Bian berguman pada dirinya sendiri.
“ kenapa kak?”
“ Pergi.”
“ Nggak mau, Key gak mau pergi. Key
gak mau melepaskan CEO Grand mall. Haha, apa Key sudah gila sampai membiarkan
kak Bian pergi.”
Bian sangat kesal mendengar itu. Ia
bangun dan beranjak pergi, tidak memperdulikan teriakan Key dibelakangnya yang
berulang memanggilnya.
Bian terlonjak kaget. Ia sampai
hampir terjatuh dari sofa. Tapi hanya kaki kirinya yang sudah menyentuh lantai. Dipegangnya kepalanya sambil memijitnya perlahan.
Nafasnya tersengal. Ia mimpi buruk. Ketakutannya yang kedua terjadi dalam
mimpinya. Bayangan Key yang mengelayut manja tanpa merasa malu di lengannya
kembali melintas. Bian merasa tersedot dalam pikirannya. Wajahnya berubah
menjadi sangat masam.
Kesal dengan perasaannya sendiri dia bangun,
banyangan key yang manja dan mengodanya membuatnya jengkel kemudian ia meraih kunci mobil. Pakaiannya bukan pakaian
kerja, dia hanya memakai kaos biasa. Ntah mau kemana Bian. Hatinya ingin sekali
memastikan, namun ntahlah, apa dia punya keberanian untuk hanya melihat mata
gadis itu. Sampai di depan gerbang petugas yang tahu mobilnya langsung berdiri
dan menunduk hormat, Bian membunyikan klaksonnya. Dia memperlambat laju mobil
saat melewati minimarket, sebuah mobil boks sedang menurunkan barang. Petugas
yang waktu itu ia temui saat key sakit. Lagi pula ini belum waktunya ganti siff
malam.
Bian menghentikan mobil tidak jauh
dari gang masuk rumah key. Dia tidak turun dari mobil, hanya diam menunggu. “
Apa sebenarnya yang kulakukan ini.” Bian terlonjak kaget saat pintu kaca
mobilnya diketuk. Dibukanya kaca mobil, seorang pemuda dengan wajah dingin
memandangnya. Ia tahu pemuda itu siapa. Ah, kenapa harus terpergok olehnya
lagi.
“ Tidak.” suaranya terdengar menjengkelkan ditelinga Bian.
Akhirnya mereka duduk berhadapan di
sebuah cafe. Seorang pelayan datang membawakan menu. “ dua kopi.” Bian memesan
tanpa melihat menu.
“ Aku tidak suka minum kopi.”
“ Aaa, baiklah, karena kau masih
anak-anak sebaiknya minum minuman yang menyehatkan, satu kopi dan satu jus
mangga.” Bian juga menjawab tidak kalah ketus.
“ Itu saja kak.” Pelayan bertanya lagi.
“ Ia.” Bian menatap lekat wajah
pemuda di hadapannya. Garis wajahnya tajam, kalau dilihat-lihat tidak ada
kemiripan wajah antara pemuda di hadapannya ini dengan Key. Key yang imut dan
pemuda ini, tampan namun terlihat dewasa. “ Bagaimana keadaan key? Apa dia baik-baik saja?”
“ Menurutmu?” ketus tanpa sopan santun sama sekali.
“ Bicaralah yang sopan padaku, aku lebih tua darimu.”
Basma langsung bermuka masam, tanpa
perlu diingatkan tentang perbedaan usia antara mereka sudah membuatnya kesal,
apalagi jika dipikir, laki-laki yang ada dihadapannya ini adalah seorang CEO.
Rasanya seperti terjungkal dan tertindih gunung saja.
“ Apa key ada dirumah sekarang?”
“ Apa yang ingin kak Bian tahu
dariku?” Bian diam tidak menjawab. “ Kenapa tidak langsung bertanya padanya
saja.”
“ Aku takut akan seperti apa reaksinya padaku nanti.”
“ Kalau begitu, jangan pernah temui key lagi.” Haha, Basma tertawa dalam hati. Maaf mba, aku menyelam sambil minum air. Aku tahu, aku tidak seharusnya mengatakan hal seperti ini, karena tahu
bagaimana perasaanmu padanya. Namun Basma berfikir, jika ini adalah kesempatan
yang Tuhan berikan baginya, sebagai sarana Bian menghilang dari kehidupan Key,
tentu ini adalah hal yang sangat baik baginya.
“ Kenapa? Ah, aku tahu, dari awal
kau memang sudah tidak menyukaikukan. Tatapan matamu itu saat melihatku, bisa
kutafsirkan begitu.”
Basma yang terkejut kali ini, kenapa kata-kata Bian bisa telak seperti itu.
“ Aku tidak punya alasan untuk
tidak menyukaimu, sampai tadi malam. Kau tahu, kalau ditanya siapa orang yang
ingin kuhajar hari ini, aku ingin sekali menghajarmu kak. Pria yang jelas-jelas
lebih tua dariku. Aku memang sungguh tidak sopan, tapi kau tahu, orang yang
paling aku benci adalah orang membuat Key menangis dan sedih. Dan itu adalah
kamu.”
Bian terdiam. Ia sebenarnya merasa
kesal dengan bocah sombong di hadapannya ini, namun ia tidak bisa berbuat
apa-apa. Karena memang dialah yang salah dalam hal ini. Pembicaraan mereka
terhenti saat pesanan datang. Basma meraih gelasnya dan langsung meminum
minumannya.
“ Habiskan minumanmu, sepertinya
tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi denganmu.” Bian mengeluarkan uang, lalu
meletakannya di bawang gelas kopinya. Dia tidak menyentuh minumannya sama
sekali. “ Jangan katakan pada key kalau kita bertemu.”
“ Tentu saja.” Siapa juga yang mau
memberi tahu key. Dia menghabiskan minumannya, sebenarnya dia sayang pada kopi
di hadapannya, namun habis minum jus gak mungkinkan langsung minum kopi.
Akhirnya ditinggalkannya saja. Diapun berlalu dari kafe.
Bersambung.............