Key And Bian

Key And Bian
Canggung



Bian menatap kesal, namun hanya


melihat Anjas lewat sorot mata kebencian. Sekretaris cantiknya sedang berdiri


menunggunya menandatangani beberapa berkas. “ Susi bisa belikan saya es


campur?” Bian memberi perintah setelah selesai menandatangani berkas. Anjas


langsung merengut, demi mendengar perintah Bian. Susi cuma tersenyum dan


mengangguk.


“ Gak ada bosennya minum es campur!”


“ Diam!”


Susi tersontak kaget,  dia berhenti melangkah, dia tidak pernah


mendengar Bian bicara sekeras itu. Matanya penuh tanda tanya.


“ Haha, dia sedang kesal padaku.


Kalau sudah selesai, Susi bisa pergi, belikan dua ya. Ini uangnya.” Anjas yang


menyerahkan uang.


“ Baik Pak.” Dia buru-buru berlalu,


menoleh sebentar ke arah Bian yang duduk menyenderkan kepala di kursi.


“Sepertinya Pak Bian sedang ada masalah.” Gumamnya lirih. Lalu dia pergi keluar


kantor, meminta sopir kantor mengantar, membeli es campur langganan.


“ Lalu aku musti bagaimana lagi.


Ketua yang ingin seperti itu.” Posisi Anjas serba salah, karena lagi-lagi dia


hanya menjalankan perintah.


“ Apa perlu melakukannya? ahh,


hanya pacaran saja sudah membuatku muak, apalagi harus diresmikan menjadi


pertunangan. Apa dia sudah gila.” Bian memejamkan matanya berusaha menguasai


diri.


“ Itu perintah ketua Bi. Aku tidak


bisa melakukan apa pun, dia sendiri yang akan mengumumkan pertunangan kalian.”


Bian mengusap wajahnya,  mendongakan kepala. “ Aku akan bicara


padanya.”


“ Bi acaranya besok, bisakah tidak


membuat kekacauan di detik-detik terakhir.” Khawatir dengan watak Bian jika sudah


berhadapan dengan ketua.


“ Siapa yang mau membuat kekacauan,


aku hanya ingin bicara padanya.” Tambah emosi saja Bian rasanya. “ Hanya


bicara, bicara, dengar tidak. Bicara, memang aku mau melakukan apa”


“ Baiklah. Ini.” Mengalah saja


Anjas, kamu yang waras di sini, begitu pelipur laranya menghibur.


“ Apalagi? Kau membuat hari ini


menjadi menyebalkan!”


“ Teks pidatomu.”


“ Aaaaah.” Bian frustasi “ Katakan


padaku Kak, kenapa sampai sekarang kamu belum menikah, jangankan menikah, kau


bahkan tidak punya pacar kan?” Bian berusaha meyakinkan Anjas bahwa pertunangan


atau apalah itu adalah kesalahan besar jika dilanjutkan. “Kenapa? Kau juga


tidak percayakan?”


“ Apa?” tanyanya sok tidak paham


maksud pembicaraan Bian.


“ Apalagi, tentu cinta, kau juga


tidak percayakan dengan cinta. “


“ Aku percaya, hanya karena belum


menemukannya bukan berarti aku tidak mempercayainya Bi. Kau juga kan?” bijak ia


menjawab. Membuat Bian mendengus sebal. “ Konon begitulah takdir kehidupan kan,


laki-laki dan perempuan itu telah memiliki ikatan takdir yang dibuat oleh


Tuhan.”


“ Omong kosong apalagi kau Kak.”


Suara ketukan pintu. Susi cantik


sudah membawa nampan dan dua mangkok es campur, es serutnya yang berwarna merah


tercampur susu yang lumer. Ah Bian, sudah tergoda melihatnya.


“ Silahkan Pak.” Dia meletakan satu


di hadapan Bian dan satu di hadapan Anjas. “Selamat menikmati.”


“ Terimakasih Susi, maaf selalu


merepotkanmu.”  Anjas menerima esnya


sementara Bian sudah mulai menyendok esnya.


“ Tidak apa-apa Pak,  saya permisi .” dia pamit kembali ke tempat duduknya.


“ Baiklah.” Pintu tertutup. Anjas


baru mau membuka mulut memasukan sesuap es, Bian kembali bicara. Duh, anak ini


pendendam amat.


“ Berhenti meyakinkanku tentang


cinta “ langsung berubah ketus.


“ Baiklah.” Mengalah dan ikut


menikmati es campur.


“ Paman sudah menemukan sesuatu?”


Yang disebut paman oleh Bian adalah


ayah Anjas, tangan kanan dari ayahnya. Orang yang selama ini harus melayani


kegilaan ayahnya. Dan ntah, mungkin darah seperti itu sudah mengalir di tubuh


keluarganya. Anaknya pun harus mengikuti kegilaannya.


“ Sepertinya belum. Ntahlah,


mungkin mereka pindah keluar negri, ke Afrika mungkin.”


Mereka sama-sama menikmati es


campur, Bian samar mengingat wajah itu. Model cantik berprilaku sopan,


beberapa kali mereka pernah bertemu. Namun,ingatan wajahnya samar di memorinya. Sebaik dan sesopan apa pun wanita


itu, ia jijik untuk hanya menyentuh tangannya.


Es Anjas sudah habis.  “ Baca teks pidatomu, aku mau mengecek


persiapan final semuanya. Dan juga, kumohon, jaga sikapmu di hadapan ketua.”


Rasa sebal itu muncul lagi. Apalagi


kalau Anjas sudah sok mengguruinya, walaupun apa yang ia katakan memang benar. “


Aku tahu, pergi sana.” Setelah Anjas berlalu, dia masih menghabiskan es campur


yang ada di dalam magkoknya. Sambil membaca teks pidato. “ Apa-apaan ini, apa


dia mau aku mengatakan ini di depan umum. “ Malas ia membaca lagi, dibantingnya


begitu saja teks pidato. Terpuruk menyedihkan di ujung meja. Lalu ia meraih


ponselnya.


“ Dia bahkan tidak pernah mengirim


pesan padaku, chatnya pun dibuka terakhir kemarin. “ Bian habis memeriksa akun


chat milik Key. Gadis itu pasti sedang mengusap peluh melayani pelanggannya.


Tidak sabar untuk segera malam. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, seorang Bian


yang tidak harus tersenyum kepada semua orang. Seorang Bian yang diterima


dengan sangat bersahabat oleh seorang penjaga kasir manis yang selalu tersenyum


kepada semua orang. Bahkan kepada dirinya, tanpa curiga tanpa pernah banyak


bertannya.


 


“ Apa yang sedang Kak Bian


tidak enak ya?”


Bian tersadar dari lamunannya.


Bodohnya ia, kenapa bisa melamun di situasi seperti ini. Bukankah dia selalu


menunggu waktu malam untuk berada di situasi semacam ini. “ Ah tidak, boleh aku


tanya sesuatu Key?”


“ Tentu.”


“ Apa yang kamu pikirkan tentangku, saat


pertama kali kita bertemu? Apa kau menyukaiku.”


Key menggelengkan kepala. “ Tidak.


Haha. Key sebal dengan sikap Kak Bian.”


“ Jujur sekali.” Mendengus sebal.


“ Haha, tapi kenapa tiba-tiba


menanyakan itu?” Key merasa bersalah jadinya kan.


“ Tidak apa-apa, hanya penasaran


saja. Aku pun tidak menyukaimu.” Wajah key langsung berubah sedih. “ Kenapa


dengan wajahmu itu?”


“ Habis Kak Bian tadi bilang tidak


menyukaiku, aku kan jadi sedih.” Key makan lagi, walaupun tidak seantusias tadi.


Key terperanjak saat Bian menyentuh


rambut dan menyelipkannya di telinga. Dadanya tiba-tiba berdebar kencang. Dia


memalingkan wajah begitu pula Bian.


Apa aku sudah gila, kenapa aku menyentuh rambutnya. Bagaimana ini, apa yang akan


dipikirkan Key.


Bian tidak berani mengintip untuk


melihat reaksi yang muncul di wajah  Key.


Diapun berusaha menahan debaran dadanya sendiri.


Apa yang dilakukan Kak Bian, kenapa dia


menyentuh rambutku. Ah, aku bahkan tidak


berani melihat wajahnya sekarang. Key menunduk dalam.


Mereka sama-sama memilih menundukan


kepala dan menghabiskan makan malam. Suasana tiba-tiba berubah menjadi


canggung. Key bisa mendengar Bian menarik nafas kuat-kuat, begitu pula dirinya.


Mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


“ Hemm, kenapa kak Bian tidak


menyukaiku.” Ragu Key bertanya. Setelah cukup lama mereka terdiam.


“ Sebal saja, melihatmu tersenyum


pada semua orang dengan entengnya. Apa karena kamu pegawai minimarket, jadi


tersenyum seperti itu pada pelanggan sudah seperti menghirup nafas, jadi aku


berfikir kalau senyumanmu itu palsu.” Bian menjawab cepat mengusir canggung.


Key menoleh, ada pelanggan yang


masuk. Itu malah menyelamatkan situasi yang sejenak tidak terkendali. Dia


berlari ke kasir. “ Selamat datang.”  Key


menoleh ke arah Bian yang sedang menghabiskan makanannya. Berfikir keras, apa yang ada di kepala Bian sekarang.


“ Oo, ini saja Kak?” ia lalu


menghitung semuanya. Setelah pelanggan terakhirnya pergi, Key masih berdiri di


belakang kasir.


“ Apa kamu mau berdiri di belakang


kasir itu terus?” Suara Bian terdengar jelas menyuruhnya mendekat.


“ Oohh.” Key  berjalan mendekati Bian. Dia sudah selesai


makan dari tadi. “ Sudah selesai Kak?”


“ Duduklah.” Key menurut saja, lalu


ia pun duduk. “ Katakan, kalau sekarang bagaimana aku menurutmu.”


“ Kenapa menanyakan itu lagi?”


canggung, ia mengaduk-aduk makanannya yang masih tersisa.


“ Tadikan belum selesai, apa


sekarang kamu menyukaiku.” Key terdiam. Binggung. “ Kalau aku, aku menyukaimu


sekarang. Maaf karena pernah berprasangka buruk tentangmu.”


“ Apa?” Binggung Key jadinya.


“ Ya sebagai temanmu.”


“ Oh iya. Key juga suka Kak Bian


sebagai teman. “


Mereka hanya saling menyukai


sebagai seorang teman. Sama-sama berbohong, namun sama-sama saling memalingkan


muka untuk mengakui. Key tanpa sadar menyentuh tangan Bian, mereka sama-sama


terkejut dan menarik tangan mereka secara bersamaan. Sambil tersenyum malu dan


canggung.


“ Sepertinya besok aku tidak bisa


datang.”


“ Kebetulan  sekali, Key juga tidak bisa kerja besok Kak.”


“ Kenapa?” Penasaran di wajah Bian


muncul.


“ Ada pesanan somai buat pesta.”


“ Benarkah, aku juga ingin datang


ke pesta itu, belum pernah mencoba somainya key.”


“ Benarkah? Kalau begitu


kapan-kapan nanti Key bawakan somainya. Tapi...” ragu-ragu ia terdiam.


“ Kenapa?”


“ Itu, pestanya itu pesta khusus


Kak, cuma undangan yang boleh masuk. Tapi Key janji lain kali akan bawakan Kak


Bian somai.” Wajah Key terlihat khawatir, malah membuat Bian merasa lucu. Dan


dia pun tertawa, menikmati setiap inci ekspresi wajah itu. “ Kenapa malah


tertawa.”


“ Pasti pestanya mewah ya, cuma undangan


spesial yang bisa masuk.”


“ Tidak tahu juga Kak. Tapi Kak


Bian tidak kecewakan?”


“ Kenapa?”


“ Tadi, yang mau datang ke pesta.”


“ Haha, tidak Key. Aku juga ada


urusan besok.”


Malam semakin larut, Key menghitung


pendapatan, menutup toko, sekarang Bian yang selalu membantunya. Mereka bertemu


setiap malam. Bercerita tentang banyak hal. Lalu Bian pun mengantar Key sampai


gang depan rumah. Ah, kejadian itu berulang setiap malam, namun mereka selalu


saja merasa canggung ketika harus berpisah.


Bersambung................


Selamat datang dikawasan “suka tapi cuma bisa jadi teman”


^_^