Key And Bian

Key And Bian
Orangtua Kandung Basma



Bian merasa tidak terima untuk alasan yang dia juga merasa itu


kekanak-kanakan. Bagaimana bisa ada laki-laki sebesar bocah itu tinggal bersama


Key, mereka tidak punya ikatan darah, bukan adik kandung. Apa itu masuk akal.


Aku cemburu setengah mati, mengira kau adiknya saja aku sedikit  tidak terima. Apalagi sekarang!


Siang ini, bukan hanya matahari yang panas, hati Bian juga demikian. Dia


sudah ada di dalam mobil yang terparkir di depan ruko milik seseorang. Memutar


kemudi keluar dari area parkir. Sekarang ada di pinggir jalan. Mobil-mobil lalu


lalang, motor-motor juga demikian.


Suara klakson mobil  terdengar


berulang. Dari tekanan suaranya bisa didengar dengan jelas suasana hati orang


memencetnya. Bian menundukan kepala melihat Basma yang berjalan dengan lamban.


Terlihat enggan mengikutinya.


Aiss kenapa aku mengikutinya lagi.


Basma malah hanya berdiri beberapa langkah dari mobil. Masih ingin


berbalik  dan kembali ke rumah. Terserah dengan


Kak Bian batinnya. Dia tahu alasannya kenapa sampai dia diajak pergi begini. Apa yang Kak Bian dengar tadi pasti menyulut tanda tanya dan penasaran baginya.


Basma pun merasa sedikit penasaran, bukan tentang asal


usulnya.Tapi keputusan apa yang akan Key ambil. Apakah Key akan melihat apa pun


bukti yang dibawa bibi Salsa atau menyingkirkannya jauh. Mengubur semuanya


seperti pesan orangtua mereka.


“Masuk.” Bian membuka pintu mobil. Mulai tidak sabar, memaksa Basma masuk


ke dalam mobil dengan kata-katanya.


Setelah mobil bergerak pelan lalu mencapai kecepatan rata-rata, yang


terdengar hanya suara desahan nafas mereka berdua. Membisu, keduanya tidak ada


yang bicara duluan. Basma menatap jendela kaca, melihat pohon atau rumah-rumah


yang ikut berlarian seiring mobil yang ia tumpangi melaju.


Rasa sukaku padanya terjun bebas. Bagaimanapun dia bukan adik kandung


Key, walaupun mereka tidak saling menyayangi seperti aku mencintai Key,


tapi tetap saja! Cengkraman tangan Bian di kemudi. Sedang berperang dengan


hatinya sendiri.


Orangtua kandungku ya? Siapa mereka? Selama ini, jujur aku tidak pernah


penasaran. Kasih sayang yang ibu dan ayah berikan padaku membuatku tidak pernah


merasa penasaran untuk mencari tahu. Apalagi sekarang, aku punya mbak Key. Basma sedang dalam berfikir.


Basma melirik Bian sekilas.


Yahh, walaupun gara-gara dia aku tidak bisa memiliki Mbak Key  sendirian. Cinta Key yang tadinya hanya


untukku, sekarang terbagi padanya juga.


Kembali melihat kaca, tapi dalam hati kecilnya seperti ada celah kecil


muncul. Rasa Penasaran, kenapa sampai orangtua kandungnya tidak


menginginkannya.   Walaupun ia sangat beruntung mendapatkan


keluarga yang mencintainya,  tapi alasan


apa ya, yang membuat ibu atau ayah kandungku membuangku. Benarkan, kalau


pikiran itu dibiarkan yang akan tumbuh hanya prasangka.  Basma segera menghentikan praduga di


pikirannya.


“ Bas, ibu, ayah, Mbak Key adaalah keluargamu. Mari saling menyayangi


selamanya.” Nasehat yang selalu ibu katakana setiap hari. Bahkan dihari-hari


khusus ibu jauh lebih sering mengatakannya. Kalau merekalah keluarnya sekarang.


Hah! Mungkin sebaiknya memang aku tidak perlu penasaran. Orangtua


kandungku mungkin punya alasan.


Warung bakso.


Basma yang tersadar saat mobil sudah berhenti di sebuah tempat parkir.   Bian


turun dari mobil. Basma pun mengikuti.


“ Kenapa kita malah makan bakso Kak?”


Aku pikir aku mau dibawa ke mana tadi.


Basma tadinya menduga-duga dia akan  dibawa ditempat sepi, lalu dicerca dengan pertanyaan bertubi-tubi untuk mengobati


rasa penasaran Kak Bian tentang pembicaraan yang mereka dengar tadi. Lha, ini


malah membawanya ke warung bakso.


“ Ayo masuk, moodku sedang buruk jadi jangan banyak tanya.”


Apa! Memang apa salahku!


Bian berkeliling dengan matanya mencari tempat duduk. Ada ruang kosong


di sudut ruangan.  Mereka menuju kesana.


Duduk berhadapan.


Pelayan datang dan mencatat pesanaan mereka.


“ Kau mau makan apa?”


“ Aku masih kenyang Kak, aku baru saja makan mi instan buatan mbak Key.”


Tidak ada niat pamer sama sekali. Tapi ucapan Basma dianggap Bian sebagai


bentuk kesombongan Basma akan hubungannya yang berbeda kelas dengan Bian.


Apa, apa, kenapa kau semakin ingin memakanku. Memang aku salah apa?


Basma


Aku juga ingin makan mi instan buatan Key. Cih, karena minimarket tutup


aku tidak pernah makan makanannya lagi. Sekarang bocah ini sedang pamer! Bian


yang merasa tersakiti sendiri hatinya, padahal Basma tidak bermaksud begitu.


Akhirnya Basma hanya memesan segelas jus jambu. Sementara Bian sedang


menikmati baksonya tanpa terganggu. Dia menyelesaikan makan tanpa bicara.


(Laper Bi, jangan lupa baca doa ya ^_^.)


Selesai makan, melihat Basma yang sedang melihat hp sambil menghabiskan


jus di gelasnya.


“ Jadi kau sudah tahu?” Meraih botol minuman air mineral. Meneguknya


beberapa kali.


“ Klau aku dan mbak Key bukan saudara kandung.”  Mendongak dari layar hpnya. Sudah dia tunggu pertanyaan itu daritadi. Bian cuma menjawab


lewat sorot matanya. “ Kami sudah sama-sama tahu, bahkan semenjak ayah dan ibu


masih ada.”


Bian teringat bagaimana Key selalu membicarakan adiknya, dengan penuh


kebanggaan. Selalu dibumbui kasih sayang yang tulus. Sekarang setelah tahu faktanya,


jujur Bian kesal karena laki-laki yang bukan siapa-siapa di hadapannya ini bisa


hidup dengan Key. Berbagi udara di rumah yang sama, dan yang lebih dari itu


mendapat kasih sayang dan cinta yang berlimpah dari Key. Namun disisi lain, ah


ia ingin mendekap Key. Memuji gadis itu dengan banyak sekali pujian. Karena


bagaimana orang sepertinya bisa mendapatkan gadis sesempurna itu.


Karena itulah dia bahkan tidak marah saat ibu menyiram air padanya. Ah, atau


ayah yang tidak pernah perduli padaku bahkan merestui kami setelah mereka bertemu.


Karena dia memang malaikat tak bersayap.


“ Kau tidak penasaran dengan


orang tua kandungmu.” Melihat Basma lekat.


Deg, sedikit kegalauan Basma kembali terusik. Ia, penasaran, sedikit.


Tentu saja dia penasaran. Tapi…


“ Ntahlah.” Akhirnya menjawab dengan jawaban menggantung. “ Kami bahagia


hidup bersama seperti sekarang.


Aku yang tidak bahagia melihatnya!


Bendera cemburu sedang ditarik pelan-pelan.


“ Kau mau tinggal di rumahku.” Ntah, ide aneh itu muncul dari mana.


Spontan terucap begitu saja karena perasaan tidak terima Bian. Setelah dipikir


ulang ternyata tawaran itu memang aneh rasanya.


“ Kenapa aku harus tinggal di rumah Kak Bian, aku kan punya Mbak Key.”


Hanya mendesah tidak punya alasan yang masuk akal untuk dikatakan. Memilih


minum air putihnya lagi. Dia sendiri menyesal mengatakannya. Bagaimana bisa


mengajak  Basma tinggal serumah.


“ Aku iri padamu Bas. Iri pada hubungan kasih sayang kalian, iri pada


Key yang begitu menyayangimu.  Walaupun


kau bukan adik kandungnya.” Lagi-lagi pembicaraan tidak masuk akal apa ini pikir


Bian. Kenapa bisa-bisanya mulutnya mengatakan apa yang ia pikirkan semudah ini.


Biasanya dia bisa mengontrol dengan baik apa yang ia ucapkan.


Aku lebih iri padamu, karena Key mencintaimu.


“ Bagaimana kalian bisa saling menyayangi walaupun tidak terikat darah


begitu.”


“ Ntahlah, karena kami tumbuh bersama, cinta itu lahir begitu saja.


Bukankah sudah sewajarnya Kak, keluarga saling menyayangi.” Jawaban Basma membuat


Bian menatap Basma dengan pikiran beragam.


Keluarga yang saling menyayangi, ntahlah. Dia hanya punya ibu yang menyayanginya.


“ Ntahlah, aku tidak tumbuh dengan perasaan seperti itu. Jadi aku


tidak  tahu.”


Basma sekilas mengingatnya, cerita Key tentang keluarga Kak Bian.


Bagaimana ibu dan ayahnya terikat pernikahan, dan akhirnya munculah wanita lain


dalam rumah tangga mereka. Basma menutup rapat mulutnya, tidak mau meneruskan


atau bertanya.


Bian mengangkat tangan memanggil pelayan, lalu ia menyerahkan selembar


uang. Menghabiskan air putih di botolnya. Dia juga tidak mau melanjutkan


“ Kau dengar yang bibi Salsa katakan tadi kan,dia membawa bukti-bukti tentang


asal usul keluargamu. Bawa itu padaku, aku akan membantumu mencari orangtua


kandungmu.”


“ Tidak mau.”Tegas menjawab.


Cih anak ini benar-benar ya.


“ Aku sudah punya mbak Key, ibu juga  pernah bilang tidak perduli siapa orangtua kandungku, sekarang ibu dan ayah


adalah orangtuamu,  Mbak Key adalah


keluargamu. Itu pesan orangtuaku. Aku tidak mau penasaran Kak. Karena”


“ Apa kau takut? Kalau ternyata fakta alasan kau tinggal bersama


keluarga Key tidak seperti yang kau bayangkan.” Menyambar, lebih tepatnya memprovokasi.


Lagi-lagi Basma tidak bisa menjawab. Karena memang seperti itulah


kenyataan yang menghantui pikirannya.


“ Tapi. Apa kau bisa selamanya bersama Key. Aku akan menikahi Key, apa


kau akan mengikutinya dibelakangnya terus.”


“ Kenapa, aku dan mbak Key sudah berjanji untuk hidup bersama selamanya.”


Haha, bocah ini apa-apaan. Memang siapa yang mau mengajakmu tinggal


bersama selamanya setelah aku menikah dengan Key. Ya, kau bisa ikut kami si, aku tidak


masalah. Tapi kau juga harus meneruskan hidupmu sendirikan! Menikah dengan


pasanganmu sendiri.


Batas toleransi Bian yang sedikit memudar karena tahu kalau


Basma bukan adik kandung Key.


“ Kak Bian.” Tersenyum agak jahat. “ Menurut kak Bian Mbak Key lebih


sayang aku atau sayang padamu.” Sekarang Basma benar-benar sedang pamer.


Berbeda dengan yang tadi. “ Ibu bilang aku sudah jadi adik mbak Key sejak aku


baru lahir, sekarang aku sudah mau 17 tahun. Selama itulah aku bersama Key.”


“ Ayo pulang.”


Malas terpancing bocah ingusan di depannya. Dia keluar dari warung bakso


duluan menuju mobil. Basma mengerutu di belakangnya.


Mbak Key saja tidak bisa menjawab itu.


***


Sementara itu di rumah, Key masih bimbang untuk meraih amplop coklat yang


lagi-lagi di sodorkan Bibi Salsa. Ada masa lalu Basma yang berhubungan dengan


masa depannya.Sesungguhnya dia sangat penasaran.Tapi bagaimana janjinya dengan


ibunya. Atau yang lebih fatal lagi jika masa lalu itu  membawa pengaruh bagi hubungannya dan Basma.


Sedang mencoba menerka-nerka isi amplop.


Tunggu, Basma tidak mungkin anak dari ayah kan. Jadi secara tidak


langsung dia tetap adik kandungku. Eh, kalau begitu kenapa bibi terlihat


secemas  itu. Kalau dia anak ayah aku


tidak perlu alasan lagi untuk lebih sayang padanya.


Key yang hidup tanpa prasangka sedang menduga-duga. Tak ada setitikpun benci pada ayahnya jika memang itulah kenyataannya. Namun ia mengusirnya cepat.Karena ia tahu bagaimana kisah cinta dan romantisme kedua orangtuanya.


Ayah tidak mungkin melihat wanita lain selain ibu.


“ Key, Bibi menyimpan semua ini karena janji pada ibumu dan ibunya  Basma, tapi sepertinya sekarang Bibi sudah


tidak bisa lagi melakukannya.” Meraih tangan key. “ Bibi akan serahkan semua


keutusan padamu setelah kamu mengetahui semuanya.”


Apa maksudnya si.


Masih bingung dan ragu.


“ Bibi tidak akan menghalangi hubunganmu dengan Bian, kalau kamu memang


tetap ingin melanjutkannya setelah ini.”


“ Apa hubungannya Kak Bian dengan Basma Bi? Kenapa bawa-bawa Kak Bian.”


Nama Bian yang disebutkan Bibi Salsa berhasil mengerakan hati Key untuk


meraih amplop itu. Saat ini hubungannya seperti sedang berjalan dalam titian


benang. Dia takut tergelincir, apalagi kalau  sampai isi amplop itu membuat hubungannya


dengan Bian merenggang.


Dari mulut Bibi Salsa belum terucap kata  itu, alasan meninggalkan orangtua Key.  Tengorokannya masih tercekik untuk itu.


Dengan dada berdebar dan tangan yang sedikit bergetar Key membuka amplop


itu.


Beberapa lembar kertas ada di sana. Sebuah amplop kecil yang masih


melekat erat lem, bertuliskan kalimat. Untuk anakku Basma Adiputra.


Sudut mata Key langsung menggenang, surat dari orangtua kandung Basma.


Dia meletakan surat itu di meja, karena merasa tidak berhak untuk membacanya.


Itu pesan orangtua Basma yang hanya boleh dibaca Basma.


Akta kelahiran Basma,  Key gemetar


meraihnya. Informasi mengenai tanggal lahir, nama ibu yang Key baca sudah


membuat matanya panas.


May Sarah, bukannya itu bibi Sarah.


Airmata Key jatuh bercucuran begitu saja. Ya Tuhan suaranya lirih


bergetar. Jadi itu alasan ibu setiap tahun mengajak mereka mendatangi makam.


Meminta Basma berdoa di samping makam bibi Sarah. Meminta Basma untuk


menyelipkan nama Bibi Sarah dalam doa setelah ia sholat. Airmata semakin tidak


terbendung. Karena dia ibunya Basma. Karena doa seorang anak tak pernah terputus sampai ke langit sana.


Bibi Salsa mengusap bahu Key, dia ikut sesengukan saat melihat Key


menangis sampai mengeluarkan suara.


Adiguna  Sanjaya nama ayah Basma.


Berfikir, berfikir, otaknya sedang berfikir karena sepertinya nama itu


tidak asing. Key menjatuhkan kertas di tangannya.


Ayah Kak Bian?


Key seperti hilang kesadaran,bagaimana mungkin ada ikatan seperti ini.


“ Bibi,ini tidak.” memohon, berharap apaa yang ia pikirkan tidak benar.


Bibi mengambil akta kelahiran yang jatuh ke lantai.


“ Benar Key, Basma dan Bian adalah saudara satu ayah.”


Suara bibi Salsa benar-benar menjadi sengatan listrik yang hebat di


kepala Key. Kakinya rasanya lemas. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi.


Berfikir lagi, berfikir lagi. Mencoba menggingat cerita Kak Bian tentang


ibunya yang terkhianati karena ayahnya menikah lagi dengan wanita yang


dicintai. Wanita yang merusak rumah tangga orangtuanya. Wanita yang tidak mau


ia ceritakan lebih lanjut, namun karena wanita itu membuat Kak Bian selalu


menyebut ayahnya dengan nada kebencian. Dan Basma adalah anak wanita itu.


“ Tidak!” Key mencoba membangun kesadaran, membuang tangisnya. “ Kalau


Kak Bian sampai tahu Basma anak wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan


ibunya akan seperti apa jadinya Bi.” Kak Bian pastilah sama bencinya seperti ia


membenci ibu Basma.


“ Key tidak seperti itu.”


Key jauh lebih mengkhawatirkan perasaan Basma dan Bian kalau sampai


kenyataan ini terkuak.


“ Key yang seharusnya…” ( ayo bi,bongkar... bongkar....)


Pintu yang sudah terbuka terdorong lebar.


“ Kalian belum selesai?” Basma muncul mengagetkan Key, menghentikan Bibi


Salsa yang mau melanjutkan kalimatnya. Apalagi saat di belakangnya Bian


tiba-tiba masuk sambil mengucapkan salam.


Key tergagap, langsung meraih tumpukan kertas dan amplop kecil. Memasukannya


dalam amplop coklat lalu menyembunyikannyaa di balik punggung.


“ Kalian kok bisa datang bareng.” Canggung.


“ Ahh, Kak Bian…”


Bian mendorong bahu Basma, mengigatkan kalau mereka sudah membuat


kesepakatan tadi. Basma sempat melihat amplop coklat yang berusaha


disembunyikan Key.


“ Maaf, aku baru datang Key. Selamat siang Bi.” Bibi hanya mengganguk.


“ Ah ia Kak, silahkan duduk. Sebentar Key buatkan Teh.”


Key membawa amplop coklat itu, masih berusaha menyembunyikan. Walaupun


jelas-jelas Basma ataupun Bian sudah melihatnya. Dia membawanya ke dalam kamar.


Memasukannya dalam lemari lalu menguncinya. Key terduduk lemas bersandar pada


lemari pakaian.


Bagaimana ini, Kak Bian sangat membenci ibu  Basma.


Key seakan sedang berada di jembatan ringkih itu, Bian dan Basma berada


di salah satu kedua sisinya.Dan kalau mau bertahan  hidup dia harus berlari ke salah satunya.


Tidak,tidak begitu. Kak Bian pasti bisa menerima Basma kan,  bagaimanapun dia adiknya. Dan Tuan Adiguna


apa dia juga sudah tahu. Benar, ayah Kak Bian sudah tahu belum ya. Berusaha menemukan tali penyelamat. Bagaima dia bisa mengubur kenyataan ini, orangtua kandung Basma ada di depannya,dia tidak mungkin menutup mata dan menyimpan rahasia ini. Tapi bagaimana reaksi Kak Bian itulah ketakutan Key sekarang.


Aaaa, bagaimana aku bisa bertanya pada bibi, apa Tuan Adiguna sudah tahu atau belum.


Key tidak lagi berfikir tentang berita di internet. Tentang berita penjaga minimarket malam. Satu yang ia pikirkan.


Bagaimana caranya aku mengatakan semuanya pada Kak Bian dan Basma, supaya semuanya tidak tersakiti.


Di ruang tamu semua orang terdiam kaku.


Bibi Salsa kehilangan kesempatan untuk bicara tentang Nyonya Yuna. Berserta kesalahannya pada orangtua Key.


Basma sedang berfikir bagaimana caranya mengambil amplop coklat yang berusaha di sembunyikan Key.


Aku ingin makan mi instan buatan Key. Bian


Bersambung