Key And Bian

Key And Bian
Terimakasih Bibi Salsa



Pagi hari di desa berhawa sejuk.


Kicau burung, embun pagi yang menguap. Ayam-ayam yang berlarian bebas.


Tetangga yang saling menyapa dan bertukar cerita kerepotan pagi di warung sayuran. Tawa


anak-anak yang berlarian setelah mendapatkan jajanan.  Terlihat pula, para pelajar yang berjalan


santai menuju sekolah mereka masing-masing. Ibu-ibu melepas lelah setelah


berjibaku di dapur selepas subuh untuk menyiapkan keperluan keluarga mereka


dengan obrolan ringan sesama wanita.


Setelah membawa sayuran ke dapur. Bibi Salsa terlihat merenung.


Bukan perkara mudah untuk mengubur semua ketakutan yang bermunculan di pikiran


Bibi Salsa. Ntah sebuah kebetulan atau tidak bahkan May Sarah muncul di


mimpinya semalam. Saat gelisah menemani yang bercampur dengan keheningan malam. May Sarah


tersenyum, menganggukan kepala dan mengucapkan terimakasih. Untuk semua yang


sudah ia lakukan.


Sarah tidak pernah membenci Tuan Adiguna. Bahkan sampai saat


terakhirnya. Dia pun memaafkan semua yang Nyonya Yuna lakukan padanya. Karena


rasa bersalah. Dia mengambil cinta dari laki-laki yang berstatus  suami sahnya. Itu sudah menjadi alasan dia


tidak punya hak membenci Nyonya Yuna.


Namun, bagi Bibi Salsa, kesalahan Nyonya Yuna ada dalam titik yang tidak


akan begitu saja dilupakan olehnya. Dia masih marah, benci, bahkan garis wajah


yang sekilas bisa dilihatnya dari laki-laki yang datang bersama Key waktu itu. Langsung


menyulut dendam sendiri di hatinya.


Key, bagaimana kau bisa terlibat dalam lingkaran kehidupan ini


lagi. Padahal aku sudah sekuat tenaga menyimpan ini sendirian.


Bibi Salsa melamun sambil menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Ia


memasukan  bumbu sayur berkuah bening


itu. Ada bawang merah dan putih,daun salam, laos, dan seruas kencur. Mimpinya


masih terbayang dalam kepulan asap yang menguap. Lalu ia masukan jagung muda,


potongan wortel, daun pegagan yang tumbuh liar di halaman,  segenggam daun kelor.  Jadilah sarapan sehat untuk anak-anaknya.


Setelah mematikan kompor dia duduk perlahan di pinggiran meja dapur.


Melihat kakinya.


Tuan Adiguna pasti akan muncul lagi hari ini.


Dia ingin menceritakan semuanya. Namun jika sedikit lagi, jika rahasia


yang selama ini ia simpan rapat terbuka. Semua pihak yang tersangkut akan


memasuki rumitnya hubungan ini.Yang akan terluka hanya anak-anak. Demi


anak-anak yang bekerja keras menghapus kesedihan dan berjuang layak untuk


hidup, Bibi Salsa sudah merasa bersalah.


Pada Key, pada Basma. Karena ketidaktahuan mereka, membuat mereka bisa


tersenyum seperti sekarang.


Bibi Salsa terperanjak, sapu lidi di tangannya terjatuh. Mobil itu sudah


ada di sana. Berhenti di tempat yang sama. Pak Wahyu menundukan kepalanya dari


kejauhan.


Sejak kapan mereka datang.


“ Ibu, ibu, Paman yang kemarin sudah datang dari tadi pagi.” Anaknya


yang sedang sarapan sambil melihat TV berceloteh.


Bagaimana ini, laki-laki itu tidak akan pergi sebelum semua


terkuak.Tapi, bagaimana aku menunjukan wajah di makam Sarah dan orangtua Key


kalau aku sampai melukai hati anak-anak itu.


Lagi-lagiBibi Salsa mengacuhkan mereka.Dia menyapu halaman, setelah


selesai masuk kembali ke dalam rumah. Melakukan pekerjaan ini dan itu. Dia


sampai sengaja berlama-lama mandi, saat keluar dari kamar mandi anak-anaaknya


sudah selesai sarapan dan menghilang. Pintu depan sudah terbuka.


“ Masuklah Tuan, silahkan duduk.” Kalah lagi dengan kegigihan Adiguna.


Suasana yang sama. Namun, kali ini Bibi Salsa jauh lebih bisa


mengendalikan diri Tangannya sudah tidak gemetar lagi.Dia menarik nafas dalam


beberapakali sebelum bicara.


“ Anda tidak menyerah ya.” Melihat lekat kea rah Adiguna. “ Ya, saya


tahu, anda tidak akan mungkin menyerah.”  Kenyataan sebenarnya sudah ada di depan mata, selangkah lagi.Pasti tidak


akan membuat laki-laki ini menyarah begitu saja. “ Tapi…” Kalimat Bibi Sarah


menggantung. Membiarkan dua laki-laki sedang berspekulasi dengan pikiran mereka


sendiri.


“ Silahkan Bibi katakana apa yang Bibi inginkan.”


Kalian pergi dan jangan muncul lagi, itu yang aku inginkan.


Namun melihat bahkan pagi-pagi kalian sudah memarkir kendaraan di


halaman rumah.Tidak tahu malunya menunggu. Mengusir pun hanya akan sia-sia.


“ Pak Wahyu pasti sudah melihat dan tahu kan, kalau putra Anda memiliki


hubungan dengan Key. Putri sahabat May Sarah yang sudah membesarkan Basma


seperti anaknya sendiri. Menurut Tuan Adiguna akan seperti apa hubungan mereka


selanjutnya. Saya tidak rela kalau Key harus terluka dan mengalami apa yang


seperti  Sarah alami saat bersama Anda.”


Kepedihan karena cinta.


Bibi Sarah merasa kalau tidak mungkin Nyonya Yuna atau Adiguna akan


merestui. Apalagi saat melihat latar belakang keluarga Key.


“ Saya akan mendukung apa pun keputusan Bian dan wanita yang dia sukai.”


“ Apa!”


Ada apa dengannya. Mustahil kata-kata itu terucap dari ayah yang


sepertinya.


“ Saya sudah melakukan kesalahan di masa lalu, karena kebodohan saya.


Tidak mungkin saya akan membiarkan itu terulang pada Bian.”


Apa-apan ini, kenapa dia menjawab begitu.


Bibi Salsa ingin menggunakan jawaban Adiguna tentang Key dan Bian untuk


mengusirnya pergi, tapi kalau jawabannya seperti ini bagaimana mungkin bisa


dipakai.


Hah! Lagi-lagi aku pun harus mengalah.


***


Sarah memakai uang yang diberikan Nyonya Yuna untuk membeli sebuah rumah


nyaman di ibu kota, di daerah pinggiran kota. Bersembunyi dari hiruk pikuk


orang yang mengenalnya. Ia hidup damai dengan tetangga yang sama sekali tidak


mengenalnya. Sarah mengatakan pada orang-orang yang menanyakan perihal


kehamilannya dengan mengatakan dia janda yang ditinggal pergi suaminya. Semua


orang percaya dan merasa tak perlu mencari tahu.


Anda pasti tahu, pembawaan Sarah yang ramah dan tulus pada semua orang,


membuatnya diterima di lingkungaan barunya tanpa di curigai. Bahkan tatapan iba


menemaninya selama proses kehamilannya yang seorang diri. Kami mengunjunginya


sesekali. Mungkin orangtua Key yang paling sering datang berkunjung karena


masih tinggal di satu kota.


menemukan rumah Sarah. Padahal, di sana pun Sarah menggunakan nama asli dan


penampilan yang jauh berbeda dengan saat ia menjadi istri Anda.


Adiguna tertunduk. Tangannya terkepal. Mengingat kala itu, saat ia tahu


Yuna memakai uang yang sangat banyak untuk sesuatu yang tidak ia tahu. Yuna


mengatakan ia memakainya untuk berfoya-foya seperti biasa. Padahal Yuna


memakainya untuk mencari Jesika dengan bantuan detektif pencari orang.


Terjawab sudah.


Nyonya menemukan Sarah dengan perut membesar, saat itu Sarah sedang


menunggu hari kelahiran.


Sesak itu kembali menjadi. Pristiwa yang paling berat bagi Sarah dan


kedua temannya yang memeluk bahu saling menguatkan.


“ Kau benar-benar tidak tahu malu, bagaimana kau bisa hamil dan


bersembunyi di sini. Kau pikir bangkai tidak akan tercium.” Nyonya berteriak


keras, memukul pipi Sarah. “ Beraninya kau hamil wanita perusak rumah tangga.


Kau bersembunyi dan akan muncul menghancurkan hidup anakku kan.” Bibi Salsa


mengatakan, kata-kata yang sama perisis di ucapkan Yuna pada May Sarah.


Dan saat itu. Bibi Salsa terdiam. Nafasnya seperti ikut berhenti. Dia


melihat wajah yang sama tak berdayanya seperti kemarin. Seperti kehilangan


darah yang mengalir di seluruh tubuhnya. Laki-laki di hadapannya duduk dengan


wajah pucat.


“ Saya mohon, teruskanlah.”


Mereka bertengkar hebat. Sarah berusaha berulang kali meyakinkan Nyonya


kalau dia akan pergi menghilang dengan putranya. Dia memohon-mohon agar nyonya


Yuna membiarkannya pergi dan hidup dengan tenang. Namun, seperti gelap mata oleh


amarah, Nyonya menarik rambut Sarah dan mendorong tubuh Sarah sampai dia jatuh


terduduk. Dengan darah yang mengalir serta tangis lemah Sarah membuat


Nyonya Yuna ketakutan dan pergi.


Saat itu untung saja ada tetangga yang lewat, membawa Sarah ke RS.


Kami pun bertemu dengan sarah saat dia sudah terkulai lemah di tempat tidur.


Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan Basma lahir dengan selamat. Namun


sepertinya dengan Sarah.


Dia berulang kali mengatakan mungkin memang inilah yang terbaik


untuknya. Balasan karena dosa-dosanya sudah mencintai Anda. Sarah meminta kami menjaga anaknya dengan baik. Memaafkan Anda dan juga Nyonya Yuna.


Airmata mengalir begitu saja, berjatuhan. Adiguna seperti bisa melihat


dengan mata kepalanya bagaimana perjuangan Sarah saat itu. Darah yang membasahi


bajunya seperti tampak jelas di penglihatannya. Walaupun dia tidak melihat


secara langsung kejadian..


Yuna. Bibirnya tercekak memanggil nama itu.


***


“ Tuan, saya akan mampir ke minimarket sebentar.” Pak Wahyu memasuki


area parkir minimarket waralaba yang tersebar di segala penjuru negri. Baik di


daerah perkotaan atau di desa sekalipun. Adiguna tidak menjawab. Dia masih


menyandarkan kepala dengan mata terpejam. Tangannya memukul-mukul dadanya


berulang kali. Mengusir sesak, pedih, sakit dan kemarahan. Yang semua ia tujukan


untuk dirinya sendiri.


Semua karma buruk ini dialah yang memulainya.


Pak Wahyu sudah muncul dari dalam minimarket membawa sebuah kantung plastik


di tangannya.


“ Tuan minumlah sedikit.” Dia menyodorkan sebotol minuman dan meletakan plastik


berisi roti di sebelah Adiguna. Laki-laki itu menerima, dan meminumnya beberapa


teguk. Kembali diam dan tenggelam dengan pikirannya sendiri. “ Tuan, saya tahu


Anda merasa bersalah. Tapi saya mohon berfikirlah dengan jernih.”


Andai saja Sekretaris Haryo di sini, Pak Wahyu tidak akan sebinggung ini


menghadapi ketua Adiguna.


“ Kita kembali ke ibu kota dulu, baru satu persatu menyelesaikan


semuanya. Dan saya mohon.”


“ Aku tahu.” Memotong pembicaraan Pak Wahyu. “ Ini semua salahku,


kebencian Yuna lahir karena kesalahanku. Pak Wahyu tidak perlu khawatir tentang


itu.”


Ntah harus merasa lega atau merasa canggung, akhirnya Pak Wahyu


meletakan botol minuman di atas plastik dan kembali duduk di belakang kemudi.


 Membawa mobil kembali ke ibu kota. Menghadapi semua kenyataan berat ini.


Ternyata Nyonya Yuna benar-benar terlibat, bagaimana ini, kasian sekali Mas Bian.


Gerimis datang lagi, buliran air jatuh di kaca mobil. Sama persis seperti


saat itu. Basma yang duduk di kursi depan sambil membicarakan makanan


kesukaanya.


Adiguna meraih botol minuman, menekannya dengan kuku-kunya.


“ Tolong jaga perasaan Key, gadis itu, walaupun tumbuh dengan menunjukan


wajah ceria setiap waktu, namun dia adalah korban terbesar dari semua kebencian


Nyonya Yuna.”


Saat itu Adiguna tidak tahu artinya kalau Bibi Salsa tidak meneruskan


ceritanya.


Tidak tahu karena rasa bersalah atau takut, anak Sarah akan menjadi


penghalang putranya mewarisi Adiguna Group. Nyonya Yuna datang lagi dengan


membawa teror baru. Tidak tahu apa yang ia lakukan, tapi ia berhasil mendapat


riwayat kelahiran Basma di rumah sakit dan siapa perwalian anak Sarah. Nyonya


Yuna tahu Sarah sudah meninggal, namun dia belum bisa bernafas lega kaarena


ternyata putra Sarah selamat.


Pada hari terjadi kecelakaan orangtua Key, mereka menelfon saya dan


mengatakan ada beberapa laki-laki yang mendatangi mereka tiba-tiba dan


menanyakan di mana anak May Sarah. Karena takut, dan janji kami untuk menjaga


Basma membuat orangtua Key berusaha melarikan diri. Namun naasnya, kecelakaan


itu terjadi.  Karena berusaha menghindari laki-laki yang mengejarnya. Orangtua Key mengubur rahasia asal usul Basma sampai ke pusara


mereka. Saya pun ketakutan Tuan, kalau suatu hari Nyonya Yuna menemukan


saya.Saya mohon akhiri ini semua dengan ikhlaskan semuanya. Jangan mencari tahu


lagi.


Bagaimana aku bisa mengiklaskan darah dagingku, anakku dari Jesi yang


aku cintai.


“ Pak.”


“ Ia Tuan.”


“ Tolong, ceritakan tentang Keysha Andini, malaikat yang berharga bagi kedua


putraku.”


Bersambung....


Maaf Key, Hiks.