
Setelah turun dari makam, Pak Wahyu terlihat murung. Namun tidak ada
yang menyadarinya. Laki-laki yang menjadi saksi hidup bagaimana May Sarah
Menjelma menjadi Jesika menatap Bibi Sarah dari kejauhan. Ia ingin sekali
bicara dengan wanita itu. Berterimakasih setulus hatinya, namun teringat
bagaimana reaksinya terhadap Bian membuatnya mengurungkan niat. Dia
berterimakasih dalam hati sambil melihat putra kandung May Sarah.
Basma memeluk adik-adik kecil yang sebenarnya masih ingin bermain bersamanya,
namun suasana canggung yang memenuhi ruangan. Bahkan terasa sesak. Bukan hanya
untuk Bian, Key yang merasa tidak enak bahkan jauh lebih menahan perasaannya.
Bibi tidak mau menjelaskan apa pun pada Key, sehingga gadis itu hanya
punya praduga di pikirannya.
“ Kita bicarakan nanti di rumah mbak.”
“ Tapi Bas, Mbak merasa bersalah sama Kak Bian, kita yang mengajaknya
tapi….” Key tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Ada ketakutan yang
tiba-tiba menelisik hatinya. Penolakan yang bahkan diberikan orang terdekatnya.
Akhirnya mereka berpamitan. Bian menganggukan kepala dari jarak yang
cukup jauh. Pak Wahyu pun demikian.
Membunuh waktu dalam kebisuan. Yang terjadi sepanjang perjalanan pulang.
Tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Pak Wahyu yang jauh lebih sering
melihat ke arah Basma. Walaupun dia lakukan secara sembunyi-sembunyi.
Basma yang saat berangkat banyak bicara sekarang menutup mulutnya. Ia
menatap kaca nanar. Tenggelam dengan kejadian tadi.
Saat dia dan bibi tertinggal di rumah. Pak Wahyu masih duduk di teras.
Laki-laki itu bisa mendengar, bisa juga tidak. Namun selang tidak lama dia bangun,
berjalan melihat pemandangan desa yang sejuk.
Bibi terduduk di lantai, dia meremas jemarinya. Lalu menepuk
dadanya. Sementara Basma mengambil sapu
membersihkan pecahan cangkir. Mengumpulkan semua pecahan dengan teliti.
Memasukannya dalam kantung plastik.
“ Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi.” Dia bergumam pada dirinya
sendiri. " Bagaimana bisa." ulangnya lagi.
Basma yang sedang mengumpulkan pecahan kaca di depannya berlutut.
Mengikat kantong plastik di tangannya. Dia sudah selesai.
“ Bi, Bas Mohon.” Meraih tangan bibi. “ Beri Mbak Key kesempatan
menjelaskan pada Bibi. Bas tahu, tapi akan lebih baik kalau Mbak Key yang
menjelaskan semuanya.” Memang fakta kalau Bian adalah laki-laki bertunangan,
pasti akan menjadi batu penghalang. Basma pun sudah menduga itu.
Basma seharusnya kau senang kan?
“ Bagaimana kalian bisa berhubungan dengan pengusaha Adiguna?” Lagi-lagi
suara bibi bergetar, ntah apa yang sedang dia pikirkan.
Basma sedang berfikir. Jadi masalahnya bukan karena Kak Bian bertunangan,
tapi karena dia putra pengusaha Adiguna Group. Ada yang sedang coba diurai
di kepala Basma.
Bibi terlihat panik menyadari kata-katanya.
“ Bukan begitu Bas, maksud Bibi bagaimana Key bisa bersama dengan putra
Adiguna Group. Bukankan dia sudah bertunangan.” Meralat pertanyaan. “ Bibi saja
melihat beritanya di tv, semua orang juga tahu dia laki-laki yang sudah
bertunangan.”
Ternyata memang tentang tunangan Kak Bian ya.
“ Mereka bertemu di minimarket tempat Mbak Key bekerja.”
“ Bas.” Memotong pembicaraan Basma. Menepuk punggung Basma. “ Katakan
pada Key untuk menjauhinya, ini demi kebaikan kamu dan Key.”
“ Kata mbak Key Kak Bian akan membatalkan pertunangannya Bi, secara resmi
di media. Tapi butuh waktu.”
“ Bas, Bibi mohon hentikan Key. Kalau kamu yang bilang pasti dia akan
mendengarkan. Demi kebaikan kalian juga. “ Bibi menatap Basma. “ Lihat kita
dari keluarga apa Bas,dan Bian sendiri. Kita itu sudah datang dari dunia yang
berbeda Bas. Kamu paham maksud bibi kan.” Jarak social yang tajam terbentang.
Bagai hidup di dunia yang berbeda. " Apalagi dia sudah bertunangan." Lengkap sudah jurang itu menghalangi.
Hah, Basma menghela nafas berat. Gerimis jatuh di kaca mobil. Ternyata
mendung berarak di kejauhan.
“ Kenapa Mas Basma? Lelah ya?” Pak Wahyu memecang kesunyian.
“ Eh, nggak papa Pak.” Helaan nafasnya pasti terdegar pikir Basma. Basma
melirik kursi penumpang di belakang. Keduanya terdiam, hanya tangan mereka
yang saling terkait.
“ Cari tempat makan Pak.” Bian bicara dari belakang. Mereka bahkan belum
makan siang.
Lagi-lagi menjadi kunjungan yang berbeda dari tahun sebelumnya. Biasanya
mereka akan makan bersama sambil meneruskan cerita ini dan itu. Sambil
mengenang ayah dan ibu dengan tersenyum. Menunjukan bahwa mereka baik-baik
saja.
“Ia Mas. Mas Basma mau makan apa?” Terjadi perbincangan ringan di kursi depan membahas makanan apa yang disukai Basma. Dan akhirnya Pak Wahyu pun mencari tempat makan seperti yang Basma ceritakan. Ntah karena rasa bersalah di masa lalu, membuat Pak Wahyu bersikap begitu.
“ Maaf ya Kak, aku yang mengajak Kak Bian malah suasananya jadi seperti
ini. Tadinya aku berharap mengajak kak Bian jalan-jalan bisa mengusir penat.”
Bian tersenyum sambil mengusap kepala Key lembut.
Begitulah akhirnya, Key yang berfikir perjalanan pulang kampung
menyenangkan ternyata yang terjadi sebalikya. Bibi benar-benar menjadi sangat
dingin dengan Kak Bian. Membuatnya merasa bersalah. Walaupun Kak Bian berulang
kali mengatakan dia bisa memaklumi.
Bian mengantar Key sampai di teras rumahnya. Langsung berpamitan. Senja
sudah menjemput. Bukan hanya tubuh mereka yang lelah, hati mereka pun demikian.
“ Jangan lupa makan malam dan istirahat. Aku pulang ya. Kirim pesan sebelum tidur nanti.”
“ Ia Kak Bian juga, istirahat, terimakasih ya Kak untuk hari ini. Sudah menemani kami menengok ayah, ibu, dan bibi Sarah.”
Punggung Bian menghilang di kejauhan, sebelumnya dia berbalik dan melambaikan tangan. Key menutup pintu setelah Bian menar-benar hilang dari pandangan.
Benar, seperti yang ditakutkan Kak Anjas. Pertunanganku adalah bom
waktu. Penolakan keluarga Key pasti karena mereka melihat masa depan seperti
yang ditakutkan Kak Anjas.
Gerbang Grand Land sudah ada di depan mata. Mobil melewatinya memasuki
area rumah-rumah mewah.
“ Mas saya keluar sebentar ya.” Memasuki halaman rumah. Pak Wahyu segera
membuka pintu rumah.
“ Mau kemana?”
“ Belanja untuk makan malam dan besok Mas.”
“ Istirahatlah, nanti pesan makanan saja. Pak Wahyu pasti lelah.”
“ Nggak papa Mas. Mas Bian mandi dulu baru istirahat.”
Karena tujuan utama Pak Wahyu bukanlah hanya belanja kebutuhan memasak.
***
Wajah Yuna memucat. Tangannya mulai terasa dingin. Dia duduk sambil
mencengkram sofa. Ketakutan mulai memenuhi pandangannya. Suaminya duduk menahan
amarah di hadapannya. Dia ingin kabur dari situasi ini. Dia mau menghubungi
Bian sekarang untuk memintanya datang. Mencari perlindungan. Bian adalah satu-satunya tameng hidup yang bisa mengalahkan suaminya dalam situasi apa pun.
Kemarahan Adiguna tidak seperti biasanya.
“ Kalau Bian tahu, apa dia masih berfikir kau ibu yang baik.”
Yuna semakin gemetar di kursinya. Suaminya berhasil menebak apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
“ Aku tidak akan menjawab. Aku tidak melakukan apa-apa pada wanita itu.”
Didorong rasa bersalah dan takut, keputusasaanya semakin menjadi. Hingga ia
hanya bisa meninggikan suaranya. “ Ini semua karenamu. Kalau saja kau tidak
menikahi wanita itu di belangku. Semua ini tidak akan terjadi!”
Aku tidak boleh sampai mengaku. Tidak boleh.
Ayah Anjas menyentuh bahu Adiguna. Melihat tangan laki-laki itu sudah
terkepal marah.
“ Benar aku yang salah.” Ujarnya Adiguna lemah. “ Seharusnya kau
lampiaskan amarahmu itu padaku. Bukan pada Jesi.” Mata laki-laki itu
terpejam. Bukan hanya untuk menahan amarah, namun mengingat tawa wanita yang dia
cintai. Wajah yang kian hari makin terlihat jelas, setelah ia tahu kalau wanita
yang ia cintai meninggalkan putra untuknya.
“ Karena dia sudah merusak rumah tangga wanita lain. Itu hukuman baginya.”
Mendengar nama Jesi keluar dari mulut suaminya, kebencian di dada Yuna meluap.
Dia kalah dari semua hal. Bahkan hanya dengan satu panggilan manis Adiguna pada
wanita itu sudah meledakan kemarahan dan kebencian di hatinya.
“ Berapa kali aku harus mengatakannya, kalau aku yang mencintainya.
Lagipula kita tahu, rumah tangga kita dari awal memang tidak pernah baik-baik
saja.” Suara Adiguna terdengar jelas. “ Aku yang mencintaiya.”
Yuna meraih bantak kursi. Lalu melemparkannya ke wajah suaminya. Adiguna
menepisnya dengan tangan terangkat. Benda itu terjatuh di dekat kaki.
“ Kalau begitu ini dosa-dosamu juga.”
“ Hentikan!” Suaranya menjadi dingin. Adiguna mulai jengah dengan sikap
Yuna. Dia tahu wanita di hadapannya sedang menahan gemetar ketakutan karena
berusaha menutupi sesuatu. “ Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau
lakukan pada Jesi?”
" Aku tidak melakukan apa pun." Berteriak. " Aku tidak melakukan apa pun." Berteriak lagi sambil menutupi wajahnya. Ada bau darah yang selalu tercium saat ia harus mengingat kenangan dengan Jesika. " Aku hanya mengancamnya supaya dia menjauhimu. Itu saja. Kau juga sudah tahu kan, aku yang mengusirnya dari apartemen. Hanya itu, hanya itu yang aku lakukan." Dia tertunduk dengan tangan gemetar. " Aku tidak melakukan apa pun."
Suara langkaah terdengar, ketiganya menoleh. Pak Wahyu menghentikan langkah. Membaca situasi yang sedang terjadi. Dia sudah menduga, informasi yang dia berikan saat perjalanan pulang tadi ke kota telah menyulut bara panas di rumah ini.
" Apa yang kau lakukan pada Jesi, setelah dia menghilang. Apa kau tahu, dia menghilang membawa putraku."
Yuna membelalak.
" Hah! Aku sudah menduganya. Kau tahu kan? Kau tahu Jesi mengandung anakku. Karena keserakahanmu," Bibir Adiguna bergetar. Saat ini kepedihan menjalar di seluruh tubuhnya. " Apa yang kau lakukan pada Jesi?" Kesedihan itu terasa di ujung tenggorokan. " Apa kau pikir aku akan membuang Bian kalau Jesi melahirkan anakku. Sampai sebegitu serakahnya kau sebagai seorang ibu. Bian adalah putraku, dan tetap akan seperti itu selamanya."
Pak Wahyu berjalan tanpa suara mendekati Ayah Anjas.
" Karena Pak Wahyu, aku bisa memohon pengampunan padanya." Adiguna tertunduk dalam, penuh penyesalan.
" Aku tidak melakukan apa pun! Dia sendiri yang jatuh. Aku tidak mendorongnya." Yuna mulai kehilangan kesadarannya. Dia berteriak keras. Ketakutan memenuhi pelupuk matanya. " Aku tidak mendorongnya, dia yang jatuh sendiri." Tangannya bergetar.
Yuna bangun dari duduk, masih mencercau tentang dia tidak melakukan apa-apa. Sambil menaiki tangga, seorang pelayan wanita menangkap tubuhnya. Membantunya berjalan.
Bayangan darah yang keluar mengalir di kaki Jesika , membasahi baju yang dia pakai.Yuna ambruk di pintu kamarnya.
Sementara di lantai bawah Pak Wahyu memulai kisahnya.
Bersambung
Terimakasih, alhamdulillah bisa update ^_^