Key And Bian

Key And Bian
Kesalahan Yuna



Setelah turun dari makam, Pak Wahyu terlihat murung. Namun tidak ada


yang menyadarinya. Laki-laki yang menjadi saksi hidup bagaimana May Sarah


Menjelma menjadi Jesika menatap Bibi Sarah dari kejauhan. Ia ingin sekali


bicara dengan wanita itu. Berterimakasih setulus hatinya, namun teringat


bagaimana reaksinya terhadap Bian membuatnya mengurungkan niat. Dia


berterimakasih dalam hati sambil melihat putra kandung May Sarah.


Basma memeluk adik-adik kecil yang sebenarnya masih ingin bermain bersamanya,


namun suasana canggung yang memenuhi ruangan. Bahkan terasa sesak. Bukan hanya


untuk Bian, Key yang merasa tidak enak bahkan jauh lebih menahan perasaannya.


Bibi tidak mau menjelaskan apa pun pada Key, sehingga gadis itu hanya


punya praduga di pikirannya.


“ Kita bicarakan nanti di rumah mbak.”


“ Tapi Bas, Mbak merasa bersalah sama Kak Bian, kita yang mengajaknya


tapi….” Key tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Ada ketakutan yang


tiba-tiba menelisik hatinya. Penolakan yang bahkan diberikan orang terdekatnya.


Akhirnya mereka berpamitan. Bian menganggukan kepala dari jarak yang


cukup jauh. Pak Wahyu pun demikian.


Membunuh waktu dalam kebisuan. Yang terjadi sepanjang perjalanan pulang.


Tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Pak Wahyu yang jauh lebih sering


melihat ke arah Basma. Walaupun dia lakukan secara sembunyi-sembunyi.


Basma yang saat berangkat banyak bicara sekarang menutup mulutnya. Ia


menatap kaca nanar. Tenggelam dengan kejadian tadi.


Saat dia dan bibi tertinggal di rumah. Pak Wahyu masih duduk di teras.


Laki-laki itu bisa mendengar, bisa juga tidak. Namun selang tidak lama dia bangun,


berjalan melihat pemandangan desa yang sejuk.


Bibi terduduk di lantai, dia meremas jemarinya. Lalu menepuk


dadanya.  Sementara Basma mengambil sapu


membersihkan pecahan cangkir. Mengumpulkan semua pecahan dengan teliti.


Memasukannya dalam kantung plastik.


“ Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi.” Dia bergumam pada dirinya


sendiri. " Bagaimana bisa." ulangnya lagi.


Basma yang sedang mengumpulkan pecahan kaca di depannya berlutut.


Mengikat kantong plastik di tangannya. Dia sudah selesai.


“ Bi, Bas Mohon.” Meraih tangan bibi. “ Beri Mbak Key kesempatan


menjelaskan pada Bibi. Bas tahu, tapi akan lebih baik kalau Mbak Key yang


menjelaskan semuanya.” Memang fakta kalau Bian adalah laki-laki bertunangan,


pasti akan menjadi batu penghalang. Basma pun sudah menduga itu.


Basma seharusnya kau senang kan?


“ Bagaimana kalian bisa berhubungan dengan pengusaha Adiguna?” Lagi-lagi


suara bibi bergetar, ntah apa yang sedang dia pikirkan.


Basma sedang berfikir. Jadi masalahnya bukan karena Kak Bian bertunangan,


tapi karena dia putra pengusaha Adiguna Group. Ada yang sedang coba diurai


di  kepala Basma.


Bibi terlihat panik menyadari kata-katanya.


“ Bukan begitu Bas, maksud Bibi bagaimana Key bisa bersama dengan putra


Adiguna Group. Bukankan dia sudah bertunangan.” Meralat pertanyaan. “ Bibi saja


melihat beritanya di tv, semua orang juga tahu dia laki-laki yang sudah


bertunangan.”


Ternyata memang tentang tunangan Kak Bian ya.


“ Mereka bertemu di minimarket tempat Mbak Key bekerja.”


“ Bas.” Memotong pembicaraan Basma. Menepuk punggung Basma. “ Katakan


pada Key untuk menjauhinya, ini demi kebaikan kamu dan Key.”


“ Kata mbak Key Kak Bian akan membatalkan pertunangannya Bi, secara resmi


di media. Tapi butuh waktu.”


“ Bas, Bibi mohon hentikan Key. Kalau kamu yang bilang pasti dia akan


mendengarkan. Demi kebaikan kalian juga. “ Bibi menatap Basma. “ Lihat kita


dari keluarga apa Bas,dan Bian sendiri. Kita itu sudah datang dari dunia yang


berbeda Bas. Kamu paham maksud bibi kan.” Jarak social yang tajam terbentang.


Bagai hidup di dunia yang berbeda. " Apalagi dia sudah bertunangan." Lengkap sudah jurang itu menghalangi.


Hah, Basma menghela nafas berat. Gerimis jatuh di kaca mobil. Ternyata


mendung berarak di kejauhan.


“ Kenapa Mas Basma? Lelah ya?” Pak Wahyu memecang kesunyian.


“ Eh, nggak papa Pak.” Helaan nafasnya pasti terdegar pikir Basma. Basma


melirik kursi penumpang di belakang. Keduanya terdiam, hanya tangan mereka


yang saling terkait.


“ Cari tempat makan Pak.” Bian bicara dari belakang. Mereka bahkan belum


makan siang.


Lagi-lagi menjadi kunjungan yang berbeda dari tahun sebelumnya. Biasanya


mereka akan makan bersama sambil meneruskan cerita ini dan itu. Sambil


mengenang ayah dan ibu dengan tersenyum. Menunjukan bahwa mereka baik-baik


saja.


“Ia Mas. Mas Basma mau makan apa?” Terjadi perbincangan ringan di kursi depan membahas makanan apa yang disukai Basma. Dan akhirnya Pak Wahyu pun mencari tempat makan seperti yang Basma ceritakan. Ntah karena rasa bersalah di masa lalu, membuat Pak Wahyu bersikap begitu.


“ Maaf ya Kak, aku yang mengajak Kak Bian malah suasananya jadi seperti


ini. Tadinya aku berharap mengajak kak Bian jalan-jalan bisa mengusir penat.”


Bian tersenyum sambil mengusap kepala Key lembut.


Begitulah akhirnya, Key yang berfikir perjalanan pulang kampung


menyenangkan ternyata yang terjadi sebalikya. Bibi benar-benar menjadi sangat


dingin dengan Kak Bian. Membuatnya merasa bersalah. Walaupun Kak Bian berulang


kali mengatakan dia bisa memaklumi.


Bian mengantar Key sampai di teras rumahnya. Langsung berpamitan. Senja


sudah menjemput. Bukan hanya tubuh mereka yang lelah, hati mereka pun demikian.


“ Jangan lupa makan malam dan istirahat. Aku pulang ya. Kirim pesan sebelum tidur nanti.”


“ Ia Kak Bian juga, istirahat, terimakasih ya Kak untuk hari ini. Sudah menemani kami menengok ayah, ibu, dan bibi Sarah.”


Punggung Bian menghilang di kejauhan, sebelumnya dia berbalik dan melambaikan tangan. Key menutup pintu setelah Bian menar-benar hilang dari pandangan.


Benar, seperti yang ditakutkan Kak Anjas. Pertunanganku adalah bom


waktu. Penolakan keluarga Key pasti karena mereka melihat masa depan seperti


yang ditakutkan Kak Anjas.


Gerbang Grand Land sudah ada di depan mata. Mobil melewatinya memasuki


area rumah-rumah mewah.


“ Mas saya keluar sebentar ya.” Memasuki halaman rumah. Pak Wahyu segera


membuka pintu rumah.


“ Mau kemana?”


“ Belanja untuk makan malam dan besok Mas.”


“ Istirahatlah, nanti pesan makanan saja. Pak Wahyu pasti lelah.”


“ Nggak papa Mas. Mas Bian mandi dulu baru istirahat.”


Karena tujuan utama Pak Wahyu bukanlah hanya belanja kebutuhan memasak.


***


Wajah Yuna memucat. Tangannya mulai terasa dingin. Dia duduk sambil


mencengkram sofa. Ketakutan mulai memenuhi pandangannya. Suaminya duduk menahan


amarah di hadapannya. Dia ingin kabur dari situasi ini. Dia mau menghubungi


Bian sekarang untuk memintanya datang. Mencari perlindungan. Bian adalah satu-satunya tameng hidup yang bisa mengalahkan suaminya dalam situasi apa pun.


Kemarahan Adiguna tidak seperti biasanya.


“ Kalau Bian tahu, apa dia masih berfikir kau ibu yang baik.”


Yuna semakin gemetar di kursinya. Suaminya berhasil menebak apa yang sedang dia pikirkan sekarang.


“ Aku tidak akan menjawab. Aku tidak melakukan apa-apa pada wanita itu.”


Didorong rasa bersalah dan takut, keputusasaanya semakin menjadi. Hingga ia


hanya bisa meninggikan suaranya. “ Ini semua karenamu. Kalau saja kau tidak


menikahi wanita itu di belangku. Semua ini tidak akan terjadi!”


Aku tidak boleh sampai mengaku. Tidak boleh.


Ayah Anjas menyentuh bahu Adiguna. Melihat tangan laki-laki itu sudah


terkepal marah.


“ Benar aku yang salah.” Ujarnya Adiguna lemah. “ Seharusnya kau


lampiaskan amarahmu itu padaku. Bukan pada Jesi.” Mata laki-laki itu


terpejam. Bukan hanya untuk menahan amarah, namun mengingat tawa wanita yang dia


cintai. Wajah yang kian hari makin terlihat jelas, setelah ia tahu kalau wanita


yang ia cintai meninggalkan putra untuknya.


“ Karena dia sudah merusak rumah tangga wanita lain. Itu hukuman baginya.”


Mendengar nama Jesi keluar dari mulut suaminya, kebencian di dada Yuna meluap.


Dia kalah dari semua hal. Bahkan hanya dengan satu panggilan manis Adiguna pada


wanita itu sudah meledakan kemarahan dan kebencian di hatinya.


“ Berapa kali aku harus mengatakannya, kalau aku yang mencintainya.


Lagipula kita tahu, rumah tangga kita dari awal memang tidak pernah baik-baik


saja.” Suara Adiguna terdengar jelas. “ Aku yang mencintaiya.”


Yuna meraih bantak kursi. Lalu melemparkannya ke wajah suaminya. Adiguna


menepisnya dengan tangan terangkat. Benda itu terjatuh di dekat kaki.


“ Kalau begitu ini dosa-dosamu juga.”


“ Hentikan!” Suaranya menjadi dingin. Adiguna mulai jengah dengan sikap


Yuna. Dia tahu wanita di hadapannya sedang menahan gemetar ketakutan karena


berusaha menutupi sesuatu. “ Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau


lakukan pada Jesi?”


" Aku tidak melakukan apa pun." Berteriak. " Aku tidak melakukan apa pun." Berteriak lagi sambil menutupi wajahnya. Ada bau darah yang selalu tercium saat ia harus mengingat kenangan dengan Jesika. " Aku hanya mengancamnya supaya dia menjauhimu. Itu saja. Kau juga sudah tahu kan, aku yang mengusirnya dari apartemen. Hanya itu, hanya itu yang aku lakukan." Dia tertunduk dengan tangan gemetar. " Aku tidak melakukan apa pun."


Suara langkaah terdengar, ketiganya menoleh. Pak Wahyu menghentikan langkah. Membaca situasi yang sedang terjadi. Dia sudah menduga, informasi yang dia berikan saat perjalanan pulang tadi ke kota telah menyulut bara panas di rumah ini.


" Apa yang kau lakukan pada Jesi, setelah dia menghilang. Apa kau tahu, dia menghilang membawa putraku."


Yuna membelalak.


" Hah! Aku sudah menduganya. Kau tahu kan? Kau tahu Jesi mengandung anakku. Karena keserakahanmu," Bibir Adiguna bergetar. Saat ini kepedihan menjalar di seluruh tubuhnya. " Apa yang kau lakukan pada Jesi?" Kesedihan itu terasa di ujung tenggorokan. " Apa kau pikir aku akan membuang Bian kalau Jesi melahirkan anakku. Sampai sebegitu serakahnya kau sebagai seorang ibu. Bian adalah putraku, dan tetap akan seperti itu selamanya."


Pak Wahyu berjalan tanpa suara mendekati Ayah Anjas.


" Karena Pak Wahyu, aku bisa memohon pengampunan padanya." Adiguna tertunduk dalam, penuh penyesalan.


" Aku tidak melakukan apa pun! Dia sendiri yang jatuh. Aku tidak mendorongnya." Yuna mulai kehilangan kesadarannya. Dia berteriak keras. Ketakutan memenuhi pelupuk matanya. " Aku tidak mendorongnya, dia yang jatuh sendiri." Tangannya bergetar.


Yuna bangun dari duduk, masih mencercau tentang dia tidak melakukan apa-apa. Sambil menaiki tangga, seorang pelayan wanita menangkap tubuhnya. Membantunya berjalan.


Bayangan darah yang keluar mengalir di kaki Jesika , membasahi baju yang dia pakai.Yuna ambruk di pintu kamarnya.


Sementara di lantai bawah Pak Wahyu memulai kisahnya.


Bersambung


Terimakasih, alhamdulillah bisa update ^_^