Key And Bian

Key And Bian
Gara-Gara Bakso



Waktu pun berlalu setelah hari itu. Semua kembali bekerja keras. Key


menunggu dengan sabar, dengan tingkat kesabaran yang seperti biasanya. Sambil terus


meyakinkan Basma kalau semua akan baik-baik saja.


Tapi, sampai berapa lama aku harus menunggu!


Gemetar-gemetar berdiri di samping meja. Tingkat kesabarannya terkikis


dengan kerinduan. Key mengusap-usap meja lagi yang sebenarnya sudah bersih


dengan tekanan dua kali lipat dari biasanya.


Kak Bian!


Keduanya masih mengirim pesan dan berbalas pesan, setidaknya tidak seperti waktu itu, namun ketika Key


menyinggung nama Basma, lagi-lagi dua kata yang mengakhiri pesan mereka.


“ Maaf Key.”


Selepasnya Bian menghilang dari chat, walaupun Key memancing-mancing,


tetap tidak ada balasan selanjutnya.


Dasar! Kekanak-kanakannya melebihi Basma yang memang masih anak-anak.


Duduk sambil melihat ke arah foodtruck, Basma sedang duduk di sana. Meladeni


pembeli. Sepertinya fansnya, karena  dua


pelanggan itu tidak berhenti berceloteh. Mereka bilang kangen pada Basma kok


jarang update social media lagi.


Key bertopang dagu melihat mereka. Basma yang tidak berubah, walaupun


sekarang dia tahu dia putra kandung siapa. Dia tetap Basma yang Key kenal


selama ini. Rajin, pandai memasak, terkadang bersikap manis dan manja. Atau


seperti sekarang, berwajah cuek dan dingin kalau menghadapi para gadis yang


menggodanya.


Key meraih hpnya. Mengambil foto Basma. Lalu mengirimkannya ke nomor Kak


Bian. Mendesah lalu meletakan hpnya lagi. Tidak menunggu balasan.


Berikan Bian waktu Key, dia masih sangat terkejut dengan mendapati ibu


yang ia sayangi seperti itu. Dia mencintaimu aku bisa menjaminnya. Dia juga


akan menyayangi Basma, aku tahu itu.  Tapi, anak itu memang selalu butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan


hatinya. Bersabarlah sebentar lagi. Kak Anjas beberapa kali mengatakan itu,


jika Key mulai mengutarakan keluhannya.


Hah, sepertinya malah Kak Anjas dan Manda yang sudah tercium bunga-bunga


asmaranya.


Tersenyum di sela-sela itu.


Amanda sudah muncul ke publik setelah kehebohan berita pembatalan


pertunangan dan munculnya orang ketiga menghilang dengan sendirinya. Dia terlihat


malu-malu namun tidak menutupi, bicara sedikit terbuka pada media dan mengatakaan kalau


sekarang dia sedang dekat dengan seseorang.  Saat ditanya siapa dia, apa lebih baik dari mantan tunangannya. Dengan


tidak tahu malu dia mengatakan tentu saja, dia jauh lebih baik.


Dasar Manda!


Key melihat beritanya kemarin sore setelah iseng menyalakan tv. Tapi Key


benar-benar berdoa dengan tulus untuk keduanya. Amanda gadis yang baik dan luar


biasa. Sedangkan Kak Anjas, ah,nilai sempurna untuk menggambarkan


kepribadiannya.


Kak Bian saja kalah kalau dari segi kedewasaan dan cara berfikir.


Orang yang isi kepalanya sudah terkontaminasi dengan nama Bian saja


mengakui itu.


“ Mbak Key! Mikirin apa si.” Basma sudah berdiri di depan meja.


Eh, sejak kapan dia berdiri di sini.


“ Mikirin Kak Bian.” Langsung menutup mulutnya yang bicara kejujuran dengan sempurna. “ Mau kemana?”


setelah tertawa mendengar jawaban Key Basma mau melangkah pergi.


“ Mau ke kedai om bakso.” Menunjuk kedai bakso.


“ Mau makan bakso?”


“ Mbak Key mau?” Malah balik bertanya.


“ Boleh deh, Kak Bian juga suka Bakso.”


“ Dih, apa hubungannya.”


Padahal tujuan utamanya ke kedai bakso dengan alasan yang sama.


Selepas berjualan mereka pergi ke pasar. Padahal stok somai masih ada di


frezzer. Basma membeli daging giling dengan jumlah cukup banyak. Key hanya


mengekor di belakangnya, karena ramainya pasar, Basma yang malah ikut sibuk


melindungi Key agar tidak tersenggol orang. Tidak mengubris saat ditanya untuk


apa membeli daging sebanyak itu.


Menyusul masuk ke dalam sebuah toko. Basma menyebutkan barang-barang


yang ia perlukan. Dia membaca contekan di hpnya. Satu kantong kecil dia terima.


Lalu membeli sayuran. Terakhir mereka mampir ke pedagang buah.


“ Kamu mau buat apa si Bas? Dapat ide baru somai dari daging.”


Saat sudah sampai di dalam mobil. Key membawa mobil keluar dari area


parkir pasar yang padat. Bunyi klakson bersahutan,  di timpa panasnya siang. Semua orang


sepertinya sudah kelelahan.


“ Mau buat bakso.”


“ Bakso? Kenapa?”


“ Mbak Key juga pasti lelah menunggu kan.”


“ Apa? Menunggu siapa?”


“ Siapa lagi,  calon pemilik bakso inilah.”


Apa si Basma ini, nggak nyambung.


Saat mobil sudah melaju di jalan raya, Key tersentak. Memegang kemudi


erat lalu menoleh pada Basma. Tahu siapa yang dimaksudkan oleh adiknya.


“ Kak Anjas bilang dia suka sekali makan bakso.”


“ Tunjukan pada kakakmu yang keras kepala itu Bas, bagaimana hebatnya


adiknya ini.”


Ntahlah, apa yang akan dilakukan Basma. Tapi dia benar-benar sudah muak


menunggu. Melihat Key yang terkadang memandang jauh ke depan. Senyum yang


memudar saat meletakan hp, membuat hatinya sakit. Karena dia  bersikeras mendapatkan pengakuan Kak Bian


semua ini terjadi. Andai saja dia bisa mengesampingkan Kak Bian dan langsung


lari dalam pelukan ayahnya.


***


Hari selanjutnya. Makan malam.


Sudah beberapa hari ini Bian tidak mengintip Key dari kejauhan. Melihat


wajah Basma akhir-akhir ini membuatnya ingin langsung mendekatinya. Namun


karena harga dirinya yang masih setinggi langit membuatnya berkubang dengan


pikirannya sendiri.


Ya, Basma itu adiku. Suka ataupun tidak dia akan tetap menjadi


adikku. Hujan pesan baik secara langsung maupun disampaikan pada Kak Anjas


datang dari ayahnya. Mengingatkan janji yang sudah ia ucapkan di hadapan ayahnya kala itu.


Hah! Kata apa yang pertama kali harus aku katakan padanya.


“ Kenapa melamun Mas? Makan malam sudah siap.” Pak Wahyu mendekat saat


melihat Bian yang mematung di tangga selama beberapa menit berlalu. Berdecak


sesekali. Tanpa menjawab dia langsung menuju meja makan.


“ Makan bareng Pak, eh Pak Wahyu buat Bakso.” Senang. “ Ada keajaiban


apa ini.” Sudah meraih mangkuk dan mencicipi kuah sebelum menambah apa pun. Pak


Wahyu juga duduk di depan Bian.


“ Saya sudah makan Mas, saya temani saja.”


Pak Wahyu tersenyum melihat Bian yang melahap makanannya.


“ Enak Mas?”


“ Ia enak. Bukan bakso langganan kan, rasanya agak beda, tapi tetap


enak.” Pak Wahyu kembali ke dapur. Menyiapkan mangkuk ke dua tanpa di perintah.


Lalu meletakannya di meja makan. “ Mau nambah Mas?”


“ Dih keajaiban apa ini, biasanya cerewet kalau aku makan bakso.” Meraih


mangkuknya yang kedua. Mengambil keripik singkong yang ada di toples bundar di


depannya. Dia lupa tadi, sudah habis baru terlihat keripik di depannya.


“ Yang ini nggak apa-apa. Baksonya terjamin sehat dan tidak memakai


penyedap berlebihan.  Ada sayurannya


juga.” Sudah seperti mesin promo produk membeberkan keunggulan barang jualannya.


“ Bohong! Kok nggak kerasa.”


Bian tidak akan percaya, tapi saat dia  angkat bakso di sendoknya lalu ia amati pelan-pelan sambil memicingkan


mata, dia memang melihat ada warna hijau, orange bercampur dengan warna daging.


Apa ini bakso buat bocah yang nggak doyan sayuran, terserahlah yang penting


enak.


“ Pak Wahyu yang buat.”


“ Bukan Mas.”


“ Beli?”


“ Mas Anjas yang bawa tadi sore.”


“ Kak Anjas, oh,bibi ya buat mungkin ya. Ah tapi masak iya nggak


percaya, bibi kan nggak bisa masak.”


“ Bukan juga.”


“ Nah benerkan.” Bangga dengan tebakannya.


“ Kata Mas Anjas tadi itu bakso titipan dari Mas Basma.”


Dentingan sendok terjatuh beserta bakso yang sudah ada di depan mulut


Bian. Tinggal sebutir itu yang belum masuk ke dalam mulutnya.


Sial, kalian sedang menjebakku.


Melihat sebutir bakso dan kuahnya yang tinggal beberapa sendok lagi. Harga dirinya menyuruhnya untuk mendorong mangkuk itu menjauh.


“ Dihabiskan Mas tinggal satu lagi, jangan lupa berterimakasih sama Mas


Anjas dan Mas Basma ya Mas. Di kulkas masih banyak, besok saya buatin lagi.”


Pak Wahyu mendekatkan mangkuk lalu menepuk bahu Bian.


“ Sepertinya saya harus belajar dari Mas Basma bagaimana buat bakso


seenak ini.”


Hentikan Pak!


“ Atau lebih baik saya tidak harus belajar ya, biar Mas Basma saja yang


membuatkan buat Mas Bian.”


Bian meraih sendoknya lagi, mengambil bakso terakhir lalu memasukannya


ke mulut. Kunyah-kunyah cepat. Rasanya tidak berubah. Sial, dia pikir kalau dia


tahu kalau ini bakso buatan Basma rasanya akan menjadi tidak enak. Tapi tetap


enak.


“ Puas Pak?”


“ Hehe, saya keluar sebentar ya Mas, mau ngobrol sama satpam sebelah.”


Tidak merasa berdosa. Langsung kabur setelah melihat wajah  kecut Bian.


Kalian ini benar-benar kurang ajar ya, menjebakku begini.


Selesai makan Bian keluar dari rumah, duduk di teras depan sambil


menyandarkan tubuh. Key pasti masih ada di minimarket. Apa aku temui dia ya gumamnya.


Tapi…


Bagaimana kalau pembuat bakso itu ada di sana! Pati dia ada di sana.


Alasan Bian mulai tidak datang ke minimarket, walaupun sekedar mengintip dari kejauhan, karena Basma bahkan sudah


mengikuti Key sejak awal gadis itu mulai bekerja. Jadi sekarang Basma tidak


hanya datang menjemput.


Apa dia menungguku.


Pesan masuk di hp yang dipegang Bian.


“ Sudah makan baksonya? Enakkan?”


“ Tidak enak!” Membalas cepat.


“ Bohong, Pak Wahyu bilang kau habis dua mangkuk.” Emoji tertawa ngakak


sampai puas.


Pak Wahyu!


“ Aku juga makan bakso tadi, aku bawa ke tempat ibu. Basma jago ya,


katanya dia yang buat sendiri.”


“ Bodo amat.”


“ Katanya dia beberapa kali gagal lho tadi, Key bahkan ngirim foto-foto


hasil kegaagalan Basma bikin bakso. Mau lihat.”


Apa! Kenapa Key bahkaan tidak mengirimiku pesan apa pun.


“ Bodo amat.” Bian membalas, padahal jarinya sudah mengetik tiga huruf


tadi,tapi dia menghapusnya. Pesan bertubi masuk saat dia mau meletakan hpnya.


Foto-foto Basma dan key sedang membuat bakso, beserta bukti


kegagalannya.Bukti nyata Basma sudah bekerja keras melakukannya. Demi


menghidangkan makanan kesukaannya.


“ Key berharap, kau melihat ketulusan hati Basma padamu Bi.”


Bian menggigit bibirnya saat membaca pesan Anjas. Dia tidak mau membalas, sekedar kalimat yang dua kali ia kirimkan tadi. Karena jujur saja hatinya mulai tersentuh saat jarinya naik, melihat foto-foto yang dikirim Anjas tadi.


“ Sudah ya, aku mau kencaan. Wkwkw.”


Yang tadinya hatinya terhenyak langsung melempar hp kesal. Ada yang sedang pamer kemesraan pada hati yang dilanda kegalauan.


Bersambung


note author


hallo pembaca Key and Bian


untuk pembaca yang mau masuk grup chat pakai jawaban pertanyaan dibawah ini sebagai alasan masuk grup ya.


gampang kok, pertanyaannya.


Sebutkan semua nama makanan yang ada dalam gerai makanan dalam perayaan ulang tahun Grand Mall, selain somai Key imoet ya?


jangan lupa tinggaklan jejak komentar mengenai isi cerita di episode yang kamu baca 💖💖


mimin grup chat yang akan acc masuk 🤗🤗


Terimakasih💖