Key And Bian

Key And Bian
Menghadapi Kenyataan



Matahari pagi ini tidak tahu kenapa, terasa sejuk. Jatuh cahayanya di


kulit Bian. Membias keemasan. Pak Wahyu sudah membuka gerbang dan  masih berdiri di


tempatnya. Menunggu Bian. Melihat Bian dengan tingkah yang tidak biasanya. Laki-laki yang


sudah dilayaninya semenjak remaja itu merentangkan tangan ke udara. Telapak tangannya menghadap ke langit. Tepat ke arah


matahari yang mulai naik menuju tengah hari.


Selepas sholat subuh, Bian keluar berolahraga. Kembali ke rumah saat


embun pagi sudah menghilang. Mobil pengantar anak-anak sekolah pun sudah


berkeliling satu persatu di sekitar kompleks. Dia menghabiskan sarapannya


tanpa komplain tentang menu masakan.


“ Mataharinya hangat ya Pak Wahyu?” Masih menatap  tangannya yang tertimpa cahaya matahari.


“ Ini sudah panas Mas.” Menjawab bingung. Masih memegang gerbang.


“ Jangan lupa makan siang, saya berangkat dulu.”


“ Saya gak pernah lupa makan siang Mas. Mas Bian yang harus makan dengan baik.” Heran semakin menjadi-jadi.


“ Baiklah, saya pergi ya.” Tidak mengubris nasehat Pak Wahyu.


Pak Wahyu mengusap tengkuknya. Merinding. Bian tersenyum hangat padanya


saat masuk ke mobil. Membunyikan klakson saat mobilnya melewatinya di gerbang.


“ Mas Bian kenapa ya? Dari semalam sudah aneh tidak seperti biasanya.”


Pak Wahyu menutup gerbang. Akhir-akhir ini terik matahari di pertengahan


menjelang siang bahkan sudah membakar bumi. Dia masuk ke dalam rumah,


membereskan sisa sarapan Bian.


Bian bersenandung kecil. Membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali senyum samar muncul. Dia memukul-mukul kemudi lalu tertawa.  Sampai di area parkir.


“ Selamat pagi.”


“ Pagi Pak… Bian.” Satpam kantor menjatuhkan helm yang dia pegang.


Melihat siapa yang menyapanya barusan. Laki-laki itu sudah berlalu tanpa menunggunya selesai dari keterkejutan. Punggung


gagahnya memasuki gedung kantor. Pak satpam  membelalak saat melihat helm yang sudah


membentur kakinya. “ Untung-untung tidak lecet.” Diusapnya hati-hati.


Alhamdulillah tidak tergores, kakinya saja yang nyeri. Bergegas kembali ke


poskonya sambil menjinjit. Meletakan helm di tempat seharusnya. Ia memijat kakinya pelan, mengusir sakit setelah kesadarannya kembali. Duduk,


mengambil hp yang tergeletak di laci.


“ Dek, mas di sapa sama Pak CEO.” Terkirim.


“ Memang Mas salah apa?” Istri di rumah mulai dibayangi cemas.


“ Bukan, dia bilang selamat pagi sambil tersenyum padaku. Helm


ditanganku sampai terjatuh tadi.” Istri di rumah hampir menjatuhkan hp karena


terkejut.


Ah, Bian memang bukan pimpinan angkuh atau orang yang jarang tersenyum.


Dia akan tersenyum jika di perlukan. Namun ia jauh lebih sering diam tanpa


menunjukan ekpresi atau keinginannya dengan jelas. Dia tidak pernah menyapa


orang lain duluan. Jika bawahannya menyapa pun dia hanya membalas dengan


anggukan kepala. Dia hanya diam, membuat dinding pembatas yang engan untuk berusaha dimasuki orang lain. Apalagi yang tidak mengenalnya secara pribadi.


“ Mas kaget banget tadi Dek.”


“ Alhamdulillah kalau begitu Mas. Aku juga sudah kaget tadi.”


“ Hehe, udah ya Dek, Mas mau kerja lagi. Salam sayang untuk anak-anak,


dan buat Adek, istri Mas tercinta.”


“ Sayang Mas juga. Semangat ya Mas, nanti aku masak makanan kesukaan


Mas.” Satpam kantor yang baru di sapa CEO berbagi gembira dengan keluarganya.


Pejuang keluarga yang setiap hari memacu motornya jauh lebih pagi dari siapa


pun, karena jarak rumahnya yang ada di pinggiran kota. Namun dengan bismillah,


tidak pernah ia mengeluh. Di pundaknyalah tanggung jawab keluarganya berada.


Meninggalkan satpam kantor, Bian keluar dari lift.


“ Selamat pagi Susi.”


“ Pagi Pak, Biaan…” sekretaris muda itu menjatuhkan telfon yang tadinya


menempel di telinganya. Kepalanya mengikuti langkah kaki Bian. Sampai menghilang


di balik pintu.


Gila! Pak Bian menyapaku duluan.


Tersadar kalau dia sedang menelfon tapi. Berdehem lalu minta maaf. “


Baik Pak,  nanti saya akan kabari jadwal


pertemuannya. Baik, terimakasih kembali.”


Dia masih merasa sedikit terguncang. Meraih hp di dalam laci. Masuk ke


grup staff kantor.


“ Berita hebohhhhhhhhh!”


“ Pak Bian baru saja menyapaku, mau tau, mau tahu dia bilang apa.” belum


ada reaksi dari penghuni grup chat.


“ Selamat pagi Susi. Dengan wajah tersenyum.”


“ Huahahaha. Aku traktir kalian nanti pulang kerja ya.”


Tring…tring… pesan bertubi-tubi di grup cahat. Susi memasukan hpnya


karena mendengar langkah kaki mendekat.


“ Pak Bian sudah datang?” Anjas yang selalu tersenyum dan ramah tamah


kepada semua umat manusia di bumi datang menghampiri. Membawa setumpuk laporan


di tangannya.


“ Sudah pak. Jadwal Pak Bian untuk besok sudah saya kirim, silahkan


diperiksa Pak .”


“ Baiklah, terimakasih ya. Aku masuk dulu.”


“Ia Pak. “


Anjas meninggalkan meja Sekretaris Susi. Masuk ke dalam ruangan Bian.Laki-laki


itu sudah duduk di meja kerjanya.


“ Selamat pagi Kak.” Map di tangan terjatuh. Anjas membisu sesaat.


Melihat laki-laki yang sedang duduk di meja kerjanya. Ya, ya, dia bahkan datang


sesiang ini.


CEO tidak berperasaan. Apa! Dia tersenyum lagi. Habis makan apa ini anak.


Masih memilah praduga sambil mengumpulkan map yang berserak di kaki.


Anjas mendengar Bian bersenandung kecil. Lagu penyanyi lawas yang kadang ia


putar saat sedang senang. Untuk alasan yang tidak bisa diterima nalar Anjas.


Sejak kapan kau perduli aku sudah sarapan atau belum!


“ Aku sudah makan roti dan minum kopi di bawah.” Meletakan semua map.


Melihat Bian yang sudah mulai memeriksa Map kedua di depannya. “ Ini laporan


penjualan 10 besar brand fashion.”


“ Terimakasih Kak.”


“ Kau memungut akhlak di mana Bi, sampai tahu aku sudah bekerja keras


untukmu.”Bian menyeringai, meneruskan menandatangani apa yang harus dia


tandatangani. Memberi stempel perusahaan di sudut namanya.


“ Datanglah ke rumah, akan kukatakan pada Pak Wahyu untuk menyiapkan


sarapan lebih pagi untukmu. Jaga kesehataanmu Kak.”


Anjas tertawa. Bagaimanaa naseht tentang sarapan keluar dari mulut


orang yang kalau tidak dilarang maunya cuma makan bakso ini.


“ Sepertinya kau sedang senang ya.”


“ Apa terlihat begitu.” Tersenyum sambil mengeser semua map yang sudah dia tanda tangani. Meraih laporan yang baru diberikan Anjas. Semangat paginya menjelang siang ini sedang berapi-api.


“ Kau dan Key melakukan apa semalam?” Dia yang bertanya dia juga cemas dengan jawabannya. Hanya satu alasan yang terfikirkan Anjas, dengan sikap  tidak biasanya Bian hari ini.


Anjas gelagapan menangkap pena yang dilempar Bian..


Apa-apaan ini, kenapa dia malu begitu.


“ Kami tidak melakukan apa-apa. Memang kami melakukan apa. Jangan


aneh-aneh ya Kak. Memang aku sudah tidak waras apa. Kau berfikir apa Kak.” Mencari-cari pena. Dengan kurang ajar Anjas melemparkan benda di tangannya.


“ Memang aku bilang apa?” Bian jatuh tersungkur dengan jawabannya


sendiri. Ia menggerutu bagaimana bisa terpancing. Bantahannya hanya perangkap umpan Anjas untuk mengorek kebenaran.


Benar,dia sedang bahagia sekarang. Hubungannya dengan Key berkembang


semakin baik. Tangan yang ia genggam itu tidak pernah menolaknya


sekarang.Senyumnya yang senantiasa merekah saat ia muncul di pintu minimarket.


Benar-benar menjadi obat kelelahannya.


“ Jadi kau sudah siap sekarang?”


“ Apa?”


Senyum di wajah Anjas memudar perlahan. Bian mengumpat dalam hati.


Dia tahu, apa yang ada dalam pikiran laki-laki di hadapannya ini. Kalau


dia sudah melangkah ke bibir jurang. Ngarai dalam yang bisa saja menghisap


dirinya terbentang lebar. Dia bisa kehilangan banyak hal. Kehormatan, nama baik, Kepercayaan ayahnya, dan yang lebih utama dari itu, kehilangan Key.


Bian masih mengikuti Anjas degan ekor matanya. Laki-laki itu terduduk di


sofa. Meninggalkannya.


“ Bi, kemarilah. Aku ingin bicara denganmu.” Suara Anjas terdengar


pelan. Namun tak ada candaan di sana. Tangan Bian terkepal, menyentuh ujung


meja. Anjas sedang memakai mode kakak sok bijak dan mengurui. Walaupun apa yang akan dikatakannya adalah kebenaran, namun Bian sudah jengah bahkaan sebelum mendengarnya.


Bagaimanapun dia menghindar, cepat atau lambat, situasi ini harus dia


hadapi. Bian belum bergerak dari tempatnya duduk.Masih menarik nafas dalam.


“ Bi!” Suara Anjas semakin terdengar tegas.


Akhirnya Bian bangun dari duduk, berjalan menuju sofa. Tarikan nafasnya


dalam. Ia duduk sambil menatap Anjas. Ya, ya aku  harus menghadapi ini. Tak lama, Anjas pun


terdengar menghela nafas.


“ Bi.”


“ Kak.”


“ Kau tahukan aku pasti akan mengatakan ini.” Sebelum Bian mengudarakan protes.


Ketakutan-ketakutan Bian kembali bermunculan. Fakta-fakta yang coba


ia kaburkan dengan kata semua akan baik-baik saja. Namun sekeras apa pun dia


berusaha mengaburkan itu, faktanya dia memang harus menghadapinya. Saat dia


menggenggam tangan Key, saat ia menahan tangan gadis itu.


“ Aku tahu Kak.”


“ Dengarkan aku dulu.” Bian mengunci mulutnya.


“ Aku adalah orang yang akan paling senang kalau kau bahagia Bi.” Itulah ketulusan Anjas, Bian juga tahu. " Kalau kau dan Key saling mencintai, aku akan berdiri  di depan kalian untuk mendukung. Tapi." Tapinya Anjas sudah terdengar akan memutar balikan situasi. " Selesaikan masalah Amanda sampai tuntas terlebih dahulu."


“ Cih.” Membuang muka jengah.


" Dengarkan aku dulu."


" Ia, ia. Memang aku bilang apa si Kak. Aku juga diam dari tadi." Kalau saja masih bocah, Anjas sudah menjitak kepala laki-laki di depannya ini. Yang sudah bersungut-sungut kesal. Bahkan tanpa bicara, Anjas pun tahu suasana hati Bian sekarang.


" Tahan dirimu sedikit lagi Bi, seperti yang biasa kau lakukan selama ini. Batasi dulu pertemuanmu dengan Key, sebelum pembatalan pertunanganmu diumumkan." Ada hal menakutkan yang Anjas prediksi bisa meledak kapan pun. Jika hubungan Bian dan Key tercium publik.


" Memang apa yang aku lakukan Kak, aku cuma mengunjunginya malam hari di minimarket. Mengantarnya pulang, sudah itu saja. Aku sudah sangat hati-hati dan menahan diri untuk tidak mengajaknya kencan secara terbuka. Aku harus menahan diri bagaimana lagi." Meluap sudah. Bian melakukan semua hal demi perusahaan. Tersenyum, tertawa semua demi perusahaan dan nama baik Adiguna Grup. " Tidak bolehkah aku bahagia sedikit untuk diriku sendiri Kak." Sejujurnya kata-kata itu mengiris hati Anjas. Tapi, kalau dia larut dan mengalah, hal yang bisa saja terjadi akan jauh lebih menakutkan.


" Kau berhak bahagia Bi, tapi tidak juga mengorbankan Key."


" Apa maksudmu Kak?"


" Kau tahu apa yang terjadi pada Ayahmu kan? pada wanita yang dia cintai. Aku bahkan lupa bagaimana wajah wanita itu. Ayahmu dengan koneksinya menghapus bayangannya di semua pencarian internet." Ini kisah masa lalu yang Anjas dengar dari cerita Ayahnya. " Orang tidak mengecam ayahmu karena mencintai wanita lain Bi, tapi mereka menuding wanita itu sebagai perusak rumah tangga. Ya, mungkin cuma kau dan ibumu yang mengecam ayahmu." Melihat reaksi Bian, apa dia paham maksud kata-katanya.


Wajah Bian Pias. Anjas menarik kepalanya bersandar.


Ya, kau pasti paham maksudku.


" Bukan kau yang akan di kecam karena mencintai wanita lain Bi, tapi Key. Key yang akan dilabeli sebagai wanita yang merebut tunangan Amanda.  Huh! Apalagi aku dengar mereka teman SMU." Seperti panah beracun, kata-kata Anjas membuat tubuh Bian bergetar. Dia ingin marah, tapi memang itu kenyataannya.


Kebenciannya pada wanita itu, bahkan jauh lebih besar daripada rasa bencinya pada Ayahnya. Dan saat dia menahan tangan Key, secara tidak langsung, dia memposisikan Key di jurang yang sama dengan wanita yang dicintai Ayahnya. Dia tertunduk dalam. Menahan sesak.


" Malam ini ketua memanggilku Bi, akan aku jelakan semua kepadanya. Tapi kumohon, tahan dirimu sedikit saja. Sebelum pembatalan pertunanganmu resmi diumumkan, sebisa mungkin jagalah jarak dengan Key."


Semua hal menyenangkan di gudang minimarket semalam (Dih, dah setahun kali. Wkwkw) menguap begitu saja. Menu makan malam yang mereka rancang untuk seminggu kedepan. Semua tawa itu hilang dalam sekejab. Bian mengepalkan tangan tidak berdaya.


" Aku mohon Bi, lakukan ini demi kebaikan Key." Anjas menepuk pundak Bian. Dia keluar ruangan, membiarkan Bian merenungkan semua yang ia katakan barusan. Ah, sesungguhnya dialah orang yang paling bahagia dengan kebahagiaan Bian. Tapi ada bom waktu yang bisa meledak kapan pun, dan jika itu terjadi, gadis manis penjaga minimarket itulah yang akan terluka.


Kenapa aku memikirkan percintaan orang lain, aaaaa, aku bahkan tidak punya waktu untuk diriku sendiri.


Anjas berteriak tanpa suara masuk ke dalam ruang kerjanya. Hari ini akan jadi hari yang panjang. Makan malam dengan ketua Adiguna Grup sudah bisa dia bayangkan akan seperti apa.


bersambung


Note author:


Hallo semuanya, aku LaSheira. Bertemu  lagi di novel Key and Bian ^_^. Cinta CEO sebuah mall ternama dengan gadis penjual somai dan penjaga minimarket malam. Novel ini memang tidak segemerlap novel TMTM, Bian bukanlah Saga. Mereka tidak akan pernah sama jika dibandingkan dari semua cara. Tapi yang pasti, mereka punya caranya sendiri mencintai wanita yang mereka sayangi.


Banyak kisah yang akan tergali dalam cerita ini. Ada tawa namun juga ada airmata, silahkan nikmati alur ceritanya. ^_^


Rencananya aku akan update novel ini secara berkala, setiap satu episode selesai aku tulis dan edit akan aku update langsung.


Kasih like di tiap episode ya, dan klik favorite juga.


Vote gak mau thor?


Mau banget wkwkwk


Terimakasih yang sudah membersamai perjalanan LaSheira di NT dan MT, yang sudah membaca semua novel aku. Tiga novelku punya kisah dan cerita masing-masing. Ada setiap warna yang berbeda dalam mengisahkan hidup karakter di dalamnya. Silahkan baca dan nikmati setiap jengkal warna dan perbedaannya.


Salam hangat


LaSheira


(Ampun Bi, aku sayang sama kamu kok beneran. Kamu dan Key harus bahagia ya. ^_^)