Key And Bian

Key And Bian
Spesial Episode (Part 2)



Tengah malam, keduanya mengerjap bersamaan. Terbangun seletah sama-sama


tidak sengaja ketiduran. Awalnya terkejut satu sama lain. Setelah beberapa saat menganalisis situasi, keduanya menarik nafas lega. Bian bangun menghidupkan lampu.  Malam sudah senyap, sepertinya para pelayan sudah


berhenti berbenah dan akan diteruskan esok pagi.


Key dan Bian tertawa bersamaan setelah saling pandang. Bisa-bisanya


mereka ketiduran dan kaget karena mereka saling berpelukan saat terbangun.


“ Sudah enakan setelah tidur.” Mencium pipi Key sambil masih terbaring


dengan menyangga satu tangan. “ Key istriku tersayang.”


Key mengulum senyum malu dengan panggilan baru itu.


“ Kak Bian juga pasti cape banget seharian ini. Kita malah ketiduran.”


Sekali lagi mereka membelai pisi masing-masing dan meninggalkan kecupan


di dahi.


“ Kita bangun yuk, sholat sunah dulu.” Teori malam pertama yang sudah dicari tahu mereka masih-masing, tanpa berkompromi.


Key menggangukan kepala.


Mereka masuk ke dalam kamar mandi bersama. Bian mengikat rambut Key lalu


memberi kecupan lembut di bahu gadis itu. Yang tersenyum sambil menyentuhkan


kepalanya ke pipi Bian. Keduanya menikmati momen itu sambil diselingi tawa.


Membersihkan diri setelahnya lalu mengambil wudhu bergantian.


Bian meraih tubuh Key yang sudah ada dalam balutan mukena putih. “


Terimakasih Key, karena memberiku kesempatan menjadi laki-laki beruntung yang


bisa memilikimu.”


Kak Bian, tuh kan. Belum apa-apa aku jadi sudah ingin menangis.


“ Ayo sholat dua rakaat sebagai wujud syukur kita pada  Allah, sudah mengikat takdir


kita berdua Key.” Key mengganguk.


Begitulah akhirnya, mereka memanjatkan doa panjang selepas salam.


Memandang hangat satu sama lain. Key mendekat, mencium  punggung tangan Bian lalu meletakan tangan


itu di pipinya. Mencium telapak tangan yang halus dan hangat itu.


Bian semakin merapat, meletakan tangan di ubun-ubun Key. Lalu berdoa dengan


kusyu, setalah itu mencium kening Key dengan lembut.


“ Aku mencintaimu Key. Tuhan menjadi saksi ucapanku.”


“ Key juga mencintai Kak Bian.” Mengaitkan tangan. Mencium punggung


tangan Bian.” Ayo berjalan bersama menghadapi masa depan Kak.”


Masa depan yang sebenarnya masih membingungkan bagi Key. Berjualan somai


lagi, menjaga minimarket lagi. Key diberitahu kemarin oleh Bibi Salsa, kalau


Paman menawari bibi untuk menempati rumah orangtua Key. Beliau akan memberikan


minimarket tempat Key bekerja selama ini sebagai tempat usaha bibi.


Pantas saja ada yang aneh, ternyata minimarket itu sudah dibeli paman.


“ Key, aku serius lho waktu bilang jangan melihat laki-laki lain dengan


hangat. Biarpun itu Basma. Jangan tersenyum dengan ceria pada semua orang


juga.”


Ya, ya, diulang lagi.


“ Pakai cincin nikahnya juga, jangan dilepas. Apa aku buatkan kalung


saja ya, tulisannya istrinya Bian, milik Bian, atau jangan lirik, sudah menikah.”


Ya, ya, obrolan beberapa hari lalu terulang lagi.


“ Kau bisa sekolah lagi Key, itu impianmu kan. Kejarlah mimpimu


Tapi…”


Ya, ya, asal jangan melirik dan berinteraksi dengan laki-laki lain.


“ Terimakasih ya Kak, Key akan berusaha menjaga hati dan diri Key. Untuk


menjaga kehormatan dan kepercayaan Kak Bian. Tapi, percayalah Kak, Key itu


gadis biasa, yang nggak aneh-aneh deh. Jadi percayalah.”


“ Aku percaya padamu Key, tapi aku tidak percaya pada laki-laki di luar


sana.” Memeluk Key. Matanya memicing dibalik punggung Key.


Aku bahkan harus waspada dengan adikku sendiri.


Key tersenyum sendiri, semua hal yang terjadi pada dirinya sudah


seperti mimpi. Atau layaknya pentas drama. Dia yang selama ini hanya tahu arti


cinta untuk berkorban demi kebahagiaan dan kesuksesan Basma. Ya, cinta itulah


yang membuatnya bekerja keras tanpa lelah bekerja sebagai pedagang somai dan


penjaga minimarket malam.


Ah, benar, karena selembar fotonya yang viral dulu menjadi jalan Tuhan


merubah takdir hidupnya.


“ Karena itulah aku mengenal cinta dengan warna lain yang diberikan Kak


Bian.” Memeluk Bian, usel-usel wajah di dada.


“ Apa?”


“ Key teringat waktu pertama kali ketemu Kak Bian.”


Mereka tertawa, karena mengingat kembali saat-saat saling curiga kala


itu. Saat mereka masih mengartikan cinta dengan cara yang berbeda.


Bian melepas mukena yang dipakai Key. Melemparkannya menjauh. Rona di


wajah Key langsung berubah, membaca situasi.


“ Apa?”


“ Apa si Kak!” memukul dada Bian karena malu. Yang dipukul tergelak,


sambil mengendong Key dalam dekapan. Menuju saklar lalu. Mengisyaratkan dengan


kedipan mata. Key menekannya, lalu berpendarlah lampu tidur temaran berwarna


keemasan. Kamar tidur yang tertata dengan indah hanya terlihat dengan samar.


Menjatuhkan tubuh Key perlahan di tempat tidur.


“ Boleh kan aku melakukannya sekarang?”


Kenapa tanya si, aku kan malu menjawabnya.


“ Aku mencintaimu Key.” Samar bayangan dan senyum Bian menyatu dalam


cahaya lampu tidur. Tangannya lembut menyentuh Key yang masih berusaha menahan


degub jantungnya sendiri. Saat bibir yang mulai berlarian di setiap lekukan


tubuh mulai seirama tarikan nafas. “ Aku mencintaimu Key.”


Malam itu mereka menghabiskan malam dengan gelak tawa, saling memeluk


hangat, dan berceloteh tentang mimpi mereka.


“ Basma juga Kak.” Menyahuti pembicaraan Bian.


“ Dua, hari ini habis kuotamu menyebut namanya.”


Hiaaa, ini beneran dihitung!


Sebuah kecupan dileher, membekas tanda merah kembali di berikan Bian.


Malam hangat mereka masih berlanjut.


Bersambung.....