Key And Bian

Key And Bian
Acara Minum Teh Berlanjut



Atmosfer yang tidak pernah dibayangkan Key selama memikirkan nama Tuan


Adiguna sepanjang perjalanan tadi. Mencipta rasa aneh sekaligus kelegaan di hatinya.


“ Makanlah dengan nyaman Nak.” Menarik piring kecil mendekat ke depan Key.


Dia sendiri hanya menikmati teh di cangkirnya.Tidak menyentuh sepiring cake  yang juga terhidang di


depannya.


“ Terimakasih Paman.” Karena sikap hangat Adiguna, perasaan takut dan


cemas Key lumer begitu saja. Seperti cairnya kecanggungan di antara mereka. Key


melihat laki-laki di hadapannya bukan lagi sebagai Ketua Adiguna Group, tapi


sosok hangat seorang ayah. Key jadi kepikiran, kenapa selama ini Kak Bian


selalu bercerita dengan nada benci jika menyebut ayahnya.


Padahal ayah Kak Bian sangat baik.


Pelan-pelan  Key menghabiskan


suapan demi suapan, cake coklat di piring kecil di dapannya. Sesekali ikut


meneguk teh di cangkirnya. Ah kenapa teh bisa seenak ini ya gumamnya. Warnanya


keemasan, tidak manis namun dia masih bisa merasaakaan kenikmatan gula di


lidahnya. Padahal kalau dia membuat teh di rumahnya, rasanya jauh lebih dominan


gula. Kalau membuat lebih pekat, hanya pahit yang terasa.


Kenapa tehnya bisa seenak ini ya?


Kekuatan tangan koki Key, mi instan aja lebih enak yang di beli di kedai


mi.


“ Kamu suka tehnya sepertinya.” Adiguna memberi instruksi pada pelayan


untuk mengisi cangkir Key lagi, gadis itu jadi tersipu malu. Lalu dengan sekali


gerakan tangan Adiguna, Key melihat pelayan wanita itu menganggukan kepala lalu


berjalan menuju pintu. Menghilang. Membiarkan mereka berdua.


“ Paman cuma bisa mengucapkan banyak terimakasih. Pak Wahyu bilang kalau


semenjak mengenal Keysha, Bian tidak terlalu pilih-pilih makanan. Sepertinya


Key sudah membawa perubahan yang positif bagi Bian.”


Aku kan tidak melakukan apa-apa. Kak Bian nggak pernah pilih-pilih makanan


kok, dia makan semua bekal yang aku buat.


Fakta kalau Bian bisa berhari-hari cuma makan mi instan, tidak


terjangkau ingatan Key. Dia hanya berfikir tentang hal-hal manis kebersamaannya


dengan Bian saja.


“ Karena tanggungjawabnya pada perusahaan, Bian memang harus bersikap


dengan sempurna, baik dengan prilaku ataupun senyumannya sekalipun. Dia tidak


pernah benar-benar menunjukan suasana hatinya. Karena memang seperti itulah


beban di pundaknya.” Adiguna menghela nafas. “ Terimakasih Nak, paman hanya


bisa mengatakan itu.”


“ Kak Bian orang yang hangat seperti Paman. Ya, memang mungkin di awal


pertemuan dia itu agak-agak gimana gitu.” Tertawa tanpa berusaha menutupi apa pun.


“ Tapi, kalau kita berhasil mendekat dan menyentuh hatinya, Kak Bian benar-benar


orang yang baik.”


“ Senang rasanya melihat hubungan kalian baik.”


Eh, bagaimana ini. Kurang ajar tidak ya, kalau aku bertanya apa paman


sudah merestui hubungan kami.


Masih menggigit sendok bingung.


“ Bagaimana dengan adikmu, apa kalian hidup dengan baik?”


“ Basma, tentu saja Paman kami hidup  dengan baik. Basma anak hebat dan luar biasa. Aku sangat menyayanginya.”


“ Tentu saja paman percaya itu.” Rasa terimakasih yang tulus mengiringi


senyum Adiguna.


Dia bersyukur anaknya yang sendirian bersama orang-orang luar biasa,


yang menyayanginya dengan tulus tanpa latar belakang apa-apa.


“ Apa hubungannya dengan Bian cukup akrab?” Melihat reaksi Key yang


tidak ada pandangan curiga. “Pak Wahyu sedikit bercerita kalau kalian sempat


pergi bersama mengunjungi makan orang tua kalian.”


Sepolos itulah gadis kecil itu,  tak ada curiga, tak ada prasangka.


“ Basma dan Kak Bian baik kok paman. Basma bilang kalau dia mendukung


kami.” Malu-malu, dalam hati sebenarnya dia ingin bertanya juga apakah Paman


dan  Bibi juga merestui kami. Tapi


keberaniannya belum sampai pada titik itu.


Sekarang sekolah di mana Basma.


Ceritakan tentang adikmu.


Sepertinya kita harus makan malam bersama nanti.


Key bisa mengajak Basma dan kita makan


malam bersama.


Key bukannya fokus membicarakan Bian dia malah terpancing dengan


pertanyaan-pertanyaan tentang Basma . Tanpa sedikit pun merasa curiga dia


bercerita tentang Basma. Dia mengeluarkan hpnya. Menunjukan foto-foto pribadi


Basma yang sedang membuat somai atau sekedar berpose. Menunjukan akun sosial media


Basma dan aktivitas apa  yang sedang ia


jalani sekarang. Percayalah, dipancing sedikit saja, Key sudah seperti orangtua


yang bicara keberhasilan anaknya dengan penuh kebanggaan. Acara minum teh hari


ini hanya diisi dengan ceritanya tentang Basma.


Key tidak terlalu memperhatikan bola mata sendu yang berubah menjadi


berbinar dan dipenuhi kebahagiaan saat ini. Mendengar anaknya dicintai,


mendengar anaknya tumbuh dengan baik.  Adiguna benar-benar ingin memeluk gadis kecil di hadapannya. Ribuan


terimakasih saja rasanya tidak akan cukup membalas semua budi baiknya menjaga


anaknya.


“ Terimakasih ya Nak, berjanjilah untuk datang bersama adikmu kalau


paman mengundangmu untuk makan malam nanti.”


“ Hehe, ia paman. Maaf saya sudah ngelantur kemana-mana bicara tentang


Basma.”


“ Saya bahagia dan senang mendengar ceritamu Nak.”


Pintu terbuka, Sekretaris Haryo membawa kotak dengan ukuran lebih besar.


Pelayan di sebelahnya membawa kotak putih dengan pita berwarna merah. Ukurannya


jauh lebih kecil.


Apa itu! Apa mau melempar uang padaku. ( Masih ngarep Key wkwkw)


Pandangan tidak suka ketika kenyataan yang ia pikirkan terjadi.


“ Bawalah pulang, hadiah paman untuk Keysha dan Basma,” ujar Adiguna


lembut.


“ Maaf Paman Key harus menolak.” Mundur dua langkah menjauhi Adiguna.


Tangan Adiguna yang mau menyentuh kepala Key menggantung di udara. Dia menariknya


bingung. “ Saya pikir Paman berbeda, tadinya saya pikir Paman orang yang


hangat dan menyayangi Kak Bian dengan tulus. Tapi ternyata.”


Adiguna sedang berfikir keras, kenapa senyum gadis di depannya tiba-tiba


lenyap. Dan melihat Key yang langsung menjaga jarak dengannya.


“ Nak.”


“ Kalau Paman tidak merestui kami, seharusnya paman mengatakannya dari


awal.” Melihat dua kotak di tangan Sekretaris Haryo. “ Saya dan Kak Bian.”


Tawa Sekretaris Haryo pecah, karena paham apa yang di bicarakan Key.


“ Ini hanya kotak berisi buah-buahan Mbak Keysha. Yang saya pegang


berisi buah aneka macam, dan yang ini.” Menunjuk kotak kecil yang dipegang


pelayan wanita. “ Ini stroberi, ada yang bilang Mbak Keysha suka stroberi, jadi


Ketua Adiguna menyiapkan semuanya untuk Mbak Keysha. Untuk dinikmati dengan


adik Mbak Keysha, Basma.”


Masih tersisa tawa yang tertahan Sekretaris Haryo dan wajah bingung


Adiguna. Wajah Key merah padam, malu dan merasa bersalah. Bagaimana bisa


meragukan ketulusan seorang ayah.


“ Maafkan Key Paman.” Mendekati Adiguna, meraih tangannya lalu cium


tangan. “ Saya permisi, terimakasih atas semua kebaikan paman. Semoga paman dan


bibi sehat selalu dan panjang umur. Key pamit ya Paman.”


Tidak mau mendengar penjelasana apa-apa, Key lari keluar ruangan dengan


segunung malu. Dia bersandar di tembok, Sekretaris Haryo belum menyusulnya


hanya pelayan wanita yang membawa kotak kecil keluar. Selang tidak lama


terdengar suata Adiguna. Tertawa.


Aku pasti sudah gila! bagaimana aku berfikir Paman memberiku uang.


restoran.  Malunya sampai keubun-ubun.


Kalau bisa dia ingin memutar waktu dan kembali ke saat tadi. Bagi Key ini


kesalahpahaman paling memalukan dalam hidupnya.


***


“ Paman Haryo!” Sebuah mobil baru saja sampai di tempat parkir. Bian


bahkan belum keluar dari mobilnya berteriak keras saat melihat Sekretaris Haryo


dan Key. Dia menutup pintu keras, menunjukan kemarahan. “ Akan kuadukan pada


bibi kalau Paman sudah berkonspirasi dengan ayahku melakukan kejahatan.”


Bian mengancam mengadu pada ibu Anjas.


“ Lama juga kamu datangnya Bi.” Bicara dengan santai.


Tadinya Haryo berfikir, informasi Ketua Adiguna mengundang Key bertemu akan dengan cepat sampai pada Bian. Tapi dia lega, anak di hadapannya muncul setelah semua pembicaraan selesai.


“ Paman!”


Sambil berteriak Bian menarik tangan Key, melindunginya di balik


punggungnya. Melihat kotak yang di bawa oleh dua pelayan di belakangnya. Besar


dan kecil. Pandangan benci dan amarah langsung tersulut.


“ Bawa itu, atau aku yang akan melemparkannya ke depan ayahku.” Masih


menahan Key di belakang punggungnya, tidak mengubris saat Key menarik lengannya


memanggilnya. “ Bukanya kalian setuju membatalkan perunanganku dengan Amanda,


kenapa harus memakai cara kotor ini.” Meneruskan bicara tidak mendengar Key memanggilnya berulang kali menenangkannya.


“ Kamu ini ngomong apa Bi.” Memberi perintah kepada dua pelayan yang


membawa kotak untuk mendekat ke mobil Bian.


“ Paman! Key tidak butuh itu. Apa kalian tidak merasa bersalah sudah


menyakiti perasaannya.” Menarik Key ke depan. “ Paman tahu bagaimana dia


bekerja keras dalam hidup ini, dan paman mendukung ayah melakukan penghinaan


ini.” Menunjuk kotak. Sedang memperkirakan berapa total jumlah uang yang ada di


sana.


“ Kak Bian itu.”


“ Aku tidak menyalahkanmu Key.” Beralih pada para pelayan. “ Bawa itu


pergi.”


Sekretaris Haryo kembali tertawa.


“ Yang satu berfikir akan dilempar uang, yang satu berfikir kalau


ayahnya akan menukar kebahagiaan anaknya dengan uang.” Kotak sudah duduk manis


di kursi mobil belakang. Paman Haryo mendekat ke arah Bian. “ Bi, bukankah


sudah saatnya kau berhenti berburuk sangka pada Ayahmu.”


Key langsung membeku mendengar perkataan terakhir Sekretaris Haryo.


Karena seperti mengoyak hati, bahwa selama ini hubungan Kak Bian dan ayahnya


benar dalam situasi yang tidak baik.


“ Kak, kotak itu berisi buah-buahan dan stroberi. Paman bilang untuk


kunikmati bersama Basma.”


“ Apa? Buah-buahan? Stroberi.”


“ Sudah sana antar Mbak Keysha pulang. Oh iya, ini mbak, kunci foodtruck


Mbak Keysha, karyawan saya sudah mengantar tadi.”


Meletakan di tangan Bian, menepuk bahu Bian pelan.


“ Ayahmu menyayangimu Bi, walaupun dia tidak pernah secara langsung


mengatakannya.”


Bian membisu melihat punggung sekertaris Haryo menghilang ke dalam


restoran.


Senyum sinis saat lirih menyebut kata ayah di bibirnya, sejak kapan


laki-laki itu menyayanginya. Kelahirannya hanyalah karena kesalahan.


Tanggung jawab meneruskan keturunan.


“ Cih.”


“ Kak Bian.” Key bisa merasakan kebencian itu. “ Paman memperlakukanku


dengan baik, kami minum teh dan makan cake dan mengobrol.” Sambil masuk ke


dalammobil. Menatap dua kotak di kursi belakang.


“ Paman?” Bingung panggilan itu ditujukan untuk siapa.


“ Ah, maaf. Ayah Kak Bian minta aku panggil Paman.”


“ Ayahku!”


Mobil masih berhenti di area parkir.Bian sedang berusaha menguasai diri,


dengan semua cerita yang hampir tidak masuk akal. Menanggapi cerita singkat


Key.


“ Key, kau bersumpah itu yang terjadi di dalam? Maaf.” Meraih kedua


tangan Key , menggenggamnya di wajahnya. “ Aku mohon katakan yang sebenarnya,


jangan berusaha melindungi hubunganku dan ayahku. Ada atau tidaknya kamu,


hubungan kami memang sudah buruk. Ini bukan salahmu.” Bian tidak bisa


mempercayai, walaupun sekali lagi Key mengatakan dengan wajah serius. Betapa baik


dan hangatnyaa hati ayah Kak Bian.


“ Kak, Key nggak mungkin bohong sama Kak Bian. Memang itu yang terjadi


selama pertemuan dengan ayah Kak Bian.”


“ Key.”


Bagi Bian semua yang baru ia dengar seperti sesuatu yang mustahil.


“ Paman bahkan mengatakan ingin mengundag Key dan Basma untuk makan


malam nanti.” Sekali lagi seperti mendapat ledakan baru. “ Kalau ayah Kak Bian


saja mendukung kita pasti ibu Kak Bian juga begitukan.”


Apa aku sudah bisa bernafas lega.


“ Tentu saja, aku kan selalu mengatakan, kalau ibuku orang yang baik. Aku


tidak sabar, membawamu bertemu dengannya.”


Bian masih berusaha meyakinkan diri, kalau ayahnya punya sisi seperti


yang ada dalam cerita Key. Nihil, jika berurusan dengannya tidak pernah ia


mendapati itu semua.


" Nanti Kak Bian bawa buahnya juga ya, kita sama-sama menikmati hadiah daari paman." Key tersenyum lagi.


Mobil melaju meninggalkan restoran. Diikuti pandangan sendu laki-laki yaang menggenggam jendela erat. Dia melihat semua kejadian tadi. Kemarahan anaknya. Dia hanya bisa tertunduk dan merasa bersalah. Bagaimanapun Bian telah tumbuh dengan cara yang salah karena kebodohannya juga.


***


Waktu tengah hari sudah lewat.


Di depan gedung Frezze Parfume. Bangunan lima lantai yang megah. Dengan


logo brand kebanggaan dan jejeran botol-botol parfume mewah yang berderet di


halaman depan. Tidak tahu terbuat dari bahan apa, tapi berhasil menvisualisasikan dengan baik seperti produk aslinya.


Bercanda ya, kenapa perusahaan sebesar ini mau memakaiku sebagai model.


Basma masih melihat botol-botol parfume sebesar dirinya di halaman


gedung.


“ Kita pulang saja, orang itu pasti membual. Kamu pikir sehebat apa aku


sampai bisa dipilih sama perusahaan sebesar ini. Aku itu punya pengalaman jadi


model di butik mama kamu aja.”


Rian juga merasakan keraguan seperti yang Basma rasakan. Namun ucapan


Said Husni kembali terngiang-ngiang meyakinkan.


“ Kita coba dulu aja Bas. Pak Said Husni bilang asalkan menyebut namamu


dan menyerahkan kartu nama ini," menunjukan kartu nama di tangannya. " pintu kantornya terbuka kapanpun, itu katanya.”


“ Apa itu malah tidak aneh, memang aku anak pemilik perusahaan ini!”  Benar-benar ingin menarik Rian supaya


berbalik langkah.


“ Ahhh, tunggu, kita coba dulu Bas, sudah sampai di sini.Tanggung.”


“ Jangan bicara yang aneh-aneh ya.”


“ Ia, ia Tuan model yang terhormat. Tapi senyum kenapa Bas.”


“ Apa!” Kesal.


“ Senyum, seperti waktu kamu sama Mbak Key yang aku lihat di  Central Park, senyum yang begitu.”


Basma melihat dengan pandangan menusuk ke arah Rian. Membuat Riang begidik.


Cih, aku saja kaget dia bisa tersenyum begitu di depan Mbak Key.


“ Kalau begitu ia, ia. Nggak usah tersenyum. Ayo jalan, tapi kalau


ditanya jawab dengan benar ya.”


“ Sudah diam, memang aku anak kecil apa perlu dibilangin begituan.”


Ia, ia.


Mereka berdua memasuki gedung Frezze Parfume. Berbekal nama Basma dan


selembar kartu nama Said Husni.


bersambung


“ Bi, bukankah sudah saatnya kau berhenti berburuk sangka pada Ayahmu.” Pesan Paman Haryo


Like dan vote ya, terimakasih ^_^