
Key sudah mengumpulkan energi,
untuk kembali memulai aktivitas sorenya. Dia sudah turun angkot dan sampai di
minimarket.
“ Halo Kak, saya datang. Hihi.”
Sambil menongolkan kepala di pintu, dan memamerkan gigi-giginya.
Hamzah sedang menghitung uang di belakang
kasir tersenyum senang. Selesai juga jam
kerjanya. “ Selamat datang, pas sekali, aku ada kuliah soalnya.” Masih melanjutkan menghitung uang.
“ Kak Hamzah ambil kuliah apa?” Key terkejut saat mendengar kak Hamzah ternyata kuliah lagi. Selama ini setahunya, pria usia 30 tahunan itu bekerja sebagai desain grafis di rumahnya.
“ Desain grafis juga Key. Biar profesional harus jadi desainer bersertifikat.”
“ Keren kakak.” Key mengacungkan
jempolnya. Lalu ia beranjak masuk ke dalam gudang, mengambil daftar persediaan
barang. “Bos bilang ada barang datang nanti malam Kak.”
“ Kenapa musti datang malam, kan tahu kamu yang jaga Key. Nggak apa-apa?”
“ Beres Kak. Key bisa melakukan apa saja kok.”
“ Ck, ck, kamu ini makan apa si Key, melihat kamu, hidupku jadi terasa aku itu gak punya beban. Gadis muda seperti kamu yang punya semangat
juang luar biasa, rasanya malu kalau aku musti mengeluh.”
“ Haha, Kak Hamzah bisa saja. Key
memang hanya punya semangat untuk bekerja keras.” Sambil mengepalkan tangan. “ Kak Hamzah belum ingin menikah apa ya?” Key tertawa, sambil merapikan
barang-barang di etalase. Tahu kalau pertanyaannya menohok.
Hamzah mengibaskan rambutnya,
wajahnya jadi tampak lesu. “ Pertanyaanmu membuat hatiku sedih Key. Hik, hik.”
Key berjalan mendekati Hamzah, lalu menepuk-nepuk bahunya.
“ Yang sabar ya Kak.”
“ Jodohkan rahasia Tuhan. Lagian orang tua sekarang, tahu sendiri, mereka ingin pria mapan dan berpenghasilan tetap untuk bisa meminang anak mereka. Apalah daya diriku ini, hanya desain grafis
rumahan, dan penjaga minimarket.” Hamzah menyelesaikan hitungannya. “Taruh uang
dulu ya.” Key menganguk dan meneruskan pekerjaannya.
Key menghela nafas. Kelak tidak
akan ada yang menanyakan pada laki-laki yang akan menikahinya. Tentang bekerja
di mana, siapa orang tuamu, dan lain-lain yang kadang membuat laki-laki mundur
untuk berani meminang wanita. Ayah, ibu, Key akan jadi wanita yang kuat. Jangan
kuatir di sana, Key akan menjaga Basma dan mengantarkannya menuju kesuksesan.
“ Aku pulang dulu ya Key, mau mandi.”
“ Ia Kak.”
“ Nanti sms aja ya kalau barang
datang, kalau aku sudah selesai kuliahnya kan bisa bantu-bantu.”
“ Ia Kak, makasih.”
Hamzah meninggalkan minimarket.
Pelanggan masuk, silih berganti. Key sibuk dengan pikirannya sendiri. Tentang
angan-angan kuliah yang kembali melintas. Ia menghitung belanjaan sambil
mencoba merangkai impian tentang kehidupannya. Tapi tetap saja, ia hanya
menemukan wajah Basma di sana. Laki-laki tampan dengan seragam SMU,
seseorang yang harus ia biayai dan sekolahkan sampai universitas. Sehingga
tidak ada lagi ruang bagi dirinya sendiri.
“ Ngelamunin apa si?”
Key terperanjak, tiba-tiba Anjas sudah ada di depan meja kasir.
Menelungkupkan tangan ke dagu, sambil memandang Key dengan sorot mata tajam.
“ Kak Anjas. Bikin kaget saja.” Dia
langsung bangun dari duduk.
“ Lagi mikirin apa si, sampai tidak sadar aku datang.” Goda laki-laki itu lagi.
“ Gak mikirin apa-apa Kak, lagi ngelamun aja. Selamat datang!” beberapa
pelanggan masuk. Sudah hampir jam delapan. Gelap sudah menyelimuti bumi. “ Bagaimana Kak, bisa dibantu.”
“ Nah jadi lupakan, habis lihat
wajah Key yang manis itu jadi langsung buyar isi kepala.” Wajah Key bersemu
merah malu. “ Kita ngobrol sambil kamu jaga kasir nggak apa-apakan?”
“ Nggak apa-apa Kak, silahkan
duduk.” Key mengeser kursinya. Anjas menolak, ia memilih tetap berdiri dan
menyuruh Key untuk duduk. Pelanggan membawa barang-barangnya, Key menghitung
lalu menyerahkan kantong belanjaan. Begitu seterusnya, sampai beberapa orang.
Sekarang sudah tidak ada hanya mereka berdua. “Maaf kak, dicuekin.”
“ Haha, tidak apa-apa key. Aku
jelaskan semuanya ya. Tamu undangan ada 150 orang, tapi setiap tamu undangan
bisa membawa satu orang. Jadi dihitung-hitung ada 300 orang. Karena itu aku
pesan semuanya 400 porsi. Biasanya Key buat satu porsi itu lima buah kan, nah
nanti dibuat saja perporsi itu 3 buah. Untuk penyajiannya, jangan mengunakan
mangkok plastik sama tusuk gigi, tapi pakai mangkuk kecil kaca sama garbu yang
kecil.”
Key mendengarkan. Mangkuk kecil
sama garbu, jadi butuh berapa mangkok sama garbunya, 400 pcs juga.
“ Key, melamun lagi.” Anjas
menjentikan jarinya di depan wajah Key.
“ Tidak kak, Key lagi hitung-hitungan.”
Anjas tertawa. “ Jadi bagaimana? Sudah terbayangkan?”
“ Ia kak, 400 porsi, isi 3 buah,
wadahnya mangkok kaca sama sendok garbu. Jadi somainya ada sekitar 1200 biji.”
“ Ia, jadi hitungannya tetap saya
hargai 20 ribu perporsi.”
“ Tapikan isinya cuma somai 3 kak, ya tidak bisa dihitung satu porsi yang biasanya.”
“ Termasuk mangkok sama garbunya.”
Key menimang dan mencoba
tidak di sebut serakah.
“ Lalu mangkok dan garbunya nanti
gimana kak?”
“ Bisa Key ambil kalau Key mau.”
“ Wahh, orang kaya memang berbeda ya.” Penuh kekaguman.
“ Haha, yang kaya bukan aku Key, tapi Adiguna Grup. Tapi bisik-bisik aja ya, sebenarnya hampir sekitar 50 % dana yang dipakai juga dari dana sponsor. Perusahaan brand fashion yang
banyak menyumbang dana.”
“ Wahh, benarkah. Key benar-benar
tidak percaya, ternyata cara hidup orang-orang kaya memang susah untuk masuk
ke akal Key. Mereka dengan gampangnya menyumbang uang, bahkan kepada perusahaan
besar seperti Adiguna Grup.” Berdecak kagum lagi.
“ Sama-sama saling menguntungkan
Key. Mereka mendapat promosi secara gratis, dan kami dapat uang. Baiklah mau
dpnya kapan? Sekarang.”
“ Bisa di transfer aja kak, nanti Key kirim SMS.
Pas Basma adik aku juga sudah libur sekolah, pas sekali waktunya.”
“ Basma, kamu punya adik.”
“ Ia, yang pernah jemput waktu itu, pertama
kali kak Anjas juga kemari pernah liatkan. Cowok ganteng dan tinggi itu lho.”
“ Ganteng? Gak lihat mukanya. Tapi
senang dengarnya ternyata kalau dia itu adikmu.” Pikirannya langsung tertuju
kepada Bian, dia pasti senang mendengarnya.
“ Kenapa si memangnya, kak Bian juga
kemarin sempat salah paham.”
“ Bian, kenapa dia.” Antusias.
Key tertegun sebentar, hubungannya
dengan Bian yang sudah jauh lebih baik sekarang, tidak perlu ia jelaskan kan. Sudah beberapa
kali makan malam bersama yang menyenangkan. Ah ia, tentu saja, tidak perlu,
nanti malah berujung salah paham batin Key.
“ Tidak apa-apa Kak.” Terdengar
klakson mobil dari luar, mobil pengangkut barang datang. “ Kak ada stok barang
datang, aku temui mereka dulu ya.”
Key mengambil catatan barang, lalu
keluar. Berbicara sebentar dengan sopir. Lalu kuli yang mulai menurunkan
barang-barang di depan pintu masuk. Key menghitung kardus-kardus dan
mencocokannya dengan data-data yang ada di tangannya. Hampir setengah jam.
Anjas masih menunggu di dalam toko, dia memperhatikan Key yang masih mencatat.
Lalu Key masuk ke dalam toko. “ Aku tinggal ya Kak, mau masukin barang ke gudang.”
“ Aku bantu ya.”
“ Tidak Kak, Key udah biasa kok.”
Berusaha menolak dengan serius.
“ Tidak apa-apa.”
Anjas mengambil troli dorong di
dalam gudang, lalu keluar masuk mengangkut kardus. Key hanya membantu menaikan
kardus-kardus ke atas troli. Tiga kardus terakhir akhirnya sudah berpindah ke
dalam gudang.
“ Ah, tega sekali pemilik toko ini,
memperkerjakan wanita untuk tugas seberat ini.” Anjas kelelahan, sambil duduk
meluruskan kaki di teras. Key masuk mengambil sebotol air, dan juga kotak
makannya. Sudah jam delapan lewat, dan
Bian belum menunjukan batang hidungnya, jadi dia menyimpulkan kalau laki-laki
itu tidak akan datang malam ini.
“ Silahkan Kak.” Key menyerahkan
botol minum, Anjas menerimanya. “ Mau makan Kak, tadi Key juga belum sempat
makan malam.”
Anjas memukul kepala Key. Gadis itu
mengaduh dan bingung. “ Kamu ini, bagaimana bisa jam segini baru makan. Key,
jaga kesehatanmu.”
“ Ia kak.” Seperti saat ia memarahi
Basma kalau anak itu telat makan.
“ Kadang-kadang banyak orang
menyepelekan pola makan, padahal banyak sekali penyakit yang bersumber awalnya
dari perut. Apalagi kamu bekerja keras dari pagi sampai malam. Kamu itu
membutuhkan asupan gizi jauh lebih banyak, ditambah lagi sedang masa
pertumbuhan.”
“ Ia Kak.” Key jadi merasa memiliki seorang kakak.
“ Makan yang banyak dan tidur yang cukup.”
“ Ia Kak.” Menganguk-anguk takjim.
“ Apa sih Key jawabnya, kayak lagi dimarahi ayahmu saja.”
Key tersenyum. Dia memasukan
makanan kemulutnya. Lalu memandang ke langit, ada beberapa bintang yang
terlihat. Namun tidak terlalu jelas, di kota besar, cahaya bintang tertutup oleh
gemerlap lampu-lampu. Tanpa mereka sadari, di sebrang jalan ada seorang pemuda yang lagi-lagi hanya bisa memandang dari kejauhan.
“ Kenapa kak Anjas ada disana
juga.” Ia mengomel sambil menendang udara dengan kesal. Dinginpun mulai menusuk
ke pori-pori.
Bersambung.....
Apa kalian punya mimpi yang ingin kalian capai?
Apa kalian sudah memulai untuk mewujudkannya?’