Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 4)



“ Sepertinya benar selebriti Bas.


Lihat mereka berbisik-bisik. ” Key menunjuk orang-orang yang saling berbisik di


deretan gerai makanan lain di dekat mereka. Lampu kamera juga mulai berkilat-kilat. Ada yang sangat


berbeda disini. Keadaan yang belum pernah dialami Key sebelumnya. Ia tak pernah


datang ke pesta, selain pergi kondangan acara pernikahan dulu. Saat ia masih


tinggal dipinggiran kota tempat Bibi Salsa. Sementara Key yang bersikap seperti


anak kecil yang kagum dengan kedatangan selebriti Basma memilih duduk bermain


ponselnya, setelah ia memeriksa dua kukusan somainya. Sudah panas, ia


mengecilkan apinya sedikit lagi.


“ Duduk Mba. Gak inget tadi pesan


panitia divisi humas, buat profesional.”


“ Aku kan gak teriak-teriak Bas.” Suara Key terdengar sedih.


“ Gak boleh norak juga kali.”


“ Ia, ia.” Key duduk di sebelah


Basma. Melirik ponsel yang dipegang adiknya. “ Foto yuk. Kenangan kalo kita


pernah jadi bagian pesta ulang taun ke 25 Grand Mall.”


Mereka berselfi beberapa kali.


Cekrak, cekrik sambil tersenyum. Key menempelkan pipinya ke pipi Basma tanpa


canggung. Membuat jantung Basma berdekat kencang. Dia tiba-tiba bangun berdiri.


“Kenapa?” Key bertanya heran.


“ Tidak, aku mau pergi ke kamar mandi.”


“ Baiklah, sudah tahu ada di mana kamar mandinya.” Mata Key berkeliling ruangan yang ramai. mencari petunjuk arah di mana letak kamar mandi.


“ Aku bisa tanya petugas.”


Basma berjalan sambil memegang


dadanya yang masih bergetar. Apa-apaan ini, dia memukul dadanya sendiri


beberapa kali. Mengutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa begitu mudah


terprovokasi akhir-akhir ini. Dia tidak seperti ini sebelumnya. Mengapa perasan


semacam ini lebih sering tampil ke permukaan sekarang.


“ Maaf Pak kamar mandi sebelah mana?”


Seorang petugas menunjuk sebuah pintu.” Belok saja dari sana”


“ Terimakasih pak.”


Basma berjalan menuju pintu. “ Belok, belok kemana, kanan atau kiri. Ahh” dia memilih belok ke kanan. Ada


petugas yang sedang berjaga. Mereka terlihat tidak suka ketika Basma berjalan


mendekat.


“ Ini area VVIP. Apa yang kamu lakukan di sini?” dia memeriksa pengenal milik Basma. “ Apa yang kamu lakukan


di sini.” petugas mengulang pertanyaanya.


“ Maaf pak, saya cuma mencari kamar mandi.”


“ Apa?” Tidak percaya dengan jawaban Basma.


“ Kamar mandi.” Jawab Basma lagi.


“ Jangan sembarangan, memang kamu


belum pernah ke sini sebelumnya. Staff makanan sudah bekerja sama dengan Adiguna


Grup bertahun-tahun. Tempat ini sudah seperti rumah saja bagi  mereka.”


“ Benar pak, ini pertama kalinya


saya kemari.” Basma kesal dibuatnya. Memang apa salahnya, dia hanya tersesat


mencari toilet. Memang tempat apa ini, apa ini ruangan VVIP milik ketua Adiguna


Grup sampai dia harus mengintrogasi segala.


“ Ada apa?” suara penuh wibawa


terdengar. Mereka menoleh. Wajah petugas dihadapan Basma terlihat pias. Dia


menunduk beberapa kali. Dua orang pria tua berdiri dihadapan mereka.


“ Maaf pak. Anak ini hanya tersesat.” Petugas memberikan info.


Basma maju beberapa langkah,


petugas itu terlihat panik, namun dia tidak perduli.


“ Maaf Paman, saya hanya mencari


kamar mandi. Saya tersesat tadi, mungkin tadi seharusnya saya belok ke kiri


Kedua wajah laki-laki tua itu


membeku. Mereka berdiri terdiam. Pak tua yang satunya jauh terlihat syok. “ Siapa namamu Nak?” tanyanya.


Basma menoleh pada petugas


di belakangnya yang semakin ketakutan, dia tidak menjawab pertanyaan Adiguna.


“Siapa mereka?” tanyanya berbisik memakai bahasa bibir. Petugas itu mengusap


wajahnya pelan. Seperti ingin mati saja dia. “Ketua Adiguna Grup.” Bisiknya tak


kalah pelan. Sekarang wajah Basma yang berubah pias.


“ Maaf Tuan saya sudah lancang.


Mohon maafkan saya. Saya permisi.” Basma membungkukan kepala beberapa kali.


Lalu tanpa menunggu reaksi lebih lanjut ia memilih kabur bergegas. Saat salah


satu laki-laki tua itu memangilnya, tidak tahu yang mana ia hanya menoleh dan


membungkukan kepala. Lalu lari meninggalkan lorong VVIP. Dia sampai juga di


belokan awal tadi, langsung ia masuk ke dalam kamar mandi. “ Aku pasti sudah


gila. Ketua Adiguna Grup, bagaimana bisa aku memanggilnya paman.”


***


Wajah kedua orang tua itu berubah,


jauh lebih cerah daripada sebelum mereka sampai di tempat ini. Ketua Adiguna


Grup yang terlihat jauh lebih sumringah, seperti sudah menemukan separuh dari


kehidupannya.


“ Kamu melihatnyakan, tidak mungkin


salah lagi?” Adiguna bicara dengan pelan. Meyakinkan dirinya lagi, bahwa


ketidakmungkinan bisa menjadi mungkin jika Tuhan sudah membuka jalannya.


“ Ia.” Tidak perlu dijelaskan


tentang apa. Laki-laki yang sudah mendapinginya sepanjang perjalanan hidupnya


itu adalah ayah Anjas. Haryo Purnama.


“ Pemuda itu memiliki semua garis


wajahnya, senyum dan cara bicaranya juga sama. Siapa dia.”


“ Staff makanan. Akan saya periksa


lagi nanti.” Haryo  sempat membaca tanda pengenal di leher Basma.


Betapa tidak terduganya dunia ini jika anak laki-laki itu adalah anak yang ia cari selama ini.


“ Tentang pertunangan, tetap akan


diumumkan hari ini.” Adiguna Bicara lagi.


“ Baik.”


“ Apa Bian bicara padamu?” suaranya terdengar getir.


Sekretarisnya berfikir, agak lama menjawab.


“ Ia. Dia hanya meminta Anda untuk


membatalkan itu, tidak perlu membuat pengumuman pertunangan segala, dia ingin


hanya fokus pada perayaan ulang tahun.” Mencoba memilih kalimat paling bijak.


“ Anak itu bahkan tidak minta bertemu denganku.”


“ Itu karena dia terlalu sibuk.”


Mencoba menghibur gurat kecewa di wajah Adiguna. Namun mereka juga tahu, bahwa


kebencianlah yang melandasi ikatan antara mereka berdua. Kebencian yang sudah


ditanamkan ibunya, untuk membenci apa pun yang dilakukan ayahnya.


“ Apa Yuna sudah ada di sini?”


“ Ia.”


“ Pastikan tentang pemuda tadi,


berikan aku informasi secepatnya.”


“ Baik.”


Hari ini bukan hanya ulang tahun


Grand Mall yang membuatnya senang, namun lebih dari itu. Mungkin saja ia masih


bisa mengumpulkan serpihan cinta yang sudah tercerai berai dimasa lalu.


Bersambung.....