Key And Bian

Key And Bian
Kebenaran Yang Harus dihadapi



Ruangan Presdir Adiguna Grup.


“ Bersabarlah ketua, biarkan


semuanya berjalan secara wajar. Jika kita terburu-buru akan menimbulkan banyak


kecurigaan.” Sekertarisnya mengingatkan. Namun wajah ketua Adiguna masih sangat


muram.


“ Dia ada di hadapanku, seharusnya


aku bisa memeluknya dan memohon pengampunan darinya. Tapi...” suaranya tertahan


dengan getir.


“ Bersabarlah. Dia belum menghubungi


frezee parfume, tertarikpun sepertinya tidak, tapi beberapa hari ini kita tidak


akan melakukan pendekatan lagi, biarkan semuanya mengalir sesuai rencana.”


Haryo mengatakan beberapa detail rencana.


“ Jangan sampai Bian mengetahuinya.


Kebencian anak itu  bisa saja membuatnya


melakukan hal yang diluar kendali.” Adiguna menatap lurus. Ada kerinduan di


dalam setiap ucapannya. “ jaga dan awasi dia.” Ucapannya sangat serius.


“ Jangan kuatirkan Bian, sekarang


dia sudah cukup dewasa untuk bertindak dan mengambil sikap.” Haryo sangat tahu,


bagaimana perkembangan sikap Bian akhir-akhir ini.


“ Tetap saja, aku sangat kuatir,


kebencian itu mendarah daging ditubuhnya. Haha. Kalau saja ia tahu, kejahatan


ibunya tentu dia tidak akan bersikap seperti itu.” Wajah adiguna begitu sedih.


Memikirkan bagaimana wanita yang di cintainya menghembuskan nafasnya, bahkan


setelah 16 tahun, ia baru tahu, bahwa wanita yang ia cintai sudah meninggalkan


dunia. Meninggalkan putra untuknya.


“ Kenapa anda tidak mencoba untuk


menceritakannya sekarang, Bian sudah sangat dewasa untuk bisa memahami ke adaan


yang sebenarnya.”


“ Tidak, menurutmu akan sesakit apa


hatinya, jika tahu, bahwa ibunya, wanita yang ia puja selama ini adalah siluman


kejam berdarah dingin yang bisa melakukan apapun untuk memenuhi ambisinya.”


Selalu seperti itu, darahnya naik jika ia menyingung nama Yuna Sailendra.


“ Tuan.”


“ Terimakasih untuk terus bersamaku


dan memahamiku.”


Seperti itulah jiwanya yang lemah,


laki-laki yang telah kehilangan separuh alasanya untuk hidup. Ia melampiaskan


semua waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja. Bersandiwara dari hari ke hari.


Menunjukan pada semua orang bahwa jika kau memiliki uang kau bisa tersenyum dan


tertawa sepuasnya. Walaupun ada banyak lubang di hatinya yang tidak bisa di


beli oleh sebanyak apapun uang yang di milikinya.



Sementara itu di ruangan CEO Grand Mall.


Bian sudah selesai dengan semua


laporan yang ia periksa. Peletakan batu pertama pembangunan Grand Mall 2 akan


berlangsung bulan ini. Setelah itu dia akan mengumumkan putusnya pertunangannya


dengan anak gadis perusahaan Morela. Beberapa rencana sudah dia buat, baik bagi


perusahaan ataupun pada perkembangan hubungannya dengan Key.


Anjas muncul dari pintu yang


terbuka. Wajahnya terlihat muram. Keadaan di sekitar Anjas memang terlihat berat


akhir-akhir ini. Dia sepertinya sangat kelelahan. Anjas menyeret kakinya


mendekati Bian.


“ Kenapa dengan wajahmu kak?”


“ Kenapa? Kamu masih berani


bertanya kenapa setelah membuat kekacauan sebesar ini. Dasar CEO sialan!” Anjas


berteriak sambil menunjuk wajah Bian.


“ Berani sekali kau memaki


atasanmu.” Tetapi Bian menyeringai senang mengatakannya.


“ Kenapa? Kau mau memecatku, pecat


saja aku dan bebaskan aku dari penderitaan ini.”


“ Jangan mimpi kak”


Haha, Anjas tertawa lemas di kursi.


Ia menatap langit yang terlihat dari dinding kaca. Masalahnya dengan Amanda


belum selesai juga, lagi pula kenapa sekarang Amanda harus jadi masalahnya sih.


Geram dia memaki Bian dalam hati. Gadis itu masih saja minta dihibur olehnya,


masih merengek agar dia membocorkan siapa wanita yang disukai oleh Bian. Belum


lagi nyonya Yuna, ah, sejujurnya Anjas paling malas berurusan dengan wanita


itu. Ini dia belum dipanggil ketua Adiguna.


“ Apa ibuku sudah tahu?”


“ Bukankah lebih aneh kalau dia


tidak tahu apa yang kamu lakukan. Aku yakin Amanda selain merengek padaku dia


juga akan memakai ibunmu sebagai senjata terakhirnya.”


dengan Amanda kak.” Menyela dengan nada mengejek.


“ Haha, siapa yang membuatnya jadi


begini sialan.” Rasanya aku memang harus memaki Bian supaya otak dan sarafku


kendur. Dan kurang ajarnya bocah itu malah tertawa.


“ Aku akan memberi tahu ibu.”


“ Bi, apa Key sudah siap dengan semua ini?”


Wajah Bian berubah. Dia meletakan


pena yang dipegangnya, menyingkirkan kertas yang ada dihadapannya. Kepalanya


bersandar dikursi. Terdengar dia menarik nafas dalam.


“ Kau tahukan, kedepannya semuanya


tidak akan mudah, terutama buat Key. Ada banyak batu yang harus kalian hadapi.”


Anjas menanyakan sesuatu yang coba untuk tidak dipikirkan Bian.


“ Kami akan bertahan, aku tidak


akan melepaskannya.” Suara Bian terdengar meyakinkan. Karena ia tidak hanya sekedar


meyakinkan anjas, tapi dia sedang meyakinkan dirinya sendiri.


“ Kau yakin sekali, sepertinya


gadis penjual somai dan penjaga mini market itu sudah benar-benar membuatmu


tergila-gila.”


Ia tahu kedepannya yang harus


dihadapi Key bukan hanya Amanda, Yuna Sailendra, Ketua Adiguna tapi lebih kompleks


dari itu. Cibiran masyarakat juga pasti akan ada. Apakah gadis imut itu bisa


kuat menghadapi itu semua.


“ Aku akan melindunginya.”


Sepertinya Bian bisa menduga apa yang dikuatirkan Anjas dalam pikirannya. Ya,


dia akan melindungi Key dengan tubuhnya. Dia tidak akan melepaskan gadis itu.


Tidak perduli seberat apa batu yang menghadang hubungan mereka.


“ Lihat dia menelfon lagi.” Anjas menunjukan layar hpnya. Amanda memanggil.


“ Kenapa kalian tidak pacaran saja kak, kalian terlihat sangat akrab.”


“ Apa aku boleh memukulmu bi?”


“ Haha.” Bian tertawa senang lalu kembali memeriksa laporan dimejanya.


Sementara Anjas membiarkan tiga


kali panggilan tak terjawab, setelah panggilan keempat kembali berdering


akhirnya dia angkat juga.


“ Hallo kak Anjas sedang dimana?”


“ Bekerja, memang aku mau ada dimana lagi.”


“ Kak Anjas sudah makan belum, jangan lupa makan ya.”


Eh, kenapa dengan bocah ini. Tumben


tidak menanyakan tentang Bian. “ Manda, kamu baik-baik sajakan?” dia malah


merasa kuatir. Yang ditanya menjawab dengan gelak tawa.


“ Ia, aku baik-baik saja. Aku baru


saja bertemu dengan tante Yuna, dia berjanji akan membantuku dengan urusan kak


Bian. Aku percaya pada tante akan menyelesaikannya.” Ya tuhan, apa ini akan


menjadi malasah baru lagi. Anjas berguman dengan pikirannya sendiri. “Aku


menelfon agar kak Anjas tidak kuatir lagi.”


Siapa yang kuatir padamu, aku


kuatir hanya karena kamu tunangan Bian tidak lebih dari itu. Tidak perlu juga


menelfonku untuk mengatakan kau bahagia juga.


“ Kak Anjas jangan lupa istirahat


dan makan makanan yang enak ya, manda mau kerja lagi sekarang, sampai jumpa ya


kak.” Menutup telfon.


Kenapa semua orang seenaknya begini


padaku. Gerrrrrr. Menatap Bian dikursinya, yang tidak tertarik sama sekali


walaupun dia sudah bicara agak keras menyebut Amanda tadi. Anjas bangun dari


kursinya. Mendekati Bian, ia mengambil laporan yang sudah diperiksa diatas


meja.


“ Bersiaplah.”


“ Apa?”


“ Batu besar akan mengelinding,


menghantam hubungan percintaanmu yang sedang mengelora itu.” Anjas tertawa


sinis. Bian malah tergelak. “ Nyonya Yuna bisa datang kapanpun tanpa


pemberitahuan, jadi bersiap-siaplah. Aku mau bekerja.”


“ Kak.”


“ Aku mau bekerja mengurus


perusahaan, bukan percintaanmu CEO sialan. Urus urusanmu sendiri.” Masih sempat


dia tertawa sebelum keluar dari pintu.


Bian tengelam dalam pikiranya, ya,


dia memang harus sudah bersiap dengan semua resiko ini. Saat tangannya


mengengam erat tangan Key. Saat ia meminta Key untuk tidak melepaskanya dan


percaya padanya. Ia memang harus siap menghadapi semuanya.


BERSAMBUNG