Key And Bian

Key And Bian
Hubungan Membaik



Seminggu berlalu.


Basma merapikan tempat tidurnya,


pagi ini hari terakhir ke sekolah. Besok adalah hari pembagian rapor. Ia sudah


mandi dan memakai seragam, keluar  menuju


dapur. “Mba key!” panggilnya. Tidak ada sahutan, dari kamar mandi juga tidak


ada suara. Dia mencari-cari “ Mba!”


“ Apa sih teriak-teriak.” Key lagi


selonjoran duduk di lantai dapur di depan kulkas, sambil mengaduk-aduk mi goreng


yang masih mengepulkan asap. Ditangannya kalkulator, buku catatan dan pulpen.


“ Mba ini kenapa duduk di situ?”


Basma mengambil mangkok mi, merebut


buku dan kalkulator lalu meletakannya di meja makan. Key hanya mengekor


di belakangnya. Mulutnya masih komat kamit menghitung. “ Kenapa mba?” tanya


Basma setelah Key duduk di kursi.


“ Mba belum cerita ya. Kita dapat orderan 400 porsi.”


“ Apa?” Kaget setengah mati.


“ Masih seminggu lagi kok. 400 porsi, tapi setiap porsinya isinya cuma tiga. Tapi mintanya dihidangkan dengan


mangkok kaca sama sendok garbu, jadi dihitungnya tetap 20 ribuan, nanti kita dapat


untung juga dari mangkok sama garbunya.”


Basma hanya mengganggukan kepala saja.


 “ Perusahaan Adiguna Grup.” Siapa yang tidak tahu perusahaan ini.


“ Apa?” Beneran kaget. Mulut Basma penuh berisi mi. berdecak tidak percaya.


“ Haha, Mba yakin kamu juga tidak


percayakan. Mba juga tidak percaya tadinya, tapi Mba bahkan berteman sama


sekretaris CEO Grand Mall.” Key tertawa-tawa penuh kebanggaan. Ia


mencoret-coret kertas.


“ Jadi laki-laki yang mengantarmu


pulang selama dua hari ini sekretaris CEO.”


“ Ah, bukan, bukan dia. Dia itu


cuma langganan di minimarket saja, memang sih dia berteman juga sama Kak Anjas


tapi Mba tidak tahu dia kerja di mana.”


“ Jadi Kak Anjas itu siapa?”


“ Ya dia itu yang sekretarisnya


CEO, bukan yang mengantar Mba, yang mengantar Mba itu namanya Bian.”


Basma hanya bergumam, tapi gumaman


tidak suka. Dengan alasan yang ia sendiri yang tahu. Diperhatikannya kakak


perempuan di depannya. Dia tenggelam dengan dunianya sendiri sekarang. Lihat dia


bahkan tersenyum hanya karena sarapan mi instan.


 


Kejadian semalam kembali mampir


diingatan, dan ntah kenapa ketika teringat kembali itu jauh lebih menyenangkan.


Ada manis-manisnya seperti bunyi iklan. Haha. Rasa mi instan yang Key makan


juga terasa jauh lebih spesial dari biasanya.


“ Selamat datang.” Key langsung


tersenyum, senyum  senang dari biasanya.


Bukan hanya sekedar senyum yang selalu ia berikan kepada para pelanggan yang


datang dan membeli jualannya.


“ Apa kabar Key?”  Bian sudah menyapanya dengan ramah. “ Hari


ini, aku makan malam apa?” dia malah yang bertanya duluan. Percaya diri kalau


Key akan membawakannya bekal makan malam.


Key menggelengkan kepala. “Tidak


bawa bekal.” Wajah Bian langsung cemberut kecewa.


“ Haha, kak Bian lucu mukanya.” Key


mengeluarkan kotak makannya. Sekarang dia membawa dua kotak makan. “ Ayo, duduk


di sana Kak.” Masih cemberut saja, Bian mengikuti Key. Key membuka kotak makan,


menyerahkan sendok. “Selamat makan.”


“ Selamat makan,” Bian menjawab.


Kemudia malu-malu memalingkan wajah, dan sama-sama mengunyah makanan. “ Kak


Bian kerja di mana?”


“ Kenapa? “


“ Ah, ia maaf Kakak tidak suka


membicarakan pekerjaan kan. Kalau begitu ceritakan sesuatu tentang Kak Bian.”


Sambil terus mengunyah. “ Tentang apa saja, biasanya aku kan yang bercerita,


sekarang giliran kakak.” Key minum seteguk air. Mengusir canggung. Biasanya ia


akan bercerita tentang somai, menu-menu somai, tentang adiknya yang tampan . Tentang


Central Park yang indah dan nyaman, baik siang atau malam hari. Sekarang ia


menunggu dengan ekspresi antusias, menunggu cerita dari Bian.


“ Tidak ada yang menarik dalam


hidupku. Pekerjaanku hanya bertemu dengan orang, meyakinkan mereka, bersikap


manis itu saja.”


“ Semacam humas ya kak?.”


“ Hemm, Bisa dibilang begitu.”


Menjawab sekenanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.


“ Key juga bertemu dengan banyak


orang setiap harinya, seratus, dua ratus orang lebihlah. Ada yang Key kenal


namanya, ada yang hanya hafal wajahnya ada yang selintas lalu saja. Pelanggan


somai dan mimarket ini. Haha.” Tawanya yang ringan, memecahkan penat bagi Bian.


“ Kalau aku, masuk pelanggan yang mana?”


Key mengajungkan jempolnya. “Teman.


Kak Bian adalah teman.”


“ Ia teman.” Getir Bian mengulang kalimat itu.


Karena  Basma tidak bisa menjemput, akhir-akhir ini


dia sibuk, maka Bian memiliki alasan untuk mengantar Key pulang. Berulang kali


Key menolak namun Bian memaksa. Dan Key tidak bisa menolak, kalau wajah yang


sudah mulai bersahabat itu berangsur menjadi masam karena dia tolak.


Akhirnya sampai juga mereka di


depan gang masuk. “ Sudah Kak, sampai sini saja. Rumah Key masuk gang ini,


lurus trus belok kanan, tidak jauh kok.”


Di mulut gang itulah ketiga anak


manusia itu dipertemukan. Basma turun dari angkot, tepat setelah Key dan Bian


sampai. Dia memandang Bian dari ujung kepala sampai kaki, begitu pula


sebaliknya. Berusaha saling mengintimidasi.


“ Mba, pulang sama siapa?” ada nada tidak suka dalam suaranya.


“ Kak Bian ini kenalkan Basma.” Key meraih tangan adiknya mendekat.


“ Kalau begitu aku pergi dulu Key. Adikmu juga sudah pulang kan.” Langsung pergi begitu saja. Bahkan tanpa menoleh pada Basma. Dulu dia pun mendapat perlakukan semacam ini oleh Bian. Jadi Key


mencoba menghibur diri, mungkin memang seperti itulah sifat Bian kepada orang


yang belum dikenalnya.


Basma memukul meja, membuat Key


terperanjak. Tersadar dari lamunan yang panjang. “ Melamun lagi, akhir-akhir


ini Mba sering sekali melamun. Memikirkan apa?” wajah Key tiba-tiba berubah


warna. Ia buru-buru menghabiskan mi gorengnya. Tidak menjawab. Sementara Basma


sudah habis dari tadi. “ Aku berangkat ya mba. Jangan banyak melamun.”


“ Hemm.” Mulutnya penuh dengan mi.


Basma sudah menhilang bersamaan dengan pintu ditutup. “Kenapa denganku ini,


akhir-akhir ini kenapa wajah kak Bian sering muncul dalam lamunan. Senyumnya


yang makin hari makin terlihat tulus, gurat kesepian dan kesendirian juga


semakin memudar. Ah, bodoh, bodoh, jelas-jelas kami hanya berteman.” Nyam, nyam


ia terus mengunyah dan menghabiskan mi. Teman, teman dan teman. Dia bahkan


tidak tahu siapa Bian, kecuali sebagai pengunjung tetap minimarket.


Bersambung...................


Kadang dengan memikirkan seseorang bukannya jadi obat rindu, tapi malah jadi lebih merindu @LaSheira


up spesial 2 episode