
Amanda sudah memilih stelan pakaian
terbaiknya. Dia datang sepuluh menit lebih awal. Memeriksa kembali riasan di
wajahnya. Dia terlihat cantik seperti biasanya. Pakaiannya sangat pantas. Model
terbaru yang di keluarkan Morela bulan ini. Penampilannya sudah sangat
sempurna. Namun hari ini tidak seperti biasanya, ia yang percaya diri dengan
penampilannya tampak agak bimbang. Ia takut, Bian tidak akan menyukai
penampilannya. Beberapa kali ia memeriksa dandanannya. Seorang pelayan
meletakan gelas berisi air putih di hadapan amanda.
“ Nanti ya mba, saya sedang
menunggu seseorang.” Pelayan itu menunduk hormat lalu pergi berlalu.
Amanda mengambil ponselnya dari dalam
tas. Tidak ada telfon ataupun pesan dari Bian. Ah, tentu saja ini salahnya
sendiri, kenapa datang lebih awal. Sambil menunggu ia bermain dengan ponselnya.
Dia membuka akun sosial media miliknya. Iseng mencari-cari nama key. Diapun
menemukannya, akun ini baru saja di buat. Postingannya juga belum banyak. Ada
beberapa foto Key dan adiknya. Juga foto key dengan artis Aryamanda. Ada yang beberapa orang
berkomentar di postingan itu. Tapi tidak ada yang komentarnya di balas oleh
key. “ Follow dulu aja deh.” Amanda memencet tombol-tombol. Lalu ia meneruskan
penasarannya pada akun milik adik key.
Basma, sudah banyak postingannya. “
Wahh, ternyata dia model juga.” Semakin penasaran Amanda dengan pria muda dan
tampan itu. Ia memeriksa seluruh akun milik Basma. Foto-foto sampai postingan
yang sudah lama. “ dia tampan juga ya,” sampai akhirnya Amanda menemukan akun
sebuah butik online. “ ah ini toko olinenya. Ahhh, lucu bajunya. Yang dipakai
Basma juga lucu, ah lebih tepatnya Basma yang terlihat lucu.” Amanda cekikikan
sendiri. Apalagi saat membaca komen-komen difoto yang ditujukan untuk modelnya,
bukan untuk pakaiannya. Cs online shop ini pasti kesal.
“ Kau terlihat terhibur sekali.”
Amanda mendongakan kepala dari
layar ponselnya. Terkejut. Sejak kapan Bian sudah duduk di hadapannya.
“ Bahkan aku datang, kau tidak
menyadarinya.”
“ Maafkan aku kak, kak Bian sudah
lama?” Amanda langsung memasukan ponselnya ke dalam tas. “ Aku pesankan makanan
ya kak.” Amanda memanggil seorang pelayan. Pelayan itu menyerahkan menu
kepadanya dan juga Bian. Sambil membalik-balik menu dia bertanya. “ kak Bian
mau makan apa?”
“ Sama seperti yang kau pesan.”
“ Oh, baiklah.”
Amanda menyebutkan menu makanan dan
minuman yang ia pesan. Setelah menganguk hormat, pelayan itu meninggalkan
mereka berdua. Canggung yang terasa. Amanda meneguk minumannya beberapa kali.
Sementara Bian masih diam saja.
“ Hari ini aku tidak menggangu
pekerjaan kak Biankan? Papa bilang Grand Mall sedang sibuk dengan proyek baru.”
“ Ada yang ingin aku bicarakan
denganmu.” Bian memotong cerita Amanda. Nada suaranya terdengar berbeda dari
biasanya. Terasa dingin. Amanda merasakan hawa dingin itu langsung menusuk ke
hatinya. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Tentu saja, kenapa dia tidak
curiga. Rasa senangnya saat Bian tiba-tiba menelfon dan mengajak makan siang,
seharusnya membuatnya curiga. Karena ini sungguh diluar kebiasaaan. Tiba-tiba
senyum di bibirnya lenyap sudah. Menyadari bahwa sepertinya apa yang akan dibicarakaan
Bian bukanlah hal yang ingin ia dengar.
“ Ada apa kak?” Ragu-ragu, bahkan
suara Amanda sedikit bergetar.
“ Kita akhiri saja semuanya di
sini?” kata Bian datar. Langsung pada sasaran tanpa pembuka ataupun pengantar
kata.
“ Apanya kak?” polos Amanda
“ Semua sandiwara ini.” Masih tanpa ekspresi.
“ Sandiwara? Manda benar-benar
tidak mengerti apa yang kak Bian maksud. Sandiwara apanya?”
“ Ayolah. Aku yakin, kalau kau
tahu, selama ini aku hanya bersikap baik padamu karena pura-pura, bukan karena
aku menyukaimu.” Kata-kata ini sudah seperti anak panah yang menghujam ke
jantungnya.
Amanda terdiam. Tangannya mengengam
gemetar. Ya ia tahu, ia sangat tahu, bahwa selama ini kebaikan yang di berikan
Bian padanya tidaklah tulus. Telfon darinya, pesan darinya sekalipun tidak
terbalas. Ia yakin, bukan karena Bian tidak punya waktu. Tapi karena Bian
memang tidak menyukainya. Namun pura-pura bodoh dan menerima semua alasannya,
selama ini cukup bagi Amanda. Ia memang menyukai pria yang ada di hadapannya
ini. Hingga membohongi dirinya adalah obat yang bisa membuatnya tersenyum.
“ Kau gadis yang baik dan juga sangat cantik, aku yakin, kau akan menemukan pria baik di luar sana yang bisa
mencintaimu dengan tulus dan membuatmu bahagia.”
“ Aku akan pura-pura tidak mendengar semua ini kak. Aku akan pura-pura tidak tahu, bahwa selama ini sikap
yang kau tunjukan padaku adalah palsu. Aku sudah bahagia, walaupun kau hanya
bersandiwara baik padaku.”
“ Hentikan, pada akhirnya hanya kaulah yang akan terluka.”
Pembicaraan mereka terhenti, saat
seorang pelayan datang dan menghidangkan makanan diatas meja. Selera makan
mereka sudah hilang. Daging lembut yang mengoda di piring itu sama sekali tidak
menarik untuk di makan. Amanda masih tertunduk. Perasaannya campur aduk.
“ Aku menyukaimu kak.”
“ Aku jatuh cinta pada wanita lain.” Balas Bian cepat.
“ Haha, wanita lain. Apa kak Bian sedang berusaha membuat alasan. Semua orang tahu, siapa tunangan kak Bian. Aku, apa ada wanita di negara ini yang tidak tahu itu.” Apa aku berhasil mengertak,
Amanda masih meremas kedua tangannya. “ Kecuali dia wanita murahan.”
“ Jaga bicaramu.” Bian mulai
terpancing emosinya. Dia sudah kehilangan senyum sama sekali. “ Aku yang
menyukainya, aku yang memintanya untuk tetap berada di sampingku. “ tatapan
tajamnya membuat Amanda menunduk. “ jangan membuatku salah menilaimu.”
Amanda mendongak, dia tersenyum
sinis. “ Hah, apa aku juga tidak boleh berubah sikap, setelah semua hal yang
aku lakukan menunggu kak Bian. Dengan kejamnya hari ini, kau mengatakan kalau
kau menyukai seseorang dan memintaku untuk menyerah. Apa aku tidak boleh
marah!” Amanda berteriak. Untung saja restoran ini adalah restoran privat.
Setiap meja berada di ruangan yang terpisah dengan tamu yang lain. Jadi tidak
ada yang terkejut dengan suara Amanda yang meninggi.
“ Maafkan aku, aku yang bersalah.”
Bian akhirnya minta maaf. Namun amanda sudah tidak bisa menguasai dirinya.
“ Aku akan mengatakannya pada ayah.” Amanda berusaha mengancam.
Ah, bian merasa jengkel. Dia
menyentuh lehernya menahan geram. “ Kau pasti tahu siapa yang akan jauh lebih
banyak di rugikan di sini. biarkan pertunangan kita sampai bulan depan, aku sendiri yang akan secara resmi memutuskan pertunangan. Jadi jangan kuatir, nama baikmu tidak akan tercemar,”
Amanda membeku. Gertakannya sama
sekali tidak mempan. Iapun tahu, ayahnyalah yang paling di untungkan dari
pertunangan ini. Statusnya juga naik, popularitasnya juga.
“ kak...” ia melemah.
“ Temuilah laki-laki lain. Aku
yakin di luar sana ada laki-laki baik yang bisa mencintaimu dengan benar, kamu
sangat baik dan juga cantik Amanda.” Terdengar tulus. “ Tetaplah tersenyum dan
menyapaku saat kita bertemu, tapi jangan pernah menelfonku lagi. Makanlah, aku
sudah selesai.” Bian bangun dari duduk tanpa menyentuh makanan ataupun
minumannya. Dia membayar tagihan lalu pergi meninggalkan restoran mewah itu
tanpa berpaling.
BERSAMBUNG.........................