Key And Bian

Key And Bian
Amanda (Part 1)



Amanda sudah memilih stelan pakaian


terbaiknya. Dia datang sepuluh menit lebih awal. Memeriksa kembali riasan di


wajahnya. Dia terlihat cantik seperti biasanya. Pakaiannya sangat pantas. Model


terbaru yang di keluarkan Morela bulan ini. Penampilannya sudah sangat


sempurna. Namun hari ini tidak seperti biasanya, ia yang percaya diri dengan


penampilannya tampak agak bimbang. Ia takut, Bian tidak akan menyukai


penampilannya. Beberapa kali ia memeriksa dandanannya. Seorang pelayan


meletakan gelas berisi air putih di hadapan amanda.


“ Nanti ya mba, saya sedang


menunggu seseorang.” Pelayan itu menunduk hormat lalu pergi berlalu.


Amanda  mengambil ponselnya dari dalam


tas. Tidak ada telfon ataupun pesan dari Bian. Ah, tentu saja ini salahnya


sendiri, kenapa datang lebih awal. Sambil menunggu ia bermain dengan ponselnya.


Dia membuka akun sosial media miliknya. Iseng mencari-cari nama key. Diapun


menemukannya, akun ini baru saja di buat. Postingannya juga belum banyak. Ada


beberapa foto Key dan adiknya. Juga foto key dengan artis  Aryamanda. Ada yang beberapa orang


berkomentar di postingan itu. Tapi tidak ada yang komentarnya di balas oleh


key. “ Follow dulu aja deh.” Amanda memencet tombol-tombol. Lalu ia meneruskan


penasarannya pada akun milik adik key.


Basma, sudah banyak postingannya. “


Wahh, ternyata dia model juga.” Semakin penasaran Amanda dengan pria muda dan


tampan itu. Ia memeriksa seluruh akun milik Basma. Foto-foto sampai postingan


yang sudah lama. “ dia tampan juga ya,” sampai akhirnya Amanda menemukan akun


sebuah butik online. “ ah ini toko olinenya. Ahhh, lucu bajunya. Yang dipakai


Basma juga lucu, ah lebih tepatnya Basma yang terlihat lucu.” Amanda cekikikan


sendiri. Apalagi saat membaca komen-komen difoto yang ditujukan untuk modelnya,


bukan untuk pakaiannya. Cs online shop ini pasti kesal.


“ Kau terlihat terhibur sekali.”


Amanda mendongakan kepala dari


layar ponselnya. Terkejut. Sejak kapan Bian sudah duduk di hadapannya.


“ Bahkan aku datang, kau tidak


menyadarinya.”


“ Maafkan aku kak, kak Bian sudah


lama?” Amanda langsung memasukan ponselnya ke dalam tas. “ Aku pesankan makanan


ya kak.” Amanda memanggil seorang pelayan. Pelayan itu menyerahkan menu


kepadanya dan juga Bian. Sambil membalik-balik menu dia bertanya. “ kak Bian


mau makan apa?”


“ Sama seperti yang kau pesan.”


“ Oh, baiklah.”


Amanda menyebutkan menu makanan dan


minuman yang ia pesan. Setelah menganguk hormat, pelayan itu meninggalkan


mereka berdua. Canggung yang terasa. Amanda meneguk minumannya beberapa kali.


Sementara Bian masih diam saja.


“ Hari ini aku tidak menggangu


pekerjaan kak Biankan? Papa bilang Grand Mall sedang sibuk dengan proyek baru.”


“ Ada yang ingin aku bicarakan


denganmu.” Bian memotong cerita Amanda. Nada suaranya terdengar berbeda dari


biasanya. Terasa dingin. Amanda merasakan hawa dingin itu langsung menusuk ke


hatinya. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Tentu saja, kenapa dia tidak


curiga. Rasa senangnya saat Bian tiba-tiba menelfon dan mengajak makan siang,


seharusnya membuatnya curiga. Karena ini sungguh diluar kebiasaaan. Tiba-tiba


senyum di bibirnya lenyap sudah. Menyadari bahwa sepertinya apa yang akan dibicarakaan


Bian bukanlah hal yang ingin ia dengar.


“ Ada apa kak?” Ragu-ragu, bahkan


suara Amanda sedikit bergetar.


“ Kita akhiri saja semuanya di


sini?” kata Bian datar. Langsung pada sasaran tanpa pembuka ataupun pengantar


kata.


“ Apanya kak?” polos Amanda


“ Semua sandiwara ini.” Masih tanpa ekspresi.


“ Sandiwara? Manda benar-benar


tidak mengerti apa yang kak Bian maksud. Sandiwara apanya?”


“ Ayolah. Aku yakin, kalau kau


tahu, selama ini aku hanya bersikap baik padamu karena pura-pura, bukan karena


aku menyukaimu.” Kata-kata ini sudah seperti anak panah yang menghujam ke


jantungnya.


Amanda terdiam. Tangannya mengengam


gemetar. Ya ia tahu, ia sangat tahu, bahwa selama ini kebaikan yang di berikan


Bian padanya tidaklah tulus. Telfon darinya, pesan darinya sekalipun tidak


terbalas. Ia yakin, bukan karena Bian tidak punya waktu. Tapi karena Bian


memang tidak menyukainya. Namun pura-pura bodoh dan menerima semua alasannya,


selama ini cukup bagi Amanda. Ia memang menyukai pria yang ada di hadapannya


ini. Hingga membohongi dirinya adalah obat yang bisa membuatnya tersenyum.


“ Kau gadis yang baik dan juga sangat cantik, aku yakin, kau akan menemukan pria baik di luar sana yang bisa


mencintaimu dengan tulus dan membuatmu bahagia.”


“ Aku akan pura-pura tidak mendengar semua ini kak. Aku akan pura-pura tidak tahu, bahwa selama ini sikap


yang kau tunjukan padaku adalah palsu. Aku sudah bahagia, walaupun kau hanya


bersandiwara baik padaku.”


“ Hentikan, pada akhirnya hanya kaulah yang akan terluka.”


Pembicaraan mereka terhenti, saat


seorang pelayan datang dan menghidangkan makanan diatas meja. Selera makan


mereka sudah hilang. Daging lembut yang mengoda di piring itu sama sekali tidak


menarik untuk di makan. Amanda masih tertunduk. Perasaannya campur aduk.


“ Aku menyukaimu kak.”


“ Aku jatuh cinta pada wanita lain.” Balas Bian cepat.


“ Haha, wanita lain. Apa kak Bian sedang berusaha membuat alasan. Semua orang tahu, siapa tunangan kak Bian. Aku, apa ada wanita di negara ini yang tidak tahu itu.” Apa aku berhasil mengertak,


Amanda masih meremas kedua tangannya. “ Kecuali dia wanita murahan.”


“ Jaga bicaramu.” Bian mulai


terpancing emosinya. Dia sudah kehilangan senyum sama sekali. “ Aku yang


menyukainya, aku yang memintanya untuk tetap berada di sampingku. “ tatapan


tajamnya membuat Amanda menunduk. “ jangan membuatku salah menilaimu.”


Amanda mendongak, dia tersenyum


sinis. “ Hah, apa aku juga tidak boleh berubah sikap, setelah semua hal yang


aku lakukan menunggu kak Bian. Dengan kejamnya hari ini, kau mengatakan kalau


kau menyukai seseorang dan memintaku untuk menyerah. Apa aku tidak boleh


marah!” Amanda berteriak. Untung saja restoran ini adalah restoran privat.


Setiap meja berada di ruangan yang terpisah dengan tamu yang lain. Jadi tidak


ada yang terkejut dengan suara Amanda yang meninggi.


“ Maafkan aku, aku yang bersalah.”


Bian akhirnya minta maaf. Namun amanda sudah tidak bisa menguasai dirinya.


“ Aku akan mengatakannya pada ayah.” Amanda berusaha mengancam.


Ah, bian merasa jengkel. Dia


menyentuh lehernya menahan geram. “ Kau pasti tahu siapa yang akan jauh lebih


banyak di rugikan di sini. biarkan pertunangan kita sampai  bulan  depan, aku sendiri yang akan secara resmi memutuskan pertunangan. Jadi jangan kuatir, nama baikmu tidak akan tercemar,”


Amanda membeku. Gertakannya sama


sekali tidak mempan. Iapun tahu, ayahnyalah yang paling di untungkan dari


pertunangan ini. Statusnya juga naik, popularitasnya juga.


“ kak...” ia melemah.


“ Temuilah laki-laki lain. Aku


yakin di luar sana ada laki-laki baik yang bisa mencintaimu dengan benar, kamu


sangat baik dan juga cantik Amanda.” Terdengar tulus. “ Tetaplah tersenyum dan


menyapaku saat kita bertemu, tapi jangan pernah menelfonku lagi. Makanlah, aku


sudah selesai.” Bian bangun dari duduk tanpa menyentuh makanan ataupun


minumannya. Dia membayar tagihan lalu pergi meninggalkan restoran mewah itu


tanpa berpaling.


BERSAMBUNG.........................