
Hari bahagia itu datang.
Seperti apa pesta pernikahan yang diimpikan Key, dia utarakan malu-malu
seminggu yang lalu di hadapan Bian dan calon ayah mertuanya. Konsep pesta
sederhana untuk ukuran Adiguna Group. Namun, inilah yang diimpikan Key dalam angannya
tentang pernikahan.
Bukan pesta mewah layaknya perayaan ulangtahun Grand Mall, satu-satunya
pesta mewah yang pernah didatangi Key , yang bisa iajadikan referensi. Dia memimpikan suasana pesta yang
hangat, penuh bunga dan tawa orang-orang yang berdoa dengan tulus untuk
kebahagiaannya. Tanpa media yang meliput.
Saat pembahasan pernikahan mereka, di hari Adiguna dan Yuna menyatakan
janji pernikahannya waktu itu.
Key tampak ragu, melihat Bian dan paman bergantian.
“ Maaf, bisakah paman tidak perlu mengundang media dan mempublikasikan
saya ke publik.” Ntahlah, dia hanya merasa dia bukan siapa-siapa untuk sampai
dibicarakan di publik. Dia bukan Amanda, dia hanya gadis penjual somai dan
penjaga minimarket malam.
“ Key, apa kau mencemaskan tentang berita yang dulu beredar, saat
pembatalan pertunanganku. Aku dan ayah menjaminnya tidak akan ada berita buruk
apa pun tentangmu.”Adiguna ikut meyakinkan apa yang dikatakan putranya, kalau
Key tidak perlu mencemaskan itu.
Pristiwa itu pun kembali tergambar jelas diingatan Key, mungkin itu pun
menjadi alasannya.
“ Bagaimana ya,” Memang itu yang ia cemaskan juga. “ Hanya saja, latar
belakang Key buka seperti Amanda.”
“ Memang kenapa dengan latar belakangmu Key." Marah dalam hitungan detik. Kau itu malaikat kami. Kau
yang sudah membuat keluarga menyedihkan ini menjadi keluarga seutuhnya. Kau memaafkan
ibuku, kau sudah membesarkan dan menjagaa adikku selama ini. Memang kenapa
dengan latar belakangmu.”
Bian menjadi gusar ketika Key lagi-lagi merasa rendah diri dan
membandingkannya dengan Amanda.
“ Bian tenangkan dirimu.” Adiguna menepuk bahu anaknya yang berapi-api.
“ Ayah juga berfikir begitu kan, Key adalah malaikat buat kita. Dia
sudah menyelamatkan hidup kita.” Merasa frustasi sendiri.
“ Ayah tahu, tenangkan dirimu dulu. Mbak Keysha saya tidak akan
membiarkan media meliput kalau Mbak Key merasa tidak nyaman. Tapi saya mohon
berhentilah untuk berfikir tentang latar belakang atau apa pun itu. Karena bagi
kami Mbak Keysha adalah malaikat yang sangat berharga untuk keluarga kami.”
Seperti itulah akhirnya Key bisa berdiri dengan rasa percaya diri.
***
Pesta yang dipenuhi aroma bunga.
Halaman rumah kediaman Adiguna Group disulap menjadi kebun berbunga.
Bunga-bunga percampuran biru muda dan putih menggantung di tiang-tiang kokoh di
setiap sudut tenda. Ada pagar-pagar putih berderet. Diantaranya dibuat taman-taman
aneka warna bunga. Tenda besar warna putih yang menjulurkan rumbai-rumbai meneduhkan. Semerbak wangi
bunga dari beberapa sudut semakin menyegarkan suasana. Pohon hijau besar yang
sengaja di buat semakin menambah kesan asri dan segar. Walaupun sekarang mereka sedang ada di halaman rumah, namun terasa seperti ada di taman bunga yang sebenarnya.
Meja bundar dengan empat buah kursi tertutup dengan kain-kain putih di sampingnya,
tempat para tamu duduk. Sudah mulai ditempati para undangan berdasarkan undangan yang mereka terima. Tamu-tamu khusus yang bisa menyaksikan prosesi akad nikah.
Dua layar besar yang akan menampilkan prosesi akad di dalam rumah terbentang lebar, bisa dilihat dari berbagai sudut. Anak-anak tetamu berlarian ke sana kemari, sebuah sudut memang dibuat sebuah area bermain khusus anak-anak. Banyak mainan, dan alat permainan yang bisa dipakai menenangkan bocah-bocah yang tidak pernah kehabisan energi itu.
Para penjaga dan pelayan bersinergi mengatur semua dengan baik.
Selama satu minggu WO sudah bekerja keras menyiapkan semuanya dengan
sempurna. Tanpa media yang meliput seperti janji Adiguna. Berita pernikahan ahli waris Adiguna Group
sudah di realese ke publik, namun dengan
siapa sang ahli waris menikah menjadi rahasia diantara kalangan sendiri.
Adiguna Group bahkan tidak menyebutkan identitas atau berasal dari keluarga mana.
Dia bukan artis atau publik figure hanya dari kalangan keluarga pengusaha.
Begitu informasi yang tersebar. Tak hendak diluruskan atau diklarifikasi.
Itulah suasana ramai di halaman depan. Berjalan masuk di dalam rumah,
setiap sudut tempat telah di hias dengan indah. Tempat akad nikah sudah terhampar
karpet putih berbulu. Tempat janji suci itu akan diucapkan. Beberapa bunga seperti yang terlihat di halaman ada menghiasi beberapa sudut ruangan.
Bian dan Key memakai kamar terpisah untuk persiapan. Bian ada di lantai bawah, Key di kamar di lantai atas. Bukan kamar yang disiapkan untuk kamar pengantin nanti. Kamar yang sudah dihias dengan sangat indah. Kamar itu belum boleh ia masuki, ibu mengusirnya saat dia mengintip kemarin.
Bian sudah selesai memakai jas hitamnya. Sudah dirias secara natural. Basma duduk di tempat tidur menunggu saat
tukang rias memberikan sentuhan terakhirnya.Lalu satu orangnya lagi membereskan
peralatan.
mempelai wanita.”
Bian hanya menganguk. Dia terlihat cukup tegang.
“ Wahh. Akhirnya aku bisa melihat wajah tegang Kak Bian yang biasanya
cool percaya diri.” Basma tidak melewatkan kesempatan menggoda.
Mungkin ya, saat moment pernikahan, kau bisa melihat beberapa sifat manusiawi dari seseorang. Contohnya yang ia lihat dari Bian. Wajah tegang, cemas, bahagia yang bercampur aduk menjadi satu.
“ Apa Key sudah selesai?”
“ Tadi belum waktu aku ngintip sebelum ke sini.”
Bian duduk di sebelah Basma. Melihat ke arah pintu kamarnya.
“ Kau suka kamarmu?” tepat ada di sebelah kamar Bian di lantai atas.
“ Ia, suka, ayah yang menyiapkannya. Katanya dia yang memilih sendiri semua
perabotan di dalam kamar.” Dia sudah berkeliling melihat setiap sudut rumah. Ayahnya sendiri yang menemaninya, menjelaskan satu persatu ruangan.
“ Dia senang sekali setelah menemukanmu.” Menatap langit-langit kamar. Tidak terbersit cemburu atau apa pun sebenarnya, karena baru saja menemukan Basma, ayahnya pasti ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya. Dia mencoba untuk paham sampai pada perasaan ayahnya. " Aku baru menyadari kasih sayang ayah baru-baru ini, ya, seperti apa pun dia di masa lalu tapi dia memang ayah yang baik."
Biarlah masa lalu antara ayah, ibu dan Ibu Basma terkubur menjadi masa lalu.
“ Aku tidak akan mengambil ayah dari Kak Bian, aku hanya berharap bagian
kecil cinta ayah sisa dari sayangnya pada Kak Bian juga tidak masalah.” Tertawa meyakinkan. Dia tidak kekurangan kasih sayang orangtua selama ini. Jadi Basma tidak haus sampai ingin merampas semua perhatian ayahnya dari Kak Bian. Dia mendapat cinta ibu dan ayah serta kakak perempuan yang luar biasa.
“ Kau itu bicara apa si, keluarga ini menerimamu dengan tulus. Ibu juga,
aku belum pernah melihat ibu sebahagia ini. Cinta memang bisa menghapus kebencian kan, setelah ibu mendapat perhatian dan cinta ayah, aku bahkan bisa melihat bedanya bahkan dari caranya tersenyum saja. “
" Ayo hidup dengan bahagia Kak, sebagai keluarga."
Kenapa aku seperti bukan bicara pada adik ya, kenapa malah dia yang benar-benar bisa bersikap sedewasa ini.
Bian meletakan tangan di punggung Basma.
“ Terimakasih Bas untuk semuanya, karena sudah menahan dirimu dengan baik selama ini.” Basma mulai
terlihat panik. Padahal dia berusaha tidak membahas ini. “ Aku yakin kelak, kau akan menemukan wanita yang membuatmu
jatuh cinta dan mencintaimu. Sekarang, bolehkan aku minta, sayangi Key sebagai
kakak perempuanmu seutuhnya.”
“ Apa sejelas itu terlihat?”
Bian tersenyum sambil menggeleng.
“ Key menyayangimu dengan tulus sebagai kakak perempuanmu. Aku rasa dia
tidak akan pernah berfikir di luar itu, sampai membayangkan kau menyukainya
sebagai seorang perempuan.”
Karena Basma berhasil mengikat perasaan itu hanya di hatinya.
“ Kalau begitu perlakukan aku dengan baik Kak semumur hidupmu.”
“ Apa-apaaan itu.” Mengacak rambut Basma yang sudah rapi. Membuat bocah itu mencercau sambil merapikan rambut. Setelahnya dia menatap Bian dengan lekat. Dengan pandangan serius.
“ Buat Mbak Key bahagia. Supaya aku tidak pernah berfikir untuk melihat Mbak Key selain sebagai
kakak perempuanku.”
Bian tergelak pelan.
“ Bisa-bisanya kau mengancamku.”
“ Walaupun Kak Bian kakak laki-lakiku, tapi aku lebih sayang pada Mbak
Key.”
“ Tentu saja, walaupun kau adik laki-lakiku, tentu saja aku lebih sayang
pada istriku. Kemarilah.”
Basma mendekat. Keduanya saling berpelukan. Menepuk bahu satu sama lain. Memejamkan mata, bergumam pelan dalam hati
masih-masing.
Adik laki-lakiku yang aku sayangi. Bian.
Kakak laki-lakiku yang aku sayangi. Basma.
Keharuan di antara mereka menguap saat Anjas masuk tanpa mengetuk pintu.
“ Kalian berdua sedang apa?" Berdecak melihat kakak adik itu yang saling berpelukan. " Sudah seperti orang mau berpisah antar benua
setelah menikah saja. Bi, percayalah padaku bocah ini akan mengekor di belakang
Key untuk waktu yang lama.” Anjas tertawa menunjuk Basma, yang dibicarakan angkat bahu tak kalah tertawa menyeringai. Membenarkan perkataan Anjas.
Bian memicingkan mata melihat Basma dengan airmuka kesal.
“ Perlakukan aku dengan baik Kak, ingat itu.”
Sambil berlalu melewati Anjas yang terlihat sedikit penasaran dengan kalimat terakhir Basma.
“ Ayo keluar, petugas dari pencacat pernikahan sudah datang. Eh, kalian bicara tentang apa? Kamu sama Basma.”
“ Bicara kami saling menyayangi antar saudara." Angkat bahu santai, tapi mimik wajah berubah tegang lagi. "Sebentar Kak, aku tegang lagi kan, tadi sudah lupa karena bicara pada Basma, kau datang aku jadi tegang lagi kan!”
Dih, dasar calon pengantin.
“ Kau sudah menghafal akad dengan benar kan.”
“ Ia, sudah.”
“ Cieee, cieee.”
“ Sudah diam Kak, aku akan membalasmu nanti waktu kau menikah kalau
sekarang kau mengganguku.”
Berjalan beriringan, sambil Anjas menepuk-nepuk bahu Bian berulang-ulang memberi semangat. Bukannya cemasnya hilang, saat keluar kamar, melihat orang-orang yang sudah duduk menunggu. Membuat tangannya berkeringat.
Mungkin inilah moment paling menegangkan dalam hidupnya.
Bersambung