Key And Bian

Key And Bian
Korban



Hari ini adalah hari yang berat untuk beberapa orang.


Saat Key keluar dari kamar, semua ruangan sudah terang. Lampu sudah


menyala. Dia mengucek mata, tidak lama terdengar azan magrib dari masjid. Memanggil para perindu syurga. Sekaligus penanda, malam telah menjemut. Saatnya raga beristirahat. Saatnya kembali pada keluarga.


“ Mbak Key.” Basma yang mendengar suara keluar dari kamar, rambutnya


masih basah dia usap dengan handuk di tangannya.  Key tidak menjawab panggilanya langsung masuk ke kamar mandi. Dia mau


menyembunyikan sembab matanya.


Key mengusap bekas jejak airmata yang masih membekas.  Hah! Desahan kuat keluar dari hidungnya. Saat


melihat di cermin ia bisa melihat matanya bengkak. Mau menutupi pakai apa pun dia


terlihat habis menangis.


Kesedihan, kemarahan, kebencian semua bercampur. Bukan hanya tertuju pada satu


orang. Dia ingin menyalahkan semua orang. Melihat bayangan wajahnya yang


tersiram air di cermin. Dia basuh pelan.


Tuan Adiguna dengan keegoisannya. Nyonya Yuna yang dibutakan


kecemburuan. May Sarah yang sudah melibatkaan orangtuanya dalaam polemik mengerikan


ini. Basma, andai Basma tidak muncul dalam kehidupannya, mungkin semua tidak


akan seperti ini. Dan dari semua itu, lebih menyakitkan hati, kenapa dia harus


mengenal Kak Bian. Mencintainya. Bahkan menguntai mimpi dan harapan untuk menikah


bersamanya kelak.


Key jatuh terduduk lagi.  Andai


orangtuanya tidak mengenal mereka semua, pastilah akan berbeda. Menetes lagi


airmata, jatuh bercampur tetesan air.


Ketukan pintu menahan isak berkelanjutan Key.


“ Mbak Key, Mbak Key.”


“ Ia Bas, Mbak wudhu sebentar.”


Namun, apalah artinya meyalahkan semuanya. Waktu tidak dapat berputar


mengembalikan yang sudah berpulang untuk hidup kembali. Key bangun dan


mengambil wudhu. Selepas pulang dari gedung Adiguna Group bersama Kak Anjas dia


bersimpuh di atas sajadahnya. Mengadu, menangis, marah. Perasaan sakit teramat


sangat yang ia rasakan.


Bahkan Key tidak tahu, hampir selama dua jam, Anjas duduk di depan


pintu kamarnya. Keluar hanya untuk sholat di masjid. Laki-laki itu pergi setelah Basma datang. Saat ribuan  tanda tanya muncul dan mencerca Anjas,


laki-laki itu hanya menjawab.


“ Jangan bertanya apa pun, kalau Key belum mau menjelaskan. Berikan dia


waktu.”


Ah, hati Anjas pun melunak melihat Basma. Anak wanita itu, wanita yang di


benci Bian. Bagaimanapun tidak ada yang salah dari Basma. Bian ataupun Basma


adalaah korban dari cinta dan penghianatan orang tua mereka. Dan Key terseret dalam takdir itu dengan cara yang menyedihkan.


Dan saat ini Basma mulai paham apa arti perkataan Anjas, kalau Key


sedang tidak baik-baik saja. Apa pun yang membuatnya menangis bisa jadi


berhubungan dengannya.


Mereka sholat Magrib berjamaah. Key tersisak lagi di atas sajadahnya.


Basma mundur perlahan dan membiarkan. Baru kali ini dia melihat Key menangis di


hadapaannya. Hatinya teriris sakit, dia ingin memeluk wanita itu menenangkan.


Namun tangannya tertahan, akhirnya dia memilih keluar rumaah membeli sesuatu


untuk makan malam.


“ Sudah datang Bas? Beli apa?” Jejak kesedihan itu lenyap. Key tersenyum


menyambutnya.


“ Beli sate mbak.”


Basma menyiapkan semua di meja makaan. Lalu mereka mulai menyantap milik mereka masing-masing.


“ Bagaimanaa konsernya?” Key sedang mengalihkan suasana suram dan


canggung. Karena melihat Basma yang sepertinya maju mundur ingin menanyakan


sesuatu.


“ Nggak ngerti aku musik apa itu mbak. Aku, Rian sama Mas Haikal milih


main game aja sambil nungguin cewek-cewek itu pada teriak-teriak.”


Key tergelak, maksudnya apa.


“ Siapa Mas Haikal, ada lagi temen kamu yang dibeliin tiket sama mamanya


Rian.”


“ Dia kakak laki-lakinya temennya kakak perempuan Rian Mbak. Jadi kita


nonton berlima. Tahu gitu aku nggak usah ikut tadi.” Menunduk, sambil menusuk


lontong dan dia usap-usap di bumbu kacang sebelum memasukannya ke mulut. “ Aku


kan bisa menemani Mbak Key.”


Deg.


Maaf Bas aku malah berfikir untuk menyalahkaanmu. Karena kamu dititipkan


pada orangtuaku dan menjadi adikku.


 Padahal begitu perdulinya kamu pada perasaanku.


“ Mbak Key nggak papa Bas. Tapi kamu bersenang-senang dan dapat teman


baru kan.” Mengalihkan pembahasan.


“ Mbak.” Masih sambil maakan dan tidak melihat Key. Dia tidak mau pura-pura tidak tahu lagi. “ Aku sudah besar


dan bukan anak-anak lagi.” Sedikit mengangkat kepala. “ Mbak Key bisa berbagi beban


di pundakku juga.”


Key menjatuhkan tusuk sate yang sudah terangkat tadi. Walaupun lapar


karena siang tadi dia bahkan tidak makan namun rasanya mulutnya kelu sekarang.


Atmosfir di ruang makan ini tiba-tiba berubah menjadi sendu. Dia ingin mengatakan


semuanya, rasa sesak  yang dia tahan.


Kemarahan yang tiba-tiba muncul, sedikit kebencian yang tidak mau dia akui


namun berhasil menggoyah hatinya.


" Mbak Key..."


“ Bas, bagaimana kalau Mbak Key tahu tentang orangtua kandungmu?”


Pandangan mata mereka langsung bertemu.


Amplop coklat itu. Pikir Basma. Apa itu yang membuat gurat kesedihannya.


Apa itu yang dimaksud Kak Anjas tadi. Tapi kenapa Kak Anjas yang duduk di depan


kamar Key tadi, bukannya Kak Bian. Malah deretan pertanyaan lain yang ikut


bermunculan di pikiran Basma.


“ Mbak makan satenya.”


Hah! Kau juga takutkan menghadaapi kebenaraan itu.


“ Bas juga, makan yang banyak.”


Diambilnya lagi sate dan lontong.Bergantian masuk ke dalam mulut.


Akhirnya mereka menghabiskan makanan mereka dalam keheningan. Bahkan suara


detikan jam terdengar karena keduanya sedang mencoba mengumpulkan keberanian


dan merangkai kata-kata yang paling tepat.


Key akan mengatakannya, siapa oraagtua kandung Basma.


Basma sedang memikirkan bahasa yang paling tepat, kalau dia tidak


perduli siapapun orangtua kandungnya. Kalau informasi tentang orangtua


kandungnya melukai hati Key, dia bahkan akan merelakan untuk mengubur rasa


penasarannya.


Sate dan lontong habis juga, sebanyak apa pun mereka ingin mengulur


waktu, pada akhirnya mereka harus menghadapinya juga.


Key sudah kembali dari kamarnya, Basma sudah membereskan meja makan. Membersihkan


sisa minyak  karena bumbu kacang yang


tidak sengaja menempel. Sekarang mereka duduk berhadapan, dengan amplop coklat


terdiam di tengah mereka. Key ataupun Basma melihat amplop coklat itu dengan


beragam kecamuk.


“ Bas.” Suara Key tercekik dengan nafasnya sendiri.  Kata-kata yang sudah ia rangkai di


kepalanya berserakan.


“ Apa ini tentang informasi orangtua kandung Bas yang dibawa Bibi


Salsa.”


“ Bagaimana Bas bisa tahu?”


Amplop coklat yang berusaha ia sembunyikan rapat.


“ Maaf Mbak, sebenarnya kemarin Bas dan Kak Bian sekilas mendengar pembicaraan


Mbak Key dan Bibi Salsa. Kalau bibi punya bukti…”


“ Kak Bian?” Memotong pembicaraan. “ Kak Bian tahu kamu bukan adik


kandung Mbak?”


Kaki Key bahkan sudah terasa lemas. Dia menjatuhkan kepala di meja.


“ Waktu itu Kak Bian datang dan kami menunggu di teras depan. Tapi kami


tidak mendengar kelanjutan cerita bibi karena Kak BIan menariku untuk minta


penjelasan.”


Sedang berfikir situasinya. Tenanglah Key. Dia mengusap dadaanya pelan. Tenanglah Key. Kalau dari pesan-pesan yang dikirimkan Kak Bian siang ini, sepertinya dia belum tahu kalau Basma adalah adiknya. Caranya mengirim pesan masih sama seperti biasanya.


“ Mbak Key.” Meraih tangan Key yang terlihat agak bergetar. “ Kalau Mbak


mau menguburnya jangan menggalinya. Ayo buang jauh-jauh apa pun yang ada di


amplop coklat ini. Aku tidak penasaran kok. Jauh lebih menyedihkan melihat Mbak


Key yang terluka dan bersedih karena isi amplop ini ketimbang rasa penasanku.”


Semakin erat genggaman. “ Ayo hidup bersama dengan bahagia seperti ini saja,


buat Bas sudah cukup.”


Aaaaa, maafkan aku Bas,karena hatiku sedikit goyah untuk menyalahkanmu


tadi. Padahal kamu sangat memikirkan perasaaanku.


Tangan Key menepuk punggung tangan Basma.


“ Walaupun Mbak Key ingin seperti itu Bas, berharap semua kembali


seperti itu. Kita yang menyayangi dengan tulus. Tapi…” Ayo Key keluarkan


keberanianmu. Sesakit apa pun hatimu dengan kenyataan ini, Basma adalaah adik


yang kamu sayangi. “ Rasanya tidak adil bagi keluarga kandungmu, kalau Mbak Key


egois ingin menguburnya.”


Basma melepaskan tangan Key.


“ Bukankah mereka yang tidak menginginkan aku Mbak.”


Ya, semua pasti punya alasan. Kenapa sampai dia ditinggalkan, ini bukan


perasaan benci. Karena Basma pun tidak pernah menyesal tinggal bersama


keluarga Key. Tapi melihat Key yang menangis karena alasan keluarga kandungnya dia merasa tidak terima. Untuk apa dia merelakan Key yang sudah hidup untuk kebahagiaanya kepada keluarga yang sudah membuangnya. Itu sama sekali tidak akan sepadan.


Key meraih amplop coklat. Tidak menjawab kata-kata Basma. Karena dia tidak mau menjadi ragu dan bimbang. Membukanya perlahan dan mengeluarkan isinya.


Lembaran akta kelahiran serta amplop kecil dia taruh secara terbalik hingga


semua tulisan yang di sana tidak terbaca.


“ Apa pun yang terjadi ke depannya, yang harus Bas percaya adalah Mbak


Key sayang pada Basma. Apa pun yang akan Bas lihaat di sini, bisa jadi akan


menimbulkan prasangka dan meyakiti hati semua orang yang terlibat.”


Mbak Key mau bilang apa si.


“ Tapi Bas, sesakit apa pun itu Mbak Key sedang belajar untuk menerima


semua dengan lapang. Jadi Mbak Key berharap begitu pula kamu Bas.”


Semua rasanya sakitnya. Semuanya dorongan yang ingin menyalahkan semua orang. Bahkan Kak Bian ataaupun Basma. Sedang coba ia kikis dari hatinya. Walaupun belum sepenuhnya berhasil.


Mungkin hanya kitalah korbannya Bas, aku,kamu dan Kak Bian.


Basma meraih amplop yang sudah terbuka itu dengan ragu. Apalagi saat Key


masih memegang ujung satunya. Ingin semua terungkap, sekaligus tidak rela semua rahasia terbongkar.


***


Anjas terlihat sangat


kacau.Wajahnya muram duduk di sofa ruang tamu Bian. Dia tidak kembali ke kantor


tadi selepas dari rumah Key. Dia menenangkan diri di mobilnya lama.


Pikirannya bingung, hatinya sama kacaunya denganKey. Dia tidak  bisa menerima kenyataan yang dia


ketahui. Hatinya semakin sakit kalau memikirkan situasi Key saat ini.Dia saja


yang tidak terlibat langsung bisa merasa semenderita ini. Apalagi Key yang


menjadi korban secara lansgung.


“ Ckck, kemana saja kamu Kak seharian ini menghilang tidak bisa  dihubungi..” Duduk di sofa, Anjas malah


menjatuhkan kepala dan menaikaan kaki. Tiduran. “ Kak Anjas!” Masih


terdiam  dan tidak mengubris. “ Kamu di


tolak Amanda ya?” Vonis tidak berperasaan Bian. Melihat Anjas yang biasanya tidak pernah mangkir kerja atau mematikan hp, tiba-tiba menjadi orang yang paling susah dihubungi.


Bisa-bisanya bocah kurang ajar ini malah berfikir aku ditolak  Amanda. Memang siapa yang nembak  dia, aku kan cuma sedikit suka padanya. Eh.


Bangun dari duduk, melihat bocah yang ia khawatirkan sepanjang hari ini.


“ Sudah makan?” Bian bertanya lagi. Anjas hanya menggeleng, lalu Bian


berdecak lagi bangun mencari Pak Wahyu untuk menyiapkan makanan untuk Anjas. “


Kemana saja kamu Kak?” Kembali duduk di sofa.


Anjas duduk bersandar sekarang. Sedang bernafas dalam sambil


mengumpulkan tenaga.


“ Bi, apa kamu tahu kalau adiknya Key, Basma.” Ragu-ragu. Tapi tetap dia harus memulainya.


“ Apa? Kalau dia bukan adik kandung Key.” Menjawab santai.


Tentu saja dia tahu, dia sedang menunggu Basma mengambil amplop coklat yang disembunyikan Key. Dia akan membantu Basma menemukan keluarga kandungnya. Itu akan dia lakukan. Ya, semuanya tidak cuma-cuma si.


“ Kau sudah tahu!”


Gila! Kalau begini kenapa aku segelisah ini.


“ Aku tidak sengaja mendengarnya kemarin.”


“ Kau tahu sampai sejauh apa?”


“ Apa si?” matanyaa masih melihat hp. “ Hari ini Key juga cuma membalas


pesanku singkat-singkat. Ahhh, aku mau ke rumahnya melihatnya.”


“ Kau sudah gila, ini jam berapa!”


Sebenarnya Anjas lebih takut kalau sampai Bian melihat situasi yang ia


lihat seperti saat meninggalkan rumah Key tadi. Dia menghela nafas kuat ikut


merasakan sakitnya dan gelisahnya key sekarang.


Tadi sepanjang jalan pulang dari bertemu ketua, gadis itu hanya


bersandar di kaca mobil. Tidak mau bicara ataupun menjawab pertanyaan Anjas.


Gadis itu menutup mata, telinga dan hatinya untuk mendengar. Dia sedang


berperang dengan kesadarannya sendiri. Sampai Anjas mengantarnya masuk ke


dalam kamar, Key seperti limbung. Saat dia duduk di depan pintu, isak keras


yang dia tahan-tahan dari gedung Adiguna group dan perjalanan langsung meledak.


Anjas pun gemetar mendengarnya.


“ Kak! Kenapa si denganmu.  Aneh!  Beneran


ditolak  Amanda.” Melihat heran tingkah Anjas yang benar-benar tidak seperti biasanya.


“ Apanya yang ditolak!” berteriak. “ Aku menyatakan perasaan saja belum.”


Eh.


“ Haha, jadi sekarang kau mengakui kalau kau suka padanya.” Merasa


menang sudah memperdayai Anjas untuk mengakui perasaannya.Wajah Anjas jadi


bersemu malu-malu.


Bukan ini yang harus dipikirkan sekarang!


“ Jangan membahas Amanda.”


“ Ciee, berdebar-debar ya kalau namanya di sebut. Sudah jangan


malu-malu. Aku kalau mendengar nama Key atau melihat wajahnya, menggenggam


tangannya jatungku saja  mau meledak. Apalagi kalau  mimik wajah dia lagi panik, wajahnya jadi


mengemaskan. Rasanya ingin aku gigit pipinya Key karena gemas.”


Manda juga begitu! Hei Anjas sekarang bukan waktunya.


Rasanya Anjas ingin melemparkan bantal ke wajah Bian sekarang. Saat ini


situasi sedang sangat genting bodoh. Dia ingin berteriak begitu. Namun


lidahnya masih kelu. Bocah di depannya masih senyum-senyum dengan hpnya. Saat


Pak Wahyu datang mengatakan makan malam sudah siap  Bian bahkan tidak menoleh atau mengubris. Masih tersenyum cerah sambil melihat layar hpnya.


“ Aku mau makan dulu, baru kita bicara lagi.” Mau mengisi tenaga dulu.


“ Apa si.” Menjatuhkan kepala tiduran di sofa, tidak perduli pada Anjas.


Mengisi perut memang membuat pikiran kembali jernih. Sambil makan dia


sudah menyusun kata-kata mau mulai dari mana.


Bocah ini, kenapa malah tidur!


Hp Bian jatuh ke lantai. Di raihnya hp. Anjas melihat pesan .


Ya Tuhan, dia menyimpan nama Key dengan nama yang manis sekali.


Anjas tidak mau kurang ajar dengan membaca pesan.


Satu pesan dari cahayaku.


“ Key sayang Kak Bian.”


Anjas terduduk di sofa. Ya, bagi Bian Key seperti cahaya. Yang merubah warna dalam hidup Bian.Cinta yang baginya dulu hanya berarti penghianatan dan kebencian menjadi warna merona yang mendebarkan. Namun sekarang, akan jadi seperti apa cahaya itu. Akankah cahaya itu masih akan terus bersinar untuknya, atau akan mengelapkan seluruh hati dan hidupnya.


“ Hemmm. Jam berapa sekarang Kak?” Mengerjapkan mata, mengambil hp yang tergeletak di meja.


“ Sudah bangun? Minumlah, aku mau bicara hal penting padamu.” Menyodorkan minuman ke hadapan Bian.


“ Aaah, aku ngantuk. Besok saja.” Mengucek mata sambil menguap bangun.


" Duduklah, ini berhubungan dengan cahaya hidupmu."


Bian langsung melihat ke hpnya. Mau marah karena Anjas sudah melihat hpnya tanpa izin. Tapi, saat melihat airmuka serius Anjas, dia tahu, apa pun yang ingin ia bicarakan tentang Key, adalah masalah serius.


Bersambung.....


note :


Menikmati sisa liburan sebelum berkutat kembali dengan daring. Semoga tahun ini semua musibah hilang dari negri ini ya Allah. Semoga sekolah bisa kembali normal lagi. Amiin.