
Waktu tutup minimarket sebentar lagi. Key sudah membereskan semuanya,
sudah menghitung uang. Tinggal menunggu putaran detik di jam dinding, jarum
panjang menuju pas angka 12. Key meraih ponselnya. Tak ada pesan apa pun.
Padahal hari ini dia berharap Kak Bian datang. Setelah pertemuannya dengan
Basma dan kedatangan paman dan bibi, Key sudah sangat berharap hari ini dia
akan bertemu dengan Kak Bian.
Tapi apa, aaaa, kenapa dia begini si.
Basma sudah dia larang menjemput, karena gadis itu percaya diri kalau Bian
akan menemuinya. Dia mengerutu kecil sambil mengirim pesan.
“ Jadi Bian belum menemuimu lagi?”
Balasan dari Kak Anjas. Tempat
mengadu Key. Bukan mengadu si, sebenarnya hanya menanyakan kabar Bian. Namun
naluri Anjas yang peka akan situsi, sudah tahu arah tujuan pesan yang
dikirimkan Key.
“Anak itu benar-benar deh.” Pesan kedua Anjas.
“ Dia bilang masih malu padamu Key, tapi ini sudah terlalu.”
“ Maaf ya aku tidak bisa menjemputmu dan mengantar ke tempat Bian.”
Dalam hati Key mendesah kecewa. Sebenarnya dia mengirim pesan, berharap
lagi-lagi Anjas bisa menolong dan menjadi perantara dirinya dan Kak Bian. Dia
sebenarnya bisa menyebrang jalan dan datang langsung. Tapi, apa ia dia bisa
melewati satpam di pintu gerbang utama perumahan Grand Land tanpa menimbulkan
keributan. Sepertinya itu sesuatu yang mustahil.
“ Aku sedang menunggu Amanda selesai pemotretan.” Emoji senyum malu-malu
lagi-lagi menjawab pertanyaan yang tidak di sampaikan Key.
“ Maaf ya.”
Aaaa, hubungan mereka semakin manis saja. Gumam Key.
“ Aku akan minta Pak Wahyu menjemputmu untuk menemui Bian.”
“ Tunggu ya.”
Key terkejut, buru-buru dia mengetikan pesan sebelum Kak Anjas
benar-benar meminta Pak Wahyu datang. Key malu kalau sampai harus melibatkan Pak
Wahyu. Lega pesan terkirim. Tapi baru beberapa detik pesan balasan dari Anjas
datang.
“ Haha, terlambat, Pak Wahyu sudah mengeluarkan mobilnya. Tunggu
sebentar ya, hajar Bian sana!” Dibumbui tertawa dan stiker pemberi semangat.
Sekarang bagaimana ini.
Buru-buru merapikan semuanya. Lari kegudang meletakan uang sekaligus
merapikan penampilan. Sisir rambut, lepas lagi. Ah, apa si Key, biasanya juga
kan kamu begini ketemu Kak Bian, memang apalagi yang mau diperbaiki. Dia tertawa sendiri melihat tingkahnya di
depan cermin.
***
Rumah Bian.
" Kau mau aku duluan yang menikah ya? wkwkw." Setelah membaca pesan Anjas dilemparkan ponselnya ke atas meja. Masih sempat mengumpat setelah itu duduk di sofa.
Tak lama dia sudah merubah posisi.
Bian sedang menelungkupkan kepala sambil memeluk bantal kursi.
Tv besar sedang menyala dengan keras mengusir sepi. Tapi tetap saja dia tidak
meliriknya sama sekali. Remot tv terjatuh dari sofa, sama sekali tidak menarik
minatnya. Dia mencercau sendiri.
“ Mas Bian.” Suara Pak Wahyu di ujung ruangan. Tidak bisa melihat Bian
di balik sofa.
“ Kenapa si Pak, kenapa balik lagi, biasanya juga nongkrong di sebelah
sampai malam.” Main catur sambil ngopi dengan satpam rumah sebelah. Biasanya
baru kembali setelah larut. Kebiasaan Pak Wahyu.
“ Mas Bian kan belum makan. Apa nggak suka dengan yang sudah saya
siapkan atau mau makan apa, nanti saya buatkan lagi.” Dia sudah menyiapkan
hidangan lengkap seperti biasa di bawah tudung saji, di meja makan.
“ Makan lagi, makan lagi. Aku nggak mau makan di rumah Pak!” setengah
berteriak karena kesal. Dari tadi selepas sholat isya dia sudah berapa kali mendengar Pak Wahyu menyuruhnya makan.
Tidak, bahkan sudah sejak sore laki-laki itu sudah ribut menyuruhnya makan.
Aku kangen Key, aku mau makan sama Key, aku pengen makan makanan yang di masak Key. Aku mau Key. Aku mau makan
Key. Eh
Gumam-gumam di atas bantal, suaranya tidak keluar dan sampai ke telinga
Pak Wahyu.
“ Kalau Mas Bian kangen sama Mbak Key kenapa tidak ke minimarket saja.”
Pak Wahyu sepertinya bisa membaca isi hati Bian, tahu sekali arti gumaman kesal
yang keluar dari desahan saat Bian menarik nafas.
“ Diam Pak!” Sudah mulai menjatuhkan bantal kursi satu. Ditendangnya
dengan kaki. Pak Wahyu yang mendengar benda jatuh cuma tersenyum.
“ Kalau begini kan Mas Bian yang tersiksa.”
“ Aku bilang diam Pak!”
“ Apa mau saya jemput Mbak Key buat kesini.” Pak Wahyu menantang,
padahal biasanya dia langsung manut dan diam atau pergi menjauh kalau Bian
mulai keluar tanduk merahnya. Tapi karena sekarang dia berdiri gagah, di samping seorang gadis yang sedang
senyum menahan tawa di sampingnya. Pak wahyu meletakan jari telunjuknya di bibir
supaya gadis itu tidak mengeluarkan suara.
“ Aku kangen sama Key Pak, tapi aku malu bertemu Key.”
Pak Wahyu juga paham bagaimana takdir keduanya terikat. Masa lalu menghitam yang menghantui keduanya.
Namun kalau semuanya sudah terurai dan saling memaafkan dia juga tahu. Ya,
perputaran informasi sesama pelayan di rumah utama bergerak secepat angin.
“ Aku malu karena dia bahkan tidak marah. Aku malu karena aku sendiri
tidak bisa marah pada ibu. Padahal ibu sudah melakukan banyak kesalahan pada
Key.” Bahkan Bian rela mengantikan ibunya untuk dibenci.
“ Mas Bian kan tahu kalau Mba Key tidak begitu.”
“ Tapi Mas Bian kan belum makan.”
Menendang semua bantal kursi, bahkan mengengamnya di tangan dan ingin ia
lemparkan pada Pak Wahyu. Tapi, Bian kan tidak sekurang ajar itu.
“ Sekali lagi bilang makan, aku pulangin Pak Wahyu ke rumah ayah!”
Berdiri bangun, berbalik. Bantal kursi di tanjangannya terjatuh saat melihat
senyum manis seorang gadis di samping Pak Wahyu. Wajah yang teramat sangat ia
rindukan. “ Key!” Mematung diam. " Beneran Key!"
“ Mau Key temani makan malam Kak?” Sambil tersenyum tulus, gadis itu
mendekatinya. Sorot mata yang tak kalah merindukannya juga terlihat.
Bian melotot ke arah Pak Wahyu, laki -laki itu mengangkat tangan lalu
mundur.
Ampun Mas, ini idenya Mas Anjas.
“ Saya kesebelah ya Mas, nikmati makan malamnya.” Tanpa menunggu ada
yang mengiyakan dia langsung memutar tubuh, berjalan cepat keluar dari rumah.
Udara malam yang segar, angin yang
bertiup sejuk menyambut. Dia berdendang kecil menuju pos satpam sebelah rumah.
Tertinggalah dua orang yang sedang ingin mendekat namun merasa canggung
sesaat.
“ Ah, Key siapkan makanan ya Kak, di mana dapurnya.” Memecah situasi saling pandang antara keduanya.
Tangan Bian terangkat menunjuk jalan menuju dapur. Tidak bicara sepatah
kata pun. Dia mengekor di belakang Key
dalam jarak dua jangkauan tangan. Memperhatikan tubuh mungil yang ia rindukan
teramat sangat itu.
Aku ingin memeluknya sekarang.
Sampailah keduanya di meja dapur. Saat membuka tudung saji, deretan
makanan sudah terlihat menggoda lidah dan perut yang lapar.
“ Key…. ini beneran kamu kan Key?” Masih tidak percaya. Bagaimana bisa gadis yang ia rindukan bisa berada di hadapannya seperti ini.
“ Duduklah Kak, makan dulu baru bicara.”
Key selesai meletakan piring berisi nasi, Bian bukannya duduk malah
mendekat. Meraih pinggang gadis itu, memeluknya dari belakang.
“ Maaf.” Satu kata itu saja sudah menyulut kesedihan di hati Key,
kemarin berapa kali dia mendengar kata maaf. Tak terhitung, rasanya tiap kali
mendengar kata maaf bayangan orangtuanya kembali bermunculan. “ Maafkan aku dan
ibuku Key, kami yang sudah.”
“ Kak.” Menyentuh tangan Bian yang melingkar di pinggangnya. Dia merasakan kepala Bian yang jatuh tertunduk di
bahunya. “ Mari kita lupakan masa lalu. Orangtuaku juga pasti ingin kami
bahagia, Bibi Sarah juga ingin melihat Basma bahagia. Ayo sama-sama buat
kenangan indah dan menjalani hidup ini dengan baik. Demi orang-orang yang juga
menyayangi kita.”
Aaaaa, malaikat kecilku.
Bian mengusapkan wajahnya di punggung Key.
“ Sudah lepas Kak, Kak Bian makan dulu.”
“ Tidak mau, begini dulu, sebentar lagi saja. Aku sangat merindukanmu
Key.”
Key juga kangen, teramat sangat.
Mereka tanpa bicara, hanya saling melepaskan rindu. Bian memiringkan
kepalanya di punggung Key, sementara gadis itu mengusap tangan yang melingkar di
pinggangnya.
***
Aku juga kangen Kak, tapi kan nggak begini juga!
Setelah selesai makan yang cukup banyak drama, akhirnya mereka duduk di
sofa.Tempat tadi Bian bergulingan dengan bantal kursi. TV sudah mati, jadihanya
suara keduanya yang memenuhi ruangan. Bian menemel duduk di sampai Key. Menjatuhkan
kepalanya yang miring, karena tubuh kecilKey.
" Ibu bersikap baik padamu kan? dia sudah berjanji." Menggangkat kepala. " Aku ingin ikut, tapi ayah bilang lebih baik mereka saja yang datang." Menyelipkan rambut Key yang keluar dari ikatan.
" Ia Kak,bibi bersikap sangat baik. Kami sudah bicara berdua dan saling memaafkan."
Bibi, kau bahkan sudah memanggil ibu bibi. Berarti semua baik-baik saja.
" Syukurlah, aku sudah cemas ibu akan melakukan lagi."
" Oh ya selamat ya Kak, paman dan bibi pasti senang. Kak Bian juga." Bian mengeryit. " Ini kan yang bibi inginkan selama ini."
Tunggu Key, kenapa kau mengucapkan selamat untuk perceraian ayah dan ibuku. (Masih salah paham)
" Sudahlah Key jangan membahas itu."
" Kenapa, Kak Bian juga pasti senang."
" Aku tidak mau membahasnya."
Kenapa reaksi Kak Bian begini, bukannya dia sudah berbaikan dengan paman. Serba salah sambil mengusap-usap kepala Bian. Mengalah tak mau membicarakan perihal rencana besok.
Padahal bibi memintaku datang. Ah, sudahlah,lihat nanti saja.
" Oh ya Kak,Basma senang. Eh, apa si Kak." Tergagap mundur saat bibir Bian menempel di pipi kirinya. " Kenapa tiba-tiba cium pipi, Key kaget."
" Habis kamu bicara tentang Basma terus." Cemberut. " Padahal kita kan baru bertemu setelah sekian lama."
Mulai deh Bian.
" Basma kan adikmu Kak." Masak ia cemburu pada adik sendiri.
" Hah! ia, aku lupa. Ya sudah gantian biar adil. Key cium pipi kiri juga." Jari sudah menempel di pipi kirinya, sambil tertawa senang.
Apa si Kak Bian ini, dengan wajah begitu lagi mintanya. Membuat hati berdebar saja.
Key menelan ludah. Dadanya berdebar kencang. Bibirnya maju, maju.
" Mas Bian, ini sudah malam, belum mengantar Mbak Key juga."
Key langsung berdiri seperti robot. Berteriak siap lagi. Membuat Bian langsung terbahak, sementara Pak Wahyu senyum-senyum menahan tawa. Key langsung menutup wajah malu, ambruk bersembunyi di sofa.
" Saya siapkan mobil ya Mas."
" Ia,ia sudah sana Pak.Biasanya tengah malam juga baru pulang." Ngedumel-ngedumel. Ikut jongkok di samping Key yang masih menutup wajah.
" Ayo aku antar pulang. Jangan tunjukan wajah seperti itu di depan orang lain. Termasuk Basma." Mencium kepala Key lembut. " Cuma aku yang boleh melihatnya."
Apa si, dasar! masih sempatnya menggoda.
Key tidak menanyakannya, bagaimana acara makan malam paman dan bibi esok. Sampai mereka berpisah di depan rumah Key.
Bersambung