Key And Bian

Key And Bian
Pembatalan Pertunangan



Hidup terus berjalan.


Waktu terus berputar dengan irama  24 yang sama bagi semua manusia. Orang mengisinya dengan cara yang


berbeda. Ada yang tertawa, ada pula cerita penuh airmata. Suka dan duka. Bekerja keras


semampunya. Karena inilah kehidupan, penuh dengan warna.


Basma resmi menandatangani kontrak dengan Frezze Parfume. Semata-mata


demi Key. Demikian pula, menandatangani izin hanya karena Basma yang


memintanya, namun diiringi dengan petuah panjang tentang pentingnya pendidikan.


Angaplah dunia itu hobi yang menghasilkan uang,namun kau harus fokus pada


pendidikan dan masa depan yang stabil.


Basma meyakinkan Key dengan anggukan kepala penuh keyakinan.


“ Kalau Mbak Key menjadikan aku kebahagiaan Mbak, begitu juga aku.


Kebahagiaan Mbak Key juga adalah tujuan hidupku, aku tidak akan membantah lagi,


aku akan menuruti semua rencana hidup Mbak Key. Ayo hidup selamanya denganku.”


Basma akan mengekor kemanapun Key pergi, sekalipun dia menikah nanti


dengan Kak Bian. Mungkin itu terdengar licik, tapi hari ini baru sebatas itu dia


bisa mengiklaskan Key untuk orang lain.


Hari-hari berlalu dengan tenang, semoga bukan menjadi awal mula badai


yang baru.


Hari itu, selepas bekerja di minimarket untuk kali keduanya Key ada di rumah


Bian, awalnya gadis itu menolak dengan keras dan mengatakan untuk melupakan


semuanya.


“ Key nggak papa Kak, Ibu Kak Bian tidak salah, tidak ada yang perlu


minta maaf.” Malah Key yang merasa bersalah karena telah merenggangkan hubungan


ibu dan anak itu. “ Key mencoba memahami perasaan ibu Kak Bian, jadi jangan


memperpanjangnya lagi.”


Dia memang sedih, saat Yuna menyiramnya dengan air. Namun dia pun tidak


marah. Bagaimanapun dia ibu Kak Bian, seperti itulah dia berfikir. Dia akan


menghormati Yuna seperti Kak Bian menyanyangi wanita itu.


Namun akhirnya Bian tetap memutar kemudi mobilnya, dan pertemuan kedua


kalinya itu tidak terhindarkan. Wajah canggung Yuna terlihat jelas kala itu,


namun dia berhasil tetap tersenyum karena Bian ada di sampingnya. Memeluk tubuh


Key walaupun hatinya menolak. Semua sandiwara itu ia lalukan untuk meredakan


amarah Bian putranya. Bian terlihat senang sekali, melihat kedua orang yang


penting dalam hidupnya bisa berpelukan.


Ibu menyayangimu Nak,ibu akan mendukungmu.


Bian selalu mempercayai semua yang ibunya katakan, sampai hari ini.


Dan hari penting yang terjadi berikutnya, ternyata merubah segala


ketenangan itu.


Hari yang ditunggu datang juga, pembatalan penyatuan dua perusahaan


besar Adiguna Group dan Morela.


Dua wakil kedua perusahaan sudah duduk di meja yang sama. Sementara


media sudah mulai berspekulasi baik dengan berita yang sebenarnya atau yang ada


dalam rancangan mereka. Pembatalan pertunangan Bian Nugara pewaris perusahaan


Adiguna Group dan putri tunggal pengusaha fashion brand Morela resmi di


batalkan.


Alasan klise kesibukan dan ketidak cocokan melatari penyebab kandasnya


hubungan mereka. Bian yang sedang disibukan dengan pengembangan Grand Mall 2


dan Amanda yang mulai aktif membintangi banyak iklan menjadi alasan utama.Sehingga


tidak terjalin komunikasi  yang baik


antara keduanya.


Dua wakil perusahaan besar itupun mengatakan, kalau Adiguna Group dan


Morela tetap akan bekerja sama dengan baik.


Benar, tidak ada yang percaya. Siapa yang akan mempercayai alasan klise


semacam itu. Tidak hanya media, masyarakat pun perang spekulasi di internet.


Tentang kandasnya pasangan fenomenal yang sudah mendapatkan restu dari


masyarakat itu.


“ Padahal mereka terlihat serasi. Kalian lihat berita pertunangaan


mereka kan.”


“ Bian tampan, Amanda juga sangat cantik, nggak bisa bayangin anak


mereka bagaimana.” Mereka putus woi, malah mikir punya anak lagi. ( Ketawa jahat)


“ Fix pasti ada orang ketiga.” Detektif swasta mulai beraksi.


“ Mungkin salah satu ada yang selingkuh.” Menyulut kobaran api supaya


membesar.


“ Aku kok malah merasa Bian itu memang dari awal tidak terlalu menyukai


Amanda ya. Auranya aja sudah terlihat waktu mereka naik ke podium. Senyumnya itu


kayak gimana gitu. Yang terlihat bahagia cuma Amanda.” Peneliti ekspresi


sedang beraksi.


Intinya masyarakaat seperti merasa kalau alasan itu hanya dibuat-buat. Berita yang ada


di media terkaburkan oleh reaksi masyarakat yang bermacam-macam.


Munculah pula orang yang tak perduli.


“ Biarin sajalah urusan mereka, kita ngemil cireng aja yuk. Aku abis buat


rujak cireng lho.” Ini yang lebih masuk akal wkwkw.


Dan banyak sekali tanggapan dari masyarakat lainnya, intinya mereka


sedang bersimpati dengan cara yang beragam menanggapi putusnya pertunangan anak


pengusaha Adiguna dengan Amanda.


Tidak ada yang merasa terganggu dengan munculnya gosip-gosip di media


ataupun di internet. Key tetap menjalankan rutinitas harianya. Bian tetap menggenggam


tangannya menenangkan. Amanda bahkan mengiriminya pesan kalau semua akan


baik-baik saja seiring waktu yang berjalan.


“ Jangan khawatir semua akan baik-baik saja.”


Semua akan mereda dengan sendirinya.  Seiring berjalannya waktu, gosip akan


menghilang pada akhirnya kalau masyarakat sudah lelah membicarakannya.


Namun rasa tenang itu seperti menguap,  siang itu muncul berita di  media


online.  Yang awalnya hanya satu media,


terkutip ulang dan diberitakan ulang.  Tanpa klarifikasi fakta, baik pada Adiguna Group maupun Morela.


Tajuk berita, Terindikasi adanya orang ketiga dalam batalnya pertunangan


Bian Adiguna Group dan Amanda dari morela. Tidak


sampai di situ saja, munculah sosok wanita yang di sinyalir merusak hubungan


itu adalah dari kalangan rakyat biasa. Penjaga sebuah mini market malam.


Walaupun nama Keysa Andini tidak dimunculkan kepermukaan, namun


identitasnya sebagai penjaga minimarket malam teridentifikasi.


Muncul spekulasi baru di masyarakat.


“ Benarkan ternyata ada orang ketiga.”


“  Ya Tuhan apa ini cerita


cinderela bertemu pangeran.”


“ Siapa yang selingkuh?”


“ Siapa ya penjaga minimarket itu?”


“ Beruntung sekali gadis itu.”


“ Bagaimana bisa dia tidak tahu malu merebut laki-laki yang sudah


bertunangan.”


Akhirnya apa yang paling ditakuti muncul kepermukaan. Bukan Bian yang


disalahkan karena dia mencintai gadis lain.Namun si penjaga minimarket malamlah


yang mendapatkan cibiran. Karena sudah merusak pertunangan.


Karena berita itu, Key menghentikan semua pekerjaannya. Berjualan somai


ataupun bekerja di minimarket.


***


Tidak mungkin identitas penjaga minimarket malam bisa muncul kepermukan


kalau tidak ada yang menghebuskannya. Bahkan ketika satu media memberitakan,


muncul media yang lain dan seterusnya seperti mata rantai yang tidak ada


hentinya.


Di kantor pusat Adiguna Group.


Adiguna meremas kertas-kertas  di tangannya.


Semua berita yang menyudutkan Key muncul ke permukaan. Penjaga minimarket malam.


Itu  terlalu spesifik untuk disebut


kebetulan belaka.


Sekretaris Haryo memakai semua koneksinya untuk mencari tahu sumber awal


berita. Dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit jumlahnya. Dan saat ini


laki-laki yang sedang duduk di ruangan Adiguna adalah  sumber dari semua berita itu berawal.


“ Sudah sampai disini belum mau bicara juga.” Suara dan tatapan Adiguna


yang dingin membekukan suasana. Senyum  ramah yang sering tertangkap kamera, tidak ada


lagi yang tersisa.


“Tuan saya menulis berita dari informasi yang saya dapat.” Berusaha


bertahan.


Dia sudah mendapatkan bayaran yang sangat banyak. Bukan hanya untuk


menulis berita, tapi juga untuk menutup mulutya. Dia tidak menyangka kalau dia


akan ditemukan semudah ini.


“ Karena berita yang kau buat mencemarkan nama Adiguna Group dan Morela


maka kami akan melakukan tindakan tegas. Bukan hanya kehilangan pekerjaan, aku


bisa pastikan hukum juga akan kamu hadapi karena pencemaran nama baik.


Bersiaplaah membayar semua kerugian perusahaan akibat beritamu itu”


Ancaman hukum membuat keberaniannya hilang. Melawan perusahaan sebesar Adiguna, dia tidak akan punya nyali dan kekuatan.


“ Tuan saya mohon.” Laki-laki itu tak berdaya pada akhirnya. Media


onlinenya saja baru berdiri enam bulan lalu. Karena gelap mata tawaran


seseorang dia telah menghancurkan semua karir yang susah payah ia rintis. “


Saya mohon Tuan, ampuni saya sekali ini, ini semua karena keserakahan saya.


Tolong ampuni saya sekali ini.”


Dia melorot dari tempat duduknya, memohon untuk hidup media dan


orang-orang yang bergantung dengannya.


“ Aku memberimu waktu dua hari. Bereskan semua kekacauan yang sudah kau


mulai.” Melihat jam yang melingkar di tangannya. “ Kalau dalam dua hari,  di jam yang sama masih ada jejak berita tentang


pembatalan pertunangan Adiguna Group dan Morela yang membawa-bawa penjaga


minimarket malam, maka sampai bertemu di pengadilan dan ucapkan selamat tinggal pada karirmu ke depan.”


Suara dingin yang penuh ancaman itu membuat laki-laki yang sedang


berlutut itu bahkan tidak punya keberanian untuk mengangkat kepala dan


menjawab.


2 hari, hanya dua hari. Batas toleransi kesabaran Adiguna.


***


Tanpa menunggu lama, Adiguna sudah kembali ke rumahnya. Melihat Yuna yang


sedang duduk  di depan tv. Melihat berita


tentang anaknya sambil tersenyum. Dia mendengar langkah Adiguna, namun tak acuh


dan tetap melihat tv. Sebentar lagi, semua akan berbalik arah.


Bagaimana mungkin aku memohon-mohon maaf pada gadisyang tidak pantas  untuk putraku.


Adiguna mendekat ke arah Yuna yang masih tidak menoleh padanya. Dia


meraih cangkir teh yang ada di atas meja, meleparkan keras ke arah tv yang


sedang menyala. Tv itu retak dan mati seketika. Yuna terlonjak kaget mundur


membentur sofa yang dia duduki. Melihat amarah yang berkobar di mata suaminya.


“Ap, apa yang kau lakukan.” Menciut takut.


Adiguna sedang naik turun bernafas. Menahan emosinya yang sudah


memuncak. Kalau bukan karena kematangan usia dan pandainya dia menahan diri selama


ini. Magma kemarahan ini mungkin tidak hanya berakhir dengan pecahnya sebuah


tv.


Bian, Bian, Bian. Dia mengulang-ulang nama anaknya. Untuk memunculkan


saja sedikit  simpati pada wanita di


hadapannya.  Hanya karena Bian dia


bertahan dengan Yuna.


“ Apa yang kau inginkan dari semua ini?” Melemparkan kertas-kertas


berita di tangannya ke wajah Yuna, jatuh satu bersatu membentur lantai. Menyisa


wajah pias Yuna yang pucat dan ketakutan. Dia belum pernah melihat Adiguna


semarah ini.


Matanya tertuju pada tulisan-tulisan yang ada di kertas. Berita-berita yang


menggiring opini publik kalau ada orang ketiga dari putusnya pertunangaan Bian dan


Amanda. Yag membawa-bawa penjaga minimarket malam.


“ Aku tidak tahu apa-apa, aku tidak melakukan apa pun. Kamu tahu kan aku


sudah berbaikan dengan gadis itu dan mengalah, aku sudah mendukung kemauan


Bian. Kenapa kau menuduhku sembarangan.” Meringsek mundur. Matanya berkeliling.


Mencari siapa pun yang ada di ruangan ini. Lengang. Hanya ada dirinya dan


Adiguna.


Adiguna tertawa sinis.


“ Hatimu yang jahat itu sudah benar-benar tidak bisa diselamatkan.”


Sepertinya Adiguna akan menyerah. Dia sudah tidak tahan dengan semua sikap Yuna


yang tidak tahu malu.


“ Aku tidak melakukan apa pun!”


“Bagaimana kau bisa setega itu pada anakmu sendiri!” mencengkram


tangannya untuk menahan emosi.  “Kau pikir


siapa yang akan paling terluka di sini. Bian,  Bian yang paling terluka!” bernafas berat. “ Bagaimana bisa kau


mengorbankan Bian demi keserakahanmu..”


Yuna mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Namun dia tidak bisa menyerah


begitu saja.


“ Aku melakukan ini demi anakku.”


“ Apa kau tidak tahu malu selalu memakai Bian untuk menyerangku.”


Membalas tak kalah sengit.


Dua orang yang seharusnya lebih mengedepankan nalar itu sepertinya sudah


kehilangan akal. Mereka terlihat seperti remaja yang sedang saling berteriak.


Di ruangan lain, kepala pelayan sedang kebingungan. Dia sendiri belum pernah melihat


Tuan Adiguna semarah ini. Bimbang ingin menghubungi Bian agar membantu


menyudahi pertengkaran. Namun, bagaimana kalau kedatangan Bian malah akan


menyulut masalah  baru. Bagaimanapun


kepala pelayan itu tahu,bagaimana kebencian anak kepada ayahnya karena hasutan


dari ibunya.


Akhirnya ia hanya bisa memandang hpnya. Berdoa supaya kedua orangtua


yang sudah dewasa itu menahan diri.


“ Kenapa kau setuju Bian menikah dengan gadis seperti itu, apa karena


anak Jesi sudah kau temukan dan kau mau menganti  Bian dengannya.” Senjata yang Yuna simpan ia keluarkan, mematahkan


keangkuhan suaminya.


Lagi-lagi kebencian ini. lagi-lagi kecurigaan kalau dia tidak menyayangi


anaknya. Adiguna memejamkan mata demi menahan emosinya tidak meluap.


“ Aku akan meminta pengacara mengurus perceraian kita secara resmi di pengadilan.”


Menyudahi pertengkaran. Sekali lagi, Adiguna menyebut nama Bian berulang untuk


meredakan emosinya.


Bagai terbakar nyala api Yuna bangun dari duduk.


“Tidak, siapa yang mau bercerai. Aku tidak akan bercerai denganmu.”


“ Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menggangu anak-anakku Yuna,


tapi kau sudah melangkah sejauh ini. Berterimakasihlah, aku tidak mengungkapkan


kejahatanmu pada Bian. Malangnya anak itu punya ibu yang dia puja sepertimu.”


“ Aku tidak mau bercerai!” Gusar, melemparkan bantal-bantal ke arah Adiguna.


Berteriak mencaci maki suaminya. “ Kau pikir aku akan membiarkan anak Jesi


merebut semua yang Bian miliki.  Tidak


akan, wanita itu sudah membuatku menderita, apa kau pikir aku akan membiarkan


anakya merebut milik putraku juga.” Sehabis berteriak,  Yuna terkikik. Menatap Adiguna. “ Jangan


bermimpi.”


“ Kau sudah gila.” Ketakutan yang tidak masuk akal sudah mengerogoti


akal sehat Yuna. “ Bersiaplah untuk perceraian resmi.”


Adiguna menginjak kertas-kertas berita yang berserak di lantai, sudah


mau menyudahi pertengkaran yang tidak berujung itu. Namun tangan Yuna


menahannya.


“ Aku tidak akan menandatangani surat perceraian sampai kapan pun.”


Adiguna melepaskan tangan Yuna dengan kasar.


“ Hentikan Yuna, ini peringatan terakhirku.” Mendorong tubuh Yuna,


memegang bahu wanita itu dengan  kedua


tangannya. “ Sadarlah, bersihkan hatimu.”


“ lepas!” Menepis kedua tangan Adiguna. “ Aku akan melindungi apa  yang sudah seharusnya menjadi milik Bian.”


Adiguna kembali mencengkram bahu


Yuna kuat, wanita itu gemetar takut.


“ Hentikan sekarang!” Menguncang bahu. “ Hal gila apalagi yang mau kau lakukan,


dengarkan aku baik-baikYuna.Kau pikir selama ini aku mempertahankan sandiwara


pernikahan ini hanya demi nama baik perusahaan.” Berteriak sambil sekali


lagi mengucang bahu Yuna. Dia lepaskan tangannya dengan kuat sampai  Yuna terdorong ke belakang. “ Sama sekali


tidak, aku melakukannya hanya karena Bian. Aku bertahan denganmu hanya karena


Bian menyayangimu. Hanya karena anakku memuja ibunya. Kau tahu, sebanyak apa aku


mencintai Bian. Sebanyak itulah aku diam dengan semua dosa-dosa yang kau  lakukan. Aku diam hanya karena tidak mau


melihat Bian terluka.”


Lagi-lagi menggenggam tangannya kuat, menyebut nama Bian agar dia tidak


meluapkan amarahnya secara fisik kepada Yuna.


“ Jangan sentuh anak-anakku lagi, dan tanda tangani surat


perceraian,  atau kau mau Bian mendengar


semua kejahatan yang sudah kau lakukan dengan mulutku sendiri.”


Adiguna berjalan meninggalkan Yuna yang terduduk gemetar di lantai. Bian


yang membencinya adalah hal paling mengerikan yang tidak mau dia bayangkan. Dia tidak bisa berfikir apa pun sekarang.


***


Berita seputar Adiguna Group masih menjadi topik pembicaraan, walaupun


dengan intensitas yang jauh lebih berkurang.


Di warung sayuran di sebuah desa.


“ Ya Ampun lihat berita orang kaya ini aneh-aneh ya,padahal waktu lihat


pertunangannya kayaknya megah banget.”


“ Katanya ada wanita lain, sudah itu katanya penjaga minimarket.”


" Padahal anak Adiguna Group cocok banget sama Amanda kalau di lihat."


Deg, Bibi Salsa  menjatuhkan apa


yang ia pegang.


“ Di internet juga ramai, katanya.”


Tidak jadi membeli bumbu dapur Bibi Salsa pulang ke rumahnyaa. Beberapa hari


ini dia sibuk sekali karena sedang musim panen sayuran. Bekerja dari   siang sampai sore membuatnyaa jarang melihat


tv. Dia pun jarang ke warung sayur karena mendapat jatah sayuran dari petani.


“ Maafkan Bibi Key.”


Kemarahaannya pada Tuan Adiguna tidak terbendung, janji laki-laki itu


untuk melindungi anak-anak malang itu sepertinya hanya omong kosong.


Bibi Salsa menitipkan anak-anaknya pada tetangga di samping rumah.


Mengatakan ada keperluan yang mendesak di ibu kota. Saat ini wanita itu sudah


ada di dalam Bus. Dia sedang menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian.


Bagaimana kau bisa begini menderita Key, bukan kau yang harusnya


terpojok, tapi keluarga Adigunalah yang harusnya memohon pengampunan darimu.


Bibi Salsa tidak sangup menahannya lagi. Dia akan mengatakan semua masa


lalu itu pada Key. Karena Adiguna tidak bisa menepati janjinya, menjaga


anak-anak itu dari nyonya Yuna.


Bersambung...


Aku juga esmosih sama Yuna 🙄🙄