
Hidup terus berjalan.
Waktu terus berputar dengan irama 24 yang sama bagi semua manusia. Orang mengisinya dengan cara yang
berbeda. Ada yang tertawa, ada pula cerita penuh airmata. Suka dan duka. Bekerja keras
semampunya. Karena inilah kehidupan, penuh dengan warna.
Basma resmi menandatangani kontrak dengan Frezze Parfume. Semata-mata
demi Key. Demikian pula, menandatangani izin hanya karena Basma yang
memintanya, namun diiringi dengan petuah panjang tentang pentingnya pendidikan.
Angaplah dunia itu hobi yang menghasilkan uang,namun kau harus fokus pada
pendidikan dan masa depan yang stabil.
Basma meyakinkan Key dengan anggukan kepala penuh keyakinan.
“ Kalau Mbak Key menjadikan aku kebahagiaan Mbak, begitu juga aku.
Kebahagiaan Mbak Key juga adalah tujuan hidupku, aku tidak akan membantah lagi,
aku akan menuruti semua rencana hidup Mbak Key. Ayo hidup selamanya denganku.”
Basma akan mengekor kemanapun Key pergi, sekalipun dia menikah nanti
dengan Kak Bian. Mungkin itu terdengar licik, tapi hari ini baru sebatas itu dia
bisa mengiklaskan Key untuk orang lain.
Hari-hari berlalu dengan tenang, semoga bukan menjadi awal mula badai
yang baru.
Hari itu, selepas bekerja di minimarket untuk kali keduanya Key ada di rumah
Bian, awalnya gadis itu menolak dengan keras dan mengatakan untuk melupakan
semuanya.
“ Key nggak papa Kak, Ibu Kak Bian tidak salah, tidak ada yang perlu
minta maaf.” Malah Key yang merasa bersalah karena telah merenggangkan hubungan
ibu dan anak itu. “ Key mencoba memahami perasaan ibu Kak Bian, jadi jangan
memperpanjangnya lagi.”
Dia memang sedih, saat Yuna menyiramnya dengan air. Namun dia pun tidak
marah. Bagaimanapun dia ibu Kak Bian, seperti itulah dia berfikir. Dia akan
menghormati Yuna seperti Kak Bian menyanyangi wanita itu.
Namun akhirnya Bian tetap memutar kemudi mobilnya, dan pertemuan kedua
kalinya itu tidak terhindarkan. Wajah canggung Yuna terlihat jelas kala itu,
namun dia berhasil tetap tersenyum karena Bian ada di sampingnya. Memeluk tubuh
Key walaupun hatinya menolak. Semua sandiwara itu ia lalukan untuk meredakan
amarah Bian putranya. Bian terlihat senang sekali, melihat kedua orang yang
penting dalam hidupnya bisa berpelukan.
Ibu menyayangimu Nak,ibu akan mendukungmu.
Bian selalu mempercayai semua yang ibunya katakan, sampai hari ini.
Dan hari penting yang terjadi berikutnya, ternyata merubah segala
ketenangan itu.
Hari yang ditunggu datang juga, pembatalan penyatuan dua perusahaan
besar Adiguna Group dan Morela.
Dua wakil kedua perusahaan sudah duduk di meja yang sama. Sementara
media sudah mulai berspekulasi baik dengan berita yang sebenarnya atau yang ada
dalam rancangan mereka. Pembatalan pertunangan Bian Nugara pewaris perusahaan
Adiguna Group dan putri tunggal pengusaha fashion brand Morela resmi di
batalkan.
Alasan klise kesibukan dan ketidak cocokan melatari penyebab kandasnya
hubungan mereka. Bian yang sedang disibukan dengan pengembangan Grand Mall 2
dan Amanda yang mulai aktif membintangi banyak iklan menjadi alasan utama.Sehingga
tidak terjalin komunikasi yang baik
antara keduanya.
Dua wakil perusahaan besar itupun mengatakan, kalau Adiguna Group dan
Morela tetap akan bekerja sama dengan baik.
Benar, tidak ada yang percaya. Siapa yang akan mempercayai alasan klise
semacam itu. Tidak hanya media, masyarakat pun perang spekulasi di internet.
Tentang kandasnya pasangan fenomenal yang sudah mendapatkan restu dari
masyarakat itu.
“ Padahal mereka terlihat serasi. Kalian lihat berita pertunangaan
mereka kan.”
“ Bian tampan, Amanda juga sangat cantik, nggak bisa bayangin anak
mereka bagaimana.” Mereka putus woi, malah mikir punya anak lagi. ( Ketawa jahat)
“ Fix pasti ada orang ketiga.” Detektif swasta mulai beraksi.
“ Mungkin salah satu ada yang selingkuh.” Menyulut kobaran api supaya
membesar.
“ Aku kok malah merasa Bian itu memang dari awal tidak terlalu menyukai
Amanda ya. Auranya aja sudah terlihat waktu mereka naik ke podium. Senyumnya itu
kayak gimana gitu. Yang terlihat bahagia cuma Amanda.” Peneliti ekspresi
sedang beraksi.
Intinya masyarakaat seperti merasa kalau alasan itu hanya dibuat-buat. Berita yang ada
di media terkaburkan oleh reaksi masyarakat yang bermacam-macam.
Munculah pula orang yang tak perduli.
“ Biarin sajalah urusan mereka, kita ngemil cireng aja yuk. Aku abis buat
rujak cireng lho.” Ini yang lebih masuk akal wkwkw.
Dan banyak sekali tanggapan dari masyarakat lainnya, intinya mereka
sedang bersimpati dengan cara yang beragam menanggapi putusnya pertunangan anak
pengusaha Adiguna dengan Amanda.
Tidak ada yang merasa terganggu dengan munculnya gosip-gosip di media
ataupun di internet. Key tetap menjalankan rutinitas harianya. Bian tetap menggenggam
tangannya menenangkan. Amanda bahkan mengiriminya pesan kalau semua akan
baik-baik saja seiring waktu yang berjalan.
“ Jangan khawatir semua akan baik-baik saja.”
Semua akan mereda dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu, gosip akan
menghilang pada akhirnya kalau masyarakat sudah lelah membicarakannya.
Namun rasa tenang itu seperti menguap, siang itu muncul berita di media
online. Yang awalnya hanya satu media,
terkutip ulang dan diberitakan ulang. Tanpa klarifikasi fakta, baik pada Adiguna Group maupun Morela.
Tajuk berita, Terindikasi adanya orang ketiga dalam batalnya pertunangan
Bian Adiguna Group dan Amanda dari morela. Tidak
sampai di situ saja, munculah sosok wanita yang di sinyalir merusak hubungan
itu adalah dari kalangan rakyat biasa. Penjaga sebuah mini market malam.
Walaupun nama Keysa Andini tidak dimunculkan kepermukaan, namun
identitasnya sebagai penjaga minimarket malam teridentifikasi.
Muncul spekulasi baru di masyarakat.
“ Benarkan ternyata ada orang ketiga.”
“ Ya Tuhan apa ini cerita
cinderela bertemu pangeran.”
“ Siapa yang selingkuh?”
“ Siapa ya penjaga minimarket itu?”
“ Beruntung sekali gadis itu.”
“ Bagaimana bisa dia tidak tahu malu merebut laki-laki yang sudah
bertunangan.”
Akhirnya apa yang paling ditakuti muncul kepermukaan. Bukan Bian yang
disalahkan karena dia mencintai gadis lain.Namun si penjaga minimarket malamlah
yang mendapatkan cibiran. Karena sudah merusak pertunangan.
Karena berita itu, Key menghentikan semua pekerjaannya. Berjualan somai
ataupun bekerja di minimarket.
***
Tidak mungkin identitas penjaga minimarket malam bisa muncul kepermukan
kalau tidak ada yang menghebuskannya. Bahkan ketika satu media memberitakan,
muncul media yang lain dan seterusnya seperti mata rantai yang tidak ada
hentinya.
Di kantor pusat Adiguna Group.
Adiguna meremas kertas-kertas di tangannya.
Semua berita yang menyudutkan Key muncul ke permukaan. Penjaga minimarket malam.
Itu terlalu spesifik untuk disebut
kebetulan belaka.
Sekretaris Haryo memakai semua koneksinya untuk mencari tahu sumber awal
berita. Dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit jumlahnya. Dan saat ini
laki-laki yang sedang duduk di ruangan Adiguna adalah sumber dari semua berita itu berawal.
“ Sudah sampai disini belum mau bicara juga.” Suara dan tatapan Adiguna
yang dingin membekukan suasana. Senyum ramah yang sering tertangkap kamera, tidak ada
lagi yang tersisa.
“Tuan saya menulis berita dari informasi yang saya dapat.” Berusaha
bertahan.
Dia sudah mendapatkan bayaran yang sangat banyak. Bukan hanya untuk
menulis berita, tapi juga untuk menutup mulutya. Dia tidak menyangka kalau dia
akan ditemukan semudah ini.
“ Karena berita yang kau buat mencemarkan nama Adiguna Group dan Morela
maka kami akan melakukan tindakan tegas. Bukan hanya kehilangan pekerjaan, aku
bisa pastikan hukum juga akan kamu hadapi karena pencemaran nama baik.
Bersiaplaah membayar semua kerugian perusahaan akibat beritamu itu”
Ancaman hukum membuat keberaniannya hilang. Melawan perusahaan sebesar Adiguna, dia tidak akan punya nyali dan kekuatan.
“ Tuan saya mohon.” Laki-laki itu tak berdaya pada akhirnya. Media
onlinenya saja baru berdiri enam bulan lalu. Karena gelap mata tawaran
seseorang dia telah menghancurkan semua karir yang susah payah ia rintis. “
Saya mohon Tuan, ampuni saya sekali ini, ini semua karena keserakahan saya.
Tolong ampuni saya sekali ini.”
Dia melorot dari tempat duduknya, memohon untuk hidup media dan
orang-orang yang bergantung dengannya.
“ Aku memberimu waktu dua hari. Bereskan semua kekacauan yang sudah kau
mulai.” Melihat jam yang melingkar di tangannya. “ Kalau dalam dua hari, di jam yang sama masih ada jejak berita tentang
pembatalan pertunangan Adiguna Group dan Morela yang membawa-bawa penjaga
minimarket malam, maka sampai bertemu di pengadilan dan ucapkan selamat tinggal pada karirmu ke depan.”
Suara dingin yang penuh ancaman itu membuat laki-laki yang sedang
berlutut itu bahkan tidak punya keberanian untuk mengangkat kepala dan
menjawab.
2 hari, hanya dua hari. Batas toleransi kesabaran Adiguna.
***
Tanpa menunggu lama, Adiguna sudah kembali ke rumahnya. Melihat Yuna yang
sedang duduk di depan tv. Melihat berita
tentang anaknya sambil tersenyum. Dia mendengar langkah Adiguna, namun tak acuh
dan tetap melihat tv. Sebentar lagi, semua akan berbalik arah.
Bagaimana mungkin aku memohon-mohon maaf pada gadisyang tidak pantas untuk putraku.
Adiguna mendekat ke arah Yuna yang masih tidak menoleh padanya. Dia
meraih cangkir teh yang ada di atas meja, meleparkan keras ke arah tv yang
sedang menyala. Tv itu retak dan mati seketika. Yuna terlonjak kaget mundur
membentur sofa yang dia duduki. Melihat amarah yang berkobar di mata suaminya.
“Ap, apa yang kau lakukan.” Menciut takut.
Adiguna sedang naik turun bernafas. Menahan emosinya yang sudah
memuncak. Kalau bukan karena kematangan usia dan pandainya dia menahan diri selama
ini. Magma kemarahan ini mungkin tidak hanya berakhir dengan pecahnya sebuah
tv.
Bian, Bian, Bian. Dia mengulang-ulang nama anaknya. Untuk memunculkan
saja sedikit simpati pada wanita di
hadapannya. Hanya karena Bian dia
bertahan dengan Yuna.
“ Apa yang kau inginkan dari semua ini?” Melemparkan kertas-kertas
berita di tangannya ke wajah Yuna, jatuh satu bersatu membentur lantai. Menyisa
wajah pias Yuna yang pucat dan ketakutan. Dia belum pernah melihat Adiguna
semarah ini.
Matanya tertuju pada tulisan-tulisan yang ada di kertas. Berita-berita yang
menggiring opini publik kalau ada orang ketiga dari putusnya pertunangaan Bian dan
Amanda. Yag membawa-bawa penjaga minimarket malam.
“ Aku tidak tahu apa-apa, aku tidak melakukan apa pun. Kamu tahu kan aku
sudah berbaikan dengan gadis itu dan mengalah, aku sudah mendukung kemauan
Bian. Kenapa kau menuduhku sembarangan.” Meringsek mundur. Matanya berkeliling.
Mencari siapa pun yang ada di ruangan ini. Lengang. Hanya ada dirinya dan
Adiguna.
Adiguna tertawa sinis.
“ Hatimu yang jahat itu sudah benar-benar tidak bisa diselamatkan.”
Sepertinya Adiguna akan menyerah. Dia sudah tidak tahan dengan semua sikap Yuna
yang tidak tahu malu.
“ Aku tidak melakukan apa pun!”
“Bagaimana kau bisa setega itu pada anakmu sendiri!” mencengkram
tangannya untuk menahan emosi. “Kau pikir
siapa yang akan paling terluka di sini. Bian, Bian yang paling terluka!” bernafas berat. “ Bagaimana bisa kau
mengorbankan Bian demi keserakahanmu..”
Yuna mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Namun dia tidak bisa menyerah
begitu saja.
“ Aku melakukan ini demi anakku.”
“ Apa kau tidak tahu malu selalu memakai Bian untuk menyerangku.”
Membalas tak kalah sengit.
Dua orang yang seharusnya lebih mengedepankan nalar itu sepertinya sudah
kehilangan akal. Mereka terlihat seperti remaja yang sedang saling berteriak.
Di ruangan lain, kepala pelayan sedang kebingungan. Dia sendiri belum pernah melihat
Tuan Adiguna semarah ini. Bimbang ingin menghubungi Bian agar membantu
menyudahi pertengkaran. Namun, bagaimana kalau kedatangan Bian malah akan
menyulut masalah baru. Bagaimanapun
kepala pelayan itu tahu,bagaimana kebencian anak kepada ayahnya karena hasutan
dari ibunya.
Akhirnya ia hanya bisa memandang hpnya. Berdoa supaya kedua orangtua
yang sudah dewasa itu menahan diri.
“ Kenapa kau setuju Bian menikah dengan gadis seperti itu, apa karena
anak Jesi sudah kau temukan dan kau mau menganti Bian dengannya.” Senjata yang Yuna simpan ia keluarkan, mematahkan
keangkuhan suaminya.
Lagi-lagi kebencian ini. lagi-lagi kecurigaan kalau dia tidak menyayangi
anaknya. Adiguna memejamkan mata demi menahan emosinya tidak meluap.
“ Aku akan meminta pengacara mengurus perceraian kita secara resmi di pengadilan.”
Menyudahi pertengkaran. Sekali lagi, Adiguna menyebut nama Bian berulang untuk
meredakan emosinya.
Bagai terbakar nyala api Yuna bangun dari duduk.
“Tidak, siapa yang mau bercerai. Aku tidak akan bercerai denganmu.”
“ Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menggangu anak-anakku Yuna,
tapi kau sudah melangkah sejauh ini. Berterimakasihlah, aku tidak mengungkapkan
kejahatanmu pada Bian. Malangnya anak itu punya ibu yang dia puja sepertimu.”
“ Aku tidak mau bercerai!” Gusar, melemparkan bantal-bantal ke arah Adiguna.
Berteriak mencaci maki suaminya. “ Kau pikir aku akan membiarkan anak Jesi
merebut semua yang Bian miliki. Tidak
akan, wanita itu sudah membuatku menderita, apa kau pikir aku akan membiarkan
anakya merebut milik putraku juga.” Sehabis berteriak, Yuna terkikik. Menatap Adiguna. “ Jangan
bermimpi.”
“ Kau sudah gila.” Ketakutan yang tidak masuk akal sudah mengerogoti
akal sehat Yuna. “ Bersiaplah untuk perceraian resmi.”
Adiguna menginjak kertas-kertas berita yang berserak di lantai, sudah
mau menyudahi pertengkaran yang tidak berujung itu. Namun tangan Yuna
menahannya.
“ Aku tidak akan menandatangani surat perceraian sampai kapan pun.”
Adiguna melepaskan tangan Yuna dengan kasar.
“ Hentikan Yuna, ini peringatan terakhirku.” Mendorong tubuh Yuna,
memegang bahu wanita itu dengan kedua
tangannya. “ Sadarlah, bersihkan hatimu.”
“ lepas!” Menepis kedua tangan Adiguna. “ Aku akan melindungi apa yang sudah seharusnya menjadi milik Bian.”
Adiguna kembali mencengkram bahu
Yuna kuat, wanita itu gemetar takut.
“ Hentikan sekarang!” Menguncang bahu. “ Hal gila apalagi yang mau kau lakukan,
dengarkan aku baik-baikYuna.Kau pikir selama ini aku mempertahankan sandiwara
pernikahan ini hanya demi nama baik perusahaan.” Berteriak sambil sekali
lagi mengucang bahu Yuna. Dia lepaskan tangannya dengan kuat sampai Yuna terdorong ke belakang. “ Sama sekali
tidak, aku melakukannya hanya karena Bian. Aku bertahan denganmu hanya karena
Bian menyayangimu. Hanya karena anakku memuja ibunya. Kau tahu, sebanyak apa aku
mencintai Bian. Sebanyak itulah aku diam dengan semua dosa-dosa yang kau lakukan. Aku diam hanya karena tidak mau
melihat Bian terluka.”
Lagi-lagi menggenggam tangannya kuat, menyebut nama Bian agar dia tidak
meluapkan amarahnya secara fisik kepada Yuna.
“ Jangan sentuh anak-anakku lagi, dan tanda tangani surat
perceraian, atau kau mau Bian mendengar
semua kejahatan yang sudah kau lakukan dengan mulutku sendiri.”
Adiguna berjalan meninggalkan Yuna yang terduduk gemetar di lantai. Bian
yang membencinya adalah hal paling mengerikan yang tidak mau dia bayangkan. Dia tidak bisa berfikir apa pun sekarang.
***
Berita seputar Adiguna Group masih menjadi topik pembicaraan, walaupun
dengan intensitas yang jauh lebih berkurang.
Di warung sayuran di sebuah desa.
“ Ya Ampun lihat berita orang kaya ini aneh-aneh ya,padahal waktu lihat
pertunangannya kayaknya megah banget.”
“ Katanya ada wanita lain, sudah itu katanya penjaga minimarket.”
" Padahal anak Adiguna Group cocok banget sama Amanda kalau di lihat."
Deg, Bibi Salsa menjatuhkan apa
yang ia pegang.
“ Di internet juga ramai, katanya.”
Tidak jadi membeli bumbu dapur Bibi Salsa pulang ke rumahnyaa. Beberapa hari
ini dia sibuk sekali karena sedang musim panen sayuran. Bekerja dari siang sampai sore membuatnyaa jarang melihat
tv. Dia pun jarang ke warung sayur karena mendapat jatah sayuran dari petani.
“ Maafkan Bibi Key.”
Kemarahaannya pada Tuan Adiguna tidak terbendung, janji laki-laki itu
untuk melindungi anak-anak malang itu sepertinya hanya omong kosong.
Bibi Salsa menitipkan anak-anaknya pada tetangga di samping rumah.
Mengatakan ada keperluan yang mendesak di ibu kota. Saat ini wanita itu sudah
ada di dalam Bus. Dia sedang menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian.
Bagaimana kau bisa begini menderita Key, bukan kau yang harusnya
terpojok, tapi keluarga Adigunalah yang harusnya memohon pengampunan darimu.
Bibi Salsa tidak sangup menahannya lagi. Dia akan mengatakan semua masa
lalu itu pada Key. Karena Adiguna tidak bisa menepati janjinya, menjaga
anak-anak itu dari nyonya Yuna.
Bersambung...
Aku juga esmosih sama Yuna 🙄🙄