
Suasana sore yang sejuk. Key
memilih berjalan kaki dari rumahnya. Kalau cuaca sedang cerah namun sejuk
seperti ini, dia memang lebih senang berjalan kaki menuju minimarket. Sesekali
berlari kecil, menyapa orang-orang yang ia kenal. Berlarian ia mengejar angin.
Postur tubuhnya yang memang masih seperti anak-anak, memang membuatnya bisa
melakukan banyak hal di usinya sekarang. Tidak ada yang protes dan mengatakan
kalau ia kekanakan. Dia mampir di kios pedagang makanan. Membeli lekers,
jajanan manis. Dia meminta empat buah dengan toping aneka rasa. Menyerahkan
uang, lalu berjalan sambil menikmati makannya.
“ Ya, lupakan semua Key. Hiduplah
dengan normal seperti biasanya. Anggap dia laki-laki pelanggan minimarket yang
kau temui lalu kau lupakan ke esokan harinya. Semangat!” sampai di minimarket
dia sudah menghabiskan jajanan yang ia beli. Menyiapkan senyum hangat seperti
biasanya. “ Aku datang!” teriaknya sambil membuka pintu. Mulutnya langsung
terdiam melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat kasir.
“ Sudah datang key, dia
menunggumu.” Kak Hamzah menunjuk laki-laki yang berdiri di hadapannya. Senyum
yang Key siapkan tiba-tiba lenyap. Semangat yang ia kantongi sepanjang
perjalanan ke mari juga menguap.
“ Bisa kita bicara Key.” Key tidak
menduga Bian akan muncul di hadapannya seperti ini, saat masih ada kak Hamzah
pula.
“ Maaf kak aku sudah harus mulai
bekerja.” Key masuk ke dalam mini market, lalu berjalan ke arah gudang.
“ Gak papa Key, bicaralah dengannya
sebentar, dia sudah menunggumu lumayan lama. Aku bisa gantikan sampai urusanmu
selesai.”
Key jadi merasa kesal sendiri,
namun diapun tak bisa menolak kalau sudah begini. Apa ini sengaja pikir key.
Akhirnya mereka duduk berhadapan. Dua buah jus
mangga terhidang, pelayan yang menyajikan sudah lama pergi. Namun belum ada
yang mulai untuk bicara. Key memilih mencari pandangan lain, sementara Bian
memandang wajah Key lurus.
Sepanjang siang tadi dia sudah
memutuskan, kalau Key marah padanya dia akan mengejar maaf gadis itu. Ia akan
memeluknya dihati, dan tidak akan membiarkan Key pergi. Tapi sebaliknya, jika
Key senang dan memeluknya, menarik dirinya untuk lebih dekat, Bian yang akan
menghilang. Jauh tanpa jejak.
“ Apa kau marah?”
Haha, marah, tentu saja aku marah.
Key mendelik, berteriak dalam hati. Dia meraih minumannya, menyedotnya
perlahan.
“ Aku jadi merasa sangat sedih.”
Bian mulai memancing dengan suara penuh harap.
Apa-apaan dia ini, kenapa memasang
wajaah seperti ini. Ini licik namanya, wajah sedih dan penuh kesepian yang
selalu membuat Key melunak tanpa alasan.
“ Key! Key!Key!” Bian sengaja
memanggil key berulang. Nadanya terdengar sedang mengoda. Membuat Key akhirnya
memalingkan wajahnya, namun dia berhasil menahan ekspresi wajahnya untuk
terlihat datar. “ benar-benar marah ya.” Katanya lagi dengan nada sedih.
Keterlaluan batin Key, apa
laki-laki dihadapannya ini sedang bercanda sekarang.
“ Haha, marah, kenapa aku harus
marah kak, karena kak Bian seorang CEO grand Mall. Wah seharusnya aku berteriak
kegirangankan, kalau tahu kak Bian kaya raya aku pasti tidak akan pernah memberi makan malam gratisan selama ini. Apa
mau aku memelukmu karena senang.” Namun Key mengatakannya dengan nada sinis,
dan tanpa senyuman. “ Apa kau sudah selesai bicaranya kak, aku harus bekerja.”
“ Key.”
“ Berhentilah datang menemuiku.
Mari anggap apa yang sudah terjadi selama ini hanya piknik sementara kak Bian,
dan aku hanya akan mengangap kak Bian seperti para pelanggan minimarket yang
lain. Orang-orang yang datang dan pergi, orang-orang yang aku temui berulang
kali namun esoknya aku sudah lupa, dan akan kembali menyapa tanpa ingat hari
kemarinnya lagi.”
“ Kenapa?” Bian menatap lurus.
Namun ada seutas senyum di bibirnya yang samar dan cepat memudar. Ia merasa
bahagia dengan kemarahan Key.
“ Kenapa? Apa perlu aku jelaskan alasannya?”
Bian mengangukan kepala. Ah kenapa
malah jadi seperti ini. Seharusnya aku berteriak marahkan. Kenapa dia muncul
dengan wajah sedih dan kesepian seperti
ini. Lagi-lagi Key mengerutu dalam hatinya.
“ Key.”
“ Apa!” Key menjawab galak, namun
anehnya Bian malah tersenyum. “ aku hanya pedagang somai kak, aku hanya penjaga
mini market malam, dan kau, hah! Siapa kau sebenarnya? Lagipula kau sudah
bertunangan, rasanya tidak pantas bagiku bertemu denganmu, apalagi aku berteman
dengan tunanganmu. Manda sangat cantik, dan dia wanita yang sangat baik. Aku
tidak mau dia salah sangka dengan persahabatan kita.”
“ Maafkan aku key.”
Pandangan mata mereka bertebu.
Beberapa lama mereka saling berpandangan. Mencoba menyelami perasaan satu sama
lain. Key yang berusaha menutupi gejolak yang ada di dadanya. Dia tahu, sangat
tahu, bagaimana hatinya sekarang. Tidak jauh berbeda dari Bian. Iapun merasakan
perasaan yang nyaris sama pada gadis itu. Perasaan yang sama-sama mereka tutupi
dalam kata persahabatan.
“ Tidak ada yang perlu minta maaf
dan dimaafkan kak, aku juga tidak rugi apa-apa. Tapi seperti yang aku katakan
tadi, kita akhiri semuanya disini. Jangan pernah datang lagi kemari. Sungguh,
aku tidak membencimu, namun akan ada orang yang salah paham dan bisa jadi
terluka nanti dengan pertemanan kita.” Key Mengatur bicaranya agar terdengar
“ Aku tidak bisa melakukannya.” Kata Bian tegas.
“ Maksudnya apa?” key terkejut dengan jawaban cepat Bian.
“ Aku tidak bisa melupakanmu begitu
saja, kau memintaku mengangapmu apa, piknik pelepas lelah?”
“ kak.” Key mulai merasa frustasi.
“ Aku menyukaimu key. Kau tahu itukan?”
Key terdiam, mata mereka bertemu.
“ Aku jatuh cinta padamu.”
Mendengar itu dada key berdegup
kencang. Bahkan tangannya gemetar. Ada perasaan senang yang tiba-tiba menyelip
di hatinya. Namun langsung terguyur air kesadaran. Bahwa laki-laki yang ada di
hadapannya ini adalah seorang CEO, dan bahkan yang lebih penting dari alasan semuanya
adalah, dia sudah bertunangan, dan bertunangan dengan teman smunya, yang cantik
dan juga luar biasa baik.
“ Apa kak Bian sadar dengan apa yang kak Bian ucapkan?”
“ Aku jatuh cinta padamu Key. Tetaplah bersamaku.” Bian meraih tangan Key. Gadis itu berontak ingin
melepaskan, namun tangan Bian terlalu kuat. Dia memegang tangan Key hingga
akhirnya gadis itu melunak, ia membiarkan gengaman erat itu. Rasa hangat
mengalir ke seluruh tubuhnya. “ Apa kau benar-benar tidak suka padaku.”
“ Ia.”
“ Aku benar-benar merasa sangat
sedih key.” Kata-kata Bian menusuk hati key, membuatnya merasa bersalah.
“ Maksudku bukan aku tidak menyukaimu kak. Tapi.”
“ Jadi apa lagi, jadilah kekasihku.” Tangan Bian semakin erat. Key binggung bagaimana ini, kenapa malah
seperti ini. Seharusnya diakan marah dan memutuskan hubungan, kenapa jadinya
malah sebaliknya.
“ Bukankah kak Bian sudah bertunangan, seluruh negri ini juga tahu, siapa tunangan kak Bian. Bagaimana
mungkin sekarang kak Bian mengatakan menyukaiku dan memintaku menjadi kekasih.
Bukankah itu tidak masuk akal.” Perlahan Bian melepaskan tangannya. Dia
terdiam. Apa yang key katakan memang sangat benar. Untuk alasan apa sampai key
mau menerima perasaannya. Jelas-jelas hari ini, seluruh tv nasional menayangkan
berita pertunangannya. Dan bagaimana mungkin dia berharap ada seorang gadis
yang mau menerima perasaanya. Wanita baik-baik tidak akan pernah melakukan itu.
“ Baiklah kak, kita akhiri saja semuanya di sini. Kita kubur semua perasaan
kita, demi kebaikan semua orang.”
Bian menatap Key tajam. Kali ini
key bisa merasakan ada kemarahan di sana. Sesaat muncul setelah Key
menyelesaikan kalimatnya tadi.
“ kenapa? Kenapa aku harus berkorban untuk kebahagiaan orang lain.”
“ Kak.”
“ Pertunangan itu hanyalah sandiwara perusahaan. Kau tahu, ah, kau pasti tidak akan paham key. Dunia ini
bukanlah kehidupan penuh tawa seperti yang kau jalani. Aku harus hidup
bersandiwara seumur hidupku, tersenyum padahal aku sedang marah. Dan aku
mengenal seorang wanita yang sepanjang hidupnya harus terus tersenyum penuh
kebohongan seumur hidupnya. Ya ibuku, kau tahu, pernikahan mereka hanyalah
kerja sama bisnis, diawali dengan kebencian dan di isi dengan kebohongan,
melahirkanku. Kau benar, aku pria kesepian malang yang lahir di keluarga kaya
raya. Orang lain mungkin banyak yang iri dengan posisiku, aku ahli waris
tunggal kerajaan adiguna grup. Hah! Kalau saja mereka tahu bagaimana aku
menjalani hidup.”
Ah, kata-kata Bian barusan. Gadis
itu malah ingin memeluk Bian sekarang. Dia mengulurkan tangannya, mengengam
erat tangan Bian. Mencoba mengalirkan cinta pada kehidupannya yang putus asa.
“ Aku tahu, aku bersalah pada
Amanda. Tapi perasaanku padanya, haruskan aku membohongi diriku. Akupun tidak
mau dia hidup seperti ibuku. Hidup dalam sandiwara yang menyedihkan seumur
hidupnya.”
Wajah cantik Amanda muncul di
kepala key. Senyumannya saat memuji Bian semalam. Bagaimana dia mengatakan,
bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada tunangannya. Membuat Key bimbang
melangkah. Dia ingin memeluk Bian, namun ia bukan wanita sinting. Dia masih
benar-benar bisa berfikir waras, bahwa laki-laki yang ada dihadapannya sekarang
adalah tunangan wanita lain.
“ Kak.”
“ Jadilah pacarku key. Cukup antara kita saja.”
Apa maksudnya. Menjadi pacar laki-laki yang jelas-jelas sudah bertunangan.
“ Maafkan aku kak, aku tidak bisa
melakukan itu, sebesar apapun perasaanku untukmu, aku tidak bisa pacaran dengan
laki-laki yang sudah bertunangan dengan wanita lain.”
Wajah Bian semakin terpuruk sedih.
“ Bagaimana kalau pertunangan kami dibatalkan.” Katanya dengan mudahnya.
“ Apa! Membatalkan pertunangan, yang benar saja kak. Kalian bahkan baru bertunangan semalam. Dan bagaimana dengan Amanda, semalam dia begitu sangat bahagia. Dan orang tuamu bagaimana
dengan mereka. Ibumu pasti akan merasa sedih bukan.”
“ Berhentilah membiacarakan kebahagiaan orang lain” marah. Key sampai terkejut, dia melepaskan tangan Bian karena merasa takut. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar sulit di tebak
perasaannya. “ Amanda, orang tuaku. Kenapa kamu begitu perduli pada mereka.
Lantas aku, kenapa tidak melihat dari sudut pandangku.”
Aaa, kenapa malah jadi begini. Key binggung.
“ Tidak bisakah kau melihatku,
mengengam tanganku erat dan percaya padaku. Kita jalani ini bersama, kedepannya
seberat apapun yang harus kita hadapi, akan kita hadapi bersama. Tidak perlu
berfikir tentang siapa-siapa sekarang, tidak, jangan pusingkan perasaan lain.
Kita jalani hubungan kita saja. Kumohon, percayalah padaku.”
Bagaimana ini.
“ Pegang tanganku key. Kita lakukan
ini bersama.”
Bagaimana aku harus mengambil sikap
sekarang. Membohongi perasaanku bahwa aku tidak menyukai kak Bian, atau menutup
mata dari semua orang. Termasuk dari Amanda. Bertubi-tubi perasaan bersalah
muncul.
BERSAMBUNG.................
Keputusan apapun yang kamu ambil akan selalu ada tanggung jawab dan resiko @LaSheira