
Pak Wahyu memulai ceritanya
Semua orang sudah menyiapkan hati mereka masing-masing.
Mbak Key adalah wanita yang saban malam selalu di antar Mas Bian dengan
jalan kaki. Pulang ke rumahnya selepas bekerja di minimarket. Alasan Mas Bian yang ingin menggandeng tangan
Mbak Key, membuatnya melakukan itu setiap malam. Dan yang paling penting dari itu semua, Mbak Key berhubungan langsung dengan putra Nyonya Jesika.
Ibunya Mbak Key adalah teman SMU Nyonya Jesika. Seperti itulah Tuan, kenapa Mas Basma
bisa tinggal bersama dengan keluarga angkatnya. Mas Bian sudah lama bertemu
dengan adiknya, walaupun mereka tidak tahu kenyataan ini. Mas Bian dan Mas
Basma tidak terlihat akrab, seperti itu yang saya lihat selama perjalanan hari
ini.
Kedua orangtua Mbak Key meninggal di hari yang sama, tertulis jelas di batu
nisan mereka.Tapi, saya tidak tahu alasan penyebab kematian mereka. Mereka
terbaring bersama, berderet dengan makam Nyonya Jesika. Setiap tahun mereka
mengunjungi makam orangtua mereka, Mas Basma juga berdoa secara khusus untuk
Nyonya Jesika.
Hati yang mendengar mulai tersayat pilu.
Bibi Salsa adalah wanita yang selama ini merawat Mbak Key dan Mas Basma
setelah orangtua mereka meninggal. Ibu Mbak Key, Nyonya Jesika dan Bibi Salsa
adalah teman SMU yang mengikat persahabat dengan kuat. Saya rasa, beliaulah
kunci yang bisa menguak tabir apa yang terjadi pada Nyonya Jesika. Karena
mendengar nama Anda disebut saja sudah membuat dia gemetar takut. Sikap
ramahnya pada Mas Bian langsung berubah tadi.
Mungkin semuanya memang ada hubungannya dengan Nyonya Yuna. Baik itu
menghilangnya Nyonya Jesika dan kepergiannya, atau meninggalnya orangtua Mbak
Key.
Begitulah gambaran singkat yang Pak Wahyu temukan hari ini. Benang samar
yang terlihat dari sikap antipati Bibi Salsa pada nama Adiguna Group,
menjelaskan bahwa Adiguna Group telah melakukan kesalahan besar. Bukan bagi
dirinya, namun pada mereka yang telah
berpulang. Pak Wahyu melihat jelas pandangan iba saat melihat Basma, dan
sebaliknya saat melihat Bian.
Pak Wahyu mengakhiri cerita singkatnya.
Dia berdoa dalam hatinya berharap, apa pun yang terjadi, semoga Mas Bian
tidak menjadi tempat pelampiasan kebencian. Karena dia tahu bagaimana anak yang
ia layani itu tumbuh dan menjalani kehidupannya. Senyum samar yang terlihat
senang saat menjemput setelah mengatar Key, Pak Wahyu berharap semua itu tidak
akan menghilang.
Adiguna bangun dari duduk, melihat ke arah sekretarisnya.
“ Siapkan mobil, malam ini juga.”
“Tuan.” Pak Wahyu sudah menduga, inilah reaksi yang akan diberikan
Adiguna. Kerinduan, rasa bersalah sekarang sedang bercampur dengan
keputusasaan. Dia tahu putranya ada, tapi tidak bisa memeluknya.
“ Jangan mencegahku Pak. Putraku ada di dekatku, tapi aku bahkan tidak
punya kesempatan memeluknya. Aku akan menemuinya sekarang, kalau perlu berlutut
dan memohon pengampunan Jesi padanya.”
Pendekatan Adiguna Group melalui
Frezze Parfume sama sekali tidak membuahkan hasil. Walaupun kedatangannya akan
membuat semua orang terkejut, itu lebih baik bagi Adiguna. Daripada dia harus
menahan semua ini sendiri.
“ Ketua, penolakan Mbak Key bisa membuat semuanya menjadi lebih rumit.”
Lagi-lagi Ayah Anjas menyentuh bahu Adiguna. “ Sebelum menemui mereka, informasi
mengenai bagaimana Nyonya Jesika hidup dan meninggal jauh lebih utama. Basma
tidak akan pergi ke mana-mana sekarang, tapi kalau kita tidak mencari tahu
semua latar belakang dan kenyataan sebenarnya, bagaimana kalau dia menolak, bahkan
yang lebih parah. Kalau sampai dia menutup pintu hatinya.”
Pandangan yang tadinya sudah berapi-api melemah. Benar juga, itu pukan hal yang penting sekarang. Kepergian Jesi,
kematian Jesi, apa semua itu berhubungan dengan Yuna adalah hal utama yang harus
ia kuak. Dada Adiguna sudah bergemuruh menahan sesak.
“ Kalau benar kemalangan Jesi semua karena Yuna, itu semua salahku.
Salahku yang mencintainya.” Pandangannya samar tertunduk. Bayangan tawa Jesika
lagi-lagi menghantui di pelupuk mata. Sekali pun dia terpejam. “ Siapkan
semuanya besok.” Dia harus mencari kebenaran melalui Bibi Salsa.
Fakta bahwa Key wanita yang dicintai Bian luput dari perhatian mereka
semua.
***
Selepas makan malam Key meluruskan lututnya. Memijat jari-jari kakinya
mengusir lelah. Beberapa jam duduk di dalam mobil. Menghadapi sikap bibi,
benar-benar menguras energinya.
Kalau sikap bibi saja seperti itu, bagaimana aku bisa menunjukan wajah
di hadapan Amanda.
Key ambruk, wajahnya tenggelam di bantal. Ia menghela nafas kuat. Kenapa
harus seperti ini perjalanan asmaranya. Kenapa Kak Bian harus seorang CEO. Kalau
saja mereka berasal dari kalangan yang sama pasti tidak akan serumit
ini hubungan mereka. Atau kalau aku, tidak Key jangan menyalahkan takdir. Tuhan sudah melahirkanmu dari keluarga yang menyayangimu. Kau bahagia bersama orangtuamu sebelum mereka pergi. Sekali lagi kesadaran menghantam Key keluar dari angan-angan.
Benar, inilah perbedaan kami.
“ Mbak Key, minyak kayu putih di mana? Kakiku pegal.” Basma berteriak dari
ruang tengah. Terdengar dia membuka laci-laci lemari. “ Nggak ada ya mbak?” Suara dia menutup laci terdengar sampai kamar. Dia pasti sudah mencari kemana-mana tapi tidak ketemu, sampai kesal sendiri.
Key mengangkat kepalanya.
“ Ini Bas, mbak pakai barusan.” Mencari-cari di bawah selimut botol kecil
minyak kayu putih.
Basma duduk di samping Key. Memijat kaki dengan baluran minyak kayu
putih. Melihat Key yang lekat memandangnya. Mata mereka berbenturan pandang.
“ Kenapa?” Memijat kaki kanan.
“ Cape ya Bas?”
“ Hatimu kan lebih cape mbak, jadi jangan mengkhawatirkan aku.”
“ Apa sih, anak ini.” Mengacak rambut Basma.
Key memilih ambruk di atas tempat tidur, menarik selimut sampai ke
lehernya. Ia hanya ingin tidur malam ini dan mebuang jauh semua kekhawatiran
yang samar mulai menyeruak sedikit demi sedikit.
“ Mbak.”
“ Hemm.”
“ Jangan terlalu sedih dengan sikap Bibi Salsa, dia hanya khawatir pada
kita, bibi kan menggantikan ibu dan ayah selama ini, jadi dia mencemaskan
pilihan Mbak Key karena Kak Bian laki-laki yang sudah bertunangan.”
Hembusan nafas berat keluar di bawah selimut.
Aku, ah, mungkin memang ini semua salahku Bas. Andai aku tidak meraih tangan
Kak Bian. “ Menarik selimut sampai menutup kepala. “ Kalau saja aku tidak
serakah dan ingin bersama Kak Bian.”
Masalahnya kalian saling menyukai, ini bukanlah salahmu atau laki-laki
itu.
Kalian hanya bertemu di waktu yang salah. Begitu Basma berfikir. Dia
menarik selimut yang menutupi wajah Key. Wajah yang sangat ingin ia sentuh itu. Kepala yang sangat ingin ia sandarkan di bahunya.
Sadar Bas, sadar diri kamu.
“ Mbak, kalau Mbak harus memilih antara aku dan Kak Bian, Mbak akan
memilih siapa.” Teringat ucapan Bibi Salsa, kalau Key pasti akan mendengarkan permintaanya.
“ Jahat kamu Bas, kenapa menanyakan hal seperti itu.”
Key tidak pernah membayangkan jika dia harus berada di sebuah jembatan
ringkih, Bian ada di ujung sebelah kanan dan Basma ada di ujung sebelah
kiri. Memanggilnya dengan suara menyayat. Untuk bertahan hidup, dia harus berlari ke salah satu arah.
Memang kenapa aku harus ada di situasi mengerikan seperti itu.
Key bangun, menekuk lututnya. Menaruh dagunya.
“ Kamu dan Kak Bian adalah bagian berharga dalam hidup Mbak Key sekarang
Bas. Mbak nggak akan memilih salah satu di antara kalian.” Memukul bahu Basma. “
Jangan bertanya yang aneh-aneh lagi.”
Aku ingin memilikimu sendirian, tapi tidak dengan wajah terluka. Aku
ingin memilikimu sendirian dalam keadaan bahagia Mbak. Seperti sebelum Kak Bian
muncul dalam hidupmu.
“ Kalau begitu, aku ganti pertanyaannya deh. Kalau aku dan Kak bian
menangis, siapa yang akan mbak pinjami tangan untuk mengusap airmata kami. Aku atau Kak Bian?”
Apa-apaan pertanyaan yang sama mengerikannya itu.
“ Sudah sana, mbak mau tidur. Nggak mau menjawab pertanyaan kamu yang
aneh-aneh itu.”
Basma manyun saat Key menendang tubuhnya untuk turun. Akhirnya dia
bangun juga karena sudah selesai membaluri minyak kayu putih di sendi kaki
yang pegal.
“ Malem Mbak, tidur yang nyenyak ya.”
“ Basma juga. Selamat malam.”
Key mengikuti langkah kaki Basma.
Kenapa aku harus memilih diantara kalian, kalau pun aku harus memilih
aku pasti lebih memilih menangis sendiri.
Basma memegang pintu. Melihat Key.
“ Jangan berfikir untuk memilih menangis sendiri. Mbak, aku mendukung
hubunganmu dengan Kak Bian karena sejauh ini aku melihatmu bahagia.” Basma tidak
mau mendengar jawaban Key, dia langsung menutup pintu. Bersandar ke tembok
sambil memegang dadanya sendiri.
Dia takut, kalau ternyata Key lebih memilih Bian daripada dirinya.
***
Apa si Basma ini aneh-aneh saja.
Huaaaaa, pesan selamat malam. Aku hampir
lupa. Untung aku belum tidur.
Sadar ada yang terlupa.
Lagi-lagi mencari-cari hp yang tertimbun selimut. Ternyata bersembunyi
di bawah bantal. Batrenya sudah berkedip-kedip merah. Panik mencari charger hp.
Tring…tring… pesan masuk. Wajah sedihnya
sudah berganti bersemu senang.
Gila ya, memang begini apa rasanya jatuh cinta. Cuma dengar nada pesan yang khusus di setting untun Bian sudah membuat dada Key berloncatan senang. Padahal seharian tadi mereka sudah bersama.
“ Key, sudah tidur?” Pesan pembuka dari Bian.
“ Sudah Kak.” Emoji tertawa terbahak-bahak.
Hening.
Lho, kok nggak bales. Aaaa, kan ada emoji ketawanya, apa Kak Bian
berfikir aku beneran tidur.
Bagaimana ini, terserang panik.
“ Kak, Kak Bian sudah tidur ya.” Mau memberi emoji sedih berderai
airmata tapi dia hapus lagi. Akhirnya hanya bertanya.
“ Ia, sudah tidur.”
Dih, apa-apaan sih. Key melemparkan hpnya. Geli, untung masih
menggantung di kabel jadi tidak membentur lantai. Bian sedang membalas Key.
“ Kak Bian sudah makan malam? Key dan Basma sudah makan tadi. Beli
makanan.”
" Makan apa?"
" Beli sate yang ada di depan gang, Kak Bian sudah makan?"
Wajah Key bersemu-semu.
“ Sudah Key, Pak Wahyu masak hidangan lengkap tadi. Kapan-kapan Key
cicipi masakan Pak Wahyu ya."
Deg, apa itu artinya dia mengundangku ke rumahnya.
“ Key…”
“ Key….”
“ Tidur ya.”
Dering keras hp. Sampai Key terlonjak kaget. Bian menelfon.
“ Hallo Kak.”
“ Kenapa lama balas pesannya? Sudah ngantuk ya.”
“ Belum Kak, maaf. Itu…”
“ Kenapa? Kalau kamu lelah ya sudah, aku tutup ya?”
“ Tidak Kak, tunggu. Key lagi
milih striker makanya lama.” Wajahnya merah padam karena malu. “ Key tutup ya,
kita kirim pesan saja.” Langsung menutup telfon. Membenturkan kepala ke bantal
beberapa kali.
Memalukan!
Key baru saja mendownload aplikasi pembuat stiker lucu-lucu di hpnya.
Tapi karena ini baru pertama kalinya dia pakai stiker pesan dia jadi bingung
dan malu.
Kenapa stikernya banyak hatinya semua begini.
Tring… pesan masuk.
“Boneka panda memegang hati berwarna pink bertuliskan love you.”
Huaaaa, apa ini. Kenapa Kak Bian malah mengirimiku stiker duluan.
Malam itu mereka perang stiker sampai tengah malam.
bersambung
Hayoo siapa yang suka balas chat kelamaan gara-gara milih stiker 🤭🤭