Key And Bian

Key And Bian
Anjas menjadi penengah (part 1)



Gelanggang olahraga ini adalah


sebuah stadium mini, tidak bisa di sebut mini juga. Karena hampir semua


olahraga bisa di lakukan di stadium ini. Dua lapangan futsal, kolam renang,


lapangan tenis, bola basket, gelanggang tinju dengan ringnya, gim yang lengkap.


Serta sebuah aula, tempat biasanya latihan bela diri berlangsung. Tempat ini


akan ramai akhir pekan, jika hari kerja, tempat ini akan ramai jika sudah sore


menjelang malam. Sampai tutup jam 11 malam. Orang-orang selain berolahraga juga


senang nongkrong dan bergaul di tempat ini. Ya, tempat mereka bisa


bersosialisasi dengan kelas sosial yang setara.


“ Bi, kau mau membunuhku.”


Anjas sudah terbanting diatas


matras. Bian mengatur nafasnya yang berhembus kencang. Dia sudah kelelahan.


Wajahnya di penuhi kemarahan. Hasrat yang kerap kali ia tunjukan jika dia sudah


tidak bisa menahan kebencian di dalam hatinya, rasa putus asanya terhadap


banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Anjas bangun, memasang kuda-kuda


lagi. Tinju tangan kiri Bian menusuk ke depan, kakinya masuk dari arah kiri.


Tepat dipinggang Anjas. Pria itu mengaduh berulang-ulang, dia melihat sorot


mata Bian, sama sekali tidak bersahabat.


“ Hei, apa salahku, kenapa kau ingin membunuhku.”


Mendengar pertanyaan itu Bian malah


semakin marah, dia  melayangkan pukulan


bertubi-tubi. “Hei hentikan.” Anjas mundur beberapa langkah.


“ Kenapa? Kenapa kau membawanya ke pesta semalam?”


“ Siapa.” Mundur beberapa langkah,


menghindari kaki Bian. “ Amanda dia memang pasti datangkan, ayahmu, ibumu. “


kali ini tangan Anjas menangkis tangan Bian. Bian mengaduh, saat tangannya


terpelintir. Refleks Anjas melepaskannya.


“ Gadis penjaga kasir itu bodoh,


kenapa, kenapa kau membawanya ke pesta?”


“ Key? Kenapa dengan Key? Hentikan Bi.”


Saat tinju Bian tepat menuju wajahnya,


Anjas menangkisnya dengan sempurna, memelintir tangan Bian, lalu menekuknya, Bian


menyeringai kesakitan. Anjas mendorong tubuh Bian sampai terjerembah ke matras.


Nafasnya ngos-ngosan. Anjas berjalan mendekat, menindih kaki Bian agar berhenti


bergerak.


“ Kau menyukainya?”


Bian mendengus dan memalingkan


wajah, namun Anjas bisa melihat sorot mata sedih yang coba disembunyikannya.


“ Aku bahkan tidak berani mengatakan siapa aku kak”


Anjas mulai mencerna kemarahan Bian, dia bangun dari kaki Bian, lalu berbaring diatas matras mensejajari tubuh lelaki malang itu. Kalau dari segi ilmu bela diri Anjas berada diatas Bian,


namun dia selalu mengalah dalam banyak hal. Baginya Bian bukan hanyalah anak


dari bos orang tuanya, atau laki-lakai beruntung yang bergelimang kemewahan


yang menjadi bosnya, dia selalu mengangap Bian seperti adiknya yang malang.


Pria muda yang tumbuh dengan kebencian di dalam dadanya. Seseorang yang lahir


dari kebencian dan tubuh besar dengan kepalsuan.


“ Sejauh apa hubunganmu dengannya?”


“ Kami bertemu setiap malam.” Bian


memulai ceritanya. Anjas terkejut bukan main. “ Ya, gadis itu membawakanku


makan malam buatannya. Di kotak bekalnya yang mungil, sambil tersenyum dia akan


menghabiskan bekalnya sambil bercerita banyak hal.”


“ Dan...”


“ Dan aku menikmatinya, aku tidak


mau kehilangan setiap moment berharga bersamanya. Jadi aku tidak pernah memberi


tahu siapa aku sebenarnya. Tentu saja sampai malam tadi, dia tahu siapa aku


dengan cara seperti itu. Kau pikir dia tidak membenciku sekarang.”


Bian menendang Anjas lagi. Pria itu


tidak membalas ataupun menghindar. Dia membiarkan Bian melampiaskan semua rasa


kesalnya.


“ kau takut kalau kau mengatakan siapa dirimu key akan berubah?”


“ Ntahlah.” Suaranya terdengar sangat sedih “ mungkin aku yang bodoh.” Kini ia memaki dirinya sendiri dengan marah.


Sekelebat wajah seorang gadis


melintas dalam ingatan Bian. Gadis polos yang ia temui di sebuah gelanggang


olahraga saat ia pergi jogging. Gadis manis yang awalnya tulus mengulurkan


persahabatan padanya, namun semuanya berubah, saat ia tahu siapa dirinya. Gadis


itu seperti menjadikannya alat untuk mendapatkan kelas sosial dalam


kehidupannya. Hingga Bian begitu membencinya seperti perasaan yang muncul pada


wanita-wanita yang dekat dengannya selama ini.


“ Kenapa tidak kau beri kesempatan


Key untuk masuk ke hatimu.”


Bian tertawa. “ Terlambat kak.


Semuanya sudah terlambat, aku yakin, dia membenciku. Aku bahkan tidak berani


melihat matanya kemarin. Tapi sejujurnya aku lebih senang kalau dia membenciku.


Itu benar-benar menunjukan kepolosannya.”


“ Bi, kamu tahukan setiap orang itu berbeda-beda.”


“ Ntahlah.”


“ Kenapa tidak mengatakannya dari


awal, kau tidak perlu membunuhku seperti ini. Auu, badanku rasanya sakit semua.


“ Anjas berdiri, menyambar handuk. Dia sudah paham duduk masalahnya sekarang.


“ Kau mau kemana kak.”


“ Bekerja, aku ini cuma pegawai di Grand Mall.”


Bian masih tidak bergerak dari


matras, dia memandang ke langit-langit ruangan yang tinggi. Wajah Key yang


ceria muncul begitu saja. Senyum senangnya semalam saat bertemu Aryamanda, saat


tangan aktor tampan itu mendarat dikepalanya. Rasa cemburu dan marah Bian


serasa pudar melihat senyum dan tawa bahagia Key. Ya semua kejadian semalam


tidak lepas dari pengamatannya. Bagaimana kedekatan Key dan Amanda, dalam hati


dia berkata, ternyata Amanda gadis yang cukup baik. Semuanya ia rekam dalam


ingatannya, bahkan sampai Key menghilang dengan truk makanan milik Adiguna


grup. Dia juga tahu, kalau gadis itu berkeliling mencarinya semalam, namun ia


tidak punya keberanian, dan hanya bersembunyi. Akhirnya ia pergi membawa semua


kegundahannya. Bahkan ia tidak berani untuk hanya sekedar menyentuh ponselnya


dari semalam. Walaupun iapun tidak terlalu berharap key akan menghubunginya


 


“ Mba kak anjas telfon.” Basma


menyodorkan ponsel kepada key yang sedang mengeringkan mangkok-mangkok kecil.


Mereka berdua sudah mencuci semua pekakas yang kotor. Tinggal membereskan dan


menyimpannya di gudang.


“ Hallo kak, ini key” key


“ Hallo key, mau menagih janjimu siang ini.”


“ Apa kak?” binggung sendiri, tidak


merasa berjanji apa-apa.


“ Traktir aku makan siang.”


“ Ooo, baik, baik. Kak anjas mau


ditraktir dimana, nanti kita bisa ketemuan di sana.”


“ Gak usah, kirim alamat rumah key


aja, biar aku yang jemput.”


“ Gak usah kak, nanti merepotkan.”


“ Gak papa, udah dulu ya, sampai


ketemu nanti. Eh, tapi kamu gak dagangkan hari ini?”


“ Gak kak, key libur, beres-beres


perlengkapan semalam.”


“ Oke deh, nanti setengah jam


sebelum berangkat aku kabarin lagi ya, hari ini full agenda.”


“ ia kak, semangat.”


Telfon terputus. Dia memandang


adiknya yang menunggu penjelasan. “ Kak anjas minta untuk di traktir.”


“ Sekarang?”


“ Nanti siang. Bas ikut ya.”


Basma terlihat berfikir keras,


tidak mungkin kak Anjas tanpa alasan menelfon minta untuk ditraktir. Rasanya


mustahil jika hanya karena alasan balas budi. Ini pasti ada hubungannya dengan


Bian. “ Gak ah kak, aku ada janji.”


“ Janji apa?”


“ Sama kasur. Haha.”


Key melemparkan lapnya, mendarat


tepat di wajah Basma yang massih terkikik. Mereka meneruskan membereskan


mangkok. Setelah boks terisi penuh mereka berdua sama-sama mendorong masuk ke


dalam kamar yang dijadikan gudang untuk menyimpan pekakas. Ruangan yang dulu


menjadi tempat produksi roti.


“ Aaa, selesai juga. Banyak juga ya


bas, mau kita apakan mangkok-mangkok itu ya.”


“ kenapa kamu gak jualan pake


mangkok aja mba, lebih hematkan, mengurangi sampah plastik jugakan. Ikut


menjaga alam dari limbah plastik yang butuh tahunan untuk di urai oleh alam.”


“ Ia si, kadang mba merasa sedih


juga liat sampah plastik makanan banyak sekali, tapikan mangkoknya kecil bas,


gak cukup buat lima somai.” Key selonjoran sambil menyalakan tv. Berita hiburan


nasional.


Tangan key langsung terdiam, dia


ingin memencet remote namun tangannya tidak bergerak. “ Sudah mba, gak usah


dilihat.” Basma mengambil remote tv dan menganti saluran. Berita pertunangan


pewaris Adiguna grup dan model cantik pewaris Morela sedang menjadi berita


terpanas hari ini. Dari tadi pagi, hampir semua stasiun tv mengulang-ulangnya


dari berbagai versi cerita.


“ Mereka memang terlihat sangat


serasi.” Ujar key pelan. Akhirnya Basma menemukan acara memasak di sebuah tv.


Merekapun menonton itu. “ Cantik dan tampan, sama-sama memiliki status sosial


yang sama.”


“ Apa si mba.” Basma menoleh pada


key. “ Kamu benar-benar menyukainyakan.”


“ Tidak.” Key panik sendiri.


“  Tidak apanya.”


“ Benar bas, kami ini hanya teman,


teman saja tidak lebih. Aku memang berlebihan, aku tidak sedang memprotes


hubungan mereka kok, atau iri pada Manda. Haha, bagaimana mungkin aku bisa


mensejajarkan diri dengan seorang Amanda Hiller. Apa aku sudah gila. Hanya,


hanya...”


“ hanya apa mba?”


“ hanya ntah kenapa, bagian kecil


di hatiku merasa sakit.” Key memyentuh dadanya, bibirnyapun bergetar. “ Aku


tidak seharusnya marah, kesal ataupun kecewa dengan pertunangan itu, karena


jelas-jelas hubunganku dengan kak Bian memang hanya persahabatan. Diapun hanya


mengangapku begitu. Jadi akupun memang tidak berhak untuk marahkan.”


“ kenapa tidak kamu hubungi kak


bian saja mba, bertanya padanya dan minta penjelasan darinya.”


Key mengelengkan kepalanya


keras-keras.


“ Tidak, bagaimana mungkin aku


minta dia menjelaskan sesuatu yang aku sendiri tidak ada hak apapun di sana,


kami hanya teman bas, lantas bagaimana mungkin aku harus bertanya tentang,


kenapa dia bertunangan. Tapi...." Kata-kata Key menggantung. " Tapi, kenapa kalau dia punya pacar dia mendekatiku dan begitu


baik padaku.” Pada akhirnya kalimat itu diucapkan juga oleh key. “ kenapa dia


mendekatiku, kenapa kami harus berteman dan menjadi begitu dekat jika dia


bahkan punya tunangan yang begitu cantik. Kenapa dia mengajakku bicara.”


Air mata tanpa alasan kembali mengantung dipelupuk mata key. Basma tersadar, dia


mengusap air mata itu lembut. Menyandarkan kepala key ke bahunya. Membiarkan


perlahan isak key ia lepaskan. Ya, gadis setegar karang ini pada akhirnya rapuh


juga oleh perasaan cinta. Ia tak akan menangis tentang kerasnya kehidupan yang


harus ia jalani, atau pada lelahnya semua upaya dan kerja kerasnya untuk hidup


secara layak. Ia menangis untuk laki-laki yang bahkan tidak dia akui kalau ia


menyukainya. Basma membiarkan key sesengukan, melepaskan semua tangisnya.


BERSAMBUNG......


Update banyak gaesss, like ya biar aku seneng... wkwkw 😉😉😉