
Masih ramai membicarakan aksi Kak Anjas menyerahkan bunga pada Amanda secara terang-terangan.
Bian
menggandeng tangan Key, menundukan kepala pada orang-orang lalu naik ke tangga.
Dua orang asisten MUA mengikuti dia biarkan . Karena riasan mata Key memang agak berantakan
oleh isak airmatanya jadi alasan Bian membawa Key masuk. Yang ditemuinya mangut-mangut, apalagi saat melihat dua gadis berjalan di belakang mereka.
Sesederhana itu yang dipikirkan dua asisten itu, tapi setelah masuk ke dalam kamar khusus yang dipakai merias pengantin tadi.
“ Kalian
berdua bisa keluar.” Bian bicara hanya mengalihkan pandangan sesaat dari Key.
Eh, keduanya
saling pandang. Ragu bertanya tapi tidak mau keluar dari kamar juga. Sesi foto
keluarga sebentar lagi dimulai. Dengan memakai pakaian yang mereka pakai waktu
akad. Keributan di luar juga sudah mereda. Lantunan musik dan lagu yang terdengar. Pasti para tamu sedang menikmati hidangan. Disela-sela itu akan ada sesi foto secara bergiliran.
“ Maaf Mas,
sebentar lagi sesi foto, kami mau merapikan riasan Mbak Keysha.” Agak-agak cemas asisten satu menjawab.
" Ia
Kak." Key juga merasa tidak enak seperti mendapat tatapan memohon dari
keduanya.
" Hah!" Keluar desahan yang membuat keduanya langsung menciut. "Sebentar saja, kalian berdua keluarlah." Karena sudah mendengar perintah
untuk kedua kalinya akhirnya mereka menundukan kepala dan keluar. Menoleh sekali lagi, berharap di cegah. Nihil. Langkah berat mereka terdengar dengan jelas.
Di balik
pintu.
“ Huaaa, aku
takut sama Mas Bian beda banget auranya pas kita liat tadi di bawah. Tadi
gemes-gemes gimana gitu pas nempel-nempel sama Mbak Keysha.”
“ Tadi waktu
aku merias dia aja sama sekali nggak senyum, aku mau ngucapin selamat saja
takut. Mbak Putri kemana si, biar Mbak Putri aja yang benerin makeup Mbak
Keysha.” Asisten kedua mencari MUA utama Mbak Putri. Aura Bian seperti dua orang yang berbeda, saat tadi mereka lihat dan saat mereka terusir.
“ Sepertinya
tadi Nyonya Yuna juga menangis, jadi sepertinya sekarang dia lagi sama Nyonya
Yuna.”
“ Haduh
gimana ini, aku nggak berani ngetuk pintu. Inget kan kata Mas Anjas kemarin
waktu briefing. Turuti saja maunya Bian ya,kalau dia nggak mau mau pakai ini
dan itu turuti saja, biar semua lancar.” Wejangan penting yang hampir saja mereka
lupakan. "Dia memang agak-agak banyak maunya. Jadi, demi kelancaran acara ayo saling bekerja sama, dengan mengalah saja." Hal pertama yang Anjas utarakan sebelum pekerjaan teknis lainnya.
“ Kita lapor Mas Anjas aya yuk.” Kesepakatan
dalam rapat dadakan terjadi, hasil finalnya jauh lebih aman melaporkannya pada
Anjas. Mereka bergegas turun menuju suara yang masih terdengar di luar rumah.
Sementara itu
di dalam kamar.
“ Kemarilah
Key.”
Bian meraih
tangan Key agar duduk dalam pangkuannya. Key merapatkan lututnya, kain yang dia
pakai membuatnya tidak leluasa bergerak. Dia melompat kecil, lalu duduk di pangkuan Bian.
“ Kau ingat
ibu dan ayahmu ya.” Mengusap pipi sampai ke ujung mata. “ Kau mengeluarkan
airmata karena bahagia kan?” memastikan. Kalau hanya akan ada airmata bahagia untuk selanjutnya.
“ Nggak tahu
Kak, kenapa airmata ini nggak mau berhenti, padahal Key merasa
bahagia sekali hari ini.” Memeluk Bian, menjatuhkan kepala di bahu Bian. “ Key ingat
ibu dan ayah, maaf ya Kak.”
“ Kenapa
minta maaf.” Mendorong pelan bahu Key. Mencium pipi yang sudah mengering. “Aku
mencintaimu Key. Aku akan membuatmu bahagia, kalaupun
menangis aku
akan memantikan itu hanya airmata bahagia.” Kecupan di pipi membasuh
semua sisa airmata. Bian melihat bibir mungil itu, lalu tanpa sadar dia mendekat.
Sedikit lagi, Key memejamkan mata.
“ Kalian mau
sampai kapan!” Anjas mendorong pintu kamar. Key langsung loncat dari
pangkuan Bian. “ Eh maaf Key, mau dilanjutkan?" Terpingkal sendiri, sementara Key merapikan bajunya. "Ehm, ehm, sebentar lagi
sesi foto akan dimulai” Asisten juru rias pias saat melihat tatapan menyala di
balik punggung Anjas saat ikut menerobos masuk barusan.
“ Sudah
kuduga kau akan muncul saat begini.” Bangun merapikan jas. Menyentuh pipi Ket yang terlihat malu.
" Kau juga sempat-sempatnya membawa kabur Key!"
“ Jangan emosi donk
Kak, tadikan sudah menunjukan pada dunia gadis itu milik siapa.” Menyeringai.
“ Amanda,
namanya Amanda.”
“ Ya, ya,
kekasih Kak Anjas dan teman SMU istriku, Amanda. Puas." Menoleh pada Key. " Aku tunggu di bawah ya
Key.” Langsung berubah total nada bicaranya. Menyentuh dagu Key lembut lalu
keluar dari kamar, mendorong tubuh Anjas.
Dasar kurang
ajar! Kau tidak tahu seminggu ini aku kurang tidur mengurus hari
pernikahanmu ini! Aaaaa, aku maafkan, karena Amanda terlihat senang tadi.
Begitulah
akhirnya, sesi foto keluarga di mulai. Bergiliran satu persatu mengantri. Mereka sudah terlihat lelah. Namun rasa penuh syukur jauh lebih melimpah ketimbang rasa lelah itu. Istirahat sholat dan makan-makan lagi,
sampai tamu undangan beranjak pergi. Sesi petama pesta berakhir. Semua panitia sibuk membereskan lokasi pesta. Istirahat sebelum nanti malam untuk resepsi umum. Tamu-tamu yang kebanyakan kolega bisnis Adiguna Group.
Pesta berlangsung, tamu berdatangan silih berganti.
Di antara
keramaian pesta resepsi. Anjas duduk ambruk di kursi taman. Sementara Amanda menyentuh
kepala Anjas yang ada di pangkuannya. Membelai kepala itu, mengusir lelah. Dia tahu, kalau kekasihnya itulah yang paling bekerja keras untuk Kak Bian dan Key. Tapi tentu saja dibantu WO profesional juga. Angin semilir menerbangkan suara penyanyi nasional yang lembut memenuhi udara.
“ Manda, apa
tadi aku keren?”
Amanda
memalingkan pandangan,malu-malu mengakui. Dia menatap langit luas sambil tangannya membelai lembut kepala Anjas mengusir lelah.
lagi kalau Kak Anjas datang ke rumah bersama paman dan bibi menemui orangtuaku.” Lalu gumam-gumam sambil tertawa.
Eh, Anjas
langsung bangun. Melihat ke arah Amanda. Benarkan yang barusan ia dengar.
Selama ini ia masih dihantui ketakutan kalau Amanda masih ingin mengejar karir
dan kehidupan selebritinya. Hingga ia ragu untuk membahas masalah pernikahan.
“ Huaaaa, aku
bahagia!” memekik keras sambil kembali merebahkan kepala di pangkuan Amanda.
“ Hei
Kak,pelankan suaraamu. Tadi juga, kenapa teriak-teriak Amanda lagi.”
“ Supaya
cowok-cowok tadi berhenti melirikmu, karena kamu sudah jadi miliku.” Amanda menundukan kepala, menempelkan bibir Ke kening Anjas. Laki-laki itu mengerjap kaget namun senang.
Huaaa, aku senang sekali hari ini, sumpah. Kak Bian, siapa Kak Bian! Kak Anjas baru keren. Maaf ya Key. Hahaa.
Sayup-sayup
masih terdengar keramaian pesta.
***
Selesai sudah, hari yang penuh haru sekaligus tawa
kebahagiaan. Semua tamu meninggalkan pesta. Yuna sudah masuk ke dalam kamar karena lelah. Adiguna masih mengobrol dengan ayah Anjas, sambil menikmati angin dan melihat para panitia berbenah.
Di kamar pengantin, di lantai atas.
“ Mbak Key, aku masuk ya.”
Ada kelopak bunga menyambut langkah kaki Basma ke
dalam kamar. Key sedang duduk bersandar sambil menyelimuti separuh tubuhnya. Warna putih yang paling menonjol untuk dekorasi kamar. Bunga bermekaran. Tumpukan hadiah pernikahan rapi tersusun di sudut ruangan.
“ Kemarilah Bas, duduk di sini.” Key menepuk sebelah
tempatnya duduk, dia mengeser tubuhnya saat Basma ikut bersandar dan meluruskan
kaki. “ Teman-teman Kak Bian belum pulang ya?”
“ Belum mbak, tadi masih ramai waktu aku naik.”
“ Bagaimana Bas perasaan kamu hari ini? Cape ya?” Menyentuh kepala Basma pelan. “ Kamu
pasti mendengar orang-orang membicarakanmu. Bicara tentang Bibi Sarah di
belakangmu.”
Apalagi yang mau ditutupi batin Basma. Keberadaannya
asal usulnya menjadi daya Tarik sendiri. Ayahnya tanpa ragu mengenalkannya pada
keluarga besarnya. Bahkan menyebut nama ibunya yang langsung di sambut dengan
bisik-bisik. Menyebut nama Jesika.
Walaupun di luar itu banyak gadis yang mengerubutinya, setelah tahu statusnya siapa dalam Adiguna Group. Ada yang masih menyisakan bisik-bisik, namun ada yang bersemangat ingin mengenal lebih dekat.
“ Aku tidak apa-apa Mbak. Ibu datang melingkarkan
tangan di bahuku dan membelaku, itu sudah lebih dari cukup membuat mereka
terdiam.” Ya, walaupun masih terasa canggung, namun Basma mulai memanggil
Nyonya Yuna dengan panggilan ibu seperti yang ayahnya minta. “ Melihat sikap
ibu yang bisa berubah seperti itu. Aku benar-benar percaya dengan kekuatan cinta
Mbak.” Tertawa sendiri dengan apa yang ia ucapkan.
Basma merosot turun, menarik bantal dan tiduran di
samping Key. Sementara tangan Key menyentuh kepalanya. Mungkin setelah hari ini
tangan ini akan jarang menyentuh kepalanya.Tidak, mungkin tidak akan lagi.
Karena Basma akan menggali dalam perasaannya, memasukan rasa sayang yang
selama ini ia pendam semakin dalam.Biarkan hanya ia dan Tuhan yang tahu. Ia tak
akan pernah membongkarnya lagi. Ia ingin untuk terakhir kalinya, sentuhan lembut kakak perempuannya itu dikepalanya. Ia nikmati sekali ini lagi.
" Aku sudah cerita sedikit sama Rian Mbak, aku nggak mau dia dengar dari orang lain atau dari berita nantinya." Ya, Basma berbagi masalalunya pada Rian. Terkejut, pastilah. Lalu mulailah Rian berapi-api menganalisis alasan Frezze parfume yang aneh waktu itu. " Tapi aku juga mengancamnya, awas kalau cerita-cerita."
" Semua akan berjalan dengan baik Bas kedepannya. Fokuslah pada orang-orang yang menyayangimu. Biarkan orang diluar bicara apa pun. Kedepannya kita jalani bersama ya."
Ah, itu bukan pekerjaan sulit bagi Basma. Karena selama ini, dia pun sering tak acuh dengan perkataan orang lain.
“ Mbak Key, aku sayang sama Mbak Key. Walaupun
sekarang aku punya ayah dan ibu serta kakak laki-laki, tapi Mbak Key selalu
mendapat ruang paling besar di hatiku.” Memeluk bantal. “ Sampai kapanpun rasa
sayangku tidak akan pernah berkurang untuk Mbak key.”
“ Terimakasih ya Bas.” Uyel-uyel pipi Basma.
“ Basma Adiputra apa yang kau lakukan di sana!”
Keduanya terperanjak. Bian berdiri di depan pintu yang
sengaja tidak di tutup. Bahkan tadi ada beberapa pelayan yang masih keluar
masuk membereskan sesuatu.
“ Kak Bian!” Key menganaalisa, tingkat kecemburuan naik seratus persen.
“ Keluar Bas.” Mendesah kesal.
“ Tidak mau.” Malah bergulingan ditempat tidur. “ Apa
tidak boleh kalau kita bertiga tidur bersama malam ini. Aku ingin tidur sama
Mbak Key buat terakhir kalinya.”
Kau sudah gila ya!
Key juga terlihat panik. Memang ini akan jadi kali
pertama Basma tidur di rumah orangtuanya. Tapi bisa-bisanya dia minta tidur
bertiga secara langsung pada Kak Bian juga.
“ Tidur sama ayah sana kalau kau takut tidur
sendirian. Memang biasanya kau tidur bareng sama key!” Bertanya tapi sudah terlihat marah.
“ Ehmm biasanya si begitu.”
“ Sudah Bas, jangan menggangu kakakmu terus. Pergilah
ke kamarmu sana.” Key mencubit pipi Basma. Basma cemberut tapi menurut. Dia melengos sambil tertawa
ketika melewati Bian.
" Key." Bian menunduk lemah di tempatnya berdiri , sedang membangkitkan rasa bersalah key. " Aku cemburu!" melengos.
Ya ampun lucunya.
" Ia Kak, maaf. Kedepannya Key akan berhati-hati." Bangun dan meraih wajah Bian, mencium semua bagian wajah. " Kebiasaan, maaf ya Kak." Muah... muah.
" Jangan menyebut namanya lebih dari dua kali dalam sehari."
Eh, maksudnya.
" Baiklah." Sudahlah, mengalah saja batin Key. " Kak Bian juga, eh, eh. Tunggu Kak!"
Bian memeluk Key, lalu membawanya ambruk ke atas tempat tidur. Mencium lembut bibir mungil yang gelagapan menarik nafas itu.
" Tunggu Kak, nanti Basma."
" Satu."
Apa dia benar-benar menghitung. Nanti kalau Basma iseng balik lagi karena mau menggoda Kak Bian bagaimana, pintu kan nggak dikunci.
Setelah ciuman berhenti, Bian membenamkan wajah di dada Key. Gadis itu masih naik turun mengatur ritme nafasnya.
"Sebentar saja begini Key. Sekarang kau cuma boleh membelai kepalaku."
Haha, ia, ia. Key tergelak dalam hati. Mencium kepala Bian berulang kali. Teringat dengan perkataan paman waktu itu.
" Sepertinya saya harus minta maaf lagi,karena sepertinya anak yang ini akan jauh lebih merepotkan."
Aku mencintaimu Kak, terimakasih untuk menerimaku dan Basma dalam hidupmu. sebentar saja begini, ahhh, aku juga lelah sekali.
Bersambung