
Sudah cukup berteman dengan kesedihan. Saatnya menata lagi kehidupan.
Itulah yang dilakukan Key sekarang. Sambil menunggu kesiapan hati Basma untuk
bertemu ayahnya dia mulai menyibukan diri dengan aktivitas hariannya. Memulai
kembali berjualan somai, Basma pun senang mendengarnya. Demi mengusir semua
pikiran buruk dia memakai energinya untuk membuat somai.
Para pedagang lain menyambut kembalinya somai Key imoet Central Park,
mereka keluarga Key di Cental Park. Bertanya ini dan itu meminta penjelasan
kenapa sampai libur lama. Bibi Hanum yang memeluk Key paling lama.
“ Sudah sehat kan Key, Alhamdulillah. Maaf ya bibi gak sempet nengok.”
Key membalas pelukan Bibi Hanum dengan hangat, mengatakan dia sudah
baik-baik saja. Saat bibi menelfon dan menanyakan kenapa dia beberapa hari
tidak jualan, Key memang mengatakan kalau dia sedang kurang enak badan.Hingga
akhirnya begitulah berita yang tersebar. Doa, demi doa, para pedagang yang
nomornya tersimpan di hpnya mengirimkan doa dengan tulus. Ada yang sambil
bercanda bilang, gara-gara Key nggak jualan Central Park jadi sepi.
Selama beberapa tahun tawa para
pedagang inilah yang memberinya semangat untuk terus bekerja keras.
Hari ini foodtruck kedatangan seorang pelanggan spesial. Kak Anjas yang
sudah tahu kalau Key mulai bekerja lagi. Datang sebelum waktu istirahat makan
siang. Jadi pelanggan masih sepi. Dia mendekat ke pintu foodtruck.
“ Duduklah bersama Basma Kak, Key buatkan somainya ya.”
“ Key.”
Sebenarnya Key ingin lari dari pembicaraan langsung ini dengan mengusir Anjas
duduk tapi sepertinya laki-laki itu tidak akan beranjak sebelum mengatakan
tujuannya datang kemari.
“ Bicaralah Kak.” Tangannya berhenti di tutup kukusan. Sengaja tidak mau
melihat ke arah Anjas.
“ Tidak bisakah kau menghubungi Bian duluan. Maaf.” Sebenarnya dia pun
tidak enak mengatakannya. “ Bukannya aku membela Bian, tapi dia…”
Key memotong pembicaraan Anjas.
“ Aku takut Kak, takut Kak Bian marah. Lebih takut lagi kalau dia
menanyakan pilihanku, antara dia dan Basma. Jadi aku memilih menghindarinya.”
Berharap Kak Bian segera mengetahui semua kebenarannya, sehingga dia akan
bersimpati pada nasib Basma. “ Basma juga menunggu pengakuan Kak Bian sebelum
bertemu dengan Tuan Adiguna. Bagi Basma pengakuan Kak Bian jauh lebih utama
Kak. Karena dia membawa rasa bersalah ibunya.”
Ya Tuhan kenapa jadi rumit begini si.
Rasanya Anjas ingin menarik tangan Bian, Key, Basma masuk ke dalam suatu
ruangan, membawa Ketua Adiguna sekalian Nyonya Yuna. Lalu berteriak, Sekarang
bicaralah sepuas kalian, silahkan mencaci sekaipun, luruskan semua
kesalahpahaman kalian. Kalau sudah
kalian baru boleh keluar dari ruangan ini.
Andai saja aku bisa melakukannya.
“ Silahkan Kak somainya. Duduklah bersama Basma.” Menunjuk Basma yang
mendengarkan pembicaraan tapi pura-pura focus pada hpnya. Anjas menerima
mangkuk yang diberikan Key lalu membawanya mendekati Basma.
Sejujurnya dia pun tidak menyukai wanita itu, tapi bocah laki-laki di hadapannya ini salah
apa untuk dijadikan pelampiasan. Basma lahir karena kehendak Tuhan. Akhirnya
Anjaspun membuka sedikit ruang di hatinya. Basma adalah adik Bian, walaupun
perasaan sayangnya tidak bisa seperti yang ia berikan pada Bian tapi ia mulai
melatakan nama Basma di hatinya dengan cara yang berbeda.
Menikmati somai sambil mengobrol sedikit canggung dengan Basma. Keduanya
terlihat hati-hati bicara. Tapi sebelum berpisah Anjas menepuk bahu Basma
lembut.
“ Tunggu sebentar lagi ya, aku yakin kakakmu yang akan mendatangimu
duluan. Bersabarlah sebentar lagi.” Hanya mendengar perkataan seperti itu saja
sudah menjadi oase bagi Basma. Key yang ikut mendengarnya pun berdoa dengan tulus
saat itu akan datang.
***
Pejuang tanggung Key kembali dengan semangat mengumpulkan rupiah,
sekarang mungkin bukan lagi uang kuliah Basma, namun dia mulai memikirkan
tentang dirinya jika suatu hari nanti Basma benar-benar kembali pada keluarga
kandungnya.
Key mulai bekerja kembali di minimarket. Setelah lama libur saat dia
menelfon kalau dia bisa bekerja kembali pemilik minimarket sangat senang dan
berterimakasih. Bahkan terdengar jauh lebih bahagia ketimbang Key yang masih
diizinkan bekerja.
Hari itu Key menyusuri jalanan dengan berjalan lambat. Sambil mengingat
semua memori kebersamaan yang ia lewati bersama Kak Bian saat menggandeng
tangannya. Melewati kursi yang ia duduki malam itu. Saat ia bersandar pada bahu
Kak Bian. Saat laki-laki itu memintanya berbagi, bukan hanya tawa tapi juga
kesedihannya. Sepertinya waktu itu sudah lama sekali.
Aku kangen Kak Bian.
Key mengulang beberapa kali kalimat itu sampai langkah kakinya sampai di
mimimarket. Bertemu Kak Hanzah yang terlihat senang melihatnya.
Waktunya berganti sift.
Key mencium aroma wangi pengharum ruangan yang tidak pernah berganti
aromanya. Siapa pun yang memasang pegharum ruangan selalu memilih aroma yang
sama. Seperti sebuah keharusan. Key berjalan menuju gudang, mendorong troli
barang. Meletakan satu persatu barang ke atas troli, catatan di tangannya ia
coret-coret untuk barang yang sudah dia ambil. Langkahnya terhenti saat melihat
sudut gudang.
Di tempat inilah semua berawal.
Saat pertama kali Kak Bian menyudutkannya dan menanyakan apa yang ia inginkan
dengan mendekatinya. Wajah dingin yang
menyimpan luka, atau saat-saat itu. Key merona merah teringat saat itu. Apa itu
sekalipun.
Key takut Kak Bian akan mengatakan perihal Basma dengan nada kebencian.
Sehingga dia merasa perlu untuk menahan dirinya.
Key keluar dari gudang. Meletakan troli dipinggir rak saat melihat ada
tiga orang masuk berbelanja. Dia kembali
ke kasir. Menyelesaikan transaksi demi transaksi. Tersenyum seperti seharusnya
pada para pelanggan. Para pelanggan
dataang silih berbanti. Key kembali menyusun barang yang habis di etalase,
mengganti harga promo. Sesekali dia melirik pintu atau menatap kejauhan.
Gerbang Grand Land. Dia berharap ada seseorang yang ia kenali muncul dari sana.
Namun hanya kegelapan yang menyambut pandangannya.
Sampai Basma datang menjemputnya, mereka menutup toko. Setelah pintu
terkunci Key mengajak Basma duduk di teras minimarket. Menarik jaket tipis yang
ia pakai. Keduanya duduk, melihat ke arah yang sama. Pintu gerbang Grand Land.
“ Haruskah kita datangi Kak Bian Bas?” Key masih menatap kejauhan,
pandangannya bertabrakan dengan kegelapan, sorot lampu mobil namun tidak ada
yang tertangkap penglihatanya, sosok yang ia rindukan. “ Aku ingin bertanya
padanya langsung. Sambil membawamu.”
“ Aku takut Mbak.” Basma menimpali pelan, matanya tidak jauh berbeda
seperti Key.
Sebenarnya kau pun tidak perlu memperdulikan perasaan Kak Bian, Key
menundukan kepala. Ya, andai Basma tidak butuh pengakuan Kak Bian karena rasa
bersalah ibunya, mungkin Key bisa langsung membawa Basma pada Tuan Adiguna.Biar
ayah kandungnya itu yang meluruskan hubungan kakak adik itu.
Mereka duduk lama, melihat ke arah
gerbang, sampai akhirnya Key bangun dan menarik tangan Basma.
“ Ayo pulang.
***
Waktu sebelum tutupnya minimarket. Dikediaman Sekretaris Haryo.
“ Anjas!”
Sekretaris Haryo berteriak pada anakknya. Anjas mengatakan kalau Basma
ataupun Bian sudah tahu kalau mereka adalah kakak beradik. Tapi Bian masih pura-pura tak mau perduli. Sedangkan Basma butuh pengakuan Bian sebelum bertemu dengan ketua.
“ Maaf, tadinya aku hanya ingin memberi waktu Bian. Tapi…”
“ Kau ini.”
“ Maaf.”
Sekretaris Haryo langsung mengambil kunci mobilnya. Hah! Dia mendesah sedikit lega sekarang. Anjas menyerah.
Membiarkan Bian berlarut-larut dalam situasi seperti sekarang teramat
membahayakan kejiwaan dan semangat bekerjanya. Karena saat dia datang ke rumah
Bian malam ini,bocah itu tidak ada di tempat. Anjas yang melajukan mobilnya melihat laki-laki itu berdiri di tempat yang sama. Seperti dejavu, ia pernah melihat adegan ini dulu. Tidak berdaya melihat minimarket dari kejauhan. Hanya bayangan Key yang terlihat dari sana.
Melihatnya saja aku sakit, apalagi Bian.
Hubungannya Bian dengan Key yang menjauh memperparah keadaan. Sikapnya
kembali seperti beberapa bulan lalu saat belum bertemu Key. Bahkan lebih parah
dari itu. Hingga akhirnya Anjas memilih mengadu pada ayahnya agar melaporkannya
pada ketua. Setidaknya ayah Bian akan berusaha sekuat tenaga menyakutkan dua
anak laki-lakinya.
Anjas berharap satu masalah bisa terselesaikan.
***
Ditemani semilir angin akhirnya mereka kembali ke tempat ini lagi. Duduk di kursi kayu, di bawah taburan bintang.
“ Maaf ya Manda, aku malah mengajakmu jalan malam-malam begini.”
Laki-laki tegar dan bijak itupun ingin dihibur dan bermanja rupaya. (Cieee)
“ Manda malah seneng Kak, seharian cuma di rumah bosan. Mama membatalkan
semua pekerjaanku sampai semua tenang, jadi aku cuma dirumah saja.” Sambil
menikmati roti isi daging dan melihat kegelapan langit yang ditaburi bintang. “
Kak Anjas pasti lelahkan mengurus semuanya.”
Amanda menepuk bahunya.
“ Bersandarlah pada Manda.”
Bisa-bisanya aku sesenang ini. Hati Anjas tidak menolak, ya dia senang sekarang.
Anjas mengusap kepala Amanda. “ Terimakasih ya, pelan-pelan saja makannya.”
Sejenak dia melupakan semua permasalahan Adiguna Group. Membuang jauh semua
pikiran tentang Bian, saat mengandeng tangan Amanda menaiki tangga dan duduk di
taman, dia hanya ingin sebentar saja merasa senang.
“ Manda, kau suka melihat bintang di sini.”
“ Ia, Manda Suka.” Membenturkan kepalanya pelan pada kepala Anjas.
Tapi aku lebih suka Kak Anjas. Hehe.
“ Kau suka roti isi daging?” Anjas bertanya lagi.
“ Ia suka.” Mengigit rotinya dengan lahap.
“ Kau suka coklat juga?”Anjas bertanya lagi, dengan kepala masih menyandar di bahu Amanda.
“ Ia aku juga suka coklat.”
Tapi aku lebih suka Kak Anjas.
Lagi-lagi terkikik dalam hati.
“ Lalu, apa kau juga suka padaku.”
“ Ia, aku juga suka. Eh.”
" Aku juga suka padamu Manda."
Roti isi yang ada di tangan Amanda terjatuh, ditangkap oleh Anjas. Sambil tersenyum senang. Dia meraih tangan Amanda, meletakan roti isi kembali ketangan Amanda.
Aaaaaaaa, jantungku mau meledak!
Pandangan mata mereka bertemu, lalu refleks melengos malu bersamaan. Bahkan Amanda
mengeser sedikit tubuhnya karena dadanya yang berdebar-debar tidak mau sampai terdengar
ditelinga Anjas. Kedua tangan yang saling berdekatan namun ragu.
Mengeser pelan, mengeser pelan.
Amanda yang meraih jemari Anjas duluan, walaupun dengan wajah merona
malu. Keduanya tidak ada yang mengatakan apa pun. Hanya tangan yang terkait
semakin erat yang menunjukan perasaan satu sama lain.
Bintang di langit berkedip-kedip.
Bersambung...