Key And Bian

Key And Bian
Pengakuan Kak Bian



Sudah cukup berteman dengan kesedihan. Saatnya menata lagi kehidupan.


Itulah yang dilakukan Key sekarang. Sambil menunggu kesiapan hati Basma untuk


bertemu ayahnya dia mulai menyibukan diri dengan aktivitas hariannya. Memulai


kembali berjualan somai, Basma pun senang mendengarnya. Demi mengusir semua


pikiran buruk dia memakai energinya untuk membuat somai.


Para pedagang lain menyambut kembalinya somai Key imoet Central Park,


mereka keluarga Key di Cental Park. Bertanya ini dan itu meminta penjelasan


kenapa sampai libur lama. Bibi Hanum yang memeluk Key paling lama.


“ Sudah sehat kan Key, Alhamdulillah. Maaf ya bibi gak sempet nengok.”


Key membalas pelukan Bibi Hanum dengan hangat, mengatakan dia sudah


baik-baik saja. Saat bibi menelfon dan menanyakan kenapa dia beberapa hari


tidak jualan, Key memang mengatakan kalau dia sedang kurang enak badan.Hingga


akhirnya begitulah berita yang tersebar. Doa, demi doa, para pedagang yang


nomornya tersimpan di hpnya mengirimkan doa dengan tulus. Ada yang sambil


bercanda bilang, gara-gara Key nggak jualan Central Park jadi sepi.


Selama beberapa  tahun tawa para


pedagang inilah yang memberinya semangat untuk terus bekerja keras.


Hari ini foodtruck kedatangan seorang pelanggan spesial. Kak Anjas yang


sudah tahu kalau Key mulai bekerja lagi. Datang sebelum waktu istirahat makan


siang. Jadi pelanggan masih sepi. Dia mendekat ke pintu foodtruck.


“ Duduklah bersama Basma Kak, Key buatkan somainya ya.”


“ Key.”


Sebenarnya Key ingin lari dari pembicaraan langsung ini dengan mengusir Anjas


duduk tapi sepertinya laki-laki itu tidak akan beranjak sebelum mengatakan


tujuannya datang kemari.


“ Bicaralah Kak.” Tangannya berhenti di tutup kukusan. Sengaja tidak mau


melihat ke arah Anjas.


“ Tidak bisakah kau menghubungi Bian duluan. Maaf.” Sebenarnya dia pun


tidak enak mengatakannya. “ Bukannya aku membela Bian, tapi dia…”


Key memotong pembicaraan Anjas.


“ Aku takut Kak, takut Kak Bian marah. Lebih takut lagi kalau dia


menanyakan pilihanku, antara dia dan Basma. Jadi aku memilih menghindarinya.”


Berharap Kak Bian segera mengetahui semua kebenarannya, sehingga dia akan


bersimpati pada nasib Basma. “ Basma juga menunggu pengakuan Kak Bian sebelum


bertemu dengan Tuan Adiguna. Bagi Basma pengakuan Kak Bian jauh lebih utama


Kak. Karena dia membawa rasa bersalah ibunya.”


Ya Tuhan kenapa jadi rumit begini si.


Rasanya Anjas ingin menarik tangan Bian, Key, Basma masuk ke dalam suatu


ruangan, membawa Ketua Adiguna sekalian Nyonya Yuna. Lalu berteriak, Sekarang


bicaralah sepuas kalian, silahkan mencaci sekaipun, luruskan semua


kesalahpahaman kalian.  Kalau sudah


kalian baru boleh keluar dari ruangan ini.


Andai saja aku bisa melakukannya.


“ Silahkan Kak somainya. Duduklah bersama Basma.” Menunjuk Basma yang


mendengarkan pembicaraan tapi pura-pura focus pada hpnya. Anjas menerima


mangkuk yang diberikan Key lalu membawanya mendekati Basma.


Sejujurnya dia pun tidak menyukai wanita itu,  tapi bocah laki-laki di hadapannya ini salah


apa untuk dijadikan pelampiasan. Basma lahir karena kehendak Tuhan. Akhirnya


Anjaspun membuka sedikit ruang di hatinya. Basma adalah adik Bian, walaupun


perasaan sayangnya tidak bisa seperti yang ia berikan pada Bian tapi ia mulai


melatakan nama Basma di hatinya dengan cara yang berbeda.


Menikmati somai sambil mengobrol sedikit canggung dengan Basma. Keduanya


terlihat hati-hati bicara. Tapi sebelum berpisah Anjas menepuk bahu Basma


lembut.


“ Tunggu sebentar lagi ya, aku yakin kakakmu yang akan mendatangimu


duluan. Bersabarlah sebentar lagi.” Hanya mendengar perkataan seperti itu saja


sudah menjadi oase bagi Basma. Key yang ikut mendengarnya pun berdoa dengan tulus


saat itu akan datang.


***


Pejuang tanggung Key kembali dengan semangat mengumpulkan rupiah,


sekarang mungkin bukan lagi uang kuliah Basma, namun dia mulai memikirkan


tentang dirinya jika suatu hari nanti Basma benar-benar kembali pada keluarga


kandungnya.


Key mulai bekerja kembali di minimarket. Setelah lama libur saat dia


menelfon kalau dia bisa bekerja kembali pemilik minimarket sangat senang dan


berterimakasih. Bahkan terdengar jauh lebih bahagia ketimbang Key yang masih


diizinkan bekerja.


Hari itu Key menyusuri jalanan dengan berjalan lambat. Sambil mengingat


semua memori kebersamaan yang ia lewati bersama Kak Bian saat menggandeng


tangannya. Melewati kursi yang ia duduki malam itu. Saat ia bersandar pada bahu


Kak Bian. Saat laki-laki itu memintanya berbagi, bukan hanya tawa tapi juga


kesedihannya. Sepertinya waktu itu sudah lama sekali.


Aku kangen Kak Bian.


Key mengulang beberapa kali kalimat itu sampai langkah kakinya sampai di


mimimarket. Bertemu Kak Hanzah yang terlihat senang melihatnya.


Waktunya berganti sift.


Key mencium aroma wangi pengharum ruangan yang tidak pernah berganti


aromanya. Siapa pun yang memasang pegharum ruangan selalu memilih aroma yang


sama. Seperti sebuah keharusan. Key berjalan menuju gudang, mendorong troli


barang. Meletakan satu persatu barang ke atas troli, catatan di tangannya ia


coret-coret untuk barang yang sudah dia ambil. Langkahnya terhenti saat melihat


sudut gudang.


Di tempat inilah semua berawal.


Saat pertama kali Kak Bian menyudutkannya dan menanyakan apa yang ia inginkan


dengan mendekatinya.  Wajah dingin yang


menyimpan luka, atau saat-saat itu. Key merona merah teringat saat itu. Apa itu


sekalipun.


Key takut Kak Bian akan mengatakan perihal Basma dengan nada kebencian.


Sehingga dia merasa perlu untuk menahan dirinya.


Key keluar dari gudang. Meletakan troli dipinggir rak saat melihat ada


tiga orang masuk berbelanja.  Dia kembali


ke kasir. Menyelesaikan transaksi demi transaksi. Tersenyum seperti seharusnya


pada para pelanggan.  Para pelanggan


dataang silih berbanti. Key kembali menyusun barang yang habis di etalase,


mengganti harga promo. Sesekali dia melirik pintu atau menatap kejauhan.


Gerbang Grand Land. Dia berharap ada seseorang yang ia kenali muncul dari sana.


Namun hanya kegelapan yang menyambut pandangannya.


Sampai Basma datang menjemputnya, mereka menutup toko. Setelah pintu


terkunci Key mengajak Basma duduk di teras minimarket. Menarik jaket tipis yang


ia pakai. Keduanya duduk, melihat ke arah yang sama. Pintu gerbang Grand Land.


“ Haruskah kita datangi Kak Bian Bas?” Key masih menatap kejauhan,


pandangannya bertabrakan dengan kegelapan, sorot lampu mobil namun tidak ada


yang tertangkap penglihatanya, sosok yang ia rindukan. “ Aku ingin bertanya


padanya langsung. Sambil membawamu.”


“ Aku takut Mbak.” Basma menimpali pelan, matanya tidak jauh berbeda


seperti Key.


Sebenarnya kau pun tidak perlu memperdulikan perasaan Kak Bian, Key


menundukan kepala. Ya, andai Basma tidak butuh pengakuan Kak Bian karena rasa


bersalah ibunya, mungkin Key bisa langsung membawa Basma pada Tuan Adiguna.Biar


ayah kandungnya itu yang meluruskan hubungan kakak adik itu.


Mereka duduk lama, melihat ke arah


gerbang, sampai akhirnya Key bangun dan menarik tangan Basma.


“ Ayo pulang.


***


Waktu sebelum tutupnya minimarket. Dikediaman Sekretaris Haryo.


“ Anjas!”


Sekretaris Haryo berteriak pada anakknya. Anjas mengatakan kalau Basma


ataupun Bian sudah tahu kalau mereka adalah kakak beradik. Tapi Bian masih pura-pura tak mau perduli. Sedangkan Basma butuh pengakuan Bian sebelum bertemu dengan ketua.


“ Maaf, tadinya aku hanya ingin memberi waktu Bian. Tapi…”


“ Kau ini.”


“ Maaf.”


Sekretaris Haryo langsung mengambil kunci mobilnya. Hah! Dia mendesah sedikit lega sekarang. Anjas menyerah.


Membiarkan Bian berlarut-larut dalam situasi seperti sekarang teramat


membahayakan kejiwaan dan semangat bekerjanya. Karena saat dia datang ke rumah


Bian malam ini,bocah itu tidak ada di tempat. Anjas yang melajukan mobilnya melihat laki-laki itu berdiri di tempat yang sama. Seperti dejavu, ia pernah melihat adegan ini dulu. Tidak berdaya melihat minimarket dari kejauhan. Hanya bayangan Key yang terlihat dari sana.


Melihatnya saja aku sakit, apalagi Bian.


Hubungannya Bian dengan Key yang menjauh memperparah keadaan. Sikapnya


kembali seperti beberapa bulan lalu saat belum bertemu Key. Bahkan lebih parah


dari itu. Hingga akhirnya Anjas memilih mengadu pada ayahnya agar melaporkannya


pada ketua. Setidaknya ayah Bian akan berusaha sekuat tenaga menyakutkan dua


anak laki-lakinya.


Anjas berharap satu masalah bisa terselesaikan.


***


Ditemani semilir angin akhirnya mereka kembali ke tempat ini lagi. Duduk di kursi kayu, di bawah taburan bintang.


“ Maaf ya Manda, aku malah mengajakmu jalan malam-malam begini.”


Laki-laki tegar dan bijak itupun ingin dihibur dan bermanja rupaya. (Cieee)


“ Manda malah seneng Kak, seharian cuma di rumah bosan. Mama membatalkan


semua pekerjaanku sampai semua tenang, jadi aku cuma dirumah saja.” Sambil


menikmati roti isi daging dan melihat kegelapan langit yang ditaburi bintang. “


Kak Anjas pasti lelahkan mengurus semuanya.”


Amanda menepuk bahunya.


“ Bersandarlah pada Manda.”


Bisa-bisanya aku sesenang ini. Hati Anjas tidak menolak, ya dia senang sekarang.


Anjas mengusap kepala Amanda. “ Terimakasih ya, pelan-pelan saja makannya.”


Sejenak dia melupakan semua permasalahan Adiguna Group. Membuang jauh semua


pikiran tentang Bian, saat mengandeng tangan Amanda menaiki tangga dan duduk di


taman, dia hanya ingin sebentar saja merasa senang.


“ Manda, kau suka melihat bintang di sini.”


“ Ia, Manda Suka.” Membenturkan kepalanya pelan pada kepala Anjas.


Tapi aku lebih suka Kak Anjas. Hehe.


“ Kau suka roti isi daging?” Anjas bertanya lagi.


“ Ia suka.” Mengigit rotinya dengan lahap.


“ Kau suka coklat juga?”Anjas bertanya lagi, dengan kepala masih menyandar di bahu Amanda.


“ Ia aku juga suka coklat.”


Tapi aku lebih suka Kak Anjas.


Lagi-lagi terkikik dalam hati.


“ Lalu, apa kau juga suka padaku.”


“ Ia, aku juga suka. Eh.”


" Aku juga suka padamu Manda."


Roti isi yang ada di tangan Amanda terjatuh, ditangkap oleh Anjas. Sambil tersenyum senang. Dia meraih tangan Amanda, meletakan roti isi kembali ketangan Amanda.


Aaaaaaaa, jantungku mau meledak!


Pandangan mata mereka bertemu, lalu refleks melengos malu bersamaan. Bahkan Amanda


mengeser sedikit tubuhnya karena dadanya yang berdebar-debar tidak mau sampai terdengar


ditelinga Anjas. Kedua tangan yang saling berdekatan namun ragu.


Mengeser pelan, mengeser pelan.


Amanda yang meraih jemari Anjas duluan, walaupun dengan wajah merona


malu. Keduanya tidak ada yang mengatakan apa pun. Hanya tangan yang terkait


semakin erat yang menunjukan perasaan satu sama lain.


Bintang di langit berkedip-kedip.


Bersambung...