Key And Bian

Key And Bian
Final Episode (Kebahagiaan Semua)



Moment mendebarkan bagi kedua calon mempelai.


Bian sudah duduk di atas karpet putih, ada beberapa peluh membasahi


keningnya. Padahal pendingin udara sudah menyala dengan baik. Hanya dia yang


terlihat kepanasan. Penghulu di depannya hanya senyum-senyum. Sudah terbiasa


melihat situasi semacam ini. Keluarga yang terbilang dekat dan mengenal Bian


yang ada di dalam ruangan tertawa saat mendengar godaan dari bapak penghulu.


Untuk mencairkan suasana.


Seseorang meletakan tisyu di dekat kaki Bian, sepertinya ketegangannya benar-benar terlihat.


Tidak lama tercipta susana gaduh  semua melihat ke arah tangga. Bian berdiri


saat melihat Key yang dikerubuti beberapa orang di sampingnya. Ibunya, Bibi Salsa


yang memakai kebaya dengan warna hampir senada dengan ibunya, mengapit di


samping kanan dan kiri. Membantunya berjalan menuruni tangga. Dalam balutan


kebaya putih dan kerudung putihnya yang jatuh di bahu. Wajahnya yang malu-malu


menebar senyuman. Sambil memperhatikan langkah kakinya.


Seketika dada Bian berdebar kencang ketika matanya menangkap senyuman yang


ditujukan untuknya . Matanya mengercap, menggigit bibir salah tingkah. Apalagi


saat malaikat kecilnya itu berjalan mendekat ke arahnya. Sekali lagi gadis itu


tersenyum malu. Wajahnya seakan memancarkan cahaya. Rasanya Bian tidak kuasa mengendalikan


hatinya yang mau loncat memeluk Key.


Ingin ia mencium pipi merah merona itu.


Juru foto dan kameramen mengabadikan moment berharga. Saat kedua mempelai berhadapan.


Key sangat mempesona, kata orang seorang wanita akan terlihat jauh lebih


cantik di hari pernikahan. Mungkin karena makeup di wajah dan pakaian yang


indah. Namun di bagian lain, Bian bisa merasakan pancaran kebahagiaanlah yang


membuat Key semakin terlihat cantik dan mempesona dari biasanya.


Tangan mereka terkait, merasakan debaran jantung masing-masing. Kelakar


dan ledekan dari yang lain bukannya menenangkan, malah membuat hati semakin


berdebar-debar saja.


Dan saatnya tiba, Bian menenangkan hati. Menyentuh kepala berbalut kerudung itu.


" Kau sudah siap Key?"


" Key deg, deg kan Kak."


Apalagi aku Key, dadaku rasanya mau meledak. Ingin cepat selesai dan sah!


" Tenanglah, gengam tanganku." Padahal dia sendiri yang merasa jauh lebih tenang kalau tangan Key ada dalam genggamannya. Tersenyum meyakinkan dirinya dan semua orang.


Dia melihat waktu pernikahan


orangtuanya yang lancar jaya tanpa hambatan. Cepat, sah, lalu Alhamdulillah


batinnya. Dibawah meja tangan mereka masih saling terkait. Saling menenangkan hati masing-masing.


Anjas dan seorang wanita maju ke depan.  Memandu acara. Dibuka dengan membaca


Basmallah dan mengucapkan terimakasih serta ucapan selamat yang dibumbui kata-kata jenaka namun mengulur waktu.  Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci


Alquran. Serta sambutan acara yang di wakili Sekretaris Haryo dari Adiguna Group. Seorang paman yang merupakan tetangga dekat Key mewakili keluarga Key. Hanya sambutan dan ucapan terimakasih singkat seperti apa yang sudah dia pelajari sebelumnya.


Sebenarnya bisik-bisik yang mempertanyakan latar belakang Key masih seperti kumbang di keluarga besar Adiguna Group. Mereka penasaran setengah mati,siapa wanita yang berhasil menaklukan hati Bian. Namun melihat Yuna yang merupakan Nyonya Adiguna Group menerima dengan tangan terbuka, membuat mereka hanya bisik-bisik di belakang saja.


" Apa gadis itu yang membuat pertunangan Bian batal?"


Tapi melihat Amanda yang muncul dengan dress warna biru tua, terlihat cantik dan elegan. Langsung berlari menemui pengantin perempuan, bisik-bisik itu pun akhirnya menguap sendiri. Terserahlah, pada akhirnya beberapa orang mengambil kesimpulan. Aku bahkan belum pernah melihat Bian tersenyum hangat begitu, kata yang lain. Benar, Bian itu sebenarnya ganteng banget kalau mau seramah Anjas. Dan bla....bla.... obrolan di tengah pesta pernikahan. Selalu ada di manapun.


Dan sampailah di acara utama prosesi sakral akad nikah. Janji Bian di hadapan Tuhan dan para saksi. Key yang tidak


lagi memiliki wali, akan dinikahkan langsung oleh penghulu selaku wali nikahnya. Bian komat-kamit dalam hati mengulang bunyi akad yang sudah dihafalnya di luar kepala.


“ Bian Nugara apa benar sudah yakin untuk meminang Mbak Keysha Andini?”


Hah! Kenapa pakai tanya-tanya si pak, waktu ayah menikah langsung aja.


Bian panik dengan pertanyaan sederhana namun mendadak itu, wajah


tegangnya bagi orang lain terlihat lucu dan menghibur. Karena Bian tidak pernah


menunjukan wajah itu pada situasi apa pun.


“ Ehmm, ehmm, di jawab Nak Bian.”


“ Yakin Pak,” Suara memenuhi ruangan, disusul gelak tertahan dari segala


penjuru.


Terkadang memang ada bapak penghulu yang begitu, jangan ngambek ya Bi.


Biar kamunya nggak tegang begitu. Sekarang Pak Penghulu melihat ke arah Key.


“ Mbak Keysha Andini apa bersedia menikah dengan Mas Bian Nugara.”


Memberi pertanyaan yang sama.


Mengganguk malu-malu. “ Ia.” Lirih terucap.


Lagi-lagi ada yang memeriahkan suasana dengan gelak mendengar jawaban


Key.


Cepat Pak! Suara hati Bian.


Key menoleh ke kiri, meraih tangan Bibi Salsa yang sudah mulai


berkaca-kaca di sampingnya. Wanita itu sedang merasakan keberadaan orangtua Key


di sebelahnya. Yang berterimakasih padanya sudah menjaga key selama ini.


Dia menyeka ujung matanya, semalam mereka sudah menangis bersama,


mengingat kenangan-kenangan indah bersama orangtuanya. Hari ini Bibi Salsa


berjanji untuk hanya tersenyum. Karena ini adalah hari bahagia key. Tapi ntah


kenapa, sekarang matanya mulai panas.


Wajah Bian mulai Pias, dia membaca doa berulang di hatinya untuk tenang.


Saat melihat ayahnya waktu itu sepertinya tidak susah, tapi saat mengalaminya


“ Bismillah Nak.”


Ayah dan ibu Bian di sampingnya menepuk bahu putranya.


“ Saya terima nikahnya Keysha Andini binti Aminudin Sanjaya dengan Mas kawin tersebut dibayar


tunai.”


“ Sah.”


“ Sah.”


Seperti lepas dari himpitan batu besar dia mengelus dadanya lega.


Memeluk ibu di sampingnya,


"Ibu...ibu." Yuna mengusap-usap bahu Bian sudah dengan ujung isak di tenggorokannya.


Setelahnya ia memeluk ayahnya. Dia bersorak gembira ke hadapan kamera. "Sah... sah... sah."


Orang-orang yang melihat tertawa apalagi Anjas. Siapa yang mengenal Bian selama


ini pasti baru pertama kali melihat reaksi spontan anak itu.


Acara tukar cincin. Anjas mendekat ke arah kedua mempelai. Mendekatkan mic ke dekat mulut Bian, agar suaranya menjangkau semua orang. Key mengulururkan jarinya. Bian meraih tangan itu.


" Terimakasih Key, sudah terlahir ke dunia. Terimakasih karena mau menjadi bagian dari hidupku." Menyematkan cincin di jari manis. " Kau bukan hanya malaikatku, tapi juga untuk keluargaku. Terimakasih karena telah mencintaiku." Mencium kening Key. Hening, semua orang terbawa suasana. " Ke depan, ayo hidup dengan bahagia. Bicaralah kalau kau senang, tertawalah kalau kau bahagia, menangislah kalau kau ingin menangis. Di pundakku kau bisa melakukan apa pun. Namun aku berjanji, jikalau ada airmata,itu hanyalah airmata bahagia. Aku mencintaimu Keysha. Terimakasih untuk semua." Meraih tangan Key, mencium tepat dimana cincin pernikahannya tersemat.


Huaaa, orang-orang terguncang dengan janji pernikahan Bian. Mereka terharu, iri pun menyeruak.Ingin mendapatkan janji pernikahan semacam itu juga.


Key melakukan hal yang sama ke jari Bian, lalu dia menarik tangan Bian dan menciumnya. Menemelkan tangan itu di pipi yang mulai terlihat kaca di ujung matanya.


" Terimakasih Kak. Terimakasih untuk semua cinta Kak Bian." Mengibaskan tangan kiri di depan mata.


Ini hari bahagia, namun ntah kenapa airmata tidak mau berhenti keluar dari


mata Key. Mungkin inilah airmata bahagia. Saat duduk untuk bersalaman dengan anggota keluarga,  Key memeluk Bibi Salsa untuk waktu yang lama, berterimakasih berulang-ulang karena sudah menjaganya.


Ibu Yuna,


Ayah Adiguna, dan Basma  secara bergantian bergantian. Begitu pula yang dilakukan Bian. Memohon doa dan mengucapkan terimakasih.


Moment banjir airmata. Yuna tak kalah sesengukan saat memeluk Key lama.


" Maafkan ibu ya Key, berbahagialah Nak, berbahagialah, dan hanya berbahagialah. Terimakasih, terimakasih, sudah memberi ibu kesempatan." Yuna menguatkan pelukannya. Kalau Adiguna di sampingnya tidak menyadarkan istrinya mungkin masih akan berlanjut.


Ia bahagia, sungguh sangat bahagia, hingga airmatanya berjatuhan karena


perasaan yang tidak bisa ia gambarkan. Sesenggukan menyeka ujung mata. Dua


perias yang mendampinginya sigap menyerahkan saputangan untuk menyeka.


Setelah akad dan prosesi sungkeman pada orangtua selesai, di isi dengan pengajian singkat tentang pernikahan oleh dai kondang yang saban hari selalu muncul wajahnya di TV. Nasehat pernikahan yang mungkin sering di dengar jika kita datang di setiap kondangan pernikahan. Wejangan sederhana tentang saling menghormati, selalu berkomunikasi dengan pasangan. Memberi hadiah-hadiah kecil dalam moment-momen bahagia untuk merekatkan cinta dan kehangatan berumahtangga. Begitulah sederhananya menjaga harmonisasi keluarga.


Akhirnya acara utama selesai dan ditutup dengan doa.


Setelah selesai, Key dan Bian keluar ke halaman. Disambut semua orang. Saatnya dia melemparkan bunga yang dia gengam. Sudah ada beberapa orang yang berkerumun. Terlihat Anjas berlari tanpa malu ikut masuk dalam kerumunan. Membuat orang-orang ramai. Jomblo yang sebenarnya jadi idaman para mertua.


" Siap ya! satu, dua, tiga!"


Buket itu melayang ke udara, ditangkap dengan gagah perkasa oleh Kak Anjas. Yang lain hanya melongo saking kagetnya, karena teriakan Anjas barusan.


" Amanda!" itu yang dipekikkan Anjas saat Key melempar buket bunganya.


Semua mata tertuju pada Anjas sekarang.


Kesempatan,Bian menarik tangan Key mendekat.


" Eh, Kak Bian!"


" Sttttt, tidak ada yang melihat kita. semua orang sedang melihat tingkah Kak Anjas." Pipi mereka beradu. Key terbelalak kaget. Bian mensejajarinya dengan menundukan kepala. " Aku mencintaimu Key." Kecupan menyambar pipi. Key gelagapan ingin berteriak. Tengok-tengok memang tidak ada yang memperhatikan mereka. " Aku mencintaimu Key." Lagi. Key menutup wajahnya malu. " Aku mencintaimu Key." Bibir itu menyambar pipi lagi.


" Aku juga sangat mencintai Kak Bian." Bian tertawa dan berhenti meneruskan kelakuannya, setelah mendengar yang Key ucapkan. Menarik tangan Key berlalu dari kerumunan. Tapi ternyata ada empat pasang mata yang sedari tadi cekikikan gemas melihat kelakuan pengantin baru. Dua orang asisten rias. Dua orang itu melangkah menyusul dua orang mempelai.


Melanjutkan drama Kak Anjas.


Setelah menerima bunga, Anjas berlari menuju meja tempat Amanda dan orangtuanya duduk. Dia menunduk pada kedua orangtua Amanda. Gadis itu berdiri mematung belum duduk lagi saat mendengar namanya diteriakan Anjas tadi.


" Terimalah, hari ini kau luar biasa cantik." Menyodorkan bunga, lalu menunduk lagi pada orangtua Amanda dan lari menjauh. Kembali ke podium tempatnya membawakan acara.


Huaaa, tepuk tangan membahana. Anjas sedang menandai kepemilikannya di depan umum. Amanda yang merah merona langsung diserbu teman-teman sebayanya yang juga hadir.


" Ehm, ehmm kita lanjutkan acaranya ya, selamat menikmati hidangan yang sudah di sediakan. Akan ada sesi foto setelahnya, mohon tunggu giliran." Batuk berdehem malu-malu.


Pembawa acara wanita di sampingnya tersenyum nakal. " Sepertinya sebentar lagi akan ada pesta pernikahan lagi ni."


Ramai orang bertepuk tangan dan bersorak. Para tamu menikmati hidangan dengan dihibur  oleh para penyanyi. Pesta berlangsung meriah.


" Huaaa, ternyata Amanda dengan  Kak Anjas."


" Jadi pertunangannya dulu batal karena  Kak Anjas?" Dugaan-dugaan tentang Key semakin terkubur, dan dirasa tidak penting lagi untuk dipertanyakan.


" Sudahlaah, toh mereka semua bahagia. Yang harusnya pusing itu kita. Kapan kita melepas status kejombloan kita ini."


Semua tertawa, ngenes.


Ntah sengaja atau tidak, Anjas telah memadamkan banyak prasangka mengenai siapa mempelai wanita yang berhasil menakhlukan hati pewaris Adiguna Group.


" Eh kalian lihat tadikan ada cowok ganteng banget yang duduk di dekat Kak Bian, siapa ya?" Dasar, muncul lagi deh tema obrolan baru.


" Ia, ia, yang pakai jaas Navy, gateng, masing muda lagi kayaknya. Siapa ya."


" Dia nangis lho kayaknya tadi pas janji pernikahan Kak Bian, siapa ya dia."


" Di mana ya dia,aku nggak lihat padahal udah toleh-toleh dari tadi."


" Aaaaaa ia." Mengebrak meja." Pantesan kayak pernah lihat.aku follow sosial medianya. Model butik online."


" Bla...bla...bla..."


Sambil menikmati hidangan pesta mereka masih membicarakan tokoh baru yang dilihatnya di layar besar tadi. Sepopuler itu Basma ternyata. Sekarang orangnya sedang duduk dan tertawa dengan anak-anak Bibi Salsa di arena bermain anak. Tak memperdulikan apa pun. Dia bahagia untuk banyak hal hari ini.


Mbak Key yang ia sayangi, tersenyum malu-malu dengan rona bahagia.


Kak Bian kakak laki-laki yang baru ia temui. Janji pernikahan yang diucapkan Kak Bian untuk Mbak Key membuatnya yakin sebesar apa Kak Bian mencintai Mbak Key.


Ayah yang mengakuinya dengan bangga di hadapan keluarga besar, masih bisa ia rasakan cinta itu, saat ayahnya menyebut dia sebagai anak Jesika, sambil merangkul bahunya.


Nyonya Yuna yang benar-benar membuka hatinya, merentangkan tangan dan membiarkan ia masuk dalam pelukannya.


Ibu, ayah dan ibuku yang lain, kami akan hidup dengan bahagia. Aku dan Mbak Key akan hidup dengan baik. Terimakasih ibu karena sudah melahirkanku, dan memberikanku pada keluarga Mbak Key.


Hingga apa pun itu namanya,cinta dalam wujud lain untuk Key, ia pasti bisa menguburnya selamanya. Karena itu sebanding dengan senyum orang-orang yang memeluknya dengan hangat.


" Kak Basma, Kak Basma lihat ini."


Celoteh anak-anak yang bermain menyadarkannya kembali.


" Siapa mau es cream, ayo cari es cream coklat." Kedua bocah berteriak semangat mengikuti langkah kaki Basma dengan riang.


Semua bahagia dengan caranya masing-masing.


Bersambung