Key And Bian

Key And Bian
Bersama Anjas



Masih malam yang sama.


Anjas mematung menatap bayangan dirinya dalam cermin. Merapikan rambut


yang sebenarnya sudah sempurna. Dia sedang merasa sedikit cemas memikirkan apa


yang akan terjadi nanti.


Untung aku sudah makan.


Anjas menyambar kunci mobilnya. Melewati jalanan kompleks perumahan Grand Land, lampu jalanan


temaran.  Kehidupan komplek di luar rumah


sudah sedikit lengang. Terlihat beberapa orang berjalan kaki, atau petugas


keamanan yang berpatroli. Anjas memperlambat mobilnya.  Menghentikan mobil perlahan. Melihat bayanyang menyedihkan. Tangannya


terlihat mencengkram kemudi kuat. Bahkan sampai memukulnya. Bisa terasa dari


helaan nafasnya dia sedang menahan beban.


Aku memang yang menyuruhnya jatuh cinta, tapi kenapa harus dengan cara


seperti ini.


Di area yang sedikit tersembunyi, Bian sedang berdiri ditemani


kegelisahannya. Langkahnya yang maju, kemudian mundur lagi membuat hati Anjas


yang melihatnya sudah sakit. Dia bisa melihat, kalau Bian sedang berusaha


menahan diri sekarang. Apa yang dia katakanya di kantor tadi pagi, pastilah


pertimbangannya.


Kebahagiaanya mempertaruhkan nama baik Key.


Membawa kegetiran, Anjas melajukan mobil. Memecah kehidupan malam.


Membawa satu harapan semoga Bian dan Key bisa menemukan jalan kebahagiaan


mereka sendiri.


Anjas sudah duduk menunggu di ruang kerja. Ketegangan terlihat di


wajahnya. Ya, dia memang selalu seperti itu. Bertemu ketua Adiguna Group


adalah moment yang tidak pernah ia nantikan. Karena kalau dia sudah dipanggil


ke ruangan ini, berarti artinya dia tidak bekerja dengan benar. Menjaga Bian


ataupun melindungi perusahaan.


Dia bangun dari duduk saat melihat pintu terbuka. Seseorang masuk


disusul ayahnya. Gurat lelah terlihat dari wajah mereka berdua.


“ Duduklah.” Adiguna duduk di sofa, menunjuk tempat duduk yang tadi di


diduduki Anjas. “ Kau sudah tahukan kenapa kupanggil kemari?” Langsung pada


intinya. Bahkan sekedar menanyakan kabar pun tidak. Anjas tersenyum sekilas


pada ayahnya menunjukan sikap sopan santun.


Aku tahu rasanya, kenapa Bian selalu benci datang ke rumah ini. Dia tidak


pernah ditanya apa maunya, yang harus dia lakukan adalah mendengarkan dan


melakukan apa yang sudah ia dengar.


“ Bagaimana kau bisa membiarkan Bian melakukan hal bodoh seperti ini.”


Hah, bodoh, kalau mencintai kau sebut bodoh, aku rasa aku sedang berhadapan


dengan manusia paling bodoh di dunia. Begitu pikiran Anjas berusaha menghibur


dirinya sendiri. Kau bahkan masih mencari wanita yang kau cintai kan, lebih


bodoh mana kau dengan Bian. Ya, ya, kalian sama-sama satu level. Menyusahkan.


“Maaf.”Tapi cuma bisa bicara begitu sambil menunduk maaf sebagai rasa


penyesalan.


“ Siapa dia? Apa Bian serius dengan gadis itu.”


Bagaimana Anjas harus mulai menjelaskan, hubungan yang awalnya seperti


tak mungkin terjadi antara Key dan Bian. Hanya karena takdir Tuhanlah, dia


merasa kalau mereka berdua terpilih untuk bersama. Foto viral Key yang


membangkitkan kenangan masa lalu, sekaligus merubah Bian dalam mengartikan cinta.


Cih, sebenarnya ini semua karena aku juga.


Pertemuan Key dan Bian adalah buah dari pertemuan Anjas dan Key. Dialah


yang membuat ikatan takdir antara kedua manusia itu terjalin. Tapi ntah kenapa,


Anjas tidak merasa menyesali. Jika harus mengulang waktu, mungkin dia tetap


akan melakukannya karena ingin menggoda Bian.


“ Anda pasti sudah tahu siapa gadis itu,” mustahil kalau laki-laki


di hadapannya ini belum tahu tentang key. “ kalau Anda bertanya apa Bian jatuh


cinta padanya, jawabannyaa ia. Dia menyukai gadis itu, jauh hari sebelum


pengumuman pertunangannya keluar.”


Adiguna menggelengkan kepala tidak percaya.


“ Bagaimana kau bisa menbiarkannya dan tidak mencegah itu.” Inilah


kesalahan fatal Anjas.


“ Anda pasti tahu perasaaan Bian karena pernah ada diposisinya kan.” Bicara


sambil masih menundukan kepala dan menekan ujung kuku. Atmosfer tiba-tiba


berubah saat ia mengatakan itu.


“ Anjas!” Ayah Anjas membuka suara. “ Bagaimana kau bisa tidak sopan di


hadapan ketua.”


“ Maaf.” Anjas menunduk.


Tapi memang begitu kan, seharusnya orang yang paling bisa memahami


perasaan Bian sendiri adalah laki-laki di hadapannya ini. Dia menikah dengan


nyonya hanya karena perusahaaan. Dia pun mencintai wanita lain, menikahinya


secara siri karena apa, karena dia juga merasakan cinta. Cinta yang tidak dia


temukan dalam gemerlapnya nyonya Yuna. Cinta yang bisa membuat orang melakukan


sesuatu di luar garis yang semestinya.


“ Anjas, kau memanah kelemahaanku ya.” Tergelak pelan.


“ Maaf.”


“ Selama ini Bian hidup dengan baik sebagai putra Anda, sebagai CEO


Grand Mall dia bekerja keras dan melakukan semuanya dengan baik. Saya rasa Anda


yang paling tahu bagaimana kerasnya dia berusaha menjadi anak yang baik untuk


Anda ketua. Jadi saya mohon, kali ini, Biarkan Bian bahagia dengan pilihannya.”


Walaupun Bian tidak menyukai ayahnya, namun demi perusahaan, dia melakukan apa pun yang laki-laki ini katakan.


Helaan nafas. Ketua Adiguna mengalihkan pandangannya pada ayah Anjas.


Pria itu, dulu pun melakukan hal yang sama di hadapan kakeknya Bian. Mencoba yang


terbaik untuk memperjuangkan kebahagiaannya. Ah, andai di awal sebelum menikah


dengan Yuna dia berdiri sepercaya diri ini. Mungkin tragedi demi tragedi tidak


akan terjadi. Dia yang takut menentang ayahnya akhirnya melepas tangan wanita


yang dia cintai dan menikah dengan Yuna.


Begitulah kisah cinta tragisnya yang kalah oleh kewajibannya pada perusahaan.


Namun setelah kepergian ayahnya, dia memberanikan diri membuka kembali


hatinya. Meraih wanita yang dicintai. Namun penghalang itu muncul dari istrinya


“ Kau boleh pergi.” Setelah lama menyelam dalam kenangan.


“ Ketua, saya mohon.”


“ Aku tahu, kau tidak perlu menggunakan kelemahanku untuk mengancamku.”


“ Baik.”


Anjas menundukan kepala sebelum beranjak dari ruangan. Melewati ayahnya


yang menepuk bahu putranya. Anjas menangkap pandangan bangga di mata ayahnya.


Dia keluar dari ruangan.


Apa ini artinya masalah Amanda sudah selesai?


Di ruang keluarga dia bertemu dengan


Yuna Sailendra. Wanita itu pasti sengaja duduk dan menunggunya. Anjas mendekat.


“ Duduklah, kau tahu kan aku sudah menunggumu.”


Tentu saja,dengan wajah yang sudah seperti mau menerkamku itu.


“ Anjas.”


“Ia Nyonya.”


“ Bagaimana kau bisa membiarkan Bian berhubungan dengan wanita seperti


itu. Kau tahu kan pertunangannya dengan Amanda baru saja di resmikan. Kalau


sampai hal seperti ini tercium publik, nama baik Bian dan perusahaan akan


dipertaruhkan.”


Anjas hanya mengangguk, tapi tidak menjawab. Tugasnya memang hanya


mendengarkan sekarang, membalas Ibunya Bian hanya akan menjadi bomerang bagi


dirinya sendiri.


“ Pedagang somai, penjaga minimarket malam, apa itu masuk akal.”


“ Tidak nyonya.” Memang tidak masuk akal. Kalau yang di sukai Bian karyawannya sendiri mungkin itu jauh bisa diterima logika.


“ Kalau kau tahu kenapa sampai kau membiarkan Bian sampai sejauh ini.”


“ Karena Bian memang menyukai gadis itu.”


“Apa!” Tergelak marah. " Suka, apa kau sudah gila sampai mengatakan itu?'


Faktanya memang anakmu yang tergila-gila dan tidak mau melepaskan Key.


Seperti sebuah ikatan karma yang melingkar.  Kejadian ayahnya berulang.


“ Kalau tidak ada yang mau nyonya katakan lagi saya permisi.”


“ Bereskan masalah ini.”  Anjas


berdiri masih memeang pinggir sofa mendengar intonasi tegas Yuna. “ Pisahkan mereka.”


“ Ketua akan menyelesaikan ini dengan baik, nyonya tidak perlu


khawatir.”


“ Apa? Menyelesaikan dengan cara apa?”


“ Saya mohon Nyonya jangan ikut campur, apalagi sampai membawa Amanda


dalam masalah ini. Gadis itu sudah terluka, jangan menambah lukanyaa semakin


lebar dengan Anda menabur harapan. Anda kan yang paling tahu, bagaimana perasaan


Bian pada Amanda.”


Kepalsuan sebuah hubungan yang bisa meledak kapan pun.


Anjas tahu, wanita di hadapanya ini bisa melakukan banyak cara utuk


meraih  yang ia inginkan. Bian yang biasanya akaan mengalah dan


melakukan  yang ibunya katakan, ntah kenapa Anjas merasa kali ini tidak


akan seperti itu. Dia melihat kepercayaan diri Bian.


“ Apa kau pikir aku akan diam saja saat anakmu melakukan hal yang bisa


menghancurkan masa  depannya.”


“ Bisa jadi hal  yang akan Nyonya lakukanlah yang akan


menghancurkan hidup Bian. Saya mohon Nyonya, kali ini jangan ikut campur. Biarlah


ketua yang menyelesaikan ini. Biarkan Bian bahagia untuk dirinya sendiri.”


Yuna mengusir Anjas pada akhirnya. Wanita itu semakin kesal saat mendengar penjelasan Anjas.


***


Kenapa aku harus menghadapi mereka semua dalam semalam.


“ Kak Anjas.”


“ Hemm.” Langit malam yang sedikit bertabur bintang. Menemani mereka


berdua. Roti bakar isi sayuran dan daging ada di tangan mereka. Sedang berusaha mereka nikmati.


" Makan yang banyak, terimakasih ya mau menemaniku." Sejauh apa pun dia berusaha menutupi perasaannya, tapi Anjas tahu yang sedang membuat gundah gadis di depannya ini.


“ Kak." Benar kan, Anjas menggigit roti di tangannya.


Aku tidak mau melukai Amanda, tapi aku juga berharap Bian bahagia. Aaaaaa.


" Kak, aku tidak berharap Kak Bian bisa mencintaiku, karena aku tahu tidak ada


perasaan itu di matanya saat melihatku. Tapi aku akan menerimanya dan


mencintainya itu saja sudah cukup buatku.” Ketika cinta diartikan untuk memiliki, seperti inilah jadinya.


Harapan itu akan menjadi sederhana jika tidak ada wanita lain. Namun


keberadaan Key adalah pisau tajam yang akan melukai Amanda sedikit demi


sedikit. Seperti itulah rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintaimu.


“ Manda.”


“ Ia Kak.”


“Terkadang sesuatu yang indah itu jauh lebih baik dilihat dari kejauhan


saja. " Menunjuk bintang di gegelapan langit malam. " Lihatlah bintang-bintang itu, indah karena kita melihatnya dari kejauhan." Meraih botol minum, memberi jeda untuk Amanda berfikir.  "Aku tahu, perasaan tulusmu pada Bian. Kau mencintainya dengan hatimu,


terlepas hubungan kalian terikat karena perjodohan. Tapi….”


Luka yang seumur hidup tidak akan terobati. Seperti yang Nyonya Yuna


rasakan.


" Tapi, kau berhak bahagia juga."


" Aku bahagia Kak, karena aku mencintai Kak Bian."


" Kau berhak bahagia karena dicintai Manda." Anjas melepaskan tangannya cepat yang tanpa sengaja meraih jemari Manda. Gadis itu pun memalingkan wajah bersemu.


Apa-apaan ini.


" Kau tahu kan, aku menyayangi Bian dan akan mendukungnya. Tapi, aku juga menghormatimu, kau gadis yang baik." Anjas sedang berusaha menutupi kecanggungan, dengan pura-pura tidak habis melakukan kesalahan. " Aku berharap kau bahagia Manda, bukan hanya karena mencintai, tapi juga karena dicintai."


" Kak."


" Ayo, kuantar pulang. Rotimu sudah habis kan?"


" Apa boleh kalau sebentar lagi. Bicara dengan Kak Anjas mengobati lelahku. Aku juga ingin menangis, tapi kalau bersama Kak Anjas rasanya senang aja, sampai lupa kalau sebenarya aku sedang bersedih."


Hah! Baiklah.


Anjas kembali duduk di samping Amanda.


"Kak, apa aku boleh bersandar di bahu Kak Anjas."


Apalagi ini.


Anjas menepuk bahunya. Amanda tertawa lalu menyandarkan kepala.


" Aku bahkan tidak akan berani bertanya kalau pada Kak Bian, terimakasih ya Kak, sudah menemaniku."


Bersambung.


Selamat datang di dunia rumit ini teman, ketika kau tidak menyadari siapa  sebenarnya yang berharga untuk kau cintai ^_^