
Masa lalu merupakan bagian kenangan, untuk hanya dipakai sebagai sarana pembelajaran diri agar menjadi lebih baik. Seharusnya seperti itu bukan,namun pada kenyataanya tidaklah semudah itu.
Yuna masih terduduk di sofa, tangannya berpegangan erat. Mengumpulkan tenagan yang baru saja terkikis habis.
Semua tampak kacau. Setelah Adiguna melangkah pergi, beberapa pelayan
datang untuk membereskan tempat kejadian. Mengumpulkan serpihan cangkir yang
berserak tidak beraturan. Tidak lama datang beberapa orang yang membereskan tv
yang pecah dan menggantinya dengan yang baru.
Tatapan Yuna nanar meninggalkan ruangan, melangkah menuju kamarnya.
Seorang pelayan wanita yang sudah seumuran dengan Yuna bahkan sepertinya
jauh lebih tua memapah tubuhnya masuk ke dalam kamar. Pelayan wanita itu
terlihat sangat bersimpati dengan tulus.
“ Nyonya tenanglah.”
Yuna menghentakan tangan wanita itu lalu ia mengamuk lagi. Melemparkan
barang, sambil berteriak dan menangis. Terakhir dia menarik selimut tebal di
tempat tidur sampai jatuh terduduk karena lemas kehabisan energi. Menyandarkan
kepala ke tempat tidur sambil mengusap airmata dengan punggung tangannya. Dia
benar-benar menangis menumpahkan sesak di dadanya.
“ Kenapa dia cuma bisa menyalahkanku. Padahal semua ini terjadi karena
siapa.” Mencakar selimut membayangkan wajah Adiguna.
“ Nyonya.” Pelayan wanita itu membungkuk, berjongkok di samping Yuna
yang sedang menyandarkan kepala tidak berdaya. Dia menepuk bahu Yuna pelan.
Memberikan simpati.
Wanita itu adalah saksi hidup yang sudah melayani Yuna semenjak pertama
kali dia masuk menjadi pengantin di rumah ini. Dia tahu bagaimana wanita cantik
di hadapannya ini menjadi layu karena tidak mendapatkan cinta. Dan akhirnya
jatuh berguguraan bukan hanya karena diabaikan namun perasaan cemburu karena
melihat suaminya jatuh cinta dan mengegam tangan wanita lain. Semua itu menggerogoti
kecantikankan dari dalam. Memupuk kebencian setiap hari.
Tuan Adiguna bukanlah laki-laki tidak berperasaan. Dia baik dan sopan,
menghormati para pelayan yang bekerja padanya. Namun, ada sisi dari laki-laki
itu yang memang terkesan dingin dan susah untuk di dekati. Dia melakukan apa
pun yang orangtuanya katakan, demi perusahaan. Pernikahannya terjadi karena
kesepakatan bisnis yang menguntungkan. Itulah yang diketahui hampir semua
pelayan di rumah ini.
Pasangan yang tidak saling mencintai menikah karena kesepakatan bisnis
kedua orangtua mereka.
“ Apa aku salah, kalau aku ingin melindungi apa yang menjadi hak Bian anakku.”
Yuna mendongakkan kepala, menarik baju bibi pelayan yang sedang berjongkok di
depannya. “ Kenapa hanya aku yang disalahkan.”
“ Nyonya.”
Yuna masih menangis sesenggukan sambil mengusap airmata.
“ Bibi tahu kan aku sangat menyayangi Bian, cuma dia yang mencintaiku .”
Tangaan pelayan itu masih menepuk Bahu Yuna lembut. “ Aku akan melakukan apa
pun untuk Bian.”
Tangis Yuna mengeras saat bayangan masa lalunya berkelebat.
Pernikahaannya bisnis. Dia tahu itu, dia bahkan merelakan putus dari
kekasihnya dan menerima pernikahan dengan lapang dada. Karena dia melihat
Adiguna yang juga tampan dan penuh pesona. Dia akan mencoba mencintai suaminya
karena laki-laki itu memiliki semua hal yang diimpikan wanita untuk menjadi
pasangannya.
Seperti itulah cara Yuna meyakinkan diri, bahwa pernikahan karena
kesepakatan bisnis masih tetap bisa menemukan titik kebahagiaan kalau dia
berusaha.
Namun uluran tangannya tidak dapat meraih Adiguna. Laki-laki itu hanya
menikah karena orangtua dan tanggung jawab perusahaan. Dia sudah menutup hatinya, bahkan sebelum
Yuna melangkah lebih jauh.
“ Mari jalani tanggung jawab kita masing-masing dengan tidak saling
menggangu.” Begitu kesepakatan yang terjadi antara mereka.
Walaupun memendam kecewa, namun Yuna menganggukan kepala. Dia akan
berperan menjadi istri dan Adiguna menjadi suami.
Yuna tersadar dari kenangan menyedihkan dirinya.
“ Aku bisa terima dia yang tidak mencintaiku.” Sesengukan lagi. Pecah lagi Kristal di ujung matanya “ Aku bisa
terima dia yang mendatangiku saat masa suburku sebagai kewajibanya meneruskan
keturunan. Saat aku sudah hamil dia bahkan tidak pernah lagi mendatangaku. Aku
bisa bertahan untuk itu. Tapi kenapa, kenapa dia yang tidak bisa mencintaiku
tersenyum begitu hangat pada wanita lain. Dia berubah semenjak mengenal wanita itu. Dan
dia dengan tidak tahu dirinya mengatakan jatuh cinta pada wanita itu dan mau menceraikanku.”
Yuna memukul-mukul dadanya. “ Bagaimana bisa aku tidak membenci mereka. Mereka
berbahagia di atas airmataku.”Tumpah semua sesak yang tertimbun di dada Yuna
selama ini.
Tidak ada yang bisa menyalahkan cinta. Dia memanah tanpa mata. Begitulah
cinta, terkadang tidak bisa dimengerti oleh manusia. Namun bagi Yuna yang
terkhianati, semua menjadi api cemburu yang ingin ia bakar habis. Ia tidak
ingin melihat kebahagiaan yang lahir dari airmatanya.
Kenapa kalian tertawa dan hanya aku yang menangis, begitulah teriakan
kebenciannya.
Bibi pelayan tidak bisa berkata-kata lagi. Karena seperti itulah kenyataannya.
Nyonya Jesika memang telah merubah Tuan Adiguna. Tuan Adiguna mencintai Nyonya
Jesika, bahkan hanya dengan melihat caranya memandang Nyonya Jesika, semua orang tahu sebesar apa
Tuan Adiguna mencintainya. Ah, dia tidak mau membela siapa pun atau menyalahkan
siapa pun, karena dia hanya berdiri sebagai penonton. Namun hati kecilnya
selalu bersimpati pada Nyonya Yuna. Dia
masih menepuk pelan bahu Yuna, mengusapnya. Tangan hangatnya menenangkan Yuna.
Dia sudah berhenti sesengukan.
“ Hidupku sangat menyedihkan.”
“ Nyonya,” Mengusap bahu Yuna lagi. “ semua itu sudah berlalu.
Ikhlaskanlah Nyonya. Supaya Anda juga bisa hidup dengan tenang.”
“ Dia menemukan anak Jesi.” Mulai terlihat garang lagi. “ Apa yang akan
terjadi pada Bian sekarang kalau dia membawa anak Jesi pulang.”
“ Mas Bian.”
“ Dia pasti akan mencampakan Bian, dia bahkan akan menceraikanku.” Yuna
merasa terguncang lagi dengan ancaman perceraian. “ Bagaimana masa depan Bian
nanti.”
“ Nyonya, walaupun Anda tidak mau mengakuinya, tapi Anda juga pasti tahu
kan, sayangnya Tuan Adiguna pada Mas Bian.” Bibi pelayan mencoba membantu Yuna
berdiri, untuk duduk di atas tempat tidur. Lalu dia sendiri duduk di sebelah
Yuna. “ Tuan menyanyangi Mas Bian.”
Yuna tidak mau menjawab, dia menarik bantal dan menjatuhkan tubuhnya.
Membisu menenggelamkan wajah ke dalam pelukan batal.
“ Saya ambilkan air hangat ya Nyonya, beristirahatlah.” Menarik selimut
menutupi tubuh Yuna. Lalu dia melangkah keluar ruangan. Pintu terbuka ternyata.
Terkejutnya ia saat mendapati seseorang berdiri di dekat pintu.
“ Tu,Tuan. Apa Anda mau bertemu Nyonya Yuna.”
Sejak kapan Tuan Adiguna berdiri di sini.
“ Pergilah, ambilkan air hangat untuknya.”
“ Baik Tuan.”
Saat pelayan wanita itu langkahnya sudah tidak terdengar, Adiguna menatap
pintu yang tertutup. Setelahnya mengangkat gulungan kertas di tangannya.
Tadinya dia ingin melemparkan itu ke wajah Yuna supaya wanita itu sadar. Lembaran-lembaran
kertas yang dia pegang sekarang adalah surat-surat bukti kepemilikan asset
Adiguna Group yang sudah ia atas namakan Bian. Untuk mengunci mulut Yuna, namun
Adiguna tidak akan bisa melakukannya sekarang. Dia
berbalik, tertunduk,berjalan menuju
kamarnya.
“ Maaf, maafkan aku.” Lirih ia ucapkan sebelum menutup pintu.
***
Basma mematikan TV. Melihat ke arah Key lekat.
kalau semua baik-baik saja.
Key menyibukan dirinya dengan membersihkan rumah seharian ini. Setiap
sudut ruangan dia usap dengan mengkilat. Basma yang tidak ada pekerjaan hanya
menemani sambil bermain hp atau melihat film kartun di TV. Tidak mau ikut
campur, karena tahu apa yang dirasakaan Key. Gadis itu sedang mencari pelarian.
“ Mbak Key, aku mau makan mi
instan.” Padahal dia bisa membuat sendiri, tapi dia sudah lelah melihat Key
yang bolak balik menggosok tempat yang sama. “ Pakai bakso sama cabe rawit
dan daun bawang yang banyak.” Key masih
mengelap sudut lemari tidak menjawab Basma. “ Mbak Key aku mau makan mi instan.”
“ Ah, ia, ia.” Menjatuhkan lap yang dia pegang.
Key menghela nafas sambil menyiapkan masakannya. Melihat Basma yang
sedang tiduran di sofa.
Apa aku membuatnya khawatir.
Ternyata dia menyadarinya juga, kalau tingkahnya seharian ini tidak normal. Walaupun Kak Bian sudah menelfon dan
mengatakan semuanyaa sudah terkendali namun kecemasan masih saja menghantui
hatinya. Bagaimanapun berita itu sudah menyebar di internet. Key teringat foto
viralnya saat berjualan somai. Sampai hari ini pun dia masih bisa melihat fotonya,
kalau ia menggunakan mesin pencarian dengan kata kunci Key imoet somai Central
Park. Apa berita ini juga akan begitu gumamnya. Walaupun wajahnya tidak
muncul, namun identitasnya sebagai penjaga minimarket sangat spesifik.
Tidak lama mi siap santap sesuai pesanan, ditambah taburan bawang goreng
di atasnya.
“ Aku akan membela Mbak Key.” Basma meraih tangan Key yang ada di atas
meja, lalu secepat kilat melepaskannya lagi. “ Jadi jangan khawatir, Kak Bian
pasti bisa mengurusnya.”
Ntahlah, rasa cemas itu tidak mau pergi. Mereka menghabiskan mi di
mangkuk mereka masing-masing.
“ Berhentilah bersih-bersih mbak, rumah ini sudah nggak ada debunya.”
Key tertawa menimpali, saat mereka kemudian mengobrol dan saling meledek
mencairkan suasana, menghabiskan suapan terakhir mi, suara salam dan ketukan pintu terdengar. Suara yang mereka kenali.
Basma langsung berlari menuju pintu meninggalkan sendoknya yang berdenting.
“ Bibi Salsa.” Wajah bibi Salsa yang terlihat pucat jauh lebih membuat
Basma terkejut, ketimbang melihat Bibi Salsa yang berdiri di depan pintu
rumahnya. Datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Apa ini karena berita Mbak Key dan Kak Bian.
“ Bibi.” Key muncul dari dalam. Langsung Bibi mendekap gadis kecil itu
dalam pelukannya. Masuk kedalam rumah. Basma menutup pitu, berdiri melihat
adegan di depannya. Bibi menepuk pundak Key. Merasa sangat bersalah.
“ Bibi kenapa?” Key bingung, tapi dia membalas menepuk bahu Bibi Salsa.
“ Bukan bibi yang kenapa-kenapa.Tapi kamu kan.” Belum bernafas dengan
tenang. “ Bagaimana bisa berita kamu sebagai perusak pertunangan muncul di tv
Key.”
Reaksi bibi Salsa terlihat berlebihan bagi Key dan Basma. Apa lagi kalau
sampai kedatangannya ke ibu kota hanya karena ini.
“Bibi duduk dulu ya. Bas buatin teh buat bibi.” Key menarik tangan Bibi
Salsa supaya duduk di sofa. Meraih tangan bibi. “ Terimakasih karena sudah
khawatir dan membuat bibi jauh-jauh datang kemari. Key nggak papa Bi. Kak Bian
bilang ayahnya sudah membereskannya.” Mencoba menenangkan bibi, walaupun dirinya
seharian ini pun dipenuhi kecemasan.
“Bagaimana caranya?”
“ Key juga nggak tau Bi”
“ Suruh dia datang kemari, Bibi mau mendengar penjelasannya langsung.”
Hah! Bagaimana ini.
Key kebingungan bagaimana harus menjelaskan. Tapi menolak bibi yang
sudah jauh-jauh datang karena mengkhawatirkannya juga salah.
“ Key coba telfon Kak Bian ya Bi, apa bisa menyempatkan ke sini.” Basma
muncul dengan segelas teh.
Bagaimana ini.
Di kamarnya Key masih ragu untuk menghubungi Bian. Dia tidak mau sampai
terjadi pertengkaran atau apalah nanti dengan bibi. Kak Bian pasti sedang
pusing dengan semuanya, kalau aku menambah beban pikirannya bagaimana. Masih
mondar mandir di kamar.
***
Akhirnya hanya berani mengirim pesan.Sekarang Key sudah duduk di damping Bibi Salsa.
“ Ada yang ingin bibi bicarakan berdua dengan Key sebentar Bas. Apa bibi
bisa minta Basma keluar, maaf ya.”
Basma yang duduk di sebelah Key merasa tidak senang.
“ Ini cuma nasehat sesama perempuan Bas.” Bibi Salsa bicara lagi.
Sebenarnya Basma menunjukan reaksi penolakan, namun karena Key yang akhirnya memintanya maka ia menurut. Mengambil hpnya lalu keluar dari rumah.
Setelah Basma keluar, bibi mengusap dadanya pelan. Berulang-ulang. Sekali
lagi menenangkan dirinya. Mengumpulkan keberaian. Key ikut terpancing suasana. Ia
mengusap peluh di dahinya. Menunggu apa yang akan disampaikan bibi Salsa
sebenarnya.
“ Key, apa tidak bisa kamu melepaskan Bian saja,”bibiberujar pelan.
Key langsung tertunduk, baginya Bibi Salsa sudah seperti ibu buatnya.
Dia menyayangi bibi seperti melihat sosok ibu padanya.Tidak ada ikatan darah
yang mengikat mereka, namun ketulusan bibi jauh lebih erat melandasi hubungan
mereka. Hingga ia pernah berjanji akan mendengarkan bibi seperti ia selalu
patuh pada orang tuanya.
Key meremas jemarinya. “ Bi, Key dan Kak Bian saling menyukai.” Masih
tertunduk. Key sungguh tidak ingin membantah bibi Salsa. “ Amanda dan Kak Bian
benar-benar sudah putus, tanpa kebencian di antara mereka.”
Bagaimana ini aku memulainya. Mengatakan tentang asal usul Basma,
tentang orangtuamu yang meninggal karena dikejar-kejar orang suruhan Nyonya
Yuna.
“ Bibi, Key dan Kak Bian sudah berjanji akan menghadapi ini bersama.”
Tiba-tiba Bibi mengeluarkan amplop berwarna coklat dari dalam tasnya.
Bukannya merespon apa yang diucapkan Key. Dia letakan di meja.
“Apa itu Bi?”
Bibi masih menyimpan sejuta keraguan, apa yang dia lakukan sekarang
benar atau tidak. Tapi dadanya sudah sesak dan tidak mampu lagi menyimpan rahasia ini
sendirian. Apalagi Tuan Adiguna yang tidak bisa menepati janjinya.
“ Di amplop ini tersimpan semua rahasia tentang asal usul Basma Key.”
Akhirnya ia ucapkan juga, walaupun dengan tangan gemetar.
Deg. Key pun dadanya langsung berdebar hebat. Masa lalu Basma yang tidak pernah ingin ia cari tahu. Karena
kata ibu, darimana pun dia berasal, dia sekarang keluarga kita Key, dia
adikmu. Sayangilah ia selalu. Kita kubur
semuanya selain itu.
“ Kenapa tiba-tiba Bibi mengatakan tentang asal usul Basma?” Key mendorong amplop menjauhinya. Dia tidak
mau tahu karena teringat pesan ibunya. “ Walaupun Basma bukan adik kandung Key,
tapi dia akan selalu jadi adik Key Bi. Ibu bilang dari manapun Basma berasal
dia sekarang adikku. Aku dan Basma tidak penasaran dengan semua ini.”
Bibi Salsa juga tahu akan janji itu. Tapi sekarang dia menyerah. Karena
bagaimana bisa takdir mereka terikat sedekat ini.
“ Bagaimana kalau masa lalu Basma berhubungan dengan masa depanmu.”
Apa maksudnya?
Sementara di teras rumah, dua orang laki-laki yang duduk diam menunggu saling bertemu pandang. Meletakan hp mereka di samping.
Bian menatap Basma lekat.
Jadi, bocah ini bukan adik kandung Key!
Bian bangun dari duduk,menyambar hp. melihat ke arah Basma.
" Ikut aku!" Bicara hanya dengan bahasa bibir. Dia mengulangi kata-katanya saat Basma hanya diam dan tidak bangun.
Aaaaa, kenapa aku jadi kesal setelah tahu mereka tidak punya hubungan darah.
Basma mengikuti langkah kaki Bian dengan perasaan campur aduk.
bersambung....