Key And Bian

Key And Bian
Kedatangan Adiguna Dan Yuna



Siang hari, saat matahari sudah lewat di atas kepala.


Gang menuju rumah Key terlihat sepi. Namun di antara


rumah-rumah, anak-anak berlarian, bermain menikmati waktu libur sekolah mereka.


Ada yang duduk bergerombol sambil  salah


satu anak memegang ponsel. Yang lain ikut bersorak untuk kemenangan, begitupula


ikut mengaduh ketika mendapati kekalahan.


Di antara pemandangan itu, terlihat dua orang menghentikan langkah.


Mereka masih berada di trotoar jalan, di depan rumah Key. Melihat foodtruck milik gadis


itu sudah terparkir di halaman. Pertanda pemiliknya sudah pulang berjualan.


Mereka memang sengaja datang di waktu siang, setelah memastikaan Key kembali


setelah berjualan somai.


Yuna menghentikan langkah kakinya. Adiguna pun ikut berhenti, melihat


wanita di sampingnya.


“ Kita kembali saja,” ujarnya bergetar. Pandangan matanya lekat melihat


ke arah pintu. Keberaniannya menciut.


“ Yuna, kamu kan sudah berjanji.” Padahal di  mata Adiguna sudah terpancar rasa bahagia,


pertemuan langsung dia dengan darah dagingnya, anak Jesi,wanita yang ia cintai.


Untuk membawa Yuna memasuki gang rumah Key saja sudah harus melalui


drama panjang, sekarang setelah selangkah lagi. Adiguna berfikir untuk menarik


tangan Yuna secara paksa saat ini juga. Namun tangannya yang sudah  terulur terjatuh lagi. Saat mendengar Yuna


bicara.


“ Aku mohon Mas, aku akan membiarkan Basma masuk ke dalam rumah seperti


apa yang kau dan Bian inginkan. Aku tidak akan mengganggunya, seperti janjiku padamu. Tapi aku mohon, aku takut bertemu mereka seperti ini.”


Mereka berdua telah melewati pembicaraan panjang dari hati ke hati. Meluapkan semua isi hati yang terpendam. Sama-sama saling menampar kesalahan masa lalu. Namun pada akhirnya setelah lelah menangis kata maaf itu pun terjadi begitu saja antara keduanya. Tuhan terkadang mengikat hati manusia dengan cara yang tidak terduga.


“ Bukankah kau berjanji untuk minta maaf pada Basma dan Key secara


langsung. Kau dihantui rasa bersalah akhir-akhir ini kan. Bahkan bibi bilang


kau tidak bisa tidur kalau malam, itu karena rasa bersalahmu.” Suara Adiguna


melembut. Ragu dia menyentuh bahu Yuna dan membelainya sesaat. “Ini cara kita


memohon pengampunan.” Dan dia ingin melihat Basma, putranya secara langsung.


Hari ini kesempatan itu pada akhirnya datang.


Yuna sedang berusaha menahan Gejolak dalam hatinya, menahan kekhawatirannya untuk tidak berlarian muncul sekarang.


Ntahlah, itu karena rasa bersalah di masa lalu, atau karena putranya Bian


telah tahu semua kenyataan yang selama ini ia tutupi dengan airmata. Perasaan malu dan rasa bersalah menumpuk di dadanya. Semalaman


dia berusaha untuk berlatih, kata-kata apa yang ingin ia ucapkan pada dua anak


yang hidupnya tercerai karenanya. Apa perlu dia berlutut, bercucuran airmata


atau memeluk keduanya. Namun semuanya terasa canggung di hatinya. Bagaimana


kalau gadis itu mendorong tubuhnya atau menepis tangannya.


Yuna ketakutan hanya membayangkannya saja.


Akhirnya Adiguna berhasil membuat Yuna masuk ke halaman rumah. Keduanya berdiri di depan rumah. Mata Yuna berkeliling melihat


sudut demi sudut yang  bisa ia tangkap


dalam penglihatannya. Hatinya terenyuh. Hah, salah satu putra dari Adiguna


Group tinggal  di sebuah rumah yang


sangat sederhana begini. Rumah yang hanya sebesar dari dapur kediamannya.


Jesika, apa ini caramu membalasku. Menunjukan betapa hinanyaa aku


menjalani hidupku selama ini.


Baru hari ini, setelah Basma dewasa semua terbongkar. Padahal, jika uang


yang diharapkan orang-orang yang mengasuh anak Jesika, saat bayi mereka bisa


membawa bayi merah itu masuk ke dalam Adiguna Group. Membongkar semua hal yang


sudah dia lakukan. Dada Yuna terasa sakit, karena selama ini dialah, dan hanya


dialah yang menyimpan kebencian untuk semua orang.


“ Kau tidak apa-apa? Duduklah, aku akan mengetuk pintu.”


Yuna menurut dia duduk di teras rumah.


Adiguna berdiri di depan pintu sekarang. Mengetuknya pelan sembari mengucapkan


salam. Terdengar sahutan perempuan dari dalam. Pintu berderik terbuka, gadis


itu mematung ketika melihat siapa yang berdiri di balik pintu. Dia merapikan


rambutnya mengusir terkejut.


“ Paman!” Pandangan Key menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk


di teras rumah. “Nyonya juga datang.” Yuna malah memalingkan wajah. Karena dia


merasa malu.


Ah, apa paman memaksa Nyonya datang, dia terlihat tidak nyaman sekali.


“ Siapa Mba ?” Suara Basma terdengar, dia menarik pintu supaya terbuka


lebar. “ Eh…” Basma kehilangan kata-kata ketika melihat siapa yang berdiri di


hadapannya. Key meraih tangan adiknya supaya berdiri di sampingnya. Dengan kaku


Basma melangkah.


Wajah dan mata Adiguna sudah memerah. Matanya lekat menatap putranya.


“ Nak.”


“ Mbak Key.” Bahkan bocah itu pun sepertinya belum siap dengan situasi


emosional yang tiba-tiba ini. Tadinya Basma pasti berfikir, pertemuan pertamanya


dengan ayahnya akan berlangsung saat Kak Bian membawanya kembali ke rumah. Key


agak mendorong pelan tubuh Basma agar selangkah di depannya. Diliriknya Yuna


yang masih duduk diam, masih mengalihkan pandangannya.


“ Bas, cium tangan ayahmu,” ujar gadis itu lembut. Basma masih ragu.


“ Apa boleh ayah memelukmmu Nak.”Kata-kata itu langsung membuat Key


terenyuh. “ Apa boleh ayah memelukmu sekarang.” Serpihan Kristal mulai jatuh di


mata Key. Gadis itu menggangukan kepala saat Basma melangkah mendekati ayahnya.


Tubuh tinggi Adiguna langsung merengkuh bahu Basma. Dan dalam hitungan detik,


isak keduanya saling berlomba. Tangan lelaki yang masih tampak gagah itu


memukul bahu Basma berulang kali. “ Anakku, oh anakku. Jesi, oh Jesi.”


Key hanya melihat pun tak kalah derasnya menitikan airmata. Disela-sela


itu gadis itu melihat Yuna yang memalingkan mata namun mengusap pipinya


berkali-kali dengan ujung jarinya.


Kerinduan  orangtua itu telah


menemukan obatnya.


***


Adiguna membawa Basma berjalan di sampingnya. Key tahu maksudnya, bukan


hanya seorang ayah yang ingin bercengkrama dekat dengan putranya.Tapi paman


sedang memberikannya waktu untuk berdua bicara dengan Nyonya Yuna.


Wanita yang terlihat cantik dan anggun itu duduk dengan canggung di


sofa. Melihat sudut-sudut rumah. Melewati ruang tengah, menangkap bayangan Key


yang sedang membuat teh di dapur. Dia menggigit bibirnya kelu. Selama ini hanya


dialah yang merasa tersakiti dan ketakutan, semua yang ia miliki akan di rampas.


Kedudukan Bian putranya akan terganggu. Saat ia melihat bagaimana wali anak


Jesi hidup dengan begitu sederhana tanpa berfikir untuk sedikit pun


memanfaatkan Basma demi uang, rasa bersalahnya semakin menusuk di dada.


Ia merasa layak untuk di benci.


Key muncul dengan nampan berisi dua cangkir teh. Gelagapan ketika


melihat Yuna duduk bersimpuh di lantai sambil menangis.


“ Nyonya!” Bergegas dia meletakan nampan di meja. Lalu ikut


menelungkupkan kaki di lantai, meraih tangan Yuna. “ Nyonya kenapa begini, saya


mohon jangan begini.”


Isak Yuna membuat tubuhnya bergetar.


“ Maaf, maafkan aku. Tidak, kau tidak perlu memaafkanku. Aku yang


bersalah pada orangtuamu.” Tangan yang sekarang ada di genggamaan Key bergetar


kuat. “ Tapi aku benar-benar tidak bermaksud membuat orangtuamu meninggal Key.


Maaf, maafkan ibu yang gelap mata ini. Tidak, kau tidak perlu memaafkanku. Tapi


aku mohon jangan salahkan Bian.” Yuna yang ingin memohon permintamaafan,


tapi  merasa tidak pantas untuk dimaafkan.


Key meraih bahu Yuna dan memeluknya, menjatuhkan kepala wanita itu di


bahunya. Wajah ibu dan ayahnya melintas di pelupuk mata. Membuat matanya panas,


dan akhirnya diapun ikut sesengukan.


Untuk beberapa lama mereka berada dalam posisi itu, hanya airmata dan isak yang terdengar.


Sekarang mereka sudah duduk di sofa. Mengambil tisyu dan menghilangkan


jejak airmata di pipi masing-masing.  Beberapa menit sedang menata kesedihan dan penyesalan di hati yang


berbeda. Yuna dengan airmata sesal yang menghimpit. Key yang kembali mengingat


kenangan-kenangannya dengan orangtuanya.


“ Nyonya.”


“ Panggil saja bibi Key.”


Eh.


“ Tidak, panggil senyamanmu saja. Maaf kalau aku sudah minta sesuatu


yang berlebihan. “ Yuna lagi-lagi meyadarkan dirinya. Gadis di hadapannya tidak


mendorongnya dan malah memeluknya erat, sudah menjadi berkah luar biasa


baginya.


“ Baik Bi, terimakasih sudah ikut datang bersama paman ke sini.


Terimakasih sudah menerima Basma.”


Lagi-lagi, Yuna seperti mendapatkan tamparan di pipinya. Bagaimana


orangtuamu mendidikmu Key, bagaimana kau berterimakasih untuk sesuatu yang


memang seharusnya aku lakukan dari dulu. Berfikir kalau Key benar-benar tidak


membencinya, mulai berani ia harapkan.


Mereka berbicara dari hati kehati antara seorang wanita. Yuna masih


sesengukan, sesekali menyeka ujung airmatanya. Dia berulang kali meminta maaf.


Memohon jangan menyalahkan Bian. Sama halnya Yuna yang mengulang-ulang


permohonannya, Key pun menggangukan kepala berulang.


“ Segera menikahlah dengan Bian Key.” Yuna menyentuh kepala Key pelan. “


Karena dia mempunyai ibu sepertiku, dia tumbuh menjadi anak keras kepala. Maaf


ya Key, Tapi Bian adalah anak yang baik dan tulus hatinya.”


Aaaaaa kenapa jadi ngomongin nikah.


Wajah Key bersemu malu. Dia bahkan tidak sempat memikirkan bagaimana


sikap Yuna bisa berubah dratis padanya. Rasanya mendapat restu saja sudah


cukup, dia tidak penasaran di luar itu. Namun saat Yuna melanjutkan ceritanya


dia terbelalak tidak percaya. Yuna menceritakan bagaimana hubungannya dengan Adiguna yang mulai membaik. Dan bagaimana rencana kedepan mereka.


Ahhh, hati manusia. Jika dia disentuh dengan kelembutan, sekeras apa pun


pasti akan luluh juga.


Setelah Adiguna dan Basma kembali, wajah mereka terlihat sendu satu sama


lain. Namun mata yang sembab itu tertutup dengan senyum kebahagiaan di antara


keduanya. Lebih-lebi saat Adiguna melihat tangan Yuna dan memegang erat bahu


Key.


“ Ayah pergi dulu ya Nak, sebentar lagi kita akan bersama. Tolong tunggu


sebentar lagi.”


“ Ia.” Basma malu-malu  menjawab,


lalu mencium tangan ayahnya.


“ Bibi pulang ya Key, jangan lupa datang bersama Bian ya. Bibi mohon.”


“ Ia Bi, Key pasti datang.”


Kedua kakak beradik itu menatap langkah-lahkan kecil yang berbalik


melambaikan tangan. Seperti tak mau beranjak. Namun mereka akhirnya menghilang.


“ Mba Key, aku masih malu bicara pada ayah.”


“ Nanti kamu juga akan terbiasa Bas. Mba bahagia Bas. Melihat paman dan bibi yang datang bersama.”


Walaupun bagian hati Key mengatakan, ah, akan seperti apa ya hidupku


tanpa adik kecilku Basma nanti.


Mereka masuk ke dalam rumah dengan mengaitkan jemari tangan.


Bersambung