
Siang hari, saat matahari sudah lewat di atas kepala.
Gang menuju rumah Key terlihat sepi. Namun di antara
rumah-rumah, anak-anak berlarian, bermain menikmati waktu libur sekolah mereka.
Ada yang duduk bergerombol sambil salah
satu anak memegang ponsel. Yang lain ikut bersorak untuk kemenangan, begitupula
ikut mengaduh ketika mendapati kekalahan.
Di antara pemandangan itu, terlihat dua orang menghentikan langkah.
Mereka masih berada di trotoar jalan, di depan rumah Key. Melihat foodtruck milik gadis
itu sudah terparkir di halaman. Pertanda pemiliknya sudah pulang berjualan.
Mereka memang sengaja datang di waktu siang, setelah memastikaan Key kembali
setelah berjualan somai.
Yuna menghentikan langkah kakinya. Adiguna pun ikut berhenti, melihat
wanita di sampingnya.
“ Kita kembali saja,” ujarnya bergetar. Pandangan matanya lekat melihat
ke arah pintu. Keberaniannya menciut.
“ Yuna, kamu kan sudah berjanji.” Padahal di mata Adiguna sudah terpancar rasa bahagia,
pertemuan langsung dia dengan darah dagingnya, anak Jesi,wanita yang ia cintai.
Untuk membawa Yuna memasuki gang rumah Key saja sudah harus melalui
drama panjang, sekarang setelah selangkah lagi. Adiguna berfikir untuk menarik
tangan Yuna secara paksa saat ini juga. Namun tangannya yang sudah terulur terjatuh lagi. Saat mendengar Yuna
bicara.
“ Aku mohon Mas, aku akan membiarkan Basma masuk ke dalam rumah seperti
apa yang kau dan Bian inginkan. Aku tidak akan mengganggunya, seperti janjiku padamu. Tapi aku mohon, aku takut bertemu mereka seperti ini.”
Mereka berdua telah melewati pembicaraan panjang dari hati ke hati. Meluapkan semua isi hati yang terpendam. Sama-sama saling menampar kesalahan masa lalu. Namun pada akhirnya setelah lelah menangis kata maaf itu pun terjadi begitu saja antara keduanya. Tuhan terkadang mengikat hati manusia dengan cara yang tidak terduga.
“ Bukankah kau berjanji untuk minta maaf pada Basma dan Key secara
langsung. Kau dihantui rasa bersalah akhir-akhir ini kan. Bahkan bibi bilang
kau tidak bisa tidur kalau malam, itu karena rasa bersalahmu.” Suara Adiguna
melembut. Ragu dia menyentuh bahu Yuna dan membelainya sesaat. “Ini cara kita
memohon pengampunan.” Dan dia ingin melihat Basma, putranya secara langsung.
Hari ini kesempatan itu pada akhirnya datang.
Yuna sedang berusaha menahan Gejolak dalam hatinya, menahan kekhawatirannya untuk tidak berlarian muncul sekarang.
Ntahlah, itu karena rasa bersalah di masa lalu, atau karena putranya Bian
telah tahu semua kenyataan yang selama ini ia tutupi dengan airmata. Perasaan malu dan rasa bersalah menumpuk di dadanya. Semalaman
dia berusaha untuk berlatih, kata-kata apa yang ingin ia ucapkan pada dua anak
yang hidupnya tercerai karenanya. Apa perlu dia berlutut, bercucuran airmata
atau memeluk keduanya. Namun semuanya terasa canggung di hatinya. Bagaimana
kalau gadis itu mendorong tubuhnya atau menepis tangannya.
Yuna ketakutan hanya membayangkannya saja.
Akhirnya Adiguna berhasil membuat Yuna masuk ke halaman rumah. Keduanya berdiri di depan rumah. Mata Yuna berkeliling melihat
sudut demi sudut yang bisa ia tangkap
dalam penglihatannya. Hatinya terenyuh. Hah, salah satu putra dari Adiguna
Group tinggal di sebuah rumah yang
sangat sederhana begini. Rumah yang hanya sebesar dari dapur kediamannya.
Jesika, apa ini caramu membalasku. Menunjukan betapa hinanyaa aku
menjalani hidupku selama ini.
Baru hari ini, setelah Basma dewasa semua terbongkar. Padahal, jika uang
yang diharapkan orang-orang yang mengasuh anak Jesika, saat bayi mereka bisa
membawa bayi merah itu masuk ke dalam Adiguna Group. Membongkar semua hal yang
sudah dia lakukan. Dada Yuna terasa sakit, karena selama ini dialah, dan hanya
dialah yang menyimpan kebencian untuk semua orang.
“ Kau tidak apa-apa? Duduklah, aku akan mengetuk pintu.”
Yuna menurut dia duduk di teras rumah.
Adiguna berdiri di depan pintu sekarang. Mengetuknya pelan sembari mengucapkan
salam. Terdengar sahutan perempuan dari dalam. Pintu berderik terbuka, gadis
itu mematung ketika melihat siapa yang berdiri di balik pintu. Dia merapikan
rambutnya mengusir terkejut.
“ Paman!” Pandangan Key menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk
di teras rumah. “Nyonya juga datang.” Yuna malah memalingkan wajah. Karena dia
merasa malu.
Ah, apa paman memaksa Nyonya datang, dia terlihat tidak nyaman sekali.
“ Siapa Mba ?” Suara Basma terdengar, dia menarik pintu supaya terbuka
lebar. “ Eh…” Basma kehilangan kata-kata ketika melihat siapa yang berdiri di
hadapannya. Key meraih tangan adiknya supaya berdiri di sampingnya. Dengan kaku
Basma melangkah.
Wajah dan mata Adiguna sudah memerah. Matanya lekat menatap putranya.
“ Nak.”
“ Mbak Key.” Bahkan bocah itu pun sepertinya belum siap dengan situasi
emosional yang tiba-tiba ini. Tadinya Basma pasti berfikir, pertemuan pertamanya
dengan ayahnya akan berlangsung saat Kak Bian membawanya kembali ke rumah. Key
agak mendorong pelan tubuh Basma agar selangkah di depannya. Diliriknya Yuna
yang masih duduk diam, masih mengalihkan pandangannya.
“ Bas, cium tangan ayahmu,” ujar gadis itu lembut. Basma masih ragu.
“ Apa boleh ayah memelukmmu Nak.”Kata-kata itu langsung membuat Key
terenyuh. “ Apa boleh ayah memelukmu sekarang.” Serpihan Kristal mulai jatuh di
mata Key. Gadis itu menggangukan kepala saat Basma melangkah mendekati ayahnya.
Tubuh tinggi Adiguna langsung merengkuh bahu Basma. Dan dalam hitungan detik,
isak keduanya saling berlomba. Tangan lelaki yang masih tampak gagah itu
memukul bahu Basma berulang kali. “ Anakku, oh anakku. Jesi, oh Jesi.”
Key hanya melihat pun tak kalah derasnya menitikan airmata. Disela-sela
itu gadis itu melihat Yuna yang memalingkan mata namun mengusap pipinya
berkali-kali dengan ujung jarinya.
Kerinduan orangtua itu telah
menemukan obatnya.
***
Adiguna membawa Basma berjalan di sampingnya. Key tahu maksudnya, bukan
hanya seorang ayah yang ingin bercengkrama dekat dengan putranya.Tapi paman
sedang memberikannya waktu untuk berdua bicara dengan Nyonya Yuna.
Wanita yang terlihat cantik dan anggun itu duduk dengan canggung di
sofa. Melihat sudut-sudut rumah. Melewati ruang tengah, menangkap bayangan Key
yang sedang membuat teh di dapur. Dia menggigit bibirnya kelu. Selama ini hanya
dialah yang merasa tersakiti dan ketakutan, semua yang ia miliki akan di rampas.
Kedudukan Bian putranya akan terganggu. Saat ia melihat bagaimana wali anak
Jesi hidup dengan begitu sederhana tanpa berfikir untuk sedikit pun
memanfaatkan Basma demi uang, rasa bersalahnya semakin menusuk di dada.
Ia merasa layak untuk di benci.
Key muncul dengan nampan berisi dua cangkir teh. Gelagapan ketika
melihat Yuna duduk bersimpuh di lantai sambil menangis.
“ Nyonya!” Bergegas dia meletakan nampan di meja. Lalu ikut
menelungkupkan kaki di lantai, meraih tangan Yuna. “ Nyonya kenapa begini, saya
mohon jangan begini.”
Isak Yuna membuat tubuhnya bergetar.
“ Maaf, maafkan aku. Tidak, kau tidak perlu memaafkanku. Aku yang
bersalah pada orangtuamu.” Tangan yang sekarang ada di genggamaan Key bergetar
kuat. “ Tapi aku benar-benar tidak bermaksud membuat orangtuamu meninggal Key.
Maaf, maafkan ibu yang gelap mata ini. Tidak, kau tidak perlu memaafkanku. Tapi
aku mohon jangan salahkan Bian.” Yuna yang ingin memohon permintamaafan,
tapi merasa tidak pantas untuk dimaafkan.
Key meraih bahu Yuna dan memeluknya, menjatuhkan kepala wanita itu di
bahunya. Wajah ibu dan ayahnya melintas di pelupuk mata. Membuat matanya panas,
dan akhirnya diapun ikut sesengukan.
Untuk beberapa lama mereka berada dalam posisi itu, hanya airmata dan isak yang terdengar.
Sekarang mereka sudah duduk di sofa. Mengambil tisyu dan menghilangkan
jejak airmata di pipi masing-masing. Beberapa menit sedang menata kesedihan dan penyesalan di hati yang
berbeda. Yuna dengan airmata sesal yang menghimpit. Key yang kembali mengingat
kenangan-kenangannya dengan orangtuanya.
“ Nyonya.”
“ Panggil saja bibi Key.”
Eh.
“ Tidak, panggil senyamanmu saja. Maaf kalau aku sudah minta sesuatu
yang berlebihan. “ Yuna lagi-lagi meyadarkan dirinya. Gadis di hadapannya tidak
mendorongnya dan malah memeluknya erat, sudah menjadi berkah luar biasa
baginya.
“ Baik Bi, terimakasih sudah ikut datang bersama paman ke sini.
Terimakasih sudah menerima Basma.”
Lagi-lagi, Yuna seperti mendapatkan tamparan di pipinya. Bagaimana
orangtuamu mendidikmu Key, bagaimana kau berterimakasih untuk sesuatu yang
memang seharusnya aku lakukan dari dulu. Berfikir kalau Key benar-benar tidak
membencinya, mulai berani ia harapkan.
Mereka berbicara dari hati kehati antara seorang wanita. Yuna masih
sesengukan, sesekali menyeka ujung airmatanya. Dia berulang kali meminta maaf.
Memohon jangan menyalahkan Bian. Sama halnya Yuna yang mengulang-ulang
permohonannya, Key pun menggangukan kepala berulang.
“ Segera menikahlah dengan Bian Key.” Yuna menyentuh kepala Key pelan. “
Karena dia mempunyai ibu sepertiku, dia tumbuh menjadi anak keras kepala. Maaf
ya Key, Tapi Bian adalah anak yang baik dan tulus hatinya.”
Aaaaaa kenapa jadi ngomongin nikah.
Wajah Key bersemu malu. Dia bahkan tidak sempat memikirkan bagaimana
sikap Yuna bisa berubah dratis padanya. Rasanya mendapat restu saja sudah
cukup, dia tidak penasaran di luar itu. Namun saat Yuna melanjutkan ceritanya
dia terbelalak tidak percaya. Yuna menceritakan bagaimana hubungannya dengan Adiguna yang mulai membaik. Dan bagaimana rencana kedepan mereka.
Ahhh, hati manusia. Jika dia disentuh dengan kelembutan, sekeras apa pun
pasti akan luluh juga.
Setelah Adiguna dan Basma kembali, wajah mereka terlihat sendu satu sama
lain. Namun mata yang sembab itu tertutup dengan senyum kebahagiaan di antara
keduanya. Lebih-lebi saat Adiguna melihat tangan Yuna dan memegang erat bahu
Key.
“ Ayah pergi dulu ya Nak, sebentar lagi kita akan bersama. Tolong tunggu
sebentar lagi.”
“ Ia.” Basma malu-malu menjawab,
lalu mencium tangan ayahnya.
“ Bibi pulang ya Key, jangan lupa datang bersama Bian ya. Bibi mohon.”
“ Ia Bi, Key pasti datang.”
Kedua kakak beradik itu menatap langkah-lahkan kecil yang berbalik
melambaikan tangan. Seperti tak mau beranjak. Namun mereka akhirnya menghilang.
“ Mba Key, aku masih malu bicara pada ayah.”
“ Nanti kamu juga akan terbiasa Bas. Mba bahagia Bas. Melihat paman dan bibi yang datang bersama.”
Walaupun bagian hati Key mengatakan, ah, akan seperti apa ya hidupku
tanpa adik kecilku Basma nanti.
Mereka masuk ke dalam rumah dengan mengaitkan jemari tangan.
Bersambung