
Bian tidak bisa menutupi rasa kesal
yang langsung muncul saat melihat seorang gadis sedang berjalan mendekati
mereka berdua.
“ Apa Ibu mengajaknya juga?” Bian
menatap sebal, Amanda melambai, dengan pakaian minim berwarna merah muda. Ia
terlihat cantik seperti seharusnya.
“ Bersikaplah manis pada pacarmu.” Sambil menyenggol tangan Bian.
Gadis itu berjalan cepat. “ Kakak.”
Dia langsung mengelayut manja di lengan Bian. “ Selamat sore Tante, Tante tambah
cantik saja.” Semakin erat melingkarkan tangan. Dia menoleh ke wajah Bian. “Kak,
Manda kangen. Sudah lama tidak bertemu.”
“ Benarkah, aku juga kangen. Akhir-akhir ini sibuk sekali. Maaf tidak sempat mengangkat telfonmu.” Balas Bian
sambil tersenyum. Senyum yang terasa cangung. “Sekarang mau ke mana? Mau jalan-jalan
dulu atau langsung makan. Ibu mau ke mana dulu?”
“ Kita belanja-belanja dulu aja yuk.” Yuna melangkah diikuti yang lain.
Mereka memasuki Grand Mall. Saat sore menjelang malam suasana tempat ini tidak berubah. Para pegawai tentu saja mengenal wajah ke tiga orang ini. Bian Nugara, CEO Grand Mall. Amanda Hiller, pacar
sekaligus brand ambasador, dan putri pemilik brand Morela. Wanita anggun dan
cantik walaupun sudah berumur itu adalah Yuna Selendra. Wanita beruntung yang
bisa menjadi Nyonya Adiguna. Tiga kombinasi yang sempurna antara mereka.
Menjadi bisik-bisik iri dan juga kekaguman. Bian tersenyum ramah pada siapa pun
yang menyapanya. Namun saat tak ada yang memperhatikan, wajah masamnya muncul.
Mereka naik ke lantai dua, di mana
pusat mode berada. Disini terdapat 100 brand ternama. Pakaian, tas, sepatu,
perhiasan, segala aksesoris untuk menunjang penampilan ada di lantai ini. Bian,
berjalan di belakang kedua wanita itu. Ia melirik jam ditangannya, sudah jam
lima. Mengikuti mereka masuk ke dalam toko perhiasan. Deretan etalase mewah
berkilauan. Ditambah dengan pencahayaan yang sempurna, membuat benda-benda
mungil berharga jutaan itu berkilau. Menarik mata setiap wanita yang melihat.
“ Lihat sayang, cantik sekali kalau
kamu pakai kan?” Yuna menempelkan sebuah kalung indah ke leher Amanda. Gadis itu
memegang dengan antusias.
“ Kakak, cocok tidak?” tanyannya
pada Bian, yang memilih duduk sambil melihat deretan cincin. Ia menoleh dan tersenyum.
“ Cocok.” Katanya singkat.
“ Tante belikan untukmu ya.” Kata
Yuna sambil menyerahkan kalung kepada pelayan wanita untuk membungkusnya.
“ Ah, makasih Tante.” Gadis cantik
itu memeluk Yuna dengan manja.
“ Calon menantu Tante yang cantik.”
Yuna membalas pelukan hangat dari Amanda. Matanya melirik Bian yang duduk tidak
acuh di sebelahnya. “ Bi, tidak ingin memberikan sesuatu untuk Amanda.”
“ Tentu, pilihlah mana yang kamu suka.”
“ Sungguh?” sangat antusias Amanda
kembali mengelayutkan tangannya manja dipergelangan lengan Bian. Bian
benar-benar tidak menyukainya. Namun ia masih bisa menarik bibirnya untuk
tersenyum.
“ Tentu saja.”
Sementara para penjaga toko berbisik. Mata mereka terlihat sangat iri. Betapa beruntungnya gadis itu, batin
mereka. Amanda Hiller, model cantik yang menjadi kekasih pangeran Adiguna batin
mereka masing-masing. Akhirnya selesai memilih, Bian menyelesaikan pembayaran.
Sementara dua wanita itu terus saja berbicara.
“ Terimakasih, datang kembali.”Bian
hanya membalas dengan senyuman.
“ Kita makan dulu yuk. Kak Bian mau
makan apa?” tanya Amanda, lagi-lagi tidak mau melepaskan tangannya.
“ Apa saja boleh, bagaimana denganmu Bu?”
“ Terserah Bian saja.”
Akhirnya mereka menuju gerai makanan, turun ke lantai satu. Semua makanan ada di sini. Tradisional Indonesia, manca negara, atau jajanan
populer tersedia. Harganya bisa lima kali lipat daripada yang ada di luaran
sana. Namun tetap saja, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Wisata mall,
sekarang memang jauh lebih diminati masyarakat. Apalagi Grand Mall, memang
berkonsep wisata keluarga. Tempat kalian bisa bersenang-senang bersama
keluarga. Dalam tanda kutip, menghabiskan uang bersama keluargamu di sini.
“ Kita ke Dapur Korea, mau kak?”
“ Boleh.”
Mereka masuk ke resto makanan
Korea. Para pelayan berpakaian cerah, dengan dandanan cantik ala gadis Korea.
Bian memilih duduk di kursi sofa, tepat di pinggir dinding kaca. Di luar cukup
teduh, hari ini cuaca agak suram. Ditambah senja mulai datang. Angin yang agak
dingin mengembuskan pepohonan. Lampu-lampu sudah menyala sedari tadi. Namun
nafas perekonomian, tidak pernah berhenti. Amanda memilih menu makanan.
“ Kak, aku senang kita bisa pergi seperti ini. Iakan tante?”
Yuna tertawa. “Lain kali kalian pergi berdua saja dan berkencan.” Godanya. Amanda tertawa sambil melihat ke arah Bian.
“ Tentu saja. Akan kuatur jadwalnya.” Bian membalas.
Apa yang sedang dilakukannya sekarang?. Makanan apa yang dia siapkan untukku hari ini. Mungkin dia sedang tersenyum bodoh dan tertawa senang menyapa orang-orang yang bahkan tidak
dikenalnya. Bagaimana gadis itu bisa menarik perhatianku. Padahal cuma pedagang somai dan penjaga mini
market. Tentu saja karena wajahnya yang imut dan manis itu. Eh, sejak kapan aku
mulai berfikir begitu. Tawa cerianya yang polos dan tidak dibuat-buat. Ah,
sungguh berbeda sekali denganku. Bodoh. Apa yang kupikirkan sekarang.
“ Kak!”
Bian tersentak, kembali dari lamunan. Makanan sudah terhidang di hadapan mereka. Amanda memasukan semua bahan makanan ke dalam kuah kaldu berwarna merah . Sambil wajahnya tak berhenti
tersenyum menatap Bian. Sayuran, jamur, udang, bakso semua ia masukan. Menunggu
beberapa menit, lalu ia meraih mangkuk milik Bian.
“ Silahkan Kak.” Bian menerimanya sambil mengucapkan terimakasih. “ Aku ambilkan ya Tante?” Amanda juga
mengambil mangkok Yuna.
“ Kalian sungguh pasangan yang
sangat serasi.” Tangan Yuna membelai pipi Amanda.
“ Benarkah Tante?” Amanda
menelungkupkan tangannya ke dagu. Menyembunyikan malu. Memandang Bian, yang
tidak bereaksi selain mengunyah makanannya. Ia tampak kecewa, buru-buru
menutupi rasa kecewanya dengan mulai memasukan makanan ke mulut. Menelannya
dengan getir.
“ Kita nonton setelah ini yuk Tante.” Katanya lagi mengusir canggung.
“ Kalian berdua saja yang menonton, Tante ada urusan.”
“ Ya.” Kecewa Amanda. Memasang wajah cemberut.
“ Bian, ajak Amanda nonton film, lantas antarkan dia pulang ya. ibu pulang duluan ya.”
“ Baiklah.” Sambil mengunyah makanan, tidak menoleh. Selanjutnya hanya Amanda dan Yuna yang terlibat
pembicaraan, sementara Bian hanya diam sambil menikmati makanannya.
“ Benar lho, jangan kecewakan Ibu. Ajak Amanda nonton lalu antarkan dia pulang. Jangan buat suasana yang buruk, tersenyumlah.”
“ Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Datar.
“ Baiklah, Ibu percaya padamu.” Bisiknya di telinga putranya.
Bian yang ingin mengantarnya. “ Jaga dirimu Bu.”
“ Tentu sayang.”
Bian memandang tubuh ibunya sampai
hilang di antara kerumunan orang yang lalu lalang. Sekarang, ia hanya berdua
dengan Amanda. Ingin dia berkata ketus dan mengusir gadis itu pergi. Jika bukan
karena ibunya dia sudah pasti tidak akan ada di sini sekarang.
“ Ayo Kak.” Lagi-lagi menggandeng
tangan Bian. “ Kak Bian mau nonton apa?”
“ Kamu yang pilih saja.”
Mereka menonton film romantis.
Amanda memilih film itu supaya bisa menciptakan kesan yang penuh cinta dan
romantisme. Dia sudah menyusun rencana, bahwa di saat mereka duduk bersebelahan,
ia akan memandang wajah Bian dengan hangat. Lalu menyentuh tangan Bian, sambil
menampilkan kesan seksi. Lalu mata manjanya agar beraksi, diakhiri dengan
senyum ringan yang akan mengetarkan setiap laki-laki. Begitulah kira-kira
kronologi yang ia susun secara matang sambil berjalan ke lantai tiga. Bian diam
sedari tadi. Ia tidak berusaha melepaskan tangan Amanda, namun ia pun tidak
mengengam tangannya dengan hangat.
“ Mau popcorn?” tanyannya pada
Amanda. Gadis itu menganguk. “ Aku beli karcis dan popcorn dulu. Tunggu sambil
duduk di sana.”
“ Baik Kak.”
Bian berjalan menuju loket
penjualan tiket. Berhenti di depan loket, menunjukkan tangan dua, dan
menyebutkan jenis film. “ Kau tahu aku sedang ada di mana kak?” sambil menelfon
dengan suara geram.
Suara di sebrang tertawa.
“ Kencan dengan Amanda.”
“ Darimana kau tahu?”
“ Ibumu yang memberitahuku. Dia
menelpon dan menanyakan jadwalmu sore tadi.”
“ Jadi ini gara-gara kamu kak!”
marah. “ Makasih mba.” Merubah nada bicara, sambil mengambil karcis dan uang
kembalian. “Aku akan membunuhmu kalau kita ketemu nanti.” Malah mendengar Anjas yang tertawa puas di
sana, sebelum ia menutup telfon. Dia kembali dengan membawa popcorn dan cola.
“ Ayo masuk.”
“ Ia.” Amanda menerima popcorn.
Tidak berapa lama dari mereka masuk
film diputar. Suasana cukup ramai. Banyak yang berpasangan. Mereka mencari
tempat duduk mereka, lalu duduk bersebelahan. Di samping Bian duduk seorang
wanita yang sedang mengobrol bersama teman di sampingnya. Di sebelah Amanda juga
demikian. Bian bisa mendengar mereka berbisik membicarakan Amanda. Tapi dia
tidak perduli.
Film diputar. Tidak terdengar
suara, selain yang berasal dari layar besar itu.
Sudah jam delapan. Apa gadis itu
menungguku sekarang, sesekali menatap pintu ketika pelanggan datang dan kecewa
karena bukan aku. Haha, aku jadi ingin melihat wajah bodoh dan polosnya itu.
Selalu tertawa hangat pada semua orang. Ah, kenapa aku malah ada di sini.
Bersama gadis ini. Melelahkan. Bian terus saja melamun. Memandang lurus ke
layar besar namun sama sekali tidak menikmati apa pun. Pikirannya mengudara
jauh.
Sementara itu Amanda juga sama
sekali tidak menikmati film. Adegan romantis yang sudah ia susun dengan matang
tadi mental. Tidak ada satu pun yang berjalan lancar. Ia mengunyah popcorn
dengan kesal. Matanya melihat ke arah Bian lagi. Ia masih terus fokus ke layar,
matanya berkedip sesekali. Sementara tangannnya, ia meletakannya dipangkuannya.
Amanda benar-benar tidak memiliki celah untuk sekedar menyentuh tangan itu.
Sampai layar besar itu hanya
menampilkan tulisan tak ada apa pun yang terjadi. Selain rasanya perutnya akan
meledak. Ia memakan banyak sekali popcorn karena kesal.
“ Aku antar pulang.”
“ Ah ia Kak. Apa kamu menikmati
filmnya.”
“ Tentu. Kamu jugakan?”
“ Ah ia.” Apanya, aku bahkan tidak
melihat filmnya sama sekali batin Amanda kesal.
Sepanjang perjalanan Bian hanya
bicara saat menjawab pertannyaan saja. Selebihnya tidak. Balik bertanyapun
tidak. Amanda merasa kecil sekali. Ia melihat ke arah Bian lagi, ia membawa
mobilnya dengan santai dan tenang. Tidak menoleh sama sekali.
“ Apa Kak Bian bosan? Tidak suka
jalan denganku?”
“ Tidak.” Tentu saja ia. Aku bosan,
sampai rasanya ingin meledak. Kau puas. Hanya bicara dalam hati, tanpa
memandang ke arah Amanda.
Kau bilang tidak bosan, tapi jelas
sekali terlihat bahwa kau ingin hari ini segera berakhir, kau bahkan tidak bicara jika tidak ditanya.
Tapi kenapa? Kau selalu tersenyum seperti itu, seperti mengatakan jangan kuatir
Amanda semua baik-baik saja. Aku menyukaimu. Walaupun sedikit. Itu sudah cukup
bagiku. Sampai di depan rumah, tak
terjadi apa pun. Bahkan menyentuh tanganpun tidak.
“ Masuk dan istrirahatlah.”
“ Terimakasih Kak.”
Bian bisa membaca wajah Amanda yang
terlihat sedih, sebenarnya ia tak mau perduli, namun ntah kenapa di sentuhnya
kepala Amanda.
“ Maafkan aku, banyak sekali yang
harus kupikirkan akhir-akhir ini.”
“ Kak Bian tidak perlu minta maaf,
aku sungguh-sungguh senang hari ini.”
“ Baiklah, masuklah sekarang,
udaranya sudah mulai dingin.”
Wajah Amanda langsung berubah
cerah, ia melangkah pergi dengan perasaan bahagia.
“ Menyebalkan.” Bian melajukan
mobilnya, memecah keramaian malam. Ada beberapa mobil yang menyalipnya. Dadanya
sudah cukup geram malam ini. “ Sudah jam sepuluh lewat, dia pasti sudah
pulang.”
Bersambung...