Key And Bian

Key And Bian
Kencan



Bian tidak bisa menutupi rasa kesal


yang langsung muncul saat melihat seorang gadis sedang berjalan mendekati


mereka berdua.


“ Apa Ibu mengajaknya juga?” Bian


menatap sebal, Amanda melambai, dengan pakaian minim berwarna merah muda. Ia


terlihat cantik seperti seharusnya.


“ Bersikaplah manis pada pacarmu.” Sambil menyenggol tangan Bian.


Gadis itu berjalan cepat. “ Kakak.”


Dia langsung mengelayut manja di lengan Bian. “ Selamat sore Tante, Tante tambah


cantik saja.” Semakin erat melingkarkan tangan. Dia menoleh ke wajah Bian. “Kak,


Manda kangen. Sudah lama tidak bertemu.”


“ Benarkah, aku juga kangen. Akhir-akhir ini sibuk sekali. Maaf tidak sempat mengangkat telfonmu.” Balas Bian


sambil tersenyum. Senyum yang terasa cangung. “Sekarang mau ke mana? Mau jalan-jalan


dulu atau langsung makan. Ibu mau ke mana dulu?”


“ Kita belanja-belanja dulu aja yuk.” Yuna melangkah diikuti yang lain.


Mereka memasuki Grand Mall. Saat sore menjelang malam suasana tempat ini tidak berubah.  Para pegawai tentu saja mengenal wajah ke tiga orang ini. Bian Nugara, CEO Grand Mall. Amanda Hiller, pacar


sekaligus brand ambasador, dan putri pemilik brand Morela. Wanita anggun dan


cantik walaupun sudah berumur itu adalah Yuna Selendra. Wanita beruntung yang


bisa menjadi Nyonya Adiguna. Tiga kombinasi yang sempurna antara mereka.


Menjadi bisik-bisik iri dan juga kekaguman. Bian tersenyum ramah pada siapa pun


yang menyapanya. Namun saat tak ada yang memperhatikan, wajah masamnya muncul.


Mereka naik ke lantai dua, di mana


pusat mode berada. Disini terdapat 100 brand ternama. Pakaian, tas, sepatu,


perhiasan, segala aksesoris untuk menunjang penampilan ada di lantai ini. Bian,


berjalan di belakang kedua wanita itu. Ia melirik jam ditangannya, sudah jam


lima. Mengikuti mereka masuk ke dalam toko perhiasan. Deretan etalase mewah


berkilauan. Ditambah dengan pencahayaan yang sempurna, membuat benda-benda


mungil berharga jutaan itu berkilau. Menarik mata setiap wanita yang melihat.


“ Lihat sayang, cantik sekali kalau


kamu pakai kan?” Yuna menempelkan sebuah kalung indah ke leher Amanda. Gadis itu


memegang dengan antusias.


“ Kakak, cocok tidak?” tanyannya


pada Bian, yang memilih duduk sambil melihat deretan cincin.  Ia menoleh dan tersenyum.


“ Cocok.” Katanya singkat.


“ Tante belikan untukmu ya.” Kata


Yuna sambil menyerahkan kalung kepada pelayan wanita untuk membungkusnya.


“ Ah, makasih Tante.” Gadis cantik


itu memeluk Yuna dengan manja.


“ Calon menantu Tante yang cantik.”


Yuna membalas pelukan hangat dari Amanda. Matanya melirik Bian yang duduk tidak


acuh di sebelahnya. “ Bi, tidak ingin memberikan sesuatu untuk Amanda.”


“ Tentu, pilihlah mana yang kamu suka.”


“ Sungguh?” sangat antusias Amanda


kembali mengelayutkan tangannya manja dipergelangan lengan Bian. Bian


benar-benar tidak menyukainya. Namun ia masih bisa menarik bibirnya untuk


tersenyum.


“ Tentu saja.”


Sementara para penjaga toko berbisik. Mata mereka terlihat sangat iri. Betapa beruntungnya gadis itu, batin


mereka. Amanda Hiller, model cantik yang menjadi kekasih pangeran Adiguna batin


mereka masing-masing. Akhirnya selesai memilih, Bian menyelesaikan pembayaran.


Sementara dua wanita itu terus saja berbicara.


“ Terimakasih, datang kembali.”Bian


hanya membalas dengan senyuman.


“ Kita makan dulu yuk. Kak Bian mau


makan apa?” tanya Amanda, lagi-lagi tidak mau melepaskan tangannya.


“ Apa saja boleh, bagaimana denganmu Bu?”


“ Terserah Bian saja.”


Akhirnya mereka menuju gerai makanan, turun ke lantai satu. Semua  makanan ada di sini. Tradisional Indonesia, manca negara, atau jajanan


populer tersedia. Harganya bisa lima kali lipat daripada yang ada di luaran


sana. Namun tetap saja, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Wisata mall,


sekarang memang jauh lebih diminati masyarakat. Apalagi Grand Mall, memang


berkonsep wisata keluarga. Tempat kalian bisa bersenang-senang bersama


keluarga. Dalam tanda kutip, menghabiskan uang bersama keluargamu di sini.


“ Kita ke Dapur Korea, mau kak?”


“ Boleh.”


Mereka masuk ke resto makanan


Korea.  Para pelayan berpakaian  cerah, dengan dandanan cantik ala gadis Korea.


Bian memilih duduk di kursi sofa, tepat di pinggir dinding kaca. Di luar cukup


teduh, hari ini cuaca agak suram. Ditambah senja mulai datang. Angin yang agak


dingin mengembuskan pepohonan. Lampu-lampu sudah menyala sedari tadi. Namun


nafas perekonomian, tidak pernah berhenti. Amanda memilih menu makanan.


“ Kak, aku senang kita bisa pergi seperti ini. Iakan tante?”


Yuna tertawa. “Lain kali kalian pergi berdua saja dan berkencan.” Godanya. Amanda tertawa sambil melihat ke arah Bian.


“ Tentu saja. Akan kuatur jadwalnya.” Bian membalas.


Apa yang sedang dilakukannya sekarang?. Makanan apa yang dia siapkan untukku hari ini. Mungkin dia sedang tersenyum bodoh dan tertawa senang menyapa orang-orang yang bahkan tidak


dikenalnya. Bagaimana gadis itu bisa  menarik perhatianku. Padahal cuma pedagang somai dan penjaga mini


market. Tentu saja karena wajahnya yang imut dan manis itu. Eh, sejak kapan aku


mulai berfikir begitu. Tawa cerianya yang polos dan tidak dibuat-buat. Ah,


sungguh berbeda sekali denganku. Bodoh. Apa yang kupikirkan sekarang.


“ Kak!”


Bian tersentak, kembali dari lamunan. Makanan sudah terhidang di hadapan mereka. Amanda memasukan semua bahan makanan ke dalam kuah kaldu berwarna merah . Sambil wajahnya tak berhenti


tersenyum menatap Bian. Sayuran, jamur, udang, bakso semua ia masukan. Menunggu


beberapa menit, lalu ia meraih mangkuk milik Bian.


“ Silahkan Kak.” Bian menerimanya sambil mengucapkan terimakasih. “ Aku ambilkan ya Tante?” Amanda juga


mengambil mangkok Yuna.


“ Kalian sungguh pasangan yang


sangat serasi.” Tangan Yuna membelai pipi Amanda.


“ Benarkah Tante?” Amanda


menelungkupkan tangannya ke dagu. Menyembunyikan malu. Memandang Bian, yang


tidak bereaksi selain mengunyah makanannya. Ia tampak kecewa, buru-buru


menutupi rasa kecewanya dengan mulai memasukan makanan ke mulut. Menelannya


dengan getir.


“ Kita nonton setelah ini yuk Tante.” Katanya lagi mengusir canggung.


“ Kalian berdua saja yang menonton, Tante ada urusan.”


“ Ya.” Kecewa Amanda. Memasang wajah cemberut.


“ Bian, ajak Amanda nonton film, lantas antarkan dia pulang ya. ibu pulang duluan ya.”


“ Baiklah.” Sambil mengunyah makanan, tidak menoleh. Selanjutnya hanya Amanda dan Yuna yang terlibat


pembicaraan, sementara Bian hanya diam sambil menikmati makanannya.


“ Benar lho, jangan kecewakan Ibu. Ajak Amanda nonton lalu antarkan dia pulang. Jangan buat suasana yang buruk, tersenyumlah.”


“ Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Datar.


“ Baiklah, Ibu percaya padamu.” Bisiknya di telinga putranya.


Bian yang ingin mengantarnya. “ Jaga dirimu Bu.”


“ Tentu sayang.”


Bian memandang tubuh ibunya sampai


hilang di antara kerumunan orang yang lalu lalang. Sekarang, ia hanya berdua


dengan Amanda. Ingin dia berkata ketus dan mengusir gadis itu pergi. Jika bukan


karena ibunya dia sudah pasti tidak akan ada di sini sekarang.


“ Ayo Kak.” Lagi-lagi menggandeng


tangan Bian. “ Kak Bian mau nonton apa?”


“ Kamu yang pilih saja.”


Mereka menonton film romantis.


Amanda memilih film itu supaya bisa menciptakan kesan yang penuh cinta dan


romantisme. Dia sudah menyusun rencana, bahwa di saat mereka duduk bersebelahan,


ia akan memandang wajah Bian dengan hangat. Lalu menyentuh tangan Bian, sambil


menampilkan kesan seksi. Lalu mata manjanya agar beraksi, diakhiri dengan


senyum ringan yang akan mengetarkan setiap laki-laki. Begitulah kira-kira


kronologi yang ia susun secara matang sambil berjalan ke lantai tiga. Bian diam


sedari tadi. Ia tidak berusaha melepaskan tangan Amanda, namun ia pun tidak


mengengam tangannya dengan hangat.


“ Mau popcorn?” tanyannya pada


Amanda. Gadis itu menganguk. “ Aku beli karcis dan popcorn dulu. Tunggu sambil


duduk di sana.”


“ Baik Kak.”


Bian berjalan menuju loket


penjualan tiket. Berhenti di depan loket, menunjukkan tangan dua, dan


menyebutkan jenis film. “ Kau tahu aku sedang ada di mana kak?” sambil menelfon


dengan suara geram.


Suara di sebrang tertawa.


“ Kencan dengan Amanda.”


“ Darimana kau tahu?”


“ Ibumu yang memberitahuku. Dia


menelpon dan menanyakan jadwalmu sore tadi.”


“ Jadi ini gara-gara kamu kak!”


marah. “ Makasih mba.” Merubah nada bicara, sambil mengambil karcis dan uang


kembalian. “Aku akan membunuhmu kalau kita ketemu nanti.”  Malah mendengar Anjas yang tertawa puas di


sana, sebelum ia menutup telfon. Dia kembali dengan membawa popcorn dan cola.


“ Ayo masuk.”


“ Ia.” Amanda menerima popcorn.


Tidak berapa lama dari mereka masuk


film diputar. Suasana cukup ramai. Banyak yang berpasangan. Mereka mencari


tempat duduk mereka, lalu duduk bersebelahan. Di samping Bian duduk seorang


wanita yang sedang mengobrol bersama teman di sampingnya. Di sebelah Amanda juga


demikian. Bian bisa mendengar mereka berbisik membicarakan Amanda. Tapi dia


tidak perduli.


Film diputar. Tidak terdengar


suara, selain yang berasal dari layar besar itu.


Sudah jam delapan. Apa gadis itu


menungguku sekarang, sesekali menatap pintu ketika pelanggan datang dan kecewa


karena bukan aku. Haha, aku jadi ingin melihat wajah bodoh dan polosnya itu.


Selalu tertawa hangat pada semua orang. Ah, kenapa aku malah ada di sini.


Bersama gadis ini. Melelahkan. Bian terus saja melamun. Memandang lurus ke


layar besar namun sama sekali tidak menikmati apa pun. Pikirannya mengudara


jauh.


Sementara itu Amanda juga sama


sekali tidak menikmati film. Adegan romantis yang sudah ia susun dengan matang


tadi mental. Tidak ada satu pun yang berjalan lancar. Ia mengunyah popcorn


dengan kesal. Matanya melihat ke arah Bian lagi. Ia masih terus fokus ke layar,


matanya berkedip sesekali. Sementara tangannnya, ia meletakannya dipangkuannya.


Amanda benar-benar tidak memiliki celah untuk sekedar menyentuh tangan itu.


Sampai layar besar itu hanya


menampilkan tulisan tak ada apa pun yang terjadi. Selain rasanya perutnya akan


meledak. Ia memakan banyak sekali popcorn karena kesal.


“ Aku antar pulang.”


“ Ah ia Kak. Apa kamu menikmati


filmnya.”


“ Tentu. Kamu jugakan?”


“ Ah ia.” Apanya, aku bahkan tidak


melihat filmnya sama sekali batin Amanda kesal.


Sepanjang perjalanan Bian hanya


bicara saat menjawab pertannyaan saja. Selebihnya tidak. Balik bertanyapun


tidak. Amanda merasa kecil sekali. Ia melihat ke arah Bian lagi, ia membawa


mobilnya dengan santai dan tenang. Tidak menoleh sama sekali.


“ Apa Kak Bian bosan? Tidak suka


jalan denganku?”


“ Tidak.” Tentu saja ia. Aku bosan,


sampai rasanya ingin meledak. Kau puas. Hanya bicara dalam hati, tanpa


memandang ke arah Amanda.


Kau bilang tidak bosan, tapi jelas


sekali terlihat bahwa kau ingin hari ini segera berakhir,  kau bahkan tidak bicara jika tidak ditanya.


Tapi kenapa? Kau selalu tersenyum seperti itu, seperti mengatakan jangan kuatir


Amanda semua baik-baik saja. Aku menyukaimu. Walaupun sedikit. Itu sudah cukup


bagiku.   Sampai di depan rumah, tak


terjadi apa pun. Bahkan menyentuh tanganpun  tidak.


“ Masuk dan istrirahatlah.”


“ Terimakasih Kak.”


Bian bisa membaca wajah Amanda yang


terlihat sedih, sebenarnya ia tak mau perduli, namun ntah kenapa di sentuhnya


kepala Amanda.


“ Maafkan aku, banyak sekali yang


harus kupikirkan akhir-akhir ini.”


“ Kak Bian tidak perlu minta maaf,


aku sungguh-sungguh senang hari ini.”


“ Baiklah, masuklah sekarang,


udaranya sudah mulai dingin.”


Wajah Amanda langsung berubah


cerah, ia melangkah pergi dengan perasaan bahagia.


“ Menyebalkan.” Bian melajukan


mobilnya, memecah keramaian malam. Ada beberapa mobil yang menyalipnya. Dadanya


sudah cukup geram malam ini. “ Sudah jam sepuluh lewat, dia pasti sudah


pulang.”


Bersambung...