Key And Bian

Key And Bian
Merasa Tersaingi



Wajah Key tampak muram. Ia memasak


sambil melamun. Basma bisa tahu, kalau Key  sedang memikirkan sesuatu. Namun ia sangat tahu, kalau wajah Key sedang


seperti itu, sebaiknya ia tidak perlu banyak bicara. Saat semalam pulang dari


mini market ia sudah muram.  Ia memilih


makan dengan cepat.


“ Mba, nanti aku telat pulangnya.”


“ Ya.” Tumben, tidak bertanya


apa-apa. Key dengan engan memasukan makanan ke mulutnya. Basma pergi sambil


mengangkat bahu.


“ Apa kau marah, kenapa tidak


datang semalam? Aku bahkan sudah menyiapkan bekal istimewa semalam. Tapi....


kenapa juga  musti marah, bukankah kita


sudah meluruskan salah paham kita.” Mengunyah makanan. “Tapi kenapa? Ah,


sudahlah. Memang sejak kapan kau berjanji untuk datang tiap malam. Tapikan,


selama ini kau juga datang tiap malam.” Berteriak kesal. “ Dan setelah pristiwa


itu, kau malah tidak datang. Aaa, benar-benar menyebalkan. Aku benar-benar


kesal jadinya.” Masih terus bicara sendiri. Mengomel sambil  membereskan dapur dan mencuci piring.


Lalu seperti biasa, dia menyiapkan


dagangan. Setelah itu bersama foodtrucknya, ia menyusuri jalan. Somai selalu


habis akir-akhir ini.


Sementara wajahnya masih sama, mengelantung mendung.  Setelah menyusuri jalan sekitar setengan jam


sampailah dia di Central Park. Sudah ramai. Dia memang sengaja datang cukup


siang. Somai Cantika yang baru dibuka sudah ada beberapa pembeli.


“ Baru datang Key?” bibi Hanum menyapa.


“ Ia bi, kesiangan tadi.”


Lalu Bibi Hanum mendekat. “Lihat


itu,” menunjuk gerai somai berwarna biru. “ Dia menjelek-jelekan kamu sama


pelanggan yang datang ke tempatnya.”


Key menyusun somai di kukusan. Dia


melirik sekilas ke arah Mba Fatma. Mereka sudah beberapa kali mengobrol, hanya


sekedar menunjukan sikap sopan.


“ Tidak apa-apa Bi, memang apa si yang bisa diomongin tentang Key.”


“ Kamu ini jangan pasrah begitu Key, kamukan sudah dua tahun di sini, dia yang baru beberapa minggu bisa-bisanya merusak citra kamu.”


“ Citra apaan si bi. Emang pejabat, pake pencitraan segala.”


“ Akhir-akhir ini, dagangan kamukan


laris, kalau kamu pulang dan banyak yang datang nyariin kamu, dia langsung main


samber, narik-narik tangan supaya nyobain somai dia. Sudah gayanya manja


begitu.”


“ Haha, Bibi bisa saja.”


“ Liat tu, mukanya langsung masam


saat kamu datang.”


Key lagi-lagi hanya tersenyum, ia


memang tipe orang yang paling malas berprasangka buruk kepada orang lain.


Karena itu melelahkan. Berkonsentrasi, pada hal-hal positif orang lain selalu


jauh lebih baik. Tidak perlu energi yang besar. Dia sudah menyusun somai,


menyalakan kompor. Ada pelangan yang mau membeli soto, membuat Bibi Hanum


menghentikan bicara. Lalu menuju gerobak sotonya.


“ Pagi Key.” Pelanggan pertama. “ Lesu aja, lagi gak enak badan atau lagi putus cinta.”


“ Bukan dua-duanya.” Katanya


nyengir. “Mau makan somai Kak.”


“ Ia, biasa ya.”


Key mengambilkan pesanan, lalu ia


meletakan piring di meja dan ia ikut duduk.


“ Oh ya Key, ada kerja sampingan,


mau nggak?”


“ Apa Kak?”


“ Jadi pacarku.” Key memukul bahu


Aji. Pelanggan setia yang datang kadang dua hari sekali.


“ Lagi tidak mood bercanda kakak.”


Katanya ketus.


“ Haha.  Muka kamu itu lho, lucu banget kalau lagi


manyun. Ada Key, serius ini.”


“ Apa?”


“ Gerai pizza teman, mereka butuh


orang buat deliveri order. Banyaknya pelanggan mereka orang-orang kantor gitu.”


“ Berapa gajinya kak?”


“ Kurang tahu juga.”


“ Kayaknya malah susah buat jadi


sampingan ya Kak, sekarang Key kerja hampir  5 jam  dari jam 4 sampai jam 10.


Key dibayar sekian“ menyebutkan nominal gaji yang ia terima.


“ Key, kamu luar biasa sekali.”


“ Apanya Kak? Orang miskin kan


memang selalu bekerja jauh lebih keras Kak.”


“ Hemmm, bener juga ya Key.


Orang-orang seperti kita ini, memang bekerja keras jauh lebih banyak dari pada


orang-orang kaya. Contohnya saja bosku, dia lahir dari keluarga kaya, hidup


dari kecil sudah enak, besarnya juga tinggal meneruskan kerajaan orang tuanya.”


“ Haha, ada ya Kak seperti itu.


Dari lahir bahkan sudah kaya raya.”


“ Ia.”


“ Tapi kita tetap tidak boleh


mengeluh Kak, bekerja keras saja, terus bekerja keras, karena Key yakin Tuhan


tidak akan menghianati manusia yang bekerja keras.”


Key tertawa sumringah. Gadis


optimis itu memang selalu kelebihan energi. Ah, ia sudah lupa tentang


masalahnya yang membuatnya berwajah suram sedari tadi malam. Aji memang selalu


bisa membuat suasana kembali cerah.


“ Kak Aji kerja di mana?” walaupun


pribadi. Khususnya mengenai pekerjaan.


“ Kenapa? Hayo? Tumben Key


nanya-nanya pekerjaan.” Goda Aji, ia memasukan potongan somainya yang terakhir.


Bersamaan itu dua orang wanita datang memesan somai. Key tidak sempat


melanjutkan perbincangan, ia menyambar uang di meja, lalu berlari masuk ke


mobil.


“ Pergi dulu ya Key, Lanjut besok.”


Melambai dari jauh.


“ Ia kak.”


Pelanggan datang dan pergi. Key


membereskan bekas makan dan botol minum. Menyusun meja kembali. Belum jam makan


siang, separuh porsi somainya sudah habis. Hari ini masih saja ada yang


foto-foto, bertanya ini itu. Dia hanya menjawab seadanya saja. Saat ia melap


meja, Mba Fatma datang menghampirinya. Key tersenyum namun wanita itu hanya


melengos masam.


Kenapa dia, batin key.


Fatma duduk. “ Mau nyoba somainya


Mba.” Katanya.


“ Oh iya Mba, sebentar.” Key


berjalan menuju mobilnya. Kenapa dia ini, bukannya dia jualan somai juga.


“Mau rasa apa?”


“ Campur,” katanya singkat.


Key menyiapkan pesanan, sambil


melirik Fatma. Dia masih duduk masih memperhatikannya. Dengan wajah yang tidak


senang. Mungkin dia hanya ingin membandingkan  rasa somai batin Key, sambil menyerahkan mangkok.


“ Kenapa? Kamu curiga sama saya,


kenapa saya mau beli somai kamu?”


“ Ah, haha, tidak Mba.”


“ Aku memang ingin tahu, gimana


rasanya somai kamu. Kok bisa laris banget. Kamu habis berapa porsi sehari?”


“ Tidak banyak kok Mba. Silahkan.”


Key juga ikut duduk.


“ Sudah berapa lama kamu jualan


di sini Key?”


“ Sudah sekitar dua tahun Mba.”


“ Lama juga ya. Berapa umurmu?


Kayaknya masih muda.”


“ Memang kenapa Mba? Key sudah


bekerja sejak lulus SMU. “


Fatma mengambil satu gigitan. Hemm,


memang enak somainya. Beda dengan punyaku. Dia mengambil lagi yang somai ikan.


Ia memang enak. Huh, ternyata anak ini tidak hanya modal wajah manis saja


rupanya. Namun wajahnya melengos kesal tidak senang. Namun tangannya terus saja


memasukan somai ke mulut.


“ Kamu sendiri yang buat somai ini?”


“ Bukan mba.”


Wajah Fatma terkejut, jadi dia hanya jualan somai orang. Sama sekali tidak istimewa.


“ Jadi kamu ambil dari orang?”


“ Tidak mba."


“ Gimana si, katanya bukan kamu


yang buat somainya, lalu aku tanya kamu ambil dari mana nggak mau jawab. Pelit


sekali kamu, takut aku juga ambil dari bos kamu juga.”


Key jadi merasa binggung, kenapa Fatma marah-marah.


“ Bukan begitu Mba, Key memang tidak membuat somai sendiri, tapi Key juga tidak ambil dibakulan, adiknya Key yang buat somainya. Key cuma dapat jatah buat kulit somainya saja.”


“ Yang benar saja.” Kata Fatma ketus, tidak percaya.


“ Ia Mba, adiknya Key yang buat. Dia juga dapat resep awalnya dari internet . Cuma trial dan error beberapa


kali, sampai jadilah somai seperti rasa sekarang ini.”


“ Memang adikmu chef?”


“ Bukan, dia masih kelas satu SMU.”


“ Haha, kamu ini mau bohong apa


lagi si Key. Bilang saja tidak mau bagi rahasia bakulan somai yang enak, pakai


ngarang-ngarang cerita.”


Key bingung sendiri. Dia memilih


bangun dari duduk, secara pribadi dia benar-benar merasa tersinggung. Lagipula,


untuk apa dia menjelaskan tentang kehidupannya. Pada orang asing.


“ Hei Key, aku bahkan belum selesai


bicara.”


“ Maaf Mba, sepertinya Key tidak


perlu menjelaskan apa pun sama Mba Fatma.”


Wanita itu melengos. Dia meletakan


uang di samping piring yang sudah kosong. Sepertinya tidak mau rugi dia. Lalu


dia pergi, menuju gerobaknya sendiri.


Bibi Hanun yang sedari tadi


memperhatikan datang. “Kenapa dia?”


“ Tidak tahu Bi, marah-marah dan


bilang aku mengarang cerita segala. Key juga kesal jadinya.”


Moodnya yang sudah membaik tiba-tiba


lenyap begitu saja. Dia menoleh ke gerai somai milik Mba Fatma, laki-laki yang


ternyata suaminya itu tersenyum dengan sopan. Seperti ingin meminta maaf atas


sikap istrinya. Key juga tersenyum. Lalu memalingkan pandangan cepat. Merasa


kesal sekali. Jelas-jelas ia bahkan sama sekali tidak akrab dengan Fatma, tapi


bagaimana wanita itu bisa dengan gampangnya mengatakan hal-hal yang membuatnya


sakit hati. Mengada-ada, memang kenapa juga aku harus mengarang cerita.


Basma memang mendapat resep somai ini, dari internet.


Bersambung.......


Terkadang somai milik orang lain memang bisa lebih enak@lasheira.