Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 6)



Ruangan utama sudah dipenuhi tamu


undangan. Para tamu melawati karpet merah yang terbentang, jalan berlengak


lengok sambil tersenyum penuh kebanggaan. Puluhan kamera mengabadikan


kedatangan mereka, ada yang tersenyum sambil mengandeng pasangan, ada yang melenggang


dengan penuh percaya diri sendirian. Tim khusus menyambut para tamu,


mempersilahkan mereka duduk di kursi sesuai dengan nama mereka. Seorang wanita


dengan cekatan mencoret nama di buku yang dia pegang, ketika undangan sudah


duduk di kursinya. Begitu seterusnya.


Di gerai makanan Key dan Basma bisa


melihat dengan jelas orang-orang yang datang. Senyum mereka, rasa bangga dan


percaya diri yang muncul saat kamera mengabadikan momen. Key hampir


berteriak saat seorang laki-laki masuk dengan seorang wanita.


“ Bas diakan artis sinetron idola


mbak Key sama Ibu dulu.” Key menutup mulutnya, saking senangnya. Dia mengeluarkan ponselnya.


Mengambil foto, walaupun tidak bisa terlalu dekat, tapi cukup lumayan. Dalam


hati dia berharap, semoga nanti dia mampir ke gerainya, dan dia bisa berjabat


tangan.


“ Norak.” Kata basma.


“ Apa si Bas.” Dia menyenggol


adiknya. Masih menatap, sampai artis idola dan istrinya  duduk dikursinya.


Seseorang naik ke atas podium. Kak


Anjas rupanya. Sepertinya acara sudah akan dimulai.


“ Assalamualaikum wr, wb.Selamat


malam untuk semua tamu kehormatan kami, terimakasih atas kehadiranya malam ini,


dalam perayaan ke 25 berdirinya mall keluarga milik kita semua Grand Mall.”


Tepuk tangan membahana. Key juga ikut bertepuk tangan senang, “ Baiklah, mari


kita berdiri semuanya, menyambut kedangan ketua Adiguna Grup dan juga CEO Grand


Mall.”


Bagian musik memainkan musik


pengiring yang semangat. Semua orang berdiri, saat pintu terbuka. Beberapa


pengawal masuk, lalu ketua Adiguna Grup berjalan dengan penuh wibawa bersama


istrinya yang cantik mempesona. Yuna Sailendra melingkarkan tangannya  di tangan suaminya. Mereka bergandengan mesra. Sementara di belakang mereka Bian, yang juga menggandeng seorang wanita


cantik. Semua tau siapa gadis beruntung itu, Amanda Hiller, putri tunggal


pemilik brand ternama Morela. Mereka berjalan dengan penuh percaya diri. Tepuk


tangan memenuhi ruangan.


Sementara di antara tepuk tangan


yang membahana itu, di sudut gerai makanan. Tubuh Key bergetar. Ia terduduk


di kursinya, Basma tau apa yang terjadi. Dia menggenggam erat tangan Key. Gadis


itu pasti sangat terguncang saat ini.


Sekelebat pristiwa malam itu


kembali melintas di pikiran Key. “ Apa yang kau inginkan dariku, tidak ada yang


tidak menginginkan apa-apa dariku.” Key masih menunduk menahan perasaannya yang


berkecamuk.


“ Jadi karena kamu adalah CEO Grand Mall” bergumam sendiri.


“ Mba.”


“ Aku gak papa Bas.”


Saat ini tepuk tangan sudah mereda.


Dan para pemegang saham perusahaan sudah duduk, termasuk Ketua dan CEO. Key melihat


wajah itu, sebuah wajah yang tersenyum namun begitu kesepian. Wajah yang


seperti pertama kali ia temui di minimarket waktu itu. Namun, kenapa sekarang


ia merasa tubuhnya mengecil. Terhisap di antara lautan manusia. Bahkan key ingin


tengelam ke dasar bumi sekarang. Berada di sini, melihat Bian yang begitu dekat


namun dalam sosok yang berbeda. Bukan pria ketus, sombong namun menyenangkan


ketika dia sudah mengenalnya. Namun Bian yang duduk di antara orang-orang


terhormat itu sekarang adalah pria yang bahkan tidak akan pernah diimpikan oleh


Key untuk ia raih. Matanya bergeser ke sampingnya, seorang gadis cantik yang


selalu beruntung dalam kehidupannya. Bahkan sejak SMU, Key hanya mampu


menatapnya dengan kagum. Ya dialah Amanda Hiller teman SMUnya dulu.


Acara sudah dimulai, sekarang Anjas


mengundang ketua Adiguna grup untuk memberikan sambutan ke atas podium. Semua


orang berdiri dan bertepuk tangan saat Adiguna Sanjaya berjalan dengan penuh


Ayah Anjas. Tepuk tangan berhenti saat Adiguna sudah berada diatas podium.


“ Terimakasih semuanya silahkan


duduk kembali.” Dia memberikan senyum, serta mengedarkan pandangan ke seluruh


ruangan. Matanya menyapu wajah-wajah tamu, menuju ke arah gerai makanan,


pandangannya beradu pada Basma. Pemuda tampan itu tidak memperhatikannya, dia


terlihat sedang menunduk dan bicara dengan gadis di sampingnya. “ Selamat malam


semuanya, terimakasih tentu saja kepada istri tercinta saya. “ Tepuk tangan


membahana. Yuna sailendra memberikan senyum palsu kebahagiaannya. “ Dan putra


saya tercinta tentu saja. Dan juga semua pimpinan, para pemegang saham, para


karyawan dan juga perusahaan-perusahaan yang sudah menjadi mitra bisnis Grand


Mall. Karena kerja keras kalian semua kita bisa berada di sini, merayakan ulang


tahun grand Mall yang ke 25 dengan gemerlap dan penuh kebahagiaan.”  Tepuk tangan terdengar dengan keras.


"Dan pada hari bahagia ini, saya juga mempunyai pengumuman yang membahagiakan.”


Semua orang saling pandang menunggu, kamera tv, media, dan juru foto bersiap


tidak mau kehilangan momen penting. “ pertunangan secara resmi CEO Gran Mall


Bian Nugara Sanjaya dengan putri cantik pemilik brand Morela yaitu Amanda


Hiller.” Tepuk tangan membahana, ramai. Kamera langsung menyorot ke arah Bian


dan juga Amanda. Mereka berdiri, Amanda tidak mau kehilangan kesempatan


menggandeng tangan Bian saat naik ke podium. Mereka terlihat sangat serasi.


Tampan dan cantik, jika disejajarkan bak raja dan ratu. Adiguna Sanjaya


memeluk putranya.


“ Mari beri tepuk tangan dan restu untuk mereka berdua.”


Semua orang tamu undangan berdiri,


bertepuk tangan. Menyambut berita bahagia itu. Acara pengumunan pertunangan dan


sambutan Adiguna sudah selesai. Anjas kembali menjadi pembawa acara. “ Sekarang


kita sambut CEO Grand mall, pria beruntung yang telah bertunangan dengan


kekasihnya.”


Tepuk tangan lagi. Bian berjalan ke


arah podium lagi, dia memandang Anjas  dengan penuh kebencian. Apa salahku, balas Anjas lewat sorot matanya yang pura-pura tidak menyadari.


“ Selamat malam semuanya.


Terimakasih atas kehadiran dan kerja kerasnya selama ini, bersama Grand Mall


saya ingin mewujudkan sebuah kehidupan yang lebih baik bagi semuanya.


Orang-orang yang ada di sini adalah bagian penting dalam keberlangsungan Grand


Mall kedepannya. Para memimpin perusahaan, para tamu kehormatan dan anggota


VVIP, dan tentunya karyawan Grand Mall semuanya. ” Bian mengedarkan pandangan.


Melihat wajah-wajah tamu undangan. Para petinggi yang berada di kursi depan,


menyusul orang-orang penting di negri ini. Lalu yang terakhir para karyawan


Grand Mall dan Adiguna Grup. Mereka orang-orang yang bekerja keras di perusahaan


ini, mungkin bisa dikatakan yang bekerja jauh lebih keras dari padanya, berada


duduk di belakang, tak terlalu tersorot kamera.  Kini matanya menuju gerai makanan. “ Kalian.” Dia terdiam. Matanya dengan jelas menangkap sosok itu. Gadis penjaga kasir minimarket yang setiap


malam selalu merubah hidupnya. Dia memakai seragam berwarna putih. Dia ada


di sini. Tubuhnya tiba-tiba bergetar pelan. Kakinya rasanya lemas.


Anjas mendekat. “ Bi, lanjutkan


sambutanmu.” Dia berbisik. Seketika Bian tersadar. Matanya masih bertemu dengan


mata gadis itu. Pikirannya buyar, sambutan yang tadi sudah berada di luar kepala


tiba-tiba lenyap.


“ Teruslah bekerja keras.


Terimakasih semuanya.” Akhirnya dia menyudahi sambutannya. Anjas mendelik. Bian


bahkan belum menyelesaikan separuh dari pidato yang sudah dibuat. Namun Bian


sendiri langsung turun, sehingga Anjaslah yang harus menguasai keadaan.


Beberapa orang saling berbisik.


“ Kita meriangkah acara malam ini


terlebih dahulu, dan silahkan nikmati hidangan yang telah di siapkan.”


Lalu muncullah penyanyi wanita


dengan suara merdunya. Susana terasa semakin meriah ketika mc kondang masuk


mengantikan Anjas . dia membawakan acara menjadi lebih hidup. Yang tampak suram


di mejanya hanya Bian. Dia bahkan enggan untuk tersenyum, walaupun sekedar


tersenyum palsu.


BERSAMBUNG.....................