Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 2)



“ Hallo Kak, ia mobilnya sudah


datang. Makasih ya Kak, sudah dibantu, maaf Key merepotkan.” Sementara Basma dan tiga


orang sibuk mengangkut semua somai dan perlengkapannya kedalam mobil boks.  “ Ia Kak, makasih ya.” Karena Foodtrucknya tidak


akan muat sekali jalan untuk memuat semua somai dan perlengkapannya, maka Anjas berinisiatif meminjamkan mobil boks milik Adiguna Grup.


Key sudah menutup telfonnya. Hari


ini ia merasa sangat beruntung, selain karena hari ini somainya akan dicicipi


oleh oran-orang yang sebelumnya belum pernah memakan somainya. Ditambah lagi,


Anjas begitu perduli padanya. Selain memberi pinjaman mobil, dia pun membawa dua


orang  dan sopir untuk membantu Key.


Setelah semuanya selesai, semuanya sudah masuk ke dalam mobil  boks, Key dan Bas duduk di depan bersama seorang sopir, sementara yang dua berada di belakang.


“ Terimakasih Paman sudah


membantu.” Key tersenyum sambil mengucapkan terimakasih dengan tulus.


“ Sama-sama Mbak, ini perintah Pak Anjas.”


Mereka tidak ada yang bicara lagi,


Key memikirkan seperti apa ya pesta perayaan ulang tahun Grand mall yang


ternama itu. Pasti akan ada banyak pejabat penting, pengusaha juga selebriti


ternama negri ini. Iklan perayaan ulang tahun ini sudah mondar mandir di tv


nasional. Sementara Basma, menahan sesak di dadanya. Posisinya sangat


berdekatan dengan Key, dia bahkan bisa merasakan aroma sampo yang dipakai oleh


Key. Mereka memasuki gerbang Grand land yang megah, sebenarnya setiap hari Key


juga melihat dari kejauhan gerbang ini. Dia melewati minimarketnya, Kak Hamzah


yang sedang di sana, nanti pun gilirannya dia sudah minta kak Hamzah menggantikan.


Rumah-rumah disini seperti negri


dongeng, atau seperti yang sering tanyang di film atau drama. Key berdecak


kagum berulang-ulang. Ada ratusan rumah di sini, dengan arsitektur yang


berbeda, sepertinya ada beberapa block, dan setiap block memiliki konsep bangunan


yang berbeda. Ini pertama kalinya dia datang ketempat seperti ini. Key menoleh


kepada Basma, adiknya itu terkejut. “ kenapa?” Key bertanya.


“ Seharusnya aku tanya ada apa


dengan tatapanmu itu?” Kata Basma memalingkan wajah ke kaca.


“ Rumahnya bagus-bagus ya Haha.”


“ Mbak sama Masnya belum pernah


ke sini ya?” tanya paman sopir kemudian menerka-nerka.


“ Haha, ia Pak, cuma lihat gerbangnya aja.”


“ Saya juga kalau tidak kerja


di sini, juga pasti tidak bisa masuk kemari Mba, ada akses khusus untuk bisa


masuk ke sini. Apalagi area awal, yang belokan ke kanan tadi Mba. Di situ rumah


CEO Grand Mall dan CEO Grand Land .”


“ Ooo, CEO Grand Mall tinggal di sini pak?”


“ Ia Mba.”


“ Banyak selebriti juga kan Pak,


saya bekerja di minimarket di depan gerbang, tapi saya juga tidak tahu mana


yang selebriti mana yang bukan, efek jarang nonton tv.”


Bapak sopir hanya tertawa menimpali.


“ Sudah sampai Mba.” Katanya lagi.


Mobil menepi , masuk ke dalam


gerbang, Key hanya bisa berdecak kagum lagi-lagi. Bangunan di depannya berdiri


dengan kokoh, namun terlihat anggun dan mewah. Apalagi hari ini. Banyak mobil


boks ada di sana, banyak juga orang-orang yang sedang sibuk menurunkan barang.


Mereka juga sepertinya membawa makanan.  Ada karpet merah yang sudah tergelar sampai ke pintu. Bunga-bunga indah


melingkar di pintu. Key sudah bisa membayangkan bagaimana gemerlapnya malam


nanti.


“ Sudah datang ?” Anjas muncul,


tangannya memegang dua buah ponsel. Tampak sibuk.


“ Kak Anjas.”


“  Bisa bawa semuanya ke dalam, taruh di gubuk somai, semuanya sudah ada


tulisannya.”


“ Ia Pak.” Lalu paman sopir dan


temannya mulai menurunkan satu persatu barang.


“ Bas, bantu mereka ya Mba.” Basma


berpamitan pada Key.


“ Oh, ini adikmu Key. Apa kabar?”


Sapaan Anjas membuat langkah kaki Basma terhenti.


Anjas mengulurkan tangannya.


Basma pun menerima tangan Anjas dengan sopan.


menjaga mbak Key.”


“ Jangan terlalu formal begitu.


Ini.” Dia menyodorkan dua buah tanda pengenal. Bertuliskan gerai makanan. “


Pakai ini, tanda pengenal kalian supaya bisa masuk.  Lewat pintu samping Key, saya pergi dulu ya,


ada urusan.”


“ Ia Kak, terimakasih sekali lagi.”


Anjas hanya tertawa. “ Traktir aku


nanti sebagai balas budi.”


“ Baik.” Key menundukan badanya.


Anjas berlalu, bersama dengan


lalu-lalang orang. Key lalu mengambil boks yang sekiranya tidak terlalu berat


untuk dibawanya masuk. Ia tersenyum pada beberapa orang yang berpapasan


dengannya selama memasuki gedung. Ada tanda pengenal juga melingkar di leher mereka.


Di depan pintu Key bertemu dengan seseorang yang berdiri dengan setelan jas.


Terlihat seperti penjaga. Dia memperhatikan tanda pengenal Key sebentar,


lalu  mempersilahkan Key masuk tanpa


bicara apa-apa.


“ Paman apa kau lapar?” Jiwa


isengnya Key muncul. Paman penjaga yang disapa kikuk, canggung  dan juga tampak binggung. “ Duduklah Paman, pasti lelahkan?” mungkin dari sebanyak orang yang hilir mudik di sini tidak ada


yang menyapanya.


“ Apa kamu sedang ikut orang tuamu


di sini dek?” dia pasti menduga Key bocah nyasar. “ Jangan buat keributan


di sini, atau nanti orang tuamu yang susah.”


“ Ia Paman.”


“ Sudah masuk sana cari orang


tuamu, jangan berkeliling kemana-mana.”


“ Ia Paman.”


Sambil berlalu Key senyum sendiri.


“ Wahh, apa aku seimut itu ya. Haha. “


 Ternyata gedung ini besar sekali. Masih


bengong karena kagum Basma datang menyenggol tangannya. “ Sini Mba, itu gerai


somainya.” Basma menunjuk deretan gerai makanan yang terbuat dari gubuk bambu.


Terlihat kesibukan yang luar biasa, ada es selendang mayang, es dawet, es


puter, es pisang ijo, ada getuk, mpek-mpek, tekwan ah tidak tahu apalagi.


Tulisannya semakin mengecil dan Key tidak bisa membacanya. Semua jenis jajanan


ada di sini. Basma menarik tangannya yang kembali bengong.


“ Ini seragam disuruh pake nanti


Mba.” Basma meletakan dua buah celemek putih di atas boks. Lalu ia mulai


menyusun peralatan. Memasang gas dan juga kompor. Mereka membawa dua buah


kompor serta kukusan yang besar. Lalu menyusun somai satu demi satu, tidak lupa


memakai sarung pelindung tangan. Sementara Key menyusun somai ke kukusan yang


satunya.


“ Pertama kali ada di tempat


seperti ini, mba masih belum percaya Bas.” Key menoleh, Basma  juga menoleh padanya. Tangan mereka sibuk menyusun somai satu persatu ke dalam kukusan besar. “Kamu pernah berfikir untuk


menjadi bagian dari perusahaan besar ini?”


Basma hanya menggeleng. Dia memang


tidak pernah berfikir terlalu tinggi untuk masa depannya. Segala macam rencana


yang sudah Key susun dan ia iyakan selama ini tidak pernah benar-benar ingin ia


capai. Kuliah lalu bekerja di perusahaan besar. Itu adalah impian wanita yang


dia cintai.


 “ Kamu akan bisa berada di tempat ini suatu hari nanti Bas.”


“ Amiin. Terimakasih atas kerja


kerasnya mba.”


Ntahlah, masa depan masih menjadi sebuah misteri bagiku. Namun yang terlihat di


kepalaku, adalah, aku menjadi seorang pembuat somai dengan banyak gerai somai


nantinya. Key tidak perlu lagi berdagang di Central Park, cukup di rumah ikut


memproduksi somai. Lalu dia bisa pergi kuliah. Ya, mungkin itu masa depan yang


jauh lebih realistis bagiku.


Basma meyakinkan hatinya, bahwa kehidupannya


nanti bukanlahlah beban bagi Key. Namun sebaliknya ia bisa menjadi tiang


penyangga yang kokoh bagi Key.


Bersambung...........


Pesta telah dimulai