
“ Hallo Kak, ia mobilnya sudah
datang. Makasih ya Kak, sudah dibantu, maaf Key merepotkan.” Sementara Basma dan tiga
orang sibuk mengangkut semua somai dan perlengkapannya kedalam mobil boks. “ Ia Kak, makasih ya.” Karena Foodtrucknya tidak
akan muat sekali jalan untuk memuat semua somai dan perlengkapannya, maka Anjas berinisiatif meminjamkan mobil boks milik Adiguna Grup.
Key sudah menutup telfonnya. Hari
ini ia merasa sangat beruntung, selain karena hari ini somainya akan dicicipi
oleh oran-orang yang sebelumnya belum pernah memakan somainya. Ditambah lagi,
Anjas begitu perduli padanya. Selain memberi pinjaman mobil, dia pun membawa dua
orang dan sopir untuk membantu Key.
Setelah semuanya selesai, semuanya sudah masuk ke dalam mobil boks, Key dan Bas duduk di depan bersama seorang sopir, sementara yang dua berada di belakang.
“ Terimakasih Paman sudah
membantu.” Key tersenyum sambil mengucapkan terimakasih dengan tulus.
“ Sama-sama Mbak, ini perintah Pak Anjas.”
Mereka tidak ada yang bicara lagi,
Key memikirkan seperti apa ya pesta perayaan ulang tahun Grand mall yang
ternama itu. Pasti akan ada banyak pejabat penting, pengusaha juga selebriti
ternama negri ini. Iklan perayaan ulang tahun ini sudah mondar mandir di tv
nasional. Sementara Basma, menahan sesak di dadanya. Posisinya sangat
berdekatan dengan Key, dia bahkan bisa merasakan aroma sampo yang dipakai oleh
Key. Mereka memasuki gerbang Grand land yang megah, sebenarnya setiap hari Key
juga melihat dari kejauhan gerbang ini. Dia melewati minimarketnya, Kak Hamzah
yang sedang di sana, nanti pun gilirannya dia sudah minta kak Hamzah menggantikan.
Rumah-rumah disini seperti negri
dongeng, atau seperti yang sering tanyang di film atau drama. Key berdecak
kagum berulang-ulang. Ada ratusan rumah di sini, dengan arsitektur yang
berbeda, sepertinya ada beberapa block, dan setiap block memiliki konsep bangunan
yang berbeda. Ini pertama kalinya dia datang ketempat seperti ini. Key menoleh
kepada Basma, adiknya itu terkejut. “ kenapa?” Key bertanya.
“ Seharusnya aku tanya ada apa
dengan tatapanmu itu?” Kata Basma memalingkan wajah ke kaca.
“ Rumahnya bagus-bagus ya Haha.”
“ Mbak sama Masnya belum pernah
ke sini ya?” tanya paman sopir kemudian menerka-nerka.
“ Haha, ia Pak, cuma lihat gerbangnya aja.”
“ Saya juga kalau tidak kerja
di sini, juga pasti tidak bisa masuk kemari Mba, ada akses khusus untuk bisa
masuk ke sini. Apalagi area awal, yang belokan ke kanan tadi Mba. Di situ rumah
CEO Grand Mall dan CEO Grand Land .”
“ Ooo, CEO Grand Mall tinggal di sini pak?”
“ Ia Mba.”
“ Banyak selebriti juga kan Pak,
saya bekerja di minimarket di depan gerbang, tapi saya juga tidak tahu mana
yang selebriti mana yang bukan, efek jarang nonton tv.”
Bapak sopir hanya tertawa menimpali.
“ Sudah sampai Mba.” Katanya lagi.
Mobil menepi , masuk ke dalam
gerbang, Key hanya bisa berdecak kagum lagi-lagi. Bangunan di depannya berdiri
dengan kokoh, namun terlihat anggun dan mewah. Apalagi hari ini. Banyak mobil
boks ada di sana, banyak juga orang-orang yang sedang sibuk menurunkan barang.
Mereka juga sepertinya membawa makanan. Ada karpet merah yang sudah tergelar sampai ke pintu. Bunga-bunga indah
melingkar di pintu. Key sudah bisa membayangkan bagaimana gemerlapnya malam
nanti.
“ Sudah datang ?” Anjas muncul,
tangannya memegang dua buah ponsel. Tampak sibuk.
“ Kak Anjas.”
“ Bisa bawa semuanya ke dalam, taruh di gubuk somai, semuanya sudah ada
tulisannya.”
“ Ia Pak.” Lalu paman sopir dan
temannya mulai menurunkan satu persatu barang.
“ Bas, bantu mereka ya Mba.” Basma
berpamitan pada Key.
“ Oh, ini adikmu Key. Apa kabar?”
Sapaan Anjas membuat langkah kaki Basma terhenti.
Anjas mengulurkan tangannya.
Basma pun menerima tangan Anjas dengan sopan.
menjaga mbak Key.”
“ Jangan terlalu formal begitu.
Ini.” Dia menyodorkan dua buah tanda pengenal. Bertuliskan gerai makanan. “
Pakai ini, tanda pengenal kalian supaya bisa masuk. Lewat pintu samping Key, saya pergi dulu ya,
ada urusan.”
“ Ia Kak, terimakasih sekali lagi.”
Anjas hanya tertawa. “ Traktir aku
nanti sebagai balas budi.”
“ Baik.” Key menundukan badanya.
Anjas berlalu, bersama dengan
lalu-lalang orang. Key lalu mengambil boks yang sekiranya tidak terlalu berat
untuk dibawanya masuk. Ia tersenyum pada beberapa orang yang berpapasan
dengannya selama memasuki gedung. Ada tanda pengenal juga melingkar di leher mereka.
Di depan pintu Key bertemu dengan seseorang yang berdiri dengan setelan jas.
Terlihat seperti penjaga. Dia memperhatikan tanda pengenal Key sebentar,
lalu mempersilahkan Key masuk tanpa
bicara apa-apa.
“ Paman apa kau lapar?” Jiwa
isengnya Key muncul. Paman penjaga yang disapa kikuk, canggung dan juga tampak binggung. “ Duduklah Paman, pasti lelahkan?” mungkin dari sebanyak orang yang hilir mudik di sini tidak ada
yang menyapanya.
“ Apa kamu sedang ikut orang tuamu
di sini dek?” dia pasti menduga Key bocah nyasar. “ Jangan buat keributan
di sini, atau nanti orang tuamu yang susah.”
“ Ia Paman.”
“ Sudah masuk sana cari orang
tuamu, jangan berkeliling kemana-mana.”
“ Ia Paman.”
Sambil berlalu Key senyum sendiri.
“ Wahh, apa aku seimut itu ya. Haha. “
Ternyata gedung ini besar sekali. Masih
bengong karena kagum Basma datang menyenggol tangannya. “ Sini Mba, itu gerai
somainya.” Basma menunjuk deretan gerai makanan yang terbuat dari gubuk bambu.
Terlihat kesibukan yang luar biasa, ada es selendang mayang, es dawet, es
puter, es pisang ijo, ada getuk, mpek-mpek, tekwan ah tidak tahu apalagi.
Tulisannya semakin mengecil dan Key tidak bisa membacanya. Semua jenis jajanan
ada di sini. Basma menarik tangannya yang kembali bengong.
“ Ini seragam disuruh pake nanti
Mba.” Basma meletakan dua buah celemek putih di atas boks. Lalu ia mulai
menyusun peralatan. Memasang gas dan juga kompor. Mereka membawa dua buah
kompor serta kukusan yang besar. Lalu menyusun somai satu demi satu, tidak lupa
memakai sarung pelindung tangan. Sementara Key menyusun somai ke kukusan yang
satunya.
“ Pertama kali ada di tempat
seperti ini, mba masih belum percaya Bas.” Key menoleh, Basma juga menoleh padanya. Tangan mereka sibuk menyusun somai satu persatu ke dalam kukusan besar. “Kamu pernah berfikir untuk
menjadi bagian dari perusahaan besar ini?”
Basma hanya menggeleng. Dia memang
tidak pernah berfikir terlalu tinggi untuk masa depannya. Segala macam rencana
yang sudah Key susun dan ia iyakan selama ini tidak pernah benar-benar ingin ia
capai. Kuliah lalu bekerja di perusahaan besar. Itu adalah impian wanita yang
dia cintai.
“ Kamu akan bisa berada di tempat ini suatu hari nanti Bas.”
“ Amiin. Terimakasih atas kerja
kerasnya mba.”
Ntahlah, masa depan masih menjadi sebuah misteri bagiku. Namun yang terlihat di
kepalaku, adalah, aku menjadi seorang pembuat somai dengan banyak gerai somai
nantinya. Key tidak perlu lagi berdagang di Central Park, cukup di rumah ikut
memproduksi somai. Lalu dia bisa pergi kuliah. Ya, mungkin itu masa depan yang
jauh lebih realistis bagiku.
Basma meyakinkan hatinya, bahwa kehidupannya
nanti bukanlahlah beban bagi Key. Namun sebaliknya ia bisa menjadi tiang
penyangga yang kokoh bagi Key.
Bersambung...........
Pesta telah dimulai