
Pintu ruangan VVIP tempat Yuna
menunggu terbuka. Semua anggota keluarga sudah hadir. Adiguna Sanjaya muncul
dengan wajah berwibawa, dan tanpa alasan yang jelas wajah itu terlihat bahagia.
Yuna Selendra menggandeng tangan anaknya dengan penuh percaya diri. Bian
berdiri dengan wajah datar. Ia selalu menunjukan raut seperti ini pada
orang-orang di dekatnya. Ia memberi salam pada ayahnya yang baru masuk tanpa ekspresi.
“ Apa ibu terlihat cantik hari ini.” Tanyanya pada Bian. Masih melingkarkan tangan dilengan putranya.
Menunjukan pada suaminya, betapa dekatnya ia dengan putra semata wayang
Adiguna. Putra satu-satunya yang diakui dunia.
“ Ibu selalu cantik di mataku.
Benarkan yah?” dia bertanya pada ayahnya. Adiguna sudah duduk. Bian memancing
keadaan. Paman Haryo, sekertaris ayahnya yang sekaligus ayah Anjas mendekat.
“ Paman yakin, kamu sudah sangat
paham pentingnya acara ini bagi perusahaan, jadi paman harapkan semuanya bisa terlaksana sesuai rencana. Apa kamu juga berfikir demikian Bian?”
Bian tersenyum. “ Aku tahu Paman.
Silahkan umumkan pertunanganku hari ini, aku tidak perduli.”
“ Apa! Pertunangan?” sekarang
ibunya Bian yang terkejut. Dia yang sudah duduk berdiri dan mendekat ke arah
suaminya. “Kenapa tidak mengatakannya kepadaku? “
“ Apa? Tentang pertunangan? Ini
masalah perusahaan, sebaiknya tidak perlu ikut campur.” Kata Adiguna dengan
datar.
“ Apa! Perusahaan! Ini pertunangan
anakku, bagaimana bisa kamu mengatakannya sebagai bagian dari pekerjaan.” Dia
meledak. Bian adalah senjata satu-satunya yang ia miliki untuk mengalahkan
keangkuhan suaminya.
“ Sudahlah Bu, ayah benar,
pertunangan ini hanya bagian dari pekerjaan. Kenapa diributkan.” Bian melerai
santai. Dia tahu, sebenarnya ini salahnya juga, dia tidak bertanya atau memberi
tahu ibunya. Karena dia berfikir bahwa ibunya tahu, karena dia sangat menyukai
Amanda. Tapi Bian tidak menduganya,
bahwa ibunya sama sekali tidak teribat dalam pertunangan ini.
“ Diam bi. Jadi kalian sama sekali
tidak menganggapku.” Yuna lebih gusar ketika Bian dengan entengnya mengatakan
itu.
“ Nyonya, tolong tenanglah.” Paman
Haryo berusaha berbicara dengan penuh wibawa, namun sia-sia, wanita itu
tersulut amarahnya.
“ Paman, apa Paman tidak mengerti
mengatakan bahwa ini bukan urusanku, bahwa ini hanyalah urusan perusahaan.
Lantas, siapa yang tidak boleh marah.” Lebih keras lagi dia mendebat, menuding
wajah suaminya. Sebagai ibunya seharusnya dialah yang paling tahu, seharusnya
dia menjadi orang yang paling bahagia dan bangga sekarang. Tapi apa, dia malah
merasa sehina ini.
“ Lalu apa yang kamu mau sekarang?”
Saat Adiguna mengatakan itu,
mulutnya terkunci. Dia tidak tahu apa yang dia inginkan saat ini. Dia hanya
merasa jika, dia marah, dia menang, dia bisa merasa puas. Itu saja. Wajah
tenang suaminya selalu membuatnya kesal. Itu yang menyulut emosinya sebenarnya.
“ Sudahlah Bu, duduklah, kamu tidak
akan menang bicara dengannya.” Bian menunjuk ayahnya dengan ekor matanya.
Akhirnya Yuna memilih duduk,
sekarang dia duduk agak menjauh, memandang anaknya dengan kesal.
“ Jangan menatapku seperti itu Bu, aku pikir
ayah sudah memberitahumu. Aku juga tidak perduli dengan pertunangan ini.” Bian
punya kambing hitam untuk menyelamatkan dirinya. Yuna menatap suaminya dengan
penuh kebencian. Bagaimana mungkin laki-laki itu melakukan semua ini, dia
benar-benar tidak mengangap dirinya sama sekali. Dalam ingatannya berkelebat
sebuah senyum, senyum yang sangat ia benci. Namun tak lama wajahnya berubah
pias, jika mengingat senyum itu, ada warna darah yang juga secara jelas muncul
setelah menghilangnya bayangan Jesika di pelupuk matanya..
“ Ibu masih marah?” Bian mendekat. Duduk di hadapan
ibunya.
“ Tentu saja.”
“ Aku tidak perduli dengan pertunangan
ini Bu, bukankah Ibu tahu hubunganku dengan Amanda seperti apa. Biarkan saja
semua berjalan sesuai dengan rencana perusahaan, toh memang itu yang
semestinya kan.”
Yuna melihat wajah putranya iba,
bagaimanapun ia merasa kasihan dengan nasib Bian selanjutnya. Anaknya memang
selalu bisa tersenyum dan bersikap biasa di hadapan orang lain. Namun sebagai
seorang ibu, ia bisa tahu, ada apa di hatinya yang sebenarnya. Karena
sebenarnya dialah yang menyumbang poin paling besar dalam pertumbuhan Bian. Dialah
yang sudah membuat Bian seperti sekarang ini.
Hidup dengan kepalsuan dan kebencian.
BERSAMBUNG................