Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 5)



Pintu ruangan VVIP tempat Yuna


menunggu terbuka. Semua anggota keluarga sudah hadir. Adiguna Sanjaya muncul


dengan wajah berwibawa, dan tanpa alasan yang jelas wajah itu terlihat bahagia.


Yuna Selendra menggandeng tangan anaknya dengan penuh percaya diri. Bian


berdiri dengan wajah datar. Ia selalu menunjukan raut seperti ini pada


orang-orang di dekatnya. Ia memberi salam pada ayahnya  yang baru masuk tanpa ekspresi.


“ Apa ibu terlihat cantik hari ini.” Tanyanya pada Bian. Masih melingkarkan tangan dilengan putranya.


Menunjukan pada suaminya, betapa dekatnya ia dengan putra semata wayang


Adiguna. Putra satu-satunya yang diakui dunia.


“ Ibu selalu cantik di mataku.


Benarkan yah?” dia bertanya pada ayahnya. Adiguna sudah duduk. Bian memancing


keadaan. Paman Haryo, sekertaris ayahnya yang sekaligus ayah Anjas mendekat.


“ Paman yakin, kamu sudah sangat


paham pentingnya acara ini bagi  perusahaan, jadi paman harapkan semuanya bisa terlaksana sesuai rencana. Apa kamu juga berfikir demikian Bian?”


Bian tersenyum. “ Aku tahu Paman.


Silahkan umumkan pertunanganku hari ini, aku tidak perduli.”


“ Apa! Pertunangan?” sekarang


ibunya Bian yang terkejut. Dia yang sudah duduk berdiri dan mendekat ke arah


suaminya. “Kenapa tidak mengatakannya kepadaku? “


“ Apa? Tentang pertunangan? Ini


masalah perusahaan, sebaiknya tidak perlu ikut campur.” Kata Adiguna dengan


datar.


“ Apa! Perusahaan! Ini pertunangan


anakku, bagaimana bisa kamu mengatakannya sebagai bagian dari pekerjaan.” Dia


meledak. Bian adalah senjata satu-satunya yang ia miliki untuk mengalahkan


keangkuhan suaminya.


“ Sudahlah Bu, ayah benar,


pertunangan ini hanya bagian dari pekerjaan. Kenapa diributkan.” Bian melerai


santai. Dia tahu, sebenarnya ini salahnya juga, dia tidak bertanya atau memberi


tahu ibunya. Karena dia berfikir bahwa ibunya tahu, karena dia sangat menyukai


Amanda. Tapi Bian  tidak menduganya,


bahwa ibunya sama sekali tidak teribat dalam pertunangan ini.


“ Diam bi. Jadi kalian sama sekali


tidak menganggapku.” Yuna lebih gusar ketika Bian dengan entengnya mengatakan


itu.


“ Nyonya, tolong tenanglah.” Paman


Haryo berusaha berbicara dengan penuh wibawa, namun sia-sia, wanita itu


tersulut amarahnya.


“ Paman, apa Paman tidak mengerti


mengatakan bahwa ini bukan urusanku, bahwa ini hanyalah urusan perusahaan.


Lantas, siapa yang tidak boleh marah.” Lebih keras lagi dia mendebat, menuding


wajah suaminya. Sebagai ibunya seharusnya dialah yang paling tahu, seharusnya


dia menjadi orang yang paling bahagia dan bangga sekarang. Tapi apa, dia malah


merasa sehina ini.


“ Lalu apa yang kamu mau sekarang?”


Saat Adiguna mengatakan itu,


mulutnya terkunci. Dia tidak tahu apa yang dia inginkan saat ini. Dia hanya


merasa jika, dia marah, dia menang, dia bisa merasa puas. Itu saja. Wajah


tenang suaminya selalu membuatnya kesal. Itu yang menyulut emosinya sebenarnya.


“ Sudahlah Bu, duduklah, kamu tidak


akan menang bicara dengannya.” Bian menunjuk ayahnya dengan ekor matanya.


Akhirnya Yuna memilih duduk,


sekarang dia duduk agak menjauh, memandang anaknya dengan kesal.


“ Jangan menatapku seperti itu Bu, aku pikir


ayah sudah memberitahumu. Aku juga tidak perduli dengan pertunangan ini.” Bian


punya kambing hitam untuk menyelamatkan dirinya. Yuna menatap suaminya dengan


penuh kebencian. Bagaimana mungkin laki-laki itu melakukan semua ini, dia


benar-benar tidak mengangap dirinya sama sekali. Dalam ingatannya berkelebat


sebuah senyum, senyum yang sangat ia benci. Namun tak lama wajahnya berubah


pias, jika mengingat senyum itu, ada warna darah yang juga secara jelas muncul


setelah menghilangnya bayangan Jesika di pelupuk matanya..


“ Ibu  masih marah?” Bian mendekat. Duduk di hadapan


ibunya.


“ Tentu saja.”


“ Aku tidak perduli dengan pertunangan


ini Bu, bukankah Ibu tahu hubunganku dengan Amanda seperti apa. Biarkan saja


semua berjalan sesuai dengan rencana perusahaan, toh memang itu yang


semestinya kan.”


Yuna melihat wajah putranya iba,


bagaimanapun ia merasa kasihan dengan nasib Bian selanjutnya. Anaknya memang


selalu bisa tersenyum dan bersikap biasa di hadapan orang lain. Namun sebagai


seorang ibu, ia bisa tahu, ada apa di hatinya yang sebenarnya. Karena


sebenarnya dialah yang menyumbang poin paling besar dalam pertumbuhan Bian. Dialah


yang sudah membuat Bian seperti sekarang ini.


Hidup dengan kepalsuan dan kebencian.


BERSAMBUNG................