Key And Bian

Key And Bian
Basma (Part 2)



Key berhasil menghapus sisa air


matanya. Di angkot ia masih


tersisak, tidak perduli orang-orang yang memberinya


tatapan iba dan kasihan. Mungkin


mereka berfikir Key sedang putus cinta atau


sedang mengalami masalah remaja. Dia


mengusap matanya, sebelum masuk ke minimarket.  Agak lama dia berusaha


menguasai diri. Menarik nafas pelan dan


menghembuskannya dengan perlahan juga. Setelah isak


kecil menghilang dia masuk.


 “ Sudah datang Key?” Hamzah baru


saja membereskan etalase minyak


goreng. Dia menumpuk kardus-kardus yang sudah


kosong.


 “ Ia kak.” Sambil menunduk ia


langsung pergi ke arah gudang.  Masuk ke


dalam kamar mandi. Mengusap wajahnya


berkali-kali. Menghilangkan bekas airmata


yang tersisa. Setelah berhasil


menenangkan diri akhirnya ia keluar.


 “ Kamu baik-baik saja Key?” Hamzah


merasa khawatir, wajah Key terlihat pucat.


 “ Ohh, kepalaku agak pusing sedikit


Kak, tapi aku baik-baik saja.” Lalu ia duduk di belakang kasir dengan lemas.


 “ Benar kamu nggak apa-apa? Aku bisa


gantiin, hari ini nggak ada kuliah.”


 Key memandang wajah Hamzah


sumringah. “Benar Kak. Nanti aku


bayar pas gajian ya.”


 “ Sudah tenang saja, kamu pulang


aja, istirahat, wajahmu terlihat


pucat.”


 “ Makasih ya Kak.”


Key sangat bersyukur karena Hamzah


mau menggantikan shifnya, lalu dia


pergi meninggalkan minimarket. Membawa luka


menganga di hatinya. Bagaimana Basma


bisa punya pemikiran seperti itu. Dari


saat pertama kali dia ada dalam


kehidupannya, Key selalu menganggap Basma adalah


separuh dari nafas kehidupannya.


Apalagi semenjak kepergian orang tuanya, Basma


adalah obat sekaligus udara yang


membuatnya tetap bernafas. Lalu bagaimana


mungkin, dia berfikir suatu hari


nanti aku akan pergi meninggalkannya, begitu


ia bergumam.


 Dia terus menyusuri trotoar sambil


melamun. Sengaja berjalan kaki,


sambil menghitung setiap langkahnya. Memunculkan


kembali memorinya. Mengingat saat


pertama kali Basma hadir dalam kehidupannya.


 ***


 Key berlari ke rumah, sampai ia


tersandung pintu ruang tamu. Namun


dia tidak merasakan apa-apa, rasa gembira


mengubur rasa sakit yang ia rasa.


Berlari lagi dengan senang.


 “ Ibu, Bude Fatimah bilang Ibu


pulang bawa adek buat Key ya?” gadis


kecil itu memeluk ibunya yang sedang


rebahan di kursi ruang keluarga.


Wanita paruh baya itu mengusap kepala Key.


 “ Tapi janji ya, Key akan sayang


dia seperti adik Key sendiri.” Ibu


membelai wajah Key penuh arti, namun ia


tidak pernah tau apa yang ibu simpan


di hatinya saat itu.


 “ Siap! Key berjanji, akan menjadi


Mbak yang baik untuk dede bayi.” Ia


tertawa. Meloncat-loncat girang saat


melihat ayahnya menggendong bayi


mungil keluar dari kamar. “ Ayah, Ayah mau


lihat.” Rengek Key menarik-narik


baju ayahnya.


 “ Ia, ia sebentar.” Sang ayah


berjongkok. Menunjukan wajah mungil


adiknya. “ Dia tampan kan?”


 Key cemberut saat ayahnya


mengatakan kalau adiknya tampan.


Selama ini Key sangat berharap kalau dia akan


punya seorang adik perempuan. Yang


sama cantiknya dengan dirinya. Dia selalu


merasa dirinya cantik, kenapa?


Karena itu yang setiap hari ibunya katakan.


“ Lho kok cemberut?” Ibu mengusap


 “ Key mau adik perempuan!” katanya


lantang.


 “ Lho kenapa?  Key perempuan


lalu adiknya laki-laki, pas sekali. Yang satu putri cantik yang satunya


pangeran tampan. “ Ibu melucu dengan caranya yang luar biasa saat itu. Membuat


Key kecil akhirnya tersenyum.


Tidak berhenti menciumi adiknya,


yang diberi nama Basma Adiputra. Saat itu dan


sampai kedua orang tuanya meninggal


Key tidak pernah sekalipun menanyakannya,


dari mana Basma berasal. Pangeran


kecil itu adiknya, dan akan selalu jadi adiknya.


 Tentunya sampai hari ini. Airmata


Key kembali menetes. Ia sesenggukan.


Memasuki rumah, sudah hampir gelap di luar. Ia


sengaja duduk cukup lama di kursi di


pinggir jalan tadi.  Dia membuka pintu rumah, melihat sepatu Basma


ada di sana. Jadi berandal kecil itu


sudah pulang batinnya. Sekali lagi ia berusaha menguatkan pertahanannya, agar


airmatanya tidak tumpah lagi.


 Basma muncul dari dalam karena


mendengar suara pintu terbuka.


 “ Mba.” Panggilnya pelan.


 Key diam, berjalan di hadapannya


tanpa sedikit pun menoleh. Ia langsung


masuk ke kamar. Menelungkupkan kepalanya di atas


bantal sambil menangis. Ia merasa


gagal menjadi seorang kakak.


 “ Mba Key.” Basma mengetuk pintu


berulang kali. Tidak ada suara sahutan, ia menempelkan telinga di pintu namun


tidak terdengar apa pun. “ Mba, Bas minta maaf mba.” Masih tidak ada reaksi


apa pun. Akhirnya ia pergi


meninggalkan pintu kamar Key. Kembali ke dalam


kamarnya. Duduk di tempat tidur


sambil memandang tas kecil yang dilemparkan


kakak perempuannya tadi.


Ia keluar lagi, berjalan menuju


pintu kamar Key. “ Mba maaf, Basma


benar-benar minta maaf. Bas janji akan


menurut semua kata-kata mba Key.


Keluarlah mba, bicara denganku.” Ketukan


tangan Basma melemah. Ia juga mulai


terisak, ada airmata merembes ke pipinya. “ Maaf mba, Bas memang kurang ajar.


Pukul saja Basma mba.” Akhirnya suara sesenggukannya jauh lebih keras daripada


ketukan tangannya di pintu. Membuat hati Key teriris mendengarnya. Selama ini,


ia selalu membiarkan dirinya menanggung apa pun asalkan adiknya selalu bisa


tersenyum dan tertawa senang.


 Perlahan ia membuka pintu. Melihat


Basma yang terduduk sambil menangis.


Ia pun ikut jongkok. Memukul-mukul bahu


basma. “Bocah nakal.”


 “ Maaf mba.”


 “ Jangan pernah mengatakan itu lagi, atau aku akan benar-benar


sangat marah padamu Bas.”


Basma memeluk tubuh Key, dadanya


selalu bergetar kencang jika ia


melakukan itu, namun sekuat tenaga ia


menahannya.


 “ Mbak sayang sama kamu Bas.” Lama


mereka saling terisak. Mencoba


mengalirkan perasaan mereka satu sama lain. “


Kamu itu adiknya mbak, sampai kapan pun


akan seperti itu.” Dipukulnya bahu


adiknya berulang.


 Basma masih sesenggukan, ia


benar-benar minta maaf. Ia sadar


kata-katanya tadi sangat menyakitkan, ia


sendiri merasa sakit hati apalagi


Key. Seseorang yang selama ini telah hidup


menjadi separuh nafasnya. Key selalu


mengatakan bahwa hidupnya adalah dia.


 “ Maaf mbak.”


 Mereka sama-sama menangis. Sampai


lama. Mencoba menguatkan diri


masing-masing, bahwa ikatan darah ada ataupun


tidak mereka tetaplah saudara.


 “Aku lapar Mba.”  Setelah


berhasil menguasai diri. Mau tidak


mau Key tertawa, ia memukul bahu


adiknya berulang-ulang. Ia memang mendengar


perut adiknya berbunyi.


Bersambung.....


Klik favorit ya ^_^


Terimakasih