Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 1)



Pagi yang cerah. Matahari sudah


memancarkan sinarnya, menerobos melalui celah-celah. Menari-nari di antara


dinding rumah. Basma sudah mandi dan terlihat tampan. Dia memasak untuk


sarapan. “ Mba Key, makan!” teriaknya dari dapur. Key yang sedang ada di ruang


depan membereskan mangkok-mangkok dan garbu. Memasukannya ke dalam boks besar.


“ Iya sebentar lagi selesai.”


Tidak lama dia sudah muncul di


dapur. Basma sudah menghidangkan semua makanan di atas meja. “Sudah selesai Mba?


Kita pergi jam berapa nanti?”


“ Jam 3.” Sudah duduk, siap menyantap sarapan.


“ Mobilnya sudah ada?”


“ Kak Anjas pinjamkan. Mobil


Adiguna Grup.”


Mereka sarapan dengan tenang,


sesekali Basma melirik Key. Wajah itu makin hari makin terlihat bahagia saja.


Ada binar yang terpancar seperti cahaya keluar. Bibirnya juga sering merekah


tanpa sebab. Basma menduga itu karena laki-laki itu. Laki-laki tampan yang


setiap malam mengantarnya pulang. Status mereka teman, namun Basma yakin ada


perasaan tersimpan di hati Key.


“ Mba!”


“ Kenapa?”


“ Aku diminta foto lagi.” Diam


sebentar melihat reaksi Key. Saat Key hanya diam dan makan dengan tenang, itu


isyarat dia bisa melanjutkan pembicaraanya. “ Gak papa kan Mba, ini juga kan lagi


liburan?” diam lagi, menunggu reaksi.


“ Itu semua foto buat apa?”


“ Cuma jualan baju online aja mba.”


Menemukan firasat kalau Key akan menyetujui kerja part timenya.


“ Kamu mau jadi model.”


“ Tidak.”


“ Masih berfikir untuk tidak pergi kuliah?”


“ Tidak Mba, Bas akan belajar


dengan baik, sekolah dengan benar dan masuk universitas seperti yang Mba


katakan. Ini cuma untuk mengisi waktu aja, lagian cuma foto buat model  baju juga kok. “


Key diam. Kalau dia mengatakan


tidak, Bas juga pasti akan menurutinya. Tapi melihat adiknya merasa kecewa,


pasti dia akan merasa bersalah juga. “ Janji cuma waktu liburan ini.”


“ Siap Mba. Tapi menurut Mba, Bas


kelihatan ganteng gak di foto.” Malu-malu sambil menyentuh lehernya ia tersipu.


Key mengajungkan jempolnya. “ Tidak


cuma ganteng, Bas itu keren dan  cute.


Kalau sedang menatap membuat yang ditatap meleleh.”


“ Apaan si Mba Key.”


“ Haha, beneran. Kalau mba bukan


mbaknya Bas, pasti  sudah jatuh cinta.”


Seperti ada angin mendesir di antara


rambutnya. Basma memalingkan wajahnya, tidak mau Key melihat reaksi sedih


di matanya.


Ya, sampai kapan pun, kamu tetap


akan melihatku hanya sebagai adikmu.


Lalu ia kembali melanjutkan


makannya.  Hari ini mereka cukup santai.


Somai sudah beres di dalam kulkas. Tinggal memindahkannya ke dalam boks nanti


saat mau berangkat.


 Untuk bumbu kacangnya, Bas sudah menyiapkan


semuanya kemarin dan pagi ini tinggal memasaknya. Dia bermain-main dengan


ponselnya sembari menunggu bumbu somai dimasak. Bumbu somai memerlukan


pemasakan yang lama dengan menggunakan api kecil, agar minyak yang ada di dalam


kacang keluar menjadikan bumbu somainya tambah nikmat.


Key juga begitu, dia bermain-main


dengan ponselnya. “ Bas, nama akun kamu apa?”


“ Akun apaan?”


“ Sosial media, mba baru buat ni.”


“ Basma Adiputra.”


“ Pakai nama asli?”


“ Ia. Memang nama mba apa?”


“ Key imoet. Haha, percaya diri


Pakai foto yang mana ya, yang sama kamu aja ya Bas. Eh, nanti dikirain


pacaran.” Key sebenarnya bicara pada dirinya sendiri, namun karena posisinya


itu ada di sofa ruang keluarga, sementara Basma ada di meja makan jadi seperti


dia bicara pada adiknya.


“ Aku pakai foto mba Key di foto


profilku kok.”


“ Hah!” kaget. “ Beneran?”


“ Kalau ada yang nanya siapa itu,


aku jawab aja pacar.”


“ Ngawur. Ganti, ganti!”


“ Kenapa?” ada nada tidak suka


ketika Basma bertanya.


“ Idih Basma ini gimana si, nanti


tidak ada perempuan bakal naksir sama kamu.” Key masih sibuk dengan mainan


barunya, masih bingung sebenarnya.


“ Biarin, Bas memang gak mau


pacaran kok.” Dia bangun ke dapur, mengaduk sambal somainya. Dia menoleh. Key


masih asik dengan ponselnya. Banyak yang bertanya tentang siapa perempuan yang


berfoto dengannya di foto profil sosial medianya. Dia selalu menjawab pacar.


Banyak yang komplen dan merasa kecewa. Tapi dia cuek saja, dan malas menangapi


komen-komen yang tidak jelas. Tapi Rian, seperti humas menjelaskan siapa Key.


Rian adalah anak dari pemilik online shop dimana dia menjadi modelnya.


“ Mau cari teman-teman sekolah


dululah. Ah, Mba kangen sama mereka, apa kabar mereka ya? “


Key terkejut, Basma tiba-tiba sudah


duduk di hadapannya. Sejak kapan anak ini di sini batinnya. Basma menyentuh kedua


lengannya erat, tangan kokohnya membuat Key tidak bisa bergerak. “ Katakan


padaku dengan jujur Mba. Mba Key ingin kuliah kan?”


“ Tidak.” Key menggeleng, meminta


Basma melepaskan tangannya.


“ Bohong!”


“ Tidak.”


“ Apa karena aku, bodohnya aku,


tentu pasti karena aku kan.”


“ Apa sih Bas, jangan mulai lagi.”


Pura-pura sibuk dengan ponselnya.


“ Mba Key liat aku.” Basma


menyentuh dagu Key, memaksa gadis itu memandang matanya. “Tidak bisakah kita


sama-sama mewujudkan impian kita Mba. Mba ingin aku kuliah, dan aku pun ingin


Mba hidup dengan bahagia. Mba masih muda, Bas tidak mau Mba selamanya jadi


pedagang somai.”


Key menyentuh kepala Basma lembut,


mengalirkan kasih sayang yang besar untuk adiknya. “ Mba gak akan julan somai


terus kok, nanti kalau Bas sudah kuliah dan bekerja pasti gak punya waktu buat


somai kan. Nanti Mba juga akan mulai memikirkan mimpi Mba, kalau Bas sudah


berhasil.” Wajah Key berbinar, meyakinkan bahwa ia benar-benar bahagia dan


baik-baik saja. “ Jangan khawatirkan Mba, Mba bahagia kalau bisa mengantarkanmu


menuju kesuksesan.”


“ Kebahagiaan Mba juga tujuan


hidupku.” Dia diam. Ingin sekali memeluk Key, namun ia mengurungkan niatnya.


Dia berlalu ke dapur mengaduk bumbu somai. Setelah tiga jam, akhirnya matang.


Dia pun mengaduk-ngaduknya, supaya uapnya keluar. Sementara Key kembali


memegang ponselnya.


Waktu itu terus berlalu, dia pun


tumbuh semakin dewasa, baik dari usia ataupun kematangan berfikir. Semakin


dewasa, Basma mengagumi Key bukan hanya sebagai kakak perempuan yang memang


sudah sewajarnya untuk ia sayangi. Basma selalu melihat Key, seutuhnya sebagai


seorang wanita. Gadis muda yang tidak mengalir darah yang sama di nadinya.


Untuk itu, ia tidak pernah berfikir bahwa Key adalah saudara perempuan yang


harus ia jaga. Tapi Key adalah wanita yang ia cintai dan ingin ia miliki


sendiri untuk selamanya. Pasti mengelikan, mungkin Key akan menamparnya dan


merasa jijik jika ia mengatakan yang sebenarnya tentang perasaannya. Sehingga


sampai hari ini, ia selalu menyimpan rapat itu. Menyimpan ekspresi sukanya


dalam-dalam.


Bersambung


Episode pesta akan panjang ya @LaSheira