Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 7)



Para pelayan membawakan makanan


dari gerai makanan. Semua staff pemilik gerai makanan sibuk meracik makanan mereka masing-masing ke


dalam mangkok, piring atau gelas saji. Key pun demikian, dia hanya melihat tanpa


ekspresi saat Bian turun dari podium tadi. Laki-laki itu tidak menolehnya, atau


melirik sekali pun tidak. Ia berjalan datar lalu duduk di kursinya tadi.


“ Duduklah Mba, biar aku yang lakukan.”


“ Aku gak papa Bas.”


“ Tubuhmu gemetar Mba.”


Ada air mata tanpa alasan menetes


di ujung mata Key. Ia tidak tahu alasanya apa. Keterkejutannya saat mendapati


kenyataan bahwa Bian adalah seorang laki-laki kaya, CEO sebuah mall terbesar di


Asia. Atau pengumuman pertunangan ini. Basma menarik tubuh Key untuk duduk,


sekarang ia cekatan meracik somai. Menuang bumbu, saat para pelayan datang untuk


mengambil makanan ia sudah siap siaga. Kerjanya memang saat teratur dan


tangkas.


Key mencari wajah itu, dalam


iringan sebuah lagu manis yang dibawakan dua penyanyi ternama. Dia terdiam,


menatap lurus dan dingin ke arah panggung, seolah sedang menikmati lagu yang


dinyanyikan. Seorang pelayan meletakan beberapa piring dan mangkok kecil di


mejanya. Amanda, gadis cantik itu tersenyum sambil mengambil satu mangkok


kecil. Dia memakannya, sambil menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Bian.


Bian menolaknya, dia menggelengkan kepala. Key bisa merasakan kecewa di wajah


Amanda, namun gadis itu segera menguasai suasana hatinya. Key menghembuskan


nafas dalam. Apa yang dia harapkan sebenarnya sekarang. Kenapa dia harus merasa


kecewa, sedih, bahkan cenderung marah, kepada dirinya sendiri. Selama ini, dia


tidak pernah merasa sedikit pun hina dengan kondisi kehidupannya, baik dari segi


ekonomi atau kehidupan sosial di mana dia sudah tidak memiliki orang tua lagi.


Namun saat ini, ia benar-benar merasa tubuhnya menciut dan mengecil. Ingin


tenggelam dan menghilang.


Bian yang tak pernah mau


membicarakan dirinya, menyinggung kehidupan pribadi atau pekerjaan. Dia yang


begitu bangga bercerita tentang penghasilan hariannya berjualan somai. Haha,


apakah dalam hati dia menertawakanku. Menertawakan jumlah uang yang kusyukuri


telah kudapatkan dengan kerja keras. Wajah Key, berubah kesal begitu saja.


Sementara Bian, masih memandang ke arah panggung. Mc sudah muncul bersama Anjas,


membawakan kembali acara. Semuanya berjalan dengan sangat baik dan sempurna.


Sambutan dari Mentri Perdagangan dan Mentri Kebudayaan. Konsep tradisional


namun tetap terasa glamor yang diusung dalam ulang tahun Grand Mall yang ke 25


benar-benar mampu menjadi daya tarik yang luar biasa.


Para tamu undangan sudah diperbolehkan


berjalan ke gerai makanan sekarang, masih ada penyanyi yang mendendangkan lagu.


Namun acara inti dan resminya sudah selesai. Sekarang sudah menjadi gala diner


dan pesta makan malam. Beberapa orang terlihat antri di beberapa gerai, namun


tidak terlalu mencolok. Malu. Gerai somai Key juga ramai dikunjungi para tamu.


Key, sendiri sudah mulai bisa menguasa diri. Dia membantu memberi bumbu ke


dalam mangkuk kecil yang dengan cepat diambil oleh para tamu. Beberapa orang


makan di dekat gerai, sambil mengobrol dan memuji kalau somai mereka enak.


Basma tersenyum sambil meladeni para wanita yang tertarik mengajaknya


berbincang.


Seorang pasangan berdiri di depan


gerai. Mereka terlihat sangat serasi. Key menatap pasangan di depannya,


terlihat sangat manis.


“ Kakak mau somai.”


Eh, kenapa laki-laki itu memanggil


si wanita dengan sebutan kakak. Sepertinya tidak terlalu terlihat perbedaan


usia diantara mereka.


“ Mau, mau. Permisi mbak, saya


ambil somainya ya.” si wanita bicara pada Key dengan ramah. Senyumnya sangat manis pikir Key. Aku ingin secantik dia nanti kalau sudah dewasa. Tanpa sadar Key menyentuh rambutnya. Membandingkan dirinya dengan wanita Di hadapannya.


“ Ia Kak silahkan.” Key


mempersilahkan sambil menyerahkan garbu ke masing-masing.


“ Ahh sayang enak.” Wanita cantik


itu makan dengan lahap, sementara laki-laki di hadapannya membuka mulut minta


disuapi.


Idih, gak bisa gitu ambil sendiri, banyak juga dimeja.


Key yang sedang jomblo dan sakit


hati tanpa alasan tiba-tiba merasa ngilu melihat kemesraan di depannya.


“ Ren, di sana ada artis lho, nanti


boleh minta foto ya.” Si wanita bicara dengan semangat sambil menunjuk seseorang


yang tidak jauh dari gerai somai. Key sendiri tidak mengenal siapa artis yang dimaksud.


“ Kakak bagaimana ini, aku jadi


ingin mengajak kakak pulang, mengurung kakak dan mengikat kakak di tempat


tidur.” Laki-laki itu bicara sambil menyelipkan rambut si wanita.


Key yang mendengar dan melihatnya merinding.


Eh, dia tidak sedang bercandakan.


Key menarik lengan Basma, ia yakin Basma juga mendengar percakapan dua orang di


depannya, yang mulai berjalan menjauh dari gerai somai.


“ Bas cowok itu lagi gak bercandakan, kamu dengarkan tadi.”


“ Ia.” Basma menjawab santai.


“ Gimana itu Bas, nasib mbaknya. Mbaknya cantik dan imut begitu. Bas, dia gak akan kenapa-napakan.”


“ Jangan khawatirkan mereka mbak, mereka pasti hidup dengan bahagia.”


“ Hah apa?”


Key makin bingung dengan apa yang


dikatakan Basma. Sok tahu gitu kan kalau pasangan itu hidup bahagia. Namun kebinggungannya terhenti saat ada seorang wanita cantik


yang berdiri di depan gerainya. Gadis mempesona yang menjadi pusat pesta ini.


Seseorang yang Key kenal di masa lalu.


“ Kamu pacarnya Key ya?” Dia tanpa canggung bicara dengan Basma.


Amanda Hiller. Dan seorang


laki-laki di sebelahnya. Key membeku.


“ Aku adiknya” kata Basma tidak


menghentikan aktivitasnya. Ada tamu yang datang dan mengambil beberapa mangkok


somai. Menunduk hormat kepada Bian, laki-laki itu hanya mengangguk.


“ Apa kau masih mengenaliku Keysha?”


Key berdiri sambil tertawa dipaksakan.


Basma hanya memperhatikan, namun dia merasa tidak senang.


“ Tentu saja, siapa yang tidak


mengenalimu. Kamu terlihat semakin cantik Manda.”


Key bisa melihat ada sinar


keterkejutan di mata Bian, ketika key memanggil nama tunangannya dengan begitu


akrab.


“ Selamat atas pertunangannya.”


Ucapan itu keluar dengan sendirinya dari mulut Key.


“ Terimakasih Key. Kamu juga tetap


imut dan cantik, tidak berubah sama sekali. Kak Bian.” Amanda menoleh pada


tunangannya di sampingnya. Ia melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu. “


Kami teman SMA, aku  terkejut saat fotomu


viral diinternet, ternyata ini benar-benar Key yang aku kenal.”


Key melihat ke arah Bian, laki-laki


itu tidak tersenyum sama sekali. Seperti orang asing yang tidak mengenal Key. “


Apa Anda mau mencicipi somai saya Tuan CEO.” Key menyodorkan magkok kecil tepat


di hadapan Bian. Dia sengaja menekankan kata panggilan CEO. Sejenak tak ada yang bicara.


“ Ah, Kak Bian mungkin tidak mau.


Biar aku yang makan Key, somai kamu enak.” Saat tangan Amanda sudah hendak


terangkat, tangan Bian terlebih dahulu menyentuh mangkok. Bersentuhan dengan


ujung tangan Key. Dia mengambil lalu memakannya dengan cepat.


memandang wajah Key, kemudian berpaling pada Amanda dan melepaskan tangan yang


melingkar dilengannya. “ Aku pergi dulu, banyak yang harus kutemui, silahkan


kalian bernostalgia.”


“ Baiklah Kak. Nanti kita bertemu lagi.”


Bian berlalu meninggalkan Key dan


juga gerai somainya. Pesta semakin meriah saja. Musik yang mengiringi sudah


terdengar semakin bersemangat, untuk meningkatkan tensi, karena suasana malam


semakin larut. Tapi sepertinya belum ada yang beranjak dari tempat ini.


“ Boleh aku duduk di sana Key?”


Amanda menunjuk sebuah kursi di belakang gubuk, dua kursi kosong. Tempatnya dan


Basma duduk.


“ Bukankah kamu harus menikmati pesta


ini?” Key merasa tidak nyaman jika Amanda mau berlama-alama.


“ Kak Bian tidak senang aku selalu


menempel padanya.” Katanya sedih. “ Aku tidak mau membuatnya marah.”


“ Duduklah.” Key mempersilahkan.


Amanda terlihat senang, dia


memiringkan tubuhnya lalu masuk ke celah antara gubuk makanan key dan


sebelahnya. Dia duduk.


“ Maaf ya, agak panas, karena ada


kompor.” Kata key, lalu dia tetap disibukan dengan aktivitasnya, sementara


Basma hanya bisa memperhatikan.


“ Kami semua merasa sedih saat kamu pergi Key.”


Key tersenyum. “ Terimakasih. Tapi


sekarang kamu tambah cantik sekali lho, sudah jadi model terkenal lagi.” Key


berusaha mengalihkan suasana, dia tidak mau mengungkit masa SMUnya, tidak mau


berbagi alasan tentang kepergiannya dari sekolah.


“ Benarkah.” Tangan Amanda


menyentuh kedua pipinya. “ Mungkin karena aku benar-benar sedang jatuh cinta.


Hihi.” Dia lalu tertawa ringan. “ Kak Bian benar-benar sangat tampan dan baik,


dia memperlakukanku dengan sopan, walaupun tidak terlalu bersikap manis namun


aku sangat menyukainya.” Amanda bercerita tanpa di minta. Key hanya


tersenyum.  Namun ntah kenapa hatinya


merasa sakit. “ Saat kami pergi bersama dia bisa berlaku dengan sangat baik


padaku, tapi kadang-kadang dia selau mengacuhkanku di telfon, tidak pernah


membaca pesan atau mau menerima telfonku.”


“ Mungkin karena dia seorang CEO,


jadi sangat sibuk”


“ Hihi, mungkin juga ya. Aku makan


somainya lagi boleh Key.”


“ Tentu saja, ambilah.” Key


menyerahkan satu mangkok kecil. Dia bisa melihat Amanda sama sekali tidak berubah


dari yang dia kenal itu. Gadis populer dan kaya, namun ia baik pada semua


orang. Menyapa tanpa melihat kelas sosial sekali pun.


“ Oh ya Key, apa orang tuamu masih


membuat roti?”


“ Oh, roti, sudah tidak lagi.” Key


memalingkan wajahnya. Melihat kerumunan orang. Seorang pelayan datang membawa


nampan dan mengambil beberapa mangkok, diletakan di atas nampannya. Sambil


tersenyum Key membantunya meletakanan sendok.


“ Bas, kamu haus tidak.” Tanya key


pada Basma yang sedari tadi hanya sibuk dengan pekerjaannya sambil


mendengarkan.


“ Aku ambilkan es ya.” Malah


Basma yang menawarkan, padahal awalnya Key ingin memakai cara ini untuk


menghindari Amanda.


Key belum menjawab dia mau es apa,


pria muda itu sudah berjalan pergi.


“ Adikmu sangat tampan Key.” Amanda


bicara lagi.


“ Dia masih kelas 1 SMU.”


“ Benarkah, aku pikir tadi dia


pacarmu. Sudah terlihat dewasa”


“ Silahkan.” Key mempersilahkan


tamu yang datang ke gerainya untuk mengambil mangkok. Mereka menikmatinya


langsung. Key bahkan tidak sempat menangapi argumen Amanda tadi.


“ Key imoet Central Park?” tunjuk


pria itu sambil tersenyum. Key jadi merasa malu. Dia menganguk. “Viral beberapa


waktu lalu. Saya yang termasuk datang karena penasaran ke Central Park lho.


Beneran enak.” Dia mengacungkan jempolnya. Laki-laki yang ada di depannya juga


mangut-mangut.


“ Hehe, terimakasih Kak. Lain kali datang ke Central Park ya.”


“ Oke-oke.” Mereka berdua meletakan


mangkok kosong, namun sebelum pergi sambil tertawa mereka mengambil satu mangkok


lagi. “ Nambah ya Key?”


“ Haha, boleh kak. Yang ini gratis.”


“ Haha.” Lalu mereka berlalu pergi.


Key menoleh ke arah Amanda yang senyum-senyum sendiri. “ Kenapa?”


“ Kemarilah Key! Dekatkan wajahmu


kemari.” Wajah Key tampak bingung. Tapi dia mendekatkan juga wajahnya. Saat


pipinya sudah berada tepat di hadapan Amanda, gadis cantik itu serta merta


mencubit pipinya. “ Kakak juga gemes lho. Hahaha. Key gak berubah sama sekali,


tetep imoet dari dulu.”


“ Aduh, apapan si Manda.” Mereka


tertawa berdua. Key bahkan tidak terlalu memperhatikan saat ada beberapa tamu


yang mengambil magkok somai di gerainya. “ Mereka berfikir aku masih anak


di bawah umur, dari pada lelah menjelaskan, lebih baik aku ikuti saja deh,


terserah mereka berfikir aku umur berapa.”


“ Tapi kamu memang tetap terlihat


seperti anak SMU, anak SMP juga pantes kok. Haha.”


Puas Amanda tertawa. Basma datang


dengan membawa nampan, berisi minuman yang berbeda-beda. Ada dugan, dawet, es


pisang ijo, cincau, selendang mayang, es buah,.


“ Banyak sekali Bas.”


“ Ambilah yang Mbak Key suka” Basma menyodorkan nampan ke arah key.


“ Aku juga boleh ambil.” Wajah Amanda terlihat senang.


“ Kalau mba Key mengizinkan, soalnya aku ambil ini untuk dia semua.”


“ Apaan si Bas, ambilah yang Manda


mau.” Key menyodorkan nampannya, Manda mengambil segelas. Key juga, lalu dia


menyerahkan nampannya kembali kepada Basma. Basmapun mengambil segelas minuman.


Dia meletakannya saat ada beberapa tamu yang datang ingin menikmati somai.


Sekarang dia yang menjaga gerai dan membiarkan dua wanita duduk di belakangnya,


ia menguping, mendengar dengan jelas apa yang mereka obrolkan. Sampai pada


suatu cerita, Amanda yang begitu menyanjung tunangannya. Tangan basma terkepal


dan bibirnya bergemurutuk geram. Dia tahu, bagaimana perasaan Key saat ini.


Gadis itu masti menahan rasa perih di dadanya. Bagaimana tadi Basma melihat


Bian yang pura-pura tidak mengenalnya. Padahal, memang kenapa, apa yang salah


pada diri Key. Karena sekarang, hari ini ia ada di gerai somai sebagai pedagang


somai dan Bian berada di atas podium dengan gagah sebagai seorang  CEO.


Dia jadi merasa Key begitu hina untuk disapa.


BERSAMBUNG...


Terimakasih buat kalian yang masih mengikuti kisah Key dan Bian. Baca juga novel dengan judul "Suamiku Posesif" ya. Kisah kehidupan sehari-hari seorang wanita bernama Ayana dengan suaminya Ren. suami yang berusia lebih muda darinya, yang bucin gitu deh. hehe. @LaSheira