
Akhir pekan itu datang akhirnya. Key mempersiapkan semua hal. Mental, sekaligus apa yang
ingin ia bawa ke rumah Bibi Salsa. Kampung halaman kedua orangtuanya. Tempan di mana airmata tak akan pernah habis mengering. Namun di sana pulalah, Key dan Basma menemukan kembali semangat dan harapan. Melanjutkan hidup, menatap jauh ke depan.Cita-cita dan impian yang masih terbentang bagi mereka.
Key sudah meletakan satu kardus besar di ruang tamu. Mendorongnya ke dekat pintu. Keperluan hidup dan aneka camilan untuk anak bibi. Dia
sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Tas berisi pakaian untuk bibi dan
anak-anaknya. Hadiah sederhana yang tidak akan pernah membalas kerja keras bibi
selama ini. Menemaninya membasuh luka.
“ Bas, tas kamu taruh di sini, nanti kelupaan. Sarapan dulu.”
Basma keluar dari kamar, menenteng tas miliknya. Lalu berjalam ke dapur.
Rambutnya masih sedikit basah dia kibas-kibaskan dengan tangan.
“ Kak Bian jam berapa mau jemputnya mbak?”
“ Katanya jam tuju.” Basma menangkap semburat senyum di wajah Key.
Sebuah alasan yang sulit untuk dijawab, kenapa menyebut nama seseorang yang
disukai sudah bisa membuat hati berbunga. Namanya hati manusia, terkadang bahagia dengan cara yang sederhana.
“ Seneng ya mbak?” Meraih piring yang sudah disiapkan Key.
Hari ini Key menggoreng udang dengan baluran tepung roti. Membuat sayur
bening dengan bulatan wortel dan bakso ikan. Dia memasukan daun katuk juga di
dalamnya. Basma menaburkan bawang goreng ke piringnya, pecinta bawang goreng sedang menunjukan aksinya.
“Apa?” Sudah mulai makan, dengan wajah semakin tersipu.
Ketahuan banget kamu mbak
senengnya. Hah, baiklah, aku akan mengalah. Karena kau tersenyum seperti itu
membuatku juga bahagia. Jadi selama Kak Bian tidak membuatmu terluka aku akan
diam-diam mendukungmu dan memperhatikanmu dari belakang. Tapi, kalau sekali
saja dia menyakitimu, itu akan lain lagi ceritanya.
Basma sedang berusaha berkompromi dengan perasaannya.
“ Kak Bianlah, apalagi. Biasanya wajah mbak Key kan gak begini.”
Terkadang karena semalaman Key menangis matanya memang akan terlihat agak
sembab. Dan sebenarnya Basma bukanlah anak-anak yang tidak melihat itu. Dia
hanya pura-pura tidak menyadarinya dan membahasnya. Karena Key berusaha
menutupi dukanya dengan caranya sendiri.
Dua orang kakak beradik itu sama-sama terluka, namun mereka memakai cara
yang sama untuk tidak membuat satu sama lain khawatir. Menangis sendirian di ujung
kamar. Seandainya mereka bisa menangis bersama dan saling menguatkan, mungkin
itu lebih baik. Tapi Key tidak mau membuat Basma cemas, demikian
sebaliknya.Hingga membuat mereka berduka dengan cara mereka sendiri. Berteman
kesepian malam.
Selesai sarapan Key membereskan dapur, berbarengan dengan ketukan pintu.
Suara salam terdengar. Key langsung berlari menuju pintu, melewati Basma yang
hanya bisa menggelengkan kepala.
Seneng banget kamu mbak.
“ Waalikumsalam” pintu terbuka. Wajah yang memberi dosis semangat, yang hanya dengan kemunculannya saja. (Dih Key, udah ketularan Kak Lati di sebelah wkwkw)
“ Pagi Key sudah siap.” Menyentuh kepala Key, mengusapnya pelan.
“ Ia, sudah Kak.” Key melihat ke arah Basma untuk keluar.
“ Ada yang mau di bawa?” Mata Bian melihat kardus di belakang tubuh Key, ada tas
juga di sana. “ Itu yang mau di bawa?” tunjuknya.
“ Ia Kak, oleh-oleh buat bibi.” Basma keluar hanya menyambar tas
miliknya, walaupun tidak mengatakannya sepertinya anak itu ingin Bian yang
mengangkat kardus. Bian terlihat mendengus lalu meraih kardus, sementara Key
memastikan pintu terkunci.
“ Berat Kak? Mau diangkat berdua sama Basma?”
Basma malah tertawa tapi berjalan meninggalkan Bian.
“ Berat apa. Cuma segini.” Memamerkan apa yang diangkat di kedua
tangannya. Bian memalingkan wajah dan meringis. Lumayan juga. Tapi harga dirinya akan tergadai kalau sampai Bian minta tolong.
Dasar bocah, kau sengaja kan, padahaal tahu ini sebenarnya berat.
“ Kak Bian, apa aku boleh duduk di depan?” Melihatmu sepanjang
perjalanan sambil lirik-lirikan apa itu masuk akal pikir Basma. Belum lagi adegan mengemudi dengan satu tangan. Kau mau mengaitkan tanganmu dengan jari Mbak Key kan. Dia meminta
secara terang-terangan sekarang, menunjukan kalau dia belum memberi restu
secara sempurna. Key melihat ke arah Bian yang terlihat kerepotan membawa kardus
di tangannya.
“ Gak papa kan Kak, Key yang duduk di belakang nanti.”
“ Untung saja kau menanyakannya, tadi aku memang sudah mau menawari untuk
duduk di depan.” Muncul senyum kemenangan yang sekilas saja tertangkap. Tapi
Basma sama sekali tidak melihat karena dia sudah berjalan dengan riang mendengar dia akan duduk di depan.
Kak Bian sepertinya tersenyum aneh tadi. Key.
Obrolan ringan sepanjang jalan menuju mobil, Key senang hari ini bisa pergi
bersama Kak Bian. Sedangkan Bian yang mengalahkan dirinya dalam perang batin
semalaman. Ujung gang dan mobil Bian sudah terlihat. Basma yang sudah membuka
pintu mematung, tersenyum kecut ke arah Bian.
“ Kenapa? Kau bilang mau duduk di depan kan, masuklah. Pak Wahyu tolong
buka pintu belakang.”
Basma mencengkram pintu, pantas saja aneh sekali segampang itu dia
mengizinkannya duduk di depan. Ternyata dia membawa sopir ya. Gagal sudah
“ Masuklah Bas.” Key menepuk punggung Basma.
“Ia Mbak.” Lebih kesal lagi saat melihat ke arah Bian yang tersenyum
sambil menahan gelak. Mereka masuk semua ke dalam mobil.
“ Aku membawa Pak Wahyu gak papa ya Key, Aku belum pernah pergi ke luar
kota naik mobil sendiri soalnya.”
“ Ia Kak gak papa, maaf merepotkan. Terimakasih sudah mengantar kami,
saya Key dan ini adik saya Basma.” Menepuk bahu Basma untuk memberi salam.
Wajah PakWahyu sedikit terlihat terkejut ketika melihat Basma dari dekat namun
ia mengusir apa pun yang sekelebat mampir dipikirannya dengan cepat.
***
Gagal memonopoli Key, Basma punya jurus lain.
“ Mbak Key kita nanti mampir di rest area ya.” Basma menyebut nama sebuah tempat. Mengatakan di sana ada banyak pedagang.
Kios-kios kecil namun terbuat dari bangunan permanen di sebuah rest Area. “
Kalau naik bus kita kan selalu mampir ke situ.” Melihat ke arah Bian,
menunjukan senyum yang sama persis seperti yang ditunjukan Bian Tadi.
“ Pak Wahyu kita istirahat dulu saja, di tempat yang Basma bilang.”
“Ia Mas.” Sekali lagi melirik Basma.
“ Mbak Key suka beli stroberi sama es dugan di sana kan. Kita beli nanti
ya. Aku memang paling tahu apa yang Mbak
Key suka.”
Mereka berdua ini sedang ngapain si.
Bian seperti meremas jemari yang saling terkait itu. Tapi dia menoleh ke arah kaca dan tidak mau menunjukan wajahnya. Tapi Key bisa merasakan genggamannya yang menguat.
“ Nanti Kak Bian sama Pak Wahyu coba juga ya.” Key berusaha mencairkan suasana.
“ Nanti beli buat Bibi juga ya Mbak.” Ntah sengaja atau tidak Basma hari
ini sepanjang perjalanan banyak sekali bicara. Memanas-manasi suasana. Menunjukan
bahwa dia mengenal Key lebih dari siapa pun. Bian menghela nafas. Dia tidak melepaskan tangan Key tapi juga tidak bicara apa pun.
Cih, aku bahkan baru tahu kalau Key suka strobery.
Turun dari mobil, Basma langsung menggandeng tangan Key. Tidak perduli ada
kilatan petir membara di mata Bian.
Kau cemburu kan. Haha, aku jadi penasaran bagaimana reaksimu kalau tahu aku bukan adik kandung Key.
“ Mas Basma, apa itu adik kandungnya Mbak key beneran ya Mas?” Pak Wahyu berjalan di samping Bian. Menuju kios yang dituju Key.
“ Iyalah, memang siapa lagi.” Melihat keduanya yang berjalan ke arah kios
sambil tertawa-tawa senang. Bian tahu, saat ini Basma sedang berusaha
memanasinya.
Cih, bocah itu benar-benar ya.
***
Perjalanan panjang itu berakhir di sebuah rumah sederhana. Dua anak Bibi
Salsa yang mulai beranjak dewasa memeluk Key. Melepas rindu. Tertawa riang
sambil membawa oleh-oleh yang diberikan Key. Basma juga punya hadiah tersendiri
untuk mereka. Ketiganya sudah berceloteh di karpet depan ruang tv.
Bibi Salsa masih melihat situasi dengan pandangan bingung. Ketika ada
mobil yang memasuki halaman rumahnya saja dia sudah terperanjak heran sekaligus
cemas. Setelah Key dan Basma muncul dia bernafas lega. Pak Wahyu membawa kardus dan
meletakannya di ruang tamu, lalu dia duduk di kursi rotan di teras
depan.Sementara yang lain di dalam di ruang tamu.
“ Bibi sampe kaget tadi kirain siapa. Duduk dulu Mas.” Mempersilahkan laki-laki asing itu duduk. “ Key, bantu
bibi siapkan teh ya.”
“ Ia Bi, sebentar ya kak.”
Bian bangun dari duduk, menjelajahi setiap sudut ruangan. Tak banyak benda yang bisa dia lihat. Sama seperti
rumah Key.
Di dapur, sambil menyiapkan teh untuk semuanya.Bibi membuka satu bungkus kue yang dibawa keponakannya memasukannya ke dalam toples.
" Siapa dia Key?" bertanya dengan hati-hati. " Pacar ya?" Hanya dengan melihat senyum malu-malu di wajah Key saja bibi Salsa sudah tahu jawabannya. Dia masih ingin bertanya lagi, karena melihat penampilan laki-laki itu yang tidak seperti orang biasa.
" Nanti Key kenalin Bi, bawa tehnya ke depan dulu yuk." Bibi mengikuti langkah kaki Key. Melewati Basma dan dua bocah yang sedang gembira dengan hadiah mereka. Ke meletakan nampan di meja, mengambil secangkir dan membawanya ke luar untuk Pak Wahyu. " Silahkan Pak di minum."
" Ia Mbak, terimakasih." Pak Wahyu yang tak banyak bicara. Tapi pikirannya sedang bekerja keras.
Key masuk kembali ke dalam. Bibi mengambil satu cangkir untuk ia letakan di depan Bian. Key sudah duduk di samping Bian.
" Sepertinya wajah Mas ini gak asing ya. Pernah lihat di mana ya." Terhenti, masih memegang cangkir tehnya. Baru saja Key mau membuka mulut. Basma muncul dari ruang tv.
" Bibi pasti lihat di tv."
" Tv, memang masnya artis."
" Bukan Bi." Key menjawab cepat, melihat Bian yang mulai merasa tidak nyaman. Dia tidak berhasil menyembunyikan rasa tidak sukanya. Ah, Kak Bian memang selalu bersikap begitu pada orang yang baru di kenalnya. Key ingat itu.
" Bibi, dia ini Bian Nugara. Putra pengusaha Adiguna Group yang punya Grand Mall."
Prank, cangkir di tangan bibi terjatuh. Percikan teh panas mengenai kakinya. Basma terlonjak kaget. Bian pun demikian, mendekat, mau menyentuh tangan Bibi Salsa. Plak! Bibi menepis tangan Bian. " Jangan menyentuhku." Gumam-gumam dengan tubuh gemetar.
" Maaf Bi." Bian mundur.
Key dan Basma yang sama-sama kehilangan kesadaran karena terkejut. Melihat Bibi yang menepis tangan Bian langsung mendekati Bibi Salsa.
"Bibi nggak papa?" Key memapah lengan bibi menjauhi pecahan cangkir. Melihat ke Aran Bian yang sama-sama diliputi tanda tanya. Kenapa reaksi bibi sekeras itu.
Huh! Itu pasti karena aku tunangan Amanda kan.Dia membenciku karena laki-laki yang sudah bertunangan mendekati keponakannya.
" Mbak Key, ajak Kak Bian jalan-jalan aja, Bas yang beresin ini." Menggantikan tangan Key di lengan bibi yang masih tertunduk. " Sudah sana." mendorong Key.
Key akhirnya menurut, dia menoleh pada bibi yang sama sekali belum mau mengangkat kepalanya. Walaupun mereka berjalan ke luar pintu. Pak Wahyu yang berdiri di luar pintu sama tidak mengertinya dengan situasi yang terjadi.
Mereka berjalan dalam diam di antara jalan setapak, melihat ayam yang berlarian. Mencoba menemukan alasan paling masuk akal kenapa reaksi Bibi Salsa sampai seperti itu.
Bersambung.....
Update 2 bab ya, bantu like, favorit dan juga votenya teman-teman ^_^