Key And Bian

Key And Bian
Amanda Gadis Yang Baik



Selesai pemotretan, di ruang tunggu studio.


Amanda sudah membersihkan sisa makeup tebal di wajahnya. Menyisa


kecantikan alami. Namun dia tidak percaya diri untuk keluar rumah tanpa riasan.


Jadi dia berhias dengan makeup yang lebih natural. Asistennya muncul di depan


pintu, membawa segelas kopi dingin untuknya.


“ Makasih kak.”


“ Sekali ini saja ya, kamu kan belum makan siang dengan benar.”


“ Ia, ia, aku butuh energy. Antar aku ke sini ya Kak. Setelahnya kakak boleh


pulang.”


Asistennya membaca alamat di hp yang disodorkan Amanda, dia tau lokasinya.


Melihat Amanda lagi, sambil menunjuk alamat, bertanya mau apa ke sana.


“ Mau ketemu Tante Yuna.”


Ibunya Pak Bian.


“ Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Bian, akhir-akhir ini sepertinya


kamu nggak pernah lagi ngomongin dia.” Biasanya dalam sehari asisten Amanda


akan mendengar gadis di depannya menyebut nama Bian sekian kali. Puluhan kali,


ntahlah mungkin sampai ratusan kali.  Dan


semua isinya hanya keluhan.


Amanda terdiam sesaat, benarkah? Apa akhir-akhir ini dia seperti itu.


“ Kamu malah sibuk cerita tentang Pak Anjas, kamu semakin akrab ya


dengannya.”


“ Apa si Kak, kok malah bahas Kak Anjas,” sedang malu dan mencari alasan


agar tidak membahas nama Anjas.


“ Aku bereskan semua di sini, tunggulah di mobil.” Asisten mulai sigap


membereskan semua perlengkapan Amanda. Gadis itu keluar dari ruang tunggu


studio dengan membawa gelas kopinya. Malu-malu tersenyum mengingat nama Anjas.


Dalam perjalanan menuju tempat janjian dengan Yuna, Amanda membuka


hpnya.


“ Siang kak, sudah makan siang belum?”


Berkirim pesan kepada Anjas memang sudah menjadi rutinitas harian


Amanda, kalau dulu isinya hanya tentang Bian, kabar Kak Bian, dan segala keluh


kesah Amanda tentang Bian sekarang semuanya bergeser menjadi percakapan


sehari-hari. Tentang mereka sendiri. Amanda senyum-senyum menunggu jawaban


sambil membaca ulang pesan-pesan yang ia kirimkan pada Anjas.


Asistennya melirik melihat kaca spion. Melihat Amanda yang sedang senyum


sendiri sambil bibirnya sekali-kali komat kamit membaca.Tangannya juga sibuk


mengetik pesan.


Memang apa yang nyonya khawatirkan, Amanda saja terlihat bahagia begitu.


Sampailah mereka di sebuah kafe. Amanda turun dari mobil, mencegah


asistennya yang mau ikut turun.


“ Aku nggak apa-apa Kak, pulanglah. Nanti aku pulang sama Tante Yuna.”


“ Aku tunggu nggak apa-apa.”


Asisten itu sudah diwanti-wanti untuk tidak meninggalkan Amanda seorang


diri hari ini, tidak mungkin dia akan pergi.


“ Ya sudahlah, ayo. Kalo begitu kakak masuk juga, Kakak kan belum makan


siang .” Akhirnya menreka masuk ke dalam kafe berdua. Disambut seorang pelayan.


Amanda menyebutkan nama Yuna Sailendra, lalu dia dipersilahkan masuk. Sepi,


mereka tidak menyadari kalau tidak ada pengunjung di kafe. Amanda melihat


asistennya. “ Apa ibuku yang menyuruh kakak mengawasiku, ih ibu ini sudah bilang aku tidak


apa-apa.”


“ Memang ada kejadian apa tadi pagi, aku lihat Tuan Adiguna datang pagi-pagi


ke rumah?” Sedari tadi dia sudah memancing-mancing Amanda. Biasanya kalau


sedikit saja dicolek gadis di sampingnya ini langsung akan cerita


semuanya.  Tapi sepertinya kali ini tidak


berhasil.


“ Nanti aku cerita kak.” Memalingkan wajah malu, karena dia sendiri


belum seyakin ini hatinya. “ Nanti kalau sudah pasti.”


Apa si.


Mereka berkeliling melihat seisi kafe yang sepi. Pelayan di depan mereka


menunjuk sebuah sofa di sebuah area yang lebih privat.  Sososk Tante Yuna tertangkap pandangan mereka


berdua. Yuna duduk berdua dengan seseorang. Amanda tidak bisa melihat siapa itu


karena duduk membelakanginya.


“ Aku duduk di sini ya. Sepertinya Nyonya Yuna tidak sendirian, kalian


janjian dengan siapa.”


“ Nggak tau Kak, Manda ke Sana dulu ya.”


Asisten Amanda duduk mendekat, berpindah dari kursi yang ia tunjuk tadi.


Agar jangkauan pendegarannya bisa menangkap perbincangan di meja Amanda.


Pelayan mencatat pesanannya, dia menunggu dengan rasa penasaran.


Amanda berjalan mendekati Yuna,  Yuna


melihatnya datang dan mengangkat tanyannya. Amanda sedang menduga-duga siapa yang


ada di sofa di depan Yuna sambil berjalan cepat.


“ Key, kok kamu di sini?”


Key tergagap karena terkejut saat melihat Amanda sudah berdiri di dekat


meja. Wajah cantiknya tersenyum ramah seperti biasanya.


“ Kalian saling kenal?” Yuna bahkan jauh lebih terkejut dengan situasi


yang tiba-tiba tidak sesuai dengan yang ia rencanakan.


Sepuluh menit yang lalu mereka hanya saling pandang-pandangan. Yuna


ataupun Key memilih menunggu siapa yang mau memulai pembicaraan. Key walaupun


tegang tapi dia jauh terlihat lebih santai  ketimbang saat mau bertemu Adiguna.


Berbekal kata-kata Kak Bian yang mengatakan kalau ibunya orang yang


baik, ntah kenapa  rasa takut itu menghilang


dengan sendirinya. Tapi dia belum berani menyapa terlebih dahulu, hanya


tersenyum kaku yang tidak dibalas oleh Yuna.


“ Manda.” Key terlihat mulai gelisah. Dia tidak menduga, kalau ibu Bian


akan mempertemukannya dengan Amanda. Dia belum punya kesiapan mental untuk


bertemu dengan Amanda secara langsung.


“ Tante kenal  dengan Key juga?”


Yuna menarik tangan Manda untuk duduk di sampingnya, tapi malah gadis


itu memilih duduk di samping Key, Dia merangkul bahu Key menempelkan pipinya.


“ Kangen lho sama Key, terakhir ketemu waktu perayaan ulang tahun kan. “


Key menjerit sendiri dalam hatinya, merasa bersalah. Bagaimana dia bisa


menyakiti hati wanita sebaik Amanda.


“ Manda, kamu tahu siapa wanita ini!” Yuna mengeraskan suara, tidak ada pengunjung


kafe selain mereka. Tidak ada pelayan juga yang terlihat. Yuna sudah menyewa


semua tempat ini selama satu jam.


“ Key teman SMU Manda Tante.”


“ Apa! Teman SMU.” Yuna tertawa dengan fakta itu.Dia melihat ke arah Key


dengan pandangan dingin. Senyum keramahan atau yang hanya sekedar basa basi


lenyap. “ Apa kau tidak malu sekarang, bagaimana bisa kau mencuri tunangan


temanmu sendiri.”


Deg, Key langsung melihat ke arah Amanda, wajah gadis itu berubah


bingung.


“ Tante, apa yang Tante bilang, siapa yang mencuri tunangan Manda. Key?


Tante pasti salah paham.” Tertawa sambil merengkuh bahu Key. Tubuh yang ia


peluk sedikit gemetar, kepalanya tertunduk sambil meremas jemari di pangkuannya.


“ Maaf Manda.” Lirih Key berucap, memberi kepastian kalau apa yang baru


saja didengar Amanda bukanlah kesalahan. Tangan dibahunya mengendur. Manda


menjauhkan posisinya duduk hampir satu jengkal jarak yang ia buat.


“ Key.” Amanda sedang mencerna informasi.


“ Benar, wanita ini yang sudah menggangu pertunanganmu sampai Bian


meminta pembatalan pertunangan pada ayahnya. Kau.” Melihat tajam ke arah Key,


gadis itu mendongak pelan namun tidak sanggup menatap Yuna. Dia mengalihkan


pandangan. “ Dasar tidak tahu malu.”


Bagaimana ini, aku tidak punya kekuatan untuk menjawab.


Bahkan untuk melihat bola mata Amanda saja Key tidak sanggup Dia takut,


nyalinya menciut. Sikap antipasti ibu Kak Bian sudah menghancurkan kepercayaan


dirinya. Apalagi ada Amanda di sampingnya, wanita yang paling menjadi korban


di sini.


“ Berpisahlah dari Bian, jangan menghancurkan masa depan Bian. Hah, apa


kau tidak mengaca, siapa dirimu dan siapa Bian. Apa kau merasa pantas berada di


samping Bian.”


“ Tante.” Amanda melihat tangan Key gemetar, dia menyentuh tangan itu


dan mengenggamnya. “ Hentikan, Manda Mohon.”


“ Maaf.” Lagi-lagi Key hanya bisa mengatakaan itu. Bagaimana dia bisa merasa


tidak bersalah sampai mendapat pembelaan dari Amanda. Dia bahkan seharusnya


menyiapkan diri menghadapi kebencian Amanda.


“ Tinggalkan Bian kalau kau masih punya malu. Bian sudah bertunangan


sebentar lagi dia akan menikah.”


Hening, ketiganya sedang menahan gejolak emosi masing-masing. Yuna


sedang mencari kata untuk menjatuhkan Key. Amanda sedang memilah bagaimana


hatinya menerima kenyataan ini. Anehnya dia benar-benar merasa biasa saja.


Sementara Key sedang mengumpulkan keberaniannya.


“ Nyonya saya dan Kak Bian saling menyukai.” Yuna tertawa mendengar


kalimat klise yang berani diucakan Key. “ Kalau saya melepaskan kak Bian apa


Kak Bian juga akan melepaskan saya. Karena hubungan kami terjalin antara dua


orang.”


Huaaa, Key keren sekali.


Amanda saja terkejut dengan jawaban percaya diri Key


Pyaar, air bening di gelas Yuna membasahi baju Key. Gadis itu mundur


membentur sofanya. Ternganga tidak percaya. Bagaimana adegan siram air ini


benar-benar ia dapatkan. Didapatkannya dari ibu Kak Bian yang selama ini selalu


di puja dan puji oleh Kak Bian.


“ Beraninya kau mengatakan itu, benar-benar tidak tahu malu.”


“ Tante! Apa yang Tante lalukan.” Amanda tergesa membuka tasnya.


Mengambil tisyu. Manarik beberapa lembar.


begini.”  Menghardik marah tindakan


spontan Amanda.


“ Tapi Tante kan nggak perlu sampai menyiram Key.” Menepuk-nepuk baju


basah Key. Mengusap tanganny dengan tisyu. Sementara Key masih terdiam karena


terkejut.


“ Manda, Tante itu membantumu. Dia mau merusak pertunanganmu.”


“ Aku tahu tante, tapi kan tidak perlu begini.” Masih mengusap baju Key


lagi, mengganti tisyu. “ Lihat tubuh kecil Key ini bagaimana Tante bisa tega


begitu.”


“ Manda!” Yuna semakin frustasi. “ Sadarlah, dia ini mau merusak masa


depan Bian dan kamu.”


“ Bagaimana kalau key demam tante, badannya basah semua begini.” Tangan


masih sibuk, sibuk membersihkan air.


Sementara key sedang mencoba menelaah apa yang terjadi.


“ Kamu nggak apa-apa Key? Kalau kamu sakit bagaimana ini.”


Aku tidak selemah itu manda! Dan kenapa malah kalian yang bertengkar.


“ Tante.” Setelah merasaa cukup kering Amanda menghentikan pertolongan


pertamanya. Melihat ke arah Yuna.


Yuna sedang menarik nafas kuat-kuat menahan emosi. Bagaimana gadis yang


sedang dia bela mati-matian ini begitu bodoh. Apa dia tidak tahu, kalau


posisinya sedang sangat terancam. Dia dulu bahkan  sudah menikah saja gagal mempertahankan


hubungan dengan ayahnya Bian. Apalagi ini hanya pertunangaan yang belum terikat


secara resmi. Tali penghubung di antara mereka bisa putus kapan saja.


Yuna memijat tengkuk lehernya kesal.


“ Maaf tante.” Amanda bicara perlahan, karena melihat kobaran amarah di


belakang punggung Yuna. “ Key mungkin salah di sini.” Menarik nafas. “ tapi


bagaimana dengan Kak Bian.” Amanda tahu bagaimana perasaan Bian padanya.


Pertanyaan itu mencekik Yuna. Lebih-lebih ketika Amanda malah


memojokannya dengan anaknya.


“ Aku membantumu malah kamu.”


“ Maaf Tante.”


Yuna bangun menyambar tas tangannya, melihat Key sekali lagi dengan


kemarahan dan rasa kesal. Lalu sorot mata tak kalah kesal dia tujukan untuk


Amanda. Dia pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Berjalan cepat melewati


asisten Amanda yang sudah berdiri cemas sejak melihat dia menumpahkan isi


gelasnya pada gadis yang duduk di samping Amanda.


“ Manda, kalian nggak apa-apa?” Dia mendekat.


“ Kak,bisa tolong ambil baju ganti Manda di mobil.” Key masih tertunduk


tidak tahu bagaimana harus menyikapi ini. Bagaimana Amanda masih membelanya,


malah semakin membuatnya bersalah.


Key muncul dari kamar mandi, sudah mengganti baju. Baju Amanda terlihat


longgar dipakainya.


“ Haha, aduh maaf ya Key, bajunya kebesaran.” Ntah kenapa Key sama


sekali tidak melihat sorot mata benci di wajah Amanda. Gadis itu benar-benar


sangat baik hati. " Maaf ya Key, Tante Yuna biasanya nggak begitu kok, nanti aku bicara padanya."


Dia bahkan masih menghiburku.


***


“ Kalau malam bintang-bintang akan terlihat jelas dari sini.” Manda


menunjuk langit yang kebiruan di kejauhan, awan-awan berarak. Bergerak pelan


sesuai dengan arah angin mengerakannya. “ Key.”


“ Maafkan aku Manda.” Rasa bersalah yang menyayat. Key tertunduk menekuk


lututnnya. Melihat bayangan di bawahnya. “ Bagaimanapun aku salah, aku meraih


tangan Kak Bian yang terulur padaku.  Padahal aku tahu kalian sudah bertunangan. Maaf.”


Amanda masih melihat langit jauh di sana. Ntahlah, bagaimana dia


menggambarkan perasaannya sendiri saat ini, dia sendiri bingung. Awalnya dia


terkejut, namun berakhir kelegaan. Mungkin kalau hari ini ia tidak bertemu


dengan paman Adiguna keyakinan hatinya belum semantap ini.


Pagi hari.


Adiguna dan sopir pribadinya sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Hal


yang tidak biasa. Ayahnya atau paman tidak pernah membicarakan persoalan bisnis


di rumah. Amanda duduk masih dengan seribu tanda Tanya. Di ruang tamu, ibu ada


di sampingnya. Sebelumnya saat dia menunggu di kamar telah terjadi perbincangan


serius orangtuanya di ruang kerja ayah. Dia tidak tahu apa yang mereka


bicarakan.


Sekarang dia duduk, dengan mendapat tatapan bercampur dari semua orang.


Iba, itu yang ia tangkap.


“ Maafkan paman.” Itulah kalimat pembuka yang ia dengar, Amanda saja


terkejut mendengarnya. Paman Adiguna laki-laki yang baik, selama ini begitulah


yang ia tahu. Tapi dia tidak pernah menduga kalau ayah Kak Bian punya sisi yang


seperti itu.


Membatalkaan pertunangan, menanyakan bagaimana pendapatnya.  Ibu yang menggengam tangan Amanda cemas.


Karena selama ini dialah yang memiliki andil untuk membuat hati Amanda terikat


dengan Bian. Dia selalu mengatakan Bian adalah calon suami yang cocok untuk


Amanda. Kalian memang tercipta Tuhan untuk satu sama lain. Ibu mengusap pelan


punggung tangan Amanda. Menyesali semuanya.


“ Kau berhak bahagia Manda dengan orang yang mencintaimu. Maafkan kami


para orangtua yang egois ini.” Melihat ayah Amanda. “ Bian punya seorang wanita


yang ia cintai, dan paman tidak mau membuatmu hidup terluka dan perasaan tidak dicintai..”


“ Paman.”


“ Maafkan kami Nak.”


Sepertinya kak Bian benar-benar menyukai gadis itu, dia bahkan


mengatakannya pada paman.


Ibu memelukAmanda dan meyalahkan dirinya sendiri. Malah dia yang


menangis sesengukan Karena tidak bisa melakukan apa-apa.


“ Ibu Manda nggak papa.”


“ Menangislah kalau kamu mau menangis.”


Aku benar-benar tidak mau menangis.


“ Aku juga jatuh cinta pada orang lain.” Berkata yakin. “Ibu dan ayah


jangan merasa bersalah.”


Tangis ibu malas pecah karena merasa Amanda hanya sedang menghibur


mereka.


Kembali ke saat ini. Di sebuah bangku kayu, di atas mereka langit masih


membiru. Angin sejuk berlarian disela-sela rambut. Mencoba menghibur kegalauan


mereka.


Amanda melirik Key, ntah kenapa saat tahu ternyata Key adalah wanita


yang dicintai Bian dia tidak punya alasan untuk marah.


“ Aku lega sekarang.”


Key mendongak melihat ke arah Amanda, rasa bersalah masih menyisa di


ujung matanya.


“ Ternyata kaulah wanita yang dicintai Kak Bian.”


“ Manda.”


“ Tadinya aku berfikir seperti apa gadis itu.  Apa dia juga cantik,  lebih tinggi dariku, apa pekerjaannya. Ah apa  dia benar-benar gadis istimewa yang pantas untuk


Kak Bian. Aku mengutuki gadis itu sepanjang malam setelah Kak Bian memutuskanku


secara sepihat." Tertawa mengingat saat-saat  itu. " Sekarang, setelah aku tahu, ahh, aku memang tidak akan pernah


bisa bersaing denganmu Key.”


“ Manda.”


“ Haha, aku dulu iri sekali melihatmu waktu SMU. Guru-guru sering sekali


memujmu. Para siswa juga mengenalmu,  Key imut si penjual roti. Padahal kau hanya gadis ceria yang hanya


selalu menebar senyum pada semua orang.  Ahh, ternyata itu kelebihanmu pikirku, kau hidup tanpa berprasangka buruk pada


orang lain, kau baik pada semua orang. Aku lega sekarang, karena kau yang disukai


Kak Bian.”


Key menghambur memeluk Amanda, dia sesengukan.


“ Maaf Manda.” Berulang kali hanya kata maaf sambil menahan tangis.


Mereka berdua sesengukan cukup lama. Amanda berharap tangisnya saat memeluk Key


menjadi caranya melepaskan Kak Bian dengan perasaan rela di hatinya.


Mereka tersenyum saling mengaitkaan jari.


“ Jangan merasa bersalah, aku juga menyukai seseorang.”


Key menunjukan tatapan sanksi, sama persis dengan pandangan yang


diberikan ibu Amanda tadi pagi.


“ Kenapa kalian tidak ada yang percaya si.”


“ Siapa laki-laki beruntung itu Manda.”


“ Rahasia.”


Sekali lagi Key memicingkan mata, karena merasa Amanda mengatakan itu


untuk hanya menghibur dirinya.


“ Benar, aku suka sama seseorang.” Belum mau mengatakan, tapi  kesal karena mendapat pandangan iba. “ Aku


jatuh cinta pada Kak Anjas. Puas.”


Key mengganga, dengan bola mata membulat.


“ Aaaa,  jangan bilang


siapa-siapa ya. Aaaa. Aku malu.Jangan bilang pada Kak Bian ya, jangan bilang


pada Kak Anjas  ya. Pokoknya jangan bilang


siapa-siapa. Aku akan mengatakan pada Kak Anjas sendiri nanti.”


Sekali lagi mereka berpelukan,


kali ini dengan tawa dan saling menguatkan.


***


“ Bagaimana ini.” Yuna gemetar memegang kemudi. “ Amanda, kenapa kamu


malah sebodoh itu!”


Semua rencananya gagal.


Ia mencengkram kemudi kuat, memikirkan ada seorang anak yang bisa saja


menjadi penghalang bagi Bian. Namun nyalinya menciut saat mengingat ancaman


Adiguna. Kepalanya lunglai di kemudi. Masih berfikir untuk berusaha memisahkan


gadis penjaga minimarket dengan putranya. Tapi ia belum menemukan caranya.


Bersambung…


Manda jangan lupa makan siang ^_^