Key And Bian

Key And Bian
Menjaga Perasaan Key



Pristiwa siang yang terjadi bersamaan dengan membaiknya hubungan Key dan


Yuna.


Saat Adiguna sudah tersenyum sumringah, berjalan beriring dengan Basma.


“ Kenapa?” Baru saja melangkah mendekati tikungan gang, Basma


menghentikan kakinya. Dia menoleh ke rumahnya yang pintunya terbuka. Masih


tidak habis pikir kenapa ayahnya membiarkan Nyonya Yuna bicara sendirian dengan


Key. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Key  bagaimana. Itulah yang tergambar jelas di wajahnya. “Basma,”


“ Apa benar tidak apa-apa, meninggalkan Mbak Key dan Nyonya berdua.”


Masih melihat ke arah pintu yang terbuka. Dia seperti ingin melintasi ruang dan


waktu, dia ingin ada menemani Key sekaligus ingin bersama ayahnya bersamaan.


Adiguna meraih tangan Basma, mengajaknya berjalan.


“ Yuna yang minta untuk bicara berdua dengan Mbak Key. Ayah bisa menjaminnya,


mereka akan baik-baik saja.”


Yuna sudah berjanji demi Bian dia akan melakukan apa pun.


“ Tapi Yah.” Perlahan melepaskan tangan ayahnya. Dia tidak bisa menahan


rasa khawatirnya. Akhirnya berbalik, setengah berlari menuju rumah. Kalau


sampai terjadi apa-apa dengan Key dia pasti akan merasa bersalah. Basma


meninggalkaan ayahnya yang ikut berjalan cepat mengikuti.


Langkah kaki Basma berhenti di depan pintu. Dia melihat dengan matanya,


Yuna terduduk di lantai sambil dipeluk dan ditenangkan oleh Key. Isak mereka bercampur


seperti apa yang ia lakukan tadi dalam pelukan ayahnya.


“ Ayo Basma.” Berbisik sambil menepuk lembut bahu putranya. “ Mereka


baik-baik saja.”


“ Maaf,” Sama berbisiknya. “ Aku tidak percaya dengan apa yang ayah


katakan. Karena Nyonya…”


“ Ayah tahu, ayo.”


Adiguna pun tak pernah membayangkan, kalau hubungannya dengan Yuna akan


seperti sekarang. Bagaimana mereka memandang tanpa kebencian. Bicara tanpa


curiga. Hingga memahami satu sama lain karena percaya. Tuhan memang membolak balikan


hati manusia dengan mudahnya. Hari ini benci, besok sudah terbit simpati.


Mereka melangkah dengan membawa kelegaan di  hati masing-masing.


Mereka kembali meninggalkan kedua wanita yang membutuhkan ruang untuk


bicara dari hati ke hati. Masuk ke dalam mobil. Basma hanya menduga-duga kemana


ayahnya akan membawanya.  Tidak ada yang


bicara. Sesekali saling mencuri pandang. Tersenyum saat pandangan mereka


bertemu.


Ibu, aku sudah bersama ayah sekarang. Kak Bian sudah menerimaku sebagai


adik. Nyonya Yuna juga akan menerimaku nanti, dia juga sudah minta maaf pada


Mbak Key. Engkau bisa tenang di sana Bu, aku akan hidup dengan baik. Seperti


yang ibu inginkan. Aku akan menjaga Mba Key seperti yang ia lakukan padaku


selama ini, memastikan dia kedepannya hanya tersenyum tanpa terluka lagi.


Pandangan Basma menampar kaca, dan jalanan yang ikut berlarian di samping


mereka. Wajah ibu yang ia kenali dari foto-foto lama melintas di kepalanya.


Ternyata taman kota di dekat


Grand Mall, tempatnya dulu melakukan pemotretan dan ketahuan Key adalah tujuan


ayahnya.


“ Di sini udaranya sejuk, kamu merasa nyaman?” Setelah duduk berdua di


sebuah kursi taman.


“ Aku pernah pemotretan di sini Yah.” Menceritakan tentang pengalamannya


menjadi model di butik online. Adiguna benar-benar merasa bangga.


“ Basma…” Meraih tangan Basma. Mengengamnya erat. “ Terimakasih sudah


memaafkan ayahmu yang tidak berguna ini.”


Basma tahu, kalau dilanjutkan bisa-bisa mereka menangis. Dan menangis di


taman kota yang banyak lalu lalang orang, apa yang akan terjadi nanti, gumamnya


melihat sekeliling.


“ Ibu menulis surat untukku dan menjelaskan semuanya. Aku tidak pernah


membenci ayah, Nyonya Yuna atau pun Kak Bian.”


Karena rasa bersalah ibu dia tidak pernah membeci atau mewariskan


kebencian padaku.


“ Karena selama ini aku hidup dengan baik Yah. Aku mendapat keluarga


hangat, dengan orangtua yang menyayangiku, Mbak Key yang selalu ada di


sampingku.” Dia menarik nafas pelan. Sesak dan sedih itu ingin ia terbangkan


jauh. “ Kedepannya mari hidup sebagai keluarga yang bahagia.”


“ Tentu saja Nak.”


Terimakasih ya Tuhan, engkau menitipkan Basma pada keluarga yang berhati


mulia. Rasanya sebanyak apa pun ia ingin membalas kebaikan Key yang sudah


menjaga dan menemani putranya semuanya tidak akan pernah cukup.


“ Tapi, apa Nyonya benar-benar sudah bisa menerima saya.”


Bagaimanapun Basma adalah anak dari wanita yang ia benci. Dia hanya


berharap diterima, tanpa bermimpi mendapatkan cinta dan kasih sayang.


Angin menyejukan wajah keduanya. Adiguna menyentuh punggung Basma dan


Basma.


“ Ibumu pasti sangat bangga padamu Nak, kau tumbuh dengan sangat baik.”


Perihal Yuna sebenarnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan gumamnya.. “ Tadi,


kau melihat sendirikan bagaimana sikap Yuna pada Mbak Key. Dia tulus akan


menerimamu. Ehm.” Ragu. “ Bas, ibumu adalah wanita yang sangat luar biasa. Kami


bertemu mungkin di waktu dan cara yang salah, namun kami saling mencintai


dengan hangat. Aku bahagia, sangat bahagia bersama ibumu. Tapi…”


Adiguna takut, kalau pilihan kata yang ia pakai akan menyakiti hati


Basma. Basma cukup tenang, tapi dia sedang mencerna kalimat panjang apa yang


ingin disampaikan ayahnya.


“ Apa kedepannya, kau bisa menganggap Yuna, ibu dari kakakmu sebagai


ibumu juga.”


Apa! Apa aku boleh melakukan itu.


“ Ayah tidak perlu mengatakan sampai seperti itu.”


“ Benar, maafkan ayah Nak. Pasti itu sulit untukmu.”


“ Bukan begitu Yah, apa mungkin Nyonya menginginkan itu. Bagaimanapun


dia membenci ibu.”


Akhirnya ia katakan juga apa yang ia takuti. Basma sudah merasa terlalu


serakah menginginkan ayah sekaligus kakak laki-laki. Bagaimana dia bisa


berharap kasih sayang seorang wanita yang hidupnya tercerai karena ibu dan


kelahirannya.


“ Yuna benar-benar merasa bersalah tentang Jesi.” Meraih punggung


anaknya. “ Sebenarnya ayahmulah ini yang paling bersalah pada ibumu Nak.”


Perselingkuhan karena cinta, di mata cinta tidak ada yang salah hubungan


mereka. Namun karena cinta mereka banyak hati yang terluka.


Lagi-lagi kesedihan memenuhi udara di sekitar keduanyaa. Sambil


mengengam dan menepuk punggung tangan Basma, adiguna menceritakan seperti apa


Jesika itu. Wanita hangat yang sudah merubah hidupnya. Sesekali tersenyum dan


tergelak kecil saat bertemu kenangan indah. Namun tak jarang menahan sesak di


dada saat memikirkan kalau wanita baik itu sudah berpulang.


Begitulah kedua laki-laki yang baru dipertemukan dengan takdir sedikit


demi sedikit mengukir kedekatan mereka. Sampai waktunya mereka harus kembali.


***


“ Ayah, aku punya permohonan.” Berhenti di pintu mobil yang masih tertutup.


“ Katakanlah…”


Menduga-duga apa yang diinginkan putranya. Dia akan mengabulkan apa pun itu.


“ Aku bahagia bertemu ayah, sungguh. Tapi…” Ragu, sejenak memalingkan


pandangan ke tempat lain. Lalu melihat Adiguna yang mulai  dirudung cemas. “ Kalau Mba Key tidak


mengizinkanku, ah dia pasti mengizinkan, dia tidak akan pernah menahanku


walaupun hatinya terluka.” Sangat paham sifat Key.  Tapi, dia tidak akan membiarkan Key menangis sendirian. “Apa boleh aku tetap


tinggal bersama Mbak Key.”


“ Tapi Basma….” Mulai cemas, kamar Basma sudah disiapkan dengan sempurna


bersebelahan dengan kamar Bian di kediamannya.


“ Aku bukannya tidak mau tinggal bersama Ayah, tapi, buat Mba Key ini


pasti akan menjadi perubahan besar dalam hidupnya. Selama ini aku dan Mba Key


tinggal berdua dan saling menguatkan. Walaupun dia tidak akan menahanku, tapi


aku yang tidak mau pergi dari sampingnya. Setidaknya nanti, tunggu dia siap


hatinya dulu.”


Basma membayangkannya, akan sesepi apa rumah itu tanpa dirinya. Kalau


hanya ada Key, memikirkannya saja sudah terasa kesepian. Dan Basma yakin, saat


gadis itu sendirian apa  yang akan


dipikirkannya hanyalah kenangan-kenangan di rumah itu.  Saat memutuskan kembali ke kota dan menampati kembali rumah, hampir selama


sebulan tinggal di rumah itu, airmata yang mulai mengering kembali menganak sungai lagi. Menyebutkan setiap sudut rumah


dengan kenangan ayah dan ibu.


Dan adegan semacaam itu seperti akan terulang lagi setelah kepergiannya.


“ Ayah paham Nak, masuklah. Mereka pasti sudah menunggu.”


Alasan Basma tak ada celah untuk di debat. Key yang akan ditinggalkan pasti akan merasa jauh lebih terluka dibanding Basma yang meninggalkannya.


Mereka sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Walaupun merasa tidak rela, Adiguna sedang menghibur hatinya sendiri. Ini hanya untuk sementara saja. Mbak Key pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri.


Basma menoleh pada ayahnya, teringat kembali yang diceritakan laki-laki itu barusan.


" Basma, Yuna akan menerimamu dengan baik. Kami sudah berjanji. Sebelumnya hubungan kami memang tidak baik. Tidak, ini bukan karena ibumu. Tapi memang dari awal pernikahan kami hanyalah sebuah ikatan bisnis. Tapi... sekarang kami memutuskan untuk memperbaiki semuanya. Ayah akan belajar menyayanginya dengan tulus, begitupula dia. Dia berjanji akan menjadi ibu yang baik untukmu dan kakakmu Bian. Kami akan menikah lagi secara agama, bisakah kau memberikan restumu dan menerimanya sebagai ibumu."


Ah, ternyata karena Nyonya Yuna mendapatkan cinta ayah seperti yang ia dambakan, dia bisa berubah. Ibu, andai dulu ayah bisa adil pada kalian berdua. Ah, berhentilah berandai-andai Basma. Saat ini sebuah keluarga baru ada di hadapanmu. Hiduplah dengan bahagia. Senyum ibu terbayang di pelupuk matanya.


“ Bagaimana kalau membawa Mba Key untuk tinggal bersama.”


"Apa!" Terjaga dari lamunan.  Basma tidak pernah memikirkannya. Tapi, apa Key mau?


“ Setelah menikah dengan kakakmu, dia akan sepenuhnya menjadi bagian


keluarga Adiguna Group.” Ayahnya tersenyum, sambil mengusap kepala. “ Begitu


kan bisa.”


Hah! Mba Key, calon ayah mertuamu adalah ayahku.


Basma tergelak sendiri, sambil mobil terus melaju kembali.


Bersambung