
Bian keluar dari ruangan rapat, di susul Anjas di belakangnya. Siang
mulai terasa sejuk di luar gedung kantor. Menuju sore, tapi masih beberapa jam
lagi menuju waktu pulang kantor.
Susi menerima map laporan hasil
rapat yang diberikan Anjas. Setelah dia mengganguk Anjas mengikuti langkah Bian
masuk ke dalam ruangannya. Susi pun kembali ke mejanya untuk menuliskan laporan
rapat.
Sudah ada di dalam ruang kerja Bian.
“ Aku lelah sekali!” Anjas menyeret kakinya ambruk di sofa. Mengendurkan jas dan dasinya untuk bernafas
lega. Mendorong tubuh dan kepalanya bersandar di pinggir sofa. “ Aku menemani
ibu berbelanja hadiah untuk ibumu.” Memberi informasi tanpa perlu ditanya. Dia
memijit kakinya. Selalu seperti ini, kenapa perempuan bisa sehebat ini si
kalau keliling mall. Ada banyak sekali
barang yang dibeli ibunya, teman yang dekat dengan Nyonya Yuna. Ah, mungkin tak
pernah ada rahasia antara mereka.
Ibu senang sekali saat mendengar kabar pernikahan ulang Nyonya Yuna dan
ketua. Dia sampai jadi panitia sibuk, persiapan ini dan itu.
Persahabatan kadang terikat kuat tanpa alasan, dia menoleh pada Bian.
Seperti perasaan sayangnya pada bocah
itu yang tumbuh begitu saja tanpa alasan.
Giliran Bian yang melengos kesal karena dipandangi. Kenapa semua orang
merasa perlu merayakan percerian kedua orangtuanya, gumamnya kesal dengan
kalimat terakhir Anjas. Dia ikut duduk di sofa, mengambil ponselnya. Tidak
meladeni Anjas dengan komentar sama sekali.
“ Aku kangen Amanda.” Mengoceh lagi walaupun tidak mendapatkan reaksi. “
Bi..”
“ Hemm.”
“ Aku sudah mengatakan hubunganku dengan Amanda pada ibu, dia sangat
antusias dan berharap aku segera menikah.”
Meliat ketua dan nyonya, aku jadi semakin ingin cepat menghalalkan
Amanda.
“ Pastilah, kau kan sudah kelamaan jomblo.”
“ Kayak kamu nggak aja.”
Dua orang yang sebenarnya nasib percintaannya tidak jauh berbeda. Tidak
ada yang bisa dipamerkan di antara keduanya. Semuanya sama saja.
“ Tapi Amanda bagaimana ya, karirnya sedang bagus-bagusnya. Dulu waktu
kalian bertunangan, dia pernah membicarakan pernikahan denganmu Bi, atau
menyuruhmu segera menikahinya.”
Bian melotot kesal. Jawaban dari pertanyaan Anjas yang tidak penting.
“ Ya, ya, aku lupa kalau kau bahkan tidak pernah membalas pesannya. Kau
itu benar-benar jahat pada Amanda Bi.”
“ Kau bicara apa si Kak, kalau aku bersikap baik padanya apa kau punya
kesempatan dimabuk cinta begini.”
“ Haha, benar juga.” Meraih ponsel, lalu mulai ketik-ketik pesan sambil
senyum-senyum senang. Begitupula laki-laki yang ada di depannya. “ Memikirkan
Amanda membuatku bersemangat lagi. Hehe. Baiklah!” Berteriak semangat lalu
bangun. “ Aku pergi ya, mau membereskan beberapa pekerjaan. Kau pulanglah
bersiap-siap. Sudah membeli baju baru?”
“ Ngomong apa si Kak?”
“ Nanti malam kan kalian mau makan malam bersama. Kau akan membawa Basma
pada keluargamu kan, dan tentunya hari ini adalah hari bahagia untuk
orangtuamu. Key juga akan datang ke rumahmu.”
Bian terpancing lagi. Dia bangun dari sofa, menendang meja sampai
bergetar.
Eh, kenapa ini bocah. Bukanya sudah berbaikan dengan Basma.
“ Kenapa lagi kau kesal?”
“ Sudahlah, keluar sana!”
“ Apalagi si Bi, bukanya kau bilang sudah bisa menerima Basma sebagai
adikmu, lantas kenapa kesal lagi. Cepat atau lambat dia harus masuk ke dalam
Adiguna Group. Terlepas kapan pun ketua akan mengumumkannya ke publik nanti.”
Benar-benar deh kalian ini ya, tidak ayah, tidak ibu, Kak Anjas, bahkan
Key pun memberi selamat. Apa yang harus aku rayakan dari perpisahan kedua
orangtuaku. Dan ayah, apa benar-benar tidak mau mendengarkanku, padahal aku
sudah memohon kemarin.
“ Padahal aku sudah minta ayah membatalkan rencananya, tapi kalau Kak
Anjas sampai tahu, bibi juga, pasti paman benar-benar mengurusnya ke pengadilan
Agama. Apa kau tidak berfikir ini menyedihkan Kak.” Menatap Anjas dengan
pandangan campur aduk. “ Sudah puluhan tahun mereka bersandiwara menjadi suami
istri yang bahagia, lantas kenapa sekarang mereka harus sok bersikap jujur pada
hati nurani.” Anjas sedang berdiri bingung. Berguman, bocah ini sedang
membicarakan apa si. “ Dan kau juga Kak, bisa-bisanya memberi selamat
perceraian ayah dan ibuku, padahal tahu, kalau aku sangat menyayangi ibuku.
Terlepas dari semua kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.”
“ Kamu itu ngomongin apa si Bi.”
“Apaa lagi! perceraian ayah dan Ibuku! Key juga bahkan memberiku
selamat. Mungkin ibu memang pantas mendapatkan ini, tapi bagiku ini sudah…”
Anjas mendekat, meraih tumpukan map di samping tangan Bian. Mengambil yang paling atas di bawah
sorot mata mengawasi Bian. Lalu Plak keras mendarat di kepala Bian yang tak
berhasil menebak situasi.
“ Apa si Kak, sakit tahu!”
“ Kebiasaan, lagi-lagi kau tidak mendengarkan penjelasan ketua dengan
benar. Hah! Aku yakin kau pasti bahkan tidak memberinya kesempatan
menjelaskan.”
“ Apa!” semakin kesal karena apa yang Anjas katakan memang benar adanya.
Saat ayahnya membahas rencana kedepan hubungannya dengan ibunya dia langsung
tersulut emosi. Malas mendengar penjelasan apa pun. Bahkan saat Key mau
membahasnya semalam dia pun menolak.
“ Dasar bodoh!”
“ Wahh, kau semakin kurang ajar ya Kak. Memang kau pernah lihat paman
sekurang ajar itu pada ayahku.” Merebut Map yang dipakai Anjas memukul
“ Ntahlah, mungkin saat mereka muda dulu. Atau karena ayahku tidak punya
bos sebodoh bosku.”
Benar-benar ini orang ya. Mengumpat sambil melotot, karena sekali lagi
apa yang dikatakan Anjas memang ada benarnya. Dia memang sama sekali tidak
memberikan kesempata pada ayahnya untuk bicara.
“ Kau tahu kan Bi.” Menarik kursi untuk duduk. “ Di mata hukum mungkin ibumu
masih tercatat sebagai istri yang sah
karena ayahmu tidak pernah mengajukan gugatan cerai. Tapi kau tahu sendiri
bagaimana mereka menjalani pernikahan. Aku tidak tahu kapan, tapi sepertinya
ketua pernah menceraikan nyonya dulu dengan menjatuhkan talak cerai.”
Sebenarnya baru tahu info beginian juga dari ibunya. ” Karena itu mereka
berencana melakukan akad lagi.”
Kau tidak percaya kan, sama! Tadinya aku juga sama sekali tidak
percaya. Ketua dan Nyonya Yuna sama-sama membuka hati.
Mengerti dengan mata Bian yang membelalak. Apa-apaan
semua ini. Dipukulnya kepalanya sendiri kenapa bisa sampai menghentikan
penjelasan ayahnya kemarin. Terlihat Bian menyesal bercampur kesal.
Bodohnya aku, lebih-lebih aku sudah berburuk sangka pada key semalam.
Dia pasti bingung. Aaaaa.
“ Tapi, apa perlu mereka sampai akad nikah lagi kak.”
“ Kata ibuku hukumnya begitu. Ibu bilang setelah seorang suami
mengucapkan talak cerai pada istrinya, setelah tiga kali masa iddah, dihitung
seperti tiga kali wanita datang bulan, kalau mereka mau rujuk lagi mereka harus
melakukan akad baru. Gara-gara bertanya begitu, seharian ini saat aku mengantar
ibu kesana kemari aku dapat wejangan puanjang.”
Tentang laki-laki yang jangan dengan gampang dan entengnya bilang cerai,
dan cerai. Karena kata cerai di dalam hukum agama jika suami yang mengatakan
secara sadar bisa dibilang sudah menjatuhkan hukum talak cerai.
“ Eh, Kau mau kemana Bi?”
“ Masih bertanya juga.” Sudah memegang handle pintu.
“ Baiklah… baiklah. Sana
pergilah. Belikan nyonya hadiah yang indah, untuk ketua juga. Ayo rayakan cinta
orangtuamu.”
Apa karena ini hati ibu melunak, saat dia tahu arti dicintai oleh
laki-laki yang ia dambakan. Ibu pun mulai belajar mencintai dan meraih Basma.
Bahkan memohon pada Key.
Bian melajukan mobil menuju Grand Mall, membeli hadiah untuk ibu dan
ayah. Tentu saja untuk Key juga.
***
Pada akhirnya Bian menyimpan semua rasa malunya sendiri. Dia
mewanti-wanti Kak Anjas untuk jangan mengatakan apa pun pada Key. Biarkan
terkubur sebagai aib kebodohannya. Dia sendiri yang salah paham,biar dia sendiri yang tahu dan malu.
Bian bangun dari duduk di teras saat melihat Basma keluar, di susul Key.
Baju yang ia pilih tadi melekat pas di tubuhnya.
Cantiknya. Tidak, dia selalu cantik, imut dan mengemaskan, apa punyang dia pakai.
Dress cantik dengan panjang selutut Key. Ada tali pita di leher yang
diikat menjadi bunga oleh Key. Berwarna biru muda. Rambut yang hanya dia
biarkan tergerai, tersemat jepit rambut berkilau di atas telinganya. (Belinya
di toko mama Ren ^_^). Semua tampak sempurna, semakin mengeluarkan aura
mengemaskan dan imut yang memang sudah dimiliki Key dari sananya. Makeup yang
natural, begitu pas di wajahnya.
Ehm…ehm… Basma menyadarkan keterpesonaan Bian.
Ia si, Mbak Key cantik banget hari ini!
“ Key, apa kita saja yang menikah hari ini.”
Uhuk! Basma terbatuk sambil limbung demi mendengar ucapan Bian. Sementara
Key wajahnya langsung memerah, menutupi dengan tas tangannya. Melirik Bian,
lalu tersenyum malu saat pandangan mata mereka bertemu.
“ Sudah jangan dipandangi terus, nanti makeup Mbak Key luntur.” Basma
merentangkan tangan di depan tubuh Key,menghalangi pandangan Bian yang tampak
belum mendapatkan kesadaran dari rasa terpesonanya.
“Minggir Bas!”
“ Sudah,sudah ayo berangkat.” Mengunci pintu.Lalu menggandeng tangan
kedua laki-laki itu. Bian di sebelah kanan, Basma di sebelah kiri.
“ Apa kita saja yang menikah hari ini Key.” Bian bahkan tidak melihat
langkah kakinya saat berjalan. Dia menggandeng Key sambil matanya tidak beralih
dari Key.
“Jangan aneh-aneh deh, hari ini ibu dan ayah kan yang akan menikah kok
malah jadi Kak Bian dan Mbak key.” Kalau nanti Kak Bian ngotot pada ayah, bisa-bisa
hal begitu terjadi. Padahal menikah adalah hal yang mendebarkan pasti buat perempuan, masak mau nikah mendadak begini.Gerutu Basma sendiri.
“ Diam kamu Bas.” Mendorong Basma di balik punggung Key.
“ Mbak Key, kak Bian mendorong bahuku!” Mengadu seperti bocah lima tahun
yang diganggu temannya. Sambil cengegesan menunjukan wajah menantang pada Bian.
“ Kalian ini kenapa ribut terus, ayo jalan. Paman dan Bibi pasti sudah
menunggu.”
“ Kenapa kamu belain Basma terus Key, aku kan yang pacarmu.”
“ Basma kan adikmu Kak.”
Hah! Aku selalu ingin melupakan itu kalau urusannya dengan key.
Dibalik punggung Key, Bian melirik Basma. Ya, dia tahu. Kalau adik satu
ayahnya ini menyimpan simpati yang mungkin dengan cara berbeda seperti Key
menyayanginya. Tapi sejauh ini dia benar-benar berhasil menahan diri.
“ Minggir, kasih jarak.”
“ Mbak Key, kak Bian mendorongku lagi!”
Apa si ini, aku sudah seperti
momong dua bocah.
Diraihnya tangan keduanya, dipandangi keduanya. Akhirnya keduanya
mangut-mangut menurut. Berjalan dengan damai sampai ke mobil. Menuju rumah
Adiguna. Tempat dimana janji suci, untuk
kedua kalinya akan terucap.
Bersambung....