Key And Bian

Key And Bian
Bian Sadar Juga Akhirnya



Bian keluar dari ruangan rapat, di susul Anjas di belakangnya. Siang


mulai terasa sejuk di luar gedung kantor. Menuju sore, tapi masih beberapa jam


lagi menuju waktu pulang kantor.


Susi menerima map laporan hasil


rapat yang diberikan Anjas. Setelah dia mengganguk Anjas mengikuti langkah Bian


masuk ke dalam ruangannya. Susi pun kembali ke mejanya untuk menuliskan laporan


rapat.


Sudah ada di dalam ruang kerja Bian.


“ Aku lelah sekali!” Anjas menyeret kakinya ambruk di sofa.  Mengendurkan jas dan dasinya untuk bernafas


lega. Mendorong tubuh dan kepalanya bersandar di pinggir sofa. “ Aku menemani


ibu berbelanja hadiah untuk ibumu.” Memberi informasi tanpa perlu ditanya. Dia


memijit kakinya. Selalu seperti ini, kenapa perempuan bisa sehebat ini si


kalau  keliling mall. Ada banyak sekali


barang yang dibeli ibunya, teman yang dekat dengan Nyonya Yuna. Ah, mungkin tak


pernah ada rahasia antara mereka.


Ibu senang sekali saat mendengar kabar pernikahan ulang Nyonya Yuna dan


ketua. Dia sampai jadi panitia sibuk, persiapan ini dan itu.


Persahabatan kadang terikat kuat tanpa alasan, dia menoleh pada Bian.


Seperti  perasaan sayangnya pada bocah


itu yang tumbuh begitu saja tanpa alasan.


Giliran Bian yang melengos kesal karena dipandangi. Kenapa semua orang


merasa perlu merayakan percerian kedua orangtuanya, gumamnya kesal dengan


kalimat terakhir Anjas. Dia ikut duduk di sofa, mengambil ponselnya. Tidak


meladeni Anjas dengan komentar sama sekali.


“ Aku kangen Amanda.” Mengoceh lagi walaupun tidak mendapatkan reaksi. “


Bi..”


“ Hemm.”


“ Aku sudah mengatakan hubunganku dengan Amanda pada ibu, dia sangat


antusias dan berharap aku segera menikah.”


Meliat ketua dan nyonya, aku jadi semakin ingin cepat menghalalkan


Amanda.


“ Pastilah, kau kan sudah kelamaan jomblo.”


“ Kayak kamu nggak aja.”


Dua orang yang sebenarnya nasib percintaannya tidak jauh berbeda. Tidak


ada yang bisa dipamerkan di antara keduanya. Semuanya sama saja.


“ Tapi Amanda bagaimana ya, karirnya sedang bagus-bagusnya. Dulu waktu


kalian bertunangan, dia pernah membicarakan pernikahan denganmu Bi, atau


menyuruhmu segera menikahinya.”


Bian melotot kesal. Jawaban dari pertanyaan Anjas yang tidak penting.


“ Ya, ya, aku lupa kalau kau bahkan tidak pernah membalas pesannya. Kau


itu benar-benar jahat pada Amanda Bi.”


“ Kau bicara apa si Kak, kalau aku bersikap baik padanya apa kau punya


kesempatan dimabuk cinta begini.”


“ Haha, benar juga.” Meraih ponsel, lalu mulai ketik-ketik pesan sambil


senyum-senyum senang. Begitupula laki-laki yang ada di depannya. “ Memikirkan


Amanda membuatku bersemangat lagi. Hehe. Baiklah!” Berteriak semangat lalu


bangun. “ Aku pergi ya, mau membereskan beberapa pekerjaan. Kau pulanglah


bersiap-siap. Sudah membeli baju baru?”


“ Ngomong apa si Kak?”


“ Nanti malam kan kalian mau makan malam bersama. Kau akan membawa Basma


pada keluargamu kan, dan tentunya hari ini adalah hari bahagia untuk


orangtuamu. Key juga akan datang ke rumahmu.”


Bian terpancing lagi. Dia bangun dari sofa, menendang meja sampai


bergetar.


Eh, kenapa ini bocah. Bukanya sudah berbaikan dengan Basma.


“ Kenapa lagi kau kesal?”


“ Sudahlah, keluar sana!”


“ Apalagi si Bi, bukanya kau bilang sudah bisa menerima Basma sebagai


adikmu, lantas kenapa kesal lagi. Cepat atau lambat dia harus masuk ke dalam


Adiguna Group. Terlepas kapan pun ketua akan mengumumkannya ke publik nanti.”


Benar-benar deh kalian ini ya, tidak ayah, tidak ibu, Kak Anjas, bahkan


Key pun memberi selamat. Apa yang harus aku rayakan dari perpisahan kedua


orangtuaku. Dan ayah, apa benar-benar tidak mau mendengarkanku, padahal aku


sudah memohon kemarin.


“ Padahal aku sudah minta ayah membatalkan rencananya, tapi kalau Kak


Anjas sampai tahu, bibi juga, pasti paman benar-benar mengurusnya ke pengadilan


Agama. Apa kau tidak berfikir ini menyedihkan Kak.” Menatap Anjas dengan


pandangan campur aduk. “ Sudah puluhan tahun mereka bersandiwara menjadi suami


istri yang bahagia, lantas kenapa sekarang mereka harus sok bersikap jujur pada


hati nurani.” Anjas sedang berdiri bingung. Berguman, bocah ini sedang


membicarakan apa si. “ Dan kau juga Kak, bisa-bisanya memberi selamat


perceraian ayah dan ibuku, padahal tahu, kalau aku sangat menyayangi ibuku.


Terlepas dari semua kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.”


“ Kamu itu ngomongin apa si Bi.”


“Apaa lagi! perceraian ayah dan Ibuku! Key juga bahkan memberiku


selamat. Mungkin ibu memang pantas mendapatkan ini, tapi bagiku ini sudah…”


Anjas mendekat, meraih tumpukan map di samping  tangan Bian. Mengambil yang paling atas di bawah


sorot mata mengawasi Bian. Lalu Plak keras mendarat di kepala Bian yang tak


berhasil menebak situasi.


“ Apa si Kak, sakit tahu!”


“ Kebiasaan, lagi-lagi kau tidak mendengarkan penjelasan ketua dengan


benar. Hah! Aku yakin kau pasti bahkan tidak memberinya kesempatan


menjelaskan.”


“ Apa!” semakin kesal karena apa yang Anjas katakan memang benar adanya.


Saat ayahnya membahas rencana kedepan hubungannya dengan ibunya dia langsung


tersulut emosi. Malas mendengar penjelasan apa pun. Bahkan saat Key mau


membahasnya semalam dia pun menolak.


“ Dasar bodoh!”


“ Wahh, kau semakin kurang ajar ya Kak. Memang kau pernah lihat paman


sekurang ajar itu pada ayahku.” Merebut Map yang dipakai Anjas memukul


“ Ntahlah, mungkin saat mereka muda dulu. Atau karena ayahku tidak punya


bos sebodoh bosku.”


Benar-benar ini orang ya. Mengumpat sambil melotot, karena sekali lagi


apa yang dikatakan Anjas memang ada benarnya. Dia memang sama sekali tidak


memberikan kesempata pada ayahnya untuk bicara.


“ Kau tahu kan Bi.” Menarik kursi untuk duduk. “ Di mata hukum mungkin ibumu


masih tercatat sebagai  istri yang sah


karena ayahmu tidak pernah mengajukan gugatan cerai. Tapi kau tahu sendiri


bagaimana mereka menjalani pernikahan. Aku tidak tahu kapan, tapi sepertinya


ketua pernah menceraikan nyonya dulu dengan menjatuhkan talak cerai.”


Sebenarnya baru tahu info beginian juga dari ibunya. ” Karena itu mereka


berencana melakukan akad lagi.”


Kau tidak percaya kan, sama! Tadinya aku juga sama sekali tidak


percaya. Ketua dan Nyonya Yuna sama-sama membuka hati.


Mengerti dengan mata Bian yang membelalak. Apa-apaan


semua ini. Dipukulnya kepalanya sendiri kenapa bisa sampai menghentikan


penjelasan ayahnya kemarin. Terlihat Bian menyesal bercampur kesal.


Bodohnya aku, lebih-lebih aku sudah berburuk sangka pada key semalam.


Dia pasti bingung. Aaaaa.


“ Tapi, apa perlu mereka sampai akad nikah lagi kak.”


“ Kata ibuku hukumnya begitu. Ibu bilang setelah seorang suami


mengucapkan talak cerai pada istrinya, setelah tiga kali masa iddah, dihitung


seperti tiga kali wanita datang bulan, kalau mereka mau rujuk lagi mereka harus


melakukan akad baru. Gara-gara bertanya begitu, seharian ini saat aku mengantar


ibu kesana kemari aku dapat wejangan puanjang.”


Tentang laki-laki yang jangan dengan gampang dan entengnya bilang cerai,


dan cerai. Karena kata cerai di dalam hukum agama jika suami yang mengatakan


secara sadar bisa dibilang sudah menjatuhkan hukum talak cerai.


“ Eh, Kau mau kemana Bi?”


“ Masih bertanya juga.” Sudah memegang handle pintu.


“  Baiklah… baiklah. Sana


pergilah. Belikan nyonya hadiah yang indah, untuk ketua juga. Ayo rayakan cinta


orangtuamu.”


Apa karena ini hati ibu melunak, saat dia tahu arti dicintai oleh


laki-laki yang ia dambakan. Ibu pun mulai belajar mencintai dan meraih Basma.


Bahkan memohon pada Key.


Bian melajukan mobil menuju Grand Mall, membeli hadiah untuk ibu dan


ayah. Tentu saja untuk Key juga.


***


Pada akhirnya Bian menyimpan semua rasa malunya sendiri. Dia


mewanti-wanti Kak Anjas untuk jangan mengatakan apa pun pada Key. Biarkan


terkubur sebagai aib kebodohannya. Dia sendiri yang salah paham,biar dia sendiri yang tahu dan malu.


Bian bangun dari duduk di teras saat melihat Basma keluar, di susul Key.


Baju yang ia pilih tadi melekat pas di tubuhnya.


Cantiknya. Tidak, dia selalu cantik, imut dan mengemaskan, apa punyang dia pakai.


Dress cantik dengan panjang selutut Key. Ada tali pita di leher yang


diikat menjadi bunga oleh Key. Berwarna biru muda. Rambut yang hanya dia


biarkan tergerai, tersemat jepit rambut berkilau di atas telinganya. (Belinya


di toko mama Ren ^_^). Semua tampak sempurna, semakin mengeluarkan aura


mengemaskan dan imut yang memang sudah dimiliki Key dari sananya. Makeup yang


natural, begitu pas di wajahnya.


Ehm…ehm… Basma menyadarkan keterpesonaan Bian.


Ia si, Mbak Key cantik banget hari ini!


“ Key, apa kita saja yang menikah hari ini.”


Uhuk! Basma terbatuk sambil limbung demi mendengar ucapan Bian. Sementara


Key wajahnya langsung memerah, menutupi dengan tas tangannya. Melirik Bian,


lalu tersenyum malu saat pandangan mata mereka bertemu.


“ Sudah jangan dipandangi terus, nanti makeup Mbak Key luntur.” Basma


merentangkan tangan di depan tubuh Key,menghalangi pandangan Bian yang tampak


belum mendapatkan kesadaran dari rasa terpesonanya.


“Minggir Bas!”


“ Sudah,sudah ayo berangkat.” Mengunci pintu.Lalu menggandeng tangan


kedua laki-laki itu. Bian di sebelah kanan, Basma di sebelah kiri.


“ Apa kita saja yang menikah hari ini Key.” Bian bahkan tidak melihat


langkah kakinya saat berjalan. Dia menggandeng Key sambil matanya tidak beralih


dari Key.


“Jangan aneh-aneh deh, hari ini ibu dan ayah kan yang akan menikah kok


malah jadi Kak Bian dan Mbak key.” Kalau nanti Kak Bian ngotot pada ayah, bisa-bisa


hal begitu terjadi. Padahal menikah adalah hal yang mendebarkan pasti buat perempuan, masak mau nikah mendadak begini.Gerutu Basma sendiri.


“ Diam kamu Bas.” Mendorong Basma di balik punggung Key.


“ Mbak Key, kak Bian mendorong bahuku!” Mengadu seperti bocah lima tahun


yang diganggu temannya. Sambil cengegesan menunjukan wajah menantang pada Bian.


“ Kalian ini kenapa ribut terus, ayo jalan. Paman dan Bibi pasti sudah


menunggu.”


“ Kenapa kamu belain Basma terus Key, aku kan yang pacarmu.”


“ Basma kan adikmu Kak.”


Hah! Aku selalu ingin melupakan itu kalau urusannya dengan key.


Dibalik punggung Key, Bian melirik Basma. Ya, dia tahu. Kalau adik satu


ayahnya ini menyimpan simpati yang mungkin dengan cara berbeda seperti Key


menyayanginya. Tapi sejauh ini dia benar-benar berhasil menahan diri.


“ Minggir, kasih jarak.”


“ Mbak Key, kak Bian mendorongku lagi!”


Apa si ini, aku sudah seperti


momong dua bocah.


Diraihnya tangan keduanya, dipandangi keduanya. Akhirnya keduanya


mangut-mangut menurut. Berjalan dengan damai sampai ke mobil. Menuju rumah


Adiguna. Tempat dimana janji  suci, untuk


kedua kalinya akan terucap.


Bersambung....