
“Anjasmara.” Dia mengeluarkan kartu pengenal. Key tidak mengerti, namun ia melihat juga. Dilihat lahirnya, berarti dia berumur 36 tahun. Key menghitung dalam pikirannya.
“Bisa tunjukan identitasmu Key.”
“Kenapa?” Key ragu. Dia merasa takut sekarang. Laki-laki di hadapannya baru saja ia temui, sudah sok akrab, bahkan memintanya menunjukan KTP. “Saat melihat fotomu aku merasa kamu itu terlalu imut untuk jadi pedagang siomay. Dan sekarang setelah melihatmu langsung aku malah merasa semakin yakin. Apa benar, kamu bukan anak di bawah umur. Aku bisa menuntut pemilik minimarket ini karena telah memperkejakan anak di bawah umur sampai selarut ini.”
“Haha, apa sih Kakak ini. Bikin takut saja.” Key mengibaskan tangannya. “ Umur Key 23 tahun, nanti di bulan Oktober Kak.”
“Tunjukan KTPmu!” perintahnya lagi dengan wajah dan nada yang serius.
Mau tidak mau Key mengambil tasnya. Mengambil dompet, dan mengeluarkan kartu identitasnya.
“Ni lihat. Keysha Andini. Lihat tanggal lahirnya.”
“Haha. Benar. Keysha Andini. Jadi itu nama mu.”
“Ah, apaan sih. Jadi kakak, modus mau liat nama asli Key ya.” Mendengar tawa Anjas, hati Key yang tadinya berdebar curiga jadi melunak.
“Ah sebentar ya.” Suara hpnya Anjas berbunyi. Lalu meninggalkan Key dan berjalan ke arah rak makanan. “Apa? Keripik singkong sama mi instan. Memang kamu belum makan jam segini.” Diam. Key bisa mendengar suaranya dengan jelas. “Minimarket di deket jalan raya. Ia, yang ada pecel lele di halamannya. Sudah susul aku di sini. Makan minya di sini aja.” Dia berjalan lagi ke arah Key. “Teman. Belum makan malam.”
“Ah ia Kak. Selamat datang!” Ada pelanggan lain yang masuk. Anjas meraih sebatang coklat yang ada di dekat kasir. Dia menyodorkan pada Key, selembar uang seratus ribu. Untuk membayar bersama beberapa botol minumannya yang tadi.
“Tidak lelah Key, bukankah kamu kerja jualan siomay pagi sampai siang. Dan selarut ini masih kerja juga?”
Key menyodorkan uang kembalian. Sementara Anjas sudah mengunyah coklat.
“Lelah Kak, namanya juga kerja Kak. Mana ada kerja yang tidak melelahkan,“ katanya sambil tersenyum.
“Ia. Semua pekerjaan memang pasti melelahkan. Tapi untuk itulah kita hidup, bekerja, mencari uang dan menghabiskannya.” Anjas mengunyah makanannya. “Apa kau senang bekerja di sini?”
“Kak, ada yang mau bayar.”
Anjas minggir saat pelanggan datang dengan keranjang belanjaannya. Ibu-ibu yang membeli beberapa kotak susu.
“Ini ada potongan sepuluh ribu Bu kalau beli tiga.”
Ibu pelanggan menimbang-nimbang cukup lama. Ia membeli dua kotak tadinya, tapi karena kalau membeli tiga ada diskon jadi cukup lama dia menghitung-hitung. “Ambil tiga aja Bu, lumayan kan sepuluh ribu.” Key menawarkan lagi. Ibu semakin galau.
“Ah ia, ya. Sebentar Mbak. Saya ambil satu lagi.” Dia berbalik menuju rak susu.
“Key.”
“Apa Kak? Belum pergi juga!”
“Jahat. Kamu mengusir ceritanya.”
Si ibu datang dan menyerahkan satu kotak lagi. Key memasukannya ke dalam plastik. Dia menyerahkan kembalian dan struk. “Terimakasih Bu, datang kembali.”
“Sama-sama Mbak.” Lalu dia berjalan, menoleh pada Anjas. Anjas tersenyum ramah, si ibu juga tertawa lalu pergi meninggalkan minimarket juga dengan hati bahagia, diskon sepuluh ribu telah merubah suasana hatinya. Rasa bahagia itu kadang memang simpel dan sederhana.
“Ngusir ni.” Ulang Anjas
“Bukan ngusir Kakak. Haha, Kak Anjas serius banget. Silangkan, mau borong yang mana lagi.”
Anjas tertawa. Dia menoleh saat melihat mobil masuk ke parkiran. Key juga melihat ada laki-laki yang turun. Kaca minimarket transparan, jadi apa pun yang ada di luar terlihat dengan jelas.
“Teman yang kelaparan.” Tersenyum penuh makna.
Laki-laki itu masuk ke dalam minimarket.
“Apa tidak kurang ajar ini namanya Kak. Kau membuatku pergi sejauh ini, cuma gara-gara mi instan. Bagaimanapun aku ini.” Dia menghentikan bicaranya. Matanya tertuju pada sosok kasir wanita yang wajahnya sangat tidak asing. Siang tadi, karena fotonya yang viral di internet membuat pikirannya kacau.
“Sudah datang?”
“Kamu sengaja Kak?” Bian, menaikan nada suaranya. Dia merasa kesal, tanpa alasan yang jelas. Menatap tajam ke arah Anjas.
“Apanya yang sengaja. Sudah ambil minya sana, itu dispenser air panasnya di sana. Eh bayar dulu ya Key?” katanya nyengir pada Key.
“Ia Kak. Bayar dulu.”
Key mengikuti langkah laki-laki itu melalui ekor matanya. Dia menuju rak mi. Usianya pasti di bawah Anjas. Karena dia memanggil Anjas dengan sebutan kak. Tampan. Ih, Key sampai menaikan bibirnya tersenyum. Apa yang dipikirkannya. Ia punya banyak pelanggan siomay yang bertampang keren, tampan, dan mengendarai mobil.
“Ini Bian .” Anjas menunjuk Bian yang datang membawa mi instan dan dua keripik singkong. “Ini Key”. Dia menunjuk Key, memperkenalkan pada Bian. Bian hanya diam.
“Malam Kak. Ini saja?” Ramah. Khas nada bicara kasir. “Minumnya tidak Kak?”
“Ah ia. Memang kau tidak minum Bi. Ambil minum dulu sana.”
Bian datang dengan sebotol minuman. Transaksi selesai. Dia menuju dispenser dan menuangkan air panas. Lalu berjalan ke kursi yang memang sudah disediakan di minimarket. Dia melirik kepada Anjas kesal.
“Ke sana dulu Key.”
Lalu mereka duduk berdekatan. Key melirik sekilas. Buru-buru mengalihkan pandangan saat mata Bian juga melihat ke arahnya.
“Mau menunjukan apa padaku?” Sambil membuka keripik singkong dan memakannya.
“Tidak ada.” Menjawab tanpa dosa, ikut meraih keripik dan memakannya juga.
“Itu pedagang siomay di Central Park, kenapa dia di sini?”
“Tidak tahu,” ucap Anjas mengangkat bahu.
“Jangan membuatku kesal Kak.” Bian menendang kaki Anjas. Anjas mengaduh. Bian tidak perduli. Dibukanya penutup cup mi instannya. Aroma sedap menyeruak bersama kepulan asap. Ia menyeruput kuahnya. Dan mengunyah pelan-pelan minya.
“Dia imut kan. Namanya Keysha Andini.” Bian melirik. Tapi masih terus mengunyah. “Dia bilang dia tidak punya sosmed.”
"lalu kenapa? Ahh, mi instan memang makanan paling enak.” Menyeruput kuahnya lagi.
“Kamu bilang apa tadi siang. Sampah. Wanita cantik yang cuma modal cantik untuk mencari uang. Aku rasa Key tidak seperti itu. Kau juga berfikir begitu kan?”
“Omong kosong.”
“Lihat dia.” Melirik Key yang sedang menghitung belanjaan.
“Pagi sampai siang jualan siomay. Sore sampai malam masih bekerja di minimarket seperti ini. Umurnya 23 tahun.”
“Kau bahkan sudah tahu umurnya Kak. Kau ini menakutkan sekali.”
“Hei. Aku kan penasaran, wajah manisnya itu terlihat seperti anak kecil kan”
“Omong kosong!”
Bian sudah menghabiskan minya. Namun mereka belum terlihat menyelesaikan obrolan dan beranjak pergi. Key ragu untuk mendekat. Namun sudah hampir jam sepuluh. Akhirnya setelah menghitung semua total pendapatan dan memasukan ke dalam brangkas uang dia mendekati mereka.
“Maaf Kak.”
“Eh, ia Key kenapa?” jawab Anjas ramah.
“Sudah mau jam sepuluh Kak. Mau tutup, apa Kakak berdua sudah selesai.”
“Ayo pergi.” Bian bangun tidak menjawab pertanyaan Key.
“Ia Key. Sudah selesai. Maaf ya merepotkanmu.”
“Tidak apa-apa Kak. Tapi maaf Kak Bian, ini layanan sendiri, jadi bisa tolong buang sampahnya sendiri.”
Bian menoleh. Wajahnya kesal.
“Haha. Kalau begitu Key yang buang juga tidak apa-apa Kak. Selamat malam. Selamat jalan, datang lagi lain waktu.” Ucap Key sambil membungkukkan badan. Bian tidak menjawab. Dia langsung berjalan keluar.
“Maaf ya Key. Lagi PMS dia.”
Key memandang mereka berdua. Yang satu selalu tersenyum, sok ramah, sok akrab dan sok dekat. Yang satunya terbalik 180 derajat. Key melihat mereka menuju mobil masing-masing. Masih terjadi pembicaraan. Key berjalan keluar juga. Membawa gembok dan rantai. Dia menarik rolling door.
“Aku bantu Key.” Anjas mendekat menawarkan diri.
“Nggak usah Kak. Key udah biasa kok.”
“Nggak apa-apa.”
Anjas menarik rolling door. Mengikatkan rantai dan juga gembok. Mendorongnya meyakinkan kalau sudah terkunci. Lalu ia menyerahkan kunci. Key menerimanya sambil mengucapkan terimakasih. Lalu dia berlalu meninggalkan mereka berdua. Bian acuh, berdiri di dekat mobilnya. Namun ekor matanya masih mengikuti langkah kaki Key.
“Mbak Key.” Tiba-tiba ada yang memanggil Key. Dan gadis itu berlari mendekat. Memukul tubuh laki-laki yang memanggilnya tadi. Wajahnya tertutup gelap. Bian ataupun Anjas tidak bisa melihat wajahnya. Mereka lalu berdua naik ke dalam angkot. Yang langsung menderu pergi.
“Sepertinya dia sudah punya pacar Bi.”
“Masa bodoh.” Bian melengos dan masuk ke mobilnya.
“Tapi belum tentu juga kan, tadi dia panggil Key Mbak kan. Kamu dengar kan. Mungkin juga dia adiknya.”
“Masa bodoh. Aku mau pergi.” Menghidupkan mobil dan pergi menderu.
Tidak tahu, kenapa dia merasa kesal dan marah. Siang tadi dia penasaran dengan Key imoet, pedagang siomay di Central Park. Dan malam ini dia bisa bertemu, bahkan bicara padanya. Namun adegan bergandengan tangan menaiki angkot tadi benar-benar mengusik pikirannya. Mobil melaju menuju Grand Land Residen.
Sementara Anjas masih berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan minimarket. Terdiam. “Sampai kapan kau akan menyimpan kebencian di hatimu Bi?” Ia bertanya sendiri. Lalu ia pun menghidupkan mobilnya. Melajukan mobil, dan ikut masuk ke Grand Land Residen.
Bersambung....
Siapa suka keripik singkong 😍