Key And Bian

Key And Bian
Anjas sebagai Penengah (Part 2)



Key berlari kecil ketika melihat


mobil Anjas sudah ada di mulut gang, apalagi saat melihat laki-laki itu keluar


dari mobilnya. “ Maaf kak menunggu agak lama.”


“ Baru sampai kok. Masuklah!” dia


membukakan pintu. Key tersipu malu, pakai acara membukakan pintu seperti di


drama saja batinnya. Key masuk ke dalam mobil, lalu Anjaspun menyusul.


“ Jadi kak Anjas mau makan dimana?” masih mengatur nafasnya.


“ Hemm, apa boleh makan apa saja.”


Tanyanya dengan nada yang membuat Key curiga.


“ Boleh.” Key menjawab ragu.


“ Bener boleh?” tanyanya lagi.


“ Ia.” Semakin mencurigakan saja


sikapnya Kak Anjas pikir Key.


“ Bagaimana kalau ke Royal steak.”


Wajah key langsung pias. Itukan restoran steak terkenal. Bahkan restorannya ada


iklan di tv, berbagai daging impor di sediakan di sana. Daging selembut keju


kalau iklannya di tv. “ Haha, bercanda kok.” Anjas tertawa saat melihat wajah


Key sudah berubah pias.


“ Kak Anjas bikin orang mau


pinsang, untungnya key semalam aja belum tentu cukup buat beli satu porsi.”


“ Haha, wajahmu itu Key.”


“ Apa si kak.”


Anjas melajukan mobilnya. Jadi ini


ya, inilah gadis itu, gadis bermata polos dan berwajah ceria itu. Penjaga kasir


yang bisa mengusir semua kebencianmu pada banyak hal. Anjas bergumam pada


dirinya sendiri, memikirkan Bian.


“ Jadi kita mau makan dimana ni?”


Anjas bertanya lagi.


“ Terserah kak Anjas tapi yang


bujednya gak lebih dari 350.000.”


“ Key suka makan bebek bakar gak.”


“ Suka.”


“ Ya udah, makan bebek bakar aja yuk.”


Meluncur ke resto bebek bakar, yang


murah meriah, perut kenyang. Lapar hilang, uangpun aman. Begitulah Key


berkesimpulan.


Sambil menunggu pesanan mereka


mulai mengobrol. Anjas hanya bertanya beberapa hal, memancing pembicaraan


tentang perayaan pesta Grand mall kemarin. Mengalirlah cerita key, dari


persiapan membuat somai, acara yang begitu megah, sampai betapa berutungnya dia


bisa bertemu dengan Aryamanda. Idoalnya dan ibunya. Ada banyak yang dilewatkan


Key dalam ceritanya, tidak seperti biasanya yang detail pada setiap sisi


cerita.


“ Bagaimana dengan Bian.” Anjas


bertanya datar. Wajah Key langsung berubah muram, Anjas menyadarinya dengan


sangat jelas. Bahwa memang ada sesuatu diantara mereka, ah betapa bodohnya dia,


mengapa sama sekali tidak menyadari reaksi kecil semacam ini. Sekarang dua


orang terluka dengan cara mereka sendiri karenanya. Ya, walaupun ia sendiri tak


tahu, bahwa idenya untuk membawa somai key pada acara besar seperti semalam


akan benar-benar menjadi bumerang bagi kehidupan Bian.


“ Kenapa tiba-tiba menanyakan itu.”


Key mengambil gelas air minumnya, meminumnya beberapa kali, lalu meletakannya


kembali.


“ Apa kau mau mendengar sedikit


ceritaku.” Anjas menarik nafas, apakah dia benar-benar ingin terlibat diantara


dua orang ini atau tidak. Namun jika ia membiarkannya ia yakin, Bian juga tidak


akan mengambil reaksi apa-apa. Setidaknya selama seminggu ini. Pria itu akan


tengelam dalam dunianya yang ntah bermuara dimana. Sedangkan Grand mall sedang


benar-benar membutuhkan otak dan tenaganya untuk proyek baru.


“ Kak Anjas tidak perlu menjelaskan


apa-apa, jika memang ada yang ingin menjelaskan sesuatu, aku rasa itu adalah


orang lain. Tapi, aku juga tidak terlalu berharap apa-apa kak, karena memang


tidak perlu ada yang diperjelas.”


Pesanan datang, pembicaraan mereka


terhenti. Dua orang pelayan meletakan semua isi nampan ke atas meja.  “ Selamat menikmati.”


“ Terimakasih mba.” Ucap key dengan


senyuman cerianya. “ Silahkan kak, selamat makan.”


“ Aku akan menikmatinya, kamu juga makanlah.”


“ Baik.” Key mengunyah dan mulai berfikir, jadi ini kenapa kak Anjas minta traktir, seharusnya aku sudah


menyadari hal seperti ini, kalau saja Basma ikut suasana tidak akan menjadi


secanggung ini.


“ Key, bisakah kau mendengarkan apa


yang aku katakan, pada akhirnya aku tidak akan mempengaruhimu mengambil sikap


apapun. Itu terserah padamu.” Key diam. Dia masih berfikir sebentar. “ Aku


tidak mewakili Bian untuk minta maaf padamu, aku hanya ingin kamu mendengar apa


yang ingin aku katakan ini.”


Key berhenti makan, menyedot


minumannya. “ Bicaralah kak, aku akan mendengarkan.”


Anjas tersenyum tulus. Seperti


seorang kakak laki-laki yang merasa lega. “ Beberapa tahun lalu dia berkenalan


dengan seorang gadis yang manis dan polos sepertimu, ya sebenarnya kamu itu


memang tipe idealnya.” Wajah Key memerah. “ mereka bertemu di sebuah gelanggang


olahraga, gadis itu tidak tahu siapa Bian sebenarnya, dan Bianpun tidak hendak


menceritakan apapun tentangnya. Kau tahu kenapa?”


“ Karena orang lain selalu


menginginkan sesuatu dari kak Bian. Itu yang dia tanyakan padaku waktu itu.”


“ Bian bertanya padamu.”


Key ragu, ingin menceritakannya


atau tidak tentang pristiwa malam itu di gudang minimarket, saat pertama kali


Bian bicara padanya, saat itu dia masih menyimpan kebencian dan kemarahan.


“ Aku tidak akan memaksamu


menceritakan apapun.” Kata Anjas pelan. Karena dia melihat sorot maya Key yang


tidak ingin berbagi. Key masih diam. “ saat itu mereka akhirnya pacaran.”


Wajah Key dipenuhi keterkejutan,


dan juga rasa kecewa.


Bian menemukan seseorang yang bisa menyukainya apa adanya, tanpa embel apa-apa.


Hubungan mereka berjalan sangat baik pada waktu itu. Sampai...” Anjas berhenti


bicara, lalu memakan makanannya. “ Sampai gadis itu tahu siapa Bian


sebenarnya.”


“ Apa dia marah?” tanya key.


“ Tidak, gadis itu tidak marah. Dia


memanfaatkan hubungannya dengan Bian dengan sangat baik, ya, gadis manis dan


polos itu berubah. Dia benar-benar menjadi orang lain, bukan orang yang pernah


begitu dikagumi Bian. Dia tak ubahnya dengan wanita-wanita lain yang selama ini


mendekati Bian. Itulah yang membuat Bian marah dan merasa kecewa. Yang akhirnya


membuatnya bahkan tak pernah lagi jatuh cinta.” Anjas memandang key. “ Sampai


dia bertemu denganmu sepertinya.”


“ Haha, apa dia takut aku akan


menjadi gadis itu kak. Kalau aku tahu bahwa dia CEO Grand Mall apa lantas aku


akan minta di buatkan gerai di mall dia, atau tidak, kalau aku tahu dia CEO


Grand mall aku akan minta kupon diskon untuk belanja di mallnya.” Key berubah


ketus. Rasanya harga dirinya tercabik-cabik. Atas dasar apa, laki-laki itu


mengambil kesimpulan semacam itu. Kenapa Bian bisa begitu mudahnya mengambil


kesimpulan bodoh semacam itu. Apa dia perlu tahu, bagaimana perjuangan hidupku


untuk bertahan hidup setelah semua hancur berkeping saat orang tuaku meninggal.


Huh, untuk apa. Aku sudah merasa sangat marah. Key, bahkan menahan geram.


Tangannya terkepal kesal.


“ Bukan seperti itu key.” Aduh bagaimana ini, kenapa semuanya menjadi runyam. Anjas tidak menduga reaksi Key akan sedemikian keras. “ Bian menyukaimu, dan dia tidak ingin kehilanganmu.”


Key menyeringai. Tidak mau kehilangan, memang dia ini apa. Selama ini hubungan yang terjalin antara mereka juga hanyalah sebuah tali persahabatan. Teman, kapanpun bisa putus bahkan hanya


karena masalah sepele saja. “ Kami hanya berteman kak. Tidak lebih.” Memang


seperti itulah adanya. “ Kak Anjas sebenarnya tidak perlu repot-repot


menjelaskan apapun. Kak Bian juga tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku.


Baiklah, aku sudah selesai, kak Anjas sudah selesaikan. Kita akhiri saja


pembicaraan ini kak. Sungguh, aku senang bisa bicara dengan kak Anjas dan aku


sangat berterimakasih atas kesempatan yang di berikan Grand mall untuk terlibat


pada perayaan ulang tahunnya. Aku sungguh sangat berterimakasih kak. Namun


mengenai kak Bian, aku rasa kita cukupkan sampai di sini saja.”


Key tiba-tiba berubah menjadi begitu


tegas. Dia benar-benar merasa marah dan tersinggung harga dirinya. Key membayar


makanannya setelah semuanya selesai. “ Aku bisa pergi sendiri kak. Kak anjas


pasti sibukan.”


“ Tidak, aku antar key.”


“ Tidak usah kak, terimakasih banyak.”


“ Kumohon!” katanya dengan suara pelan, Key luluh melihat wajah itu akhirnya.


“ Baiklah, tapi janji, jangan membahas kak Bian lagi.”


“ Baiklah.”


Akhirnya key masuk ke dalam mobil.


Anjas melajukan kendaraannya pelan, dia menoleh ke arah key. Gadis itu terdiam


dan memandang ke luar jendela.


“ Maaf key.” Key menoleh kepada


Anjas, laki-laki itu masih fokus melihat jalan di depan. “ Maafkan aku, aku


membuat semuanya malah menjadi semakin rumit.”


“ Tidak kak, jangan merasa bersalah


atas apapun yang terjadi, kak Anjas tidak bersalah apapun di sini. Aku saja


yang agak sensitif sepertinya. Tapi sungguh, terimakasih sudah menghawatirkan


ku kak. Dan aku sungguh berterimakasih atas kesempatan berharganya semalam.”


“ Sama-sama Key, kau sudah tidak


berhutang apapun, kau sudah mentraktirkukan.”


Senyum gadis itu merekah, kemudian


dia kembali terdiam, memilih menoleh lagi ke luar jendela. Sampai tiba di gang


menuju rumahnya.


“ Terimakasih kak, sampai jumpa


lagi.” Key turun dari mobil, melambaikan tangannya saat mobil Anjas melaju. Dia


baru berjalan menuju rumahnya saat mobil itu sudah tidak terlihat.


“ Apa! Apa aku akan berubah jadi


gadis materialistis saat tahu kamu itu CEO Grand mall? Kenapa? Kenapa


membandingkanku dengan gadis itu, mantan pacarmu. Seenaknya saja. Kau tahu


tidak, aku bahkan rela bekerja siang dan malam dengan tenagaku sendiri dari


pada harus meminta belas kasihan dari orang lain. Dasar bodoh!” sepanjang


perjalanan key marah-marah dan bicara sendiri. Dia sibuk mengerutu, sampai


tidak menyadari kalau ada orang yang berjalan ke arahnya.


“ Maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja.”


“ Tidak apa-apa dik, saya yang kurang hati-hati.”


Key mengeryit, siapa pria itu, sepertinya bukan tetangganya. Pakaiannya juga terlihat bagus, ah mungkin tamu


salah satu tetangga pikirnya. Diapun melanjutkan perjalannya. Orang itu


sepertinya dari arah sekitar rumahnya. Dia bertemu dengan beberapa tetangganya,


ibu-ibu yang sedang mengobrol.


“ Permisi tante.”


“ Sudah pulang Key, gak jualan ya.”


“ Ia tante, masih libur.” Key mendekat kearah mereka, saat seseorang memberi isyarat


lambaian tangan memintanya mendekat. “ kenapa tante?”


“ Tadi ada orang yang tanya-tanya


tentang orang tuamu, bapak-bapak berpakaian jas.” Key teringat laki-laki yang


ditabraknya tadi. “ Dia bilang kenalan ayahmu.”


“ Ohh, ia tante. Mungkin kenalan


ayah, aku sudah lupa dengan wajah teman-teman ayah. Haha.” Mereka sadar, selalu


ada perubahan airmuka Key dan juga intonasi bicaranya jika sudah membiacarakan


orang tuanya. “ permisi ya tante.”


“ Ia key, pulang dan istirahatlah,


kamu sudah bekerja dengan keras.” Key hanya tersenyum. Lalu dia beranjak masuk


kerumah.  Melihat ke kamar Basma, pria


muda itu sedang tertidur sambil memegang ponselnya. “ kebiasaan deh,


radiasinyakan  bahaya, ini nempel di


kepala lagi.” Key mengambil ponsel dan meletan  diatas menja, membelai kepala Basma beberapa kali. Ah, adik kecilku


sudah tumbuh dewasa. Tidak perduli, siapa orang tuamu, tidak perduli darah


siapa yang mengalir dalam nadimu, kau adalah adikku. Kata key berulang, sambil


terus membelai kepala adiknya lembut.


Bersambung.................