
“ Biar aku turunkan semua belanjaan mbak.” Basma dan key
turun dari mobil. Foodtruck itu terparkir di depan rumah. Banyak kantong
plastik. Membeli bahan-bahan somai. Stok di kulkas sudah habis untuk pesanan
Grand Mall. Sudah 2 hari key libur jualan. Basma sibuk dengan semua kantong belanjaan, sementara Key mendekat saat
seorang tetangganya memanggil.
“ Baru pulang belanja key?”
“ Ia tante.”
“ Basma sedang libur ya?”
Basma mendengar tapi dia tidak menjawab, membawa semua plastik masuk kedalam rumah.
“ Basma mau gak ya, saya minta ajarin Tantri buat persiapan ujian nasional nanti.”
Key duduk di teras rumah “ Oh iya, tantri sudah kelas 3 SMP ya tante. Nanti coba aku tanyain sama Bas deh.”
“ Oh ya, kata Tantri, Basma sekarang jadi model ya Key.
Foto-fotonya banyak di internet, Tantri juga yang cerita. “
“ Haha, ia tante, cuma bantu orang tua temannya yang punya
butik online.”
“ Tolong ya, tanyain Basma. Tante berharap dia mau, nanti tante bayar juga.”
Key tersenyum sekenanya. “ ia tante, nanti aku tanyain Bas dulu
ya. Permisi ya tante, mau beresin belanjaan dulu.” Key pamit pulang. Si tante
menganguk-anguk. Dari arah rumah Basma muncul lagi, mengambil sisa kantong
belanjaan.
“ Sudah semua Bas.”
“ Hemm.”
Key masuk ke dalam rumah menyusul Basma.
“ Mba tadi kamu beli makanan apa?” Basma membongkar
belanjaan, mencari-cari makanan yang dibeli Key. “ Nah ini dia.”
“ Tiwul. Bawa ke meja makan Bas.” Key menuju washtafel,
mencuci tangan. Lalu beberapa saat sudah ikut duduk di kursi dimeja makan. “ Dulu ibu
sering beli inikan Bas. Tadi lihat ada yang jualan, jadi kepingin beli.”
Basma membuka bungkusan-bungkusan kecil dari daun pisang
diatas meja. Tiwul adalah makanan yang terbuat dari ubi kayu atau singkong,
yang sebelumnya dihaluskan lalu di keringkan. Biasanya menjadi bahan makanan
pokok penganti nasi di desa-desa.
“ Inget ibu.” Kata Basma lirih. Key menepuk kepala adiknya
lembut. Ia juga merasakan hal yang sama saat membeli makanan ini tadi. Beberapa
kali bayangan wajah ibunya yang tertawa, menyuapi mereka makanan ini. Rasanya
manis dan juga gurih. “ Kita harus hidup dengan baikkan mba, hidup bahagia,
mereja juga pasti senang di sana.”
“ Ia Bas. Karena itu Basma harus belajar dengan baik, kuliah
di universitas dan bekerja di perusahaan besar. Hidup dengan baik, itu sudah
lebih dari cukup membayar setiap kerja keras mba.” Lagi-lagi, batin Basma.
Namun ia tidak berani membantah. Sambil menikmati tiwul mereka mengenang
masa-masa indah saat orang tua mereka masih hidup.
Sebelum membuat somai key mau mandi dulu, sementara basma
memilih selonjoran di kursi sambil memegang ponselnya. Setelah keluar dari
kamar mandi Key teringat sesuatu. Dia belum menyentuh ponselnya dari kemarin
malam. Langsung dia masuk ke kamar dan mendapati benda itu ada di atas meja.
“ aaaa, bagaimana ini. 10 panggilan tidak terjawab.” Lalu
dia membuka ponselnya, mendapati pesan di chatnya. Pesan dari Bian yang
bertubi-tubi tadi. Key memicingkan mata berfikir keras membayangkan Bian saat
mengirimkan pesan itu. Dimulai dari bertanya kabar, menyuruh sarapan, lima menit
kemudian pesan lagi. Lalu lima belas menit kemudian. Sudah ada tanda-tanda
kesal.
“key!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Mungkin kalau key mengartikan itu teriakan 9 oktaf.
Buru-buru dia mengetik balasan.
“ Maaf kak, key baru pulang dari pasar”
“ hp ditinggal dirumah.”
“ Semalam key tidur dengan nyenyak. Lalu paginya sama Basma
pergi belanja. Tidak sempat lihat hp.”
“Kebiasaan, key jarang buka hp kalau pagi”
“ Sibuk nyiapin dagangan.”
“ Kak bian gak
marahkan? Maaf ya kak. Besok key keraskan volume hapenya biar kedengeran kalau
ada pesan.”
Semua pesan sudah terkirim. Lima menit belum di baca.
buat somai.” Di bawanya ponselnya keluar. “ aaah, kenapa perasaanku jadi merasa
lelah seperti ini. Apa dia marah ya.” Key mengerutu sendiri karena pesannya
belum dibaca.
“ Siapa yang marah mba?” Basma masih di posisinya menyahut.
Key berjalan dan duduk di sampingnya. Menunjukan chat di ponselnya.
“ Tadi pagi ada 10 panggilan tak terjawab dari kak bian, dan
chat dia juga baru ke baca sekarang. Sudah aku bales, tapi belum dibaca sama
dia. Apa dia marah ya?”
“ Mungkin dia sedang bekerja mba. Inikan sudah jam makan
siang, biasanya orang-orang kaya makan siang sambil rapatkan. Mba, coba lihat.”
Basma menyodorkan ponselnya. Menunjukan foto dirinya dengan stelan trendi.
Basma terlihat sangat tampan bantin key. “ Liat komen-komennya, gak penting
banget. Bukannya komenin bajunya trus di beli malah yang dikomenin modelnya.”
“ Hish, siapa suruh ganteng. Wahh, mahal bener bajunya bas.
Itu bajunya aja apa sama celananya juga.”
“ Bajunya saja donk mba. Celananya sudah beda harga.”
“ Ya ampun.”
“ Ini baju edisi khusus mba. Permodel Cuma di produksi 20
pcs. Harganya memang lumayan, tapi tetep aja laris manis.”
“ Anak-anak zaman sekarang ya. Kamu pakai baju yang mba
beliin di toko grosiran juga tetep keren keliatananya bas, gak jauh beda sama
baju-baju yang kamu pakai di foto ini.” Key mengambil ponsel basma dan
mengamati satu persatu foto. Membandingkan adiknya yang sekarang selonjoran
sambil memakai baju grosiran. Sama-sama tampan.
“ Tuh kan.” Key mensejajarkan foto dengan bahu Basma. “ gak
jauh beda kok.”
“ Bas gak terlalu perduli mba dengan baju yang bas pakai,
Kalaupun Bas pakai baju mahal juga dapat gratis itu dari mereka. Tapi memang
terkadang uang sebanyak apapun tidak ada cukupnya ya mba. Contohnya saja mba
key, baju grosiran saja cukupkan, trus orang-orang yang punya penghasilan lebih
dari mba key belum cukup kalau belum beli baju di butik. Sekarang yang lagi
kekinian beli baju online, belum kena di ongkos kirim juga. Ah pusing, mikirin
selera orang.”
“ Bersyukur maka kita akan merasa berkecukupan. Bekerja
keras maka kita tidak akan boros membelanjakan uang. Eh, tapi kak Bian belum
baca pesannya ya. Apa dia marah ya.” Key bangun ke dapur. “ mandi sana! Mba
siapkan makan siang dulu.”
Masih dengan malas Basma berjalan kekamar mandi. Sementara
key masih memegang ponselnya. Ia meletakannya di atas galon. Sementara ia mulai
memasak. “ Mau di telfon nanti sedang rapat, kata basma orang-orang kaya sering
rapat sambil makan siang.” Rasanya mengelikan sekali pikir key. Bahkan ia harus
memikirkan hal sederhana seperti ini. Di liriknya ponsel, ah ia penasaran juga.
Di bukanya chat, belum dibaca juga. Raut wajahnya suram sambil meletakan
ponsel. “ bagaimana kalau kak Bian marah ya. Suasana hatinya susah sekali di
tebak.” Sambil terus berfikir dia mulai memotong sayuran. Menghaluskan bumbu
kemudian memasaknya.
“ Wangi, mba buat apa?”
“ Ala-ala kare jepang gitu, yang praktis, mba sudah lapar.”
Basma mengamati masakan key.
“ Memang mba bisa buat bumbu kare jepang.”
“ Haha, mba beli jadi bas. Beli online, gayakan. Bumbu kare
saja beli online, tapi liat foto-fotonya sama testimoni orang-orang sepertinya
mengoda sekali. Jadi pesan deh. Yuk duduk, cicipi.” Key menyodorkan piring
basma. Key sudah mulai mahir dengan hpnya.
Basma makan sesuap, key menunggu. “ Gimana bas?” lama Bas
menikmati suapan pertamanya.
“ Enak.” Katanya sambil mengacungkan jempol. Keypun langsung
bersemangat memasukan sendok ke mulut. Ahh, memang enak rasanya. Pas di lidah,
bumbu rempahnya terasa.
“ Ah ia, enak,,, haha, praktis lagi bas masaknya.
Cemplung-cemplung beres.”
Mereka makan dengan nikmat, karena setelah ini masih
menunggu pekerjaan selanjutnya. Membersihkan sayuran, dan membuat somai.
BERSAMBUNG...................