
Anjas menarik nafas dalam sedang memproses keyakinan hatinya, bahwa apa yang ia lakukan sekarang
adalah jalan yang terbaik. Sedang naik turun meyakinkan hati hpnya bergetar di
dekat tangannya. Sekilas dia melirik.
“ Sudah lihat dulu sana.” Bian memilih menjatuhkan lagi kepalanya di
bantal kursi. “ Calon pacarmu mungkin.”
“ Jangan membahas Amanda.” Takut mulai goyah keberaniannya.
“ Memang aku menyebut namanya, kamu saja mulai kegereaan Kak.” Tertawa
lalu menutup mulut karena menguap. Kantuknya mulai mencoba meniupi matanya
lagi.
Dasar anak ini!
Tapi, dilihatnya juga hpnya, benar pesan dari Amanda. Sambil senyum
samar, ketik-ketik membalas pesan terlebih dahulu. Baiklah sudah, ujarnya
sambil mendorong hp masuk ke dalam celah bantal kursi. Melihat ke arah Bian
yang senyum-senyum melihat kelakuannya barusan saat membalas pesan Amanda.
“ Apa aku juga begitu kalau sedang membalas pesan Key.”Geli melihat
tingkah Anjas.
“ Parah! Kau lebih parah.” Bian tidak terima sebenarnya, tapi sepertinya
memang begitu. Terkadang dia tidak bisa mengontrol perasaan senang yang
langsung muncul kalau mendengar Key menelfon, atau melihat notif pesan darinya.
Ah, hanya di sebut namanya saja membuatnya semakin merindu.
Anjas fokus!
Memarahi dirinya sendiri. Batuk-batuk ehmm, mengumpulkan kemantapan hati dan menciptakan suasana
serius.
“ Sudah jangan bicara aneh-aneh, sekarang aku mau bicara serius.”
“ Apa si Kak, kalau ini mengenai berita di tv dan media, aku sudah tahu.
Semua berita sudah menghilang, ayah kan yang sudah melakukannya. Aku akan
menelfon dan berterimakasih padanya besok. Aku juga tahu
berterimakasih, karena dia sudah membantu Key aku akan mengatakan
rasa terimakasihku dengan tulus padanya.”
Masalah apa lagi, pasti ya cuma itu kan. Pikir Bian.
“ Dengarkan aku dulu sampai selesai.” Karena akan ada badai yang jauh
lebih besar, ketimbang berita di media yang mungkin akan datang menghantam kalian.
Melelahkannya menyimpan rahasia batin Anjas. Ini dia baru mengetahuinya hari
ini. Bukan dia yang terlibat langsung.
Hah! Bagaimana perasaan Key sekarang ya?
“ Bi, jangan berprasangka sebelum aku selesai. Aku tahu, kau tidak
mungkin tidak kesal, tapi aku mohon, dengarkan aku sampai selesai. Jangan menyela, aku sendiri mengumpulkan
keberaniaan untuk duduk di hadapanmu dan membicarakan ini sekarang.” Bian hanya berdecak
memberi reaksi. Membiarkan Anjas melanjutkan ceritanya. “ Wanita yang dicintai
Ayahmu kembali.” Kata-kata itu sudah membuat mata Bian mengerjap, kantuknya
hilang seketika.
Omong kosog apa yang sedang dibicarakan Kak Anjas.
“ Hah! Apa karena itu dia jadi bersikap baik padaku?” Bian tertawa dengan nada jijik, mengeja nama
wanita itu tanpa suara. Tangannya sudah
terkepal geram. Lagi-lagi masih berfikir kalau ayahnya membaik padanya karena maksud tertentu.
“ Jangan menyela pembicaraanku.”
“ Apa lagi!”
Kalau tidak mengenal Bian luar dalam mungkin Anjas akan tersinggung,
melemparkan bantal kursi ke wajah Bian. Kenapa jadi dia yang di salahkan. Namun perasaan sayangnya untuk Bian
selalu tulus hingga dia hanya bisa menghela nafas di bawah sorot mata kesal
Bian.
“ Basma, adik Key adalah anak wanita
itu.” Memilih bicara langsung pada intinya. Toh dia bicara apa pun anak di hadapannya ini pasti kesal.
“ Omong kosong!”
Basma yang bukan adik kandung Key sudah ia tahu, tapi Basma yang
ternyata anak wanita itu. Rasa tidak percaya bercampur kemarahan muncul. Anak
wanita itu, wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan ibunya. Basma anak
wanita itu. Hatinya tidak lagi memikirkan Basma sebagai adik Key, tapi anak dari wanita yang ia benci.
“ Bi.”
“ Tutup mulutmu Kak, aku tidak mau mendengarmu membelanya.”
karena Key.Tapi sekarang, perasaan benci itu muncul secara terang-terangan
tanpa bisa ia kendalikan.
*Aku bahkan belum bicara apa-apa.*
Kau sudah berteriak begitu.
“ Bagaimana anak wanita itu bisa
menjadi adik Key.” Menyebut namanya saja Bian sudah merasa enggan sekarang.
Nama yang sebenarnya tidak terlalui ia sukai seratus persen, namun
karena dia adik yang disayangi Key, Bian sudah mulai membuka sedikit ruang di
hatinya. Setelah dia tahu kalau Basma
bukan adik kandung Key, walaupun kesal, namun terbesit rasa iba di hatinya. Anak
yang ditinggalkan, anak yang tidak tahu siapa orangtua kandungnya. Tapi
sekarang, setelah tahu dia adik tirinya ntah kenapa hatinya seperti langsung berbalik arah.
“ Bian.”
“ Aku biang tutup mulutmu Kak. Jangan membelanya.”
Bian ingin menggangap apa yang dibicarakan Anjas hanya mimpinya dalam tidur.
Tapi inilah kenyataan. Seperti bongkahan batu besar yang meledak melukai siapa
pun yang ada di dekatnya. Bian tidak ingin mempercayai apa yang ia dengar. Walaupun ia merasakan sakit dari serpihan batu itu.
“ Duduk, aku belum selesai.”
Melihat marah ke arah Anjas.
“ Ini kenyataan yang harus kamu hadapi dengan berani. Ini bukan mimpi. Basma
anak wanita itu sekaligus adikmu.” Kata-kata keras Anjas menarik tangan Bian
untuk duduk kembali di sofa. Lemah Bian terkulai menyandarkan kepala. Dia tidak
mau mendengar kenyataan ini. “ Maaf bi, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang.
Tapi dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai.” Bian membuang muka tidak mau
melihat ke mata Anjas. “ Aku tidak membela Basma.”
Aku bahkan belum berani mengatakan kalau ibu Basma dan oragtua kandung
key meninggal karena Nyonya.
Kalaupun Bian harus tahu mungkin Tuan Adiguna yang harus menjelaskannya.
“ Bi…”
“ Bagaimana dia bisa menjadi adik Key? Kau tahu ceritanya?”
“ Orangtua mereka berteman. Ibu
Key dan wanita itu.”
“ Apa Key tahu?”
“ Dia juga baru tahu. Hari ini aku mengantarnya bertemu ayahmu. Bagi
Key, inipun situasi yang sangat sulit Bi. Aku mendengarnya menangisi semuanya,
hari ini adalah hari yang sang sangat berat Bagi Key.”
Mendengar itu hati Bian semakin merasa tidak berdaya. Dia bahkan tidak
ada bersama Key. Kalau dia bertemu ayahnya siang tadi Key bahkan masih
membalas pesannya.Walaupun singkat-singkat namun dia tetap membalas. Dan saat
itu dia sedang membalas pesan sambil bercucuran airmata. Bayangan tangis Key
tidak bisa hilang dari matanya.
Bian Bangun dari duduk.
“ Bi, dengarkan dulu sebentar.”
“ Apalagi Kak?”
“ Jangan menyalahkan Basma, dia sama sekali tidak bersalah. Walaupun kau
butuh waktu untuk menerimanya, namun jangan salahkan dia.”
“ Benarkan kau membelanya.” Sinis, berjalan meninggalkan Anjas yang
hanya bisa menatap nanar dan bingung.
Karena kalau kau menyalahkan Basma, anak itu pun bisa saja ikut
meyalahkanmu karena kematian ibunya. Karena Nyonya Yunalah penyebab kematian
wanita itu.
Itulah hal yang paling tidak di inginkan Anjas, karena anak-anak adalah
korban dari kesalahan pilihan hidup orangtua mereka. Tuan Adiguna yang dilihatnya duduk bersimpuh
sambil memohon-mohon sudah diartikan Anjas bahwa laki-laki itu mengakui
kesalahannya. Tapi, bagaimana dengan Nyonya Yuna.
Aku takut mengatakannya pada Bian.
Karena Anjas tahu, bagaimana sayang dan percayanya Bian pada ibunya.
Bersambung