Key And Bian

Key And Bian
Dia Adikmu



Anjas menarik nafas dalam sedang memproses keyakinan  hatinya, bahwa apa yang ia lakukan sekarang


adalah jalan yang terbaik. Sedang naik turun meyakinkan hati hpnya bergetar di


dekat tangannya. Sekilas dia melirik.


“ Sudah lihat dulu sana.” Bian memilih menjatuhkan lagi kepalanya di


bantal kursi. “ Calon pacarmu mungkin.”


“ Jangan membahas Amanda.” Takut mulai goyah keberaniannya.


“ Memang aku menyebut namanya, kamu saja mulai kegereaan Kak.” Tertawa


lalu menutup mulut karena menguap. Kantuknya mulai mencoba meniupi matanya


lagi.


Dasar anak ini!


Tapi, dilihatnya juga hpnya, benar pesan dari Amanda. Sambil senyum


samar, ketik-ketik membalas pesan terlebih dahulu. Baiklah sudah, ujarnya


sambil mendorong hp masuk ke dalam celah bantal kursi. Melihat ke arah Bian


yang senyum-senyum melihat kelakuannya barusan saat membalas pesan Amanda.


“ Apa aku juga begitu kalau sedang membalas pesan Key.”Geli melihat


tingkah Anjas.


“ Parah! Kau lebih parah.” Bian tidak terima sebenarnya, tapi sepertinya


memang begitu. Terkadang dia tidak bisa mengontrol perasaan senang yang


langsung muncul kalau mendengar Key menelfon, atau melihat notif pesan darinya.


Ah, hanya di sebut namanya saja membuatnya semakin merindu.


Anjas fokus!


Memarahi dirinya sendiri. Batuk-batuk ehmm, mengumpulkan  kemantapan hati dan menciptakan suasana


serius.


“ Sudah jangan bicara aneh-aneh, sekarang aku mau bicara serius.”


“ Apa si Kak, kalau ini mengenai berita di tv dan media, aku sudah tahu.


Semua berita sudah menghilang, ayah kan yang sudah melakukannya. Aku akan


menelfon dan berterimakasih padanya besok. Aku juga tahu


berterimakasih, karena dia sudah membantu Key aku akan mengatakan


rasa terimakasihku dengan tulus  padanya.”


Masalah apa lagi, pasti ya cuma itu kan. Pikir Bian.


“ Dengarkan aku dulu sampai selesai.” Karena akan ada badai yang jauh


lebih besar, ketimbang berita di media yang mungkin akan datang menghantam kalian.


Melelahkannya menyimpan rahasia batin Anjas. Ini dia baru mengetahuinya hari


ini. Bukan dia yang terlibat langsung.


Hah! Bagaimana perasaan Key sekarang ya?


“ Bi, jangan berprasangka sebelum aku selesai. Aku tahu, kau tidak


mungkin tidak kesal, tapi aku mohon, dengarkan aku sampai selesai.  Jangan menyela, aku sendiri mengumpulkan


keberaniaan untuk duduk di hadapanmu dan membicarakan ini sekarang.” Bian hanya berdecak


memberi reaksi. Membiarkan Anjas melanjutkan ceritanya. “ Wanita yang dicintai


Ayahmu kembali.” Kata-kata itu sudah membuat mata Bian mengerjap, kantuknya


hilang seketika.


Omong kosog apa yang sedang dibicarakan Kak Anjas.


“ Hah! Apa karena itu dia jadi bersikap baik padaku?”  Bian tertawa dengan nada jijik, mengeja nama


wanita itu tanpa  suara. Tangannya sudah


terkepal geram. Lagi-lagi masih berfikir kalau ayahnya membaik padanya karena maksud tertentu.


“ Jangan menyela pembicaraanku.”


“ Apa lagi!”


Kalau tidak mengenal Bian luar dalam mungkin Anjas akan tersinggung,


melemparkan bantal kursi ke wajah Bian. Kenapa jadi dia yang di salahkan.  Namun perasaan sayangnya untuk Bian


selalu tulus hingga dia hanya bisa menghela nafas di bawah sorot mata kesal


Bian.


“ Basma, adik Key adalah anak wanita


itu.” Memilih bicara langsung pada intinya. Toh dia bicara apa pun anak di hadapannya ini pasti kesal.


“ Omong kosong!”


Basma yang bukan adik kandung Key sudah ia tahu, tapi Basma yang


ternyata anak wanita itu. Rasa tidak percaya bercampur kemarahan muncul. Anak


wanita itu, wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan ibunya. Basma anak


wanita itu. Hatinya tidak lagi  memikirkan Basma sebagai adik Key, tapi anak dari wanita yang ia benci.


“ Bi.”


“ Tutup mulutmu Kak, aku tidak mau mendengarmu membelanya.”


karena Key.Tapi sekarang, perasaan benci itu muncul secara terang-terangan


tanpa bisa ia kendalikan.


*Aku bahkan belum bicara apa-apa.*


 Kau sudah berteriak begitu.


“ Bagaimana anak wanita itu bisa


menjadi adik Key.” Menyebut namanya saja Bian sudah merasa enggan sekarang.


Nama yang sebenarnya tidak terlalui ia sukai seratus persen, namun


karena dia adik yang disayangi Key, Bian sudah mulai membuka sedikit ruang di


hatinya.  Setelah dia tahu kalau Basma


bukan adik kandung Key, walaupun kesal, namun terbesit rasa iba di hatinya. Anak


yang ditinggalkan, anak yang tidak tahu siapa orangtua kandungnya. Tapi


sekarang, setelah tahu dia adik tirinya ntah kenapa hatinya seperti langsung berbalik arah.


“ Bian.”


“ Aku biang tutup mulutmu Kak. Jangan membelanya.”


Bian ingin menggangap apa yang dibicarakan Anjas hanya mimpinya dalam tidur.


Tapi inilah kenyataan. Seperti bongkahan batu besar yang meledak melukai siapa


pun yang ada di dekatnya. Bian tidak ingin mempercayai apa yang ia dengar. Walaupun ia merasakan sakit dari serpihan batu itu.


“ Duduk, aku belum selesai.”


Melihat marah ke arah Anjas.


“ Ini kenyataan yang harus kamu hadapi dengan berani. Ini bukan mimpi. Basma


anak wanita itu sekaligus adikmu.” Kata-kata keras Anjas menarik tangan Bian


untuk duduk kembali di sofa. Lemah Bian terkulai menyandarkan kepala. Dia tidak


mau mendengar kenyataan ini. “ Maaf bi, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang.


Tapi dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai.” Bian membuang muka tidak mau


melihat ke mata Anjas. “ Aku tidak membela Basma.”


Aku bahkan belum berani mengatakan kalau ibu Basma dan oragtua kandung


key meninggal karena Nyonya.


Kalaupun Bian harus tahu mungkin Tuan Adiguna yang harus menjelaskannya.


“ Bi…”


“ Bagaimana dia bisa menjadi adik Key? Kau tahu ceritanya?”


“ Orangtua mereka berteman. Ibu


Key dan wanita itu.”


“ Apa Key tahu?”


“ Dia juga baru tahu. Hari ini aku mengantarnya bertemu ayahmu. Bagi


Key, inipun situasi yang sangat sulit Bi. Aku mendengarnya menangisi semuanya,


hari ini adalah hari yang sang sangat berat Bagi Key.”


Mendengar itu hati Bian semakin merasa tidak berdaya. Dia bahkan tidak


ada bersama Key. Kalau dia bertemu ayahnya siang tadi Key bahkan masih


membalas pesannya.Walaupun singkat-singkat namun dia tetap membalas. Dan saat


itu dia sedang membalas pesan sambil bercucuran airmata. Bayangan tangis Key


tidak bisa hilang dari matanya.


Bian Bangun dari duduk.


“ Bi, dengarkan dulu sebentar.”


“ Apalagi Kak?”


“ Jangan menyalahkan Basma, dia sama sekali tidak bersalah. Walaupun kau


butuh waktu untuk menerimanya, namun jangan salahkan dia.”


“ Benarkan kau membelanya.” Sinis, berjalan meninggalkan Anjas yang


hanya bisa menatap nanar dan bingung.


Karena kalau kau menyalahkan Basma, anak itu pun bisa saja ikut


meyalahkanmu karena kematian ibunya. Karena Nyonya Yunalah penyebab kematian


wanita itu.


Itulah hal yang paling tidak di inginkan Anjas, karena anak-anak adalah


korban dari kesalahan pilihan hidup orangtua mereka.  Tuan Adiguna yang dilihatnya duduk bersimpuh


sambil memohon-mohon sudah diartikan Anjas bahwa laki-laki itu mengakui


kesalahannya. Tapi, bagaimana dengan Nyonya Yuna.


Aku takut mengatakannya pada Bian.


Karena Anjas tahu, bagaimana sayang dan percayanya Bian pada ibunya.


Bersambung