Key And Bian

Key And Bian
Perasaan Yang Terpendam



Basma  mempersiapkan bahan-bahan somai. Mencuci daun


bawang, wortel, bawang putih, bawang merah, cabai, kacang tanah. Meletakan


bahan-bahan utama, seperti sagu, terigu, telur, serta beberapa jenis daging


yang ia keluarkan dari frezzer. Menunggu semuanya melunak dengan sendirinya.


Dia sudah akan mulai membuat pesanan untuk perayaan ulang tahun Grand Mall yang


ke 25.


 Setelah selesai melakukan persiapan, sambil


menunggu Key pulang membeli udang giling, dia bersantai sambil bermain dengan


ponsel barunya. Hp barunya jauh lebih cepat dari yang lama. Basma membuka akun


sosial medianya. Lalu membuka-buka page online shop yang menjual pakaian. Wah,


ada foto-foto pria tampan di sana yang bergaya bak super model. Ia tertawa


sendiri. “ Ternyata aku ganteng juga ya.” Dia lihat-lihat semua gambar.


Komentar-komentar, bukan hanya komentar tentang pakaian tapi yang bertanya


tentang dirinya juga banyak. Apa ini, idih, bukan tipeku. Katanya dalam hati


sinis, mengomentari sebuah foto yang menulis komentar aneh.


“ Assalamualaikum. Aku pulang.” Key


masuk membawa belanjaan.


“ Waalaikumsalam, gak dengar suara


mobilnya mbak.” Basma langsung bangun, menyambut tas belanjaan Key. “ Udangnya


dapat mba.”


Key mengacungkan jempolnya. “


Segar-segar tadi. Biarlah harganya lebih mahal dari biasanya. Mba, tidur


sebentar ya Bas lelah.”


“ Ia mba. Nanti masih kerja mba,


izin aja, minta kak Hamzah gantiin beberapa hari ini.”


“ Gak tau juga, dia kuliah atau


tidak. Lihat nanti aja. Mba ke kamar ya.”


“ Ia.” Basma melihat Key berjalan


menuju kamarnya. Tubuh mungil yang sekuat karang itu hilang setelah ia menutup


pintu. Basma meninggalkan bahan belanjaan, lalu ia mendekat, menempelkan


telinga ke pintu. Ingin mendengar suara dari bilik kamar Key. Tidak ada suara,


mungkinkah sudah tidur batinnya. Dia membuka pintu pelan, ternyata gadis


pekerja keras itu sudah terlelap sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.


“ Pasti kamu lelah sekali mba.” Ia ingin mendekat, menyentuh wajah Key dan


menghadapkannya ke atas, namun karena takut terpergok seperti waktu itu akhirnya


ia mengurungkan niatnya. Memilih berjalan pelan, dan menutup pintu. Lalu ia


kembali ke dapur.


Basma memang masih berumur 16


tahun, ia masih duduk di bangku kelas satu SMU. Namun keahlian memasaknya sudah


terasah sejak kecil. Dari saat masih kecil  ia sudah membantu orang tuanya membuat roti. Mainannya adalah adonan


terigu. Ia sudah sangat tidak asing dengan semua itu. Saat Key pergi ikut


berkeliling mengantar roti dia memilih berada di rumah, ikut bermain-main


dengan tepung dan telur. Saat kedua orang tuanya meninggal dan mereka harus


tinggal bersama bibi Salsa di desa, dialah yang mendapat jatah memasak dan


menjaga anak-anak bibi. Basma tumbuh dewasa dengan cara yang berbeda dari Key.


Ia pandai mengurus rumah, memasak makanan, mencuci dan menyetrika pakaian,


sampai mengurus dua bocah kecil anak bibi Salsa.


Basma mengaduk ikan dengan air,


mencampurnya hingga rata, memasukan daun bawang,telur, garam, bawang putih dan


bawang merah yang sudah digoreng dan ditumbuk, kaldu bubuk, sedikit saus tiram,


minyak ikan, minyak wijen, gula. Semua sudah sesuai dengan takaran yang dia


hafal di luar kepala. Diaduknya rata campuran dasar somai itu. Beberapa potong


labu siam yang sudah dikukus dan dihaluskan, fungsinya untuk membuat somai tetap


lembut.  Lalu setelah tercampur rata ia


mulai memasukan terigu dan sagu, sedikit demi sedikit secara bergantian. Sampai


kedua tepung itu habis. Lalu mulailah dia memasukan adonan somai tadi ke dalam


kulit somai yang dibuat Key. Meletakan wortel yang sudah diparut kasar sebagai


toping diatasnya. Ia menyusun dengan rapi satu persatu ke dalam kukusan.


Teratur, ia membuat dengan hati-hati dan telaten. Setelah memastikan kukusan


sudah mendidih, ia mulai mengukus somai ikannya.  Lalu ia melanjutkan membuat adonan


selanjutnya. Komposisinya hampir sama, hanya ia sekarang menggunakan daging


udang dan ayam. Serta toping aneka macam, ada udang utuh, telur puyuh, beff,


dan juga sosis, serta yang menjadi primadona topping rumput laut.


Ia bangun, mengendurkan


saraf-sarafnya. Punggungnya terasa pegal. Mengeliat kekanan dan kekiri.


Diletakannya sendok. “ Jam berapa sekarang ya.”


“ Jam 3.”  Key tiba-tiba sudah ada di belakang Basma.


“ Ya ampun Mba, buat kaget saja.”


“ Hihi. Maaf.”


Key mendekat dan menyandarkan


wajahnya di bahu Basma, melihat adonan somai di baskom. “Wahh, Basma memang


yang paling hebat.” Lalu key menarik kursi duduk di sebelas adiknya. Dia


mengangkat tangannya, menunjukan kalau tangannya sudah steril. “Sudah cuci


tangan .” lalu ia mulai memasukan adonan somai kedalam kulit, memberi toping,


lalu memasukannya ke dalam kukusan.


“ Mba sudah pernah bertemu dengan


CEO Grand Mall?” Iseng bertanya.


“ Belum.” Bagaimana mungkin aku


bertemu dengan seseorang sepertinya.


“ Kak Bian kerja di mana, Mba Key


juga belum tahu sampai sekarang.”


Key menggeleng sambil cemberut. Dia pernah


bertanya, tapi tidak pernah keluar jawaban pasti dari Bian.


“ Dia pernah bilang kalau dia kerja


jadi humas,  berhubungan dengan


orang-orang di luar perusahaan.” Memasukan adonan dengan cepat. Basma bisa


membuat lima, Key baru satu. Jadi dia berusaha mengerakan tangannya lebih


cepat.


“ Aduh Mba, lipetnya ke kanan


kulitnya. Dorong pelan-pelan, biar mekar seperti bunga.”


“ Ia, ia.” Akhirnya memilih


memperlambat pekerjaannya tapi mendapat tampilan yang bagus.


“ Mba suka ya sama dia?”


“ Siapa?” Key kaget. Namun


“ Teman kok begitu, kemarin itu


yang bawa sekeranjang obat-obatan itu diakan. Sekarang juga yang selalu


mengantar Mba pulang dia kan?” Ntah kenapa perasaan Key jadi malu. Ia tersenyum


simpul sebentar. Buru-buru tersadar, kalau selama ini ikatan yang ada di antara


mereka ya hanya sebatas persahabatan saja, tidak lebih dan kurang.


“ Rumah dia di mana mba?” Tangan


Basma sangat cepat. Ia sangat mahir dan cekatan kalau urusan membentuk somai.


“ Tidak tahu.” Key mengangkat


bahunya.


“ Kerja di mana tidak tahu, rumahnya


di mana juga tidak tahu. Jadi yang kalian bicarakan kalau bertemu itu apa?”


“ Bicara tentang somai, bicara


tentang kamu, bicara tentang mimpi-mimpi Mba, banyak, tapi Mba gak kepikiran


buat nanya rumahnya di mana kalau sedang bersamanya.”


“ Mba jangan terlalu dekat sama


dia.” Ada nada tidak suka dalam bicara Basma. Dia berdiri, memeriksa kukusan.


Sudah matang. Lalu diangkatnya, uap panas mengepul saat ia membuka tutup


dandang. Aroma khas somai menyeruak. Dia mengangkat somai yang masih mentah.


Mulai mengukus lagi. Sambil menengok melihat jam dinding. Ia mencatat di kertas,


jam berapa. Anak itu memang cermat dan teliti.


“ Kenapa? Bas tidak suka.”


“ Tidak.” Sambil menyibukan diri


dengan adonan.


“ Lantas kenapa?”


“ Ya cuma perasaan saja, Mba juga


belum kenal dia lamakan.”


“ Dia orang baik kok, buktinya Kak


Anjas adalah orang baik. Mereka bertemankan.” Key mencari pembelaan, walaupun


pembelaannya terdengar tidak masuk akal.


“ Ya sudahlah, siap-siap sana, biar


aku yang selesaikan. Mba musti berangkat kan.”


“ Ah, ia. Mau mandi dulu ya.”


Key pergi meninggalkan Basma, yang


menyimpan perasaan berkecamuk. Rasa cemburu yang mengalir begitu saja. Saat


melihat wajah Key yang tersipu saat nama Bian disebut. Walaupun dia tidak


mengakuinya, namun samar, Basma paham. Bahwa ada segurat rasa suka yang


tertanam di hati key. Suatu hari mungkin akan tumbuh dan menjadi subur, jika


dipupuk oleh perjumpaan setiap hari. Dan ia tidak rela jika itu harus terjadi.


Wajah Bian melintas di kepalanya. Ah, tentu ia sangat timpang jika dibandingkan


dengan laki-laki itu. Dia jauh lebih tua umurnya dari Key. Dia sudah berkerja,


dia tampan. Aku juga tampan batin Basma kalau urusan ketampanan aku tidak kalah.


Ya, adik yang tampan. Akan tetap seperti itu bagi Key.


Key keluar dari kamar, sudah rapi.


Dia lalu membuat bekal makanan. Basma memperhatikan, Key membawa dua bekal


nasi. Dia masih belum bertanya. Namun ketika sudah dimasukan ke dalam wadah,


dia yakin, itu jelas-jelas porsi untuk dua orang.


“ Apa kalian juga makan malam


bersama.” Lali-lagi wajah merona itu muncul. Sambil tersenyum malu-malu Key


menganguk. Basma ingin bertanya lagi, namun ia merasa berat menahan cemburu.


Akhirnya dia diam. Meneruskan mencuci wadah dan peralatan dapur yang terpakai.


“ cukup hari ini, lanjut besok ya mbak.”


“ Ia, kamu istirahat juga. Makan ya


jangan lupa.”


“ Heem.”


“ Mba berangkat ya Bas.”


“ Ia, hati-hati dijalan.”


“ Oke.


Saat mendengar suara pintu depan


ditutup, Basma langsung menghentikan pekerjaannya. Ia lunglai dan terduduk. Menahan


semua perasaan yang tiba-tiba bermunculan. Wajah Key melintas. Kakak perempuan


yang selalu menjaganya selama ini, wanita setegar karang yang akan melakukan


apa pun untuk dirinya. Walaupun mereka sama-sama tahu, bahwa mereka tidak


terikat oleh pertalian darah. Bukan saudara jauh, hanya anak dari seorang


teman. Saat tahu kenyataannya dulu, bahwa ia bukanlah adik kandung Key. Basma


malah sungguh-sungguh sangat bersyukur, ia senang sekali. Sedari kecil ia memang


sangat dekat dengan Key. Perasaan sayang yang tumbuh di dadanya untuk Key,


semakin hari semakin besar. Terpupuk dengan sendirinya. Sampai ia meyakini sekarang,


bahwa perasaannya pada Key bukanlah hanya perasaan sayang seorang adik pada


kakak perempuannya. Namun jauh lebih komplek dari itu. Sebuah ikatan atas nama


perasaan laki-laki pada wanita. Ah, ia tersadar. Lalu mematikan kompor dan


membuka kukusan, membiarkan uap panasnya keluar.


 


“ Bu, memang Bas bukan anak Ibu


sama ayah ya?”


Wajah wanita itu terkejut. Ia


berhenti membentuk adonan roti. Menoleh ke arah empat karyawannya yang sedang


sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


“ Bas, Basma itu anak ibu sama


ayah. Siapa yang bilang begitu?” tanya ibu lembut, walaupun masih terlihat


sangat khawatir. Dia berjalan ke kran air dan mencuci tangan. Lalu memeluk Basma.


“ Basma tidak sedih kok Bu,


walaupun Bas bukan anak kandung Ibu, tapi Bas sangat bersyukur jadi anak Ibu.”


Ibu muda itu mencium kening Basma.


“ Kami sayang sama Bas, mba Key sama Basma adalah anak  Ibu semua.”


“  Bas tidak sedih. Ibu jangan khawatir.”


Basma mengusap wajahnya, teringat


percakapan yang pernah terjadi antara ia dan ibunya. “ Bas, tidak pernah sedih


Bu. Bas malah bahagia, karena ternyata Bas tidak punya ikatan darah dengan mba


Key. Ah, tapi mungkin aku tetap harus menyimpan semuanya sendiri. Bagaimanapun,


semuanya pasti akan canggung kalau sampai mba Key tahu aku menyukainnya.”


Bersambung......


Dicoba ya resep somainya ^_^