
Hari itu, banyak hal terjadi. Bukan hanya pristiwa pristiwa penting di
sebuah desa kecil berhawa sejuk. Tempat di mana tiga buah makam berjajar dalam kesunyian. Namun juga di ibu kota.
Siang yang sama di suasana yang berbeda.
“ Kak Anjas aku kangen.” Tring, sebuah pesan terkirim. Amanda
menjatuhkan tubuh semampainya di sofa. Hari ini tidak ada jadwal pekerjaan
apa pun. Ikatan rambutnya berantakan. Dia
bahkan tidak memakai riasan apa pun di wajahnya. Kulitnya bernafas dengan lega.
Seharian ini dia hanya bolak balik dari kamar ke ruang keluarga. Sambil bermain
dengan hp. Para pelayan tidak terganggu ataupun berusaha mendekat, karena
begitulah kebiasaan nona mereka kalau sedang tidak ada jadwal pekerjaan.
Mata Amanda tiba-tiba membelalak lebar. Tersadar dengan pesan yang baru
dia kirim. Pesan yang dituliskan jari jemarinya sendiri.
Huaaa, aku pasti sudah gila, Bagaimana aku mengirim pesan begituan pada
Kak Anjas. Hapus-hapus pesan sebelum dia membacanya.
Terlambat.
Anjas sudah membaca pesan. Amanda menjatuhkan hpnya. Bagaimana ini.
Tersungkur lemah di sofa lagi.
Tring, bunyi pesan masuk. Amanda masih melihat hpnya. Ragu meraihnya.
Membuka pesan sambil memicingkan mata, takut melihat isinya.
“ Akan kusampaikan pada Bian, tapi jangan berharap lebih ya.”Emoji
tersenyum yang menenangkan. Balasan dari Anjas, membuyarkan fantasi reaksi yang
tadi dipikirkan Amanda dengan harap-harap cemas.
Hah! Kenapa Kak Anjas membalas begitu si.
Amanda bernafas lega sekaligus sedih yang muncul bersamaan.
Kesalahpahaman Anjas menyelamatkan segalanya sekaligus membuat hati kecilnya
berdenyut. Karena jujur saja, kalimat pesan itu memang ia tunjukan untuk Anjas.
Tapi dia malu mengakuinya, bahkan pada hatinya sendiri.
“ Apa Kak Anjas bisa menemaniku makan siang?” Masih ingin berbalas
pesan, walaupun Amanda tahu, Anjas pasti saat ini sedang sangat sibuk.
“ Memang nggak ada jadwal kerja?” Balasan cepat.
“ Seharian ini aku kosong Kak, temani aku makan siang ya.” Memohon,
memohon dalam hati supaya Anjas bersedia.
“ Maaf Manda, hari ini ada meeting penting waktu makan siang.” Terkulai
lemah lagi saat balasan Anjas datang.
Bahkan rasanya jauh lebih mengecewakan ketimbang saat Bian tidak perduli
padanya. Amanda menghela nafas.
“ Nggak papa Kak, Kak Anjas pasti sibuk.”
“ Bagaimana kalau makan malam?”
Sekali lagi menemukan pijaran indah di depannya. Terserahlah mau makan
malam atau makan siang. Ntah kenapa bersama Kak Anjas terasa menyenangkan.
“ Baik Kak terimakasih, aku cinta kak Anjas.”
Membelalakan mata dengan pesan yang baru saja terkirim yang langsung
dibaca Anjas.
“ Ia, ia, nanti aku sampaikan juga ke Bian.Tapi jangan berharap lebih.
Sudah ya, jangan lupa makan siang.”
“ Ia Kak, terimakasih juga. Kak Anjas juga jangan lupa makan siang dan
istirahat ya.”
Pesan ditutup dengan emoji tersenyum.
Kenapa ini, kenapa aku malah jadi begini pada Kak Anjas. Amanda sedang
bingung dengan hatinya sendiri.
Jangan membandingkan Kak Bian dengan Kak Anjas, yang aku cintai itu
Kak Bian, dan aku ingin menikah dengannya.
Begitulah perang batin yang terjadi dalam diri Amanda. Tidak tahu
kenapa muncul keraguan di hatinya sekarang. Sejak terakhir bertemu dengan Bian
saat laki-laki itu memutuskan hubungan dengannya,perasaan sakit itu memudar
dengan sendirinya. Walaupun sepenuhnya impiannya menikah dengan Kak Bian belum
menghilang, karena orangtuanya selalu mengatakan itu setiap ada kesempatan.
Sementara di kantornya Anjas kembali membaca ulang pesan yang dikirim
Amanda padanya.
Hah! Kenapa dia lucu begini.
***
Masih di siang yang sama, di situasi, waktu dan cuaca yang tidak jauh
berbeda.
Ikatan yang ingin dibuat Adiguna Group dengan Basma melalui Frezze
Parfume semata-mata karena ketua Adiguna ingin memberikan kehidupan yang layak
untuk Basma. Mengikat kontrak tidak masuk akal sekalipun akan dilakukan.
Adiguna hanya ingin memberikan uang dan fasilitas hidup untuk putranya.
Kalau bisa, dia bahkan ingin meletakan sekoper uang di depan rumah
Basma. Dengan tulisan hiduplah dengan baik dengan uang ini. Namun sekretarisnya
mencegahnya melakukan hal-hal di luar nalar. Akhirnya inilah satu-satunya
peluang. Celah dunia model yang memang sudah dimulai oleh Basma.
“ Hei, kamu nggak menjanjikan apa-apa sama Frezze Parfume kan?” Basma berdiri di depan
pintu mengerutu. Siang ini sebenarnya dia mau membantu Key berjualan sampai
selesai, tapi anak di depannya ini memaksanya datang ke rumahnya.
Libur sekolah Rian bahkan sepertinya belum mandi.
“ Minggir.” Menepis tangan pemilik rumah, lalu masuk tanpa permisi. Tapi
dia masih mengucap salam dengan benar.
“ Aduh Bas aku kan gak tau kalau kamu bakal datang secepat ini.”
Mengucek kepala, menguap sambil menutup mulut. “ Tadi katanya masih di Central
Park sama Mbak Key.”
“ Karena kamu menelfon pas dia ada di dekatku, jadi dia menyuruhku
pergi. Dasar, malah kamunya belum mandi lagi.”
Rian sudah membahas masalah keseriusan Frezze parfume, dia mau
membahasnya dengan Basma, dan memaksa Basma untuk datang ke kantornya. Karena
tidak tahu kenapa dia juga diteror terus oleh orang yang bernama Said Husni.
Kalau aku yang ditawari aku pasti langsung menerima tanpa berfikir. Ya, karena kadang aku memang malas berfikir si.
“ Ia, ia maaf. Aku cepet kok mandinya. Kamu tunggu di kamar aja ya, aku
ambilin minum sama makanan.” Rian ngeri, kalau Basma sudah kesal.
“ Tante mana?” Basma mengedarkan pandangan sebentar.
“Sudah pergi dari pagi, mama sibuk banget lagi pemilihan bahan buat
desain terbaru katanya.”
Setelah mendengar itu Basma beranjak dari tempatnya berdiri, Rian
pun ke dapur meminta bibi menyiapkan minuman dan camilan.
Hehe, sepertinya keren ya, kalau aku jadi manager model.
Berubah haluan karena sadar diri gak bisa jadi modelnya.
“ Huaaaa, Basma datang ya.” Dua orang wanita turun dari tangga.
Berpapasan dengan Basma. Rian juga sudah muncul dari dapur.
“ Husss.husss. cewek-cewek nggak usah ganggu Basma.” Mengusir dengan
mengibaskan tangan kanan. “ Jauh-jauh sana, jangan ganggu orang ganteng.”
“ Jorok kamu dek belum mandi. Lihat tu Basma, ganteng, wangi, semerbak,
mempesona.” Mengangkat tangannya di depan hidung. Dia Arania, kakak perempuan Rian yang hanya
terpaut perbedaan usia setahun saja. Gadis di belakangnya melihat Basma
sekilas, lalu tertunduk lagi melihat layar hp.
“ Pagi Kak?” Basma menyapa.
“ Pagi juga Bas, sehat-sehat ya. Kakak turun dulu.” Tapi belum bergerak melangkah. Gadis di belakangnya pun ikut berhenti. Masih sibuk dengan hp.
“ Dih, sudah sana. Biarpun begini aku punya pacar di dunia nyata. Haha,
ketimbang kakak, pacaran kok sama Bias.” Tertawa puas sambil menepis tangan
kakak perempuannya. “ Kak Kirana, awas kesandung lihat tangga.Jangan lihatin
pacarnya di hp terus. Haha.” Kepuasan Rian kedua.
“Biarin week.” Menjulurkan lidah. Lalu berjalan cepat mendahului Kakak perempuan
Rian. Basma mengikuti langkah kaki gadis yang tak perduli padanya dengan ekor
matanya. Sampai gadis yang dipanggil Kirana itu menuruni tangga terakhir.
“ Aduh Bas kamu kok mau si punya temen anak beginian.” Mengacak kepala
adiknya keras-keras.
“ Woy sakit Kak.”
“ Sudah mandi sana. Walaupun wajahmu nggak mendukung di samping Basma
setidaknya wangi sedikit lah. Haha.” Berlari menuruni tangga cepat.
Basma sudah terbiasa melihat perseteruan Rian dan kakak perempuannya. Hubungan
mereka terlihat dekat walaupun dengan cara yang berbeda seperti hubungannya
dengan Key.
“ Huaaa, sejuta lagi sampai ke 50 juta. Ayo semangat streaming MV.”
Gadis bernama Kirana sudah duduk di
sofa. Di hadapannya semua perangkat elektronik sedang menyala. Tadi Basma sama
sekali tidak memperhatikan saat masuk.
“ Sedang apa mereka?” Menghentikan langkah karena celoteh kedua gadis di bawah terdengar dengan jelas.
“ Streaming MV, udah kamu nggak bakal ngerti sama yang begituan. Aku mandi
sebentar ya Bas.”
sambil bicara dengan suara keras tentang ntah apa yang tidak dia pahami.
“ Biasa aja, aku juga punya kakak ipar yang jauh lebih imut, keren dan
mengemaskan. Sama kayak biasku ini donk.”
Mereka lagi ngapain si.
Basma memilih masuk ke dalam kamar Rian, sementara pemilik kamar sedang di kamar mandi.
***
Malam pun datang, karena ada kalanya malam menjadi saat paling di tunggu bagi seseorang.
Key ataupun Bian sudah meyakinkan hati mereka masing-masing. Bahwa
tangan yang terkait antara mereka akan mereka tautkan dengan kuat. Hingga
pertemuan malam di minimarket, walaupun singkat selalu menjadi tali kuat yang
akan membantu mereka bertahan.
“ Selamat datang Kak, Tumben bawa mobil?” Key melihat mobil Bian yang
terparkir di halaman. Sedari mobil itu masuk Key sudah tahu, karena saat jam
dinding menunjuk angka yang sama setiap harinya. Jantungnya mulai berdebar,
senyumnya tanpa alasan mulai merekah. Kebahagiaan yang cuma bisa dimengerti
oleh mereka berdua.
“ Hallo Key.” Berdiri di depan kasir. Mengusap kepala Key lembut. “ Kau
sudah bekerja keras hari ini.”
“ Hehe, apa si Kak. Buat malu aja.” Tapi ntah kenapa pujian kecil itu
lumer di hatinya. Terdengar saat indah. “ Kak Bian juga sudah bekerja keras.
Kak Bian sudah makan belum?”
“ Aku kan ke sini mau makan malam bersamamu.”
“ Ah, ia. Tadikan sudah bilang di pesan. “ Key mengeluarkan kotak bekal
makan malamnya. Bian meraihnya lalu membawa ke kursi yang selalu mereka duduki
untuk makan siang bersama.
“ Lengkapnya, kamu yang masak semua ini?” Sama persis dengan hidangan
lengkap yang di buat Pak Wahyu.
“ Silahkan Kak, semoga sesuai dengan selera Kak Bian.” Bian langsung
menggigit sendoknya mendengar Key mengatakan itu.
“ Kenapa masih mengatakan begitu. Aku kan sering bilang jangan terbebani
dan berusaha menyesuaikan diri denganku.”
Jujur, hidangan lengkap ini dibuat Key karena ingin menyesuaikan diri
dengan cara hidup laki-laki di hadapannya.
“ Key senang kok waktu memasaknya, jadi Kak Bian juga harus menikmati
masakan ini dengan bahagia.”
“ Aku yang akan belajar menyesuaikan diri denganmu Key, jadi kamu jangan
merasa terbebani.”
Keduanya sebenarnya sedang saling menyesuikan diri dan mendekatkan
perbedaan yang terbentang lebar di antara mereka. Karena Key menyadari jurang
itu bukan hanya sebatas ini. Kotak makanan hidangan lengkap, tapi jauh lebih
lebar dan dalam dari ini.
Hari ini pembeli datang silih berganti. Seperti malam-malam yang lewat. Mereka tertawa sambil mendorong
troli dan menyusun barang-barang di etalase. Bian dengan cepat belajar, dia
sudah terlihat tidak canggung. Ah, waktu tutup minimarket jadi terasa cepat datang. Seperti tidak rela saat mengaitkan gembok pengaman.
Saat masuk ke dalam mobil Key berguman dalam hati.
Ah, naik mobil ya. Pasti cepat sekali sampainya.
Hal yang sama pun sedang berlarian di pikiran Bian. Tapi dia tidak boleh terlalu egois.
“ Lho Kak, Kok balik arah. Kita mau kemana?”
Bian memutar kemudi tiba-tiba di belokan jalan, mobil melaju kembali ke arah minimarket.
“ Ke rumahku.”
“ Eh apa! Aku tidak mau Kak, kenapa ke rumah Kak Bian.” Terkejutnya Key
tidak dibuat-buat. Kenapa tiba-tiba membawanya ke rumah. “ Aku belum siap bertemu
ayah dan ibumu Kak.”
Eh,kenapa dia malah tertawa.
“ Memang siapa bilang aku tinggal dengan orangtuaku.” Masih menunjukan
senyum mencurigakan. “ Aku ingin menunjukan sesuatu padamu, tapi aku malu
membawanya.”
Key takut sekaligus penasaran, terkadang Kak Bian melakukan banyak hal
tidak terduga. Melihat dari jejak awal pertemuan mereka saja bisa terlihat itu. Key diam menebak-nebak maunya Bian apa. Saat
mobil memauki gerbang perumahan yang baru sekali ia masuki saat pesta dulu. Semua yang ia lewati terasa asing baginya. Sekalipun ini kali keduanya.
“ Keu sedang apa, keluarlah.” Mobil sudah berhenti di halaman rumah. Key
terlihat ragu. Dia masuk duduk di dalam mobil, walaupun Bian sudah turun, memegang pintu mobil yang terbuka.
“ Apa tidak apa-apa Key datang ke sini Kak. Bagaimana kalau Amanda atau
siapa pun ada yang melihat.” Tidak
menghiraukan Bian menarik tangan Key pelan, membuat gadis itu mau tidak mau
keluar.
“ Pak Wahyu sedang keluar kota.”
“Apa! Jadi cuma ada kita berdua.”
“ Tidak, kita bertiga sama setan. Jadi jangan sampai tergoda sama setan
ya. Haha.”
Apa si, kenapa malah tiba-tiba melucu begitu.
Key masih menggandeng tangan Bian, bahkan sampai laki-laki itu membuka
pintu. Bian sengaja tidak menutup pintu walaupun mereka sudah masuk ke dalam.
Membuat perasaan lega di hati Key.
“ Duduklah, aku ambil sebentar ya.” Bian menaiki tangga sementara Key
berkeliling dengan pandangan mata. Dia bangun mengamati keadaan ruang tamu dan ruangan di sebelahnya. Rumah
orangtua Key yang ia tinggali sekarang mungkin hanya seluas ruang tamu dan
ruang di sebelahnya. Tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba menyisip di
hatinya. Membuatnya terduduk lemah di sofa.
Apa yang sudah kau impikan Key, kenapa kau meraih tangan laki-laki yang
berasal dari dunia yang berbeda denganmu.
Hanya dengan melihat sofa yang dia duduki sekarang saja Key bisa tahu
selebar apa perbedaan di antara mereka.
“ Key.”
Bian berdiri di depan tangga memegang sesuatu yang menutupi wajahnya.
Boneka panda dengan hati berwarna pink, sama persis seperti stiker yang
dikirim Kak Bian semalam pikir Key.
Key bangun, baru saja akan menunjukan keharuan dan perasaan bahagia
kalau tidak sebuah suara tiba-tiba terdengar.
“ Kalian sedang apa berdua di sini.” Anjas muncul menghancurkan moment
berharga, berdiri di depan pintu melihat Bian dan Key bergantian.
“ Cih, setannya muncul beneran.” Bian mengerutu terdengar jelas bahkan sampai Anjas yang berdiri di depan pintu.
Key hanya tertawa saat Bian menjatuhkan boneka panda yang menutupi
wajahnya. Sementara Anjas masam saat di sebut setan.
“ Kenapa kau kemari malam-malam begini Kak.” Menyerahkan boneka ke tangan
Key, yang langsung di dekap Key di dadanya. Menggandeng tangan Key duduk di
Sofa. Anjas mengikuti, duduk juga di sofa tanpa rasa malu kalau dia sama sekali tidak diharapkan kedatangannya.
“ Pak Wahyu minta aku mengecek apa kau makan malam dengan baik.”
“Cih.”
Wahhh, wahhh sepertinya dia mau menghajarku sekarang. Tidak, dia pasti ingin membunuhku.
“ Aku tidak tahu kalau kau mengajak Key kemari.” Melihat boneka di
pelukan Key. “ ah, kau mau memberi hadiah ya.”
Bian hanya mendelik.
Dasar tidak Peka.
Akhirnya Anjas benar-benar menjadi orang ketiga yang tidak diharapkan
Bian. Karena Key sendiri merasa senang mereka bisa bicara bertiga. Sampai Bian mengantar pulang Key dia bahkan masih tiduran di sofa rumah
Bian.
Pesan masuk.
“Kak Anjas terimakasih makam malamnya. Mimpi indah ya.”
Sebenarnya apa yang sedang terjadi si ini.
Tapi ntah kenapa Anjas jadi senyum-senyum sendiri. Anjas tertidur di sofa, sampai Bian kembali dari mengantar key
pulang. Hpnya jatuh di bawah sofa. Bian tidak perduli, langsung naik ke kamar. Tapi akhirnya dia kembali, walaupun dengan mengomel. Membawa bantal dan menyelimuti tubuh Anjas yang terlelap.
" Tidurlah Kak, kau sudah bekerja keras."
***
Pak Wahyu meletakan nasi di hadapan Adiguna. Mereka memilih menginap
malam ini.
“ Tuan, jangan terlalu memaksa Bibi Salsa. Sejauh ini semua berjalan
dengan baik seperti apa yang kita harapkan.”
“ Sedikit lagi kalau dia bicara semua akan terkuak.”
“ Saya paham Tuan, tapi lihat saja tadi, Bibi Salsa sudah terguncang
dan menahaan diri. Dia sudah gemetar seperti itu.Biarkan dia istirahat, Tuan
juga. Kita kembali lagi besok saat beliau sudah tenang.”
Siang tadi setelah pergi dari rumah Bibi Salsa, Adiguna duduk selama berjam-jam di samping pusara wanita yang dia cintai.
Bersambung.....
Bibi Salsa sedang menenangkan diri, jadi kita ketemu sama pasangan yang lainnya dulu ya.
Selamat membaca, Terimakasih ^_^