
Keluar dari kamar mandi. Masih menyisa tetesan air di sekitar wajah dan
ujung rambut. Bian mengusapnya lagi dengan handuk kecil, menghilangkan semua
jejak airmata yang keluar tanpa bisa ia kendalikan atau ia tahan. Begitu saja berjatuhan, seperti bocah yang menemukan orangtuanya kembali
setelah hilang di pusat perbelanjaan. Menangis karena kelegaan.
Ia berjalan menuruni tangga. Ketukan tangannya di tangga sedang seirama dengan hatinya.
“ Aku akan bicara dengan ibu.” Setelah Bian berhasil menguasai hatinya. Menyelesaikan isaknya di hadapan Adiguna.
“ Bian, jangan sekarang. Biarkan ayah yang bicara pada ibumu.” Semenjak
hari itu tingkat kegusaran Adiguna pada istrinya menurun. Walaupun pengacaranya
tetap masih melanjutkan surat-surat proses perceraian, namun alih-alih
membiarkan Bian langsung menghadapi ibunya. Adiguna memilih menjembatani
mereka.
“ Ayah!”
“ Nak, ibumu juga saat ini sedang sangat terluka.”
Walaupun terkejut dengan sikap ayahnya pada ibunya, namun Bian tidak bertanya alasan kenapa laki-laki di hadapannya bisa berubah sikap begini.
“ Baiklah, aku akan bicara pada ibu nanti setelah ayah bicara padanya.”
Adiguna mengusap bahu putranya. Sekali lagi pancaran keraguan terlihat
di matanya.
“ Bian.” Terdiam lagi. “ Ayah akan memmbawa adikmu Basma kembali, kamu
tidak keberatan kan?” Mengulur waktu selama apa pun, keduanya tetap harus
dipertemukan. Apalagi saat ini baik Bian ataupun Basma sudah sama saling tahu.
“ Tidak!” Suara keras Bian memberi penolakan tegas.
“ Bian, bagaimanapun dia adikmu.” Memohon dengan sangat agar anaknya
melunak.
Bian masih bisa menunjukan tatapan keras kepalanya. Membuat lagi-lagi
ayahnya hanya mampu mendesah sedih. Karena Bian masih sama belum bisa seratus
persen menerima kenyataan yang ada.
“ Ayah dan ibumu yang akan minta maaf dan datang menjemputnya. Apa kau
mau pergi bersama kami.” Kali ini sepertinya Adiguna sudah memantapkan hati,
tidak ingin bimbang lagi karena Bian.
“ Aku bilang tidak.”
Bian bangun dari duduk.
“ Bian, ayah mohon padamu.”
“ Aku yang akan membawanya sendiri padamu nanti.”Dengan percaya diri
mengatakannya. Tapi, mendengar itu sudah seperti gusuran air menyejukan di hati
Adiguna. " Jadi, Ayah bisa menunggu sampai hari itu kan?"
“ Bailah, ayah percaya padamu. Bawa adikmu kemari.”
Aku memang mengatakannya dengan
penuh percaya diri supaya terlihat keren di depan ayah tadi, tapi sekarang aku harus bagaimana!
Sepertinya ada yang senang setelah sekian lama tidak mendapat pujian dari ayahnya.
Bian bertemu kepala pelayan di
bawah, yang menanyakan apa dia baik-baik saja. Apa perlu di antar pulang.
Sebaiknya langsung kembali ke rumah tidak perlu kembali ke kantor ujarnya dengan
nada penuh khawatir. Dulu Bian selalu merasa bahwa kepala pelayan jauh lebih
mencemaskannya ketimbang ayahnya sendiri.
“ Aku tidak apa-apa Pak. Tolong
bawa segelas teh untuk ayah dan ibu.”
“ Eh, ia Mas.”
Baru kali ini setelah sekian lama,
kepala pelayan mengikuti langkah Bian sampai hilang dari pandangan. Untuk
pertama kalinya Mas Bian perduli selain pada ibunya.
Saat langkah kaki Bian keluar dari
rumah. Bian hampir terjatuh
saat ia melihat kejauhan. Mobil Kak Anjas masih ada di sana. Dia melihat Key
yang juga sudah melihatnya. Langsung berdiri tegak yang tadinya bersandar pada
belakang mobil. Perasaan Bian kembali campur aduk. Dia belum menyiapkan hatinya
untuk bertemu langsung dengan key.
“ Kenapa kau belum mengantar Key?” Pesan cepat ke nomor Anjas.
Dari kejauhan Anjas angkat bahu dan menunjuk Key. Lalu terlihat Anjas
bicara sebentar kepada Key, setelahnya berlari mendekat ke arah Bian.
“ Key mau menunggumu. Dia mencemaskanmu karena melihat ketua sepertinya
sedang marah.”
“ Antar dia pulang Kak, aku mohon.”
Lagi-lagi Anjas ingin berteriak sekerasnya, dia terjebak di antara dua orang yang sedang sama-sama keras kepala. Tadinya
Key sudah mau di ajak pulang, namun saat mobil sudah mendekati gerbang utama,
dia menahan tangan Anjas. Mengutarakan kecemasannya dan meminta kembali. Apa
pun yang diutarakan Anjas tidak menyurutkan keinginannya pergi.
“ Aku hanya ingin memastikan Kak
Bian baik-baik saja begitu katanya. Apa terjadi sesuatu di dalam? Kau habis
menangis?" Kaget. " Bi, kau baik-baik saja kan?” Air tidak meghapus jejaknya ternyata.
Bian memaki.
“ Minggir.”
“ Tunggu!” Menahan tangan Bian, membuat laki-laki itu berhenti melangkah
menuju Key. “ Kau sudah tahu tentang
ibumu?”
Ada yang berkobar tapi bukan api.
Anjas sampai mundur dua langkah. “ Kau sudah tahu? Kau tahu ibuku. Ahh.”
Lagi-lagi tidak punya keberanian mengucapkannya. “ Kalau kau sudah tahu kenapa
tidak mengatakannya padaku Kak!” Suara Bian mengeram. Lagi, merenggut kerah jas Anjas dengan tangan gemetar.
Mata Anjas menunjukan rasa bersalah.
“ Karena selain Key, ibumu satu-satunya sumber kebahagiaanmu.” Lirih
terucap, membuat Bian mengendurkan tangan dan akhirnya melepaskan kerah jas
dengan tangan semakin gemetar. “ Sebenarnya karena aku juga takut, kau tidak akan
mempercayaiku.”
Bian tertawa getir.
“ Kenapa kau sama bodohnya dengan ayahku? Apa kalian sudah janjian
mengatakan hal yang sama kalau sampai aku tahu.”
“ Maaf Bi.”
“ Karena Kak Anjas sudah tahu sekarang, bawa Key pergi Kak. Aku belum
punya keberanian untuk mendekat padanya. Aku mohon.” Tatapan menghiba itu,
apalagi ditambah mata yang masih membekas tangis. Anjas jadi merasa serba salah
sendiri jadinya.
Sepertinya mereka terlalu lama bicara, membuat Key tidak sabar dan
akhirnya mendekati mereka berdua. Dua laki-laki yang saling mencengkram dan
terlihat memaki. Begitulah yang ditangkap Key dari semua ekspresi keduanya.
“ Kak Bian baik-baik saja kan?”
Bian menghindar. Baik tubuh ataupun pandangaannya. Nyalinya menciut
bahkan hanya melihat Key dari kejauhan tadi. Dosa-dosa ibunya seakan menumpuk
di bahunya. Mendorongnya untuk mengambil langkah menjauh.
“ Pulanglah dengan Kak Anjas Key, aku masih ada pekerjaan di kantor.”
Masih tidak mau pandangan mata mereka bertemu.
“ Eh ia Kak. Key bisa naik ojek online saja Kak, kalian pasti sibuk.”
Melihat Bian dan Kak Anjas bergantian. Lupa sudah kalau dia berhadapan dengan
pekerja kantoran. Dua laki-laki ini tidak bekerja seperti dirinya.
Lagi-lagi, kenapa kau bersikap sebaik ini Key. Seharusnya kau
mendorongku, mencaciku, atau apalah. Supaya aku juga bisa memohon padamu.
Reaksi yang ditunjukan Key padanya, membuat Bian semakin berkubang dalam
rasa bersalah.
“ Tapi, Kak Bian baik-baik saja kan?” Ingin meraih tangan Bian, namun Key
menahan jemarinya.
“ Kenapa! Kenapa kau malah bertanya begitu?” Berteriak. Membuat Anjas
terlonjak dan reflek memukul bahu Bian. Key pun mundur karena takut. “ Kenapa kau malah bertanya tentang
keadaanku. Kau kan yang tidak baik-baik saja Key.” Anjas mengusap bahu yang
baru ia pukul, saat melirik mata sembab itu mulai memerah lagi. “ Kau yang
kehilangaan ayah dan ibumu karena ibuku, kenapa kau malah menanyakan aku
baik-baik saja atau tidak.”
Situasi macam apa ini!
Key yang mulai terisak. Bian yang cuma bisa mengatakan dua kalimat maaf Key berulang-ulang.
Membuat Anjas mengambil langkah menjauh. Berjalan menuju mobilnya. Aku kangen
Manda gumamnya, sambil menyandarkan kepala di kursi depan. Tapi lagi-lagi dia
memutar kepalanya melihat dua orang itu dari kejauhan.
" Maaf Key."
“ Kak Bian tidak perlu merasa bersalah.”
“ Maaf Key.”
Key mendekat, merengkuh Bian dalam dekapan. Tubuh mungilnya mendekap
tubuh tinggi Bian, dia mengaitkan jari-jarinya di balik punggung Bian.
“ Maaf Key.”
Isak mengeras terus menganak sungai di ujung mata Key. Basma atau pun
Kak Bian sama-sama merasakan itu. Perasaan bersalah karena apa yang sudah
orangtua mereka lakukan.
Key melepaskan tangannya, memundurkan tubuh. Melihat wajah Bian dan
menghapus airmata dengan kedua tangannya.
“ Kak Bian tidak menanggung kesalahan Nyonya Yuna, begitu pula Basma
Kak.” Meraih tangan Bian lalu diletakannya di pipi kanannya. “ Sekarang
bisakah kita melupakaan semua dendam dan kebencian itu Kak.”
Lagi-lagi airmata Bian tidak tertahan, kenapa gadis yang dia cintai bisa
memiliki hati sebaik ini. Tubuh mungil yang bekerja keras setiap hari tanpa
prasangka.Gadis yang hidup dengan menimbun luka dan kesendirian. Padahal dia
berhak marah, dia punya hak mencaci dan berteriak. Tapi dia jauh lebih memilih memaafkan dan
melupakan.
Malaikatku.
Bian menjatuhkan kepalanya di kepala Key, mencium lembut kepala itu.
“ Maafkan aku Key.”
Hanya sentuhan lembut di kepala dan tepukan lembut yang menenangkan
keduanya. Sampai airmata tak lagi turun dan mereka sudah saling menenangkan
diri. Key meraih kedua tangan Bian, mengenggamnya erat.
“ Datanglah pada kami Kak, aku dan Basma menunggu kedatangan Kak Bian.”
Bian melepas kepergian Key tanpa memberikan jawaban. Dia memang sudah
berjanji pada ayahnya, dia memang akan menjemput Basma. Namun bukan sekarang,
Bersambung