
Kenyataan itu harus dihadapi.
Sekuat apa pun Key ingin menghindari, pada akhirnya dia tetap harus
menghadapinya. Apa pun keputusannya nanti, asalkan yang terbaik untuk Basma dan
Kak Bian dia akan menyiapkan hati.
Dalam perjalanan Key terlihat semakin muram. Karena usahanya menenangkan
hati belum sepenuhnya berhasil. Jauh lebih gelisah sebenarnya adalah Anjas. Dia mengemudikan mobil sambil menduga-duga. Bagaimana
bisa keadaan seperti ini terjadi. Anak yang selama ini dicari-cari ada di depan
mata. Yang paling membuat Anjas gelisah tentu saja mengenai perasaan Bian. Bagaimana
bisa anak itu menerima kenyataan ini. Anak dari wanita yang ia benci adalah
adik dari wanita yang ia cintai.
Anjas melirik Key. Berdehem pelan. Cukup lama keduanya membisu.
“ Key,” ujar Anjas hati-hati.
“ Ia Kak.” Menjawab tapi dia
mengalihkan pandangan. Masih bersandar di kaca mobil kepalanya, sambil telunjuknya
menyentuh kaca. Menggarukan jari-jari di kaca.
“ Maaf ya Key kalau pertanyaanku seperti tidak melihat situasi.” Melirik
cepat lalu fokus menatap depan lagi. Ketukan jarinya di kemudi mengisyaratkan
keraguan. Tapi dia tetap ingin menanyakannya. “ Kalau aku boleh tahu, bagaimana
Basma bisa tinggal bersamamu?” keluar lagi pertanyaan yang tak terjawab di
rumah tadi.
Wanita itu pergi meninggalkan ketua. Menghilang tanpa jejak, ternyata
dia pergi dengan membawa seorang anak. Seharusnya kalau dia memang mengandung, kenapa
dia harus pergi. Bukankah ini kesempatannya untuk mendapat posisi penting di
samping ketua. Bahkan bisa lebih dari itu, ketua akan memperkenalkannya kepada publik.
Tapi wanita itu malah pergi. Sedang berusaha berfikir dari sudut pandang wanita
itu. Ahh, Anjas tiba-tiba menemukan sebuah titik terang di kepalanya. Apa
mungkin karena Nyonya Yuna, gumamnya pada dirinya sendiri. Tapi, memang apa
yang dilakukan Nyonya Yuna.
Key belum menjawab, dimaknai Anjas kalau gadis itu masih belum mau
berbagi informasi. Dia benar-benar sangat penasaran.
“ Apa ketua sudah tahu?” mengganti pertanyaan. Dia beberapa kali
menanyakan tentang wanita itu pada ayahnya, namun tidak pernah membuahkan
hasil. Kalau ayahnya tahu pun dia akan menyimpan rapat rahasia itu. “ Kalau
Basma anak wanita itu?”
“ Kak, bagiku Basma adalah adik yang sangat berharga. Aku bisa tetap
menguatkan hatiku setelah kepergian orangtuaku juga karena Basma. Sekarang, aku
bingung. Orangtua kandungnya ada di hadapannya, jahat sekali aku kalau aku
menyembunyikan itu. Tapi….”
Kak Bian dan Nyonya Yuna sangat membenci ibu Basma. Aku tidak mau mereka
melampiaskan kebencian mereka pada Basma.
“ Tapi, aku tidak rela kalau Basma pergi ke tempat yang tidak menginginkannya.”
Anjas tahu maksudnya.Dia jadi kehilangan kata-kata untuk bertanya lagi.
“ Aku akan tetap merawat Basma kalau Tuan Adiguna tidak menginginkannya.”
Kalau ketua, tidak mungkin dia tidak menginginkan anak dari wanita itu. Tapi Nyonya dan Bian. Aku bahkan
sudah takut membayangkan Bian tahu siapa ibunya Basma.
Anjas benar-benar bisa ikut merasakan kegalauan hati Key. Pundak kecil
itu menanggung beban hidup yang luar biasa.
“ Key kau sudah bekerja keras.”
Masih penasaran sebenarnya. Saat Key tersenyum membalas ucapan Anjas, mobil
sudah masuk ke area parkir gedung pusat Adiguna Group. Di sinilah kantor pusat
yang mengendalikan semua anak cabang perusahaan Adiguna Group. Tinggi
menjulang. Setiap lantai menunjukan status dan posisi para pekerjanya. Adiguna
berada di lantai tertinggi gedung ini.
“ Tunggu di sini sebentar ya, aku akan bertanya apa ayahku ada.” Tidak
kepikiran menelfon tadi. Satpam kantor menyapanya dengan hormat, lalu siaga di
posisinya lagi.
Saat Anjas berjalan menuju meja staff, Key hanya berdiri di tempatnya. Matanya
melihat sudut-sudut loby. Luas. Beberapa karyawan terlihat berjalan
cepat. Sambil memegang map di dekapan tangan. Ada yang sambil berbicara menuju
lift. Menelfon dengan tergesa dan berjalan cepat. Key melihat sebuah kehidupan
yang berbeda dengan dunianya. Tempat di mana orang-orang yang sering ia temui
di Central Park, namun dalam mode serius bekerja.
Pekerja kantoran yang Key impikan
untuk kehidupan Basma kelak. Hingga ia rela bekerja keras mengumpulkan uang
demi persiapan pendidikan Basma.
Sekarang pemilik tepat ini bahkan Ayah kandungmu Bas.
Key terbangun dari lamunan ketika suara Anjas terdengar dari tempatnya berdiri.
“ Apa Ketua sekarang ada di tempat? Ayahku?” Staff wanita menjawab sopan
setelah melihat catatan jadwal harian
ketua dan sekretarisnya. Menawarkan untuk menghubungi ruangan ketua. “ Tidak perlu,
aku akan menghubungi ayahku. Terimakasih ya.” Sekali lagi staff wanita itu
menjawab. Lalu setelah Anjas berlalu
dari hadapannyaa, dia kembali duduk di tempatnya.
“ Ayo duduk di sana sebentar Key. Aku hubungi ayahku dulu.” Prosedur
yang harus di lewati Anjas untuk bertemu ketua tanpa janji adalah melalui
ayahnya. “ Hallo, Assalamualaikum.” Diam sebentar. Melihat ke arah Key. “ Aku
ada di loby bersama Key, dia ingin bicara pada ketua. Apa kami boleh naik?”
Anjas mendengar ayahnya menanyakan sesuatu pada ketua. “ Baik, kami naik sekarang.” Menutup telfon
dengan salam.
Padahal aku tidak pernah datang kemari selain karena dipanggil ketua.
Sekali lagi Anjas masuk dalam labirin membingungkan. Memasuki lift
dengan pikiran kemana-mana. Dia tidak menyangka akan diizinkan masuk. Bahkan
ayahnya sendiri tidak berkomentar apa-apa ketika dia menyebutkan nama Key.
Seharusnya dia kan bertanya kenapa aku datang, kenapa Key ada di sampingku. Pikir Anjas lagi.
Apa ketua sudah tahu kalau Basma anak wanita itu.
Sampailah di lantai ruangan ketua Adiguna Group. Saat pintu lift terbuka
baru tersadar kalau dia atau pun Key sama-sama membisu. Sekretaris Haryo sekaligus Ayah Anjas sudah
berdiri di depan pintu saat langkah keduanya menuju ruangan ketua.
Ayah bahkan menyambut kami.
“ Silahkan masuk Mbak Keysha, Tuan Adiguna sudah menunggu.” Tidak mengubris tanda
tanya di mata anaknya yang bergelora.
Kenapa ini, pasti ada yang aneh dengan semua ini.
“ Terimakasih paman,”Key menyahut, lalu masuk ke dalam ruangan yang
asing baginya. Sekali lagi, sekilas dia mengamati. Dunia yang jauh berbeda dari
tempatnya hidup selama ini. Seperti ini pulalah Kak Bian hidup. Gumam Key
sendiri, ntah kenapa dia merasa mengecil. Semua yang ia berikan pada Basma,
bisa dalam sekecap mata di berikan keluarga kandungnya.
( Jangan berfikir begitu Key, please. Cinta dan kasih sayang yang kamu
berikan buat Basma tidak bisa di hitung dengan nominal angka. Mewek aku. Hiks… hik. Maaf terbawa suasana.)
Anjas yang mengekor dalam diam ikut masuk ke dalam ruangan. Melihat Key, Tuan Adiguna langsung bangun dari sofa.
Berjalan mendekat ke arah key. Terlihat lelah, bercampur dengan sedih yang
terlihat dari tatapan matanya. Hati Key berdegub, menduga bahwa Tuan Adiguna
sudah tahu semuanya. Sudah menunggu kedatangan Key.
Key sedang menyiapkan hati dan
keberanian untuk bertanya. Saat Adiguna semakin mendekat ke arahnya.
“ Maafkan Paman Nak, semua ini salah Paman.” Tidak ingin berkilah,
Adiguna melimpahkan semua salah bersumber padanya. Kebencian Yuna yang ia
lampiaskan dengan cara menakutkan berasal dari keegoisannya.
“ Paman!” Key berteriak tanpa sadar, karena melihat Adiguna yang tiba-tiba duduk bersimpuh di lantai.
Sambil menyuarakan penyesalanya. Dengan semua ketidakberdayaan.
Anjas bahkaan mundur kebelakang tanpa dia sadari.
Ada apa ini? Kenapa ketua sampai duduk bersimpuh begitu.
“ Ayah, ada apa ini sebenarnya.” Berbisik menarik jas ayahnya.
“ Sejak kapan kamu di sini?” Terkejut karena melihat seseorang yang
seharusnya tidak melihat ini, malah dengan santainya berdiri di sana.
Apa si, memang sejak tadi aku ada di sini.
“ Ayo keluar.” Haryo mendorong Anjas yang masih ingin melihat apa yang
akan terjadi selanjutnya. Namun dorongan ayahnya tidak main-main, akhirnya dia
keluar juga dari ruangan.
“ Pergilah,aku akan mengatar Mbak Keysha pulang nanti.”
“ Ayah!”
Suara Anjas membuat para staff sekretaris di depan ruangan saling
berbisik. Haryo menghela nafas, tahu dia tidak akan bisa mengusir anaknya
“ Tidak ada yang boleh masuk ke ruangan ketua, siapa pun itu.” Pesannya
pada staffnya sebelum menarik tangan Anjas menuju ruangannya. Anjas menurut.
Duduk di sofa, menunggu penjelasan ayahnya.
“ Ini bukan urusanmu, dan jangan beritahu Bian.”
“ Ayah!” Sudah menduga akan begini, tapi dia juga tidak mau hanya
seperti ini. Bukanya tidak berbakti. “
Aku tahu kalau adik Key anak wanita itu.”mengeluarkan serangan mematikannya.
Hanya dengan cara ini dia bisa membuat ayahnya membuka mulut.
Benarkan, kau kaget.
“ Darimana kau tahu?”
“Key yang mengatakannya. Sekarang bisakah ayah jelaskan semuanya.”
Menantang. “ Ayah tahukan aku tidak bisa menyimpan rahasia apa pun dari Bian,
kalau dia bertanya aku akan mengatakannya tanpa ditutupi apa pun. Kalau ayah
setia pada ketua, ayah tahu kan bagaimana aku setia dan menyayangi Bian.”
Kesal dengan keras kepala anaknya sekaligus bangga telah mendidik Anjas
seperti seharusnya.
“ Apa yang mau kau tahu?” menyerah pada akhirnya.
“ kenapa ketua berlutut di hadapan Key. Apa ketua sudah tahu, tentang Basma anak wanita itu.” Pasti
ada rahasia di balik itu. Kalau hanya karena Basma menurut Anjas ketua tidak
sampai harus berlutut seperti itu. Toh selama ini yang dia tahu, ketua
mati-matian masih mencari keberaan wanita yang ia cintai itu.
“ Ia ketua sudah tahu.”
“ Kenapa ketua sampai berlutut ayah, memang apa kesalahan yang sudah
dia buat pada Key.” Terlihat jelas kalau ayahnya masih belum mau membuka mulut.
“ Atau karena dia merestui hubungan Bian dan Key. Karena hutang budinya pada
Key yang sudah membesarkan anaknya.” Nada bicara Anjas agak sedikit meninggi,
mungkin ada sedikit bumbu rasa kesal di sana. Ternyata melunaknya hati ketua
karena ada andil anak dari wanita yang ia cintai.
Jadi ini bukan tulus karena ingin melihat Bian bahagia.
Jadi tumbuhlah curiga sekarang.
“ Hentikan apa yang kau pikirkan itu.” Paham apa yang sedang menari-nari
di kepala anaknya. “ Ketua merestui hubungan Bian dan key karena melihat
putranya bahagia. Sudah itu saja yang perlu kau tahu.” Lugas menjawab.
“ Ayah!” Ancaman tidak mempan, jadi dia sedang merengek sekarang
***
Sementara itu di ruangan Adiguna.
“ Paman.” Key yang panik ikut bersimpuh di hadapan Adiguna. Menekuk lutur
mensejajari posisi Adiguna. Bagaimana mungkin ia membiarkan orangtua sampai
berlutut begitu. “ Paman bangun, kenapa
paman begini?”
Ada gambaran yang semakin menjelas sekarang, kalau Tuan Adiguna sudah
tahu perihal Basma. Key melihat Adiguna menundukan kepala dan ada
buliran airmata yang jatuh di lantai.
“ Paman, kalau ini tentang Basma, jangan khawatir, asalkan demi kebaikan
Basma Key rela kok. Selama itu yang diinginkan Basma juga.” Sedang menduga,
kalau Adiguna sedang memohon untuk perwalian Basma.
Adiguna terlihat tidak terkejut ketika Key tahu masalah Basma. Tentu
saja, karena kemarin Bibi Salsa dibawa Pak Wahyu menemuinya sebelum pulang
kampung. Sudah menjelaskan semuanya. Dia
tidak bisa marah pada Bibi Salsa, karena berita di tv pun muncul karena andil
kesalahannya. Namun dia sangat bersyukur Key belum mengetahui rahasia kelam
masa lalu orang tuanya yang diakibatkan oleh Yuna. Karena itulah dia sekarang berlutut di sini. Akan
memohon pengampunan dan mengatakan semuanya.
“ Nak, ini semua salah paman. Paman mohon jangan salahkan Bian atau
membencinya.”
Kenapa Kak Bian dibawa-bawa.
“ Paman bangunlah.” Menarik pelan tangan sambil memapah punggung Adiguna
untuk duduk di sofa. Laki-laki itu terlihat sangat putus asa. Key tidak tahu
alasannya apa sebenarnya yang melatari itu. Key juga duduk di samping Adiguna,
menggenggam tangan laki-laki itu. Orangtua yang sedang di liputi kesedihan dan
kerinduan memeluk putra kandungnya. Masih di situ Key menduga-duga.
“ Nak.”
“ Ia Paman..”
“ Sejauh apa Bibi Salsa menjelaskan padamu tentang Basma?”
Maksudnya?
“ Bibi tidak menjelaskan apa-apa paman, hanya menunjukan bukti kelahiran
Basma dan mengatakan kalau Paman adalah ayah kandung Basma.”
Ternyata dia jujur. Seperti itu pula yang dikatakan Bibi Salsa kemarin.
Tangan Key terangkat dan menepuk punggung Adiguna.
“ Key paham perasaan Paman yang belum bisa untuk meraih tangan Basma. Karena
Nyonya dan Kak Bian.” Ketika Key melihat Adiguna yang mengangkat kepalanya dia
tidak bicara lagi. Ada kesedihan dan rasa pilu yang teramat sangat di sana.
Apa aku sudah menyinggungnya.
“ Nak.” Meraih tangan Key. “ Salahkan saja orangtua ini, kamu tidak
perlu memaafkan kami, karena dosa-dosa kami.Tapi yang musti kamu percayai, Bian
tidak bersalah sama sekali di sini.”
Ada apa si ini.
Dengan terbata Adiguna melanjutkan ceritanya. Sama persis dengan apa
yang dikisahkan padanya oleh Bibi Salsa. Cerita itu diputar ulang tanpa ia
tambahi apa-apa. Isaknya tertahan di ujung tenggorokan, ketika sampai pada
penyebab kematian Jesika, wanita yang ia cintai. Sekali lagi Adiguna
melimpahkan kesalahan hanya padanya. Karena dia mencintai Jesika, karena dia
ingin hidup bersama Jesika.
Tubuh Key mulai gemetar.
“ Maafkan orangtua ini Nak.”
Kepala Key rasanya berputar mencerna semuanya. Cinta, pengkhianatan,
kebencian, balas dendam hingga berujung kematian. Bagaimana bisa ada sebuah
takdir semacam ini mengikat hubungan Basma dan Kak Bian.
“ Nak, paman berdosa lebih-lebih padamu. Nak.”
Key mencoba menemukan kesadarannya lagi, ternyata hal mengejutkan ini
belum selesai. Memang apalagi yang lebih mengerikan dari semua ini. Dia
menjatuhkan kepala bersandar di sofa. Mencari secercah kejernikan pikiran.
Adiguna memulai kisahnya lagi. Dengan wajah tertunduk. Bertutur dengan
pelan bahkan terkadang terbata. Sampai pada penyebab kematian kedua orangtua
Key yang melibatkan Yuna.
Plak! Tangan Key tanpa dia sadari menepis tangan Adiguna yang ingin meraihnya. Laki-laki itu
melihat tangan Key yang sudah gemetar, serta airmata yang sudah membanjir. Isak
pilu pecah memenuhi ruangan. Adiguna memundurkan duduknya, saat melihat
pandangan hangat Key yang selama ini selalu ia tunjukan menjadi terlihat agak
sinis. Walaupun mata itu masih dipenuhi airmata.
“ Paman tidak berani memohon kamu memaafkan kami Nak. Ini salah paman.
Ibunya Bian melakukan ini karena kesalahan paman. “
Key tidak mendengar apa pun karena dia terkulai lemas. Dengan airmata
yang masih membanjir, tubuhnya gemetar lalu jatuh pingsan.
***
Sekretaris Haryo menahan tangan Anjas yang mau masuk ke dalam ruangan
saat melihat Key dengan tubuh gemetar terkulai lemas.
“ Ayah, katakan ini bohong kan? Semua yang ketua katakan tentang
Nyonya Yuna itu bohong kan?” Sama halnya Bian, Anjas hanya melihat sosok Yuna
sebagai ibu yang terluka. Wanita yang terkhianati yang bisa melakukan beberapa
hal.Seperti berteriak dan mengancam, tapi kalau sampai menghilangkan nyawa.
Walaupun itu bukan faktor kesengajaan, tapi itu sudah salah namanya. “ Katakan
kalau itu bohong?” Berharap.
Ayan Anjas hanya menatap anaknya tanpa berkedip, lalu menundukan kepala
sebagai jawaban, kalau apa yang ikut di dengarnya itu adalah kebenaran.
Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi.
Bian yang harus tahu seperti apa ibunya, dan yang lebih utama bagaimana sikap Key pada Bian nantinya. Tangan Anjas menyentuh handle pintu gemetar. Di lihatnya Key sudah tersadar, namun masih lemas terbaring di sofa. Sementara ketua, duduk memohon di sampingnya. Masih terdengar di telinga Anjas permohonan maaf ketua yang berulang-ulang.
Bersambung....
Huaaa,hiks,hiks Key peluk kamu sini.
Note
Masih ada yang di sini gak ini? Apa sudah pindah ke lapak LAS semua, hiks, aku masih ngelanjutin Key and Bian ya, karena aku masih sayang-sayangnya sama kerumitan hidup mereka yang sebentar lagi terkuak semua. Tunjukan cinta kalian ya sama Key and Bian, like per episode jangan lupa, komentar positifnya dan votenya. Terimakasih ^_^