Key And Bian

Key And Bian
Permohonan Maaf



Kenyataan itu harus  dihadapi.


Sekuat apa pun Key ingin menghindari, pada akhirnya dia tetap harus


menghadapinya. Apa pun keputusannya nanti, asalkan yang terbaik untuk Basma dan


Kak Bian dia akan menyiapkan hati.


Dalam perjalanan Key terlihat semakin muram. Karena usahanya menenangkan


hati belum sepenuhnya berhasil. Jauh lebih gelisah sebenarnya adalah Anjas.  Dia mengemudikan mobil sambil menduga-duga. Bagaimana


bisa keadaan seperti ini terjadi. Anak yang selama ini dicari-cari ada di depan


mata. Yang paling membuat Anjas gelisah tentu saja mengenai perasaan Bian. Bagaimana


bisa anak itu menerima kenyataan ini. Anak dari wanita yang ia benci adalah


adik dari wanita yang ia cintai.


Anjas melirik  Key. Berdehem pelan. Cukup lama keduanya membisu.


“ Key,” ujar Anjas hati-hati.


“ Ia Kak.” Menjawab tapi  dia


mengalihkan pandangan. Masih bersandar di kaca mobil kepalanya, sambil telunjuknya


menyentuh kaca. Menggarukan jari-jari di kaca.


“ Maaf ya Key kalau pertanyaanku seperti tidak melihat situasi.” Melirik


cepat lalu fokus menatap depan lagi. Ketukan jarinya di kemudi mengisyaratkan


keraguan. Tapi dia tetap ingin menanyakannya. “ Kalau aku boleh tahu, bagaimana


Basma bisa tinggal bersamamu?” keluar lagi pertanyaan yang tak terjawab di


rumah tadi.


Wanita itu pergi meninggalkan ketua. Menghilang tanpa jejak, ternyata


dia pergi dengan membawa  seorang anak.  Seharusnya kalau dia memang mengandung, kenapa


dia harus pergi. Bukankah ini kesempatannya untuk mendapat posisi penting di


samping ketua. Bahkan bisa lebih dari itu, ketua akan memperkenalkannya kepada publik.


Tapi wanita itu malah pergi. Sedang berusaha berfikir dari sudut pandang wanita


itu. Ahh, Anjas tiba-tiba menemukan sebuah titik terang di kepalanya. Apa


mungkin karena Nyonya Yuna, gumamnya pada dirinya sendiri. Tapi, memang apa


yang dilakukan Nyonya Yuna.


Key belum menjawab, dimaknai Anjas kalau gadis itu masih belum mau


berbagi informasi. Dia benar-benar sangat penasaran.


“ Apa ketua sudah tahu?” mengganti pertanyaan. Dia beberapa kali


menanyakan tentang wanita itu pada ayahnya, namun tidak pernah membuahkan


hasil. Kalau ayahnya tahu pun dia akan menyimpan rapat rahasia itu. “ Kalau


Basma anak wanita itu?”


“ Kak, bagiku Basma adalah adik yang sangat berharga. Aku bisa tetap


menguatkan hatiku setelah kepergian orangtuaku juga karena Basma. Sekarang, aku


bingung. Orangtua kandungnya ada di hadapannya, jahat sekali aku kalau aku


menyembunyikan itu.  Tapi….”


Kak Bian dan Nyonya Yuna sangat membenci ibu Basma. Aku tidak mau mereka


melampiaskan kebencian mereka pada Basma.


“ Tapi, aku tidak rela kalau Basma pergi ke tempat yang tidak menginginkannya.”


Anjas tahu maksudnya.Dia jadi kehilangan kata-kata untuk bertanya lagi.


“ Aku akan tetap merawat Basma kalau Tuan Adiguna tidak menginginkannya.”


Kalau ketua, tidak mungkin dia tidak menginginkan anak dari  wanita itu. Tapi Nyonya dan Bian. Aku bahkan


sudah takut membayangkan Bian tahu siapa ibunya Basma.


Anjas benar-benar bisa ikut merasakan kegalauan hati Key. Pundak kecil


itu menanggung beban hidup yang luar biasa.


“ Key kau sudah bekerja keras.”


Masih penasaran sebenarnya. Saat Key tersenyum membalas ucapan Anjas, mobil


sudah masuk ke area parkir gedung pusat Adiguna Group. Di sinilah kantor pusat


yang mengendalikan semua anak cabang perusahaan Adiguna Group. Tinggi


menjulang. Setiap lantai menunjukan status dan posisi para pekerjanya. Adiguna


berada di lantai tertinggi gedung ini.


“ Tunggu di sini sebentar ya, aku akan bertanya apa ayahku ada.” Tidak


kepikiran menelfon tadi. Satpam kantor menyapanya dengan hormat, lalu siaga di


posisinya lagi.


Saat Anjas berjalan menuju meja staff, Key hanya berdiri di tempatnya. Matanya


melihat sudut-sudut  loby.  Luas. Beberapa karyawan terlihat berjalan


cepat. Sambil memegang map di dekapan tangan. Ada yang sambil berbicara menuju


lift. Menelfon dengan tergesa dan berjalan cepat. Key melihat sebuah kehidupan


yang berbeda dengan dunianya. Tempat di mana orang-orang yang sering ia temui


di Central Park, namun dalam mode serius bekerja.


Pekerja kantoran yang  Key impikan


untuk kehidupan Basma kelak. Hingga ia rela bekerja keras mengumpulkan uang


demi persiapan pendidikan Basma.


Sekarang pemilik tepat ini bahkan Ayah kandungmu Bas.


Key terbangun  dari lamunan ketika suara Anjas  terdengar dari tempatnya berdiri.


“ Apa Ketua sekarang ada di tempat? Ayahku?” Staff wanita menjawab sopan


setelah melihat catatan  jadwal harian


ketua dan sekretarisnya. Menawarkan untuk menghubungi ruangan ketua. “ Tidak perlu,


aku akan menghubungi ayahku. Terimakasih ya.” Sekali lagi staff wanita itu


menjawab.  Lalu setelah Anjas berlalu


dari hadapannyaa, dia kembali duduk di tempatnya.


“ Ayo duduk di sana sebentar Key. Aku hubungi ayahku dulu.” Prosedur


yang harus di lewati Anjas untuk bertemu ketua tanpa janji adalah melalui


ayahnya. “ Hallo, Assalamualaikum.” Diam sebentar. Melihat ke arah Key. “ Aku


ada di loby bersama Key, dia ingin bicara pada ketua. Apa kami boleh naik?”


Anjas mendengar ayahnya menanyakan sesuatu pada ketua.  “ Baik, kami naik sekarang.” Menutup telfon


dengan salam.


Padahal aku tidak pernah datang kemari selain karena dipanggil ketua.


Sekali lagi Anjas masuk dalam labirin membingungkan. Memasuki lift


dengan pikiran kemana-mana. Dia tidak menyangka akan diizinkan masuk. Bahkan


ayahnya sendiri tidak berkomentar apa-apa ketika dia menyebutkan nama Key.


Seharusnya dia kan bertanya kenapa aku datang, kenapa Key ada di sampingku. Pikir Anjas lagi.


Apa ketua sudah tahu kalau Basma anak wanita itu.


Sampailah di lantai ruangan ketua Adiguna Group. Saat pintu lift terbuka


baru tersadar kalau dia atau pun Key sama-sama membisu.  Sekretaris Haryo sekaligus Ayah Anjas sudah


berdiri di depan pintu saat langkah keduanya menuju ruangan ketua.


Ayah bahkan menyambut kami.


“ Silahkan masuk Mbak Keysha, Tuan  Adiguna sudah menunggu.” Tidak mengubris tanda


tanya di mata anaknya yang bergelora.


Kenapa ini, pasti ada yang aneh dengan semua ini.


“ Terimakasih paman,”Key menyahut, lalu masuk ke dalam ruangan yang


asing baginya.  Sekali lagi, sekilas  dia mengamati. Dunia yang jauh berbeda dari


tempatnya hidup selama ini. Seperti ini pulalah Kak Bian hidup. Gumam Key


sendiri, ntah kenapa dia merasa mengecil. Semua yang ia berikan pada Basma,


bisa dalam sekecap mata di berikan keluarga kandungnya.


( Jangan berfikir begitu Key, please. Cinta dan kasih sayang yang kamu


berikan buat Basma tidak bisa di hitung dengan nominal angka. Mewek aku. Hiks…  hik. Maaf terbawa suasana.)


Anjas yang mengekor dalam diam ikut masuk ke dalam ruangan. Melihat Key,  Tuan Adiguna langsung bangun dari sofa.


Berjalan mendekat ke arah key. Terlihat lelah, bercampur dengan sedih yang


terlihat dari tatapan matanya. Hati Key berdegub, menduga bahwa Tuan Adiguna


sudah tahu semuanya. Sudah menunggu kedatangan Key.


Key sedang menyiapkan hati dan


keberanian untuk bertanya. Saat Adiguna semakin mendekat ke arahnya.


“ Maafkan Paman Nak, semua ini salah Paman.” Tidak ingin berkilah,


Adiguna melimpahkan semua salah bersumber padanya. Kebencian Yuna yang ia


lampiaskan dengan cara menakutkan berasal dari keegoisannya.


“ Paman!” Key berteriak tanpa sadar, karena melihat Adiguna  yang tiba-tiba duduk bersimpuh di lantai.


Sambil menyuarakan penyesalanya. Dengan semua ketidakberdayaan.


Anjas bahkaan mundur kebelakang tanpa dia sadari.


Ada apa ini? Kenapa ketua sampai duduk bersimpuh begitu.


“ Ayah, ada apa ini sebenarnya.” Berbisik menarik jas ayahnya.


“ Sejak kapan kamu di sini?” Terkejut karena melihat seseorang yang


seharusnya tidak melihat ini, malah dengan santainya berdiri di sana.


Apa si, memang sejak tadi aku ada di sini.


“ Ayo keluar.” Haryo mendorong Anjas yang masih ingin melihat apa yang


akan terjadi selanjutnya. Namun dorongan ayahnya tidak main-main, akhirnya dia


keluar juga dari ruangan.


“ Pergilah,aku akan mengatar Mbak Keysha pulang nanti.”


“ Ayah!”


Suara Anjas membuat para staff sekretaris di depan ruangan saling


berbisik. Haryo menghela nafas, tahu dia tidak akan bisa mengusir anaknya


“ Tidak ada yang boleh masuk ke ruangan ketua, siapa pun itu.” Pesannya


pada staffnya sebelum menarik tangan Anjas menuju ruangannya. Anjas menurut.


Duduk di sofa, menunggu penjelasan ayahnya.


“ Ini bukan urusanmu, dan jangan beritahu Bian.”


“ Ayah!” Sudah menduga akan begini, tapi dia juga tidak mau hanya


seperti ini. Bukanya tidak berbakti.  “


Aku tahu kalau adik Key anak wanita itu.”mengeluarkan serangan mematikannya.


Hanya dengan cara ini dia bisa membuat ayahnya membuka mulut.


Benarkan, kau kaget.


“ Darimana kau tahu?”


“Key yang mengatakannya. Sekarang bisakah ayah jelaskan semuanya.”


Menantang. “ Ayah tahukan aku tidak bisa menyimpan rahasia apa pun dari Bian,


kalau dia bertanya aku akan mengatakannya tanpa ditutupi apa pun. Kalau ayah


setia pada ketua, ayah tahu kan bagaimana aku setia dan menyayangi Bian.”


Kesal dengan keras kepala anaknya sekaligus bangga telah mendidik Anjas


seperti seharusnya.


“ Apa yang mau kau tahu?” menyerah pada akhirnya.


“ kenapa ketua berlutut di  hadapan Key. Apa ketua sudah tahu, tentang Basma anak wanita itu.” Pasti


ada rahasia di balik itu. Kalau hanya karena Basma menurut Anjas ketua tidak


sampai harus berlutut seperti itu. Toh selama ini yang dia tahu, ketua


mati-matian masih mencari keberaan wanita yang ia cintai itu.


“ Ia ketua sudah tahu.”


“ Kenapa ketua sampai berlutut ayah, memang apa kesalahan yang sudah


dia buat pada Key.” Terlihat jelas kalau ayahnya masih belum mau membuka mulut.


“ Atau karena dia merestui hubungan Bian dan Key. Karena hutang budinya pada


Key yang sudah membesarkan anaknya.” Nada bicara Anjas agak sedikit meninggi,


mungkin ada sedikit bumbu rasa kesal di sana. Ternyata melunaknya hati ketua


karena ada andil anak dari wanita yang ia cintai.


Jadi ini bukan tulus karena ingin melihat Bian bahagia.


Jadi tumbuhlah curiga sekarang.


“ Hentikan apa yang kau pikirkan itu.” Paham apa yang sedang menari-nari


di kepala anaknya. “ Ketua merestui hubungan Bian dan key karena melihat


putranya bahagia. Sudah itu saja yang perlu kau tahu.” Lugas menjawab.


“ Ayah!” Ancaman tidak mempan, jadi dia sedang merengek sekarang


***


Sementara itu di ruangan Adiguna.


“ Paman.” Key yang panik ikut bersimpuh di hadapan Adiguna. Menekuk lutur


mensejajari posisi Adiguna. Bagaimana mungkin ia membiarkan orangtua sampai


berlutut begitu.  “ Paman bangun, kenapa


paman begini?”


Ada gambaran yang semakin menjelas sekarang, kalau Tuan Adiguna sudah


tahu perihal Basma. Key melihat Adiguna menundukan kepala dan ada


buliran airmata yang jatuh di lantai.


“ Paman, kalau ini tentang Basma, jangan khawatir, asalkan demi kebaikan


Basma Key rela kok. Selama itu yang diinginkan Basma juga.” Sedang menduga,


kalau Adiguna sedang memohon untuk perwalian Basma.


Adiguna terlihat tidak terkejut ketika Key tahu masalah Basma. Tentu


saja, karena kemarin Bibi Salsa dibawa Pak Wahyu menemuinya sebelum pulang


kampung.  Sudah menjelaskan semuanya. Dia


tidak bisa marah pada Bibi Salsa, karena berita di tv pun muncul karena andil


kesalahannya. Namun dia sangat bersyukur Key belum mengetahui rahasia kelam


masa lalu orang tuanya yang diakibatkan oleh Yuna.  Karena itulah dia sekarang berlutut di sini. Akan


memohon pengampunan dan mengatakan semuanya.


“ Nak, ini semua salah paman. Paman mohon jangan salahkan Bian atau


membencinya.”


Kenapa Kak Bian dibawa-bawa.


“ Paman bangunlah.” Menarik pelan tangan sambil memapah punggung Adiguna


untuk duduk di sofa. Laki-laki itu terlihat sangat putus asa. Key tidak tahu


alasannya apa sebenarnya yang melatari itu. Key juga duduk di samping Adiguna,


menggenggam tangan laki-laki itu. Orangtua yang sedang di liputi kesedihan dan


kerinduan memeluk putra kandungnya. Masih di  situ Key menduga-duga.


“ Nak.”


“ Ia Paman..”


“ Sejauh apa Bibi Salsa menjelaskan padamu tentang Basma?”


Maksudnya?


“ Bibi tidak menjelaskan apa-apa paman, hanya menunjukan bukti kelahiran


Basma dan mengatakan kalau Paman adalah ayah kandung Basma.”


Ternyata dia jujur. Seperti itu pula yang dikatakan Bibi Salsa kemarin.


Tangan Key terangkat dan menepuk punggung Adiguna.


“ Key paham perasaan Paman yang belum bisa untuk meraih tangan Basma. Karena


Nyonya dan Kak Bian.” Ketika Key melihat Adiguna yang mengangkat kepalanya dia


tidak bicara lagi. Ada kesedihan dan rasa pilu yang teramat sangat di sana.


Apa aku sudah menyinggungnya.


“ Nak.” Meraih tangan Key. “ Salahkan saja orangtua ini, kamu tidak


perlu memaafkan kami, karena dosa-dosa kami.Tapi yang musti kamu percayai, Bian


tidak bersalah sama sekali di sini.”


Ada apa si ini.


Dengan terbata Adiguna melanjutkan ceritanya. Sama persis dengan apa


yang dikisahkan padanya oleh Bibi Salsa. Cerita itu diputar ulang tanpa ia


tambahi apa-apa. Isaknya tertahan di ujung tenggorokan, ketika sampai  pada


penyebab kematian Jesika, wanita yang ia cintai. Sekali lagi Adiguna


melimpahkan kesalahan hanya padanya. Karena dia mencintai Jesika, karena dia


ingin hidup bersama Jesika.


Tubuh Key mulai gemetar.


“ Maafkan orangtua ini Nak.”


Kepala Key rasanya berputar mencerna semuanya. Cinta, pengkhianatan,


kebencian, balas dendam hingga berujung kematian. Bagaimana bisa ada sebuah


takdir semacam ini mengikat hubungan Basma dan Kak Bian.


“ Nak, paman berdosa lebih-lebih padamu. Nak.”


Key mencoba menemukan kesadarannya lagi, ternyata hal mengejutkan ini


belum selesai. Memang apalagi yang lebih mengerikan dari semua ini. Dia


menjatuhkan kepala bersandar di sofa. Mencari secercah kejernikan pikiran.


Adiguna memulai kisahnya lagi. Dengan wajah tertunduk. Bertutur dengan


pelan bahkan terkadang terbata. Sampai pada penyebab kematian kedua orangtua


Key yang melibatkan Yuna.


Plak! Tangan Key tanpa dia sadari menepis tangan Adiguna yang ingin meraihnya. Laki-laki itu


melihat tangan Key yang sudah gemetar, serta airmata yang sudah membanjir. Isak


pilu pecah memenuhi ruangan. Adiguna memundurkan duduknya, saat melihat


pandangan hangat Key yang selama ini selalu ia tunjukan menjadi terlihat agak


sinis. Walaupun mata itu masih dipenuhi airmata.


“ Paman tidak berani memohon kamu memaafkan kami Nak. Ini salah paman.


Ibunya Bian melakukan ini karena kesalahan paman. “


Key tidak mendengar apa pun karena dia terkulai lemas. Dengan airmata


yang masih membanjir, tubuhnya gemetar lalu jatuh pingsan.


***


Sekretaris Haryo menahan tangan Anjas yang mau masuk ke dalam ruangan


saat melihat Key dengan tubuh gemetar terkulai lemas.


“ Ayah, katakan ini bohong kan? Semua yang ketua katakan tentang


Nyonya Yuna itu bohong kan?” Sama halnya Bian, Anjas hanya melihat sosok Yuna


sebagai ibu yang terluka. Wanita yang terkhianati yang bisa melakukan beberapa


hal.Seperti berteriak dan mengancam, tapi kalau sampai menghilangkan nyawa.


Walaupun itu bukan faktor kesengajaan, tapi itu sudah salah namanya. “ Katakan


kalau itu bohong?” Berharap.


Ayan Anjas hanya menatap anaknya tanpa berkedip, lalu menundukan kepala


sebagai jawaban, kalau apa yang ikut di dengarnya itu adalah kebenaran.


Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi.


Bian yang harus tahu seperti apa ibunya, dan yang lebih utama bagaimana sikap Key pada Bian nantinya. Tangan Anjas menyentuh handle pintu gemetar. Di lihatnya Key sudah tersadar, namun masih lemas terbaring di sofa. Sementara ketua, duduk memohon di sampingnya. Masih terdengar di telinga Anjas permohonan maaf ketua yang berulang-ulang.


Bersambung....


Huaaa,hiks,hiks Key peluk kamu sini.


Note


Masih ada yang di sini gak ini? Apa sudah pindah ke lapak LAS semua, hiks, aku masih ngelanjutin Key and Bian ya, karena aku masih sayang-sayangnya sama kerumitan hidup mereka yang sebentar lagi terkuak semua. Tunjukan cinta kalian ya sama Key and Bian, like per episode jangan lupa, komentar positifnya dan votenya. Terimakasih ^_^